alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/517d4231621243306c000005/ketuhanan-yang-maha-esa--ternyata-bukan-berarti-yang-satu
Lapor Hansip
28-04-2013 22:37
KETUHANAN YANG MAHA ESA , ternyata bukan berarti YANG SATU
Saudara-saudara pasti tahu tentang sila pertama Pancasila,
KETUHANAN YANG MAHA ESA

Selama ini, kata "Esa" diartikan sebagai "Satu", sehingga penafsiran Sila Pertama menjadi "Ketuhanan yang SATU".
Kemudian ditafisirkan lagi menjadi "Menyembah Tuhan yang satu"

Makanya kemudian ada orang yg bisa-bisanya bilang:
Quote:Yg merasa bertuhankan bukan Tuhan Yang Maha Esa, silahkan OUT dari bumi Nusantara. Yang sukanya menghina-hina agama, menggoyang-goyangkan keyakinan orang akan Tuhan Yang maha Esa, silahkan OUT dari bumi nusantara.

ada yg nyembah Tuhan 3, ada yg nyembah dewa2, ada lagi yg nyembah pohon2..
~~ SI OKNUM


TAPI TERNYATA ARTI KATA ESA BUKAN SATU

Kata satu dalam bahasa sansekerta adalah EKA , bukan ESA. Lihat saja di semboyan Bhinneka Tunggal IKA. Bukan Bhinneka Tunggal ESA

Esa itu tidak sama dengan Eka.
Esa itu adalah kata ambilan dari bahasa Sanskrit yang bentuk kata bendanya adalah Etad artinya Suchness, as this, as it is.

Kalau negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa itu artinya adalah mengakui bahwa negara mengakui bahwa segala macam yang terhadirkan apa adanya itu adalah manifestasi dari sifat Ke Maha-an Tuhan.
Artinya, bahwa semua ajaran yang ada di bumi pertiwi Nusantara ini juga adalah hadir mendunia karena kuasa Tuhan dalam manifestasi keberagamannya.

Dan Ketuhanan Yang Maha Esa artinya adalah Tuhan as it is. Tuhan dalam diriNya sendiri. Bukan "Tuhan" sebagai obyek akal kita. Tentu berbeda antara menyikapi Tuhan-as-it-is dengan Tuhan-as-obyek-akal. Kesemena-menaan dan kekerasan itu timbul karena SI OKNUM menganggap pengertian-akal-anda-tentang-Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, sehingga mengabsolutkan pemahaman sekte SI OKNUM.

Jadi bisa kita simpulkan disini bahwa pihak yang menolak KeMaha-Esaan Tuhan adalah pihak yang semena-mena memaksakan pengertian Tuhan menurut kelompoknya sendiri, mengingkari keberagaman apa yang hadir mendunia as it is.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu jangan diartikan secara sempit dengan agama. Seseorang boleh dengan keyakinannya sendiri terhadap Tuhannya masing-masing. Begitulah rumusan Ir.Soekarno dalam pidato hari lahirnya Pancasila.

Quote:Kutipan Pidato Soekarno 1 Juni 1945 lahirnya Pancasila

Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada "egoisme-agama". Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.

Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!


Pemelintiran arti ESA menjadi SATU ini dilakukan sejak zaman orde baru. Jadi kalau liat di KBBI ,
Quote:esa num tunggal; satu;-- hilang, dua terbilang, pb berusaha terus dng keras hati hingga maksud tercapai; berbilang dr -- , mengaji dr alif, pb melakukan sesuatu hendaknya dr permulaan;

beresa-esaan /ber·e·sa-e·sa·an/ v 1 cak berada seorang diri saja; 2 merasa lengang;

mengesakan /meng·e·sa·kan/ v menjadikan (menganggap) satu: ~ Tuhan (mengakui bahwa Tuhan hanya satu);

keesaan /ke·e·sa·an/ n sifat yg satu: ~ Tuhan


Padahal kok bisa ESA menjadi EKA penjelasan etimologisnya darimana?


Sekarang lebih jelas bukan siapa pihak yang mengingkari Ke Maha-Esaan Tuhan. Apalagi sampai mengusir-usir dengan kepongahannya sendiri sebagai seorang manusia yang merasa lebih tahu tentang Ketuhanan daripada Tuhan itu sendiri.

Mulai sekarang, bookmark page ini. Begitu ada orang mulai ngomong agama K gak sesuai pancasila karena Tuhannya ada 3, agama H gak sesuai pancasila karena Tuhannya ada banyak, silahkan dikirim ke page ini.

SUMBER:
CATATAN FACEBOOK TEMAN
http://id.wikisource.org/wiki/Lahirn...Prinsip_kelima
http://spokensanskrit.de/index.php?s...e&direction=AU
http://spokensanskrit.de/index.php?s...e&direction=AU

izin moderator:
Quote:Original Posted By hateisworthless



Approved
silahkan dilanjut threadnya


Diubah oleh xenocross
0
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 6
06-07-2014 23:45
kadang buat sebagian orang untuk mau/bisa menghargai yg laen sampe butuh penjelasan yg rada ribet emoticon-Sorry emoticon-No Sara Please
0
04-06-2014 16:02
SARA


sedemikian busuknya propaganda agan ( lihat ane bolt merah ) kebencian macam apa yang ada di hati agan sehingga perlu ekspansi dari forsex ke root edu ini dengan cara membelokkan tujuan TS untuk menjelaskan tentang tentang arti ESA dengan EKA. kita negara hukum jika ada ketidak beresan tentang agama lewat saja jalur hukum. ane ingatkan pikir ulang buat pernyataan yang ane bolt.
Diubah oleh aviep
0
03-06-2014 05:12
http://elsaonline.com/?p=3300

Pancasila sebagai “Milestone” Pluralitas Bangsa Indonesia

 Jun 01, 2014  Admin  Artikel Comments Off

Oleh: Tedi Kholiludin

Salah satu situasi politik yang menjadi latar lahirnya Pancasila adalah pertarungan antara Islamisme dengan Nasionalisme. Pidato Sukarno saat ia menawarkan lima dasar, sangat jelas menunjukkan situasi tersebut. Sukarno misalnya mengatakan;

“Saya minta, saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan saudara-saudara Islam lain: maafkan saya memakai perkataan, kebangsaan ini! Saya pun orang Islam. Tetapi saya minta kepada saudara-saudara, janganlah saudara-saudara salah faham jikalau saya katakan bahwa pada dasar pertama buat Indonesia adalah dasar kebangsaan.”

Dalam situasi demikianlah Pancasila lahir. Pancasila berupaya untuk merengkuh semua golongan agar bisa terakomodir. Sukarno merasa harus menyampaikan sebuah prinsip yang bisa membuat nyaman semua kelompok yang ada dalam sidang BPUPKI. Dari banyak kelompok yang hadir, perwakilan Islam memang sangat mendambakan sebuah negara dengan dasar Islam. Sukarno melihat ada potensi disintegrasi karena ada keberatan dari kelompok yang tidak menghendaki Islam sebagai dasar negara. Lalu disepakatilah lima dasar yang ditawarkannya pada 1 Juni 1945.

Lahir dari situasi dimana penuh ketegangan antar berbagai ideologi, Pancasila diharapkan menjadi kompromi sekaligus dasar bersama bagi semua kelompok. Sukarno sering menyebut Pancasila ini sebagai fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat atau “philosofische grondslag”. Dalam kesempatan lain, Sukarno (juga Suharto) sering menyebut Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Namun, justru disinilah sesungguhnya ada masalah dengan menempatkan Pancasila sebagai ideologi.

Jika Pancasila adalah sebuah ideologi, maka Pancasila menjadi sesuatu yang benar di dalamnya dan tidak mengandung kontradiksi satu dengan lainnya. Namun, hal itu harus dilakukan oleh Sukarno untuk mengatasi persoalan yang timbul di Indonesia.

Persoalan yang ada dalam diri Pancasila itu pertama-tama adalah saat Sukarno berusaha untuk menjadikannya sebagai payung bersama, perekat. Itu bisa dilihat misalnya dalam Sila Persatuan. Muncul kemudian keinginan untuk membuatnya kuat, kukuh dan tak tergantikan. Kecenderungan yang sangat terasa ketika orde baru berkuasa melalui doktrin Pancasila Sakti.

Seperti yang digambarkan dalam bab sebelumnya, dengan menggunakan pendekatan ideologis, Pancasila menyiratkan ada ”inkompatibilitas intrinsik”. Mencermati tiap-tiap sila dalam Pancasila, serta keterangan Sukarno saat menjelaskan masing-masingnya akan semakin jelas menunjukkan bagaimana inkonsistensi itu mengemuka. Pendekatan ini dikenalkan Donny Danardono kepada saya.

Sila pertama yang disinggung oleh Sukarno merupakan antitesa dari paham Pan Islamisme. Sukarno meminta kepada Ki Bagoes Hadikoesoemo dan kelompok yang memperjuangkan Islam sebagai dasar negara agar bisa memahami apa yang ia sampaikan itu. Sukarno melanjutkan bahwa ide tentang kebangsaan tersebut tidak dimaksudkannya untuk memaknai satu model kebangsaan sempit, tetapi nasionalestaat. Sukarno kemudian menguraikan tentang apa yang ia maksud sebagai Persatuan, Musyawarah, Kemanusiaan dan Ketuhanan.

Persoalan kemudian muncul ketika Sukarno sampai pada pembahasan tentang permusyawaratan, permufakatan, dasar ketiga yang ia tawarkan. Sukarno menyadari betul bahwa asas ini menjadi kran untuk beradu pendapat, menawarkan pandangan dan ideologinya masing-masing. Sukarno ada dalam situasi dimana tuntutan kelompok Islam untuk menjadikannya sebagai dasar negara sangatlah kuat. Sukarno membuka kesempatan kepada mereka untuk berdebat dan memperjuangkannya di badan legislatif. Kehidupan di lembaga perwakilan haruslah merupakan sebuah kawah candradimuka dimana ada perjuangan paham di dalamnya. Negara yang sehat adalah negara yang menyediakan ruang bagi perjuangan paham atau ide dan menjadikan lembaga perwakilan itu bergolak mendidik. Termasuk jika umat Islam hendak memperjuangkan idenya, maka bertarunglah di badan perwakilan itu.

“Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Disinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar-supaya sebagian yang terbesar dari pada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan Islam.

Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian, baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam, setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan. Dalam perwakilan nanti ada perjoangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam badan-perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjoangan faham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjoangan selamanya ada.”

Imbas dari apa yang disampaikan oleh Sukarno ini kemudian membuat Pancasila berada dalam posisi yang dilematis. Sebagai dasar negara, Pancasila akan sangat mungkin digantikan oleh paham lain, selama mereka yang memperjuangkannya dapat menguasai parlemen. Yang terjadi kemudian, sebagai dasar negara, philosofische grondslag atau weltanschauung, Pancasila, meminjam bahasa Goenawan Muhammad, tak lagi kedap, pejal, sudah final dan kekal. Sementara, di sisi lain, Sukarno menghendaki Pancasila itu sebagai suatu fondasi yang kokoh dan tak tergantikan. Keberhasilan sebuah paham tertentu dalam lembaga perwakilan akan menggoyahkan Pancasila yang hendak meniadakan “egoisme agama” serta prinsip “semua buat semua”.

Pemahaman terhadap Pancasila dalam kerangka demikian, berpotensi untuk menggoyahkan kemajemukan, pluralitas agama dan budaya yang sudah terpatri di bumi Indonesia. Bagaimana Pancasila dapat menjadi jaminan agar prinsip “egoisme agama” bisa ditanggalkan dengan semangat “semua buat semua”.

Dengan menawarkan Pancasila, Sukarno berikhtiar agar bangsa yang bhineka ini bisa menjadi eka, dan yang eka ini tetap menghargai yang bhineka. Menawarkan satu prinsip yang berdiri di atas kemajemukan, sudah pasti akan mengundang banyak spekulasi. Bisa jadi akan ada titik temu yang mendamaikan, tetapi bukan tak mungkin akan banyak titik tengkar yang akan memudarkan tali persatuan. Situasi itulah yang juga dihadapi Sukarno saat menyampaikan pidato tentang Pancasila. Meminjam bahasa Goenawan Muhammad “Pidato Bung Karno dengan ekspresif mencerminkan ikhtiar itu; nadanya mengharukan: penuh semangat tapi juga tak bebas dari rasa cemas”.

Pancasila haruslah dipahami dalam kerangka yang utuh. Sila yang satu harus dimbangi dengan sila lainnya. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa harus diimbangi dengan Persatuan Indonesia dan begitu seterusnya. Memutlakan satu sila di atas yang lain, akan berpotensi menghasilkan hegemoni dan dominasi satu kelompok atas kelompok lainnya. Dengan kata lain, Pancasila yang meniadakan “egoisme agama” itu harus dipahami secara utuh dari sila-sila yang menjadi fondasinya. Merawat kemajemukan hanya mungkin bisa dilakukan jika Pancasila ditafsirkan dalam kerangka demikian.

Disinilah kita bisa memahami apa yang oleh Gus Dur disebut sebagai esensi dari Pancasila yang akan terus dipertahankan. Sebagai negara dengan tingkat kemajemukan yang tinggi, maka disintegrasi adalah masalah yang selalu akan timbul di Indonesia. Bahkan, sila-sila dalam Pancasila itu sendiri sesungguhnya bisa menjadi peta masalah di negara yang majemuk seperti Indonesia. Sila pertama menyiratkan bahwa persoalan hubungan agama dan negara akan selalu berkait dan berkelindan. Dasar negara Pancasila yang bukan teokrasi dan bukan sekuler menyisakan ruang perdebatan tentang identitas bangsa ini. Sila kedua (kemanusiaan yang adil dan beradab), merupakan peringatan bahwa akan selalu ada masalah yang berkaitan dengan pemenuhan hak asasi manusia. Masalah disintegrasi bangsa merupakan tantangan yang akan dihadapi seperti disiratkan dalam sila ketiga. Konsolidasi demokrasi yang masih terus berjalan selalu akan menyisakan residu. Residu demokrasi itu yang akan terus berjalan mengiringi proses demokratisasi yang sedang berjalan. Sila keempat mengindikasikan hadirnya masalah tersebut. Sementara sila terakhir, menyiratkan persoalan pokok dalam bidang ekonomi, yakni munculnya kecemburuan, terutama dalam relasi pusat dan daerah.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara pandang kita terhadap Pancasila agar ia tetap berfungsi untuk menjadi kekuatan integratif yang menjaga kemajemukan tersebut?

Saya menyebut bahwa Pancasila itu sebagai “milestone” bangsa Indonesia. Titik tonggak yang mengawali komitmen akan menjaga keutuhan bangsa dengan segala kekayaan perbedaan yang terkandung di dalamnya. Titik inilah yang merupakan “kisah bersama” saat mereka yang berbeda itu menyepakati satu janji untuk hidup dalam teritori yang disepakati. Kisah ini yang menjadi rujukan jika pada suatu waktu ada kelompok tertentu yang hendak keluar dari milestone atau “kisah bersama” itu. Pancasila menjadi semacam personal experience, pengalaman intim antar komponen bangsa untuk tetap menghargai kebhinekaan. Menjaga agar Pancasila tetap semua buat semua.

Dalam kerangka Pancasila, maka kehidupan bangsa Indonesia yang memiliki keragaman identitas agama dan budaya haruslah tetap dijaga. Dengan bingkai Pancasila pula, maka tidak ada warna dominan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Indonesia tidak menjadi negara Kristen atau negara Islam. Indonesia juga tidak menjadi negara Jawa, Batak, Sunda, dan lainnya.

Pemahaman Pancasila seperti ini yang kemudian dijadikan sebagai dasar bagi transformasi religiositas sipil. Mengutip Cobb, prinsip dasar dari transformasi, adalah dalam komitmennya yang kuat terhadap keberimanannya, seseorang haruslah terbuka kepada yang lain. Orientasi keberagamaan tidak hanya sekedar beromantisme pada sejarah kejayaan sebuah agama di masa silam. Agama harus menjadi living values yang senantiasa berdialektika dengan realitas, termasuk di dalamnya keyakinan-keyakinan yang berbeda.

Keterbukaan terhadap tradisi lain bukan sekedar membuka diri. Kata Cobb, umat beragama harus mengakui bahwa ada praktek atau ajaran yang baik dan penting untuk diderivasi dari tradisi keagamaan yang lain. Itulah yang oleh Cobb disebut sebagai “full openness”, keterbukaan penuh. Keterbukaan terhadap kebenaran secara nyata berisi tentang keterbukaan terhadap kebenaran partikular yang ada dalam tradisi lain.

Religiositas sipil yang transformatif inilah yang harus dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dengan menjadikan Pancasila sebagai “milestone.” Prinsip dasar dari transformasi sangat berharga dalam melakukan transformasi agama-agama dalam kontes keindonesiaan. Dengan transformasi maka Kekristenan yang dikembangkan bukanlah Kristen Barat. Begitu juga dengan tradisi keagamaan lainnya. Jadi yang muncul pada nantinya adalah “Indonesianized Christianity,”, “Indonesianized Islam,” “Indonesianized Buddhism” dan lainnya.
0
02-06-2014 23:22
Berharap pada Konstitusi
Penulis: Dewi Kanti Setianingsih
00:00 WIB | Kamis, 09 Januari 2014


“Ma, Wiwin berani nurunin lambang garuda Pancasila yang dipajang di kelas kalo besok-besok Wiwin masih dipaksa bu guru pake jilbab di sekolah. Padahal Wiwin ngga suka dan itu bukan pakaian kita, kan Ma?”

SATUHARAPAN.COM - Terhentak hati orangtua itu mendengar protes remaja putrinya yang baru berusia 13 tahun. Dipeluknya putri kesayangannya itu. Ada perasaan bangga, terharu, dan tergetar dalam hati. Betapa mereka bersyukur dikaruniai anak yang cerdas dan kritis, berani mengungkapkan kebenaran yang diyakininya dengan caranya sendiri dan dengan segala kepolosannya.

Kepercayaan diri Wiwin muncul ketika dia dipertemukan dengan beberapa anak-anak komunitas korban kekerasan atas nama agama dan keyakinan, dalam suatu peringatan hari anak nasional di Jakarta. Dia merasa bahwa ternyata masih banyak anak-anak seusianya yang juga harus menghadapi masalah sama, yang dalam situasi tertekan namun tetap percaya diri dan bangga, serta mencintai tanah airnya.

Cerita lainnya: suatu ketika seorang guru karena ingin meyakinkan bahwa seorang anak beragama, bahkan tega mempermalukan si anak dengan membuka paksa pakaian dalam agar terlihat apakah ia disunat atau tidak, dan menjadi bahan olok-olokan teman-temannya.

Politik Penyeragaman

Itulah sekilas potret anak masyarakat adat yang masih menghayati warisan spiritual leluhurnya. Dianggap berbeda dengan yang lain atas dasar keyakinan, menyebabkan tekanan dan stigma di lingkungan sekolahnya begitu kerap dialami mereka.

Pola pikir masyarakat umum yang anti keberagaman dan sudah berkarat tentunya bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Politik penyeragaman yang dilakukan sengaja oleh pemerintah bersama aparaturnya menjadi bom waktu hancurnya kebhinnekaan Nusantara itu sendiri. Bagaimana tidak? Berbagai peraturan perundang-undangan diskriminatif dari beberapa periode kepemimpinan bangsa ini tumbuh dengan subur.

Negara seolah mengambil peran sebagai wakil Tuhan untuk menentukan mana agama yang diakui dan yang tidak. Memasuki 15 tahun reformasi bangsa ini malah mengalami kemunduran dengan adanya UU no 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang mengulangi kesalahan sejarah rezim sebelumnya soal legitimasi agama.

Para aparatur negara masih menggunakan pemanis kata dan telah menciptakan UU yang konon anti diskriminasi, tapi justru tidak ada kesatuan antara ucapan dan tindakan. Mereka mengaku akan selalu mengusung Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi justru merekalah yang mengikis akar kebhinnekaan Nusantara. Penentuan agama formal yang diakui oleh negara membuat pola pikir dalam masyarakat menjadi tidak toleran pada keyakinan yang berbeda, dan menumbuhkhan virus perpecahan. Sebab yang terjadi, sesungguhnya, adalah politik belah bambu, di mana satu sisi yang lemah diinjak dan yang kuat diangkat.

Sebelum munculnya UU no 23 /2006, masyarakat penghayat kepercayaan selalu digiring dan dipaksa untuk memilih agama yang diakui Negara. Sekarangpun, setelah UU tersebut berlaku dan bahkan telah direvisi, tidak ada langkah maju. Masyarakat penghayat kepercayaan masih tetap didiskriminasikan oleh UU itu. Dalam pasal 61 ayat 2 UU 23/2006 dikatakan begini:

“Keterangan mengenai kolom agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi Penduduk yang agamanya belum diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan atau bagi penghayat kepercayaan tidak diisi, tetapi tetap dilayani dan dicatat dalam database Kependudukan.”

Pasal di atas menunjukan bahwa pemerintah dengan sengaja ingin melanggengkan diskriminasi, lewat agama yang “diakui” dan “belum diakui”. Bagi mereka yang “belum diakui”, maka identitas agama dalam KTP mereka akan dikosongkan. Suatu kesengajaan yang dibuat untuk menghilangkan sejarah bangsa bahwa para penghayat kepercayaan merupakan warga negara kelas dua yang hanya bisa dilayani kalau mereka mendaftarkan diri sebagai kelompok organisasi atau keagamaan, dan pada gilirannya akan dengan mudah dibubarkan sesuai selera politik mayoritas, dan bahkan dipecah belah.

Akibatnya sangat besar.

Diskriminasi berlapis

Lewat identitas agama di KTP yang dikosongkan, maka perkimpoian para penghayat kepercayaan, yakni mereka yang perkimpoiannya dilaksanakan secara adat tradisi tidak bisa dicatatkan oleh negara. Ujungnya jelas: tidak ada akta perkimpoian yang akan berlanjut pada dampak berikutnya, yaitu status hukum anak hasil perkimpoian tersebut terstigma sebagai anak yang lahir di luar nikah.

Disini negara telah berperan menghilangkan identitas warganegaranya secara sistematis, karena dengan penekanan tersebut, stigma yang dialami para penghayat dialami dari lahir sampai mati. Sebagai contoh, anak-anak baik di sekolah negeri atau swasta di Jawa Barat ditekan untuk menjalankan syariat Islam, atau bahkan digiring untuk dibaptis oleh guru di sekolah tanpa persetujuan orang tua anak tersebut. Sebagai PNS mereka dihambat tidak bisa memasuki jenjang karier struktural dengan alasan tidak memeluk agama yang diakui negara. Di Jawa Tengah banyak warga penghayat yang tidak bisa dikebumikan di TPU (Taman Pemakaman Umum), karena kini lahan TPU hanya untuk agama yang diakui negara, sehingga jenasah mereka terpaksa harus dikebumikan di halaman rumahnya sendiri.

Tunai sudah tiap periode kepemimpinan di republik ini menghilangkan identitas kultural beberapa generasi. Padahal mereka sejatinya tidak lebih hanya ingin merawat dan melestarikan warisan spiritual para leluhurnya. Mereka yang bersedia menjadi benteng terakhir kebhinnekaan bangsa, dan dari para leluhur merekalah Pancasila digali.

Pancasila tidak digali dari Timur tengah, Eropa, atau Hindustan sana. Namun mengapa Pemerintah hanya mengakui agama-agama pendatang yang hadir dari luar Nusantara, dan para penghayat spiritual leluhur Nusantara diasingkan di tanah leluhurnya sendiri, oleh saudara sebangsanya sendiri?

Kalau bangsa ini mengakui: Ketuhanan Yang Maha Esa, namun mengapa orang yang mengaku beragama selalu menyangsikan bahwa Tuhan kaum sana dan Tuhan kaum sini berbeda? Kalau mengakui Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, namun mengapa keadilan dan keadaban tidak terwujud? Apa arti Persatuan Indonesia, jika yang terjadi malah perpecahan bangsa yang makin meningkat?

Dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaaan dalam permusyawaratan perwakilan tidak menjadi dasar kebijaksanaan berbangsa. Bukankah keputusan hanya berdasarkan tekanan kelompok mayoritas untuk menindas minoritas? Sementara cita-cita Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia makin jauh dari harapan, karena masyarakat sudah tidak memiliki kesetiakawanan sosial dengan hilangnya kemampuan turut merasakan dan turut memikirkan kesulitan saudara sebangsanya sendiri.

Akankah atas nama agama atau keyakinan bangsa ini mengerdilkan nilai kemanusiaan dan mengerdilkan esesnsi dari spiritualitas keagamaan itu sendiri dengan membiarkan negara menjadi wakil Tuhan?

Berharap pada Konstitusi

Kenyataan di atas adalah fakta yang terjadi, di sebuah negeri yang bhinneka ini. Apakah masih ada setitik harapan pada payung hukum tertinggi di negeri ini, yakni konstitusi yang menjadi pijakan hukum negeri ini, yang disusun oleh para pendiri negeri lewat semangat kebhinekaan Nusantara?

Sebenarnya semangat UUD 1945 dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Setiap nyawa adalah titipan Tuhan, Pencipta kehidupan. Setiap jengkal tanah yang dipijak adalah untuk meneguhkan keagungan-Nya. Menyakiti, memindas dan menyingkirkan umat-Nya serta ciptaan-Nya adalah setara dengan penghianatan terhadap Sang Pencipta.

Atas dasar kesadaran konstitusi itulah suara hati seorang anak seperti Wiwin akan bisa membangunkan nurani kita sebagai sebuah bangsa, sebagai anak-anak Indonesia yang ingin mewariskan peradaban penuh perdamaian dalam perbedaan, berani menyuarakan kebenaran dalam setiap helaan nafas, dan bukan berdasar pada pembenaran. Suara mereka mengingatkan bahwa tugas pemerintah sebagai aparatur negara adalah pelayan dan pengayom rakyatnya, bukan justru penyebar virus perpecahan anak-anak bangsanya!

Penulis adalah penggiat hak-hak masyarakat adat Sunda Wiwitan

http://satuharapan.com/index.php?id=109&tx_ttnews[tt_news]=9625&cHash=1
0
01-06-2014 19:13
Mantap
0
01-06-2014 18:52
Tolong taro di page one penting

[url] https://m.facebook.com/home.php?refsrc=https%3A%2F%2Fm.facebook.com%2Fhome.php%3Fref%3Dbookmark&refid=8&_rdr#!/groups/1435032480077529?view=permalink&id=1450187055228738&ref=m_notif¬if_t=group_activity&actorid=100002292154860[/url]

Dirgahayu Peringatan kelahiran Panca Sila 01 Juni

Renungan 69 tahun kelahiran Panca Sila 01 Juni 1945 - 01 Juni 2014.

Sudah beberapa kali artikel ini dengan judul PELURUSAN MENULIS PANCA SILA ... Bukan PANCASILA KARENA SANGAT BERBEDA ARTINYA ... .. Sejak 2002 hingga sekarang tulisan ini diunggah, diulang dan diulang, meskipun hasilnya sangat minim tetapi setahap demi setahap sudah mulai banyak yang memahami.

Bila diperhatikan dengan seksama gambar buku Pidato Lahirnya Panca Sila 01 Juni 1945 dan tulisan tangan Bung Karno ... Jelas tulisan PANCA SILA itulah yang benar ... Bahkan bilamana perlu ditulis "PANTJA SILA" .. .. Merk dagang saja tidak boleh diubah semau maunya apalagi ini adalah Dasar negara !!!, bukankah menulis Tanah air (yang benar) kalau digabung tanahair ( yang salah) .... Karena memang sesungguhnya berbeda antara Panca Sila Bung Karno 01 Juni 1945 dan Pancasila Soeharto .... ..

Bila kita cermati benar benar gambar tulisan tangan Bung Karno dalam lampiran ini maka ditemukan tulisan ... ...

"Marilah kita kembali pada jiwa kita sendiri !!, Jangan kita menjadi satu bangsa tiruan !!" ... Sudah jelas bukan yang dimaksud Bung Karno ... Jangan jadikan Islam sebagai dasar negara dan Jangan jadi bangsa tiruan Arab" ...............................................

Menulis yang benar adalah PANCA SILA bukan PANCASILA (tanpa spasi) .... ...

Dalam pidato di majelis umum PBB tahun 1960 dengan judul "To BUILD THE WORLD A NEW : Pidato Soekarno 30 September 1960 (Membangun tata dunia baru), disana oleh Bung Karno menawarkan Panca Sila untuk dipakai sebagai perbaikan dasar PBB, tawaran ini dikumandangkan dalam pidato bung KARNO didepan pemimpin dunia yang hadir dalam sidang ketika itu. Panca Sila dialih bahasakan dalam bahasa Inggris menjadi "THE FIVE PRINCIPLES" ..... Bukankah kalau ditulis Pancasila justru tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan terjemahannya terpaksa ditulis "Pancasila".

Sedari lahirnya 01 Juni 1945 Bung Karno dalam pidatonya menawarkan mula-mula Panca Dharma ... Oleh bisikan temannya sebaiknya "DHARMA" diganti "SILA"maka ditawarkanlah Panca Sila bagi yang suka dengan angka 5, apabila yang suka dengan angka 3 ditawarkan Tri Sila, dan kalau yang suka dengan satu Eka Sila yaitu "Gotong Royong" ...

Bukankah dalam penulisan 5 hari kalau ditulis dalam huruf yang benar adalah lima hari dan akan salah bila ditulis limahari (tanpa spasi).

Sedari kecil saya melihat vandel vandel, dirumah rumah penduduk terutama didesa tertulis tertempel vandel PANCA SILA bukan Pancasila dan isinyapun disederhanakan sila ke satu Ketuhanan, sila ke dua perikemanusiaan, sila ke tiga Persatuan, sila ke empat Kerakyatan, sila kelima Keadilan sosial ..... penyederhanaan ini tidak aneh karena Bung Karno terobsesi menawarkan Panca Sila untk dipakai sebagai dasar PBB dan negara negara lain yang memerlukannya ... Panca Sila di tawarkan oleh Bung Karno agar dipakai sebagai dasar secara universal .... Silahkan direnungkan

Saya kutipkan pidato Bung Karno 01 Juni 1945 sbb.:

Saudara-saudara! Dasar-dasar Negara telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma ? Bukan ! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca Indera. Apa lagi yang lima bilangannya? (Seorang yang Hadir: Pendawa Lima).

Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip: Kebangsaan, Internasionalisme, Mufakat, Kesejahteraan dan Ketuhanan, lima pula bilangannya.

Namanya bukan PANCA DHARMA, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seseorang teman kita ahli bahasa -namanya ialah PANCA SILA. SILA artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia kekal dan abadi. (Tepuk tangan riuh).

Atau, barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu ? Saya boleh peras, sehingga tinggal TIGA (3) saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah "PERASAN" yang tiga itu ? berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan intemasionalisme, kebangsaan dan Peri Kemanusiaan, saya peras menjadi SATU itulah yang dahulu saya namakan socio-nationalisme.

Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiek-economische democratie, yaitu politik demokrasi dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu. Inilah yang dulu saya namakan socio-democratie. Tinggal lagi Ketuhanan yang menghormati satu sama lain.

Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socio-nationalisme, socio-demokratie, dan ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik TIGA, ambillah yang TIGA ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada TRI SILA ini, dan minta satu, satu dasar saja ? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu ?

Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua ! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Niti semito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua ! Jikalau saya peras yang LIMA menjadi TIGA, dan yang TIGA menjadi SATU, maka dapatlah saya satukan perkataan Indonesia yang TULEN, yaitu perkataan "GOTONG-ROYONG". Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara GOTONG-ROYONG ! Alangkah hebatnya ! Negara GOTONG-ROYONG ! (Tepuk tangan riuh-rendah).

"GOTONG-ROYONG" adalah faham yang DINAMIS, lebih dinamis dari "KEKELUARGAAN", Saudara-saudara ! Kekeluargaan adalah satu faham yang STATIS, tetapi GOTONG-ROYONG menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karya, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karya, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama ! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong ! (Tepuk tangan riuh-rendah).

Prinsip Gotong Royong diantara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, Saudara-saudara, yang saya usulkan kepada Saudara-saudara.

PANCA SILA menjadi TRI SILA. TRI SILA menjadi EKA SILA. Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih TRI SILA, EKA SILA ataukah PANCA SILA ? Isinya telah saya katakan kepada Saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada Saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu. Tetapi jangan lupa, kita hidup di dalam masa peperangan, Saudara-saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia, di dalam gunturnya peperangan !.

Selama ordebaru tulisan PANCA SILA diubah menjadi PANCASILA yang kata itu menjadi tidak bermakna sebagaimana yang dipidatokan Bung Karno, Ordebaru menafsirkan PANCA SILA secara sepihak memaknai jauh berbeda dari kelahirannya, ordebaru telah menyelewengkan PANCA SILA dengan tafsirnya sendiri yang dikenal dengan EKA PRASETYA PANCA KARSA dengan politik mono LOYALITAS pada Golkar dan pembangunan ekonomi dengan menggunakan istilah trilogi pembangunan mengadopsi teori trickle Down effect yang diajarkan lewat penataran dan pendidikan P4 pada semua jenjang pendidikan, Produk Pendidikan hasil penafsiran ordebaru adalah manusia-manusia Indonesia sekarang ini yang tercerabut dari akar budayanya, Agamis Arabis dan sangat INDIVIDUALITIS.

PANCA SILA digali oleh Bung Karno bersumber dari bumi pertiwi dan dijadikan sebagai dasar negara Indonesia YANG DIPERUNTUKAN BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA .. FOKUSNYA UNTUK RAKYAT BUKAN UNTUK KEKUASAAN DAN BUKAN UNTUK AGAMA .... .. Dalam perjalanan sejarah PANCA SILA dibajak dan dibelokkan oleh Soeharto dan Ordebaru dengan mengubah mulai dari tulisannya menjadi PANCASILA .... FOKUSNYA UNTUK KEKUASAAN SOEHARTO DAN ORDEBARUNYA DENGAN MENGHARUSKAN SELURUH RAKYAT BERAGAMA SALAH SATU DARI 5 AGAMA IMPORT DAN SECARA KHUSUSNYA AGAMA MAYORITAS ... "AGAMA ARAB"... ...

Sadarlah warga Nusantara, ada penjajah baru yg mendompleng nama Pancasila riptaan ordebaru Soeharto) untuk memecah belah bangsa dan mendirikan negara agama. Kepercayaan Nusantara dan khususnya Jawa sendiri diberangus dan ditinggalkan oleh Soeharto dengan memaksakan seluruh rakyat Indonesia ber KTP yang harus diisi salah satu dari 5 agama resmi. Soeharto juga mendirikan Himpunan Penghayat Kepercayaan yang bermisi mengembalikan ke agamanya masing masing.

Didalam Panca Sila Soekarno: Hendaknya setiap orang Indonesia bebas menyembah Tuhannya masing - masing ... ..

Setelah Soeharto lengser sampai saat ini PANCASILA dibelokkan dan dibajak oleh kaum agamawan khususnya yang merasa agama MAYORITAS (AGAMA ARAB) DENGAN MEMBATASI DAN MEMAKSAKAN KEHENDAK AGAMA MAYORITAS PADA AGAMA LAIN DAN WARGA MASYARAKAT YANG BERKEPERCAYAAN LOKAL, TUJUAN AKHIRNYA MENJADIKAN NKRI MENJADI NEGARA SYARIAH ... ... DAN PANCA SILA Bung Karno sudah lama dimatikan sejak Soeharto sampai sekarang atau bahkan sejak maklumat X 01 Nopember 1945 ...... Sampai MPR dibawah si Tauke alias Taufik Kiemas membuat 4pilar yang menjadikan Pancasila sebagai pilar ... Bukan dasar negara ... Masih mending MK 04 April 2014 membatalkan frasa 4 pilar dan mengharamkan ... Sungguh sangat Ironis Panca Sila 01 Juni justru dianggap tidak pernah ada .. buktinya sekolah sekolah tak mengajarkannya ..... ... merebaknya Intoleransi, koalisi koalisi partai partai dalam mengusung Capres dan demokrasi yang dipertontonkan dan di aplikasikan untuk diikuti seluruh Rakyat Indonesia saat ini apakah merupakah demokrasi Panca Sila ? .... Memang sungguh memprihatinkan ...

HAYO KEMBALIKAN PANCA SILA sesuai dengan Pidato Bung Karno 01 Juni 1945. Ucapkan, Tuliskan dan lakukan dengan benar PANCA SILA sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bung Karno itu.
Diubah oleh agninistan
0
21-12-2013 06:40
ikut nyimak gan....mantab trit agan ini..
0
18-12-2013 19:19
izin copy ya

Quote:Original Posted By xenocross
Saudara-saudara pasti tahu tentang sila pertama Pancasila,
KETUHANAN YANG MAHA ESA

Selama ini, kata "Esa" diartikan sebagai "Satu", sehingga penafsiran Sila Pertama menjadi "Ketuhanan yang SATU".
Kemudian ditafisirkan lagi menjadi "Menyembah Tuhan yang satu"

Makanya kemudian ada orang yg bisa-bisanya bilang:


TAPI TERNYATA ARTI KATA ESA BUKAN SATU

Kata satu dalam bahasa sansekerta adalah EKA , bukan ESA. Lihat saja di semboyan Bhinneka Tunggal IKA. Bukan Bhinneka Tunggal ESA

Esa itu tidak sama dengan Eka.
Esa itu adalah kata ambilan dari bahasa Sanskrit yang bentuk kata bendanya adalah Etad artinya Suchness, as this, as it is.

Kalau negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa itu artinya adalah mengakui bahwa negara mengakui bahwa segala macam yang terhadirkan apa adanya itu adalah manifestasi dari sifat Ke Maha-an Tuhan.
Artinya, bahwa semua ajaran yang ada di bumi pertiwi Nusantara ini juga adalah hadir mendunia karena kuasa Tuhan dalam manifestasi keberagamannya.

Dan Ketuhanan Yang Maha Esa artinya adalah Tuhan as it is. Tuhan dalam diriNya sendiri. Bukan "Tuhan" sebagai obyek akal kita. Tentu berbeda antara menyikapi Tuhan-as-it-is dengan Tuhan-as-obyek-akal. Kesemena-menaan dan kekerasan itu timbul karena SI OKNUM menganggap pengertian-akal-anda-tentang-Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, sehingga mengabsolutkan pemahaman sekte SI OKNUM.

Jadi bisa kita simpulkan disini bahwa pihak yang menolak KeMaha-Esaan Tuhan adalah pihak yang semena-mena memaksakan pengertian Tuhan menurut kelompoknya sendiri, mengingkari keberagaman apa yang hadir mendunia as it is.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu jangan diartikan secara sempit dengan agama. Seseorang boleh dengan keyakinannya sendiri terhadap Tuhannya masing-masing. Begitulah rumusan Ir.Soekarno dalam pidato hari lahirnya Pancasila.



Pemelintiran arti ESA menjadi SATU ini dilakukan sejak zaman orde baru. Jadi kalau liat di KBBI ,


Padahal kok bisa ESA menjadi EKA penjelasan etimologisnya darimana?


Sekarang lebih jelas bukan siapa pihak yang mengingkari Ke Maha-Esaan Tuhan. Apalagi sampai mengusir-usir dengan kepongahannya sendiri sebagai seorang manusia yang merasa lebih tahu tentang Ketuhanan daripada Tuhan itu sendiri.

Mulai sekarang, bookmark page ini. Begitu ada orang mulai ngomong agama K gak sesuai pancasila karena Tuhannya ada 3, agama H gak sesuai pancasila karena Tuhannya ada banyak, silahkan dikirim ke page ini.

SUMBER:
CATATAN FACEBOOK TEMAN
http://id.wikisource.org/wiki/Lahirn...Prinsip_kelima
http://spokensanskrit.de/index.php?s...e&direction=AU
http://spokensanskrit.de/index.php?s...e&direction=AU

izin moderator:




0
16-12-2013 04:31
Quote:Original Posted By xenocross
Saudara-saudara pasti tahu tentang sila pertama Pancasila,
KETUHANAN YANG MAHA ESA

Selama ini, kata "Esa" diartikan sebagai "Satu", sehingga penafsiran Sila Pertama menjadi "Ketuhanan yang SATU".
Kemudian ditafisirkan lagi menjadi "Menyembah Tuhan yang satu"

Makanya kemudian ada orang yg bisa-bisanya bilang:


TAPI TERNYATA ARTI KATA ESA BUKAN SATU

Kata satu dalam bahasa sansekerta adalah EKA , bukan ESA. Lihat saja di semboyan Bhinneka Tunggal IKA. Bukan Bhinneka Tunggal ESA

Esa itu tidak sama dengan Eka.
Esa itu adalah kata ambilan dari bahasa Sanskrit yang bentuk kata bendanya adalah Etad artinya Suchness, as this, as it is.

Kalau negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa itu artinya adalah mengakui bahwa negara mengakui bahwa segala macam yang terhadirkan apa adanya itu adalah manifestasi dari sifat Ke Maha-an Tuhan.
Artinya, bahwa semua ajaran yang ada di bumi pertiwi Nusantara ini juga adalah hadir mendunia karena kuasa Tuhan dalam manifestasi keberagamannya.

Dan Ketuhanan Yang Maha Esa artinya adalah Tuhan as it is. Tuhan dalam diriNya sendiri. Bukan "Tuhan" sebagai obyek akal kita. Tentu berbeda antara menyikapi Tuhan-as-it-is dengan Tuhan-as-obyek-akal. Kesemena-menaan dan kekerasan itu timbul karena SI OKNUM menganggap pengertian-akal-anda-tentang-Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, sehingga mengabsolutkan pemahaman sekte SI OKNUM.

Jadi bisa kita simpulkan disini bahwa pihak yang menolak KeMaha-Esaan Tuhan adalah pihak yang semena-mena memaksakan pengertian Tuhan menurut kelompoknya sendiri, mengingkari keberagaman apa yang hadir mendunia as it is.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu jangan diartikan secara sempit dengan agama. Seseorang boleh dengan keyakinannya sendiri terhadap Tuhannya masing-masing. Begitulah rumusan Ir.Soekarno dalam pidato hari lahirnya Pancasila.



Pemelintiran arti ESA menjadi SATU ini dilakukan sejak zaman orde baru. Jadi kalau liat di KBBI ,


Padahal kok bisa ESA menjadi EKA penjelasan etimologisnya darimana?


Sekarang lebih jelas bukan siapa pihak yang mengingkari Ke Maha-Esaan Tuhan. Apalagi sampai mengusir-usir dengan kepongahannya sendiri sebagai seorang manusia yang merasa lebih tahu tentang Ketuhanan daripada Tuhan itu sendiri.

Mulai sekarang, bookmark page ini. Begitu ada orang mulai ngomong agama K gak sesuai pancasila karena Tuhannya ada 3, agama H gak sesuai pancasila karena Tuhannya ada banyak, silahkan dikirim ke page ini.

SUMBER:
CATATAN FACEBOOK TEMAN
http://id.wikisource.org/wiki/Lahirn...Prinsip_kelima
http://spokensanskrit.de/index.php?s...e&direction=AU
http://spokensanskrit.de/index.php?s...e&direction=AU

izin moderator:




ok klo boleh ane simpulkan maksud dari
Ketuhanan yang maha esa adalah

Tuhan as it is
Tuhan Sebagaimana AdaNya Tuhan
Tuhan Yang Maha..
Tuhan yang sifatnya2 sebagaimana kita2 kenal


filosofis ini. plus universal jg


Sebagaimana adanya Tuhan, tergantung dari sudut pandang yang kamu percaya

yg muslim percaya dengan Allah
yg Hindu dgn Brahman,
yg kristiani dengan Trinitasnya
yg budhism dengan ketiadaan Tuhan/ Tuhan yg tidak bisa dijelaskan
Judaisme dengan YHWH
etc..etc..

toh simplenya ane sih gini. Anggur bisa disebut Anggur, tp g salah jg klo disebut Grape
toh Tuhan juga ga kurang ke MAHA an NYA mau disebut apa.
Apakah Tuhan anda berkurang ke MAHA an NYA saat ada orang yg tidak mengakui KeMAHA an NYA?

Tuhan sebagai mana adanya Tuhan
i like it
0
16-12-2013 01:10
Ada aja yg dibahas, mbok ya mbahas yg ga bikin debat kusir, saya optimis mbahas hal ginian ga da abisnya....
0
15-12-2013 06:51
trit pindahan dari spiritual kenapa ya ?
0
14-12-2013 23:18
Quote:Original Posted By Gulley
NUNGGU WAKTU GEMBOK.

stop jualan KECAP buat semua orang disini


benar gan. trit bagus sayang banget
0
14-12-2013 23:04
Trit yang bagus, gan emoticon-thumbsup
Ngasih pencerahan dan ilmu baru.
0
22-06-2013 15:27
NUNGGU WAKTU GEMBOK.

stop jualan KECAP buat semua orang disini
0
21-06-2013 02:52
Quote:Original Posted By thescout
TS bingung ato frustasi sama Tuhannya?

emoticon-Ngakak

Makanya harusnya diganti, bukan;
KETUHANAN YANG MAHA ESA

tapi
TIADA TUHAN SELAIN ALLAH

itu yang haq


Ane ikut
emoticon-2 Jempol
0
21-06-2013 02:32
Quote:Original Posted By coffin


sayang udah dibanned yah, tapi saya punya sudut pandang lain soal ini
kalau orang nganggap 1+1+1=1 itu tidak logis, kalau menurut pendapat saya logikanya malah mudah

anda tahu cahaya?tau pelangi?
kalau sebuah cahaya memasuki prisma, akan terpendar menjadi 7 buah warna berbeda, warna pelangi mejikuhibiniu

yang tujuh ini apakah sama dengan yang satu?
yang satu ini apakah sama dengan yang tujuh?

jika anda memahami konsep prisma, jangankan 1+1+1=1, 1+1+1+1+1+1+1=1 pun sangat logis


heheheh betul gan.. tapi diliat dengan konsep prisma yang benar gan..
ini contohnya... jika cahaya memasuki prima maka akan menjadi 7 warna yang berbeda...
nah ini artinya 1 cahaya denga = 7 warna yg berbeda.. bukan denga 7 cahaya yang berbeda... bahkan dalam 1 cahaya ini bukan hanya 7 warna.. tapi akan sangat banyak warna.. yang perlu diingat adalah ini 1 cahaya.. bukan banyak cahaya..
jika di ambil permisalannya adalah
jika agan coffin adalah personal yang tunggal..tapi agan punya banyak sifat. atau ada beberapa nama.. dan agan ini hanya 1 personal bukan banyak personal.. nah silakan diambil permisalan dengan konsep ketuhanan
jika tuhan itu banyak,,, maka berapa banyak lagi sifatnya...? emoticon-Bingung (S)
jika tuhan itu 1 maka akan masuk akal jika sifat2nya adalah banyak.. DIA yang Maha Pengasih.. karena sifatnya mengasihi / memberi.. DIA yang Maha Penyayang karena sifatnya yang menyayangi.. tapi tepat saja DIA itu 1 bukan menjadi banyak karena sifatnya.. dan bukan juga menjadi banyak karena tugasnya dan juga bukan menjadi banyak karena fungsinya...
nah silakan dipakai nalar untuk memilah dan memilih.. dan pakailah hati untuk meyakini, menyayangi, dan tdk merasa benar sendiri.. kerena merasa benar dengan kebenara adalah 2 hal yang sangat berbeda
heheheh maap ya ane so tau.. hehehe jangan di anggap serius jika tdk setuju emoticon-I Love Indonesia (S)
0
20-06-2013 21:51
Quote:Original Posted By justdidik
TS ceritanya lagi bingung "Tuhan Sebenarnya Ada Berapa'.
Barang kali masih tergoncang denga 1+1+1=1 emoticon-Ngakak

Mikir aja gan kalau Tuhan ada 3, 1 Supir 1 Kenek 1 Kondiktur? Emang Lu pikir Mayasari Bhakti emoticon-Ngakak


sayang udah dibanned yah, tapi saya punya sudut pandang lain soal ini
kalau orang nganggap 1+1+1=1 itu tidak logis, kalau menurut pendapat saya logikanya malah mudah

anda tahu cahaya?tau pelangi?
kalau sebuah cahaya memasuki prisma, akan terpendar menjadi 7 buah warna berbeda, warna pelangi mejikuhibiniu

yang tujuh ini apakah sama dengan yang satu?
yang satu ini apakah sama dengan yang tujuh?

jika anda memahami konsep prisma, jangankan 1+1+1=1, 1+1+1+1+1+1+1=1 pun sangat logis
0
06-06-2013 18:18
Quote:Original Posted By kk.uwan

emoticon-Bingung (S)emoticon-Bingung (S)emoticon-Bingung (S)emoticon-Bingung (S)
waduh.. ane tdk tau gan.. yang pasti bukan ane..? coba agan bantu saya untuk jawab pertanyaan agan.. emoticon-Malu (S)emoticon-Malu (S)emoticon-Malu (S)


Kalo dikoperasi yg berkuasa itu anggota. Ya kenek, ya sopir, ya kondektur ya gitu lha..
Tuhan itu esa, ahad, tunggal seperti uraian TS. Agan blm baca ya? Atau dah baca tapi lupa? Kalo belum baca, coba baca dr depan. Jawaban pertanyaan agan ada tuh di atas.
0
06-06-2013 18:14
Quote:Original Posted By sariputra


Pt kopaja itu koperasi gan. Pasti agan tau yg berkuasa dalam koperasi itu siapa?


emoticon-Bingung (S)emoticon-Bingung (S)emoticon-Bingung (S)emoticon-Bingung (S)
waduh.. ane tdk tau gan.. yang pasti bukan ane..? coba agan bantu saya untuk jawab pertanyaan agan.. emoticon-Malu (S)emoticon-Malu (S)emoticon-Malu (S)
0
06-06-2013 17:58
Quote:Original Posted By kk.uwan


ooohhh jadi supir, kondektur dan kenek itu 3 orang berbeda, lalu yang satu itu PT KOPAJA nya.. jika itu di analogikan sebagai tuhan,, berarti tuhan itu bukan tiga bisa jadi 1000 atau 2000 atau lebih.. tergantung karyawannya ada berapa banyak,, bahkan office boy pun itu bisa jadi tuhan, lalu yang berkusa atas mereka semua itu siapa..?



Pt kopaja itu koperasi gan. Pasti agan tau yg berkuasa dalam koperasi itu siapa?

0
Halaman 1 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.