others
Batal
link has been copied
84
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53064ae820cb1798088b457a/mitos-budaya-legenda-cerita-rakyat-dan-sejarah
Tabe... karena yang lama ketinggalan di arsip old Kaskus, kini saya buka kembali thread Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah .. sebagai informasi bagi kita bersama selamat menikmati :) Indeks: Mengenal Sosok “GEORGE OBOS” PULAU SELUNG/SELONG JIpen (Budak) dalam Budaya Dayak Ngaju TOTOK BAKAKAK /SANDI/KODE Makna Mimpi Kesaktian/Kepercayaan Asal Usul Manusia Dayak Pembagian Suku Da
Lapor Hansip
21-02-2014 01:35

Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah

Tabe... karena yang lama ketinggalan di arsip old Kaskus, kini saya buka kembali thread
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
.. sebagai informasi bagi kita bersama

selamat menikmati emoticon-Smilie


Indeks:
Diubah oleh TuaGila
profile-picture
profile-picture
nona212 dan lina.wh memberi reputasi
2
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 5
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
21-02-2014 01:45
PULAU SELUNG/SELONG ( BORNEO/BRUNEO/BRUNEI/KALIMANTAN)

Sebuah kisah Genesis Suku Bangsa Dayak di Pulau Selung / Pulau Kalimantan

Oleh: Reinold Isantorius


Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah


Adat Suku Bangsa Dayak ini telah ada sejak waktu yg telah lama, menurut penuturan secara turun temurun. Nama asal Pulau Kalimantan adalah Pulau “ SELUNG “ yang berarti dibuat secara khusus.

Pada jaman penjajahan Belanda dan di utara oleh Orang Inggris disebut BORNEO / Brunei dan setelah Indonesia merdeka di bagian Indonesia diberi nama Pulau KALIMANTAN adalah nama menurut Indonesia. Menurut penuturan para leluhur pada waktu awal mula pertama yg ditutur dalam Legend Tatum Tambun Bungai bahwa asalnya si pulau Selung ini ada empat tempat seperti berikut :

1. Ditantan Sama Tuan ( Bukit Keminting ) atau Pegunungan Schwanhner dan Muller yg diturunkan
Ranying Hatalla dengan PALANGKA BULAU di sana HAWUN DAN BALUN. Hawun dan balun memperanakan Ranying Uhing, Ranying Uhing beranakan Sabira Nangui Garantung, Sabira Nangui Garantung memperanakan Sabira Nangui Pahawang, Sabira Nangui Pahawang memperanakan Raja Mangku Langit, Raja Mangku Langit memperanakan Antang Bajela Bulau, Antang Bajela Bulau memperanakan Raja Burung bua, Raja Burung Bua memperanakan Raja Rambung dan Andin atau keturunan yang kesembilan.

2. Di Liang Mengan

Raja Dari Dara dengan keturunan nya. Raja Dari Dara memperanakan Raja Mungkar Bunu, Raja Mungkar Bunu memperanakan Haramaung Menteng, Raja Haramaung Menteng memperanakan Raja Marangkesau Langit, Raja Marangkesau Langit beranakan Raja Tampung Lamiang, Raja Tampung Lamiang memperanakan Pimping Menteng, Raja Pimping Menteng memperanakan Raja Kangkaklingen Andau, Raja Kangkalingen Andau Pangeran Kalangkang ambun Penyang atau keturunan yg ketujuh setelah diturunkan.

3. Di Datah Kasiang
Raja Ujan Bulou dengan keturunannya. Raja Ujan Bulou memperanakan Raja Bagetas Tengap, Raja Bagetas Tengap memperanakan Raja Manjak Bunu, Raja Manjak Bunu memperanakan Raja Tunggal Sangkalemu, Raja Tunggal Sangkalemu Raja Bahing Penyang Menteng, Raja Bahing Penyang Menteng memperanakan Raja Bahing Penyang Sangkalemu, Raja Bahing Penyang Sangkalemu memperanakan Raja Garing Hatampung, Raja Garing Hatampung beranakan Andin, Kameloh Ujan Bulan, Kameloh Taran Bulan dan Kameloh Kangkalingen Ondou atau keturunan yg ketujuh setelah diturunkan.

4. Di Batu Ajou
Sirou Batu Ajou dengan isterinya Nyai Sumping Bulou dengan Keturunannya.
Yang menurunkan
1. Rajan Punan
2. Rajan Bantian
3. Rajan Paneheng
4. Rajan Pari / Kareho
5. Rajan Kanyawung
6. Rajan Kenyah
7. Rajan Bahau
Dan yg lain nya.

Selanjutnya Raja Rambung kimpoi dengan Kameloh Kangkalingei Ondou beranakan SEMPUNG Dan dari isteri yang kedua, Raja rambung beranakkan Bungkai ini adalah keturunan yg kedelapan.
SEMPUNG kimpoi dengan Kameloh Mandalan Bulan anak Pangeran Kalangkang Ambun Penyang Saudara sepupunya.

SEMPUNG dan Kameloh Mandalan Bulan memperanakan anak pertama seorang Perempuan bernama Tabura dan anaknya yang kedua di beri nama BUNGAI atau keturunan yg ke sembilan.

BUNGKAI kimpoi dengan Kameloh Untai Bulan anak ANDIN saudara sepupunya dan memperanakan yang pertama perempuan diberi nama Rumpung dan anaknya yg kedua diberi nama TAMBUN, atau keturunan yg kesembilan sesudah diturunkan.

TAMBUN & BUNGAI nenek leluhur suku Dayak dan menjadikan keturunan bagi Orang Dayak yang mendiami Pulau SELUNG / SELONG atau pulau Kalimantan sekarang.

Isen Mulang Petehku
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
21-02-2014 01:57
JIPEN (Budak) DALAM BUDAYA DAYAK NGAJU


Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
Sampai tahun 1857 budaya Dayak Ngaju masih tetap utuh dijalankan, salah satunya adalah mengenai “JIPEN” atau perbudakan. Menusia ciptaan Tuhan dikotak-kotakan menjadi tiga golongan:

1. Golongan Tinggi atau disebut “UTUS GANTUNG” atau “UTUS TATAU”

2. Golongan Rendah atau disebut “UTUS RANDAH”

3. Golongan budak atau disebut “UTUS JIPEN”

Utus Jipen / budak ini ada 3 jenis:

  • JIPEN KABALIK LAPIK SANDUNG, disebut juga JIPEN HANTUEN; berasal tempat tinggalnya di Sungai Rasen, Simpang Rungan hulu. Jipen Hantuen keturunan Angkes/Tahuman, turun temurun menjadi jipen (budak) dan boleh diperjual-belikan kepada barang siapa yang ingin memelihara jipen, pada zaman dahulu harganya Rp. 30,- seorang jipen.

  • JIPEN SAMBUAT, karena melanggar hukum adat, dikenakan denda yang tidak dapat dibayar oleh pelanggar hukum tersebut. Tetapi bilamana ada dari keluarganya dapat menolong, maka ia dibebaskan.

  • JIPEN karena hutang, meminjang uang atau barang yang anak-beranak (berbunga) ada yang disebut MANAK SALIPET (dibayar 2 kali pokok); ada yang disebut NAKOLOK (Pokok + 1/2 Pokok menjadi 1-1/2 kali pokok).

Orang yang menjadi Jipen tidak memiliki kemerdekaan atas dirinya, ketika yang tuan pemilik jipen ini mati, maka jipen juga akan ikut dibunuh menjadi pelayan di akhirat pada upacara TIWAH. Makanya ada istilah SEKRAUNG atau SAKI RAUNG, dimaan darah Jipen/budak tadi ditumpahkan untuk mengurapi / Manyaki peti mati / raungnya. Bahkan dibeberapa peninggal Rumah Betang akan ditemukan rantai besi untuk mengikat JIPEN ini.
Didalam budaya dayak yang lain juga dikenal adat Jipen ini, misal Dayak Lun Dayeh memperbudak Kaum Lengiluk pada masa lalu. Beruntunglah karena pengaruh Missionaris yang masuk ke Tanah Kalimantan maka perbudakan dapat dihentikan.
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
22-02-2014 01:26
TOTOK BAKAKAK /SANDI/KODE YANG UMUM DIGUNAKAN/DIMENGERTI OLEH SUKU DAYAK.

1. Mengirim tombak yang telah di ikat rotan merah (telah dijernang) berarti menyatakan perang. (dalam bahasa Dayak Ngaju "Asang").

2. Mengirim sirih dan pinang berarti si pengirim hendak melamar salah seorang gadis yang ada dalam rumah yang dikirimi sirih dan pinang.

3. Mengirim seligi (salugi) berarti mohon bantuan, kampong dalam bahaya.

4. Mengirim tombak bunu (tombak yang mata tombaknya diberi kapur) berarti mohon bantuan sebesar mungkin karena bila tidak, seluruh suku akan mendapat bahaya.

5. Mengirim Abu, berarti ada rumah terbakar.

6. Mengirim air dalam seruas bambu berarti ada keluarga yang telah mati tenggelam, harap lekas dating. Bila ada sanak keluarga yang meninggal karena tenggelam, pada saat mengabarkan berita duka kepada sanak keluarga, nama korban tidak disebutkan.

7. Mengirim cawat yang dibakar ujungnya berarti salah seorang anggota keluarga yang telah tua meninggal dunia.

8. Mengirim telor ayam, artinya ada orang datang dari jauh untuk menjual belanga, tempayan tajau.

9. Daun sawang/jenjuang yang digaris (cacak burung) dan digantung didepan rumah, hal ini menunjukan bahwa dilarang naik/memasuki rumah tersebut karena adanya pantangan adat.

10. Bila ditemukan pohon buah-buahan seperti misalnya langsat, rambutan, dsb, didekat batangnya ditemukan seligi dan digaris dengan kapur, berarti dilarang mengambil atau memetik buah yang ada dipohon itu.

(sumber Kalimantan Membangun)
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
26-02-2014 01:24

Makna Mimpi

Orang Dayak meyakini bahwa mimpi merupakan realitas yang bermakna bagi kehidupannya, sehingga mimpi memiliki arti tertentu. Beberapa contoh arti mimpi :

  • Jenazah. Mimpi melihat jenasah artinya akan mendapat keuntungan.

  • Darah. Mimpi melihat darah berarti waspada, darah keluar karena cekcok atau adanya dendam. Bisa dinetralisir dengan dipalas yaitu diusap dengan darah ayam

  • Gigi. Mimpi gigi atas tanggal, berarti kenalan atau sanak keluarga yang usianya lebih tua akan meninggal dunia.

  • Bulan. Mimpi melihat bulan berarti akan bertunangan.

  • Cincin Mimpi memakai cincin berarti seseorang telah terluka dan sakit hati akibat ulah kita.

  • Pakaian Putih. Mimpi berpakaian putih berarti akan mengalami sakit keras.

  • Pakaian Hitam. Mimpi berpakaian hitam berarti akan mengalami sakit keras yang mungkin membawa kematian.

  • Menjala Ikan. Mimpi menjala ikan berarti akan mendapatkan rezeki.

  • Sakit. Mimpi sakit berarti lawannya, yaitu sehat walafiat.

  • Naik Gunung. Mimpi naik gunung berarti akan naik pangkat.

  • Jatuh. Mimpi jatuh berarti akan mendapat malu

  • Ular. Mimpi ular berarti akan mendapat godaan lawan jenis.

  • Buaya. Mimpi membunuh buaya berarti akan mendapatkan lawan yang tangguh.

  • Anak Burung. Mimpi mendapatkan anak burung berarti dalam waktu dekat akan punya anak.

  • Ayam. Mimpi menangkap anak ayam berarti dalam waktu dekat akan punya anak.

  • Perahu. Mimpi naik perahu berarti akan menderita sakit.

  • Terbang. Mimpi terbang berarti akan mendapat keuntungan.

  • Makan. Mimpi makan berarti akan menderita sakit perut.

  • Telanjang. Mimpi telanjang berarti akan mendapatkan malu.

  • Sapi. Mimpi dikejar sapi berarti akan menderita sakit.

  • Kerbau. Mimpi dikejar kerbau berarti akan menderita sakit.

  • Berenang. Mimpi berenang berarti akan menderita sakit.


Catatan:

Biasanya kalau kita mimpi yang tidak baik, untuk menetralakan mimpi tersebut dengan :
Pada saat trbangun dari mimpi, saat itu juga memotong ujung rambut langsung dikubur atau di letakan di atas tanah...
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 02:42

Kesaktian / Kepercayaan

Kalimat tentang adanya kesaktian/kepercayaan tidak saja hanya dipakai sebagai hiasan kesusastraan belaka melainkan dapat dipandang sebagai pendapat yang berakar-akar dalam bumi kepercayaan bangsa Indonesia, dari masa lampau sampai sekarang masih mempercayai akan adanya benda halus yang bernama kesaktian, termasuk pengetahuan bathin orang-orang Dayak. Adapun nama-nama pengetahuan bathin orang-orang Dayak tersebut diantaranya sebagai berikut:

  • Parang-maya, yaitu orang yang kena mati badan separo, atau leher seakan-akan ada bekas luka, atau tangan mendadak tak bisa bergerak, atau badan biru, tangan sepotong.

  • Pipit Berunai, yaitu semacam binatang kecil seperti busuk dipelihara dalam botol, dikasih makan timah atau waja/besi, menurut kepercayaan binatang tersebut dapat diperintahkan menyerang musuh.

  • Tumbak Gahan, yaitu pengetahuan ini biasanya terdapat di daerah Barito Selatan, Barito Timur dan Pasir (Tanah Grogot).

  • Awoh, yaitu khusus pengetahuan untuk membengkak atau merusak mata jadi buta, atau koreng yang tak dapat diobati lagi, daging lepas-lepas.

  • Kiwang, Kibang, Pakihang, yaitu khusus untuk memelihara kebun, ladang, rumah dll, orang yang kena dapat bengkak, sakit perut, berak-berak mendadak, badan lemas. Ada juga yang dinamai Pakihang Leket, orang yang terkena lemas tak dapat berjalan/berpindah tempat.

  • Panikam Jantung, yaitu khusus kekuatan bathin menikam jantung, orang terus hilang nafas dan kelihatan bekas dibelakang atau didepan bersamaan tempat jantung.

  • Petak Malai, yaitu tanah malai, tanah yang berkhasiat untuk menjinak binatang-binatang yang liar, menjinak manusia. Tanah ini didapat dari Bukit Bondang, Bukit Raya, Bukit Kaminting, Gunung Kelam dan disungai Samba dekat kampung jala hulu sungai Katingan.

  • Dan lain-lain...


(sumber Kalimantan Membangun)
Diubah oleh Deka04
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 03:04

Asal Usul Manusia Dayak

Menurut kepercayaan Suku Dayak, terutama Suku Dayak yang berada dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan Palangka Bulau( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan Ancak atau Kalangkang).

Menurut cerita nenek moyang mereka asal mulanya diturunkan dari langit ke dalam dunia ini di empat tempat berturut-turut dengan Palangka Bulau, yaitu:

  • Di Tantan Puruk Pamatuan di Hulu Sungai Kahayan dan Barito
    Maka inilah seorang manusia yang pertama yang menjadi datuknya orang-orang dayak yang diturunkan di Tantan Puruk Pamatuan, yang diberi nama oleh Ranying : Antang Bajela Bulau atau Tunggul Garing Janjahunan Laut. Dari Antang Bajela Bulau maka terciptalah dua orang laki-laki yang gagah perkasa yang menteng ureh mamut bernama Lambung atau Maharaja Bunu dan Lanting atau Maharaja Sangen.

  • Di Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting (Bukit Kaminting)
    Oleh Ranying terciptalah seorang yang maha sakti, bernama Kerangkang Amban Penyang atau Maharaja Sangiang.

  • Di Datah Takasiang, Hulu sungai Rakaui (Sungai Malahui Kalimantan Barat)
    Oleh Ranying terciptalah 4 orang manusia, satu laki-laki dan tiga perempuan, yang laki-laki bernama Litih atau Tiung Layang Raca Memegang Jalan Tarusan Bulan Raca Jagan Pukung Pahewan, yang seketika itu juga menjelma menjadi Jata dan tinggal di dalam tanah di negeri yang bernama Tumbang Danum Dohong. Ketiga puteri tadi bernama Kamulung Tenek Bulau, Kameloh Buwooy Bulau, Nyai Lentar Katinei Bulau.

  • Di Puruk Kambang Tanah Siang (Hulu Barito)
    Oleh Ranying terciptalah seorang puteri bernama Sikan Atau Nyai Sikan di Tantan Puruk Kambang Tanah Siang Hulu Barito.


0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 03:13

Pembagian Suku Dayak

Suku Dayak terbagi dalam 7 suku besar, dan terbagi lagi dalam 18 suku kecil, dan terbagi lagi dalam 405 suku kekeluargaan/sedatuk. Pembagiannya adalah :

1. Dayak Ngaju (terdiri dari 4 suku kecil dan 90 suku sedatuk
  • Dayak Ngaju (terbagi dalam 53 suku sedatuk)
  • Dayak Ma`anyan (terbagi dalam 8 suku sedatuk)
  • Dayak Dusun (terbagi dalam 8 suku sedatuk)
  • Dayak Lawangan (terbagi dalam 21 suku sedatuk)

2. Dayak Apu Kayan (terdiri dari 3 suku kecil dan 60 suku sedatuk)
  • Dayak Kenya (terbagi dalam 24 suku sedatuk)
  • Dayak Kayan (terbagi dalam 10 suku sedatuk)
  • Dayak Bahau (terbagi dalam 26 suku sedatuk)

3. Dayak Iban dan Heban (terbagi dalam 11 suku sedatuk)

4. Dayak Klemantan atau Dayak Darat (terdiri dari 2 suku kecil dan 87 suku sedatuk)
  • Dayak Klemantan (terbagi dalam 47 suku sedatuk)
  • Dayak Ketungau (terbagi dalam 40 suku sedatuk)

5. Dayak Murut (terdiri dari 3 suku kecil dan 44 suku sedatuk)
  • Dayak Murut (terbagi dalam 28 suku sedatuk)
  • Dayak Idaan (terbagi dalam 6 suku sedatuk)
  • Dayak Tidung (terbagi dalam 10 suku sedatuk)

6. Dayak Punan (terdiri dari 4 suku kecil dan 52 suku sedatuk)
  • Dayak Basap (terbagi dalam 20 suku sedatuk)
  • Dayak Punan (terbagi dalam 24 suku sedatuk)
  • Dayak Ot (terbagi dalam 5 suku sedatuk)
  • Dayak Bukat (terbagi dalam 3 suku sedatuk)

7. Dayak Ot Danum (terdiri dari 61 suku sedatuk)
Diubah oleh Deka04
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 03:21
Bentuk Hukum Adat Suku Dayak

Dalam melaksanakan adat suku dayak, ada dua aliran yaitu:

  • Tersilah kepada Keduniawian
    Hukum adat ini berlaku dalam perkara kriminal, etika dan pergaulan masyarakat. Hukum adat juga mengadili perkara yang berhubungan dengan kemasyarakatan misalnya: masalah harta benda, pusaka, perkimpoian, perceraian, ketentuan ahli waris, masalah anak dalam perceraian, milik perpantangan, hak-hak atas tanah.

  • Tersilah kepada Agama
    Hukum Adat yang tersilah kepada Agama menghukum siapa pun yang telah menghina dan mencemarkan hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat, misalnya: merusak kubur, merusak pahewan, merusak petak ruas, merusak petak pali, merusak Indus, merusak sandung, melanggar adat pali disaat kampong memegang rutas, melanggar adat negeri ketika memalas pali, melanggar adat pali ditempat orang melahirkan, melanggar adat pali pada saat pengobatan orang sakit, merusak pangantoho (rumah kecil tempat pujaan), tulah berjinah dengan saudara, tulah berjinah dengan ibu/bapak, tulah berjinah dengan misan, merusak pantar.



Asal Usul Nama Kalimantan

Orang Dayak mempunyai cara pandang tersendiri terhadap sejarah pulaunya, yang terungkap dalam tradisi lisan yang disebut Tetek Tatum. Tetek tatum merupakan salah satu kesusastraan Dayak asli yang artinya ratap tangis sejati. Tetek tatum dinyanyikan dengan lagu dan sangat digemari nenek moyang orang-orang Suku Dayak yang mana isinya menceritakan keadaan Kalimantan sejak zaman bahari (dulu), zaman dewa-dewa, tentang peperangan, silsilah dan lain-lain. Sedangkan Kalimantan itu sendiri mempunyai arti:

  • Kali = sungai, Mantan = besar (mantan dalam bahasa dayak sangen artinya besar), yang akhirnya Kalimantan berarti pulau yang memiliki sungai besar-besar.

  • Kalimantan = nama sebangsa pohon buahnya asam yang banyak terdapat di Kalimantan.

  • Borneo berasal dari Brunei yang dulunya disebut dengan nama Burnei sehingga akhirnya menjadi Borneo.


(sumber Kalimantan Membangun)
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 03:34

Penyebaran Orang Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah

Dalam puisi "TETEK TATUM" disebutkan bahwa nenek moyang orang Dayak berasal dari Kerajaan Langit, diturunkan dengan "Palangka Bulau" di :

  • Tatan Puruk Pamatua.
  • Tatan Liang Mangan Puruk Kaminting.
  • Puruk Kambang Tanah Siang.

Raja tersebut bergelar THA WONG yang berarti Raja Besar. Hal ini disebut-sebut dalam puisi "TETEK TATUM" dengan sedikit mendapatkan perubahan dari THA WONG menjadi "TAHAWONG". Oleh karena itu tidak mengherankan jika di kalangan Suku Dayak ada beberapa keluarga dalam memberikan nama bagi anak laki-laki yang lahir di keluarga yang lahir dikeluarganya dengan nama antara lain : Tahawong, Sahawong, Sawong, Tewong. Siwong.

Salah satu kelompok migran dari THA WONG tersebut masuk ke Kalimantan Tengah sekarang diduga melalui Kalimantan Barat, dengan menyusuri Sungai Kapuas. Dalam pencarian tempat pemukiman baru yang aman akhirnya kelompok tersebut menyeberangi Pegunungan Schwaner.

Pemukiman pertama diduga dibangun dihulu anak-anak sungai Katingan antara lain hulu Sungai Baraoi anak Sungai Samba yang terkenal dengan nama "DATAH OTAP". Sehingga saat ini ditempat itu masih terdapat puing - puing Betang yang sangat besar. Betang tersebut pada masanya dipastikan sangat kokoh. Tiang-tiang Betang dibuat dari kayu ulin yang berdiameter antara 60-70 cm. Tiang-tiang betang ini lah diduga dimulai penyebaran kelompok-kelompok kecil kesebagian besar wilayah Kalimantan Tengah. Salah satu kelompok kecil yang dipimpin oleh "ONGKO KALANGKANG" pindah kearah Timur dan akhirnya menetap di hulu Sungai Kahayan, yaitu di Desa Tumbang Mahuroi sekarang.

Warga Suku Dayak Ngaju mengakui bahwa ONGKO KELANGKANG adalah moyang mereka dan merupakan cikal bakal adanya Suku Dayak Ngaju. Dalam Bahasa Ngaju, kata "Ongko" berarti orang tua. Kata kalangkang merupakan pertautan 3 (tiga) kata yaitu : Ka (atau Kho) - Lang dan Kang.

Migrasi Ongko Kalangkang ke hulu Sungai kahayan (Tumbang Mahuroi) disertai oleh 7 (tujuh) keluarga anak-menantunya. Atas kesepakatan bersama, maka ke-7 keluarga anak-menantunya tersebut menyebar mencari tempat-tempat pemukiman baru dengan cara menyisir sungai Kahayan kearah hilir (Selatan). Dengan menggunakan rakit-rakit yang dibuat dari bambu dan kayu, rombongan ke-7 keluarga tersebut melakukan perjalan untuk mencari tempat-tempat pemukiman baru yang cocok. Dengan demikian di sepanjang Sungai Kahayan akhirnya terbangun 8 (delapan) perkampungan asal yang merupakan kampung generasi pertama, yaitu :

  • Tumbang Mahuroi (Ongko Kelangkang)
  • Tumbang Pajangei (anak laki-laki)
  • Tampang (anak laki-laki)
  • Sepang Simin (anak laki-laki)
  • Bawan (anak perempuan)
  • Pahawan (anak Perempuan)
  • Bukit Rawi (anak perempuan)
  • Pangkoh (anak perempuan)

Yang masih menjadi perdebatan apakah yang dimaksud dengan Dayak? Ini dikarenakan suku-suku yang mendiami Pulau Borneo (Kalimantan) secara umum di sebut Suku Dayak. Yang dimaksud dengan Dayak adalah Sungai. Kata Dayak yang artinya sungai tersebut terdapat pada salah satu anak suku Benuaq di Kalimantan Timur serta bahasa suku (lokal) di Kalimantan barat dan Serawak.

Pada awal abad ke - XIX seorang ilmuwan barat sekaligus Missionaris telah melakukan perjalanan panjang selama bertahun-tahun untuk suatu penelitian tentang suku bangsa dan budaya penduduk yang mendiami pulau Borneo. Pada saat itu sungai merupakan satu-satunya prasarana perhubungan dari satu kampung ke kampung lainnya. Disetiap aliran sungai ilmuwan tersebut menyusuri sungai dengan menggunakan perahu yang oleh tenaga upahan dari penduduk setempat. Apabila sampai pada suatu kampung, ia bertanya kepada pengantarnya (guide) tentang nama kampung dan suku bangsa apa yang mendiami tempat itu. namun sampai berakhirnya seluruh perjalanan penelitian tersebut, ternyata bahwa semua suku bangsa yang di temuinya belum mempunyai nama. Oleh karena itulah didalam tulisan akhirnya ilmuwan tersebut menyimpulkan bahwa suku bangsa yang mendiami pulau Borneo diberikannya nama Suku bangsa Dayak yang artinya suku bangsa yang bermukim di sepanjang tepi sungai.
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 04:18

Pandangan Orang Dayak Ngaju Terhadap Tamu Asing dan Pendatang Baru

Pada dasarnya masyarakat Dayak Ngaju sangat hormat kepada tamu dari luar daerah termasuk pula kepada pendatang baru. Menurut Adat Istiadat Dayak Ngaju dalam menerima tamu, maka sebagai tuan rumah akan menerima dan memberikan pelayanan sesuai kemampuannya.
misalnya seperti contoh sebagai berikut :

  • Bilamana kedatangan seseorang atau lebih tamu dari desa lain atau dari tempat jauh pada pagi atau siang hari, maka tuan rumah dengan senang hati menjamu tamu tersebut setidak-tidaknya minum teh, kopi atau bila ada ditambah sajian sederhana lainnya.

  • Bilamana kedatangan seseorang atau lebih tamu dari luar desa atau tempat yang jauh pada sore atau malam hari dan bermaksud meminta tumpangan tempat menginap maka setelah di yakini tamu tersebut adalah orang baik-baik, maka tuan rumah dengan senang hati memberi tumpangan. Andai kata diketahui bahwa tamunya tersebut belum makan malam, is dan keluarga dengan senang hati menyediakan makanan dan minuman sesuai dengan kemampuannya. Bahkan andai kata beras yang tersisa hanya untuk sekali menanak nasi sekalipun, is rela untuk menjamu tamunya. Tuan rumah juga dengan rela menyiapkan tempat tidur diruang depan, bahkan merelakan kasur dan bantal yang mereka pakai untuk disiapkan sebagai tempat tidur tamunya.

  • Demikian pula terhadap pendatang baru yang bermaksud bermukim sementara waktu sehubungan dengan tugas pekerjaannya diterima dengan sikap sambutan yang ramah dan lembut. Bahkan sejak awal abad ke-XX sampai sekitar tahun 1970-an, didesadesa yang sering disinggahi oleh orang yang melakukan perjalanan dibangun "pesanggrahan" dengan ukuran lebih kurang 4 x 6 meter sebagai tempat menginap gratis.


Penyambutan Tamu Terhormat

Yang dimaksud Tamu Terhormat adalah Pejabat Negara / Pemerintah (misainya Presiden/Wakil Presiden/Menteri/Dirjen/Direktur/Pimpinan DPP-RI/ Gubernur/Wakil Gubernur/Bupati/Walikota dan lain-lain) atau Tokoh Politik/ Tokoh Masyarakat yang mumpuni.

Dalam peristiwa tersebut tamu terhormat yang bersangkutan diterima secara Adat yang disebut Acara "Tetek Pantan". Dalam Bahasa Dayak Ngaju kata Tetek artinya potong dan Pantan berarti penghalang. Meskipun tidak semua Acara Tetek Pantan tersebut adalah memotong penghalang, namun istilah Tetek Pantan merupakan istilah populer untuk acara tersebut.

Menyambut tamu terhormat dengan Pantan adalah dengan membangun suatu pintu gerbang yang dihiasi dengan janur dan berbagai macam bunga. Pada pintu gerbang tersebut ditempatkan "Pantan". Setelah "pantan" dipotong atau dibuka barulah tamu terhormat tersebut dipersilahkan memasuki tempat acara.

Dalam Adat Dayak Ngaju terdapat 7 (tujuh) macam "pantan" sebagai berikut :

  • Pantan Kayu
    Untuk bahan pantan kayu dipilih jenis kayu lemah dengan ukuran diameter ± 10-15 cm dan panjang ± 3 meter. Kayu tersebut ditempatkan menghalang jalan masuk tamu pada pintu gerbang. Biasanya sebelum dipotong oleh tamu, kayu pantan tersebut ditutupi terlebih dahulu dengan kain batik panjang (bahalai).

    Acara Tetek Pantan tersebut dipimpin oleh Damang Kepala Adat. Apabila Damang Kepala Adat berhalangan dapat diganti oleh Tokoh Adat lainnya. Setelah "bahalai" diangkat dari atas kayu pantan, Damang Kepala Adat menyerakan sebuah "mandau" (golok tradisional Dayak) sebagai alat pemotong pantan. Menggunakan mandau tersebut, tamu terhormat dipersilahkan memotong kayu pantan sampai putus.

    Sebelum acara "Tetek Pantan" dimulai dan sembari pemotongan pantan oleh tamu, terjadi dialog antara Damang Kepala Adat dengan Tamu Terhormat tersebut berkisar tentang maksud dan tujuan kedatangan sang tamu. Setelah pantan terpotong barulah tamu dan rombongan dipersilahkan berjalan masuk kearena Acara Penyambutan dipintu masuk tamu terse-but di "tampung tawar" oleh Damang Kepala Adat.

  • Pantan Tewu
    Bahasa Dayak Ngaju kata "Tewu" berarti tebu. Acara pantan tewu ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Ngaju di wilayah Sungain Katingan. Rangkaian acara sama seperti pelaksanaan pantan kayu.

  • Pantan Garantung
    Garantung berarti gong. Jadi dalam Pantan Garantung, benda yang menjadi penghalang dipintu gerbang adalah beberapa buah gong, jumlahnya antara 3 (tiga) buah, 5 (lima) buah atau 7 (tujuh) buah garantung. Garantung di jejerkan dipintu gerbang acara dan ditutup dengan kain batik panjang (bahalai).
    Pertama-tama sang tamu mengangkat kain batik panjang (bahalai) tersebut, kemudian memindahkan semua gong tersebut kepinggir jalan. Setelah itu tamu dan rombongannya dipersilahkan masuk ketempat acara penyambutan.

  • Pantan Balanga
    Balanga adalah guci yang mahal buatan Cina berasal dari Dinasti Ming atau Dinasti Ching. Jumlah balanga yang dipergunakan sebagai alat pantan antara 3 (tiga) balanga, 5 (lima) balanga atau 7 (tujuh) balanga.
    Diatas permukaan balanga ditutup dengan kain batik panjang (bahalai). Sang tamu berkewajiban mengangkat kain bahalai tersebut dari permukaan balanga, kemudian memindahkan seluruh balanga tersebut kesamping. Setelah itu para tamu dipersilahkan memasuki tempat acara penyambutan tamu.

  • Pantan Garantung dan Balanga
    Barang untuk pantan berupa beberapa buah garantung (gong) dan beberapa buah balanga (guci).
    Tamu Terhormat tersebut pertama-tama memindahkan kain batik panjang (bahalai) dari permukaan garantung dan balanga, kemudian memindahkan semua garantung dan balanga tersebut kesamping, setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongan memasuki arena penyambutan tamu.

  • Pantan Timpung
    Bahan pantan timpung adalah kain yang dipasang seperti gorden pintu. Pada kedua sisi bagian tengah kain tersebut disatukan dengan benang. Sang Tamu harus memotong benang tersebut dengan menggunakan gunting atau alai pemotong lainnya sehingga kain pantan dapat terbuka. Setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongannya memasuki arena penyambutan.

  • Pantan Bulan
    Dewasa ini pantan bulan lebih merupakan legenda saja oleh karena tidak pernah lagi dilaksanakan.
    Dalam pantan bulan, yang menjadi penghalang tamu masuk pada pintu gerbang adalah sejumlah gadis-gadis yang berdiri berjejer. Jumlah gadis-gadis tersebut antara 3 (tiga) orang gadis, 5 (lima) orang gadis atau 7 (tujuh) orang gadis.


Dibawah pimpinan Damang Kepala Adat, tamu terhormat yang bersangkutan menarik dan memisahkan gadis-gadis tersebut sampai pintu gerbang terbuka. Pada zaman dulu, sang tamu dapat memilih salah satu dari gadis tersebut untuk diajak mendampinginya masuk kearena penyambutan tamu.

Bagaimana penyambutan dan sikap ramah yang ditunjukan oleh warga masyarakat Dayak Ngaju, bagaimana mereka memandang orang asing atau pendatang baru serta bagaimana adat mereka menyambut tamu terhormat yang berkunjung adalah menjadi bukti bahwa warga masyarakat Dayak Ngaju sangat peduli dan hormat kepada tamu dan orang lain yang datang ketempat mereka.

Namun demikian sikap ramah dan hormat tersebut akan berubah drastis apabila kemudian ternyata tamu, orang asing atau pendatang baru tersebut menunjukan perilaku yang bertentangan atau melanggar Adat Istiadat maupun Hukum Adat yang mereka hormati dan dipertahankan sebagai salah satu entitas Suku Dayak.
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 04:19

Pernikahan Menurut Adat Dayak Ngaju

Pernikahan Menurut Adat Dayak Ngaju

Menurut Adat Istiadat Dayak Ngaju cara-cara pernikahan terbagi atas :

  • Pernikahan sesuai dengan ketentuan Adat yang lazim.
  • Pernikahan melalui cara yang tidak lazim.
  • Pernikahan Tulah.


1. Pernikahan sesuai dengan ketentuan Adat yang lazim adalah melalui tahapan - tahapan sebagai berikut :

  • Hakumbang Auh
    Yang dimaksud dengan "Hakumbang Auh" dapat diterjemahkan sebagai langkah penjajakan dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan untuk mempertanyakan apakah anak gadis yang bernama "A" masih bebas dalam arti belum terikat pembicaraan atau perjanjian dengan pihak laki-laki lain.

    Biasanya orang tua laki-laki meminta bantuan salah seorang kerabat dekat untuk menyampaikan pesan tersebut yang dibuktikan dengan "Manjakah Duit" (Manjakah duit = melempar uang).

    Adat tidak mengatur berapa besar jumlah uang yang disampaikan dalam rangka "Hakumbang Auh" tersebut. Uang yang disampaikan tersebut biasanya 1 (satu) lembar saja, misalnya Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah), Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah). Rp. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah), Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) atau Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).

    Besar kecil nilai lembaran uang tersebut mempunyai banyak makna antara lain yaitu :

    • Sebagai bukti kesungguhan pihak laki-laki
    • Untuk menunjukan martabat pihak laki-laki.

    Menurut Adat-Istiadat Masyarakat Dayak Ngaju, keluarga pihak anak gadis dapat saja langsung pada saat itu menolak dan mengembalikan "duit hakumbang auh" tersebut apabila memang anak gadis mereka telah mempunyai ikatan yang cukup kuat dengan pihak lain. Atau sebaliknya untuk sementara menerima "duit hakumbang auh" untuk dibahas terlebih dulu di lingkungan sanak keluarga. Biasanya rata-rata dalam jangka waktu 2 (dua) minggu atau paling lama 1 (satu) bulan, pihak keluarga perempuan akan memberikan jawaban apakah menerima atau menolak.

    Apabila setelah dipertimbangkan dan dengan adanya alasan-alasan khusus sehingga keinginan dari pihak laki-laki terpaksa ditolak, maka keluarga pihak perempuan segera mengutus salah seorang kerabat dekatnya mengembalikan "duit hakumbang auh" kepada keluarga pihak laki-laki melalui kurir yang pernah diutus disertai dengan penje¬lasan alasan-alasannya secara halus.

    Dalam hal niat dari pihak laki-laki diterima, mungkin saja dari pihak perempuan menyampaikan pemberitahuan persetujuan lebih dini dari waktu yang dijanjikan. Namun apabila terjadi jawaban setuju atau tidak setuju dari pihak keluarga perempuan belum juga diketahui meskipun telah melampaui batas waktu yang diperjanjikan, maka kurir dari pihak laki-laki segera mempertanyakannya.

    Penolakan oleh keluarga pihak perempuan apabila tidak disampaikan secara arif dapat mengakibatkan keluarga pihak laki-laki merasa dipermalukan karena dianggap ditampik. Pada zaman dulu peno¬lakan sedemikian bahkan dapat mengakibatkan perselisihan diantara kedua keluarga.

    Pada masa sekarang pelaksanaan "Hakumbang Auh" tersebut lebih merupakan formalitas saja oleh karena pada umumnya hubungan pergaulan kedua muda-mudi tersebut telah memperoleh kesesuaian dan keluarga masing-masing pihak sebenarnya sudah merestui hubungan dekat antara keduanya. Setelah keluarga pihak laki-laki memperoleh jawaban bahwa "duit hakumbang auh" tersebut diteri¬ma, maka mulailah kedua belah pihak melakukan perundingan inten¬sif tentang rencana "Acara Misek".

  • Misek
    Secara harfiah kata "misek" berarti "bertanya", namun dalam konteks Adat Istiadat tentang proses pernikahan menurut Adat Suku Dayak Ngaju "Acara Misek" berarti "Acara Pertunangan".

    Pada hari yang telah ditentukan bersama, keluarga dan kerabat pihak laki-laki beserta calon mempelai laki-laki datang kerumah keluarga pihak perempuan, sebaliknya keluarga pihak perempuan telah siap menerima kedatangan rombongan keluarga pihak laki-laki.

    Biasanya diadakan pesta sederhana dengan memotong ayam 3 - 5 ekor dan babi 1 ekor. Biaya untuk pesta misek ini sepenuhnya ditanggung oleh keluarga pihak perempuan.

    Kedatangan rombongan keluarga dan calon mempelai laki-laki dirumah keluarga calon mempelai perempuan melalui suatu rangkaian upacara sederhana sebagai berikut :

    Setelah seluruh rombongan calon mempelai laki-laki masuk kedalam rumah, dipersilahkan duduk bersila dan berjejer diatas tikar lampit atau karpet.

    Dihadapan mereka dibentangkan tikar rotan anyaman halus. Pada bagian depan biasanya duduk beberapa orang yang mewakili keluarga pihak laki-laki (3-5 orang) beserta seorang ibu (biasanya bibi atau nenek calon mempelai laki-laki) yang menggendong "Sangku" yang berisi beras dan semua syarat-syarat untuk "misek".

    Barang-barang yang merupakan syarat dalam "acara misek" biasanya berupa :
    a.Seperangkat barang /alat untuk mandi dan merias diri (misalnya sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, sisir rambut, cermin kecil, lipstick, minyak wangi/parfum, bedak, sham¬poo, deodorant, sapu tangan, kain panjang batik, bahan tekstil untuk membuat gaun /kebaya atau pakaian jadi 1 stel lengkap, sandal dan sepatu masing-masing sepasang).

  • 2 (dua) buah cincin pertunangan.
    Disisi lain dari tikar rotan anyaman halus duduk pula beberapa orang yang mewakili keluarga perempuan (3-5 orang) serta seorang ibu (biasanya bibi atau nenek calon mempelai perempuan). Acara dimulai dengan pertanyaan dari wakil keluarga pihak perempuan tentang maksud kunjungan rombongan keluarga pihak laki-laki tersebut. Terjadilah dialog antara delegasi kedua pihak yang bahkan kadang-kadang diungkapkan dengan bahasa yang kocak sehingga membuat ramainya suasana.

    Hal yang menarik bahwa masing-masing pihak telah menyiapkan sejumlah minuman keras. Barang siapa dalam dialog melakukan kesalahan bicara, maka yang bersangkutan dikenakan "denda" yaitu minum 1 seloki minuman keras tersebut sehingga acara berlangsung hangat dan gembira.

    Acara dialog telah selesai, kemudian dilakukan penyerahan barang - barang syarat "misek".
    Untuk menerima barang-barang syarat "misek" tersebut, keluarga pihak perempuan menyiapkan 1 (satu) buah "sangku" yang diisi pula dengan beras lebih kurang sepertiga (1/3) atau paling banyak separo (1/2) muatan sangku. Hal ini dimaksudkan supaya didalam sangku masih tersedia tempat menaruh barang¬barang syarat "misek".

    Sebelum penyerahan barang-barang syarat "misek" biasanya yang mewakili keluarga pihak laki-laki meminta agar gadis calon tunangan diajak keluar dan duduk diantara para wali keluarga kedua belah pihak.

    Menurut Adat, kedua ibu yang menyerahkan dan menerima barang-barang syarat "misek" saling memberi sebagian beras dari sangku masing-masing, hal itu dilakukan untuk menyatakan bahwa kedua keluarga telah merestui pertunangan kedua anak mereka. Selanjutnya satu persatu barang-barang syarat "misek" diserah-terimakan.

    Setelah itu dilanjutkan dengan pembahasan isi "Surat Janji Hisek" atau Surat Perjanjian Pertunangan.
    Surat Perjanjian Pertunangan memuat hal-hal sebagai berikut :
    Syarat-Syarat Nikah Adat meliputi :

    • Palaku
    • Saput Pakaian
    • Sinjang - Entang
    • Tutup Uwan
    • Lapik Luang
    • Garantung Kuluk Pelek
    • Bulau Singah Pelek
    • Lapik Ruji
    • Rapin Tuak
    • Timbuk Tangga
    • Bulau Ngandung/Panginan Jandau
    • Jangkut Amak
    • Batu Kaja


    Dalam hal anak gadis yang akan di pertunangkan tersebut masih mempunyai kakak perempuan yang belum menikah, maka jikalau pada saat pernikahannya nanti kakaknya tersebut ternyata masih juga belum menikah, maka terhadap pihak laki-laki akan ditambahkan persyaratan adat yang disebut "Danda Panangkalau" artinya denda atas nikah terlebih dahulu dari kakaknya yang harus dibayar oleh pihak laki-laki. Hal itu akan dituangkan dalam Perjanjian nikah Adat.

    Kemudian Penetapan Hari - Bulan - Tahun Pernikahan, menyepakati
    Besarnya Kontrak Danda Adat apabila terjadi pembatalan pernikahan, Setelah hal-hal tersebut disepakati maka dituangkanlah kedalam "Surat Janji Hisek" atau Surat Perjanjian Pertunangan.

    Acara dilanjutkan dengan penanda-tanganan Surat Janji Hisek (Surat Perjanjian Pertunangan) oleh kedua orang tua (ayah) serta sedikitnya 2 (dua) orang saksi dari masing-masing pihak, Damang Kepala Adat serta Kepala Desa setempat. Penanda-tanganan Surat Janji Hisek tersebut dilakukan dihadapan kedua pihak yang bertunangan.

    Kemudian dilaksanakan Acara "Meteng Manas" atau "Tukar Cincin".
    Pelaksanaan Acara ini bervariasi sesuai dengan Agama yang dianut , antara lain :

    Menurut Agama Kaharingan pada dasarnya tidak dikenal adanya Acara Tukar Cincin Pertunangan, melainkan "Acara Meteng Manas". Damang Kepala Adat memasang gelang manik kepada pasangan yang bertunangan. Tali manik biasanya sari serat tumbuhan yang disebut "Tengang".

    Setelah itu Damang Kepala Adat melakukan "Tampung Tawar" kepada pasangan tersebut diiikuti oleh orang tuakedua belah pihak, kerabat dekat atau tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Pada keluarga yang beragama Kristen, setelah acara penyerahan barang-barang syarat misek juga dilakukan acara Tampung Tawar, baru setelah itu dilanjutkan Acara Kebaktian yang dipimpin oleh Pendeta. Didalam Acara Kebaktian itu Pendeta memimpin Acara Tukar Cincin Pertunangan.

  • Pelaksanaan Nikah Adat
    Rata-rata sebulan sebelum waktu yang diperjanjikan pihak keluarga calon mempelai laki-laki bertanya kepada pihak keluarga calon mempelai perempuan mengenai hari H pelaksanaan pernikahan, apakah tetap sesuai dengan kesepakatan semula atau ada perubahan/pergeseran waktu. Bilamana kedua calon mempelai berdomisili di Kampung atau Kota yang sama, pelaksanaan pernikahan relatif mudah. Namun apabila mereka berdomisili di Kampung atau Kota yang berbeda, kadang-kadang rombongan mempelai laki-laki harus menempuh perjalanan yang melelahkan.

    Lama waktu pelaksanaan Nikah Adat tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak. Di Desa/Kampung biasanya berlangsung selama 2 (dua) hari, namun untuk keluarga yang berada/mampu dapat juga berlangsung lebih lama, misalnya 3-4 hari. Di Kota biasanya lebih singkat sehingga acara pernikahan seluruhnya dilaksanakan selama 1 (satu) hari saja.

    Panganten Mandai
    Yang dimaksud dengan Acara "Panganten Mandai" adalah acara dimana mempelai laki-laki beserta rombongan pengantin datang kerumah mempelai perempuan.
    Acara Panganten Mandai adalah acara pertama dalam prosesi Nikah Adat. Di Kampung/Desa Acara Panganten Mandai biasanya dilaksanakan pada pagi hari dan di Kota biasanya pada sore hari.

    Menurut Adat Istiadat Dayak Ngaju, rahgkaian kegiatan pada hari Panganten Mandai berturut-turut sebagai berikut :
    Mempelai laki-laki dan rombongan berjalan menuju rumah mempelai perempuan diiringi dengan bunyi-bunyian gendang dan gong dengan nama khusus (disebut : gandang manca).

    Setiba dihalaman depan rumah mempelai perempuan berhenti sebentar oleh karena dihalangi oleh "lawang sakepeng" yaitu pintu gerbang berhias benang susun tiga yang dibentangkan menghalangi jalan masuk.

    Mempelai laki-laki dan rombongan baru di izinkan masuk setelah benang penghalang tersebut putus dalam permainan silat oleh pesilat yang mewakili keluarga mempelai laki-laki maupun pihak mempelai perempuan.

    Permainan silat tersebut dilakukan hanya i untuk maksud memutuskan benang penghalang itu saja sebagai syarat dipersilahkannya mempelai laki-laki dan rombongan masuk kerumah mampelai perempuan.

    Sebelum dipersilahkan masuk kedalam rumah, didepan pintu masuk telah disiapkan 1 (satu) buah batu asah. Mempelai laki-laki diminta untuk memijak sebuah telor ayam kampung menggunakan kaki kanan sampai pecah. Kemudian oleh salah seorang tokoh adat, orang tua dan wali mempelai perempuan mempelai laki-laki di "tampung tawar" dengan air kembang yang diberi minyak wangi.

    Hal tersebut dilakukan dengan maksud agar mempelai laki-laki memperoleh berkat dan rasa damai baik selama prosesi pernikahan maupun dalam kehidupan rumah tangga mereka kelak. Setelah itu barulah mempelai laki-laki dan rombongan dipersilahkan masuk kedalam rumah sembari ditaburi bunga dan racikan daun pandan yang harum.

    Penyerahan Syarat-Syarat Nikah Adat
    Rangkaian acara penyerahan Syarat-Syarat Nikah Adat meliputi :

    • Sebelum syarat-syarat nikah adat diserahkan, dilakukan semacam "dialog" antara wakil keluarga mempelai laki-laki dan wakil keluarga mempelai perempuan yang hampir sama modusnya dengan acara "dialog" pada waktu "acara misek".
      Acara tersebut berlangsung sekitar 30 (tiga puluh) menit dan setelah itu diikuti dengan acara penyerahan syarat-syarat nikah adat.

    • Syarat-syarat Nikah Adat di serah terimakan.
      Sampailah saat keluarga mempelai perempuan menagih janji syarat-syarat Nikah Adat sebagaimana telah disepakati dalam "Surat Perjanjian Misek" (Surat Perjanjian Pertunangan).


    Sebelumnya dilakukan persiapan-persiapan antara lain ibu kandung mempelai perempuan beserta seorang kerabat dekat menyiapkan 1 (satu) buah "sangku" yang diisi dengan beras sekitar separo dan diberi alas dengan lipatan kain batik panjang. Selanjutnya ibu kandung mempelai laki-laki dan mempelai perempuan saling memberi sedikit beras dari "sangku" masing-masing sebagai perlambang niat mengikat kesatuan dan persat¬uan kedua keluarga.

    Sebelum penyerahan Syarat-Syarat Nikah Adat, pihak keluarga mempelai laki-laki meminta agar mempelai perempuan dihadirkan ditengah-tengah keluarga kedua belah pihak dan para undangan yang hadir.

    Selanjutnya pembawa acara membacakan saru persatu Syarat-Syarat Nikah Adat. Kemudian ibu kandung dan/atau bibi mempelai laki-laki satu persatu menyerahkan Syarat Nikah Adat dimaksud kepada ibu kandung / bibi mempelai perempuan. Setelah diperiksa lalu ditaruh didalam "sangku".

    Setelah semua syarat-syarat Nikah Adat diserah terimakan dan apabila tidak ada lagi masalah yang mengganjal kemudian dibuatlah "Surat Perjanjian Nikah Adat". Perihal ketentuan Perjanjian Denda Nikah Adat menurut ketentuan adat-istiadat jumlahnya ditetapkan 2 (dua) kali lipat daripada ketentuan denda yang tersebut dalam Perjanjian Misek. Misalnya kalau denda dalam Surat Perjanjian Misek besarnya Rp. 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah) maka dalam Surat Perjanjian Nikah Adat otomatis ditetapkan sebesar Rp. 5.000.000.- (lima juta rupiah). Kemudian syarat-syarat nikah adat yang telah diberali terimakan tersebut dibawa masuk kedalam kamar pengantin.

    Syarat -Syarat Nikah Adat terdiri atas :

    • Palaku
      Secara harfiah arti kata palaku adalah permintaan.
      Dalam konteks Pernikahan Adat yang dimaksud dengan palaku adalah mas nikah atau jujuran. Dalam Surat Perjanjian Nikah Adat, palaku dinyatakan dalam jumlah berat gong ; dalam bahasa Dayak Ngaju dinyatakan mis¬alnya : 100 (seratus) kati garantung ( 1 Kati = ± 0,5 gram).

      Pada zaman dulu, palaku memang benar-benar diser¬ahkan dalam bentuk gong. Namun dalam perkemban¬gannya akibatnya sulit mencari gong (garantung) maka diganti dengan barang lain misalnya barang perhiasan emas, guci atau sejumlah uang tunai ; dewasa ini umumnya diganti dengan sebidang tanah kebun (karet/rotan) atau tanah perwatasan.

      Waktu penyerahan syarat Adat "Palaku" pihak keluarga mempelai laki-laki harus menyatakan barang pengganti tersebut : barang perhiasan emas/ guci/uang tunai/surat resmi tanah kebun atau tanah perwatasan.

      Menurut ketentuan Adat, apabila kelak terjadi perceraian saat sama- sama masih hidup (bukan cerai mati) maka palaku tersebut akan menjadi milik orang tua mempelai perempuan ; namun biasanya diserahkan kedalam penguasaan mempelai perempuan.

    • Saput
      Secara harfiah kata saput berarti melindungi atau menutupi.
      Dalam Pernikahan Adat, Saput diberikan dalam bentuk 1 (satu) kain batik panjang (bahalai). Saput diperuntukan bagi saudara mempelai perempuan. Bagi keluarga mempelai laki-laki yang mampu, Saput dapat diberikan sejumlah semua saudara kandung mempelai perempuan masing-masing 1 (satu) lembar kain batik panjang. Namun dengan hanya memberikan 1 (satu) lembar saja sudah dianggap cukup.

    • Pakaian
      Syarat Adat "Pakaian" diperuntukkan bagi orang tua mempelai perempuan. Dewasa ini dalam prakteknya syarat adat "pakaian" hanya diberikan 1 (satu) lembar kain batik panjang (bahalai). Sesungguhnya apabila mempelai laki-laki dari keluarga mampu, untuk syarat adat ini dapat pula ditambah dengan masing-masing pakaian 1 (satu) stet lengkap untuk ayah dan ibu mempelai perempuan.

    • Sinjang Entang
      Sinjang artinya pakaian perempuan berupa sarung batik. Entang artinya gengong atau menggendong (dimaksudkan : menggendong bayi). Oleh karena itu barang syarat adat sinjang dalam bentuk 1 (satu) lembar kain sarung batik. Entang dalam bentuk 1 (satu) lembar kain panjang batik.

    • Tutup Uwan
      Tutup artinya tutup dan Uwan artinya uban.
      Syarat adat ini berupa 2 yard/2 meter kain hitam untuk diberikan kepada nenek mempelai perempuan.

    • Lapik Luang
      Lapik artinya alas ; Luang artinya suatu tempat menyimpan barang, biasanya berupa "sangku".
      Oleh karena itu syarat adat lapik luang diberikan 1 (satu) lembar kain batik panjang.

    • Garantung Kuluk Pelek
      Garantung adalah gong ; Kuluk adalah kepala dan pelek adalah patah.
      Namun dalam syarat adat garantung kuluk pelek merupakan suatu kata majemuk, yang diberikan dalam bentuk 1 (satu) buah garantung (gong). Biasanya ukuran sedang atau relatif kecil.

    • Bulau Singah Pelek
      Bulau adalah emas, Singah adalah alat penerangan dan Pelek artinya patah.
      Dalam syarat nikah adat, Bulau Singah Pelek ini diberikan dalam bentuk emas. Dalam Adat Istiadat asli masyarakat Dayak sesungguhnya tidak dikenal adanya Cincin Nikah, tradisi tersebut diadopsi dari kebudayaan lain. Oleh karena pada keluarga yang beragama Kaharingan, syarat Adat "Bulau Singah Pelek" diberikan dalam bentuk emas murni baik dalam bentuk barang perhiasan atau emas hatangan.

      Dalam tradisi masyarakat Dayak Ngaju yang beragama Kristen syarat adat "Bulau Singah Pelek" tersebut adalah sepasang cincin nikah.

    • Lilis Turus Pelek
      Lilis Turus Pelek diberikan dalam bentuk sebuah "lilis" atau manik panjang.


    • Lapik Ruji
      Lapik adalah alas dan Ruji artinya pundi-pundi. Lapik Ruji diberikan dalam bentuk 1 (satu) buah uang ringgit perak yang dipergunakan sebagai mata uang pada zaman Belanda. Syarat Adat "Lapik Ruji" merupakan dorongan agar kedua mempelai kelak rajin bekerja dan rajin menabung.

    • Rapin Tuak
      Rapin Tuak dibeikan dalam bentuk beberapa botol minu¬man keras yang diadakan masing-masing kedua belah pihak. Jumlahnya tidak ditentukan dan minuman tersebut dibagikan terutama kepada para wakil kedua belah pihak yang bertugas dalam acara "dialog" dan Acara Haluang-Hapelek serta para tamu.

    • Timbuk Tangga
      Timbuk artinya timbunan Tangga adalah tangga. Sehingga yang dimaksud syarat adat "Timbuk Tangga" biasanya diiberikan berupa sejumlah uang dengan tujuan untuk memperbaiki kembali halaman dan tangga rumah yang rusak selama berlangsungnya pesta pernikahan. Besarnya variatif, tergantung toleransi dari keluarga pihak mempelai laki-laki. Biasanya diberikan sejumlah uang misalnya Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah) atau Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).

    • Bulau Ngandung
      Bulau artinya emas dan Ngandung artinya berisi.
      Namun yang dimaksud dengan bulau ngandung dalam syarat nikah adat adalah biaya pesta nikah. lstilah tersebut kadang-kadang disebut Panginan Jandau yang artinya biaya pesta. Besarnya Bulau Ngandung/Panginan Jandau tergantung pada kesepa¬katan kedua belah pihak. Menurut kebiasaan, Bulau Ngandung/ Panginan Jandau dilaksanakan secara bersama-sama atau patungan antara kedua belah pihak.

    • Jangkut Amak
      Yang dimaksud dengan Jangkut Amak adalah peralatan tidur mempelai.
      Jangkut adalah kelambu dan Amak adalah Tikar. Biasanya biaya syarat adat "jangkut amak" disediakan oleh keluarga mempelai laki-laki dan penyiapannya/ pengadaannya oleh keluarga mempelai perempuan. Kelengkapan barang-barang "jangkut amak" terdiri atas ranjang pengantin, kasur, bantal-guling, sprei dan kelambu. Namun dalam prakteknya sering pengadaan barang¬barang tersebut secara patungan.
Diubah oleh Deka04
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 05:00
  • Batu Kaja
    Kaja artinya bertamu.
    Syarat adat batu Kaja biasanya berupa sebuah gong (garantung) ukuran sedang yang diberikan oleh orang tua mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan pada saat acara menerima menantu (Pakaja Manantu).
    Biasanya diadakan suatu pesta kecil dengan mengundang kerabat dekat.


Setelah semua Syarat Adat diterima maka sebelum disimpan dikamar pengantin, Damang Kepala Adat atau Tokoh Adat yang mewakili damang melakukan upacara singkat dengan mengangkat "sangku" yang berisi syarat-syarat nikah adat dengan mengucapkan doa selamat dalam Bahasa Dayak Ngaju sebagai berikut :

Inggatangku ikau toh sangku uka rahian andau hagatang kea sewut saritan ewen toh, mangat mambelom arep ewen, tatau, sanang, pintar-harati tun-tang baurnur panjang.
(kuangkat engkau sangku agar kelak terangkat pula nama dan kemasyhuran mereka, hidup senang, kaya, pandai dan bijaksana serta memperoleh umur panjang).

Inganjungku ikau toh sangku akan hila pambelep, uka belep kea kare dahiang baya, nupi kampa ije papa, belep kea kare kapaut kabantah, palus lembut kapakat kabulat atei uka belum untung batuah.
(kuarahkan engkau sangku kearah barat agar ikut terbenam pula firasat dan mimpi buruk, terbenam pula segala bentuk perselisihan dan silang sengketa sehingga terbitlah rasa kebersamaan agar rezeki melimpah-ruah).

lnganjungku ikau toh sangku akan hila parnbelum, maka kilau to belom aseng nyaman ewen. belom kea tiruk itung, pikir-akal dan belom kea isi daha.
(kuarahkan engkau sangku kearah timur agar dengan demikian selalu sehat segar-bugar serta hidup pula cara berpikir mereka menuju kebahagiaan).

Inggatangkuh ikau toh sangku akan ngambu. Uka panju-panjung kea sewut saritan ewen, belom bauntung dan tuah bahambit.
(kuangkat engkau sangku keatas agar dengan demikian masyhur pula nama dan perbuatan baik mereka, penuh keberuntungan dan hidup bertuah serta berezeki)

Setelah itu sangku dan semua Syarat Nikah Adat dibawa masuk dan disimpan didalam kamar pengantin.

Penanda Tanganan Surat Perjanjian Nikah Adat.
Surat Perjanjian Nikah Adat ditanda-tangani oleh kedua mempelai, diikuti oleh orang tua dan para saksi dad kedua belah pihak (biasanya 2 orang), Kepala Kampung/ Desa dan Damang Kepala Adat.

Upacara Ritual
Pada Agama Kaharingan Damang Kepala Adat melaksanakan : Mameteng Manas dan Lilis serta "Manyaki Panganten" dengan darah hewan yang dipotong untuk pasta pernikahan tersebut serta "manampung tawar" dan "mambuwur behas" diatas kepala kedua mempelai sembari mengucapkan doa secara Kaharingan.

Pada saat itu kedua mempelai duduk bersanding diatas sebuah gong besar sambil bersama-sama memegang tombak yang ditancapkan pada buah kelapa yang ditaruh dalam sebuah "sangku" yang berisi beras.

Selesai upacara Ritual tersebut, setelah makan malam bersama, pada Agama Kaharingan biasanya dilanjutkan dengan acara "Haluang Hapelek".

Salah satu bagian dari Acara Ritual Adat Dayak yang dilak¬sanakan oleh masyarakat Dayak adalah Tampung Tawar. "TampungTawar" dan "Mambuwur Behas" merupakan suatu acara dalam Adat-Istiadat masyarakat Dayak Ngaju yang maksudnya sebagai permintaan doa dan permintaan berkat kepa¬da Yang Maha Kuasa. Dalam upacara "Tampung Tawar" yang lengkap, doa yang disampaikan hampir sama dengan "Acara Manyaki".

Tokoh Adat yang melaksanakan Tampung Tawar atau Manyaki sambil mengucapkan doa dan harapan sebagai berikut :

Kilau kasadingen danum-tawar toh aku manyadingen paim. Maka sadingen kea aseng nyamam.

Inyadingengku likut tatap paim uka manalikut kare peres panyakit baratus arae, sampai kare baribu bitie. manalikut dahiang baya, nupi papa, sial-kawe, Pali-endus barutas matei.

lnyadingengku lawin tunjukm kilau panyurung tanjung maka mayurung kea kare pikir akal, tiruk itung tuntang isi daham.

Inyadingengku buntis tuntang tambang takepm uka manambang tuah rajaki, bulau pungkal raja, rabia tisik tambun.

lnyadingengku ututm, kilau utut tantungan tulang maka hatuntut kea kare tuah rajaki. untung ukur tuntang tahaseng panjang.

Inyadingengku lukapm hapa menekap panatau panuhan tuntang uang-duit ; sadingen kea mahaga anak jarian, esu-buyut, uka hagatang sewut sarita.

Inyadingengku sikum uka manyiku hagagian kare dahiang -baya. nupi papa, sial-kawe tuntang ganan taluh papa.

Inyadingengku hunjun baham hapa manyambaha kare panatau panuhan, belom batuah barajaki tuntang umur panjang.

lnyadingengku tulang salangkam, hapan manyalangka hagagian sial kawe, pali endus, barutas matei.

lnyadingengku balengkung tuntang bongkok tingangm uka batengkung kambang nyahun tarung nyangkelang kulam Baring ije beken.

Inyadingengku ijangm uka pander saritam babehat, bahari kilau sarip nyahu hakumbang langit.

Inyadingengku tutuk urungm uka mananturung tuah-rajaki, umur panjang belom panju-panjung.

lnyadingengku balaum uka mahalau kea kare peteh liau matei, janjin pangambu nihau, batu junjun karapurum mahunjun kambang nyahun tarung.

lnyadingengku kulukm uka ikau manakuluk panatau panuhan, barajaki belom baumur panjang.

Toh behas-danum maka kilau behas toh tau mangkar-manyiwuh, kalute kea panatau panuhan, manak manjaria pintar-harati, panju-panjung kilau batang garing belum gantu-gantung batuyang tambarirang, sihung garing tuya-tuyang, baumban suli langiran sampu unar jala.

Toh undus kajarian bangkang haselan tingang, minyak uring katilambang nyahu, kilau balau bakahut tau bakarak kalute kea pambelom heton panju-panjung baumur panjang.

Natisangku nyalung kaharingan belom mangat bitim belom sanang - mangat kilau asang suhun danum. haring manggigi tingkah ampah lawai baun andau.

Pencatatan Pernikahan (Catatan Sipil)
Pada Agama Kristen pelaksanaan Pencatatan Pernikahan oleh petugas Kantor Catatan Sipil, biasanya dilakukan di Gereja segera setelah selesai Acara Kebaktian Pemberkatan Nikah. Pada Agama Kaharingan, Pencatatan Pernikahan oleh petugas Kantor Catatan Sipil pada esok harinya dirumah mempelai perempuan tempat pelaksanaan seluruh upacara pernikahan.

Acara Resepsi
Resepsi Pesta Pernikahan dilaksanakan pada hari kedua. Apabila pesta pernikahan dilaksanakan di Kampung/Desa, tern-pat resepsi pesta pernikahan langsung dirumah keluarga mem¬pelai perempuan. Di Kota umumnya selain dirumah keluarga mempelai perempuan juga dapat dilaksanakan disuatu gedung yang disewa khusus untuk maksud itu.

Cara menyampaikan undangan berbeda, di Kota dengan surat undangan secara tertulis dengan model kartu undangan yang dibuat khusus, sebaliknya di kampung/desa undangan cukup dilakukan secara lisan yang disebut "parawei".

Oleh karena itu, bilamana di Kota yang menghadiri undangan umumnya orang dewasa dan/atau pemuda-pemudi, sebaliknya di kampung/desa para kerabat dan rumah tangga umumnya juga membawa serta anak-anak kecil.

Rangkaian Akhir Pesta Pernikahan
Untuk keluarga yang beragama Kaharingan acara terakhir berlangsung pada hari ketiga yang disebut "museh kuluk" yaitu pesta kecil untuk kalangan sendiri khusus memasak kepala hewan yang disembelih sehari sebelumnya.
Rangkaian akhir pesta pernikahan dilingkungan keluarga Kristen dilaksanakan dalam bentuk Acara Kebaktian yang diselenggarakan pada hari kedua malam harinya.

2. Pernikahan dengan Cara yang Tidak Lazim.

Ada beberapa cara pernikahan yang tidak lazim namun sewaktu-waktu dapat terjadi, yaitu :

  • Nikah Pahinje Arep
    Kalau diterjemahkan "nikah pahinje arep" adalah hidup bersama atas kemauan sendiri.

    Biasanya hal ini dapat terjadi akibat beberapa sebab misalnya :
    • Akibat ketidak mampuan secara ekonomi balk untuk memenuhi syarat-syarat adat maupun biaya pesta pernikahan.

    • Akibat salah satu atau kedua pihak keluarga tidak merestui kehendak pasangan tersebut menikah ; dengan cara demikian dengan sendirinya memaksa pihak orang tua untuk merestui dan meresmikan pernikahan mereka.


  • Nikah Hatamput
    Nikah Hatamput artinya nikah lari. Terjadi atas kehendak bersama pasangan yang bersangkutan tanpa sepengetahuan orang tua. Biasanya dalam hal ini terjadi akibat hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua anak gadis tersebut. Pada bagian ini termasuk pula membawa anak gadis orang meskipun dengan cara paksa.

  • Nikah Tungkun
    Seorang laki-laki membawa lari isteri orang dan kemudian mereka minta dinikahkan secara resmi oleh Damang Kepala Adat/ Mantir Adat.

  • Nikah Nyakei/Manyakei
    Kata Nyakei berarti naik. Biasanya lebih sering dilakukan oleh pihak perempuan (gadis atau janda) yang nekat membawa buntalan / tas pakaiannya kerumah/kekamar tidur seorang laki-laki, minta diperistri. Perempuan yang bersangkutan nekat tidak akan pulang kembali kerumah orang tuanya sampai mereka dinikahkan secara resmi.

    Meskipun jarang terjadi, Nikah Nyakei dapat juga dilakukan oleh pihak laki-laki. Yang bersangkutan nekat membawa buntalan/ tas pakaiannya kerumah seorang gadis dan tidak akan beranjak sebelum keinginannya dipenuhi dan mereka dinikahkan menurut adat.


3. Nikah Tulah.

Yang dimaksud dengan nikah tulah adalah suatu pernikahan yang ter¬paksa dilakukan oleh karena pasangan tersebut meskipun dari segi usia mereka segenerasi, tetapi dari nisi silsilah secara total tidak sederajad.

Misalnya antara paman dan keponakan, antara kakek dan cucu atau sebaliknya antara keponakan dan bibi, antara cucu dan nenek.

Biasanya pasangan tersebut telah dipergoki melakukan perbuatan dosa hubungan seks yang menurut adat dilarang. Oleh karena mereka tidak menghiraukan teguran dari berbagai pihak maka masyarakat menuntut kepada Kepala Desa dan Damang Kepala Adat serta para Mantir Adat agar segera menuntaskan masalah tersebut untuk menghindarkan aib dan malapetaka bagi warga masyarakat dan desa.

Menurut Adat Dayak Ngaju, pasangan tersebut hanya dapat dinikahkan melalui suatu upacara nikah yang sangat memalukan yang disebut nikah Tulah.

Prosesi upacara Nikah Tulah sangat berbeda dengan upacara pernikahan yang lainnya. Dalam upacara Nikah Tulah, marta¬bat kemanusiaan mereka direndahkan menjadi setingkat dengan binatang oleh karena perbuatan yang telah mereka lakukan tidak ubahnya perilaku binatang/babi.

Terhadap penyimpangan perilaku yang menyebabkan terjadinya pernikahan melalui cara yang tidak lazim ataupun nikah tulah, dikenakan sanksi adat berupa denda adat yang disebut singer.

(Sumber : Adat Istiadat Dayak Ngaju diterbitkan LSM Pusat Budaya Betang Kalimantan Tengah [LSM PBBKT] 2003)
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 05:03

Asal Mula Upacara Kematian Dayak ma'ayan

Sebelum diberlakukannya hukum penyelenggaraan upacara kematian di kalangan Suku Dayak Maanyan, kematian hanya dianggap sebagai perpindahan dari dunia fana ke dunia baru. Suatu dunia yang lebih menyenangkan, hak milik pribadi atau sempurna oleh sebab itu orang Maanyan menyebutnya Tatau Matei (tatau:kaya, matei:mati). Jadi menurut mereka kematian hanyalah hal biasa saja yang dinamakan tulak miidar; miidar jalan; ngalih panguli hengka marunsia (pergi pindah; pindah jalan; mengalihkan kaki dari manusia) begitu sederhananya konsep kematian menurut mereka saat itu.

Konsep kematian seperti sekarang datang akibat dari perbuatan dan keinginan manusia itu sendiri. Ada sumber lisan yang tumbuh dan berkembang serta dipercayai oleh mereka yang terus menceritakan turun temurun.

Di zaman kehidupan tradisional Dayak Maanyan berlangsung ada seorang yang bernama Amang Mandur. Hidupnya serba kecukupan dan berlebihan oleh sebab itu ia diberi gelar Damang Datu Tatau. Amang Mandur ini mempunyai 7 orang isteri yang sangat setia kepadanya bernama Ine Lean, Ine Leo, Apen Payak, Apen Kangkuyu, Apen Kangkuyak, Dayang Manget dan Patiri Untu. Namun kekayaan yang serba kecukupan ini masih belum memberi kepuasan batin bagi hidupnya, ia sangat rindu untuk pergi ke dunia lain yang baru yaitu dunia yang diperuntukkan bagi mereka yang telah tatau matei. Keinginan yang begitu kuat ia beritahukan kepada semua istrinya bahwa kini telah tiba waktunya ia akan tatau matei. Pernyataan ini sangat mengherankan para istrinya karena usia Amang Mandur belum terlalu tua dan masih segar bugar. Tetapi karena keinginan ini diungkapkan dengan sungguh-sungguh mereka pun lalu mempercayai seraya mempersiapkan semua upacara pemberangkatan.

Setelah seluruh perlengkapan tatau matei sudah siap, mulailah Amang Mandur melangkah keluar rumah. Tetapi yang terjadi tubuh Amang Mandur tidak menghilang seperti kejadian tatau matei lainnya. Kejadian yang aneh itu dibiarkan oleh orang kampung, Amang Mandur terus berjalan semakin jauh memasuki hutan belantara sekelilingnya. Sehari semalam sudah berlalu tiba-tiba keesokan harinya Amang Mandur muncul dengan tertatih-tatih dan lemah lunglai naik ke atas rumah, hal ini tentu sangat mengejutkan para istrinya. Kemudian Amang Mandur bercerita bahwa ia tidak bisa menemukan jalan menuju dunia baru.

Salah seorang istrinya mengatakan bahwa peristiwa tatau matei tidak bisa dipercepat karena perasaan itu akan datang sendiri bila sudah tiba waktunya. Sejak saat itu Amang Mandur nampak sedih dan tidak bergairah menjalani hidup lebih lama lagi di dunia fana ini. Kerinduannya akan tatau matei rupanya begitu kuat dan sangat mempengaruhi hidupnya.

Akhirnya istrinya yang keenam Dayang Manget merasa kasihan lalu menyatakan pada suaminya bahwa ia mempunyai kekuatan untuk mendatangkan tatau matei tapi secara tidak wajar. Adapun caranya adalah dengan mendengar tangisannya terus menerus. Sebagai bukti ia akan menangisi pohon kelapa, Dayang Manget pun menghadap pohon kelapa tersebut lalu mulai menangisinya. Setelah ia menangis sementara orang selesai menyiapkan sirih kinangan (erang kemapit empa) mulailah berguguran buah pohon kelapa. Dan ketika ia menangis waktu orang mulai menginang (erang ka empa) daun-daun kelapa sudah layu semua berguguran. Kemudian saat ia menangis selama waktu orang menanak nasi (erang ka pangndru) keringlah pohon kelapa itu dan mati.

Dengan menyaksikan itu Amang Mandur bersedia ditangisi Dayang Manget asal ia bisa cepat pergi ke dunia baru yang diimpikannya. Amang Mandur pun mulai berbaring lurus lalu istrinya yang ketujuh bernama Patiri Untu membentangkan kain khusus dengan tali setinggi kira-kira 2,5 meter tepat di atas suaminya, kain ini nantinya akan dinamakan lalangit (sampai sekarang lalangit ini dibuat saat mayat berada di dalam rumah, baru dilepas kalau mayat sudah dikubur).

Pada saat itulah Dayang Manget menangisi suaminya dan tak lama Patiri Untu menanyai bagaimana keadaan suaminya, Amang Mandur menjawab kepalanya pusing sekali. Dayang Manget terus menangisinya, mulai ujung kaki terasa dingin dan perlahan-lahan terus menjalar ke bagian atas tubuh sampai kepala. Tak lama sesudahnya ternyata suaminya sudah tidak bernyawa lagi. Inilah yang nantinya akan disebut tatau matei neng bangkai (mati meninggalkan mayat). Kematian Amang Mandur ini merupakan kematian pertama yang mayatnya tidak hilang.

Dengan adanya kematian yang tetap meninggalkan mayat inilah akhirnya menimbulkan hukum untuk melangsungkan upacara kematian yang berkenaan dengan pengurusan mayat yang ada serta sebagai pengantar jalan bagi roh yang meninggalkan tubuh.

0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 05:06

Upacara Kematian Dayak Ngaju (Tiwah)

Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan Indonesia (MBAHKI) Periode Pertama, memberi penjelasan mengenai Tiwah sebagai berikut:

·”Tiwah adalah Upacara Terakhir dari rentetan upacarakematian bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan” (Lewis 1995:1).

·”Upacara Tiwah digelar dan dilaksanakan oleh keluarga (Dayak) yang masih hidup (apakah dia pemeluk Agama Kaharingan, Kristen maupun Islam), untuk anggota keluarganya yang telah meninggal dunia yang merupakan tuntunan kewajiban suci, dan bagi pemeluk agama Kaharingan, di samping kewajiban suci, kegiatan tersebut merupakan pelaksanaan keimanan berdasarkan ajaran agama” (Lewis dan Simpei 1996: 1).

·”Tiwah adalah suatu upacara suci, kewajiban luhur dan mutlak dilaksanakan dan merupakan utang, yang terungkap akibat kematian keluarga. Mengapa demikian? Karena kematian keluarga menimbulkan “Pali” yang di dalam ajaran Agama Kaharingan, bahwa pali-pali akibat kematian anggota keluarga tersebut hanya dapat dihapus/dihilangkan dengan upacara “malapas pali” yang disebut Tiwah (Nantiwah Pali Belum). Mengapa Upacara Malapas Pali (Tiwah) tersebut dilakukan, karena pali dapat menimbulkan akibat buruk bagi kehidupan diri pribadi, keluarga, masyarakat bahkan lingkungan, juga bagi almargumah/almarhum. Dan bagi mereka yang telah meninggal dunia, untuk melapangkan jalan menuju “Lewu Tatau Je dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Isen Kamalesu Uhate” (Tempat yang Maha Mulia yang disediakan Tuhan). Akibat buruk tersebut dapat dihindari hanya melalui atau dengan melaksanakan upacara Tiwah” (Lewis danSimpei 1996: 1).

Dalam pandangan para penganut agama Kaharingan jelas sekali bahwa Tiwah dilaksanakan dalam rangka kematian salah seorang anggota keluarga dan bukan dalam rangka “pembantaian orang Madura”seperti yang dituding oleh Buchari. Kemudian, Tiwah adalah kelanjutan dari dua acara keagamaan sebelumnya yaitu: Mangubur dan Manenga Lewu atau Balian Tantulak Matei.

Mengenai ritual kematian orang Dayak Ngaju, Anne Schiller, kini Profesor Anthropologi Budaya di North Carolina State University-USA dan telah melakukan penelitian serius terhadap perubahan yang dialami oleh Dayak Ngaju, walaupun bukan insider, memaparkan dengan baik proses ritual kematian Dayak Ngaju sbb.:

“Adherents of Hindu Kaharingan claim that the completion of three distinct ritual phases is necessary to process the dead and to ensure souls’ arrival in the Upperworld. The cycle commences withprimary treatment (mangubur), which includes the wake and primary disposal, usually by interment. The second phase, known as balian tantulak matei, mampisik liau, primarily consists of chants performed by ritual specialists to “separate” the souls of thedead-that is, to dispatch them to appropriate cosmological locations where they will await further processing-as well as to purge the deceased’shome of some of the pollution associated with death. It culminates with a riverine ablution of the bereaved kin who were present at the death, as well as those who were physically involved in primary treatment. The final phase, tiwah, completes the processing of the souls and the physical remains. It is followed by rituals to honor and benefit sponsors and their descendants (Schiller 1997: 35).

Acara Tiwah berkaitan erat dengan konsep roh atau jiwa yang dipercayai oleh orang Dayak Ngaju yaitu apabila mereka mati maka roh mereka akan terbagi tiga yaitu menjadi :

  • Salumpuk teras liau atau panyalumpuk liau, roh utama yang menghidupkan ini pada saat meninggal dunia langsung kembali ke Ranying Mahatala Langit Sang Pencipta.

  • Liau balawang panjang ganan bereng, roh dalam tubuh yang dalam upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di hantar ke tempat yang bernama Lewu Balo Indu Rangkang Penyang.

  • Liau karahang tulang, silu, tuntang balau. Ini adalah roh yang mendiami tulang, kuku dan rambut. Pada saat mati roh ini tinggal di dalam peti mati.


Pada seorang Dayak Ngaju mati, ritual pertama yang dilakukan adalah Mangubur, yaitu menghantar mayat ke tempat pekuburan yang dalam bahasa Dayak Ngaju dibahasakan sebagai Bukit Pasahan Raung (Bukit Tempat Meletakan Peti Mati). Kemudian Tantulak Ambun Rutas Matei yang bertujuan untuk menghantar Liau balawang panjang ganan bereng ke tempat yang bernama Lewu Balo Indu Rangkang Penyang. Ini adalah tempat penantian sementara yang konon terletak di pada tahapan ketiga dari Sorga. Upacara yang terakhir adalah Tiwah yaitu menyatukan kembali ketiga roh tadi dan menghantarkannya ke Sorga yang dikenal dengan Lewu Tatau.
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 05:13

Dinamika Kebudayaan Dalam Suku Dayak Ngaju

Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu anak suku terbesar yang mendiami pulau Kalimantan. Suku Dayak Ngaju memiliki 4 suku sedatuk dan 90 suku sefamili. Suku-suku tersebut baik suku sedatuk maupun suku sefamili, masing-masing memiliki bahasa derahnya masing-masing.

Ngaju berarti udik. Hal ini mungkin karena suku Dayak Ngaju menempati daerah sungai yang berada di udik dibandingkan suku-suku Dayak lainnya. Suku Dayak Ngaju mendiami sepanjangan daerah aliran sungai Kapuas, sungai Kahayan, bahkan sekarang banyak yang mendiami kota Palangkaraya dan kota Banjarmasin.

Suku Dayak Ngaju adalah suku termaju yang menyebar di daerah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pada umumnya masyarakat suku Dayak Ngaju memeluk agama Kristen Protestan yang dibawa masuk oleh misionaris Zending Barmen dan Basel . Namun ada juga yang masih memegang keyakinan asli suku dayak yaitu Kaharingan (Hindu Kaharingan) dan ada juga yang memeluk agama Kristen Katolik dan Islam.

Pusat kemajuan atau peradapan suku Dayak Ngaju terdapat di kota-kota :

  • Banjarmasin (ibukota provinsi Kalimantan Selatan)
  • Kuala Kapuas (ibukota kabupaten Kapuas, di aliaran sungai Kapuas)
  • Mandomai (ibukota kecamatan Kapuas Barat kabupaten Kapuas, di aliran sungai Kapuas)
  • Kuala Kurun (ibukota kabupaten Gunung Mas, di aliran sungai Kahayan)
  • Tewah (ibukota kecamatan Tewah, kabupaten Gunung Mas, di aliran sungai kahayan)
  • Pangkoh


Mayarakat suku Dayak Ngaju di daerah ini banyak generasi mudanya yang melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, dari jenjang SMA, SGA, bahkan ada pula ke perguruan tinggi di seluruh Indonesia sampai ke luar negeri sekalipun.


Sistem Religi / Kepercayaan

Sistem religi masyarakat Suku Dayak pada umumnya dan suku Dayak Ngaju pada khususnya merupakan kepercayaan yang percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan, menguasai dan memelihara alam semesta berserta isinya

Pada zaman dulu, masyarakat suku Dayak memeluk agama Helu atau Kaharingan. Agama Kaharingan merupakan salah satu agama etnis di nusantara, yang saat ini telah mendapat pengakuan dari Pemerinta Indonesia sebagai suatu agama, agama Hindu Kaharingan. Namun hal ini belum banyak diketahui dan dikenal oleh banyak masyarakat lainnya di Indonesia, bahkan banyak yang salah duga dengan mengira agama Kaharingan sebagai agama kafir dan penyembah berhala. Dalam perkembangannya, Kaharingan juga bersentuhan dengan agama besar lainnya di Indonesia namun tradisi asli Dayak masih sangat kental dalam pelaksanaan ritual keagamaannya.

Agama Kaharingan atau Helu merupakan kepercayaan asli suku Dayak yang berasal dari kata haring artinya hidup. Menurut kepercayaan pemeluk agama Kaharingan, Kaharingan tidak dimulai sejak zaman tertentu namun sejak awal penciptaan, sejak Tuhan yang disebut Ranying Hatalla menciptakan manusia. Ranying berarti Maha Tunggal, Maha Agung, Maha Mulia, Maha Jujur, Maha Lurus, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Suci, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil, Maha Kekal dan Maha Pendengar. Hatalla berarti Maha Pencipta.

Di zaman penjajahan, baik masa penjajahan Belanda mapun Jepang, perkembangan keyakinan Kaharingan banyak mengalami tekanan dan hambaran. Kehadiran penjajah mengalami kontradiksi serta sakit hati yang dalam hingga masih berdampak sampai saat ini dan masih terasa juga dialami oleh orang Dayak.

Para penjajah pada masa ini tidak mau memahami keyakinan yang dipeluk oleh orang Dayak. Dengan gamblang para penjajah menyatakan agama Helu atau Kaharingan yang menyembah Ranying Hattala dengan murni, polos, alami dan apa adanya sesuai dengan situasi alam, pemahaman dan cara berpikir suku Dayak, sebagai agama kafir, agama heiden, penyembah berhala, dan berbagai tuduhan lainnya. namun walaupun dengan tuduhan dan cemoohan dari para penjajah, mereka tetap mengizinkan orang Dayak utnuk melaksanakan upacara adat yang wajib mereka laksanakan.

Kemudian agama Kristen mulai masuk dibawa oleh lembaga-lembaga Zending yang merupakan missionaris di seluruh pulau Kalimantan. Dengan usaha pendekatan yang cukup lama dan perlahan tapi pasti, orang Dayak mulai membuka hati dan tertarik dengan keyakinan yang diperkenalkan oleh Zending. Kemudian, dari rasa ingin tahu yang besar tersebut kemudian banyak orang Dayak yang belajar tentang ajaran Kristen dan akhirnya memeluk agama Kristen.
Orang Dayak yang memeluk agama Kristen diwajibkan untuk membuang jauh-jauh kehidupan lamanya dulu serta memutuskan hubungan dengan adat istiadat dan tradisi suku, apapun yang berhubunfan dengan kebudayaan asli milik mereka yang sudah turun temurun, baik yang positif maupun negatif harus ditinggal jauh-jauh. Hal ini yang menyebabkan orang Dayak yang menjadi Kristen dari generasi berikutnya tidak lagi mengenal budaya dan asal usulnya secara kental. Namun, perkembangan saat ini dari generasi muda yang melanjutkan pendidikan dan hidup di perantaua mulai mencari asal dari rasa kehilangan atas budaya leluhurnya.

Kemudian, saat agama Islam berkembang di bagian Indonesia lainnya, maka agama Islam pun masuk ke pulau Kalimantan. Orang Dayak yang kemudian memeluk agama Islam dengan resmi menyatakan dirinya sebagai orang Melayu, sejak masa penjajahan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan asal usul sukunya tidak terdengar lagi, walaupun secara tidak langsung/secara batin mereka masih merasa sebagai suku Dayak. Secara umum suku Dayak dan suku Melayu terpisah kerana disebabkan sistem kepercayaan dan pergaulan sosial.

Sekitar tahu 1967-an, di Kalimantan Tengah, orang Dayak yang menganut agama Kaharingan hanya sejumlah 30% dan sisanya menganut agama Kristen Protestan, Katolik dan Islam.


Beberapa Senjata Utama Suku Dayak

  • Sipet / Sumpitan
    Merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 - 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ - ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak sumpitan.

  • Lonjo / Tombak
    Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.

  • Telawang / Perisai
    Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.

  • Mandau
    Merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya.

    Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat. Mandau adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Dayak di Kalimantan. Mandau termasuk salah satu senjata tradisional Indonesia.

    Berbeda dengan parang, mandau memiliki ukiran - ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau.

  • Kumpang
    Kumpang adalah sarung bilah mandau. Kumpang terbuat dari kayu dan lazimnya dihias dengan ukiran. Pada kumpang terikat pula semacam kantong yang terbuat dari kulit kayu berisi pisau penyerut dan kayu gading yang diyakini dapat menolak binatang buas. Mandau yang tersarungkan dalam kumpang biasanya diikatkan di pinggang dengan jalinan rotan.

    Menurut literatur di Museum Balanga, Palangkaraya, bahan baku mandau adalah besi (sanaman) mantikei yang terdapat di hulu Sungai Matikei, Desa Tumbang Atei, Kecamatan Sanaman Matikei, Katingan. Besi ini bersifat lentur sehingga mudah dibengkokan.

    Mandau asli harganya dimulai dari Rp. 1 juta rupiah. Mandau asli yang berusia tua dan memiliki besi yang kuat bisa mencapai harga Rp. 20 juta rupiah per bilah. Bahan baku pembuatan mandau biasa dapat juga menggunakan besi per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan dan besi batang lain. Piranti kerja yang digunakan terutama adalah palu, betel, dan sebasang besi runcing guna melubangi mandau untuk hiasan. Juga digunakan penghembus udara bertenaga listrik untuk membarakan nyala limbah kayu ulin yang dipakainya untuk memanasi besi. Kayu ulin dipilih karena mampu menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan kayu lainnya.

    Mandau untuk cideramata biasanya bergagang kayu, harganya berkisar Rp. 50.000 hingga Rp. 300.000 tergantung dari besi yang digunakan. Mandau asli mempunnyai penyang, penyang adalah kumpulan-kumpulan ilmu suku dayak yang didapat dari hasil bertapa atau petunjuk lelulur yang digunakan untuk berperang. Penyang akan membuat orang yang memegang mandau sakti, kuat dan kebal dalam menghadapi musuh. mandau dan penyang adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan turun temurun dari leluhur.

  • Dohong
    Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 11:37

Tindak Tutur Tawur Hasapa

TINDAK TUTUR TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU: OTORITAS BAHASA DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLINGUISTIK

Artikel ini merupakan kajian awal tentang penelitian antropolinguistik terhadap relevansi antara bahasa dan kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah. Di-posting pada blog ini dengan penyuntingan seperlunya. Dimuat pada Jurnal Suar Betang Vol.II Edisi Desember 2008.

  • Pengantar
    Dalam beberapa tahun terakhir, derap perkembangan penelitian linguistik telah merambah ke luar dari patronnya, dari konteks mikrolinguistik menjadi penelitian linguistik interdisiplin yang terkait dengan ilmu-ilmu lain atau makrolinguistik. Salah satunya adalah cabang linguistik yang berhubungan dengan kebudayaan manusia yang dikenal dengan linguistik antropologi atau anthropolinguistik, atau sebagian lain menyebutkannya sebagai etnolinguistik.

    Masyarakat Indonesia yang beraneka budaya merupakan lahan yang luas untuk didalami dengan berbagai kajian dan penelitian dalam perspektif etnolinguistik, sehingga sebuah entitas budaya dapat hidup dan berkembang bersama-sama di tengah kebudayaan lainnya.

    Dalam hubungannya untuk tumbuh dan berkembang secara bersama-sama, pemahaman lintas budaya menjadi amat penting dalam rangka pemahaman keindonesiaan secara holistik. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menjadi kokoh manakala pemahaman lintas budaya dapat menjadi mozaik dari semua perbedaan bahasa, suku dan ras.

    Berdasarkan pengamatan Lauder (1995) dan Wahab (1999) bahwa dalam kurun waktu sekitar seperempat abad, minat linguis di Indonesia masih terpusat pada tataran sintaksis dan dengan pendekatan struktural. Kajiannya masih terfokus pada penganalisisan produk bahasa. Lagipula, para linguis kurang memakai data bahasa-bahasa Indonesia bagian Timur, bahasa yang diteliti cenderung bahasa-bahasa yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera. Berkaitan dengan hal tersebut, berdasarkan wilayah penelitiannya, wilayah Kalimantan hanya menempati 11,26% dari total wilayah penelitian di Indonesia, yang didominasi oleh penelitian pada wilayah Sumatera 31,87%, diikuti Jawa-Madura 24,76%, Bali-Nusa Tenggara 8,76%, Sulawesi 18%, seterusnya Maluku 4,74% dan terendah Irian Jaya 0,61%.

    Selanjutnya, berdasarkan jenis penelitian, penelitian tentang Struktur Bahasa menempati posisi terbanyak yaitu 67,65%, diikuti Sastra 16,46%, kemudian Dialektologi 9,12%, Sosiolinguistik 3,67%, dan terendah Pengajaran 3,10% (Lauder, 1999:1). Berpijak dari realitas tersebut, penelitian interdisiplin sudah sepantasnya semakin digalakkan terutama, kebijakan penelitian kebahasaan di daerah-daerah. Penelitian-penelitian tentang linguistik antropologi atau antropolinguistik menjadi sangat perlu untuk digesakan.

    Dengan demikian, di samping aspek kepentingannya bagi sumbangsih kepada ilmu pengetahuan, penelitian antropolinguistik juga bermanfaat bagi penggalian kembali kearifan lokal sebagai kekayaan kebudayaan nasional. Dalam konteks tersebut, ada kecenderungan bahwa bahasa sebagai sebuah produk budaya manusia tidak hanya terbatas pada fungsi komunikasi semata. Namun, bahasa juga mempunyai otoritas dalam hubungannya dengan kebudayaan dan pemaknaan oleh manusia itu sendiri. Lauder (2005:81) menyatakan bahwa antropologi linguistik merupakan salah satu cabang linguistik yang menelaah hubungan antara bahasa dan budaya terutama untuk mengamati bagai mana bahasa itu digunakan sehari-hari sebagai alat dalam tindakan bermasyarakat.

    Antropologi linguistik adakalanya disebut sebagai etnolinguistik (yang) menelaah bahasa bukan hanya dari struktur semata,tapi lebih pada fungsi dan pemakaiannya dalam konteks situasi sosial budaya. Kajian antropologi linguistik antara lain menelaah struktur dan hubungan kekeluargaan melalui istilah kekerabatan atau menelaah bagai mana anggota masyarakat saling berkomunikasi pada situasi tertentu seperti pada upacara adat lalu menghubungkan dengan konsep budayanya. Sebagai contoh, tindak tutur pendeta: “......dengan ini, kalian saya kukuhkan sebagai suami isteri....” adalah sebuah tindakan melalui bahasa yang mempunyai otoritas dalam masyarakat untuk mengukuhkan sepasang pengantin menjadi sepasang suami isteri yang sah secara hukum dan terterima oleh masyarakat,demikian juga misalnya tindak tutur seorang hakim ketika menjatuhkan vonis juga dapat dianggap sebagai tindakan melalui bahasa yang mempunyai otoritas untuk menghukum seseorang.

  • Tawur Hasapa dan Kekuatan Otoritas Bahasa dipandang dari Persepsi Sosial
    Tawur adalah sebuah aktivitas sakral yang dilakukan oleh pemimpin adat Suku Dayak (Ngaju) di Kalimantan Tengah. Tawur merupakan sebuah tindak tutur ritual untuk menyampaikan semacam permohonan; doa kepada Sang Pencipta dalam bahasa Dayak Kuno (bahasa Sangen) yang diyakini mempunyai kekuatan tertentu untuk melakukan apa yang di luar nalar manusia. Sebagai sebuah permohonan atau doa kepada Sang Pencipta, ragam bahasanya harus baku dan tidak berubah-ubah sehingga pemaknaannya pun diharapkan tidak berbeda oleh Sang Pencipta.

    Eksistensi tawur yang secara etimologis berarti tabur atau proses menabur sesuatu (utamanya dengan media beras kuning) dan sarana penyampaiannya adalah sebuah bahasa. Hampir semua aktivitas ritual Kaharingan menggunakan tawur dalam penyampaian maksud manusia, antara lain permohonan (doa) untuk kesembuhan, ucapan syukur, dan lain-lain. Namun, dalam hal ini hanya dibatasi pada eksistensi tawur sebagai pengukuhan sumpah yang dikenal sebagai “Tawur Hasapa”.

    Tawur Hasapa merupakan sumpah yang dilakukan di hadapan manusia dan Tuhan dalam hal kebenaran atas apa yang diingkari seseorang terhadap lainnya dan Sang Pencipta. Sebagai sebuah bahasa ritual, ia menjadi tetap, uuh dan tidak berubah-ubah, baik secara formasi maupun semantik. Apabila terjadi perubahan dari aspek keutuhan bahasa maka akan memengaruhi makna dan pemaknaannya yang berdampak kepada pengabulannya, sehingga ia tidak mempunyai kekuatan otoritas untuk menghakimi sesorang atau ‘memutuskan’ dan ‘mengirimkan’ sebuah vonis sosial maupun moral bagi yang melaksanakannya.

    Tindak tutur yang diucapkan seorang pemimpin adat dalam hal ini menjadi sebuah otoritas bahasa yang mengukuhkan bahwa kedua belah pihak yang sedang berperkara akan mendapatkan keadilan Ilahi yang dimanifestasikan dalam berbagai aspek kehidupan secara jasmani dan rohani serta sosial-ekonominya. Demikian juga implikasi yang ditimbulkannya melalui pemaknaan budaya oleh masyarakat dan lingkungan sosialnya sebagai vonis sosial. Tindak tutur tersebut terwujud sebagai sebuah instrumen yang melembaga dalam hukum adat Suku Dayak Ngaju.

    Sebagai sebuah bahasa ritual, kekuatan bahasa yang mempunyai otoritas untuk melaksanakan tawur hasapa adalah bahasa Sangen atau bahasa Dayak Kuno. Ada sebagian pendapat menyebut bahasa Sangen sebagai bahasa Sangiang, terutama para peneliti Barat, seperti diungkapkan Baier dkk. dalam Worterbuch derPriestersprache der Ngaju Dayak, sebuah kamus bahasa Sangiang-Dayak Ngaju –Indonesia-Jerman (1987). Hal ini menyiratkan bahwa keduanya tidak terdapat perbedaan yang signifikan, jadi hanya masalah penyebutan saja karena bahasanya adalah sama. Bahasa Sangen—seperti halnya bahasa-bahasa kuno pada guyup budaya di Indonesia—memiliki kekayaan linguistika yang berupa—apa yang disebut Baier—sebagai semantic parallelism di dalam penyampaiannya. Hal ini juga berlaku pada bahasa ritual Suku Roti seperti yang dinyatakan Fox (dalam Baier et.al, 1987: xvi).

    Semantic parallelism merupakan rangkaian penamaan referen sebuah bentuk bahasa yang dilambangkan dengan dua kata atau lebih yang mempunyai satu makna yang sama atau sebanding. Di dalam bahasa Sangen, banyak terdapat contoh hal tersebut, misalnya kata air diungkapkan sebagai nyalung kaharingan belum (zat alam yang memberikan kehidupan), hidup sebagai batang danum jalayan rengan tingang (sungai yang harus disusuri—umur; kehidupan), dan surga sebagai lewu tatau habaras bulau habusung hintan hakarangan lamiang (sebuah tempat yang kaya raya berpasirkan emas bergundukan intan dan berkerikilkan permata) dan lewu tatau dia rumpang tulang rundung raja dia kamalesu uhat hong batang danum tiawu bulau (sebuah tempat yang kaya raya, tempat di mana tidak ditemui keletihan dan kecapaian,di dunia yang lain yang penuh kegelimangan), Tuhan dilambangkan sebagai Raja Tuntung Matanandau, Kanarohan Tambing Kabanteran Bulan (Raja yang Menguasai (atau berkuasa atas) Matahari, Raja yang Menguasai (atau Melebihi) kebesaran Bulan.

    Seperti telah disinggung sebelumnya, bahasa Sangen mengandung unsur-unsur metaforis yang mempunyai aneka referen untuk melambangkan satu bentuk kata dengan tidak melepaskan satu kesatuan makna. Semantic parallelism yang melekat pada setiap tindak tutur Tawur Hasapa mencerminkan seperangkat kecerdasan linguistik yang hanya diwariskan secara lisan kepada para basir (pemimpin upacara adat). Untuk itu, diperlukan daya ingat yang tinggi serta ketepatan rima dan intonasi dalam melafalkannya. Hal tersebut dapat dilihat pada teks Tawur Hasapa yang ditulis ulang ini merupakan esensi yang sama dengan digunakan pada orang-orang yang berperkara dan tidak menemui penyelesaian melewati lembaga-lembaga yang dibuat manusia pada masa lalu. Tawur Hasapa ini pernah dilaksanakan oleh Tjilik Riwut mewakili 142 Suku Dayak Pedalaman Kalimantan di hadapan Presiden Soekarno di Jogjakarta dalam bersumpah-setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (1993:349).

    Data ini diambil dari buku tersebut tanpa ubahan apapun. Berikut prosesi dari acara Tawur Hasapa dan salinan teks tersebut. (Seorang basir/pemimpin upacara adat duduk sambil menimang beras kuning dan kemenyan, kunir, rotan, abu, garam, dan minyak kelapa. Lalu kedua pihak yang berperkara saling memegang seutas rotan di atas sebuah kayu sebagai alasnya dan setelah mengukuhkan sumpah berikut ia sambil memotong rotan diiringi kalimat-kalimat penyebutan nama-nama yang berperkara dan penaburan beras sedikit demi sedikit sampai habis dan diikuti dengan menabur abu dan garam) (Berdehem).

    ”Ehem behas/mamparinjetku ganam/salumpuk kilau riak hendan bulau/namparuguhku labatam/pananterusan ruwan lantin rabia/lampang kamaitan gulung manarusan langit/timbuk kajayam/basikap mametas hawun/manuntung riwut raweiku/ manambing salatan tisuiku/mangat manyembang Raja Tuntung Matanandau/Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan/mangat Ie mahining/bulau tampak bengkele/manyantuh rantunan tanduke/manahingan rawei/hayak manantuneng/batantar sumpah tingang. Amun......(menyebut nama si yang berperkara) toh hangga auh tanjaru dia toto/ tatarawang kilau kawu/lenyoh kilau uyah/bageto kilau uei. Amun ie hanggap auh toto/te taloh jari bulau/untung panjang/rabia nyame ambu jari sapaungut belum/sapaling tahaseng/jari penyang/panundung tarung/patarung sariangkat tinting.

    Secara etimologis dan terjemahan bebas artinya kurang lebih sebagai berikut. “Ehem, beras kubangunkan rohmu/rohmu seperti riak cahaya emas/kugoncangkan rohmu/arwah bercahaya seperti kuning emas/timbul kemanjuran bergulung menerusan langit/menimbun kejayaanmu/bergerak berjalan menyingkap langit/meminta (kepada) angin panggilanku/supaya sampai (meminta kepada) Raja Tuntung Matahari/Raja Tambing Kebulatan Bulan/supaya Ia mendengar/(cahaya) keemasan telinganya/(manyantuh rantunan) puncaknya/mendengarkan perkataan/sekaligus mencermati/batantar sumpah orang (manusia)/. Kalau si................sampai (bersaksi) tentang kebohongan, tidak benar/(maka dia akan) beterbangan seperti abu/hancur seperti garam (menjadi air)/putus seperti rotan (yang dipotong)/Kalau ia anggap benar perkataannya/(semuanya) akan menjadi emas (berkat)/rejeki tak putus-putus/menggenggam emas sepanjang hidupnya selamanya/panjang napas(nya) (panjang umur(nya))/menjadi berkat/menjadi jimat dalam mengangkat (harum namanya—raterangkat harkat martabatnya). Dalam bahasa ritual, kata atau kata-kata (frasa-frasa) seolah-olah memiliki daya atau kekuatan yang dapat melebihi muatan maknawinya.

    Kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki tersebut menunjukkan bahwa ada kecenderungan sebuah bahasa memiliki otoritas untuk membuat sesuatu tindakan terkukuhkan dan sah sebagai suatu keputusan yang mengikat. Tindak tutur seorang pemimpin adat seperti “.......Amun......(menyebut nama si yang bersengketa) toh hangga auh tanjaru dia toto/ tatarawang kilau kawu/lenyoh kilau uyah/bageto kilau uei. Amun ie hanggap auh toto/te taloh jari bulau/untung panjang/rabia nyame ambu jari sapaungut belum/sapaling tahaseng/jari penyang/panundung tarung/patarung sariangkat tinting......” dianggap sah secara hukum adat sebagai suatu keputusan yang mengikat disaksikan oleh para saksi yang hadir dan Tuhan, dengan segala konsekwensi yang diakibatkan oleh sumpah tersebut. Biasanya, setelah dilakukan prosesi Tawur Hasapa, persoalan yang disengketakan tetap pada penguasaan para pihak yang disengketakan, artinya jika berupa sengketa tanah/kebun maka pemilik sah dianggap menyerahkan kepada pemilik baru yang mengklaimnya, walaupun secara kebenaran bukan miliknya.

    Terdapat dua konsekwensi atas implementasi Tawur Hasapa tersebut :

    • Kepada pihak yang memutarbalikkan kebenaran dan fakta akan mendapatkan: “....bila ia berbohong/tidak (berkata) benar/beterbangan (rezeki dan kehidupannya) seperti abu/hancur (hidupnya) seperti garam/putus (nyawanya) seperti rotan (yang dipotong pada saat prosesi); dan hal ini juga merupakan sanksi sosial dan moral

    • Kepada pihak yang tetap berpijak kepada kebenaran dan keadilan akan mendapatkan “.....bila ia (yang benar) berkata kebenaran/semuanya menjadi emas (kejayaan/berkat)/rezeki melimpah (tiada putus-putusnya)/menggenggam emas sepanjang hidupnya/(ber)umur panjang/menjadi jimat (berkat) dan harum namanya (serta harkat dan martabatnya terangkat.


    Lebih lanjut dapat dilihat bahwa terdapat banyak kata untuk merujuk kepada satu bentuk makna yang sama. Paralelisme semantisnya dapat dilihat pada kata rabia paralel dengan bulau dan labata yang sama-sama merujuk kepada satu makna emas, demikian pula pada kata ganan yang paralel dengan salumpuk yang berarti roh, rawei berparalel dengan tisui yang berarti perkataan; ujar, raja dan kanarohan yang berarti raja, dan ruwan dan kilau yang berarti seperti; dan mamparinjetku paralel dengan namparuguhku yang berarti kurang lebih sama yaitu membangunkan (roh) atau mengguncangkan/menggoyangkan (agar rohnya bangun). Hampir tidak ditemukan sebuah kata (kata-kata) yang sama dan diulang-ulang untuk merujuk kepada pengertian yang sama. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebuah bahasa atau bentuk ujaran seolah menjadi sarat makna; atau sedemikian adanya sehingga kesatuannya tidak dapat dibolak-balik, dipertukarkan atau dipakai berulang-ulang di dalam frasa yang berbeda-beda. Simbol-simbol metaforis yang terkandung di dalam teks tersebut merupakan segugusan medan makna yang menyiratkan betapa manusia Dayak dan religi Kaharingan memerlukan julukan sebagai nama lain dari nama Tuhan. Hal ini seperti julukan Tuhan sebagai Raja Tuntung Matanandau, Kanarohan Tambing Kabanteran Bulan. Demikian pula halnya dengan kata (kata-kata) atau frasa-frasa yang kesemuanya menyiratkan tentang puja-puji dan kejayaan seperti simbol emas.

    Secara tekstual, komposisi Tawur Hasapa memuat tiga hal penting :

    • prolog berupa puja-puji kepada Tuhan agar maksud dan permohonan dikabulkan. Hal ini dilihat dari pemakaian kata (kata-kata) dan frasa-frasa yang mempunyai kandungan semantic parallelism

    • bagian isi yaitu kata atau frasa dari kesatuan kalimat yang penghakiman, keputusan, dan vonis; dan 3) bagian penutup yang merupakan kausalitas atas keputusan yang telah diambil dan implikasi yang ditimbulkannya berupa pengharapan-pengharapan, cita-cita, atau harapan-harapan lain masing-masing pihak di kemudian hari. Berkaitan dengan tindak tutur pemimpin adat di dalam ‘angkat sumpah’ seperti Tawur Hasapa demikian, para pihak yang ‘angkat sumpah’disaksikan oleh beberapa orang merupakan suatu aktivitas sosial yang berdampak pada hubungan antarkedua orang yang berperkara, antarkeduanya dengan masyarakat dan lingkungannya, dan antarkeduanya dengan Sang Pencipta.

0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 11:39

Tindak Tutur Tawur Hasapa (2)

  • Pemaknaan Tawur Hasapa dalam Konteks Kebudayaan Suku Dayak Ngaju
    Kebudayaan Suku Dayak Ngaju dan religi Kaharingan merupakan dua kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Bahasa Sangen sebagai produk kebudayaan Suku Dayak Ngaju menjadi bahasa kuno yang hanya terdokumentasikan pada kitab-kitab ajaran Kaharingan. Implikasinya bagi kajian bahasa yang berkaitan dengan kebudayaan menjadi sangat jarang dilakukan. Hal ini terkait erat dengan dua aspek yang sulit untuk dipertemukan; satu sisi kajian bahasa yang dilakukan berdasarkan fakta-logis-empiris sebagai satuan dari kata dan frasa-frasa atau kalimat yang mengandung medan makna secara semantik dan leksikal (lihat Pateda, 2001), di sisi lain bahasa atau berupa kata (kata-kata) atau frasa-frasa dan bersifat oral tersebut memuat kandungan perspektif teologis yang profan, sakral dan dapat menimbulkan persepsi yang berbeda. Di dalam kehidupan sosialnya, masyarakat Suku Dayak Ngaju juga mengenal berbagai perangkat etika normatif yang tidak tertulis dan mengikat seluruh individu. Individu sebagai bagian dari sebuah masyarakat diatur di dalam tatanan kehidupan yang memberikan toleransi dan rasa keadilan bagi individu lainnya.

    Namun, sebagai manusia kadang-kadang terjadi pula rasa kurang puas, ketidakadilan dan berbagai bentuk ketidakpuasan lainnya yang memunculkan adanya rasa untuk mengembalikan semua persoalan manusia tersebut kepada Tuhan sebagai Pihak yang Mahatahu. Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hubungan sosial antarsesama individu, misalnya perebutan kepemilikan tanah/kebun, pertanggungjawaban seseorang terhadap aib, dan pembohongan publik atas sebuah kasus pembunuhan, biasanya diselesaikan melalui mekanisme hukum adat. Namun, sebagian lain yang bersifat kasuistik juga tidak menaati hukum yang berlaku.Dalam representasi itulah, peran Tawur Hasapa menjadi sebuah jalan terakhir. Dalam persepsi kebudayaan, Suku Dayak memandang bahwa eksistensi Tawur Hasapa menjadi sebuah titah terakhir Tuhan kepada individu yang dapat menyingkap makna hakiki tentang kebenaran. Kebenaran mutlak hanya dimiliki oleh kekuasaan yang tidak tampak; kekuasaan Tuhan dengan segala aspek di luar rasio dan nalar manusia. Dengan demikian, keadilan akan berpihak kepada kebenaran yang tidak dapat dimanipulasi dalam bentuk dan dalih apapun.

    Implikasi yang ditimbulkannya pun (awalnya dipandang sebagai mitos) memberikan sanksi sosial yang bermacam-macam, di antaranya kematian yang tidak wajar bagi pihak yang berbuat curang atau melakukan kebohongan, menderita penyakit yang sukar disembuhkan, atau kelainan kejiwaan/gila. Sedangkan di pihak yang tetap pada jalur kebenaran akan mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menjalankan kehidupannya beserta keturunannya. Karena kesakralannya, tindak tutur Tawur Hasapa menjadi peristiwa yang langka di masa kini karena hampir semua kebutuhan untuk mendapatkan keadilan duniawi telah terlembaga melalui mekanisme perangkat hukum positif. Di samping itu, majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk dikenalnya agama dan kebudayaan baru menjadikan tindak tutur tersebut sebagai bagian dari sejarah kebudayaan dan kearifan lokal Suku Dayak Ngaju yang seolah terlupakan. Dalam perspektif budaya, adat yang ada dan dikenal secara turun-temurun merupakan tuntunan bagi segenap kehidupan manusia, dan manusia harus diarahkan olehnya (dan dapat mengarahkan dirinya), supaya ia jangan sesat di jalan yang benar (Scharer dalam Ugang, 1983:51).

  • Penutup
    Otoritas sebuah bahasa terutama bahasa ritual menjadi sarat makna, tetap dan tidak berubah-ubah, menjadikan Bahasa Sangen (Dayak Kuno) digunakan pada hampir semua aktivitas untuk berkomunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Melalui media Tawur Hasapa, esensi pencarian kebenaran yang hakiki oleh manusia merupakan jalan terakhir untuk mendapatkan pengadilan yang juga hakiki. Masyarakat Suku Dayak Ngaju memandang eksistensi Tawur Hasapa sebagai sarana penghukuman sosial, moral, dan budaya bagi individu yang tidak menemui solusi pada institusi hukum adat yang ada. Sanksi moral, sosial dan budaya tersebut telah menjadi momok yang membuat efek jera atau isolasi sosial bagi individu yang bersengketa. Di dalam fungsionalitasnya sebagai media komunikasi (terutama bersifat verbal), peran bahasa memiliki otoritas yang melebihi muatan semantisnya, misalnya dalam sebuah tindak tutur. Ia juga dimanifestasikan sebagai sarana untuk menghukum, menghakimi, bahkan mematikan karakter sosial individu yang sengaja untuk mempermainkan nilai-nilai hakiki tentang kebenaran.
    Sumber Rujukan


Sumber Rujukan
Baier, Martin, August Hardeland and Hans Scharer. 1987. Worterbuch der Priestersprache der Ngaju-Dayak. Kamus Bahasa Sangiang—Dayak Ngaju—Indonesia—Jerman. Dordrecht-Holland/Providence-USA: Foris Publication Hardeland, August. 1859. Worterbuch Dajacksch—Deutsches. Kamus Bahasa Dayak—Jerman. Amsterdam: Druck Von C.A Spin and Sohn Lauder, Multamia RMT. 1999. “Derap Perkembangan Linguistik”, dalam Telaah Bahasa dan Sastra yang disunting oleh Hasan Alwi dan Dendy Sugono. Jakarta: Pusat Bahasa. Halaman 183—199. ______________. 2005. Berbagai Kajian Linguistik. Artikel yang diterbitkan sebagai bagian dari Bahasa Sahabat Manusia: Langkah Awal Memahami Linguistik. Depok: FPIB-UI Pateda, Mansur. 2001. Semantik Leksikal. Cetakan Kedua. Jakarta: Rineka Cipta Riwut, Tjilik. 1993. Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan. Disunting oleh Nila Riwut dan Agus Fahri Husein. Yogyakarta: Tiara Wacana Ugang, Hermogenes. 1983. Menelusuri Jalur-jalur Keluhuran. Studi tentang Kehadiran Kristen di Dunia Kaharingan di Kalimantan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.++++


Diubah oleh Deka04
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 14:08

Kepercayaan Orang Dayak Tentang Kesaktian

Kalimat tentang adanya kesaktian/kepercayaan tidak saja hanya dipakai sebagai hiasan kesusastraan belaka melainkan dapat dipandang sebagai pendapat yang berakar-akar dalam bumi kepercayaan bangsa Indonesia, dari masa lampau sampai sekarang masih mempercayai akan adanya benda halus yang bernama kesaktian, termasuk pengetahuan bathin orang-orang Dayak. Adapun nama-nama pengetahuan bathin orang-orang Dayak tersebut diantaranya sebagai berikut:

  • Parang-maya, yaitu orang yang kena mati badan separo, atau leher seakan-akan ada bekas luka, atau tangan mendadak tak bisa bergerak, atau badan biru, tangan sepotong.

  • Pipit Berunai, yaitu semacam binatang kecil seperti busuk dipelihara dalam botol, dikasih makan timah atau waja/besi, menurut kepercayaan binatang tersebut dapat diperintahkan menyerang musuh.

  • Tumbak Gahan, yaitu pengetahuan ini biasanya terdapat di daerah Barito Selatan, Barito Timur dan Pasir (Tanah Grogot).

  • Awoh, yaitu khusus pengetahuan untuk membengkak atau merusak mata jadi buta, atau koreng yang tak dapat diobati lagi, daging lepas-lepas.

  • Kiwang, Kibang, Pakihang, yaitu khusus untuk memelihara kebun, ladang, rumah dll, orang yang kena dapat bengkak, sakit perut, berak-berak mendadak, badan lemas. Ada juga yang dinamai Pakihang Leket, orang yang terkena lemas tak dapat berjalan/berpindah tempat.

  • Panikam Jantung, yaitu khusus kekuatan bathin menikam jantung, orang terus hilang nafas dan kelihatan bekas dibelakang atau didepan bersamaan tempat jantung.

  • Petak Malai, yaitu tanah malai, tanah yang berkhasiat untuk menjinak binatang-binatang yang liar, menjinak manusia. Tanah ini didapat dari Bukit Bondang, Bukit Raya, Bukit Kaminting, Gunung Kelam dan disungai Samba dekat kampung jala hulu sungai Katingan.

  • Dan lain-lain...
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 14:14

Ranying Hatalla dan Asal Mula Penciptaan Alam Semesta

Dahulu kala, jauh sebelum manusia diciptakan dan diturunkan ke bumi, jauh sebelum alam semesta diciptakan, bertahtalah Sang Maha Pencipta. Ia adalah Sang Maha Pencipta yang memiliki segala sifat baik dan mulia. Ia memiliki nama-nama yang mencerminkan segala sifat baik dan mulia yang ada pada-NYA. Ia disebut Maha Tunggal, Maha Sempurna, Maha Agung, Maha Mulia, Maha Jujur, Maha Lurus, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Suci, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil, Maha Kekal Abadi, Maha Pemurah, Maha Besar dan Maha Mendengar. Sang Maha Pencipta yang memiliki segala sifat Baik dan Mulia, Yang Maha Kuasa, Awal dan Akhir dari segala kejadian ini disebut Ranying Pohotara Raja Tuntung Matanandau Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan atau Ranying Hatalla.

Ranying Hatalla bertahta di tempat yang disebut Balai Bulau Napatah Intan Balai Intan Napatah Bulau di sebuah dataran tinggi yang disebut Bukit Bulau Kagantung Gandang Kereng Rabia Nunjang Hapalangka Langit. Dataran tinggi ini dikelilingi perairan yang disebut Tasik Malambung Bulau Laut Bapantang Hintan. Ranying Hatalla memiliki banyak pembantu. Mereka diciptakan dari cahaya. Pembantu-pembantu Ranying Hatalla diciptakan jauh sebelum alam semesta dan manusia ada. Mereka adalah roh baik yang bertugas menyejahterakan dan menjaga keselamatan dan kemanan suku. Pembantu-pembantu Ranying Hatalla ini diistimewakan oleh Ranying Hatalla. Beberapa diantara mereka diberi kekuasaan untuk membebaskan dan mengikat.

Nama-nama roh baik yang membantu Ranying Hatalla menyelesaikan urusan keduniawian adalah Putir Selung Tamanang-penguasa padi dan beras, Raja Angking Langit-penguasa padi dan beras, Nyaru Menteng-penguasa perang, angin, petir, halilintar, api, dan menjaga keselamatan serta keamanan suku, Nayu-Penguasa perang, angin, petir, halilintar, api dan menjaga keselamatan serta keamanan suku bersama-sama dengan Nyaru Menteng, Pangantoha-penguasa perang, angin, petir, halilintar, api dan bersama-sama Nyarru Menteng juga Nayu bertugas menjaga keselamatan dan keamanan suku, Janjalung Tatu Riwut-penguasa mata angin dan bertugas mengendalikan semua arah mata angin, Gambala Rajan Tanggara-penguasa mata angin dan bersama-sama Janjalung Tatu Riwut bertugas mengendalikan semua arah mata angin, Raja Tuntung Tahaseng-bertugas mengatur usia atau nafas kehidupan manusia dengan wewenang dari Ranying Hatalla.

Apabila ada manusia meminta umur panjang maka Raja Tuntung Tahaseng akan menjembatani komunikasi anata manusia dengan Ranying Hatalla. Lalu ada Tamanang Tarai Bulan yang bertugas merawat harta duniawi baik yang masih baru maupun yang sudah usang, Raja Sapanipas bertugas mengamati, memelihara, dan memperbaiki kehidupan manusia yang nasibnya kurang beruntung, dan Raja Mise Andau-pengendali waktu yang menghitung dan memperhatikan waktu siang dan malam bagi kehidupan manusia. Kemudian ada juga Raja Tunggal Sangumang yang bertugas membawa rejeki, iman dan kesempurnaan, Rawing Tempun Telung bertugas mengantar roh ke surga, Manteri Mama Luhing Bungai, Salutan Raja Nalawang Bulau bertugas memberi hikmah dan kebijaksanaan, Raja Sambang Maut yang berkuasa atas maut dan masih banyak lainnya.

Suatu waktu, berangkatlah Ranying Hatalla ke puncak Bukit Bulau Kagantung Gandang Kereng Rabia Nunjang Hapalangka Langit yang terletak di Batang Danum Mendeng Ngatimbang Langit, Guhung Tenjek Nyampalak Hawon. Dalam perjalanan menuju puncak dataran tinggi itu, Ranying Hatalla melihat satu wujud. Melihat wujud itu persis sama dengan diri-NYA, Ranying Hatalla pun bertanya,
“Wahai kau yang menyerupai wujud-Ku! Siapakah kau?”
Wujud serupa bayangan itu diam saja. Melihat wujud itu diam saja, Ranying Hatalla pun berkata,
“Karena kau tak menjawab-Ku maka kau kuberi nama. Namamu sekarang adalah Jata Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan*. Kau adalah penguasa alam bawah yang berada di Papan Malambung Bulau yang bertahta di Laut Bapantan Hintan.”

Jata bertempat tinggal di alam bawah air. Untuk sampai ke tempat tinggal Jata, harus melewati sebelas penjaga yang masing-masing memiliki nama. Nama-nama penjaga itu adalah Tewang Lewun Bulau Bawin Lauk, Lewun Saluang Renten Tantahan, Mama Majarungkang Kiting, Balida Indu Tengkung Papan, Balantau Laut, Ranyinh Manjuhan, Tampahas Hagambus Kadai, Undang Indu Gagap Rangkang, Baung Manangking Karis, Bajuku Indu Metup-Merau, Bajai Katabelan Uluh Ponggok Pantar Penda Rasau Rohong.

Setelah melewati sebelas penjaga, barulah perjalanan dapat dilanjutkan dengan menembus tanah untuk mencapai alam bawah air. Selama perjalanan menembus tanah ini, ada 17 pintu yang harus dilewati agar bisa mencapai kediaman Jata. Ketujuhbelas pintu itu, mulai dari yang paling atas hingga pintu paling bawah bernama; Tumbang Ayuh Bulau, Lawang Sahep, Lawang Pating, Lawang Edan, Lawang Batang, Lawang Tunggul. Lawang Baner, Lawang Uhat, Lawang Baras, Lawang Karangan, Lawang Liang, Lawang Batu, Lawang tembaga, Lawang Salaka, Lawang Bulau, dan Lawang Hintan. Setelah melewati pintu terakhir maka tibalah di suatu daerah dimana dijumpai laut dan sungai. Dibawah laut dan sungai inilah, Jata memerintah atas kemurahan hati Ranying Hatalla yang memberinya kekuasaan.

Selepas memberi nama, Ranying Hatalla lalu mengajak Jata Balawang Bulau ke puncak dataran tinggi Bukit Bulau Kagantung Gandang Kereng Rabia Nunjang Hapalangka Langit. Di puncak dataran tinggi itu, disaksikan oleh Jata Balawang Bulau, Ranying Hatalla berfirman,
“Alangkah indahnya jika AKU menjadikan bumi, langit, bulan, bintang, matahari dan segala isinya. AKU akan membuat tiga alam dan isinya melalui delapan kali penciptaan untuk memenuhi keindahan yang KU inginkan. Ketiga alam itu adalah alam atas, bumi dan isinya serta alam bawah. Apakah kau setuju, wahai Jata Balawang Bulau?”
Jata Balawang Bulau mengangguk.

Ranying Hatalla lalu melepaskan Sarumpah Bulau* di suatu tempat. Seketika terdengar petir menggelegar. Kilat sambar-menyambar. Sarumpah Bulau lalu menjelma menjadi naga. Ciptaan pertama Ranying Hatalla telah terbentuk.

Setelah itu Ranying Hatalla melepaskan Lawung Singkap Antang. Membuka dan meletakkannya di atas badan Naga. Seketika terdengar lagi bunyi gemuruh. Petir menggelegar dan kilat sambar-menyambar. Lawung Singkap Antang tiba-tiba menjelma menjadi Petak Sintel Habalambang Tambun, Liang Deret Habangkalan Karangan. Ini adalah tanah bumi lengkap dengan laut, sungai, danau dan segala isinya juga tumbuh-tumbuhan yang hidup di tanah. Ciptaan kedua Ranying Hatalla terbentuk.

Untuk membuat ciptaan ketiga hingga kedelapan, Ranying Hatalla memutuskan untuk mengambil sifat-sifat baik dan mulia yang dimiliki-NYA sebagai bahan dasar ciptaan-NYA. Ranying Hatalla lalu mengambil Pandereh Buno yaitu sifat mulia-NYA yang maha lurus, maha jujur dan maha adil. Diiringi gemuruh halilintar, Pandereh Buno menjelma menjadi pohon besar yang sangat rimbun dengan buah-buahan ranum didahannya. Oleh Ranying Hatalla, pohon ini diberi nama Batang Garing atau pohon kehidupan. Tak seperti pohon-pohon lain yang sudah terbentuk sebelumnya pada kejadian penciptaan kedua, Batang Garing atau Pohon Kehidupan memiliki buah serta dedaunan yang terbuat dari emas, berlian dan segala jenis permata.

Setelah menciptakan Batang Garing atau Pohon Kehidupan, Ranying Hatalla lalu mengambil Peteng Liung Lingkar Tali Wanang. Ini adalah sifat kewibawaan yang Maha Besar dan Maha Agung Ranying Hatalla. Ketika Ranying Hatalla mengambil Peteng Liung Lingkar tali Wanang, terdengarlah gemuruh halilintar yang Cumiakkan telinga. Peteng Liung Lingkar Tali Wanang lalu menjelma menjadi Tambun Hai Nipeng Pulau Pulu. Ini adalah Kekuasaan yang Maha Kuat dari Segala Penjuru Kebesaran Ranying Hatalla.

Selepas penciptaan keempat. Ranying Hatalla berkata pada Jata,
“AKU ingin mengajakmu makan buah pinang yang telah kuciptakan di penciptaan kedua. AKU ingin memperlihatkan padamu sifat-sifat-KU yang lain agar dapat menjadi contoh bagimu.”
Ranying Hatalla lalu mengajak Jata Balawang Bulau makan buah pinang hasil ciptaan-NYA yang diciptakan di kejadian kedua. Ranying Hatalla ingin menunjukkan sifat-sifat-NYA yang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil dan Bijaksana, dan Maha Indah pada Jata. Saat sedang makan, menggelegarlah petir. Buah-buah pinang yang dimakan berubah menjadi tiga burung yakni enggang betina, elang dan enggang jantan.

Ranying Hatalla telah menciptakan naga, bumi dan isinya, batang garing, kekuasaan, enggang betina, elang dan enggang jantan. Namun belum ada langit, bulan, bintang dan matahari. Juga belum ada gelap dan terang. Maka, disertai gemuruh halilintar yang sambar-menyambar, diciptakanlah langit, bulan, bintang dan matahari. Langit dibuat tujuh tingkat. Masing-masing tingkat memiliki penjaga. Ditentukan oleh Ranying Hatalla bahwa langit ketujuh adalah puncak langit. Tidak ada langit yang lebih tinggi daripada langit ketujuh. Dilangit ketujuh inilah Ranying Hatalla bertahta dengan segala kuasa-NYA.

Setelah langit selesai diciptakan, Ranying Hatalla menginginkan hiasan yang indah bagi langit. Selain indah, Ranying Hatalla ingin agar hiasan langit itu juga berguna bagi manusia nanti. Maka Ranying Hatalla menciptakan bintang. Bintang-bintang ini akan membantu manusia saat bekerja di ladang dan saat manusia melakukan perjalanan dengan menjadi penunjuk arah.

Lalu Ranying Hatalla menentukan gelap dan terang. Maka diciptakanlah matahari dan bulan.Terang disebut siang saat matahari muncul. Gelap adalah malam saat bulan nampak.

Alam semesta telah lengkap. Setelah semua selesai diciptakan, Ranying Hatalla berkata pada segala ciptaan-NYA,
“Wahai naga, bumi, air, langit, bulan, bintang, matahari, enggang dan elang, AKU perintahkan kalian menempati tempat kalian masing-masing. AKU adalah Ranying Hatalla, Pencipta, penguasa dan Pemilik kalian. AKU adalah Raja dan Tuhan kalian. AKU adalah Yang Maha Kuasa, Awal dan Akhir segala kejadian, dan cahaya kemuliaan-KU yang terang, bersih dan suci, adalah cahaya kehidupan yang kekal abadi dan AKU sebut ia Hintan Kaharingan.”
Naga, bumi dan isinya, langit, bulan, bintang, matahari, enggang dan elang menundukkan kepala lalu bersujud di hadapan Ranying Hatalla dan menyatakan ikrar dan sumpah kesetiaan mereka. Selepas mengucapkan ikrar dan sumpah, pergilah masing-masing ke tempat yang telah ditentukan Ranying Hatalla.

Sekarang Ranying Hatalla ingin melengkapi ketujuh penciptaan-NYA dengan penciptaan kedelapan. Ranying Hatalla ingin menciptakan manusia, penghuni alam semesta. Namun sebelum menciptakan manusia, Ranying Hatalla ingin menciptakan tujuh raja yang akan menjadi sahabat dan membantu-NYA membawa ajaran Ranying Hatalla kepada manusia.

Maka, Ranying Hatalla mengambil dua sifat lagi dari diri-NYA. Kedua sifat itu adalah Kemuliaan-NYA yang Maha Suci dan Keagungan-NYA yang Maha Mulia. Ranying Hatalla lalu menyatukan kedua sifat tersebut hingga terbentuklah Bukit Intan dan Bukit Emas. Masing-masing bukit memiliki cahaya terang yang berpendar lembut dan hangat. Akibat benturan cahaya Bukit Intan yang menyatu dengan sinar Bukit Emas maka lahirlah tujuh raja yang diinginkan Ranying Hatalla. Ketujuh raja ini masing-masing diberi nama. Mereka adalah Raja Mandurut Untung, Raja Mandurut Bulau, Raja Barakat, Raja Angking Penyang, Raja Garing hatungku, Raja Panimbang Darah, dan Raja Tamanang.

Setelah ketujuh raja diciptakan, Ranying Hatalla lalu menyatukan Bukit Intan dan Bukit Emas. Penyatuan kedua bukit ini kelak akan menjadi cikal bakal diciptakannya manusia.

Quote:
Kisah ini disadur dari kisah proses penciptaan menurut kepercayaan Kaharingan versi Daerah Katingan dan digabungkan dengan versi Daerah Kahayan



Oleh: Andriani S. Kusni
0 0
0
Mitos, Budaya, Legenda, Cerita Rakyat, dan Sejarah
27-02-2014 14:19

Sepenggal Catatan Sejarah Tumbang Anoi

Perjanjian Tumbang Anoi merupakan sebuah perjanjian penting yang ada di Pulau Kalimantan ini, Karena Perjanjian Inilah persatuan Suku Dayak semakin dalam dengan filsafat Huma Betang, yuk kita lihat seperti apa sih perjanjian tumbang anoi itu.

Pertemuan Kuala Kapuas, 14 Juni 1893 membahas :

  • Memilih siapa yang berani dan sanggup menjadi ketua dan sekaligus sebagai tuan rumah untuk menghentikan 3 H (Hakayau=Saling mengayau, Hopunu’=saling membunuh, dan Hatetek=Saling memotong kepala musuhnya).
  • Merencanakan di mana tempat perdamaian itu.
  • Kapan pelaksanaan perdamaian itu.
  • Berapa lama sidang damai itu bisa dilaksanakan.
  • Residen Banjar menawarkan siapa yang bersedia menjadi tuan rumah dan menanggung beaya pertemuan. Damang Batu’ menyanggupi. Karena semua yang hadir juga tahu bahwa Damang Batu’ memiliki wawasan yang luas tentang adat-istiadat yang ada di Kalimantan pada waktu itu, maka akhirnya semua yang hadir setuju dan ini disyahkan oleh Residen Banjar.


Lalu disepakati bahwa :

  • Pertemuan damai akan dilaksanakan di Lewu’ (kampung) Tumbang Anoi, yaitu di Betang tempat tinggalnya Damang Batu’.
  • Diberikan waktu 6 bulan bagi Damang Batu’ untuk mempersiapkan acara.
  • Pertemuan itu akan berlangsung selama tiga bulan lamanya.
  • Undangan disampaikan melalui tokoh/kepala suku masing-masing daerah secara lisan sejak bubarnya rapat di Tumbang Kapuas.
  • Utusan yang akan menghadiri pertemuan damai itu haruslah tokoh atau kepala suku yang betul-betul menguasai adat-istiadat di daerahnya masing-masing.
  • Pertemuan Damai itu akan di mulai tepat pada tanggal 1 Januari 1894 dan akan berakhir pada tanggal 30 Maret 1894.


Pertemuan Damai dari 1 Januari 1894 hingga 30 Maret 1894, di Rumah Betang Damang Batu’ di Tumbang Anoi. Dalam pertemuan Damai itu, dengan keputusan:

  • Menghentikan permusuhan antar sub-suku Dayak yang lazim di sebut 3H (Hakayou =saling mengayau, Hapunu’ = saling membunuh, dan Hatetek = saling memotong kepala) di Kalimantan (Borneo pada waktu itu).
  • Menghentikan sistem Jipen’ (hamba atau budak belian) dan membebaskan para Jipen dari segala keterikatannya dari Tempu (majikannya) sebagai layaknya kehidupan anggota masyarakat lainnya yang bebas.
  • Menggantikan wujud Jipen yang dari manusia dengan barang yang bisa di nilai seperti baanga’ (tempayan mahal atau tajau), halamaung, lalang, tanah / kebun atau lainnya.
  • Menyeragamkan dan memberlakukan Hukum Adat yang bersifat umum, seperti : bagi yang membunuh orang lain maka ia harus membayar Sahiring (sanksi adat) sesuai ketentuan yang berlaku. pada yang digunakan lawan*nya manu*sia.
  • Memutuskan agar setiap orang yang membunuh suku lain, ia harus membayar Sahiring sesuai dengan putusan sidang adat yang diketuai oleh Damang Batu’. Semuanya itu harus di bayar langsung pada waktu itu juga, oleh pihak yang bersalah.
  • Menata dan memberlakukan adat istiadat secara khusus di masing-masing daerah, sesuai dengan kebiasaan dan tatanan kehidupan yang di anggap baik.


seandainya di papua ada hal seperti ini maka tidak lagi ada Perang Antar Suku Disana, Sungguh Luar Biasa Nenek Moyang Kita Orang Kalimantan sudah jauh hari memikirkan hal seperti ini untuk anak cucu mereka wasalam.
0 0
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia