Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
546
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000007523240/berbagi-ilmu-tentang-teknologi-nuklir
Setelah gempa dan Tsunami yang melanda Jepang, Tema tentang "Nuklir" menjadi sangat hangat dibicarakan. Mulai oleh para ahlinya sampai para awam yang tidak tau apa-apa tentang Nuklir. dari berbagai forum dan media yang saya ikuti, ternyata masih sangat banyak warga negara Indonesia yang sama sekali tidak tau tentang apa itu Nuklir? bagaimana bentuknya? apa manfaatnya? bagaimana bisa menj
Lapor Hansip
19-03-2011 03:55

Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir

Setelah gempa dan Tsunami yang melanda Jepang, Tema tentang "Nuklir" menjadi sangat hangat dibicarakan. Mulai oleh para ahlinya sampai para awam yang tidak tau apa-apa tentang Nuklir. dari berbagai forum dan media yang saya ikuti, ternyata masih sangat banyak warga negara Indonesia yang sama sekali tidak tau tentang apa itu Nuklir? bagaimana bentuknya? apa manfaatnya? bagaimana bisa menjadi pembangkit energi? dls. untuk itu silahkan simak thread perdana ane :

Apa itu nuklir?


Sebentar, Uranium itu bentuknya apa?gas?cair?atau padat?


Apakah Indonesia punya tambang Uranium?


Kok bisa bisa jadi listrik?


Apa kelebihan nuklir?


Bagaimana desain PLTN?


Bagaimana sistem pengamanan Reaktor Nuklir agar tidak bocor?


Di dunia ini sudah ada berapa banyak PLTN?


Dari PLTN sebanyak itu, sudah terjadi kecelakaan berapa kali?


Meski pengamanannya tinggi, tetap saja berbahaya kan?


maaf, emang bahaya terkena paparan radiasi itu apa?


(wah, gak cukup ni gan, lanjut bawah ya! Ada daftar isinya di bawah emoticon-Smilie)emoticon-I Love Indonesia (S)
Diubah oleh janarko
0
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 29 dari 42
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
07-07-2011 22:51
thread yg bagus gan, nyubi mau nanya
belakangan kan ada berita geger tentang ditemukannya uranium di pasir cilacap,
lalu setelah diteliti oleh batan kata mereka aman karena kadar uraniumnya 0,01-0,02ppm. nah, apakah uranium sebenernya ada dimana saja, dan tidak berbahaya?
saya memang tidak berdomisili di cilacap, namun setiap saya melihat bus antar kota yg bertuliskan tasik/cilacap saya jadi takut, siapa tau ada partikel uranium yg terbawa.
saya mohon pencerahan sama agan-agan, ane termasuk warga yg sedikit khawatir dan paranoid emoticon-Cape d... (S)
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
08-07-2011 11:25
Quote:Original Posted By aksanyp
Izin nyimak dulu yah gan, kebetulan isinya cukup informatif dan menarik. Gini gan misalkan di Indonesia nanti benar2 akan dibangun satu PLT Nuklir kira2 mau teknologinya akan berkiblat kepada siapa gan? Amerika, Rusia, Jepang, atau Jerman/Perancis?

Tergantung vendor mana yang bisa memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Bapeten untuk situs tertentu, karena persyaratan untuk membangun PLTN sangat site-specific. Misalnya untuk dibangun di daerah A, perlu desain yang tahan gempa 9,9 SR dan tsunami 50 meter.. Mungkin hanya desain Jepang yang bisa memenuhi syarat. Tapi kalau desainnya berubah misal tahan 9,5 SR dan tsunami 20 meter, mungkin desain dari Amerika dan PErancis bisa masuk juga.

Quote:
Karena seperti kita ketahui pembangunan instalasi nuklir tidak mungkin hanya melibatkan Indonesia semata karena sampai sekarang ane belum pernah tahu ada engineering company Indonesia yang sudah berpengalaman dalam mendesain dan membangun instalasi nuklir.


Betul sekali. Oleh karena itu PLTN yang pertama dan kedua dijadikan batu loncatan untuk belajar alih teknologi membuat PLTN sendiri. PLTN ketiga dan keempat, komponen lokal semakin besar. Demikian seterusnya hingga Indonesia bisa membangun sendiri. Teknologi tidak hanya dipelajari saja, tetapi juga harus dikembangkan sendiri oleh Indonesia. Learn science, develop technology. Makanya saya melihat penting sekali adanya dukungan dan visi yang kuat dari pemerintah. Dulu kita pernah menguasai teknologi pesawat terbang, bisa buat CN-235 yang patungan dengan Spanyol dan kemudian N-250, namun sayang semuanya kandas karena visi pemerintah yang tidak jelas. Pengembangan teknologi nuklir di Jepang, Korea dan Cina dulu juga diawali dengan membeli PLTN, namun mereka kembangkan sendiri teknologinya. Sekarang mereka sudah bisa desain, buat dan jual ke negara lain. Lihat saja bagaimana dampaknya terhadap perekonomian mereka. Ndak usah membandingkan dengan negara maju, coba lihat India. Mereka beli PLTN dari Kanada di tahun 70-an (satu masa dengan Indonesia punya niat awal mau bangun PLTN). Sekarang mereka sudah bikin desain reaktor sendiri dan mau bangun sendiri.



Quote:
Selama ini BATAN dan Bapeten khan mewakili lembaga peneliti nuklir namun kalau sudah maju ke tahapan FEED maka kira-kira Indonesia lebih cocok pakai teknologi negara mana gan?


Bapeten bukan lembaga peneliti tetapi lembaga pengawas yang mengawasi, mengkontrol dan memberikan izin penggunaan teknologi nuklir (termasuk mengawasi BATAN).


Quote:

Lalu untuk bahan baku uranium selama ini Indonesia juga diduga menyimpan kandungan uranium namun untuk mengubah menjadi bahan baku nuklir dari uranium mentah ane dengar mesti diolah dulu ke negara lain yaitu Canada karena disana adalah negara satu2nya yang punya instalasi pengolahan bahan mentah menjadi bahan baku pembangkit tenaga nuklir.


Kanada bukan satu-satunya negara yang mengolah bahan mentah ke bahan baku PLTN. Kanada punya fasilitas nuklir untuk mengolah bahan tambang uranium menjadi gas uranium hexaflorida, tetapi tidak punya fasilitas untuk melakukan pengkayaan uranium. Perancis, Jepang, Belanda, Inggris, Amerika, Iran merupakan contoh negara yang bisa mengolah bahan mentah jadi bahan baku.

Quote:
Misalkan nih Aussie yang punya cadangan uranium terbesar di dunia tetapi tidak memiliki PLTN menjual uranium mentahnya kepada negara2 yang membutuhkan uranium lalu uraniumnya dikirim dulu ke Canada untuk diolah setelah itu dikirim kepada negara yang akan menggunakan bahan bakar tersebut. Apakah prosesnya seperti itu gan?


Pihak utilitas (pemilik PLTN) beli bahan bakar yang sudah siap untuk dipasang di reaktor dari pabrik pengolah bahan bakar. Pabrik pengolah bahan bakar yang menentukan dari mana dia akan beli bahan mentah uranium dan di mana akan dilakukan proses pengkayaan uranium.

Quote:
Atau nanti Indonesia sendiri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan bakarnya langsung?


Jika Indonesia mau menggunakan teknologi PLTN heavy water (air berat, D2O) mungkin bisa kita olah sendiri bahan mentah hingga fabrikasi bahan bakar, namun masih perlu membuat fasilitas pengkayaan air berat dari air laut (yang investasinya juga tidak murah).

Jika Indonesia menggunakan teknologi PLTN light water (air biasa, H2O) atau PLTN jenis lain berbahan bakar uranium diperkaya, maka menjadi tidak ekonomis jika Indonesia mengolah sendiri bahan mentah hingga jadi bahan bakar seandainya hanya ada beberapa butir PLTN saja.

Alternatif lain adalah menggunakan torium sebagai bahan bakar menggantikan uranium. Pengolahan dan fabrikasi bahan bakarnya lebih sederhana karena tidak melibatkan proses pengkayaan uranium, sehingga saya yakin Indonesia bisa mendevelop teknologinya sendiri (jika mau). PLTN berbahan bakar torium ini yang sedang dikembangkan sebagai reaktor generasi ke-empat dan juga yang akan dibangun oleh India. Di Indonesia bahan tambang torium cukup berlimpah dan setahu saya banyak terdapat di Bangka Belitung. Akan tetapi untuk PLTN-PLTN awal yang akan dibangun (seandainya jadi) tidak akan menggunakan bahan bakar torium, karena ada persyaratan yang diatur oleh bapeten (via Kepres atau Kep Ka bapeten?) bahwa teknologi PLTN yg akan dibangun harus proven (teruji). Artinya bahwa ada track-record yang baik dari sisi operasi, manajemen, keselamatan selama minimal 3 tahun (? harus lihat sk-nya dulu...). Implikasinya adalah PLTN-PLTN pertama tidak akan menggunakan reaktor generasi keempat, tetapi mentok di generasi 3+.


Quote:
Nubie ttg pernukliran mohon pencerahannya gan

Don't worry, we are all newbie afterall... to some extent..
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
08-07-2011 12:13
Quote:Original Posted By wankelman
thread yg bagus gan, nyubi mau nanya
belakangan kan ada berita geger tentang ditemukannya uranium di pasir cilacap,
lalu setelah diteliti oleh batan kata mereka aman karena kadar uraniumnya 0,01-0,02ppm. nah, apakah uranium sebenernya ada dimana saja, dan tidak berbahaya?
saya memang tidak berdomisili di cilacap, namun setiap saya melihat bus antar kota yg bertuliskan tasik/cilacap saya jadi takut, siapa tau ada partikel uranium yg terbawa.
saya mohon pencerahan sama agan-agan, ane termasuk warga yg sedikit khawatir dan paranoid emoticon-Cape d... (S)


Uranium ada di mana saja? Jawabannya: ada di mana-mana, di sungai, di batuan, di tanah, di lautan. Mengapa bisa demikian? Karena uranium merupakan material yang ada sejak terbentuknya bumi ini. Akan tetapi distribusinya di kerak bumi tidak merata. Ada yang konsentrasinya banyak sehingga potensial untuk ditambang seperti di Kalimantan, ada yang konsentrasinya sedikit, bahkan sangat-sangat-sangat sedikit. Apalagi kalau kadarnya 0,01 ppm, dari 100 juta pasir hanya ada 1 butir uranium.

Apa yang membuat agan takut? Karena uranium bisa meledak atau karena uranium memancarkan radiasi?

Kalau takut akan meledak, jangan kuatir gan, kita perlu 52 kg uranium-235 murni (100%) berbentuk bola agar bisa meledak. (Ingat pembahasan di awal trit ini, di alam ini ada 0,7% uranium-235 dan 99,3% uranium-238. Agar kandungan uranium-235 meningkat perlu dilakukan proses pengkayaan). Seandainya uranium-235 diperkaya menjadi 15%, perlu 600 kg bola uranium agar meledak. Kalau uranium-235 masih alami dan tersebar sebagai pasir di pantai? Tidak akan meledak....

Kalau takut radiasi, memang uranium memancarkan radiasi alfa. Karena itu potensi bahayanya bersifat internal yaitu apabila masuk ke tubuh. Di luar tubuh (eksternal), praktis uranium tidak berbahaya karena radiasinya tidak akan memancar jauh. (Perasaan pernah ada pembahasan tentang ini ya... mungkin mas Janarko bisa kasih link-nya?). Seandainya ada uranium yang terikut di pasir di dalam bus, saya tidak perlu kuatir akan hal itu. Toh konsentrasinya sangat sangat rendah. Di samping itu, tubuh kita sebenarnya sudah terbiasa dengan paparan radiasi tingkat rendah, baik itu dari radiasi kosmis dari angkasa maupun dari tanah. Tubuh kita punya sistem yang canggih untuk memperbaiki kerusakan sel akibat radiasi tingkat rendah.

Menurut saya, agan gak perlu kawatir apalagi paranoid. Nikmati saja hidup ini... kalau saya sih justru lebih kawatir terhadap asap rokok dari bapak2 yang duduk di dalam bus daripada mengkawatirkan uranium yang belum tentu ikut di bus, karena jelas asap rokok mengandung polonium-210 yang juga memancarkan alfa!!!!
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
08-07-2011 22:39
Quote:Original Posted By fluberman
Tergantung vendor mana yang bisa memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Bapeten untuk situs tertentu, karena persyaratan untuk membangun PLTN sangat site-specific. Misalnya untuk dibangun di daerah A, perlu desain yang tahan gempa 9,9 SR dan tsunami 50 meter.. Mungkin hanya desain Jepang yang bisa memenuhi syarat. Tapi kalau desainnya berubah misal tahan 9,5 SR dan tsunami 20 meter, mungkin desain dari Amerika dan PErancis bisa masuk juga.



Betul sekali. Oleh karena itu PLTN yang pertama dan kedua dijadikan batu loncatan untuk belajar alih teknologi membuat PLTN sendiri. PLTN ketiga dan keempat, komponen lokal semakin besar. Demikian seterusnya hingga Indonesia bisa membangun sendiri. Teknologi tidak hanya dipelajari saja, tetapi juga harus dikembangkan sendiri oleh Indonesia. Learn science, develop technology. Makanya saya melihat penting sekali adanya dukungan dan visi yang kuat dari pemerintah. Dulu kita pernah menguasai teknologi pesawat terbang, bisa buat CN-235 yang patungan dengan Spanyol dan kemudian N-250, namun sayang semuanya kandas karena visi pemerintah yang tidak jelas. Pengembangan teknologi nuklir di Jepang, Korea dan Cina dulu juga diawali dengan membeli PLTN, namun mereka kembangkan sendiri teknologinya. Sekarang mereka sudah bisa desain, buat dan jual ke negara lain. Lihat saja bagaimana dampaknya terhadap perekonomian mereka. Ndak usah membandingkan dengan negara maju, coba lihat India. Mereka beli PLTN dari Kanada di tahun 70-an (satu masa dengan Indonesia punya niat awal mau bangun PLTN). Sekarang mereka sudah bikin desain reaktor sendiri dan mau bangun sendiri.





Bapeten bukan lembaga peneliti tetapi lembaga pengawas yang mengawasi, mengkontrol dan memberikan izin penggunaan teknologi nuklir (termasuk mengawasi BATAN).




Kanada bukan satu-satunya negara yang mengolah bahan mentah ke bahan baku PLTN. Kanada punya fasilitas nuklir untuk mengolah bahan tambang uranium menjadi gas uranium hexaflorida, tetapi tidak punya fasilitas untuk melakukan pengkayaan uranium. Perancis, Jepang, Belanda, Inggris, Amerika, Iran merupakan contoh negara yang bisa mengolah bahan mentah jadi bahan baku.



Pihak utilitas (pemilik PLTN) beli bahan bakar yang sudah siap untuk dipasang di reaktor dari pabrik pengolah bahan bakar. Pabrik pengolah bahan bakar yang menentukan dari mana dia akan beli bahan mentah uranium dan di mana akan dilakukan proses pengkayaan uranium.



Jika Indonesia mau menggunakan teknologi PLTN heavy water (air berat, D2O) mungkin bisa kita olah sendiri bahan mentah hingga fabrikasi bahan bakar, namun masih perlu membuat fasilitas pengkayaan air berat dari air laut (yang investasinya juga tidak murah).

Jika Indonesia menggunakan teknologi PLTN light water (air biasa, H2O) atau PLTN jenis lain berbahan bakar uranium diperkaya, maka menjadi tidak ekonomis jika Indonesia mengolah sendiri bahan mentah hingga jadi bahan bakar seandainya hanya ada beberapa butir PLTN saja.

Alternatif lain adalah menggunakan torium sebagai bahan bakar menggantikan uranium. Pengolahan dan fabrikasi bahan bakarnya lebih sederhana karena tidak melibatkan proses pengkayaan uranium, sehingga saya yakin Indonesia bisa mendevelop teknologinya sendiri (jika mau). PLTN berbahan bakar torium ini yang sedang dikembangkan sebagai reaktor generasi ke-empat dan juga yang akan dibangun oleh India. Di Indonesia bahan tambang torium cukup berlimpah dan setahu saya banyak terdapat di Bangka Belitung. Akan tetapi untuk PLTN-PLTN awal yang akan dibangun (seandainya jadi) tidak akan menggunakan bahan bakar torium, karena ada persyaratan yang diatur oleh bapeten (via Kepres atau Kep Ka bapeten?) bahwa teknologi PLTN yg akan dibangun harus proven (teruji). Artinya bahwa ada track-record yang baik dari sisi operasi, manajemen, keselamatan selama minimal 3 tahun (? harus lihat sk-nya dulu...). Implikasinya adalah PLTN-PLTN pertama tidak akan menggunakan reaktor generasi keempat, tetapi mentok di generasi 3+.



Don't worry, we are all newbie afterall... to some extent..


Terima kasih atas jawabannya agan fluberman, jadi teknologi nuklir ini juga merupakan teknologi berkelanjutan (continuable technology) hanya saja kalau memang akan dibangun ane sebenarnya setuju kalau di daerah pantura pulau jawa tepatnya di gunung Muria seperti rencana awal pemerintah mengingat daerah tersebut minim gangguan gempa dan banjir. Kalaupun ada gempa seperti yang terjadi di Jogja tahun 2006 silam ane yakin efeknya juga tidak akan sebesar kejadian di Fukushima. Nah kalau ada pilihan untuk saat ini mengacu pada bauran energi pada tahun 2025 maka reaktor jenis apa yang paling cocok dibangun di Indonesia? Apakah jenis light water atau heavy water? Secara keekonomisan memang reaktor air berat lbh mahal seperti yang agan fluberman jelaskan namun jika melihat faktor ketersediaan bahan baku air ini yang paling cocok.
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
09-07-2011 06:15
Quote:Original Posted By fluberman
Kalau takut radiasi, memang uranium memancarkan radiasi alfa. Karena itu potensi bahayanya bersifat internal yaitu apabila masuk ke tubuh. Di luar tubuh (eksternal), praktis uranium tidak berbahaya karena radiasinya tidak akan memancar jauh. (Perasaan pernah ada pembahasan tentang ini ya... mungkin mas Janarko bisa kasih link-nya?). Seandainya ada uranium yang terikut di pasir di dalam bus, saya tidak perlu kuatir akan hal itu. Toh konsentrasinya sangat sangat rendah. Di samping itu, tubuh kita sebenarnya sudah terbiasa dengan paparan radiasi tingkat rendah, baik itu dari radiasi kosmis dari angkasa maupun dari tanah. Tubuh kita punya sistem yang canggih untuk memperbaiki kerusakan sel akibat radiasi tingkat rendah.


trima kasih pak fluberman udah reply emoticon-Blue Guy Smile (S), nah itu dia pak yang saya takutkan apabila debu uranium itu secara tak sadar kehirup masuk ke tubuh
berikut sayaquote beritanya dari:http://www.pikiran-rakyat.com/node/148904
Quote:...pihaknya telah melakukan penelitia bersama tiga tenaga ahli dari Batan Bandung serta tiga tenaga ahli Batan Jakarta pada Rabu hingga Jumat pekan lalu. Mereka mengambil sampel pasir besi dari 13 titik mulai dari Garut hingga Cikalong Kab. Tasikmalaya termasuk di lahan milik Perhutano dengan menggunakan dua alat. Hasilnya, kadar uranium maupun thorium mencapai 0,01-0,02.
"Kadar angka itu sesuai dengan ambang batas aman itu 0,01 ppm bagi masyarakat awam dan untuk tenaga lab 0,02 ppm. Kesimpulannya tingkat radiasinya bahkan lebih tinggi dengan apa yang kita pakai. Karena yang bahaya itu turunan uranium dan thorium yang sudah diolah bukan yang berada di alam," katanya...

menurut batan dinyatakan aman bagi masyarakat awam karena kadarnya 0,01-0,02ppm, lalu kalau partikel sebesar 0,01-0,02ppm itu kehirup oleh tubuh bagaimana gan? apakah masih aman juga karena terlalu kecil kadarnya?
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
09-07-2011 11:13
Batan punya sekolah kedinasan yaitu Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir , ada prodi teknokimia nuklir , elins nuklir ama elektromekanik nuklir , D4 setara s1 , dan ane salah satu mahasiswanya emoticon-Add Friend (S)
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
10-07-2011 22:46
Quote:Original Posted By wankelman
trima kasih pak fluberman udah reply emoticon-Blue Guy Smile (S), nah itu dia pak yang saya takutkan apabila debu uranium itu secara tak sadar kehirup masuk ke tubuh
berikut sayaquote beritanya dari:http://www.pikiran-rakyat.com/node/148904

menurut batan dinyatakan aman bagi masyarakat awam karena kadarnya 0,01-0,02ppm, lalu kalau partikel sebesar 0,01-0,02ppm itu kehirup oleh tubuh bagaimana gan? apakah masih aman juga karena terlalu kecil kadarnya?


Komentar atau klarifikasi dari "Atep Dadi Sumardi, ST, MT. (not verified) on Jumat, 17/06/2011 - 20:32" di link yg agan berikan itu, menurut saya sudah menjawab pertanyaan agan. Berikut kutipannya:

Quote:
Kandungan unsur Uranium dan Thorium daerah tersebut adalah 0,01 – 0,02 µSV/h.


Quote:
Ambang batas aman besarnya radiasi dari unsur radioaktif (Uranium dan Thorium) untuk manusia adalah sebesar 0,1 µSV/hour


Catatan:
µSV/hour itu bukan satuan untuk kandungan suatu unsur, tetapi laju dosis radiasi sehingga lebih mencerminkan efek radiasi thd tubuh.
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
10-07-2011 23:28
Quote:Original Posted By aksanyp
Terima kasih atas jawabannya agan flueberman, jadi teknologi nuklir ini juga merupakan teknologi berkelanjutan (continuable technology) hanya saja kalau memang akan dibangun ane sebenarnya setuju kalau di daerah pantura pulau jawa tepatnya di gunung Muria seperti rencana awal pemerintah mengingat daerah tersebut minim gangguan gempa dan banjir. Kalaupun ada gempa seperti yang terjadi di Jogja tahun 2006 silam ane yakin efeknya juga tidak akan sebesar kejadian di Fukushima. Nah kalau ada pilihan untuk saat ini mengacu pada bauran energi pada tahun 2025 maka reaktor jenis apa yang paling cocok dibangun di Indonesia? Apakah jenis light water atau heavy water? Secara keekonomisan memang reaktor air berat lbh mahal seperti yang agan flueberman jelaskan namun jika melihat faktor ketersediaan bahan baku air ini yang paling cocok.


Koreksi gan, nama saya FLUBERMAN, bukan Flueberman... emoticon-Big Grin
Cuma beda satu huruf, tapi ada sejarah di balik nama tersebut... hehehe....

Kalau konteksnya bauran energi 2025, maka kontribusi nuklir tidak akan dominan sehingga saya melihat penggunaan light water reactor lebih feasible daripada heavy water. Kita tidak akan membuat fasilitas pengolah air berat untuk skala produksi (dulu di BATAN Jogja tahun 70-80an pernah dibangun fasilitas produksi air berat skala lab, mhs teknik nuklir juga banyak yg skripsi tentang itu. Sekarang alatnya nganggur, nggak kepake. Teman-teman yg dari STTN saya yakin pernah melihat alat tsb). Dengan demikian air berat dan juga perangkat bahan bakar untuk reaktor PHWR harus beli, sementara vendornya tidak sebanyak vendor reaktor air ringan.

Kalau konteksnya terkait dengan ketahanan energi jangka panjang, penggunaan heavy water cukup menarik untuk dipertimbangkan. Terlebih jika penggunaannya mengikuti konsep DUPIC (Direct Use of Pressurized water reactor fuel In CANDU). Pada konsep ini, bahan bakar bekas dari PWR (light water) dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar untuk reaktor air berat, tanpa harus melalui proses kimiawi. Akan tetapi tentunya Indonesia perlu pemerintah yang visioner (yang sayangnya saya ragu keberadaannya dalam masa sekarang ini).

BTW, boleh tahu agan kuliah di mana?
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
12-07-2011 00:32
Quote:Original Posted By fluberman
Koreksi gan, nama saya FLUBERMAN, bukan Flueberman... emoticon-Big Grin
Cuma beda satu huruf, tapi ada sejarah di balik nama tersebut... hehehe....

Kalau konteksnya bauran energi 2025, maka kontribusi nuklir tidak akan dominan sehingga saya melihat penggunaan light water reactor lebih feasible daripada heavy water. Kita tidak akan membuat fasilitas pengolah air berat untuk skala produksi (dulu di BATAN Jogja tahun 70-80an pernah dibangun fasilitas produksi air berat skala lab, mhs teknik nuklir juga banyak yg skripsi tentang itu. Sekarang alatnya nganggur, nggak kepake. Teman-teman yg dari STTN saya yakin pernah melihat alat tsb). Dengan demikian air berat dan juga perangkat bahan bakar untuk reaktor PHWR harus beli, sementara vendornya tidak sebanyak vendor reaktor air ringan.

Kalau konteksnya terkait dengan ketahanan energi jangka panjang, penggunaan heavy water cukup menarik untuk dipertimbangkan. Terlebih jika penggunaannya mengikuti konsep DUPIC (Direct Use of Pressurized water reactor fuel In CANDU). Pada konsep ini, bahan bakar bekas dari PWR (light water) dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar untuk reaktor air berat, tanpa harus melalui proses kimiawi. Akan tetapi tentunya Indonesia perlu pemerintah yang visioner (yang sayangnya saya ragu keberadaannya dalam masa sekarang ini).

BTW, boleh tahu agan kuliah di mana?


Oops maaf atas kesalahan namanya agan fluberman satu huruf begitu berarti rupanya he he he emoticon-Blue Guy Cendol (S)

OK kalau menurut bauran energi 2025 dengan porsi nuklir sebesar 1,8% mungkin tidak terlalu signifikan namun ane melihat potensi pengembangannya di Indonesia. Jadi walaupun kapasitas-nya kecil namun kemandirian energi itulah yang ane pertimbangkan termasuk dari nuklir supaya tidak terus menerus membakar ''lumpur hitam'' atau ''batu gelap'' yang akan habis suatu saat nanti.

Sebentar agan fluberman, kalau membaca ulasan dari awal ane tertarik dengan konsep Canadian Deterium Uranium (CANDU) ini mengingat reaktornya adalah jenis heavy water namun apakah ada yang membedakan konsep penggunaan reaktor heavy water dengan reaktor CANDU? Yang pasti bukan karena CANDU adalah reaktor berlapis grafit lalu melintang horizontal yah sehingga disebut CANDU he he he emoticon-Peace

Yang ane pernah baca reaktor CANDU ini adalah pengembangan dari Kanada dan bisa langsung menggunakan uranium dari alam sebagai bahan bakarnya. Namun perbedaan dengan reaktor heavy water belum pernah ane baca. Apakah dari beda jenis moderator air beratnya? Atau sistem safetynya? Jenis reaktornya?

Lalu untuk penyimpanan limbah nuklir kalau menurut agan sendiri dimana lokasi yang cocok sebagai tempat penyimpanannya? Selama 100 tahun disimpan tentunya perlu tempat representatif guna menghindari kemungkinan kebocoran radiasi. Ane pernah baca Jepang dulu menanam limbah nuklirnya di dalam lautan supaya lebih aman namun apakah hal itu bisa diaplikasikan di Indonesia? Ane lihat baik dari pemerintah maupun masyarakat banyak yang masih belum memahami bagaimana pemrosesan limbah inilah yang membuat sedikit ''takut'' bila mendengar reaktor nuklir

Ane lulusan ITS angkatan 2001 gan namun sekarang sedang menimba ilmu di Gebze Institut Teknologi, Turki. Ane dari prodi teknik kimia koq gan tapi tertarik akan pengembangan energi di Indonesia termasuk dari nuklir sekalipun. Kalau agan fluberman sendiri? Sudah bekerja atau masih menempuh studi?
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
12-07-2011 08:53
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
12-07-2011 17:20
Quote:Original Posted By aksanyp
Oops maaf atas kesalahan namanya agan fluberman satu huruf begitu berarti rupanya he he he emoticon-Blue Guy Cendol (S)

OK kalau menurut bauran energi 2025 dengan porsi nuklir sebesar 1,8% mungkin tidak terlalu signifikan namun ane melihat potensi pengembangannya di Indonesia. Jadi walaupun kapasitas-nya kecil namun kemandirian energi itulah yang ane pertimbangkan termasuk dari nuklir supaya tidak terus menerus membakar ''lumpur hitam'' atau ''batu gelap'' yang akan habis suatu saat nanti.


Setuju gan, penggunaan energi nuklir memang seharusnya masuk dalam konteks kemandirian energi. Pengembangan teknologi itu perlu waktu yang tidak singkat, jika kita tidak memulainya sejak awal, bisa jadi semuanya akan terlambat, "lumpur hitam" dan "batu gelap" sudah terlanjur habis, sementara kita tidak punya alternatif yang memadai. Sekarang perhatikan saja, mengapa UAE dan Arab Saudi yang notabene kandungan lumpur hitamnya jauh lebih berlimpah daripada Indonesia, sekarang sudah beranjak ke energi nuklir. Tentu karena alasan energy security.


Quote:
Sebentar agan fluberman, kalau membaca ulasan dari awal ane tertarik dengan konsep Canadian Deterium Uranium (CANDU) ini mengingat reaktornya adalah jenis heavy water namun apakah ada yang membedakan konsep penggunaan reaktor heavy water dengan reaktor CANDU? Yang pasti bukan karena CANDU adalah reaktor berlapis grafit lalu melintang horizontal yah sehingga disebut CANDU he he he emoticon-Peace

Yang ane pernah baca reaktor CANDU ini adalah pengembangan dari Kanada dan bisa langsung menggunakan uranium dari alam sebagai bahan bakarnya. Namun perbedaan dengan reaktor heavy water belum pernah ane baca. Apakah dari beda jenis moderator air beratnya? Atau sistem safetynya? Jenis reaktornya?


Light water reactor dan heavy water reactor itu kan klasifikasi reaktor berdasarkan jenis moderator gan, di mana CANDU masuk ke dalam kelompok heavy water reactor, sementara PWR dan BWR masuk kelompok light water reactor.

CANDU bisa menggunakan uranium alami karena menggunakan moderator heavy water. Hal ini bisa dimungkinkan karena heavy water lebih efektif untuk menurunkan energi neutron daripada light water.


Quote:
Lalu untuk penyimpanan limbah nuklir kalau menurut agan sendiri dimana lokasi yang cocok sebagai tempat penyimpanannya? Selama 100 tahun disimpan tentunya perlu tempat representatif guna menghindari kemungkinan kebocoran radiasi. Ane pernah baca Jepang dulu menanam limbah nuklirnya di dalam lautan supaya lebih aman namun apakah hal itu bisa diaplikasikan di Indonesia? Ane lihat baik dari pemerintah maupun masyarakat banyak yang masih belum memahami bagaimana pemrosesan limbah inilah yang membuat sedikit ''takut'' bila mendengar reaktor nuklir


Waktu Muria masih jadi calon tapak PLTN, yang jadi calon lokasi penyimpanan limbah ada di Pulau Genting, Karimunjawa. Tetapi sekarang saya tidak tahu dengan adanya perkembangan2 terakhir ini.
Sebenarnya ada juga konsep bahwa limbah PLTN tidak perlu disimpan oleh pihak utilitas, tetapi dikembalikan ke pabrik pengolah bahan bakar. Jadi ketika beli bahan bakar, sudah satu paket, dari bahan bakar fresh kemudian setelah dipakai dikembalikan, karena nantinya akan dilakukan reprocessing. Keuntungannya tentu saja tidak ribet mengurusi limbah nuklir dan juga biaya jadi lebih rendah karena tidak perlu maintenance penyimpanan limbah. Akan tetapi kekurangannya adalah kita tidak punya cadangan bahan bakar yang potensial untuk dipakai di masa datang.

Strategi mana yang akan dipilih, menyimpan limbah ataukah mengembalikan limbah, itu tergantung dari policy masing-masing negara.

Quote:
Ane lulusan ITS angkatan 2001 gan namun sekarang sedang menimba ilmu di Gebze Institut Teknologi, Turki. Ane dari prodi teknik kimia koq gan tapi tertarik akan pengembangan energi di Indonesia termasuk dari nuklir sekalipun. Kalau agan fluberman sendiri? Sudah bekerja atau masih menempuh studi?


Wah, ditanya juga nih background saya... emoticon-Big Grin...
Saya lulusan Teknik Nuklir UGM spesialisasi Teknologi Reaktor, kemudian ambil S2 Teknik Energi di Royal Institute of Technology, Swedia dan S3 Teknik Nuklir di TU Delft, Belanda. Sekarang kerja sebagai peneliti di Chalmers University of Technology, Swedia, terlibat dalam proyek pengkajian keselamatan terhadap 4 dari 10 PLTN di Swedia.
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
12-07-2011 18:22
Quote:Original Posted By fluberman
Setuju gan, penggunaan energi nuklir memang seharusnya masuk dalam konteks kemandirian energi. Pengembangan teknologi itu perlu waktu yang tidak singkat, jika kita tidak memulainya sejak awal, bisa jadi semuanya akan terlambat, "lumpur hitam" dan "batu gelap" sudah terlanjur habis, sementara kita tidak punya alternatif yang memadai. Sekarang perhatikan saja, mengapa UAE dan Arab Saudi yang notabene kandungan lumpur hitamnya jauh lebih berlimpah daripada Indonesia, sekarang sudah beranjak ke energi nuklir. Tentu karena alasan energy security.




Light water reactor dan heavy water reactor itu kan klasifikasi reaktor berdasarkan jenis moderator gan, di mana CANDU masuk ke dalam kelompok heavy water reactor, sementara PWR dan BWR masuk kelompok light water reactor.

CANDU bisa menggunakan uranium alami karena menggunakan moderator heavy water. Hal ini bisa dimungkinkan karena heavy water lebih efektif untuk menurunkan energi neutron daripada light water.




Waktu Muria masih jadi calon tapak PLTN, yang jadi calon lokasi penyimpanan limbah ada di Pulau Genting, Karimunjawa. Tetapi sekarang saya tidak tahu dengan adanya perkembangan2 terakhir ini.
Sebenarnya ada juga konsep bahwa limbah PLTN tidak perlu disimpan oleh pihak utilitas, tetapi dikembalikan ke pabrik pengolah bahan bakar. Jadi ketika beli bahan bakar, sudah satu paket, dari bahan bakar fresh kemudian setelah dipakai dikembalikan, karena nantinya akan dilakukan reprocessing. Keuntungannya tentu saja tidak ribet mengurusi limbah nuklir dan juga biaya jadi lebih rendah karena tidak perlu maintenance penyimpanan limbah. Akan tetapi kekurangannya adalah kita tidak punya cadangan bahan bakar yang potensial untuk dipakai di masa datang.

Strategi mana yang akan dipilih, menyimpan limbah ataukah mengembalikan limbah, itu tergantung dari policy masing-masing negara.



Wah, ditanya juga nih background saya... emoticon-Big Grin...
Saya lulusan Teknik Nuklir UGM spesialisasi Teknologi Reaktor, kemudian ambil S2 Teknik Energi di Royal Institute of Technology, Swedia dan S3 Teknik Nuklir di TU Delft, Belanda. Sekarang kerja sebagai peneliti di Chalmers University of Technology, Swedia, terlibat dalam proyek pengkajian keselamatan terhadap 4 dari 10 PLTN di Swedia.


Selain berbeda moderator perbedaan lain yang utama antara light water dan heavy water itu apa gan? Secara operasionalnya itu maksud saya, adakah perbedaan yang signifikan? Apakah benar jenis light water reactor adalah batch reactor sedangkan heavy water adalah continuous reactor?

Lalu berkaitan dengan air pendingin ini, apakah air pendingin yang digunakan dalam reaktor masih mengandung partikel yang bersifat radioaktif? Jika ya bagaimana cara pengolahannya?

Di Swedia yah gan, kalau ada waktu luang sampaikan salam saya kepada agan Robertus Wahyu Nayan, di KTH Gotenburg. Dia adalah rekan saya yang skrg menjadi research engineer disana plus kepada saudara Teddy Ardiansyah TN UGM 2001 yang skrg menimba ilmu di Tokodai. Mungkin agan mengenal keduanya.

Salam kenal yah gan emoticon-Shakehand2
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
13-07-2011 04:05
Quote:Original Posted By aksanyp
Selain berbeda moderator perbedaan lain yang utama antara light water dan heavy water itu apa gan? Secara operasionalnya itu maksud saya, adakah perbedaan yang signifikan? Apakah benar jenis light water reactor adalah batch reactor sedangkan heavy water adalah continuous reactor?

Yup, you're right... (kayaknya agan tahu banyak ttg nuklir utk ukuran nubie... hehehe...)

Untuk LWR (light water reactor), karena menggunakan uranium diperkaya, maka bisa dioperasikan sampai sekitar 1 - 1,5 tahun, kemudian berhenti sekitar 1-2 bulan untuk dilakukan pengisian ulang bahan bakar atau refueling. Proses refueling ini bukan mengganti seluruh bahan bakar yang ada di teras reaktor, tetapi hanya 1/3 atau 1/4 saja (tergantung jenis reaktor) yang diganti dengan bahan bakar baru. Jadi dalam satu periode operasi reaktor, misal untuk skema refueling 1/3 periode 1 tahun, ada bauran tiga jenis bahan bakar, yaitu 1/3 bahan bakar baru, 1/3 bahan bakar umur 1 tahun, 1/3 bahan bakar umur 2 tahun. Setelah beroperasi 1 tahun, maka baurannya menjadi 1/3 bahan bakar umur 1 tahun, 1/3 bahan bakar umur 2 tahun, 1/3 bahan bakar umur 3 tahun. Nah, yang berumur 3 tahun dikeluarkan dari reaktor dan diganti dengan yang baru. Yang berumur 1 dan 2 tahun, masih tetap di dalam reaktor, tetapi posisinya dipindah-pindah untuk mendapatkan fluks neutron yang optimum.

Untuk CANDU berbeda karena menggunakan uranium alam, sehingga bahan bakar lebih cepat "habis". Oleh karena itu proses refueling harus dilakukan secara kontinyu, biasa disebut dengan online refueling, karena reaktor tidak dipadamkan alias tetap beroperasi. Agar memudahkan proses online refueling, maka reaktor dibuat horisontal. Tabung reaktornya disebut dengan Calandria (mirip shell-and-tube heat exchanger, agan pasti tahu karena dari tekkim).

Quote:
Lalu berkaitan dengan air pendingin ini, apakah air pendingin yang digunakan dalam reaktor masih mengandung partikel yang bersifat radioaktif? Jika ya bagaimana cara pengolahannya?

  • Dalam kondisi operasi normal, tidak ada partikel radioaktif yang terikut ke air pendingin, karena air tidak kontak secara langsung dengan bahan bakar. Ada selongsong berupa logam zircaloy yang menutupi bahan bakar.

    Akan tetapi yang terjadi adalah aktivasi oksigen menjadi nitrogen-16. Aktivasi adalah proses di mana neutron berinteraksi dengan inti atom yang stabil dan menghasilkan inti atom yang tidak stabil (radioaktif). Nitrogen-16 merupakan pemancar gamma dengan energi 6 MeV (seingat saya...), dan berumur paro 7 detik. Karena pendingin air selalu mengandung oksigen (ya iya lah...), maka selama reaktor beroperasi akan ada pancaran hard gamma dari nitrogen-16. Untuk itu di sekitar reaktor harus diberi perisai pelindung radiasi terbuat dari beton. Untuk tipe PWR maupun PHWR-CANDU, karena menggunakan siklus tak langsung (pembangkitan uap ada di heat exchanger, bukan di teras reaktor), maka problem radiasi gamma dari N-16 bisa dilokalisir hanya di sekitar bejana reaktor saja. Akan tetapi tipe BWR, karena menggunakan siklus langsung (pembangkitan uap di teras reaktor, uap dari rekator langsung mengalir ke turbin), maka N-16 juga ikut terbawa sampai ke turbin. Oleh karena itu, gedung turbin di BWR juga diberi perisai pelindung radiasi.
  • Dalam kondisi abnormal, misal selongsong mengalami disintegrasi atau bahan bakar meleleh (seperti di Fukushima), akan terjadi kontaminasi yaitu bahan-bahan radioaktif yang ada di bahan bakar akan kontak dengan air pendingin.




Quote:
Di Swedia yah gan, kalau ada waktu luang sampaikan salam saya kepada agan Robertus Wahyu Nayan, di KTH Gotenburg. Dia adalah rekan saya yang skrg menjadi research engineer disana plus kepada saudara Teddy Ardiansyah TN UGM 2001 yang skrg menimba ilmu di Tokodai. Mungkin agan mengenal keduanya.

Salam kenal yah gan emoticon-Shakehand2


Maaf, saya tidak kenal dengan Robertus Wahyu Nayan. KTH (Kungliga Tekniska Högskolan = Royal Institute of Technology) ada di Stockholm gan. Kalau yang di Gothenburg itu CTH (Chalmers Tekniska Högskola = Chalmers University of Technology).

Kalau Teddy Ardiansyah kenal banget, dia dulu mahasiswa saya... emoticon-Big Grin

Salam kenal juga gan... emoticon-Shakehand2
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
13-07-2011 22:07
Quote:Original Posted By fluberman
Yup, you're right... (kayaknya agan tahu banyak ttg nuklir utk ukuran nubie... hehehe...)

Untuk LWR (light water reactor), karena menggunakan uranium diperkaya, maka bisa dioperasikan sampai sekitar 1 - 1,5 tahun, kemudian berhenti sekitar 1-2 bulan untuk dilakukan pengisian ulang bahan bakar atau refueling. Proses refueling ini bukan mengganti seluruh bahan bakar yang ada di teras reaktor, tetapi hanya 1/3 atau 1/4 saja (tergantung jenis reaktor) yang diganti dengan bahan bakar baru. Jadi dalam satu periode operasi reaktor, misal untuk skema refueling 1/3 periode 1 tahun, ada bauran tiga jenis bahan bakar, yaitu 1/3 bahan bakar baru, 1/3 bahan bakar umur 1 tahun, 1/3 bahan bakar umur 2 tahun. Setelah beroperasi 1 tahun, maka baurannya menjadi 1/3 bahan bakar umur 1 tahun, 1/3 bahan bakar umur 2 tahun, 1/3 bahan bakar umur 3 tahun. Nah, yang berumur 3 tahun dikeluarkan dari reaktor dan diganti dengan yang baru. Yang berumur 1 dan 2 tahun, masih tetap di dalam reaktor, tetapi posisinya dipindah-pindah untuk mendapatkan fluks neutron yang optimum.

Untuk CANDU berbeda karena menggunakan uranium alam, sehingga bahan bakar lebih cepat "habis". Oleh karena itu proses refueling harus dilakukan secara kontinyu, biasa disebut dengan online refueling, karena reaktor tidak dipadamkan alias tetap beroperasi. Agar memudahkan proses online refueling, maka reaktor dibuat horisontal. Tabung reaktornya disebut dengan Calandria (mirip shell-and-tube heat exchanger, agan pasti tahu karena dari tekkim).


  • Dalam kondisi operasi normal, tidak ada partikel radioaktif yang terikut ke air pendingin, karena air tidak kontak secara langsung dengan bahan bakar. Ada selongsong berupa logam zircaloy yang menutupi bahan bakar.

    Akan tetapi yang terjadi adalah aktivasi oksigen menjadi nitrogen-16. Aktivasi adalah proses di mana neutron berinteraksi dengan inti atom yang stabil dan menghasilkan inti atom yang tidak stabil (radioaktif). Nitrogen-16 merupakan pemancar gamma dengan energi 6 MeV (seingat saya...), dan berumur paro 7 detik. Karena pendingin air selalu mengandung oksigen (ya iya lah...), maka selama reaktor beroperasi akan ada pancaran hard gamma dari nitrogen-16. Untuk itu di sekitar reaktor harus diberi perisai pelindung radiasi terbuat dari beton. Untuk tipe PWR maupun PHWR-CANDU, karena menggunakan siklus tak langsung (pembangkitan uap ada di heat exchanger, bukan di teras reaktor), maka problem radiasi gamma dari N-16 bisa dilokalisir hanya di sekitar bejana reaktor saja. Akan tetapi tipe BWR, karena menggunakan siklus langsung (pembangkitan uap di teras reaktor, uap dari rekator langsung mengalir ke turbin), maka N-16 juga ikut terbawa sampai ke turbin. Oleh karena itu, gedung turbin di BWR juga diberi perisai pelindung radiasi.
  • Dalam kondisi abnormal, misal selongsong mengalami disintegrasi atau bahan bakar meleleh (seperti di Fukushima), akan terjadi kontaminasi yaitu bahan-bahan radioaktif yang ada di bahan bakar akan kontak dengan air pendingin.






Maaf, saya tidak kenal dengan Robertus Wahyu Nayan. KTH (Kungliga Tekniska Högskolan = Royal Institute of Technology) ada di Stockholm gan. Kalau yang di Gothenburg itu CTH (Chalmers Tekniska Högskola = Chalmers University of Technology).

Kalau Teddy Ardiansyah kenal banget, dia dulu mahasiswa saya... emoticon-Big Grin

Salam kenal juga gan... emoticon-Shakehand2


He he he ane hanya dapat informasi ttg reaktor nuklir dari baca2 modul saja koq gan, tetapi dengan penjelasan semacam ini akhirnya makin terang dan jelas bagaimana gambaran beberapa jenis reaktor nuklir gan. Karena ane yakin apapun yang terjadi Indonesia akan segera punya PLT Nuklir tinggal menunggu waktu saja oleh karena itu informasi yang benar ttg nuklir semacam ini seharusnya menjadi bahan kajian ilmiah di media2 serta team sosialiasi dari pihak2 terkait di pemerintah supaya ada pandangan objektif di kalangan pro maupun kontra nuklir. Umumnya usia reaktor nuklir berapa tahun gan? 40-50 tahun? Lalu setelah itu harus decomisioning atau tidak bisakah dipertahankan supaya berkelanjutan? Sayang sekali jika instalasi yang begitu mahal baik secara konstruksi hingga operasinya harus ditutup karena usia tua. Maksud ane apakah tidak bisa dilakukan peremajaan, ane ambil contoh seperti kilang penyulingan minyak bumi pada dasarnya dibangun untuk jangka waktu 25 tahun namun setelah itu bisa dilakukan de-bottle necking atau pembaharuan proses termasuk equipment. Kalaupun ada kilang yg ditutup seperti Pangkalan Brandan, Sumatera Utara itu karena pasokan minyak yang sudah habis namun untuk nuklir khan dalam jangka waktu 100-200 tahun masih bisa dipertahankan.

Jadi air pendingin ini tidak disimpan atau diolah lagi yah gan untuk dibuang sebagai limbah bebas? Hanya diputar saja prosesnya semacam closed-loop system gt? setelah digunakan didinginkan lalu masuk reaktor lagi, ternyata tidak jauh beda dengan air proses pada boiler. Hanya saja beda penanganannya.

Maaf gan saya pikir KTH di Gothenburg karena beda huruf di depannya cukup tipis KTH dan CTH emoticon-Peace
ternyata agan fluberman ini dosennya cak Teddy Ardiansyah, dunia ini memang sempit he he he emoticon-Big Grin
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
14-07-2011 13:48
Quote:Original Posted By aksanyp
He he he ane hanya dapat informasi ttg reaktor nuklir dari baca2 modul saja koq gan, tetapi dengan penjelasan semacam ini akhirnya makin terang dan jelas bagaimana gambaran beberapa jenis reaktor nuklir gan. Karena ane yakin apapun yang terjadi Indonesia akan segera punya PLT Nuklir tinggal menunggu waktu saja oleh karena itu informasi yang benar ttg nuklir semacam ini seharusnya menjadi bahan kajian ilmiah di media2 serta team sosialiasi dari pihak2 terkait di pemerintah supaya ada pandangan objektif di kalangan pro maupun kontra nuklir. Umumnya usia reaktor nuklir berapa tahun gan? 40-50 tahun? Lalu setelah itu harus decomisioning atau tidak bisakah dipertahankan supaya berkelanjutan? Sayang sekali jika instalasi yang begitu mahal baik secara konstruksi hingga operasinya harus ditutup karena usia tua. Maksud ane apakah tidak bisa dilakukan peremajaan, ane ambil contoh seperti kilang penyulingan minyak bumi pada dasarnya dibangun untuk jangka waktu 25 tahun namun setelah itu bisa dilakukan de-bottle necking atau pembaharuan proses termasuk equipment. Kalaupun ada kilang yg ditutup seperti Pangkalan Brandan, Sumatera Utara itu karena pasokan minyak yang sudah habis namun untuk nuklir khan dalam jangka waktu 100-200 tahun masih bisa dipertahankan.


Tentu saja bisa.. emoticon-Big Grin
Praktek untuk memperpanjang masa hidup reaktor (life extension) sudah sering dilakukan, misal di USA banyak yang di-extend dari desain awal 40 tahun menjadi 60 tahun. Di Jepang juga, life extension sampai 70 tahun. Tentunya diiringi dengan modernisasi, misalnya dengan mengganti komponen-komponen yang tua dan melakukan upgrade sistem instrumentasi kendali.
Kadang selain life extension, dilakukan juga power uprating, yaitu meningkatkan besarnya daya operasi reaktor. Sebelum melakukan life extension dan/atau power uprating, pihak utilitas harus melakukan kajian keselamatan terlebih dahulu, kemudian meminta izin dari badan pengawas.

Sebagai contoh di Swedia, PLTN Ringhals 3 pada musim dingin yang lalu telah selesai melakukan upgrading sistem instrumentasi kendali terutama di bagian turbin-generator dan sistem umpan (feedwater system). Daya reaktor juga telah dinaikkan, dari daya nominal awal sebesar 2700 MWt, sekarang beroperasi pada daya 3145 MWt. PLTN Ringhals 4 di musim panas ini (bersamaan dengan periode refueling dan overhaul) melakukan penggantian pembangkit uap (heat exchanger) untuk mengantisipasi operasi pada daya yang lebih tinggi (masih nunggu izin) dan di samping itu juga akan mengganti komponen pressurizer (yang mempertahankan tekanan air pendingin di reaktor sehingga tidak terjadi pendidihan). Praktek serupa juga dilakukan di PLTN lain, seperti Forsmark dan Oskarshamn.
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
14-07-2011 21:50
Quote:Original Posted By fluberman
Tentu saja bisa.. emoticon-Big Grin
Praktek untuk memperpanjang masa hidup reaktor (life extension) sudah sering dilakukan, misal di USA banyak yang di-extend dari desain awal 40 tahun menjadi 60 tahun. Di Jepang juga, life extension sampai 70 tahun. Tentunya diiringi dengan modernisasi, misalnya dengan mengganti komponen-komponen yang tua dan melakukan upgrade sistem instrumentasi kendali.
Kadang selain life extension, dilakukan juga power uprating, yaitu meningkatkan besarnya daya operasi reaktor. Sebelum melakukan life extension dan/atau power uprating, pihak utilitas harus melakukan kajian keselamatan terlebih dahulu, kemudian meminta izin dari badan pengawas.

Sebagai contoh di Swedia, PLTN Ringhals 3 pada musim dingin yang lalu telah selesai melakukan upgrading sistem instrumentasi kendali terutama di bagian turbin-generator dan sistem umpan (feedwater system). Daya reaktor juga telah dinaikkan, dari daya nominal awal sebesar 2700 MWt, sekarang beroperasi pada daya 3145 MWt. PLTN Ringhals 4 di musim panas ini (bersamaan dengan periode refueling dan overhaul) melakukan penggantian pembangkit uap (heat exchanger) untuk mengantisipasi operasi pada daya yang lebih tinggi (masih nunggu izin) dan di samping itu juga akan mengganti komponen pressurizer (yang mempertahankan tekanan air pendingin di reaktor sehingga tidak terjadi pendidihan). Praktek serupa juga dilakukan di PLTN lain, seperti Forsmark dan Oskarshamn.


Wah lengkap sekali infonya ttg PLTN di Swedia, kalau dihitung2 dari segi keekonomian nuklir memang lbh efisien dan murah untuk negara2 yang miskin SDA sumber energi, tetapi kalau ane melihat kasus ditutupnya PLTN Trojan tahun 1992 karena kalah bersaing dengan PLTA bagaimana menurut agan fluberman ttg prospek PLTN di Indonesia yang juga kaya akan SDA yg lain selain ''lumpur hitam'' dan ''batu gelap'' tentunya? Berapa % yang seharusnya menjadi bagian dalam bauran energi?

Satu lagi pertanyaan buat agan fluberman, walau terkesan OOT (Out of Topic) namun cukup menggelitik juga jika mengetahui agan adalah aset bangsa Indonesia yang sangat berharga di bidang teknologi nuklir. Let's say.... Suatu saat akan dibangun PLTN di Indonesia dan membutuhkan teknokrat nuklir seperti agan fluberman, then country calls you. Maka dengan kondisi negara yang seperti skrg dimana secara finansial dan mgk suasana kerja yang standartnya lbh rendah dibanding Swedia, apakah agan akan memilih pulang kampung?

Just my little curious question, boleh tidak dijawab koq gan he he he emoticon-Peace
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
14-07-2011 22:39
Alhamdulillah....
Thread yang saya bikin menjadi sarana diskusi yang menarik ^^
maaf belum bisa banyak terlibat dalam diskusi, tapi sejauh ini saya terus menyimak. saya sudah mengundang rekan-rekan mahasiswa Teknik Nuklir UGM agar ikut meramaikan diskusi ini. semoga pada datang emoticon-Big Grin

Silahkan dilanjutkan diskusinya..... ^^
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
15-07-2011 08:34
Untung ada agan yang dengan pintarnya membuat trit ini dapat memberi ilmu ke para Kaskuser di sini emoticon-Smilie

Ane kesusahan dalam menjelaskan nuklir kemana-mana, masih banyak yang nolak ini itu emoticon-Cape d... (S)

Semoga masih bisa HT ya
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
16-07-2011 16:23
Quote:Original Posted By fluberman
Uranium ada di mana saja? Jawabannya: ada di mana-mana, di sungai, di batuan, di tanah, di lautan. Mengapa bisa demikian? Karena uranium merupakan material yang ada sejak terbentuknya bumi ini. Akan tetapi distribusinya di kerak bumi tidak merata. Ada yang konsentrasinya banyak sehingga potensial untuk ditambang seperti di Kalimantan, ada yang konsentrasinya sedikit, bahkan sangat-sangat-sangat sedikit. Apalagi kalau kadarnya 0,01 ppm, dari 100 juta pasir hanya ada 1 butir uranium.

Apa yang membuat agan takut? Karena uranium bisa meledak atau karena uranium memancarkan radiasi?

Kalau takut akan meledak, jangan kuatir gan, kita perlu 52 kg uranium-235 murni (100%) berbentuk bola agar bisa meledak. (Ingat pembahasan di awal trit ini), di alam ini ada 0,7% uranium-235 dan 99,3% uranium-238. Agar kandungan uranium-235 meningkat perlu dilakukan proses pengkayaan). Seandainya uranium-235 diperkaya menjadi 15%, perlu 600 kg bola uranium agar meledak. Kalau uranium-235 masih alami dan tersebar sebagai pasir di pantai? Tidak akan meledak....

Kalau takut radiasi, memang uranium memancarkan radiasi alfa. Karena itu potensi bahayanya bersifat internal yaitu apabila masuk ke tubuh. Di luar tubuh (eksternal),praktis uranium tidak berbahaya karena radiasinya tidak akan memancar jauh. (Perasaan pernah ada pembahasan tentang ini ya... mungkin mas Janarko bisa kasih link-nya?). Seandainya ada uranium yang terikut di pasir di dalam bus, saya tidak perlu kuatir akan hal itu. Toh konsentrasinya sangat sangat rendah. Di samping itu, tubuh kita sebenarnya sudah terbiasa dengan paparan radiasi tingkat rendah, baik itu dari radiasi kosmis dari angkasa maupun dari tanah. Tubuh kita punya sistem yang canggih untuk memperbaiki kerusakan sel akibat radiasi tingkat rendah.

Menurut saya, agan gak perlu kawatir apalagi paranoid. Nikmati saja hidup ini... kalau saya sih justru lebih kawatir terhadap asap rokok dari bapak2 yang duduk di dalam bus daripada mengkawatirkan uranium yang belum tentu ikut di bus, karena jelas asap rokok mengandung polonium-210 yang juga memancarkan alfa!!!!


tentang kadar uranium, lihat post 146

tentang Radiasi bisa loncat ke post 14 dan post 201
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
18-07-2011 02:44
Wiwiwkwkwi.....thread ini BATAN banget.....dpt komisi brp gan....? Wkwkwkwkwkw
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
0 0
0
Halaman 29 dari 42
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia