Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
546
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000007523240/berbagi-ilmu-tentang-teknologi-nuklir
Setelah gempa dan Tsunami yang melanda Jepang, Tema tentang "Nuklir" menjadi sangat hangat dibicarakan. Mulai oleh para ahlinya sampai para awam yang tidak tau apa-apa tentang Nuklir. dari berbagai forum dan media yang saya ikuti, ternyata masih sangat banyak warga negara Indonesia yang sama sekali tidak tau tentang apa itu Nuklir? bagaimana bentuknya? apa manfaatnya? bagaimana bisa menj
Lapor Hansip
19-03-2011 03:55

Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir

Setelah gempa dan Tsunami yang melanda Jepang, Tema tentang "Nuklir" menjadi sangat hangat dibicarakan. Mulai oleh para ahlinya sampai para awam yang tidak tau apa-apa tentang Nuklir. dari berbagai forum dan media yang saya ikuti, ternyata masih sangat banyak warga negara Indonesia yang sama sekali tidak tau tentang apa itu Nuklir? bagaimana bentuknya? apa manfaatnya? bagaimana bisa menjadi pembangkit energi? dls. untuk itu silahkan simak thread perdana ane :

Apa itu nuklir?


Sebentar, Uranium itu bentuknya apa?gas?cair?atau padat?


Apakah Indonesia punya tambang Uranium?


Kok bisa bisa jadi listrik?


Apa kelebihan nuklir?


Bagaimana desain PLTN?


Bagaimana sistem pengamanan Reaktor Nuklir agar tidak bocor?


Di dunia ini sudah ada berapa banyak PLTN?


Dari PLTN sebanyak itu, sudah terjadi kecelakaan berapa kali?


Meski pengamanannya tinggi, tetap saja berbahaya kan?


maaf, emang bahaya terkena paparan radiasi itu apa?


(wah, gak cukup ni gan, lanjut bawah ya! Ada daftar isinya di bawah emoticon-Smilie)emoticon-I Love Indonesia (S)
Diubah oleh janarko
0
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 27 dari 42
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
13-04-2011 02:44
abis liat berita level darurat fukushima :ngeri
selevel dengan bahayanya cyrnobil

numpang ya gan,,, mantau
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
13-04-2011 02:55
Quote:Original Posted By mustadafin_85
abis liat berita level darurat fukushima :ngeri
selevel dengan bahayanya cyrnobil

numpang ya gan,,, mantau


Sama-sama level 7, tapi bahayanya sampai saat ini tidak sebesar Chernobyl. Ada perbedaan. Ntar ane jelasin, sekarang mau tidur dulu...
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
15-04-2011 14:52
Quote:Original Posted By mustadafin_85
abis liat berita level darurat fukushima :ngeri
selevel dengan bahayanya cyrnobil

numpang ya gan,,, mantau


Perbedaan antara kecelakaan di Chernobyl dengan Fukushima.

  • Status reaktor

    • Chernobyl: ketika kecelakaan terjadi reaktor masih beroperasi (meskipun pada daya rendah), dengan demikian reaksi fisi masih berlangsung dan masih dijumpai neutron.
    • Fukushima: ketika terjadi kecelakaan, reaktor telah padam akibat sensor gempa memicu sistem proteksi untuk memasukkan batang kendali ke dalam reaktor. Kecelakaan terjadi setelah selang waktu berjam-jam semenjak reaktor padam. Neutron yang memicu terjadinya reaksi fisi sudah tidak ada.



  • Koefisien umpan balik reaktivitas

    • Chernobyl: reaktor mempunyai void reactivity coefficient yang positif pada daya rendah, sehingga pengurangan densitas pendingin (akibat naiknya suhu pendingin) atau berkurangnya volume pendingin justru akan mengakibatkan semakin bertambahnya reaksi fisi. Semakin banyak reaksi fisi, semakin naik pula suhu bahan bakar dan suhu pendingin. Suhu pendingin naik, reaksi bertambah lagi, demikian seterusnya.
    • Fukushima: void reactivity coefficient bernilai negatif sehingga berkurangnya densitas pendingin akan mengurangi terjadinya reaksi fisi.



  • Lokasi ledakan

    • Chernobyl: ledakan terjadi di dalam teras.
    • Fukushima: ledakan terjadi di luar teras.



  • Ketersediaan pengungkung

    • Chernobyl: tidak ada pengungkung sehingga ledakan dari dalam teras langsung “memuntahkan” isi teras reaktor.

    • Fukushima: pengungkung masih berfungsi (unit 1 dan 3), kemungkinan rusak di unit 2. Akan tetapi kolam bahan bakar bekas terekspose ke atmosfer (unit 1, 3 dan 4).



  • Kebakaran

    • Chernobyl: grafit (yang bertindak sebagai moderator atau pemerlambat neutron) terbakar. Sumber kebakaran berasal dari dalam teras reaktor. Akibatnya kebakaran berlangsung lama dan menyebar ke lebih dari 30 lokasi. Pelepasan material radioaktif ke atmosfer dibantu dengan adanya asap dari kebakaran.

    • Fukushima: kebakaran yang terjadi di unit 3 dan 4 dapat dipadamkan dalam waktu singkat. Sumber kebakaran berada di luar reaktor. Ledakan di unit 1, 2 dan 3 berasal dari detonation hidrogen yang bersifat lokal.



  • Pelepasan bahan radioaktif

    • Chernobyl: 60-80% bahan bakar dilepaskan dari tangki reaktor, 6-7 ton produk fisi dilepaskan (0,6-1 ton berada di sekitar lokasi PLTN, 3-5 ton terdeposit dalam radius 20 km dan 2-3 ton terdeposit lebih jauh lagi).
    • Fukushima: pelepasan material radioaktif berupa produk fisi berupa gas dan partikulat (dalam hal ini hanya I-131 dan Cs-137) yang lolos dari bahan bakar akibat kerusakan selongsong atau (mungkin) melelehnya bahan bakar. Bahan bakar masih tetap berada di dalam reaktor.



  • Korban jiwa

    • Chernobyl: sekitar 30 orang meninggal ketika terjadi ledakan (baik itu akibat ledakan maupun terkena radiasi) dan sekitar 20 orang meninggal karena kanker akibat radiasi tingkat tinggi. Publik juga menerima paparan radiasi tinggi akibat menyebarnya I-131 akibat kebakaran reaktor (dan diperparah oleh respons pemerintah dalam menangani kondisi darurat).
    • Fukushima: sampai dengan hari ini tidak ada orang yang meninggal akibat ledakan ataupun paparan radiasi tingkat tinggi. Dua pekerja diketemukan meninggal akibat gempa/tsunami, bukan akibat kecelakaan reaktor. Tidak ada pekerja yang terkena radiasi di atas 250 mSv. Publik juga tidak ada yang terkena paparan radiasi tingkat tinggi.



Sekarang kita lihat apa itu skala INES. Skala INES adalah suatu ukuran yang dibuat oleh IAEA untuk mengetahui dampak terhadap keselamatan dari suatu kejadian pada sebuah fasilitas nuklir. Skala ini mempunyai rentang dari 0 (tidak ada pengaruh terhadap keselamatan secara signifikan) sampai dengan 7 (kecelakaan besar). Setiap naik satu level, dampak yang dihasilkan adalah 10 kali lebih besar. Artinya level 5 adalah sepuluh kali lebih besar dampaknya terhadap keselamatan daripada level 4. Dan sebaliknya, level 5 adalah seratus kali lebih kecil dampaknya daripada level 7.

Untuk menentukan level INES, ada 3 kriteria yang harus dikaji dan masing-masing kriteria mempunyai nilai minimum dan maksimum. Nilai tertinggi dari ketiga kriteria tersebut yang dijadikan nilai akhir. Misalnya kriteria A level 5, kriteria B skala 4 dan kriteria C skala 3, maka kecelakaan yang terjadi dikategorikan ke dalam level 5. Kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kriteria A: dampak terhadap orang dan lingkungan (level 2 sampai 7)

  • Kriteria B: dampak terhadap pelindung radiasi, misal gedung, pengungkung (level 2 sampai 5)

  • Kriteria C: dampak terhadap pertahanan berlapis, misal adanya sistem cadangan, redundansi (level 1 sampai 3)


Sekarang mari kita lihat rapor Fukushima per 18 Maret:

  • Unit 1, 2 dan 3

    • Kriteria A : belum ditentukan karena pelepasan radioaktif masih berlangsung

    • Kriteria B : 5

    • Kriteria C : 3



  • Unit 4

    • Kriteria A : belum ditentukan karena pelepasan radioaktif masih berlangsung

    • Kriteria B : belum ditentukan

    • Kriteria C : 3




Dari rapor tersebut di atas maka unit 1, 2 dan 3 memperoleh level 5, sementara unit 4 memperoleh level 3.

Yang dilakukan oleh NISA dan NSC sehingga menaikkan sampai ke level 7 pada tanggal 12 April adalah karena melakukan re-assesment terhadap kriteria A.

Re-assessment dilakukan terhadap pelepasan AKUMULATIF dari SEMUA unit, bukan lagi unit per unit, mengingat pelepasan bahan radioaktif sulit ditentukan sumbernya dari unit mana ketika dilakukan perhitungan mundur.


Dari perhitungan mundur diperkirakan bahwa pelepasan ekivalen I-131 akumulatif sebesar 370 ribu TBq (menurut NISA) dan 630 ribu TBq (menurut NSC). Perhitungan berdasar pelepasan I-131 dan Cs-137 (ekivalen I-131 dengan faktor pengali 40).

Dari "INES User's Manual" bisa kita lihat bahwa level 7 didefinisikan sebagai:

“An event resulting in an environmental release corresponding to a quantity of radioactivity radiologically equivalent to a release to the atmosphere of more than several tens of thousands of terabecquerels of I-131.”,

dan ambang batas yang dipakai adalah 50 ribu TBq. Begitu nilai ini tercapai, maka suatu kejadian langsung masuk ke level 7.

Kalau di Chernobyl, release I-131 dan Cs-137 adalah 5200 ribu TBq ekivalen. Itu belum memperhitungkan release produk fisi yang lain dan juga Pu-239 (faktor pengali 10.000) serta aktinida lain.

Karena level maksimum INES adalah 7, ya tidak ada lagi yang bisa membedakan antara tingkat keparahan Fukushima dan Chernobyl JIKA hanya dilihat dari skala INES saja. Oleh karena itu perlu indikator lain untuk melakukan perbandingan, semisal direct or indirect fatalities, paparan aktual ke pekerja dan publik, cancer risks, dsb, seperti yang diuraikan di atas. Seandainya skala INES itu lebih dari 7, mungkin Fukushima masuk level 7 sementara Chernobyl level 8 atau 9.
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
15-04-2011 15:04
om nanya aja dong emoticon-Embarrassment
kata bapa ane, jurusan teknik nuklir masih kurang bagus ya kedepannya di indonesia?
minta penjelasannya dong emoticon-Embarrassment
soalnya bapa ane ngeliat temennya yang sekarang malah jadi konsultan lingkungan & denger denger sesepuh detik.com juga lulusan tek. nuklir ya emoticon-Malu?
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
15-04-2011 23:37
Quote:Original Posted By fluberman
Perbedaan antara kecelakaan di Chernobyl dengan Fukushima.

  • Status reaktor

    • Chernobyl: ketika kecelakaan terjadi reaktor masih beroperasi (meskipun pada daya rendah), dengan demikian reaksi fisi masih berlangsung dan masih dijumpai neutron.
    • Fukushima: ketika terjadi kecelakaan, reaktor telah padam akibat sensor gempa memicu sistem proteksi untuk memasukkan batang kendali ke dalam reaktor. Kecelakaan terjadi setelah selang waktu berjam-jam semenjak reaktor padam. Neutron yang memicu terjadinya reaksi fisi sudah tidak ada.



  • Koefisien umpan balik reaktivitas

    • Chernobyl: reaktor mempunyai void reactivity coefficient yang positif pada daya rendah, sehingga pengurangan densitas pendingin (akibat naiknya suhu pendingin) atau berkurangnya volume pendingin justru akan mengakibatkan semakin bertambahnya reaksi fisi. Semakin banyak reaksi fisi, semakin naik pula suhu bahan bakar dan suhu pendingin. Suhu pendingin naik, reaksi bertambah lagi, demikian seterusnya.
    • Fukushima: void reactivity coefficient bernilai negatif sehingga berkurangnya densitas pendingin akan mengurangi terjadinya reaksi fisi.



  • Lokasi ledakan

    • Chernobyl: ledakan terjadi di dalam teras.
    • Fukushima: ledakan terjadi di luar teras.



  • Ketersediaan pengungkung

    • Chernobyl: tidak ada pengungkung sehingga ledakan dari dalam teras langsung “memuntahkan” isi teras reaktor.

    • Fukushima: pengungkung masih berfungsi (unit 1 dan 3), kemungkinan rusak di unit 2. Akan tetapi kolam bahan bakar bekas terekspose ke atmosfer (unit 1, 3 dan 4).



  • Kebakaran

    • Chernobyl: grafit (yang bertindak sebagai moderator atau pemerlambat neutron) terbakar. Sumber kebakaran berasal dari dalam teras reaktor. Akibatnya kebakaran berlangsung lama dan menyebar ke lebih dari 30 lokasi. Pelepasan material radioaktif ke atmosfer dibantu dengan adanya asap dari kebakaran.

    • Fukushima: kebakaran yang terjadi di unit 3 dan 4 dapat dipadamkan dalam waktu singkat. Sumber kebakaran berada di luar reaktor. Ledakan di unit 1, 2 dan 3 berasal dari detonation hidrogen yang bersifat lokal.



  • Pelepasan bahan radioaktif

    • Chernobyl: 60-80% bahan bakar dilepaskan dari tangki reaktor, 6-7 ton produk fisi dilepaskan (0,6-1 ton berada di sekitar lokasi PLTN, 3-5 ton terdeposit dalam radius 20 km dan 2-3 ton terdeposit lebih jauh lagi).
    • Fukushima: pelepasan material radioaktif berupa produk fisi berupa gas dan partikulat (dalam hal ini hanya I-131 dan Cs-137) yang lolos dari bahan bakar akibat kerusakan selongsong atau (mungkin) melelehnya bahan bakar. Bahan bakar masih tetap berada di dalam reaktor.



  • Korban jiwa

    • Chernobyl: sekitar 30 orang meninggal ketika terjadi ledakan (baik itu akibat ledakan maupun terkena radiasi) dan sekitar 20 orang meninggal karena kanker akibat radiasi tingkat tinggi. Publik juga menerima paparan radiasi tinggi akibat menyebarnya I-131 akibat kebakaran reaktor (dan diperparah oleh respons pemerintah dalam menangani kondisi darurat).
    • Fukushima: sampai dengan hari ini tidak ada orang yang meninggal akibat ledakan ataupun paparan radiasi tingkat tinggi. Dua pekerja diketemukan meninggal akibat gempa/tsunami, bukan akibat kecelakaan reaktor. Tidak ada pekerja yang terkena radiasi di atas 250 mSv. Publik juga tidak ada yang terkena paparan radiasi tingkat tinggi.



Sekarang kita lihat apa itu skala INES. Skala INES adalah suatu ukuran yang dibuat oleh IAEA untuk mengetahui dampak terhadap keselamatan dari suatu kejadian pada sebuah fasilitas nuklir. Skala ini mempunyai rentang dari 0 (tidak ada pengaruh terhadap keselamatan secara signifikan) sampai dengan 7 (kecelakaan besar). Setiap naik satu level, dampak yang dihasilkan adalah 10 kali lebih besar. Artinya level 5 adalah sepuluh kali lebih besar dampaknya terhadap keselamatan daripada level 4. Dan sebaliknya, level 5 adalah seratus kali lebih kecil dampaknya daripada level 7.

Untuk menentukan level INES, ada 3 kriteria yang harus dikaji dan masing-masing kriteria mempunyai nilai minimum dan maksimum. Nilai tertinggi dari ketiga kriteria tersebut yang dijadikan nilai akhir. Misalnya kriteria A level 5, kriteria B skala 4 dan kriteria C skala 3, maka kecelakaan yang terjadi dikategorikan ke dalam level 5. Kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kriteria A: dampak terhadap orang dan lingkungan (level 2 sampai 7)

  • Kriteria B: dampak terhadap pelindung radiasi, misal gedung, pengungkung (level 2 sampai 5)

  • Kriteria C: dampak terhadap pertahanan berlapis, misal adanya sistem cadangan, redundansi (level 1 sampai 3)


Sekarang mari kita lihat rapor Fukushima per 18 Maret:

  • Unit 1, 2 dan 3

    • Kriteria A : belum ditentukan karena pelepasan radioaktif masih berlangsung

    • Kriteria B : 5

    • Kriteria C : 3



  • Unit 4

    • Kriteria A : belum ditentukan karena pelepasan radioaktif masih berlangsung

    • Kriteria B : belum ditentukan

    • Kriteria C : 3




Dari rapor tersebut di atas maka unit 1, 2 dan 3 memperoleh level 5, sementara unit 4 memperoleh level 3.

Yang dilakukan oleh NISA dan NSC sehingga menaikkan sampai ke level 7 pada tanggal 12 April adalah karena melakukan re-assesment terhadap kriteria A.

Re-assessment dilakukan terhadap pelepasan AKUMULATIF dari SEMUA unit, bukan lagi unit per unit, mengingat pelepasan bahan radioaktif sulit ditentukan sumbernya dari unit mana ketika dilakukan perhitungan mundur.


Dari perhitungan mundur diperkirakan bahwa pelepasan ekivalen I-131 akumulatif sebesar 370 ribu TBq (menurut NISA) dan 630 ribu TBq (menurut NSC). Perhitungan berdasar pelepasan I-131 dan Cs-137 (ekivalen I-131 dengan faktor pengali 40).

Dari "INES User's Manual" bisa kita lihat bahwa level 7 didefinisikan sebagai:

“An event resulting in an environmental release corresponding to a quantity of radioactivity radiologically equivalent to a release to the atmosphere of more than several tens of thousands of terabecquerels of I-131.”,

dan ambang batas yang dipakai adalah 50 ribu TBq. Begitu nilai ini tercapai, maka suatu kejadian langsung masuk ke level 7.

Kalau di Chernobyl, release I-131 dan Cs-137 adalah 5200 ribu TBq ekivalen. Itu belum memperhitungkan release produk fisi yang lain dan juga Pu-239 (faktor pengali 10.000) serta aktinida lain.

Karena level maksimum INES adalah 7, ya tidak ada lagi yang bisa membedakan antara tingkat keparahan Fukushima dan Chernobyl JIKA hanya dilihat dari skala INES saja. Oleh karena itu perlu indikator lain untuk melakukan perbandingan, semisal direct or indirect fatalities, paparan aktual ke pekerja dan publik, cancer risks, dsb, seperti yang diuraikan di atas. Seandainya skala INES itu lebih dari 7, mungkin Fukushima masuk level 7 sementara Chernobyl level 8 atau 9.


kalo menurut bapak., cancer risk untuk fukushima gimana ya pak ?? emoticon-Bingung (S)
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
16-04-2011 01:55
Quote:Original Posted By fathonezic
kalo menurut bapak., cancer risk untuk fukushima gimana ya pak ?? emoticon-Bingung (S)


Jika melihat data radioaktivitas lingkungan, menurut saya cancer risk yang ditimbulkan dari pelepasan material radioaktif sangat sangat kecil.

Dalam radius 20 km yang merupakan zona evakuasi, besarnya dosis rata-rata adalah 2 micro sievert per jam. Jika seseorang berada di daerah ini selama satu tahun (di luar ruangan, tidak berpindah-pindah, anggap dosis tidak menurun akibat peluruhan) maka dosis yang diterima sebesar 2 uSv/jam x 24 jam/hari x 365 hari/tahun = 17.520 uSv/tahun atau 17,52 mili sievert per tahun. Nilai sebesar ini tidak akan memberikan efek apapun ataupun meningkatkan cancer risk. Ingat, karena sifat peluruhan bahan radioaktif, maka dosis akumulatif per tahun akan lebih rendah daripada nilai di atas. Sebagai perbandingan, batas maksimal dosis radiasi yang boleh diterima oleh pekerja nuklir adalah 50 mili sievert per tahun. Di bawah 200 mili sievert tidak ada pengaruh apapun.

Penjelasan mengenai dosis radiasi ini bisa dilihat di:
http://www.mext.go.jp/english/topics...03717_01_1.pdf
http://www.mext.go.jp/english/topics...03717_02_1.pdf

Jika tertarik dengan efek radiologis kecelakaan Chernobyl, ada laporan khusus yang dirilis oleh UNSCEAR (United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation):
http://www.unscear.org/unscear/en/chernobyl.html
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
16-04-2011 20:48
Quote:Original Posted By fluberman
Jika melihat data radioaktivitas lingkungan, menurut saya cancer risk yang ditimbulkan dari pelepasan material radioaktif sangat sangat kecil.

