Act 1.12 Can we call it love?
Dia menangis. Kenapa selalu berakhir seperti ini?
Kenapa cinta begitu berat bagi kami berdua? Aku dapat memeluknya dengan tanganku ini. Memeluknya dengan erat, melegakan kegundahan hatinya. Tapi kenapa aku tidak bisa meraihnya? Kenapa tanganku dingin membeku untuk bergerak?
“Bawa aku… Bawa aku ke tempat yang jauh, Kiev.”
Ucapan itu menusuk hatiku. Aku telah mencoba, memberikan warna pada hidupnya. Tapi aku gagal. Aku mencoba menciptakan angan-angan indah masa depan untuknya. Tapi itu tidak ada gunanya. Aku menyakitinya. Aku hanya terus menyakitinya. Seperti apa yang terjadi sekarang.
Melupakan waktu yang berlalu. Menangis dalam perjalanan akan kenangan indah yang tetap tergenggam. Ini begitu sakit pula untukku. Aku ingin pergi dari realitas yang ada. Menangis dalam mimpi ketika aku mengerti apa yang membuatnya bahagia. Bukan aku.
“Kamu memiliki tunangan. Kau melupakan itu Lucretia?”
Dia melepaskan cengkramannya pada kerah bajuku. Lucretia terkejut dengan apa yang kuucapkan. Wajahnya terlihat heran seperti mengatakan kenapa aku bisa mengetahuinya?
Aku melihat kedua matanya yang basah. Kuseka air mata suci itu dengan punggung jariku. Aku tersenyum ketika perlahan-lahan hatiku hancur bagaikan pecahan kaca yang tercerai berai.
“Pergilah dariku dan lupakan aku. Tidak ada yang harus tersakiti lagi.” Ucapku pelan.
“Apa yang kamu katakan..?”
“Jangan mengkhianatinya. Karena aku tidak akan bisa melakukan ini.”
“Aku tidak menger-!“
Aku memegang wajah Lucretia dengan lembut. Aku telah kehabisan rangkaian kata-kata untuk bicara. Tidak, mungkin lebih tepatnya aku tidak memiliki kata-kata lagi yang bisa kuucapkan.
Kukecup keningnya dengan lembut. Tak terasa air mataku jatuh begitu saja.
“Kiev…”
Aku tidak bisa menahannya lagi. Kulepaskan kecupan manisku lalu pergi begitu saja meninggalkannya dengan banyak kebingungan. Lucretia memanggil-manggil namaku tapi aku tidak menggubrisnya. Aku tidak ingin Lucretia melihatku seperti ini.
“Kamu menyerah? Hanya karena kamu tahu aku bertunangan, kamu pergi begitu saja?”
Langkahku tertahan mendengar ucapan itu. Aku tidak bisa mengontrol diriku. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali rasa perih. Aku merindukanmu. Tapi aku tidak bisa memilikimu.
“Kenapa kamu tidak percaya dengan hatiku, Kiev? Aku percaya padamu dan menunggumu selama tiga tahun ini. Kenapa kau lakukan semua ini padaku?”
Haruskah aku berbalik dan berlari kencang lalu memeluknya? Mengorbankan segala hal demi cinta yang kami yakini berdua. Bahagia hanya untuk kami berdua dan menyakiti banyak orang karenanya. Haruskah kulakukan hal itu?
Apa arti dari cinta ketika yang diberikan hanya rasa sakit. Ketika yang diberikan bukanlah kenyamanan tapi kesedihan bagi banyak pihak. Apa arti cinta ketika yang ada hanyalah rasa egois. Bukankah itu akan berubah menjadi hanya suatu obsesi?
“Baik pergilah. Jangan melihat lagi ke belakang.” Lirihnya menyiksaku. “Pergi jika itu maumu… Pergi!! Jangan kembali!!” Lucretia berteriak meluapkan amarah dan sakit hatinya. Dia membenciku dan aku layak mendapatkan hal itu. Aku tidak menjelaskan alasanku. Aku tidak menjelaskan mengapa sikapku seperti ini. Tapi semua ini kulakukan untuknya. Untuk melindunginya.
Aku memilih melangkah kembali, meninggalkannya yang terisak pilu sendirian. Aku tahu suatu saat aku akan menyesal melakukan tindakan ini. Sebab aku telah menutup semua lorong yang menghubungkanku dengannya. Aku menutup semua jalan untuk kembali padanya. Aku menutup untaian tangan kebahagiaan yang begitu kuharapkan.
Suatu saat kamu akan mengerti. Maafkan aku Lucretia. Maafkan aku…
***
Malam yang panjang kualami. Kata-kata bodoh, rasa sesal yang mendalam, dan juga kebencian pada diriku sendiri meliputi pikiranku membuatku tidak bisa tidur semalaman. Aku berjalan-jalan di waktu dini hari. Memandangi Kota Aldebaran ketika keramaian itu sedang terlelap dalam lelah.
Ketika aku berjalan menuju ke tengah menara jam, ingatan masa lalu menghampiriku. Slide film yang menggambarkan apa yang terjadi dahulu di tempat ini kembali terangkat ke permukaan pikiranku. Aku tidak pernah tahu bahwa semuanya akan seperti ini. Aku tidak tahu kebahagiaanku bersamanya akan berakhir seperti ini.
Tawa itu lenyap secara perlahan. Apakah cinta memang datang dan pergi menjadi kenangan? Memberikan kita suatu memori tak terlupakan tapi memberikan kita jalan lain untuk melanjutkan hidup.
Aku jatuh dalam lautan kesunyian. Aku merasakan seperti kehilangan sesuatu hal. Semuanya dapat tergambarkan dari apa yang kulakukan sekarang ini. Melamun di dalam kereta peco-peco memandangi langit daerah Pegunungan Mjolnir dari jendela di sampingku.
“Sesuatu terjadi padamu malam itu?” Tanya senator yang duduk di depanku yang sepertinya terlihat penasaran dengan gelagatku.
“Tidak ada yang terjadi. Hanya percakapan biasa tidak lebih.”
“Begitu? Tapi terlihat sepertinya kamu sedang menahan beban yang besar, Kiev.”
“Aku baik-baik saja senator.”
Aku rasa ucapanku terlalu kasar. Kulihat senator tidak berbincang lagi dan membiarkanku diam sendiri. Aku hanya sedang tidak bisa mengontrol emosiku dan lagi tidak menyangka akan bertemu dengan Lucretia secepat ini. Di sisi lain aku bahagia, di sisi lain aku kecewa.
“Kiev, apakah kamu telah memikirkan perkataanku ketika di dalam kereta sebelumnya?” Senator kembali membuka pembicaraan dan membuyarkan lagi lamunanku.
“Mengkhianati Republik. Itu yang anda ingin aku lakukan.”
“Bisakah kamu melakukan hal itu?”
Aku terdiam memikirkan perkataan itu. Kepalaku saat ini sedang dalam pikiran yang rumit akibat Lucretia. Sekarang aku harus memikirkan hal lain yang lebih penting yaitu negaraku.
“Aku ingin agar kamu menjadi abdi setia pangeran yang menjadi raja baru Kerajaan Rune Midgard. Tumbuhkan kepercayaan pada dirinya dan cegah pemikiran yang dikemudian hari akan membuat hubungan antar negara semakin memanas. Aku ingin kamu mengkhianati republik untuk menyelamatkan republik.”
“Jika aku melakukannya dan aku tidak bisa mencegah bencana terburuk yang mungkin akan menimbulkan perang kembali?”
“Bunuh sang raja dengan tanganmu untuk mencegah bencana bila diperlukan.”
Aku membuang nafas panjang berpikir cukup keras mengenai pembicaraan yang sedang terjadi sekarang. Aku mulai mengerti kenapa aku yang diminta secara langsung kepada Master Miller untuk menjadi bodyguard perjalanan ini. Jadi ini adalah alasannya.
“Aku mempercayaimu Kiev. Itu kenapa aku memintamu untuk melakukan tugas mata-mata seperti ini. Aku telah menilaimu sejak perang Juno itu berakhir. Aku tahu kamu adalah warga negara yang benar-benar mencintai republik. Aku menyadari bahwa ini sangat berat. Tapi bisakah aku memintamu untuk mengorbankan dirimu untuk negaramu. Mengorbankan dirimu untuk para penduduk yang saat ini masih menderita akibat perang yang lalu?”
“Aku rasa aku tidak bisa menjawabnya sekarang.”
“Aku percaya padamu Kiev. Aku percaya kamu akan melakukan yang terbaik untuk republik ketika waktunya tiba.”
Waktunya tiba? Apakah memang akan terjadi sesuatu? Aku merasakan ada hal yang sedikit ganjil dari Senator Scmidt. Aku tidak ingin memikirkan benar-benar ada konspirasi yang sedang terjadi saat ini ketika rencana pengangkatan raja yang baru akan dilaksanakan.
Tiba-tiba kereta peco-peco yang kami tumpangi berhenti bergerak. Sesuatu yang tidak beres terjadi di luar sana. Aku membuka pintu kereta menanyakan apa yang terjadi di luar sana pada Colt yang duduk bersama Winchester di kursi kusir. Dia mengatakan ada sesuatu terjadi di depan sana dan para kavaleri crusader juga knight sedang memeriksanya.
“Jaga senator di dalam kereta, Colt. Kau mengerti? Dan Winchester kamu bersiagalah bila muncul musuh yang mencoba mendekati kereta ini.”
Winchester mengangguk mengerti ucapanku. Sedangkan Colt terlihat masih bingung dan was-was dengan apa yang sedang terjadi. “Apa yang akan kau lakukan mentor?” tanyanya ketika aku sedang tergesa-gesa keluar berusaha menjauh dari kereta untuk memeriksa.
“Aku akan membantu para knight itu. Jika hal buruk benar-benar tidak bisa diatasi, aku ingin kamu melindungi kusir dan membawa senator ke Kota Prontera dengan selamat.”
“Tapi?!”
“Lakukan apa yang kukatakan!” Aku berlari dengan kencang menuruni bukit menuju ke arah para kavaleri yang sedang mengerubungi sesuatu. Ke lima ksatria itu terlihat sedang bertempur melawan sesuatu. Aku menebak ini sesuatu hal yang besar hingga seluruh ksatria pendamping kami harus turun seluruhnya seperti ini.
*************