News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1255
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000007296921/share-pengetahuan-anda-tentang-g30s-pki-disini
Sepertinya seluruh masyarakat dan mungkin dunia tau setidak tidak nya pernah mendengar tentang PKI atau (partai Komunis Indonesia). Memasuki bulan september ini,pasti ada satu tragedi yang menjadi satu lembaran hitam di indonesia,yaitu g30s/PKI. Untuk awalnya kita perdalam pengetahuan kita tentang PKI : Latar Belakang : Partai ini didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet pad
Lapor Hansip
03-09-2010 04:39

Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....

Sepertinya seluruh masyarakat dan mungkin dunia tau setidak tidak nya pernah mendengar tentang PKI atau (partai Komunis Indonesia).

Memasuki bulan september ini,pasti ada satu tragedi yang menjadi satu lembaran hitam di indonesia,yaitu g30s/PKI.

Untuk awalnya kita perdalam pengetahuan kita tentang PKI :

Latar Belakang :

Partai ini didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet pada 1914, dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) (atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Keanggotaan awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda.

Pada Oktober 101 SM ISDV mulai aktif dalam penerbitan dalam bahasa Belanda, "Het Vrije Woord" (Kata yang Merdeka). Editornya adalah Adolf Baars.
Pada saat pembentukannya, ISDV tidak menuntut kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, ISDV mempunyai sekitar 100 orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi Indonesia.

Namun demikian, partai ini dengan cepat berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. Di bawah pimpinan Sneevliet partai ini merasa tidak puas dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang menjauhkan diri dari ISDV. Pada 1917, kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri dan membentuk partainya sendiri, yaitu Partai Demokrat Sosial Hindia.


Pada 1917 ISDV mengeluarkan penerbitannya sendiri dalam bahasa Melayu, "Soeara Merdeka".

Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober seperti yang terjadi di Rusia harus diikuti Indonesia. Kelompok ini berhasil mendapatkan pengikut di antara tentara-tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda. Dibentuklah "Pengawal Merah" dan dalam waktu tiga bulan jumlah mereka telah mencapai 3.000 orang. Pada akhir 1917, para tentara dan pelaut itu memberontak di Surabaya, sebuah pangkalan angkatan laut utama di Indonesia saat itu, dan membentuk sebuah dewan soviet. Para penguasa kolonial menindas dewan-dewan soviet di Surabaya dan ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di kalangan militer Belanda dijatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun.

ISDV terus melakukan kegiatannya, meskipun dengan cara bergerak di bawah tanah. Organisasi ini kemudian menerbitkan sebuah terbitan yang lain, Soeara Ra’jat. Setelah sejumlah kader Belanda dikeluarkan dengan paksa, ditambah dengan pekerjaan di kalangan Sarekat Islam, keanggotaan organisasi ini pun mulai berubah dari mayoritas warga Belanda menjadi mayoritas orang Indonesia.




P.s Seluruh data di atas di dapat dari wikipedia

Mari kita ulas lebih lanjut


Sebagai seorang awam,jujur saja saya sering bingung antar perbedaan antara komunis dan atheist.

Ideologi Komunis adalah :

Ideologi adalah Ideologi adalah cita-cita dan pandangan-pandangan yang menyatakan kepentingan-kepentingan suatu klas.

sedangkan Komunis sendiri adalah penganut paham yang di ciptakan oleh karl marx dan friedrich engels,dengan buku panduan mereka Manifest der Kommunistischen.

Komunis adalah kebalikan dari kapitalisme,komunisme = anti kapitalisme,Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal atas individu.

pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata akan tetapi dalam kenyataannya hanya dikelolah serta menguntungkan para elit partai, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistim demokrasi keterwakilan yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana terdapat pada paham liberalisme.

Secara umum komunisme berlandasan pada teori Dialektika materi oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan agama dengan demikian pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa "agama dianggap candu" yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi).

Sekarang bisa di mengerti kan perbedaan antara atheisme dan komunisme?

dalam atheisme kita tidak mengenal dan tidak mempercayai akan adanya Tuhan,sedang dalam komunisme kita mengetahu ada nya Tuhan tapi kita tidak memegang prinsip agama dalam hidup kita.

Terbentuk PKI :

Pembentukan Partai Komunis
Pada awalnya PKI adalah gerakan yang berasimilasi ke dalam Sarekat Islam. Keadaan yang semakin parah dimana ada perselisihan antara para anggotanya, terutama di Semarang dan Yogyakarta membuat Sarekat Islam melaksanakan disiplin partai.

Yakni melarang anggotanya mendapat gelar ganda di kancah perjuangan pergerakan indonesia. Keputusan tersebut tentu saja membuat para anggota yang beraliran komunis kesal dan keluar dari partai dan membentuk partai baru yang disebut ISDV. Pada Kongres ISDV di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia. Semaoen diangkat sebagai ketua partai.


PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Henk Sneevliet mewakili partai ini pada kongresnya kedua Komunis Internasional pada 1920.
Pada 1924 nama partai ini sekali lagi diubah, kali ini adalah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Cukup dengan pelajaran singkat tentang PKI dan ideologi nya,sekarang masuk ke pembahasan utama.

Yaitu.....


Pembantaian Simpatisan PKI di Bali dan Jawa.


Bali bulan November tahun 1965 adalah masa masa awal pembantaian terbesar abad 20. Bahkan tidak ditemukan proporsi yang lebih tajam dari pembantaian ini sepanjang sejarah bangsa Indonesia atau bahkan Asia Tenggara. Proporsi yang meliputi besarnya jumlah korban dalam kecilnya wilayah pulau Bali dan dalam tempo pembantaian yang sangat singkat.

Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah korban pembataian itu, khususnya di Bali yang memang secara proporsi paling besar. Perkiraan jumlah yang paling rendah adalah 40.000 dan tertinggi adalah 100.000. Soe Hok Gie memberikan angka 80.000 sebagai perkiraan yang paling konservatif. Pembantaian yang begitu besar itu terjadi hanya dalam kurun waktu minggu saja.

Pada pembataian etnis Tionghoa tahun 1740 oleh Belanda di Batavia hanya mencapai angka 10.000. Jumlah yang setara untuk korban pembataian adalah di Kamboja oleh tentara Khmer Merah pimpinan Pol Pot tetapi memakan waktu yang jauh lebih panjang dan menarik perhatian dunia.

Apa yang terjadi di Bali memang agak berbeda dengan di Jawa. Setelah G30S, di Jawa telah terjadi “pembekuan” terhadap segala hal yang berbau PKI sedangkan di Bali segala macam kegiatan PKI masih bisa berlangsung. Ini yang membuat lawan politik PKI geram dan mengorganisir “pembekuan” itu secara swadaya.

Kalau di Jawa perburuan terhadap simpatisan PKI dilakukan oleh tentara maka di Bali “tugas” tersebut lebih banyak dilakukan oleh warga sipil. Para warga sipil terutama dari partai lawan politik PKI yang secara sukarela menjadi algojo dikenal dengan nama Tameng. Para Tameng ini bertugas mencari informasi, mendata, mendaftar, memburu, menangkap dan membunuh para simpatisan PKI.

Pada ketentaraan tugas tugas tersebut biasanya dilakukan oleh kesatuan yang terpisah. Ketika daftar orang yang akan diburu telah disampaikan oleh kesatuan intelijen maka kesatuan buru sergap melakukan tugasnya dengan berkoordinasi dengan atasan mereka yang kemudian hasilnya diberikan kepada kesatuan eksekusi. Walaupun tidak selalu demikian tapi ada otoritas yang jelas.

Pada kelompok Tameng semua tugas dilakukan kebanyakan bukan oleh kesatuan terpisah. Mulai dari proses pendataan hingga pembataiannya banyak dilakukan sendiri. Satu satunya yang berhak melakukan validasi untuk orang yang terdaftar atau tidak adalah komandan Tameng. Jika komandan bilang bahwa seseorang layak masuk daftar maka anak buah akan melaksanakannya tanpa ragu ragu.

Sebelum pembataian terjadi memang masyarakat Bali pada waktu itu telah didera konflik yang berat meliputi konflik ekonomi, sosial dan politik. Konflik itu sesungguhnya memiliki akar sejarah yang sangat dalam yang meliputi persoalan aparatur pemerintahan negara, feodalisme kasta dan ego Puri. Konflik ideologi partai justru tidak terlalu menonjol.

Puri Puri di Bali memiliki rivalitas satu sama lain yang menyebabkan jika satu Puri menjadi simpatisan ideologi politik tertentu maka Puri rivalnya akan serta merta memihak ideologi politik yang berseberangan dengan rivalnya tanpa merasa perlu menelaah kecocokan visi politik.

Latar belakang konflik ini mewarnai pembataian. Konflik konflik dimasa lalu berperan penting menjadi faktor penentu apakah seseorang layak masuk daftar yang akan dibantai atau tidak. Prosesnyapun tidak memakan waktu lama. Bahkan ada yang secara adhoc alias dadakan, misalnya kelompok Tameng bertemu seseorang dijalan lalu ditangkap, dikonfirmasikan sebentar ke komandan Tameng, jika komandan Tameng setuju maka terjadilah pembataian.

Hampir tidak ada sama sekali verifikasi tentang apakah seseorang itu punya afiliasi dengan partai komunis atau tidak. Tidak ada jaminan aman dari pembantaian walaupun untuk seorang pejabat pemerintahan setingkat Gubernur sekalipun. AA Bagus Sutedja adalah gubernur Bali pada saat itu yang sangat setia dan dekat dengan Bung Karno.
0
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 65
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 04:40
Lawan lawan politik PKI senantiasa menaruh curiga pada orang orang yang menyatakan kesetiaan kepada Bung Karno walaupun tidak otomatis orang yang militan kepada Bung Karno adalah PKI. Sebagian dari mereka yang dibantai memang PKI tapi sebagian lagi tidak dapat divalidasi. Banyak dari mereka yang hanya jadi korban konspirasi.

Kalau Gubernur saja bisa menjadi korban konspirasi politik maka tidak ada lagi tempat yang aman bagi warga biasa. Tak terbayangkan suasana yang sangat menegangkan kala itu. Orang berlarian larian kesana kemari ditengah jalan. Pintu pintu rumah ditutup. Toko toko dan pasar tutup. Banyak desa yang sepi karena ditinggal penduduknya bersembunyi di hutan karena takut didatangi Tameng.

Sering kali terjadi salah tangkap dan salah bunuh hanya karena kemiripan wajah atau kemiripan nama. Tapi tidak jarang juga terjadi penangkapan atas dasar sentimen pribadi antara komandan Tameng dengan para musuhnya dimasa lalu.

Kelompok Tameng berpakaian hitam hitam bersenjatakan kelewang (samurai) dan beberapa bedil. Mereka datang untuk “menjemput” tidak perduli waktu pagi, siang atau malam. Pintu rumah didobrak, tangkapan diseret masuk kedalam truk yang sudah penuh dengan orang orang yang berwajah pucat pasi, disebuah ladang mereka dipenggal kemudian mayatnya didorong kedalam lubang kuburan masal.

Pernah terjadi buruan tak ditemukan lalu anggota keluarga yang lain dibawa sebagai gantinya. Bahkan ada komandan Tameng yang memanfaatkan mencari jodoh dengan cara memaafkan seorang calon korban asal bersedia menyerahkan adik perempuannya yang cantik sebagai istri komandan Tameng. Para Tameng sangat berkuasa kala itu. Ini disebabkan karena mereka mendapat legitimasi dari pemuka agama baik Hindu maupun Islam bahwa apa yang mereka lakukan adalah bukan dosa.

Adalah mudah memberi legitimasi bagi para pemuka agama itu karena ideologi komunis menafikan keberadaan Tuhan, paling tidak itulah yang dipahami oleh masyarakat Bali dikala itu. Disamping legitimasi pemuka agama diperparah juga oleh ketakutan atas militansi PKI dimasa sebelum G30S. Sebelum G30S terjadi, PKI sangat militan dengan berbagai show of force yang membuat lawan politiknya bergidik.

Berbagai lagu diciptakan untuk mengejek dan membangkitkan semangat. Parade, pawai dan provokasi yang berbau pembantaian disebar ke masyarakat. Mereka bersumpah jika PKI menang maka lawan lawan politik mereka akan dibantai habis habisan sampai ke anak cucu.

Propaganda PKI bukan gertak sambal karena pada pemberontakan PKI di Madiun pembantaian lawan politik oleh PKI benar benar dilakukan dengan keji. Jadi kengerian yang memiliki landasan trauma jika PKI menang maka habislah kita semua.

Semua aksi aksi itu menambah ketegangan politik yang memang sudah ada sejak lama. Kengerian yang begitu besar terhadap propaganda PKI ditambah dengan konflik konflik sebelumnya membuat pembantaian ini menjadi sangat radikal dibanding dengan pembataian di Jawa atau ditempat lain.

Bagi kita yang lahir belakangan dan tidak mengalami kejadian tersebut bisa dengan mudah membuat pertanyaan: “Walaupun komunis adalah ideologi yang terlarang di Indonesia tapi layakkah mereka dibantai?”. Sulit buat mereka yang menjadi saksi sejarah kejadian itu untuk menjawab secara gamblang.

Saya tidak ingin jadi orang yang pongah mengorek suatu peristiwa yang sangat delicate untuk diceritakan. Saya hanya bisa mendengar kesaksian para orang tua tentang kejadian itu dan berusaha menghayati suasana hati mereka mengarungi sejarah.

Belum lagi bagi para keluarga yang salah satu anggotanya menjadi korban pembataian. Bertahun tahun lamanya mereka hidup dalam diskriminasi dan tidak pernah menceritakan atau membahas tentang anggota keluarganya itu kecuali kepada sesamanya. Janda janda dan anak yatim bertebaran dimana mana. Banyak desa yang lengang karena sebagian penduduknya telah dibantai.
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 06:48
Quote:Bagi kita yang lahir belakangan dan tidak mengalami kejadian tersebut bisa dengan mudah membuat pertanyaan: “Walaupun komunis adalah ideologi yang terlarang di Indonesia tapi layakkah mereka dibantai?”. Sulit buat mereka yang menjadi saksi sejarah kejadian itu untuk menjawab secara gamblang.


Terlarang itupun karena ideologi komunis terlalu dikaitkan dengan atheis...dan atheis sangat tidak sesuai dengan masyarakat kita emoticon-Embarrassment

bisa dibuktikan...coba aja survei,, mungkin 80% penduduk indonesia akan mengkaitkan komunis dengan atheis...

klo untuk masalah G30S jika itu yg melakukannya partai sayap kanan,,saya rasa ideologi dari partai itu tidak akan dipermasalahkan atau dilarang sampai skr...

Quote:dalam atheisme kita tidak mengenal dan tidak mempercayai akan adanya Tuhan,sedang dalam komunisme kita mengetahu ada nya Tuhan tapi kita tidak memegang prinsip agama dalam hidup kita.


menurut saya...
ini lah yg secara tidak langsung membuat komunis terlarang emoticon-Smilie

bukan karena G30S PKI nya emoticon-Smilie

terkadang orang2 yg merasa sudah sangat berpegang teguh dengan prinsip2 agama itu kan suka menjudge orang lain salah emoticon-Big Grin
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 14:13
bencana dahsyat tahun 1965 lebih diartikan sebagai penggulingan bk oleh pak harto. kalau menurut ane si, meskipun ane pecinta berat bk, yang namanya kudeta, baik itu yang kasar/berdarah, halus/tersembunyi, atau pun merayap/crawling, merupakan hal biasa (ini netral aja, bebas dari penilaian baik atau buruk) dalam sistem kekuasaan yang belum memiliki mekanisme penggantian kekuasaan secara damai dan pasti (terutama lewat pemilu). siapa yang punya kesempatan kudeta, pasti melakukannya. selama mampu, bk pun melakukan berbagai trik untuk mempertahankan posisi dominannya, dan dia dengan bangga menyebut dirinya "dalang" politik indonesia di masa itu.

menurut ane, tragedi 1965 itu, yang merupakan salah tragedi terbesar di nusantara sepanjang sejarah, adalah terbantainya ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, orang secara sia-sia. kalau pun mereka anggota pki benaran, mereka (paling tidak sebagian besar) tidak ada urusan dengan kudeta, apalagi pembunuhan para jenderal. lagian yang membunuh para jenderal itu kan tentara juga (sebagian sukwan di lubang buaya ikut nyiksa, tapi tewasnya para jenderal dan seorang lettu itu akibat tembakan personil militer). sebagian besar korban adalah rakyat jelata yang bagi mereka urusan perebutan kekuataan terlalu mewah untuk dicerna.

bayangin, segitu banyak orang (termausk perempuan, bahkan anak-anak) terbantai begitu saja secara mengerikan (jenazahnya bahkan banyak yang ditelantarkan begitu saja). kebidaban pembantaian itu mungkin hanya "kalah" dari tragedi pembatantaian rakyat kamboja di masa pol pot. yang lebih sedih lagi, tragedi amuk massa (digerakkan) itu seolah-olah dibiarkan begitu saja. luka sejarah itu dibiarkan menganga.

kalau ditanya, apa itu pantas, jelas tidak. siapa pun mereka, siapa dan apa pun penggeraknya, jelas mereka tidak layak mati bagai hewan. kita semua punya tanggung jawab untuk mengobati luka sejarah ini.
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 18:14
lah katanya g 30s pki itu hanya akal2an pa harto aja buat nyingkirin jendral2 lainnya ?? jadi binggung saya ama sejarah bangsa ini yg bener yg mana, yg hoax yg mana emoticon-Confused: ada jg yg bilang Indonesia ga dijajah 350 thn ama blanda emoticon-Embarrassment
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 18:15
Quote:Original Posted By kualabanjar
bencana dahsyat tahun 1965 lebih diartikan sebagai penggulingan bk oleh pak harto. kalau menurut ane si, meskipun ane pecinta berat bk, yang namanya kudeta, baik itu yang kasar/berdarah, halus/tersembunyi, atau pun merayap/crawling, merupakan hal biasa (ini netral aja, bebas dari penilaian baik atau buruk) dalam sistem kekuasaan yang belum memiliki mekanisme penggantian kekuasaan secara damai dan pasti (terutama lewat pemilu). siapa yang punya kesempatan kudeta, pasti melakukannya. selama mampu, bk pun melakukan berbagai trik untuk mempertahankan posisi dominannya, dan dia dengan bangga menyebut dirinya "dalang" politik indonesia di masa itu.

menurut ane, tragedi 1965 itu, yang merupakan salah tragedi terbesar di nusantara sepanjang sejarah, adalah terbantainya ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, orang secara sia-sia. kalau pun mereka anggota pki benaran, mereka (paling tidak sebagian besar) tidak ada urusan dengan kudeta, apalagi pembunuhan para jenderal. lagian yang membunuh para jenderal itu kan tentara juga (sebagian sukwan di lubang buaya ikut nyiksa, tapi tewasnya para jenderal dan seorang lettu itu akibat tembakan personil militer). sebagian besar korban adalah rakyat jelata yang bagi mereka urusan perebutan kekuataan terlalu mewah untuk dicerna.

bayangin, segitu banyak orang (termausk perempuan, bahkan anak-anak) terbantai begitu saja secara mengerikan (jenazahnya bahkan banyak yang ditelantarkan begitu saja). kebidaban pembantaian itu mungkin hanya "kalah" dari tragedi pembatantaian rakyat kamboja di masa pol pot. yang lebih sedih lagi, tragedi amuk massa (digerakkan) itu seolah-olah dibiarkan begitu saja. luka sejarah itu dibiarkan menganga.

kalau ditanya, apa itu pantas, jelas tidak. siapa pun mereka, siapa dan apa pun penggeraknya, jelas mereka tidak layak mati bagai hewan. kita semua punya tanggung jawab untuk mengobati luka sejarah ini.



selama ini perkiraan pembantaian yang di lakukan terhadap simpatisan pki dengan perkiraan antara 40 rb sampai 100 rb..sementara soe hok gie memberikan estimasi pembantaian mencapai 80 rb..

bandingkan dengan pembantain khmer merah di kamboja yang "cuman" mencapai 10 rb jiwa...

tapi mengapa kasus indonesia ini tidak sampai mendapatkan perhatian yang besar dari dunia luar?(di komparasikan dengan pol pot)...itu adalah misteri dan sekarang hanya menjadi sejarah..


dugaan terhadap penyiksaan yang menimpa jendral indonesia,semuanya di bantah oleh dokter yang memfisum akan keadaan jendral..

Orang sering menjadi terkesima ketika membongkar-bongkar gudang yang bertimbun dan berdebu. Sementara iseng membolak-balik ratusan halaman fotokopi rekaman stenografis dari sidang pengadilan Letkol AURI Atmodjo di depan Mahmilub, saya temukan dokumen-dokumen yang saya terjemahkan di bawah ini, yang aslinya merupakan lampiran-lampiran pada berkas sidang pengadilan itu.

Dokumen itu adalah laporan yang disusun oleh sebuah tim terdiri dari lima orang ahli kedokteran forensik, yang telah memeriksa mayat-mayat enam orang jendral (Yani, Suprapto, Parman, Sutojo, Harjono, dan Pandjaitan), dan seorang letnan muda (Tendean) yang terbunuh pada pagi-pagi buta tanggal 1 Oktober 1965. Laporan mereka yang lugas merupakan lukisan paling obyektif dan tepat yang pernah kita miliki, tentang bagaimana tujuh orang itu mati. Mengingat kontroversi yang telah lama tentang masalah ini, dan berita-berita yang disajikan oleh suratkabar dan majalah umum berlain-lainan, maka saya memandang perlu menerjemahkan dokumen-dokumen tersebut sepenuhnya untuk kepentingan kalangan ilmiah.

Bagian atas setiap visum et repertum (otopsi) menunjukkan bahwa tim tersebut bekerja pada hari Senin tanggal 4 Oktober, atas perintah Mayjen Suharto selaku Komandan KOSTRAD ketika itu, kepada kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Tim terdiri dari dua orang dokter tentara (termasuk Brigjen Roebono Kertopati yang terkenal itu), dan tiga orang sipil ahli kedokteran forensik pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di antara ketiga orang ini yang paling senior ialah Dr. Sutomo Tjokronegoro, ketika itu ahli paling terkemuka dalam kedokteran forensik di Indonesia. Tim bekerja sama selama 8 jam, yaitu dari pukul 4.30 sore tanggal 4 Oktober sampai 12.30 lewat tengah malam tanggal 5 Oktober, bertempat di Kamar Bedah RSPAD. Jelas mereka harus bekerja cepat, oleh karena dari berita-berita pers kita ketahui mayat-mayat itu baru bisa diangkat dari lubang sumur di Lubang Buaya (di mana para pembunuh telah melemparkannya) menjelang siang tanggal 4 Oktober, lebih 75 jam setelah pembunuhan terjadi. Dalam jangka waktu itu, dalam iklim tropis bisa diperkirakan mayat sudah sangat membusuk. Dan sesudah hari siang, Selasa tanggal 5 Oktober, mayat-mayat itu dimakamkan dengan upacara militer di Taman Pahlawan Kalibata. Satu hal yang pasti patut diperhatikan. Mengingat bahwa otopsi itu dilakukan atas perintah langsung Mayjen Suharto, maka kiranya tidak akan mungkin jika laporan para dokter tersebut tidak segera disampaikan kepadanya, segera setelah tugas dilaksanakan.

Tujuh buah laporan itu masing-masing disusun menurut bentuk yang sama:
pernyataan adanya perintah Mayjen Suharto kepada lima orang ahli itu;
identifikasi atas mayat;
deskripsi tubuh, termasuk pakaian atau hiasan-hiasan badan;
uraian rinci tentang luka-luka;
kesimpulan tentang waktu dan penyebab kematian;
pernyataan di bawah sumpah dari kelima ahli itu,
bahwa pemeriksaan telah dilaksanakan sepenuh-penuhnya dan sebagaimana mestinya.

Karena gambaran umum tentang matinya tujuh tokok itu, kita, sebagaimana halnya masyarakat pembaca di Indonesia tahun 1965, harus banyak bersandar pada apa yang diberitakan oleh dua suratkabar tentara, yaitu Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha, serta dinas informasi ABRI yang memasok suratkabar-suratkabar tersebut. Walaupun ada beberapa suratkabar non-militer yang tetap terbit, namun pers kiri telah ditindas pada petang hari tanggal 1 Oktober, sedangkan radio dan televisi yang dikuasai negara, dan telah ada di tangan militer sepenuhnya menjelang 1 Oktober, tidak mengudara. Karena itu perlu diperbandingkan berita-berita yang disajikan oleh suratkabar-suratkabar tentara tersebut, dengan ini laporan dari para ahli kedokteran yang ditunjuk militer yang selesai tersusun pada hari Selasa tanggal 5 Oktober, yang bisa kita simpulkan dari dokumen-dokumen lampiran itu.
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 18:17
Mengingat bahwasanya dua suratkabar tersebut adalah harian-harian pagi, sehingga edisi 5 Oktober mereka mungkin sudah “ditidurkan” sementara para dokter masih menyelesaikan pekerjaannya, maka tidak aneh bila pemberitaan mereka tentang hari itu barangkali tergesa-gesa, tanpa memanfaatkan informasi yang panjang lebar itu. Angkatan Bersenjata memuat beberapa buah foto kabur mayat-mayat yang telah membusuk, dan menggambarkan pembunuhan tersebut sebagai “perbuatan biadab berupa penganiayaan yang dilakukan di luar batas perikemanusiaan”. Berita Yudha yang selalu lebih garang, mengatakan bahwa mayat-mayat itu penuh dengan bekas-bekas penyiksaan. “Bekas-bekas luka di sekujur tubuh akibat siksaan sebelum ditembak masih membalut tubuh-tubuh pahlawan kita.” Mayjen Suharto sendiri dikutip menyatakan, “jelaslah bagi kita yang menyaksikan dengan mata kepala (jenazah-jenazah itu), betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan ‘Gerakan 30 September’”. Suratkabar itu meneruskan dengan menggambarkan saat-saat terakhir kehidupan Jendral Yani, mengatakan bahwa sesudah ditembak rubuh di rumahnya, ia dilemparkan hidup-hidup ke dalam sebuah truk dan terus menerus disiksa sampai “penyiksaan terakhirnya di Lubang Buaya.” Bukti-bukti tentang penyiksaan ini ditunjukkan dengan adanya luka-luka pada leher dan mukanya, dan kenyataan bahwa “anggota-anggota tubuhnya tidak sempurna lagi”. Apa yang dimaksud oleh kata-kata yang agak kabur itu menjadi lebih jelas pada hari- hari berikut. Pada hari Kamis tanggal 7 Oktober, Angkatan Bersenjata menyatakan bahwa “matanya (Yani) dicungkil”. Berita ini dikuatkan dua hari kemudian oleh Berita Yudha dengan menambahkan bahwa muka mayat itu ditemukan terbungkus dalam sehelai kain hitam.

Pada tanggal 7 Oktober itu juga Angkatan Bersenjata melukiskan lebih lanjut, tentang bagaimana Jendral Harjono dan Jendral Pandjaitan tewas oleh berondongan tembakan senjata api di rumah masing-masing, lalu mayat mereka dilempar ke dalam sebuah truk yang menghilang dalam kegelapan malam dengan “deru mesinnya yang seperti harimau haus darah”. Sementara itu Berita Yudha memberitakan tentang bekas-bekas siksaan pada kedua tangan Harjono.

Pada tanggal 9 Oktober Berita Yudha memberitakan, bahwa meskipun muka dan kepala Jendral Suprapto telah dihancurkan oleh “penteror-penteror biadab”, namun ciri-cirinya masih bisa dikenali. Pada Letnan Tendean terdapat luka-luka pisau pada dada kiri dan perut, lehernya digorok, dan kedua bola matanya “dicungkil”. Harian ini pada hari berikutnya mengutip saksi mata pengangkat mayat bulan Oktober itu, yang mengatakan bahwa di antara kurban beberapa ada yang matanya keluar, dan beberapa lainnya “ada yang dipotong kelaminnya dan banyak hal-hal lain yang sama sekali mengerikan dan di luar perikemanusiaan.” Pada tanggal 11 Oktober Angkatan Bersenjata menulis panjang lebar tentang matinya Tendean, dengan menyatakan bahwa ia mengalami siksaan luar biasa di Lubang Buaya, sesudah diserahkan kepada para anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Ia dijadikan benda “permainan jahat” perempuan- perempuan ini, digunakan sebagai “bulan-bulanan sasaran latihan menembak sukwati Gerwani.”

Begitu suratkabar-suratkabar tentara memulai, maka yang lain pun segera serta merta mengikuti. Misalnya Api Pantjasila, orang partai IPKI yang bernaung di bawah militer, pada tanggal 20 Oktober memberitakan, bahwa “alat pencungkil” yang digunakan untuk jendral-jendral itu telah ditemukan oleh pemuda-pemuda anti komunis, ketika mereka menyerbu gedung-gedung Partai Komunis, di desa Harupanggang di luar kota Garut. Walaupun tanpa diterangkan, mengapa partai tersebut memandang desa itu cocok untuk menyimpannya. Pada tanggal 25 Oktober suratkabar ini juga memuat pengakuan seseorang bernama Djamin, anggota organisasi pemuda Partai Komunis, Pemuda Rakyat, yang mengatakan telah menyaksikan bagaimana Jendral Suprapto telah disiksa “di luar batas kesusilaan” oleh anggota-anggota Gerwani. Pengakuan-pengakuan serupa itu dimuat berturut-turut, dan memuncak pada cerita menarik tentang Nyonya Djamilah, disiarkan pada tanggal 6 Oktober oleh Dinas Penerangan ABRI kepada seluruh kalangan pers. Nyonya Djamilah diceritakan sebagai hamil tiga bulan, pimpinan Gerwani dari Pacitan berumur lima belas tahun, mengaku bahwa ia dan kawan-kawannya di Lubang Buaya telah menerima pembagian pisau kecil serta silet dari anggota-anggota pasukan Gerakan 30 September. Lalu mereka, yang seluruhnya berjumlah seratus orang itu, mengikuti perintah orang- orang itu pula, mulai memotong dan menyayat-sayat kemaluan jendral-jendral yang telah mereka tangkap itu. (”Dibagi-bagikan pisau kecil dan pisau silet… menusuk-nusuk pisau pada kemaluan orang-orang itu. Api Pantjasila, 6 November 1965). Malahan tidak berhenti di situ saja. Antara yang telah dikuasai militer itu, pada tanggal 30 November melukiskan bagaimana orang-orang Gerwani itu dengan mudahnya telah menyerahkan tubuh mereka kepada para personel AURI yang ikut serta dalam Gerakan 30 September. Sementara itu pada tanggal 13 Desember Angkatan Bersenjata melukiskan mereka bertelanjang menarikan “Tarian Bunga Harum” di bawah pimpinan Ketua Partai Komunis Dipa Nusantara Aidit, sebelum terjun dalam pesta pora massal bersama para anggota Pemuda Rakyat.

Di dalam cerita-cerita yang memenuhi suratkabar selama bulan- bulan Oktober, November dan Desember ini — sementara itu pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang yang berhubungan dengan Partai Komunis terus berjalan — terkandung dua hal yang sangat menarik diperhatikan. Pertama, ditiup-tiupkan bahwa tujuh kurban itu mengalami siksaan yang mengerikan — khususnya dicungkil mata dan dipotong kemaluan mereka; kedua, ditonjolkan bahwa pelaku-pelaku kejahatan adalah orang-orang sipil dari organisasi yang berafiliasi dengan komunis.

Apakah yang diberitakan kepada kita oleh laporan para ahli forensik pada tanggal 5 Oktober itu? Pertama, dan terutama, bahwa tidak ada satu biji mata pun dari para kurban yang telah dicungkil, dan bahwa semua kemaluan mereka pun masih utuh. Kepada kita bahkan diberitakan bahwa empat berkhitan dan tiga tidak berkhitan.
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 18:18
Kecuali itu, barangkali perlu kurban-kurban itu dibagi ke dalam dua golongan: mereka yang dengan sebagian besar bukti non-forensik menunjukkan telah dibunuh dengan ditembak selagi masih di rumah oleh para penculik mereka, yaitu Jendral Yani, Jendral Pandjaitan, dan Jendral Harjono; dan mereka yang dibunuh sesudah dibawa ke Lubang Buaya, yaitu Jendral Parman, Jendral Suprapto, dan Jendral Sutojo, serta Letnan Tendean.

Golongan I. Berita paling lengkap tentang kematian mereka terbit jauh sesudah peristiwa terjadi: tentang Yani dalam Berita Yudha tanggal 5 Desember; Pandjaitan dalam Kompas tanggal 25 Oktober; Berita Yudha Minggu tanggal 21 November, dan Berita Yudha tanggal 13 Desember; dan Harjono dalam Berita Yudha Minggu tanggal 28 November. Semua pemberitaan menunjukkan, bahwa jendral-jendral itu telah dibunuh dengan mendadak dan seketika di rumah dengan berondongan tembakan yang dilakukan oleh anggota-anggota Resimen Kawal Cakrabirawa, di bawah pimpinan operasi Lettu Doel Arief. Gambaran demikian hanya sebagian saja dibenarkan oleh laporan forensil. Para ahli forensik itu menyatakan bahwa luka-luka pada tubuh Yani sajalah yang merupakan sepuluh luka tembuk masuk dan tiga tembus. Pandjaitan mengalami tiga luka tembak pada kepala, serta luka robek kecil di tangan. Pada luka-luka yang dialami Harjono timbul tanda tanya, karena tidak disebut-sebut sebagai akibat tembakan. Penyebab kematiannya rupanya adalah torehan panjang dan dalam pada bagian perut, luka yang lebih mungkin disebabkan oleh bayonet ketimbang pisau lipat atau silet. Sebuah luka serupa yang tak mematikan terdapat pada punggung korban. Cedera lain satu-satunya digambarkan “pada tangan dan pergelangan tangan kiri, luka-luka disebabkan oleh barang tumpul.” Tak ada cara lain yang lebih tepat untuk menafsirkan luka-luka ini kecuali harus mengatakan, bahwa luka-luka tesebut tidak mungkin karena siksaan — jarang penyiksa memilih pergelangan kiri dalam melakukan pekerjaan mereka — dan luka itu barangkali karena mayat itu dilempar ke dalam sumur di Lubang Buaya yang 36 kaki dalamnya.

Golongan II. Cerita lengkap tentang matinya korban-korban ini terdapat dalam suratkabar-suratkabar berikut: Parman, Berita Yudha, 17 Oktober dan juga Berita Yudha serta Angkatan Bersenjata tanggal 2 Desember; Soeprapto, Berita Yudha Minggu tanggal 5 Desember; Sutojo, Berita Yudha Minggu tanggal 21 November. Terhadap empat orang inilah berita-berita tentang siksaan biadab dan seksual paling banyak diberikan. Apa yang diungkapkan oleh laporan forensik adalah sebagai berikut:
S. Parman mengalami lima luka tembak, termasuk dua yang mematikan pada kepala; dan, di samping itu, “robek dan patah tulang pada kepala, rahang, dan kaki kiri bawah, semuanya sebagai akibat benda tumpul dan keras — popor bedil atau dinding dan lantai sumur — tetapi jelas bukan luka-luka “siksaan”, juga tidak sebagai akibat silet atau pisau lipat.
Soeprapto mati oleh karena sebelas luka tembak pada berbagai bagian tubuhnya. Luka-luka lain berupa enam luka robek dan patah tulang sebagai akibat dari benda tumpul pada kepala dan muka; satu disebabkan oleh benda keras tumpul pada betis kanan; luka- luka dan patah tulang itu “akibat benda tumpul” yang sangat keras pada bagian pinggul dan pada paha kanan atas”; dan tiga sayatan yang, melihat pada ukuran dan kedalamannya, mungkin disebabkan oleh bayonet. Sekali lagi “benda tumpul” mempertunjukkan terjadinya benturan dengan benda-benda keras yang besar dan berbentuk tak menentu (popor bedil dan batu-batu sumur), dan bukannya silet atau pisau,
Sutojo mengalami tiga luka tembak (termasuk satu yang fatal pada kepala), sedang “tangan kanan dan tempurung kepala retak sebagai akibat benda tumpul keras”. Sekali lagi kombinasi ganjil antara tangan kanan, tulang tengkorak, dan benda pejal berat yang memberikan kesan popor bedil atau batu-batu sumur.
Tendean mati akibat empat luka tembak. Kecuali itu para ahli tersebut menemukan luka gores pada dahi dan tangan kiri, demikian juga “tiga luka akibat trauma pejal pada kepala.”

Tak terdapat sepatah kata pun di laporan-laporan ini tentang adanya siksaan yang tak tersangkal, dan tak ada juga bekas silet atau pisau kecil apapun. Bukan saja karena hampir semua luka-luka bukan tembak itu dilukiskan sebagai akibat dari benda pejal dan keras, tetapi karena pembagiannya secara jasmaniah pun “pergelan gan kaki, tulang kering, pergelangan tangan, paha, pelipis dan lain-lain — pada umumnya tampak sembarangan. Adalah sangat menarik, bahwa sasaran para penyiksa yang lazim yaitu pelir, dubur, mata, kuku, telinga, dan lidah tidak disebut-sebut. Maka dengan cukup meyakinkan bisa dikatakan bahwa enam orang dari korban-korban itu mati oleh tembakan senjata api (perihal Harjono yang mati di dalam rumahnya tetap membingungkan); dan jika tubuh mereka mengalami tindak kekerasan lain adalah akibat pemukulan dengan gagang bedil yang mematahkan peluru-peluru mematikan itu, atau cedera yang mungkin diakibatkan karena jatuh dari ketinggian 36 kaki — yaitu kira-kira tiga tingkat lantai — ke dalam sumur yang berdinding batu.

Perlu juga dikemukakan, bahwa dalam pidatonya tanggal 12 Desember 1965 kepada Kantor Berita Indonesia Antara, Presiden Soekarno mengutuk para wartawan yang telah membesar-besarkan pernyataan mereka, dan menegaskan bahwa dokter-dokter yang telah memeriksa mayat para kurban menyatakan, tentang tidak adanya perusakan mengerikan pada mata dan alat kelamin sepeti telah diberitakan dalam pers (Lihat Suara Islam, 13 Desember 1965, dan FBIS, 13 Desember 1965). Ditulis Oleh Ben Anderson
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 18:19
yang di atas adalah versi panjangnya..

di bawah ini,sedikit lebih singkat..tapi dengan narasumber yang berbeda yaitu dr liem joey thay atau dr arif budianto..

Dikenal dengan nama dr. Arif Budianto, tak banyak yang menyadari Lim Joey Thay adalah tokoh penting. Sangat penting, bahkan. Dia adalah satu dari segelintir orang yang berada di titik paling menentukan dalam sejarah negara ini setelah Proklamasi 1945.
Pagi hari 4 Oktober 1965 pasukan yang dipimpin Pangkostrad Mayjen Soeharto menemukan tujuh mayat perwira Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh Gerakan 30 September tiga hari sebelumnya. Ketujuh perwira naas itu adalah Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani, Deputi II Menpangad Mayjen R. Soeprapto, Deputi III Menpangad Mayjen MT. Harjono, Deputi IV Menpangad Brigjen DI. Panjaitan, Oditur Jenderal/Inspektur Kehakiman AD Brigjen Soetojo Siswomihardjo, Asisten I Menpangad Mayjen S. Parman, dan Lettu P. Tendean (Ajudan Menko Hankam/KASAB Jenderal AH Nasution).


Mayat enam jenderal dan seorang perwira muda Angkatan Darat ini ditemukan di dalam sebuah sumur tua sekitar 3,5 kilometer di luar Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusumah

Lim Joey Thay yang ketika itu adalah lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) merupakan satu dari lima ahli forensik yang, berdasarkan perintah Soeharto, memeriksa kondisi ketujuh mayat tersebut sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, siang hari 5 Oktober.

Empat dokter lain di dalam tim ini adalah dr. Brigjen Roebiono Kertopati, perwira tinggi yang diperbantukan di RSP Angkatan Darat; dr. Kolonel Frans Pattiasina, perwira kesehatan RSP Angkatan Darat; dr. Sutomo Tjokronegoro, ahli Ilmu Urai Sakit Dalam dan ahli Kedokteran Kehakiman, juga profesor di FK-UI; serta dr. Liau Yan Siang, rekan Lim Joey Thay di Ilmu Kedokteran Kehakiman FK-UI.

Kini dari lima anggota tim otopsi itu, tinggal Lim Joey Thay dan Liu Yang Siang yang masih hidup. Lim Joey Thay kini sakit-sakitan, sementara sejak beberapa tahun lalu, Liu Yan Siang menetap di Amerika Serikat dan tidak diketahu pasti kabar beritanya.

Berpacu dengan waktu dan proses pembusukan, mereka berlima bekerja keras selama delapan jam, dari pukul 4.30 sore tanggal 4 Oktober, hingga pukul 12.30 tengah malam 5 Oktober, di kamar mayat RSP Angkatan Darat.

***

Pagi di bulan Juni tahun lalu saya dihubungi Dandhy Dwi Laksono, kawan jurnalis yang ketika itu masih bekerja sebagai kordinator liputan sebuah stasiun televisi.

“Dr. Arif jatuh. Sekarang dirawat di St. Carolus. Gua mau ke sana. Lu nyusul ya,” begitu pesan pendeknya.

Satu jam kemudian kami bertemu di kantin RS St. Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Setelah sarapan dan membeli buah-buahan di kantin untuk dr. Lim Joey Thay, kami berjalan menuju kompleks rawat inap Ignatius-II tempat ia dirawat.

Di teras Ignatius-II, Lim Joey Thay duduk sendirian menghadap taman kecil di depannya. Istri dan beberapa kerabatnya yang berada di bagian dalam paviliun itu menyambut kami.

Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa dr. Lim Joey Thay terjatuh karena serangan struk. Namun Ny. Arif menjelaskan bahwa suaminya terjatuh saat hendak naik ke kursi roda di rumahnya. Mungkin karena terlalu lelah. Keadaannya tidak mengkhawatirkan, kata Ny. Arif. Dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi dr. Lim Joey Thay lebih baik, sambungnya.

Dandhy menemukan kembali visum et repertum ketujuh Pahlawan Revolusi dan kisah tentang dr. Lim Joey Thay saat menyiapkan sebuah program liputan khusus untuk menyambut peringatan peristiwa Gerakan 30 September yang oleh Bung Karno dianggap sebagai resultan dari konflik internal Angkatan Darat, petualangan pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) dan operasi kaum nekolim di tanah air. Tim liputan yang dipimpin Dandhy melakukan riset ekstensif mengenai penyiksaan yang dialami ketujuh Pahlawan Revolusi itu. Dalam liputan khusus itu, wawancara Dandhy dengan dr. Lim Joey Thay juga disertakan.

Saya tak menyaksikan liputan khusus yang diputar Oktober 2007 itu. Tetapi dari e-mail yang disampaikan Dandhy pada sebuah milis ketika dia mengumumkan penayangan program tersebut saya menangkap penegasan sekali lagi dr. Lim Joey Thay bahwa cerita tentang alat kelamin Pahlawan Revolusi yang disilet dan juga cerita tentang mata mereka yang dicungkil adalah bohong belaka. Sayangnya, kebohongan ini sudah kadung dianggap sebagai fakta sejarah dan diajarkan di sekolah-sekolah.

Tulis Dandhy dalam e-mailnya, “Hasil wawancara sebenarnya hanya mengonfirmasi apa yang tertera dalam dokumen visum et repertum, bahwa enam Pahlawan Revolusi tewas akibat luka tembak, dan satu orang (Mayjen M.T. Haryono) akibat luka tusuk. Ada sejumlah luka lebam yang diragukan apakah akibat pemukulan atau akibat jenazah dijatuhkan ke dalam sumur sedalam 12 meter.”

“Karena masalah komunikasi, dalam wawancara, Prof Arief [Lim Joey Thay] didampingi dr. Djaja Admadja, bekas muridnya yang kini adalah dokter forensik di RSCM (ahli DNA). dr. Djaja yang lebih banyak mengurai detil, sementara Prof Arief sesekali menimpali,” demikian tulis Dandhy.

***

Visum et repertum jenazah Pahlawan Revolusi ini jelas bukan barang baru. Benedict Anderson dari Cornell University telah menyalin ulang visum et repertum itu dalam artikelnya, How Did the Generals Die? di jurnal Indonesia edisi April 1987. Artikel Ben Anderson ini membuat pemerintahan Soeharto marah besar, dan sejak itu Ben Anderson diharamkan menginjakkan kaki di Indonesia.

Ketujuh pahlawan revolusi itu jelas mati dibunuh. Dan pembunuhan dengan cara apapun jelas di luar nilai-nilai kemanusiaan. Namun dari hasil otopsi yang dilakukan dr. Lim Joey Thay dan teman-temannya sama sekali tidak menemukan tanda-tanda rusaknya jenazah seperti yang dilaporkan media massa yang dikuasai Angkatan Darat, yaitu Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha, dan beberapa media cetak lain yang diperbolehkan beredar selagi mengikuti aturan main dan kemauan pihak militer. Sumber berita lain di masa itu adalah RRI, TVRI dan Kantor Berita Antara yang seperti dua koran sebelumnya juga dikontrol militer.

Dalam artikelnya ini, sebelum menyalin ulang visum et repertum ketujuh mayat Pahlawan Revolusi untuk komunitas akademik, Ben Anderson lebih dulu mengutip beberapa pemberitaan media massa mengenai detil pembunuhan para perwira.


Mata Jenderal Ahmad Yani dicungkil, tulis Angkatan Bersendjata edisi 6 Oktober. Berita Yudha menegaskan sekali lagi soal pencungkilan mata ini dua hari kemudian sambil menambahkan bahwa saat ditemukan mayat para perwira Angkatan Darat terbungkus kain hitam.

Sehari kemudian, 7 Oktober, Angkatan Bersendjata mempublikasikan cerita tentang detail pembunuhan Brigjen Panjaitan di depan rumahnya. Setelah dihujani tembakan, mayat Brigjen Panjaitan dilemparkan ke dalam truk yang kemudian membawanya ke Lubang Buaya. Sebegitu mengerikannya kekuatan pasukan penculik Panjaitan ini, sampai-sampai deru mesin kendaraan yang mereka pakai saja seperti “suara harimau yang haus darah.”

Sementara, walaupun wajah Suprapto dan tengkoraknya dihantam oleh “penteror2 biadab” namun dia masih dapat dikenali, begitu tulis Berita Yudha edisi 9 Oktober. Sehari kemudian koran yang sama menurunkan berita yang disebut bersumber dari saksi mata yang berada di lokasi pembantaian. Menurut pengakuan saksi ini, biji mata beberapa korban dicungkil keluar, sementara kemaluan beberapa lainnya dipotong.

Edisi 11 Oktober Angkatan Bersendjata menuliskan laporan yang lebih detil tentang pembunuhan Lettu Tendean. Ajudan Jenderal Nasution ini disebutkan menjadi sasaran latihan tembak anggota Gerwani.

Cerita-cerita mengenai alat kelamin yang disayat, dipotong dan dimakan telah membangkitkan amarah di akar rumput. Ia bagian dari pretext for mass murder, tulis John Roosa (2006). Dan ia bagai minyak tanah yang disiramkan ke api. Menyambar-nyambar. Selanjutnya, yang terjadi adalah pembantaian besar-besaran di mana-mana terhadap anggota PKI dan/atau siapa saja yang dituduh menjadi anggota PKI dan/atau memiliki relasi dengan PKI.


Tidak ada catatan yang meyakinkan tentang berapa jumlah rakyat yang tewas dalam pembantaian massal itu. Jumlah yang sejauh ini dianggap sebagai kebenaran berkisar antara 500 ribu hingga 1,5 juta. Dalam artikelnya tahun lalu, Exit Soeharto: Obituary for a Mediocre Tyrant yang ditulis khusus untuk mengenang Soeharto yang meninggal tiga bulan sebelumnya, Ben Anderson mengutip pengakuan Jenderal Sarwo Edhie tentang jumlah orang yang tewas dalam pembunuhan massal 1965-1966.

“On his deathbed, the by-then marginalized General Sarwo Edhie, who led the Red Berets in 1965-66, even said he had been responsible for the death of three million people.
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 18:19
Quote:Original Posted By anilram


menurut saya...
ini lah yg secara tidak langsung membuat komunis terlarang emoticon-Smilie

bukan karena G30S PKI nya emoticon-Smilie


Bukan itu. PKI dan Pancasila mah sejak merdeka kan udah ada.

Siapa yang pro Pancasila ketika sidang Konstituante yg deadlock itu ? PNI dan PKI, jadi menurut gw ya gak ada kaitannya sila 1 dgn pelarangan asas Komunis pada konteks jaman itu.

PKI dan komunis dilarang, karena dia 2x kudeta dan 2x gagal pula. Siapa yang berada di pihak pemenang ? Militer dan Golongan kanan (Islam dsb)

Ekstrim kanan baru 1x kudeta (lebih tepatnya memberontak), yaitu DII/TII. Kalau kondisinya dibalik ya nasibnya akan sama.

emoticon-I Love Indonesia WINNER TAKES ALL emoticon-I Love Indonesia
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 18:26
Quote:Original Posted By jamiroquai9
lah katanya g 30s pki itu hanya akal2an pa harto aja buat nyingkirin jendral2 lainnya ?? jadi binggung saya ama sejarah bangsa ini yg bener yg mana, yg hoax yg mana emoticon-Confused: ada jg yg bilang Indonesia ga dijajah 350 thn ama blanda emoticon-Embarrassment


Ya kita sebagai pemerhati sejarah, harus melihat beberapa versi dan menarik garis tengah diantara versi versi itu

atau...

Nunggu sampe pihak pihak yang bersangkutan bertemu, salaman, ciuman dan duduk bareng ngomongin hal yang sebenarnya terjadi.

Kalau kita menang, pasti kita lebih2in
Kalau kita kalah, pasti ada aja pembelaannya

Yang benar kira2 diantara 2 itu.
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 20:13
ane sedihnya peristiwa ini jarang bgt d muat d buku sejarah...
kita seakan "dipaksa" mengingat 7 jenderal yang mati (dibunuh oleh siapapun tdk jelas) tapi korban pembantaian puluhan ribu jiwa tsb seakan gmpg bgt dilupain...
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 21:07
Quote:Original Posted By AnimeChibis
Bukan itu. PKI dan Pancasila mah sejak merdeka kan udah ada.

Siapa yang pro Pancasila ketika sidang Konstituante yg deadlock itu ? PNI dan PKI, jadi menurut gw ya gak ada kaitannya sila 1 dgn pelarangan asas Komunis pada konteks jaman itu.

PKI dan komunis dilarang, karena dia 2x kudeta dan 2x gagal pula. Siapa yang berada di pihak pemenang ? Militer dan Golongan kanan (Islam dsb)

Ekstrim kanan baru 1x kudeta (lebih tepatnya memberontak), yaitu DII/TII. Kalau kondisinya dibalik ya nasibnya akan sama.

emoticon-I Love Indonesia WINNER TAKES ALL emoticon-I Love Indonesia


pemenang lah yg mengendalikan semuanya emoticon-Embarrassment

sampe2 sejarah pun mereka yg mengendalikannya emoticon-Embarrassment
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 22:24
Quote:Original Posted By anilram
pemenang lah yg mengendalikan semuanya emoticon-Embarrassment

sampe2 sejarah pun mereka yg mengendalikannya emoticon-Embarrassment


iya

kalau di US, rahasia negara baru dibuka 30 tahun setelah suatu kasus berakhir.

Kalau di Indonesia ya 100 tahun deh emoticon-Embarrassment
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 22:27
Quote:Original Posted By AnimeChibis
iya

kalau di US, rahasia negara baru dibuka 30 tahun setelah suatu kasus berakhir.

Kalau di Indonesia ya 100 tahun deh emoticon-Embarrassment


itu juga klo arsip2 dan data2 dari fakta sebenarnya masih ada emoticon-Stick Out Tongue
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
03-09-2010 22:35
Quote:Original Posted By anilram
itu juga klo arsip2 dan data2 dari fakta sebenarnya masih ada emoticon-Stick Out Tongue


memang susah kalau dibawa kekubur emoticon-Embarrassment
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
04-09-2010 16:07
Quote:Original Posted By AnimeChibis
iya

kalau di US, rahasia negara baru dibuka 30 tahun setelah suatu kasus berakhir.

Kalau di Indonesia ya 100 tahun deh emoticon-Embarrassment


disini ga akan mungkin dibuka

klo dibuka brarti mungkin ada sebagian putra bangsa yg tercoreng emoticon-Embarrassment

dan juga orang kita sifatnya pemaaf ..kalaupun fakta sebenarnya terkuak paling tindakan yg akan diambil yaitu dengan disembunyikan data2 yg ada daripada harus mengubah sejarah yg sudah dipublish karena itu akan membuat aib negara

imo
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
04-09-2010 20:27
Pembunuhan..apapun itu apalagi pembunuhan sistematis terhadap yg tidak bersalah adalah hal keji yg susah dinalar dan dimaafkan..

Kita pun mengetahui itu dan akan menjadi aib bangsa ini sampai kapanpun..

Namun lihatlah sisi baiknya..seandainya mereka (pki) yg memenangkan ini semua..siapa yg menjamin mereka tidak akan melakukan hal yg sama (pembunuhan sistematis) atau mungkin malah lebih parah..

Lihat saja patron mereka Stalin cs...

Papua mungkin akan menjadi next siberia dan kita akan hidup dengan lifestyle ala negeri nya kim jong il..

Silakan aja kalo mau hidup seperti itu namun sy dan beberapa ratus juta orang dinegeri ini bakalan bilang ogah..

Sy sendiri pun meyakini banyak kontroversi dan konspirasi dalam urusan G 30 S ini..namun bukan berarti mereka (pki n para kaum komunis) ini bisa cuci tangan dan mengaku bersih serta menyatakan kalau mereka juga korban..yes they're guilty too..karena yg tidak sependapat dengan mereka toh juga jadi korban (always remember madiun 1948)

Maaf kalau ada yg tidak berkenan karena ini hanya opini dan syukurlah berbeda pendapat adalah hal yg lumrah di negeri ini..sesuatu hal yg amat mahal jika mereka (pki) takes control dan berkuasa..

Gosh I think I should receive the green things..he3..
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
1 0
1
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
04-09-2010 20:59
@cembubub

emang sih PKI kita itu berbahaya, soalnya ngikut aliran si Mao dan Stalin

Coba jadi komunis yang anteng2 aja cuman bergerak di DPR, mungkin sampe sekarang masih ada.
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
05-09-2010 02:27
Quote:Original Posted By cembubub
Pembunuhan..apapun itu apalagi pembunuhan sistematis terhadap yg tidak bersalah adalah hal keji yg susah dinalar dan dimaafkan..

Kita pun mengetahui itu dan akan menjadi aib bangsa ini sampai kapanpun..

Namun lihatlah sisi baiknya..seandainya mereka (pki) yg memenangkan ini semua..siapa yg menjamin mereka tidak akan melakukan hal yg sama (pembunuhan sistematis) atau mungkin malah lebih parah..

Lihat saja patron mereka Stalin cs...

Papua mungkin akan menjadi next siberia dan kita akan hidup dengan lifestyle ala negeri nya kim jong il..

Silakan aja kalo mau hidup seperti itu namun sy dan beberapa ratus juta orang dinegeri ini bakalan bilang ogah..

Sy sendiri pun meyakini banyak kontroversi dan konspirasi dalam urusan G 30 S ini..namun bukan berarti mereka (pki n para kaum komunis) ini bisa cuci tangan dan mengaku bersih serta menyatakan kalau mereka juga korban..yes they're guilty too..karena yg tidak sependapat dengan mereka toh juga jadi korban (always remember madiun 1948)

Maaf kalau ada yg tidak berkenan karena ini hanya opini dan syukurlah berbeda pendapat adalah hal yg lumrah di negeri ini..sesuatu hal yg amat mahal jika mereka (pki) takes control dan berkuasa..

Gosh I think I should receive the green things..he3..
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....


berarti pemerintah yg sekarang kejam dong emoticon-Embarrassment

kan skr lagi rame pembunuhan rakyat miskin secara sistematis menggunakan bom berwarna hijau itu lho emoticon-EEK!:
0 0
0
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
05-09-2010 05:27
nunggu om chorky dulu ah...
Share Pengetahuan Anda Tentang G30S/PKI disini....
0 0
0
Halaman 1 dari 65
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia