Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#4
Bagian 3

Masih dengan nafas yang berburu, aku mencoba mengatur ritme jantungku. Kehadiran gadis berkuncir kuda itu seperti oasis di tengah gurun Jakarta yang baru saja kuhadapi

Seumur hidupku di Kalimantan, belum pernah aku melihat seseorang yang begitu menarik perhatianku hanya dalam sekali tatap. Kaki ini rasanya membeku, tapi logika terus berteriak agar aku bergerak sebelum satpam itu datang dengan peluit saktinya.

Dengan segenap keberanian yang tersisa—bahkan mungkin lebih banyak daripada saat aku nekat melompat pagar tadi—aku melangkah mendekat. Aku mencoba memasang senyum paling natural, meskipun aku yakin mukaku saat ini merah padam karena campuran rasa takut dan grogi.

"Anu, maaf," panggilku, suaraku terdengar sedikit parau di telingaku sendiri.

Gadis itu berhenti, menoleh perlahan. Buku-buku di tangannya sedikit bergeser karena gerakannya. Pandangan matanya begitu jernih, seperti sungai di pedalaman Kalimantan yang belum tersentuh polusi. Sedikit kaget, tapi kemudian dia tersenyum tipis. Sangat tipis, tapi cukup untuk membuatku semakin terpaku.

"Iya, kenapa?" tanyanya lembut.

"Gue... eh, aku," aku buru-buru meralat panggilanku. Belum biasa pakai 'gue-lo' di Jakarta.

"Aku murid baru di sini. Boleh tanya kelas XI IPA 3 di mana? Tadi telat, terus gerbangnya keburu tutup. Jadi..." Aku menghentikan kalimatku, membiarkan dia mengasumsikan sendiri bagaimana aku bisa ada di koridor ini.

Dia melihatku dengan tatapan menyelidik, lalu senyumnya melebar. Sedikit jenaka. Sepertinya dia sudah menebak kalau aku baru saja berurusan dengan satpam di depan.

"Oh, anak baru," katanya. Dia melihat logo di lengan bajuku. "IPA 3? Kebetulan, aku juga di situ. Aku baru dari perpustakaan ngambil buku paket."

Detak jantungku rasanya mau meledak mendengarnya. Keberuntungan macam apa ini? Baru hari pertama, sudah satu kelas dengan bidadari. Ini pasti takdir.

"Beneran? Kalau gitu, boleh barengan?" tanyaku, mencoba menahan kegembiraan.

"Boleh, ayo. Namaku Wulan Kirana, panggil saja Wulan."

"Aku Arkhana Rakha. Panggil saja Rakha."

Kami berjalan beriringan menyusuri koridor. Wulan begitu santai, sedangkan aku masih sibuk mengatur nafas yang belum sepenuhnya kembali normal. Sepanjang jalan, aku ingin sekali menanyakan lebih banyak tentang dirinya, tapi lidahku rasanya berat. Aku hanya bisa mengamati dari samping bagaimana kuncir kudanya berayun seiring dengan langkah kakinya. Begitu manis.

Tapi sial, momen indah itu harus berakhir saat kami sampai di depan pintu kelas XI IPA 3.

Aku bisa merasakan suasana di dalam kelas begitu tegang, bahkan sebelum Wulan membuka pintu. Tidak ada suara, hanya suara kapur yang beradu dengan papan tulis.

Di depan kelas, berdiri seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal dan raut wajah yang lebih keras daripada batu bara Kalimantan.

Itu Bu Umi. Guru matematika yang sudah terkenal seantero SMA 7 karena kegalakannya yang legendaris.

Wulan membuka pintu, lalu mengangguk hormat. "Permisi, Bu. Saya tadi dari perpustakaan."

Bu Umi hanya mengangguk kecil pada Wulan. Wulan berjalan ke kursinya dengan santai. Lalu, pandangan Bu Umi beralih kepadaku. Matanya menyipit, tajam seperti pisau yang baru diasah.

"Kamu, siapa?" tanyanya datar, tapi suaranya menusuk sampai ke tulang.

"Saya Arkhana Rakha, murid baru, Bu."

"Oh, murid baru. Jadi di hari pertama ini kamu sudah berani telat?" tanyanya, nada bicaranya mulai naik.

Aku sudah bersiap menerima omelan paling mengerikan seumur hidupku. Tapi, di dalam kepala, aku buru-buru menyusun alasan. Tidak mungkin aku bilang kalau aku dikejar anak sekolah lain.

"Maaf, Bu. Saya tersesat. Sekolah ini ternyata luas sekali," ucapku, mencoba memasang wajah sepolos mungkin.

"Untung ada cewek cantik tadi yang menolong saya dari kesesatan ini," tambahku tanpa dosa, sedikit menoleh ke arah Wulan yang baru saja duduk di barisan tengah.

Seisi kelas langsung hening. Wulan terlihat sedikit kaget dan pipinya langsung memerah. Sementara itu, Bu Umi melihatku dengan tatapan tak percaya.

Wajahnya perlahan memerah, tapi bukan karena malu, melainkan karena menahan marah. Matanya semakin menyipit, seolah ingin meledak di tempat.

"Kamu... kamu berani menggoda murid lain di depan guru?" desis Bu Umi, suaranya terdengar sangat berbahaya.

Sial, aku baru sadar kalau alasanku tadi terdengar konyol dan terlalu berani. Hehe.

"Maksud saya, beruntung ada Wulan yang baik hati menunjukkan jalan, Bu," aku buru-buru meralat ucapanku dengan gugup.

Bu Umi mengambil nafas panjang, mencoba menahan emosinya. "Sudah, diam. Karena ini hari pertama, saya maafkan. Tapi lain kali jangan harap. Sekarang duduk. Sana, di samping Riko."

Dia menunjuk ke sebuah kursi kosong di barisan belakang. Aku langsung berjalan cepat menuju kursi itu, tidak berani membantah. Seisi kelas menatapku dengan tatapan campur aduk: ada yang heran, ada yang geli, dan ada yang takut.

Aku duduk di samping seorang cowok yang penampilannya sama berantakannya sepertiku. Rambutnya sedikit acak-acakan, kemejanya tidak dimasukkan dengan rapi, dan ada noda di tas punggungnya. Dia melihatku dengan senyum lebar.

"Gila lo, nekat banget ngomong gitu ke Bu Umi," bisiknya, suaranya serak-serak basah.

"Gue Rakha," aku memperkenalkan diri, berbisik kembali agar tidak terdengar Bu Umi.

"Gue Riko. Anak asli Jakarta," katanya bangga.

Riko ternyata tidak seburuk penampilannya. Dia orang yang asyik diajak mengobrol. Tapi, ada satu hal yang langsung kusadari: fokusnya bukan pada pelajaran, melainkan pada cewek yang duduk di barisan depan kami.

Cewek itu berambut sebahu, penampilannya rapi tapi wajahnya terlihat ketus. Dia terlihat tidak peduli dengan penjelasan Bu Umi di depan.

Riko langsung sibuk menggoda cewek itu. Dia berbisik-bisik, melemparkan gumpalan kertas kecil, bahkan mencoba memainkan rambutnya. Cewek itu terlihat sangat marah dan kesal.

"Duh, Riko! Jangan ganggu gue napa!" desisnya, menoleh sebentar ke arah Riko dengan tatapan tajam.

"Yaelah, Bunga. Galak banget sih lo," kata Riko sambil tertawa kecil.

Aku melihat ekspresi wajah Bunga. Meskipun dia terlihat marah, ada sedikit senyum yang tertahan di bibirnya.

Dia kesal, tapi sepertinya dia juga menikmati perhatian Riko. Susah lah mau menjelaskannya. Mungkin itu yang namanya dinamika hubungan remaja di Jakarta.

Sementara Riko sibuk dengan dunianya, pandanganku kembali tertuju ke arah Wulan. Dia sedang serius mencatat pelajaran Bu Umi, tanpa menyadari kalau dia sudah menjadi pusat gravitasi di dalam duniaku.

Jakarta mungkin keras, tapi dengan adanya Wulan di dekatku, aku merasa siap menghadapi apa pun termasuk Bu Umi dan seisi sekolah ini.
speedtofu
itkgid
kulipriok
kulipriok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.