Dalam radius 20 km yang merupakan zona evakuasi, besarnya dosis rata-rata adalah 2 micro sievert per jam. Jika seseorang berada di daerah ini selama satu tahun (di luar ruangan, tidak berpindah-pindah, anggap dosis tidak menurun akibat peluruhan) maka dosis yang diterima sebesar 2 uSv/jam x 24 jam/hari x 365 hari/tahun = 17.520 uSv/tahun atau 17,52 mili sievert per tahun. Nilai sebesar ini tidak akan memberikan efek apapun ataupun meningkatkan cancer risk. Ingat, karena sifat peluruhan bahan radioaktif, maka dosis akumulatif per tahun akan lebih rendah daripada nilai di atas. Sebagai perbandingan, batas maksimal dosis radiasi yang boleh diterima oleh pekerja nuklir adalah 50 mili sievert per tahun. Di bawah 200 mili sievert tidak ada pengaruh apapun.

Penjelasan mengenai dosis radiasi ini bisa dilihat di:
http://www.mext.go.jp/english/topics...03717_01_1.pdf
http://www.mext.go.jp/english/topics...03717_02_1.pdf

Jika tertarik dengan efek radiologis kecelakaan Chernobyl, ada laporan khusus yang dirilis oleh UNSCEAR (United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation):
http://www.unscear.org/unscear/en/chernobyl.html


pak, kenapa standar buat yang kerja di PLTN dengan masyarakat biasa dibedakan tingkat radiasi yg diterima ?? sampai sekarang, saya masih bingung.
sebagai contoh, radiasi maksimal yang dapat diterima masyarakat adalah "a". artinya, kalo radiasi yg diterima setahun lebih besar dari "a", maka hal itu dinilai berbahaya. tapi mengapa standar pegawai PLTN berbeda ? misalnya nilainya "b". dimana "b" nilainya lebih besar dari "a"
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
16-04-2011 22:23
Quote:Original Posted By fathonezic
pak, kenapa standar buat yang kerja di PLTN dengan masyarakat biasa dibedakan tingkat radiasi yg diterima ?? sampai sekarang, saya masih bingung.
sebagai contoh, radiasi maksimal yang dapat diterima masyarakat adalah "a". artinya, kalo radiasi yg diterima setahun lebih besar dari "a", maka hal itu dinilai berbahaya. tapi mengapa standar pegawai PLTN berbeda ? misalnya nilainya "b". dimana "b" nilainya lebih besar dari "a"


Terima kasih untuk pertanyaannya. Ini memang sangat menarik untuk dibahas agar masyarakat awam juga lebih mengetahuinya.


Ada tiga prinsip dasar dalam proteksi terhadap radiasi untuk melindungi manusia baik itu pekerja nuklir maupun publik:
  1. Justifikasi
    Justifikasi menyatakan bahwa TIDAK BOLEH ada paparan radiasi kepada manusia kecuali jika ada alasan yang membenarkannya. Atau dengan kata yang lebih mudah dicerna, "manfaat radiasi nuklir harus lebih besar daripada mudharat yang ditimbulkannya".

  2. Optimasi
    Optimasi terkait dengan kegiatan, proses atau metode yang digunakan agar sistem proteksi mereduksi resiko radiasi SEMINIMAL mungkin baik itu terhadap publik maupun pekerja dengan memperhitungkan faktor teknis, ekonomis dan sosial. Terkait dengan prinsip optimasi ini, dalam kegiatan terkait nuklir sering dikenal istilah ALARA atau As Low As Reasonably Achievable. Secara ideal, tidak boleh ada paparan radiasi (lihat prinsip justifikasi di atas), tetapi seandainya mau tidak mau ada paparan radiasi, maka jumlahnya harus seminimal mungkin.

  3. Limitasi
    Dari prinsip optimasi, paparan radiasi harus seminimal mungkin. Secara kuantitatif berapa? Nah, ini yang menjadi prinsip yang ketiga. Limitasi menyatakan bahwa dosis efektif terhadap individu harus DIBATASI sesuai dengan ambang dosis yang direkomendasikan, sehingga paparan radiasi yang mengenai manusia tidak memberikan efek apapun baik itu yang bersifat deterministik (seperti rusaknya sel darah merah, gonad) maupun yang bersifat probabilistik (misal resiko timbulnya kanker).


Berdasarkan ketiga prinsip dasar tersebut kemudian ditentukan batas dosis maksimal untuk publik maupun pekerja nuklir.

Pekerja nuklir karena sifat pekerjaannya tentunya mempunyai potensi untuk mendapatkan paparan radiasi yang lebih tinggi daripada publik yang tidak bekerja dengan nuklir. Oleh karenanya, dijustifikasi dosis maksimal untuk pekerja nuklir boleh lebih tinggi daripada publik. Atau kalau dilihat dari sudut pandang yang berbeda, publik karena tidak bekerja dengan nuklir dijustifikasi untuk tidak mendapatkan dosis yang lebih tinggi daripada pekerja nuklir. Nah, selanjutnya berdasarkan prinsip optimasi dan limitasi, ditetapkan bahwa batas maksimum untuk publik sebesar 1 mSv per tahun dan untuk pekerja nuklir sebesar 50 mSv per tahun. Nilai ini masih jauh di bawah batas terjadinya efek deterministik yang dapat diamati, yaitu sebesar 500 mSv. Adanya batas maksimal untuk publik yang sangat rendah ini membuat PLTN didesain dengan berbagai lapis pertahanan agar radiasi tingkat tinggi tidak keluar dari PLTN. Target untuk operasi normal PLTN adalah 0,05 mSv per tahun di sekitar lokasi PLTN.

Mudah-mudahan bisa menjawab rasa penasaran mengenai mengapa ada dua standar dosis maksimum yang berbeda. Bukan berarti pekerja di PLTN lebih tahan terhadap radiasi daripada masyarakat umum, tapi terutama karena adanya prinsip justifikasi.

Ada dua hal lagi yang ingin saya tekankan:
  1. Batas maksimum untuk pekerja nuklir adalah 50 mSv per tahun, akan tetapi dalam kenyataannya nilai ini jarang (atau tidak pernah?) tercapai, selalu lebih rendah dari itu. Saat ini saya belum bisa menampilkan berapa nilai rata-rata dosis radiasi yang diterima oleh pekerja di PLTN, nanti kalau saya ketemu datanya akan saya tambahkan.
  2. Batas maksimum untuk publik adalah 1 mSv per tahun. Nilai ini jauh lebih rendah daripada batas dosis minimum yang dapat minimbulkan efek bagi kesehatan. Nilai batas untuk publik ini memang dibuat sangat rendah dengan tujuan semata-mata untuk melindungi publik. Akan tetapi sering kali nilai rendah ini disalahtafsirkan. Seperti yang penanya utarakan, sering kali orang berpendapat jika nilai batas maksimum sebesar 1 mSv per tahun ini dilewati, jelas langsung akan membahayakan kesehatan. Kenyataannya tidak demikian. Toh kalaupun naiknya sampai 50 kali alias sebesar 50 mSv per tahun (sama seperti batas untuk pekerja nuklir) atau 100 kali, masih tidak ada efek apapun, karena nilai batas untuk publik memang sangat kecil.
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
16-04-2011 23:48
Quote:Original Posted By fluberman
Terima kasih untuk pertanyaannya. Ini memang sangat menarik untuk dibahas agar masyarakat awam juga lebih mengetahuinya.


Ada tiga prinsip dasar dalam proteksi terhadap radiasi untuk melindungi manusia baik itu pekerja nuklir maupun publik:
  1. Justifikasi
    Justifikasi menyatakan bahwa TIDAK BOLEH ada paparan radiasi kepada manusia kecuali jika ada alasan yang membenarkannya. Atau dengan kata yang lebih mudah dicerna, "manfaat radiasi nuklir harus lebih besar daripada mudharat yang ditimbulkannya".

  2. Optimasi
    Optimasi terkait dengan kegiatan, proses atau metode yang digunakan agar sistem proteksi mereduksi resiko radiasi SEMINIMAL mungkin baik itu terhadap publik maupun pekerja dengan memperhitungkan faktor teknis, ekonomis dan sosial. Terkait dengan prinsip optimasi ini, dalam kegiatan terkait nuklir sering dikenal istilah ALARA atau As Low As Reasonably Achievable. Secara ideal, tidak boleh ada paparan radiasi (lihat prinsip justifikasi di atas), tetapi seandainya mau tidak mau ada paparan radiasi, maka jumlahnya harus seminimal mungkin.

  3. Limitasi
    Dari prinsip optimasi, paparan radiasi harus seminimal mungkin. Secara kuantitatif berapa? Nah, ini yang menjadi prinsip yang ketiga. Limitasi menyatakan bahwa dosis efektif terhadap individu harus DIBATASI sesuai dengan ambang dosis yang direkomendasikan, sehingga paparan radiasi yang mengenai manusia tidak memberikan efek apapun baik itu yang bersifat deterministik (seperti rusaknya sel darah merah, gonad) maupun yang bersifat probabilistik (misal resiko timbulnya kanker).


Berdasarkan ketiga prinsip dasar tersebut kemudian ditentukan batas dosis maksimal untuk publik maupun pekerja nuklir.

Pekerja nuklir karena sifat pekerjaannya tentunya mempunyai potensi untuk mendapatkan paparan radiasi yang lebih tinggi daripada publik yang tidak bekerja dengan nuklir. Oleh karenanya, dijustifikasi dosis maksimal untuk pekerja nuklir boleh lebih tinggi daripada publik. Atau kalau dilihat dari sudut pandang yang berbeda, publik karena tidak bekerja dengan nuklir dijustifikasi untuk tidak mendapatkan dosis yang lebih tinggi daripada pekerja nuklir. Nah, selanjutnya berdasarkan prinsip optimasi dan limitasi, ditetapkan bahwa batas maksimum untuk publik sebesar 1 mSv per tahun dan untuk pekerja nuklir sebesar 50 mSv per tahun. Nilai ini masih jauh di bawah batas terjadinya efek deterministik yang dapat diamati, yaitu sebesar 500 mSv. Adanya batas maksimal untuk publik yang sangat rendah ini membuat PLTN didesain dengan berbagai lapis pertahanan agar radiasi tingkat tinggi tidak keluar dari PLTN. Target untuk operasi normal PLTN adalah 0,05 mSv per tahun di sekitar lokasi PLTN.

Mudah-mudahan bisa menjawab rasa penasaran mengenai mengapa ada dua standar dosis maksimum yang berbeda. Bukan berarti pekerja di PLTN lebih tahan terhadap radiasi daripada masyarakat umum, tapi terutama karena adanya prinsip justifikasi.

Ada dua hal lagi yang ingin saya tekankan:
  1. Batas maksimum untuk pekerja nuklir adalah 50 mSv per tahun, akan tetapi dalam kenyataannya nilai ini jarang (atau tidak pernah?) tercapai, selalu lebih rendah dari itu. Saat ini saya belum bisa menampilkan berapa nilai rata-rata dosis radiasi yang diterima oleh pekerja di PLTN, nanti kalau saya ketemu datanya akan saya tambahkan.
  2. Batas maksimum untuk publik adalah 1 mSv per tahun. Nilai ini jauh lebih rendah daripada batas dosis minimum yang dapat minimbulkan efek bagi kesehatan. Nilai batas untuk publik ini memang dibuat sangat rendah dengan tujuan semata-mata untuk melindungi publik. Akan tetapi sering kali nilai rendah ini disalahtafsirkan. Seperti yang penanya utarakan, sering kali orang berpendapat jika nilai batas maksimum sebesar 1 mSv per tahun ini dilewati, jelas langsung akan membahayakan kesehatan. Kenyataannya tidak demikian. Toh kalaupun naiknya sampai 50 kali alias sebesar 50 mSv per tahun (sama seperti batas untuk pekerja nuklir) atau 100 kali, masih tidak ada efek apapun, karena nilai batas untuk publik memang sangat kecil.


2 kali saya membaca sampai akhirnya sedikit mengerti emoticon-Peace
berarti, standar batas manusia umum itu untuk keperluan desain PLTN juga ya pak ?? dan juga sebagai penanda kebocora. sebagai misal, kalo ternyata masyarakat umum kok mendapat paparan 50 mSv itu artinya bisa jadi indikasi awal adanya kebocoran.....

kemudian, kalo pekerja PLTN sangat wajar lebih tinggi, karena dia sendiri berada di dalam PLTN atau di dalam pengungkungnya ketika bekerja. namun tetap ada batasan untuk perhitungan safety...

apa benar begitu menurut pemahaman saya, pak ?

oiya pak....
maaf pak, saya mau nanya lagi soal pengayaan. hehe
sebenernya, yang dimaksud pengayaan bahan bakar sebelum dimasukkan PLTN seperti apa ?? soalnya, ketika sudah didalam PLTN, bukankah dikayakan lagi ?? namun hanya 3% ??
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
17-04-2011 09:13
Quote:Original Posted By fathonezic

oiya pak....
maaf pak, saya mau nanya lagi soal pengayaan. hehe
sebenernya, yang dimaksud pengayaan bahan bakar sebelum dimasukkan PLTN seperti apa ?? soalnya, ketika sudah didalam PLTN, bukankah dikayakan lagi ?? namun hanya 3% ??


udah baca ini mas? Depleted Uranium dan ini Pengkayaan Uranium
atau ada yang masih ditanyakan dari penjelasan di situ?
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
17-04-2011 13:21
Quote:Original Posted By janarko
udah baca ini mas? Depleted Uranium dan ini Pengkayaan Uranium
atau ada yang masih ditanyakan dari penjelasan di situ?


weh, belum, coba ane baca dulu. emoticon-Big Grin
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
17-04-2011 14:22
Quote:Original Posted By fathonezic
2 kali saya membaca sampai akhirnya sedikit mengerti emoticon-Peace


Waduh, sampai dua kali baca... berarti jawaban saya tidak terlalu jelas ya...

Di awal-awal jawaban saya menuliskan pekerja nuklir. Yang dimaksud pekerja nuklir adalah orang yang jenis pekerjaannya terkait dengan aktivitas nuklir dan selama melakukan pekerjaannya dia berpotensi untuk terpapar radiasi. Dengan demikian pengertian pekerja nuklir tidak hanya orang yang bekerja di PLTN saja, tetapi juga para operator sinar X dan CT-scan di rumah sakit, operator gamma/neutron log di perusahaan minyak, pekerja tambang uranium, pekerja di pabrik pengkayaan, laboran di laboratorium nuklir (termasuk di teknik fisika UGM.. emoticon-Big Grin) Pemberian batas sebesar 50 mSv per tahun tentunya bertujuan untuk melindungi para pekerja.

Publik, tentu saja adalah orang yang pekerjaannya tidak terkait dengan aktivitas nuklir. Akan tetapi karena ada aktivitas terkait nuklir (PLTN, unit radiologi/kedokteran nuklir di rumah sakit, dsb), bisa saja publik terkena paparan radiasi TAMBAHAN, dan paparan radiasi tambahan tersebut harus ditekan seminimal mungkin. Mengapa saya katakan paparan radiasi TAMBAHAN? Karena kita semua setiap saat terkena paparan radiasi alami. Paparan radiasi tambahan ini diset sangat rendah (yaitu 1 mSv per tahun) sehingga nilainya kira-kira setara dengan besarnya paparan radiasi alami (karena diketahui paparan radiasi alami jelas tidak memberi efek apapun). Sebagai contoh, paparan radiasi alami di Jepang sekitar 2,4 mSv per tahun, di Itali sekitar 4 mSv per tahun dan di Finlandia sekitar 8 mSv per tahun. Berdasarkan laporan UNSCEAR, rata-rata paparan radiasi alami di dunia sebesar 2,5 mSv per tahun dengan rentang antara 1 s.d. 10 mSv per tahun.

Quote:Original Posted By fathonezic

berarti, standar batas manusia umum itu untuk keperluan desain PLTN juga ya pak ??

Tidak hanya untuk desain PLTN tetapi juga untuk semua aktivitas terkait nuklir yang lain, misal bagaimana desain ruang radiologi di rumah sakit sehingga orang-orang yang berada di luar ruang tersebut terkena paparan radiasi yang minimal, bagaimana desain limbah radioaktif dari unit kedokteran nuklir dan laboratorium, dsb.

Untuk desain PLTN, standarnya justru diperketat sehingga paparan radiasi ke publik dibuat sangat kecil, yaitu 0,05 mSv per tahun.



Quote:Original Posted By fathonezic
dan juga sebagai penanda kebocora. sebagai misal, kalo ternyata masyarakat umum kok mendapat paparan 50 mSv itu artinya bisa jadi indikasi awal adanya kebocoran.....


Di sekitar fasilitas nuklir yang mempunyai tingkat radioaktivitas tinggi seperti di PLTN, reaktor-reaktor riset seperti di Serpong, Bandung dan Yogya, selalu ada pemantauan rutin radioaktivitas lingkungan. Ini yang menjadi acuan dasar. Seandainya ada anomali dari acuan dasar tersebut (tidak perlu menunggu sampai ekstrem seperti yang kamu contohkan), maka perlu diselidiki, apakah sumber kenaikan tingkat radioaktivitas berasal dari kebocoran reaktor ataukah dari sumber-sumber lain (misal gunung Merapi meletus sehingga menambah jumlah gas radon di udara).


Quote:Original Posted By fathonezic


kemudian, kalo pekerja PLTN sangat wajar lebih tinggi, karena dia sendiri berada di dalam PLTN atau di dalam pengungkungnya ketika bekerja. namun tetap ada batasan untuk perhitungan safety...

apa benar begitu menurut pemahaman saya, pak ?


Yes.



Quote:Original Posted By fathonezic

oiya pak....
maaf pak, saya mau nanya lagi soal pengayaan. hehe
sebenernya, yang dimaksud pengayaan bahan bakar sebelum dimasukkan PLTN seperti apa ?? soalnya, ketika sudah didalam PLTN, bukankah dikayakan lagi ?? namun hanya 3% ??

Quote:Original Posted By janarko
udah baca ini mas? Depleted Uranium dan ini Pengkayaan Uranium
atau ada yang masih ditanyakan dari penjelasan di situ?



Idem, baca dulu kedua penjelasan tersebut, kalau ada yang belum jelas bisa ditanyakan...
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
03-05-2011 15:29
gan teknologi untuk mengolah limbah hasil pengayaan uranium ada ga ya? pake apa? heheh . mohon pencerahannya emoticon-Angkat Beer
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
04-05-2011 09:44
Quote:Original Posted By Ziege21
gan teknologi untuk mengolah limbah hasil pengayaan uranium ada ga ya? pake apa? heheh . mohon pencerahannya emoticon-Angkat Beer


udah baca ini gan? Depleted Uranium

yang ane pahami, "sisa" dari pengkayaan uranium itu adalah depleted uranium, atau uranium yang dipermiskinkan. klo uranium yang diperkaya (enriched uranium) akan digunakan sebagai bahan baku PLTN, nah, klo depleted uranium ini bisa digunakan sebagai perisai tank, body senjata, dsb karena massa jenisnya yang tinggi.

apakah depleted uranium berbahaya?
karena kandungan U-235 pada depleted uranium sangat sedikit, maka aktivitas radioaktifnya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari Uranium alam.
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 12
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
16-05-2011 01:57
waa kakak angkatan emoticon-Belo
hormat dulu emoticon-army:
nice share emoticon-thumbsup:
kalo perlu diktat sama bahan kuliah upload semua di sini emoticon-Malu


kabur ah emoticon-Ngacir
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
18-05-2011 13:13
Quote:Original Posted By justnaa
waa kakak angkatan emoticon-Belo
hormat dulu emoticon-army:
nice share emoticon-thumbsup:
kalo perlu diktat sama bahan kuliah upload semua di sini emoticon-Malu


kabur ah emoticon-Ngacir


hahaha emoticon-Ngakak

ide yang bagus tuh emoticon-Big Grin
0 0
0
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir
03-06-2011 11:39
Quote:Original Posted By Zulhanifa
bahasanya dudah dicerna gan, enak dibaca, tp orang2 kita tuh punya budaya gini, misal neh mo beli laptop, pikiran sblm beli adalah kalo rusak bagaimana, onderdilnya murah engga, dll, itu blm beli lho..blm ngerasain manfaatnya jg loh, keknya dah membudaya tuh, dan masyarakat kita condong utk nguri uri kabudayan hehehe.. Ane pribadi lebih mendukung Pltn sesegera mungkin, kalo perlu empang ane, ane sewain gan.. Merdeka..
Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir

itu salah satu penyebab knp kita ga pernah maju-maju.

belum berbuat dah mikirnya negatif semua emoticon-Big Grin
0 0
0
Halaman 27 dari 42
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Hewan Peliharaan
meuza-kucing-pelor
Hewan Peliharaan
my-lovebird-rainbow
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia