- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
sorrylabroo dan 148 lainnya memberi reputasi
149
214K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#188
003-F A Step Too Far (Cont)
Spoiler for 003-F A Step Too Far (Cont):
Gua dengan cepat menjawab panggilan, menempelkan ponsel di telinga dan berlagak bicara; “Halo, geb… Jadilah, Ok sip, sip..”Lalu mengakhiri panggilan. Berpura-pura kalau panggilan tersebut datang dari Gaby agar Nyokap nggak curiga. Yang tentu saja berhasil.
Begitu Nyokap sudah pergi, gua langsung menghubungi Lian kembali.
Nada sambung terdengar beberapa kali, hingga suaranya menyambut gua; “Pagiii….” Sapanya.
“…”
“… Kenapa aku tiba-tiba jadi ‘Gaby’?” Tambahnya.
“Jadi gini, tadi Mamah lagi di kamar pas kamu telepon” Gua menjelaskan.
“Hahahaha… Kamu pasti baru bangun ya?” Tanyanya.
“Iya, hehehe… Kamu telpon mau bangunin aku?” Kini gua yang gantian bertanya.
“Iya…” Jawabnya.
Gua terdiam, tersipu dan merasa girang bukan kepayang. Untuk pertama kalinya ada orang selain Nyokap dan The Lontongers yang punya niat untuk menelpon untuk membangunkan gua.
“Udah sana siap-siap…” Ucapnya.
“Siap-siap kemana?” Tanya gua.
“Lho katanya mau pergi”
“Sekarang? Sepagi ini?” Tanya gua.
“Pagi? Sekarang udah mau jam 11” Jawabnya.
Gua mendongak, melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan hampir pukul 11.
“Astaga… Yaudah. Aku mandi dulu, nanti mau ketemuan dimana?” Tanya gua.
“Aku jemput aja nanti…”
“Dimana? Di rumah?” Tanya gua.
“Iya…” Gua menjawab yakin karena Nyokap sudah berangkat. Jadi, sepertinya nggak masalah kalau ia menjemput di rumah.
Gua mandi dan bersiap-siap. Ponsel gua terus berdering saat tengah sibuk memilih dan memadu-padankan pakaian. Gua melihat ke layarnya yang menampilkan panggilan dari Lian.
“Bentar….” Hanya itu yang gua ucapkan lalu mengakhiri panggilan.
Setelah beberapa kali berganti pakaian karena merasa kurang cocok, akhirnya gua memutuskan memakai pilihan awal. Kaos Crop top hitam tanpa lengan yang dibungkus dengan cardigan abu-abu, sementara celana cargo panjang berwarna hijau muda ala Acubi menjadi bawahannya. ‘Nanti tinggal pake sepatu kets yang putih itu’ Batin gua sambil tersenyum.
Gua berlari keluar dari kamar menuju ke bawah.
Terlihat Lian sudah berdiri, bersandar pada pagar rumah sambil menghisap rokoknya. Saat mendengar pintu terbuka, ia berbalik dan menatap gua lalu tersenyum; “Udah siap?”
“…” Gua nggak memberi jawaban, hanya mengangguk dan membalas senyumnya.
Ia menatap gua dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, tatapan yang sama persis ia tunjukkan saat pertama kali kami bertemu dulu; di kontrakan.
“Awesome…” Gumamnya pelan. Dan gua masih nggak bisa merespon, hanya tersenyum; tersipu dengan wajah yang mulai memerah.
Dengan menggunakan taksi, kami berangkat menuju ke mall terdekat. Mall tempat biasa gua dan The Lontongers nongkrong menghabiskan waktu. Mall yang baru saja gua datangi kemarin. Namun, kali ini tentu saja berbeda rasanya, karena kali ini bukan Gaby, Liv atau Fidel yang bersama gua; melainkan Lian.
“Mau langsung nonton?” Tanyanya begitu kami memasuki Mall.
“Mmm… Boleh” Jawab gua.
Sama seperti sebelumnya, saat di mall pun ia selalu mencoba menjaga jarak dengan gua. Awalnya, gua memang nggak terlalu ambil pusing dengan sikapnya itu. Apalagi waktu itu, kami berjalan di jalan raya atau di jalan komplek. Tapi, saat berada di tempat seperti ini; di mall, masa iya dia terus begitu.
Gua menghentikan langkah, lalu menatapnya sambil pasang tampang cemberut. Ia berjalan lebih dulu dan menyadari gua berhenti lantas ikut berhenti, lalu menoleh.
“Kenapa?” Tanyanya, kemudian menghampiri gua.
“Gapapa, kamu jauh banget jalannya…” Jawab gua.
“Oh terus harusnya gimana?” Tanyanya.
“Di sini aja, jangan jauh-jauh…” Ucap gua sambil menunjuk posisi kosong tepat di sebelah gua. Ia lantas mundur beberapa langkah dan mengisi posisi yang gua tunjuk.
“Gini?” Tanyanya.
“…” Gua mengangguk cepat sambil tersenyum.
Kami tiba di area bioskop di lantai dua mall. Tempat kemarin gua dan The Lontongers juga menghabiskan waktu menonton film di sini. Ia berdiri, dengan kedua tangan berada di saku celana, menatap satu persatu poster-poster film yang sedang tayang, mirip seperti pengamat seni yang sedang mengamati pameran lukisan. Sementara, gua terus berada di sisinya.
“Mau nonton apa?” Tanyanya tanpa memalingkan pandangan dari poster film.
“Aku kemarin udah nonton yang ini…” Jawab gua sambil menunjuk ke salah satu poster.
“Berarti jangan nonton film ini…” Ucapnya.
“Iya, film apa aja asal jangan yang ini” Balas gua.
“Aku yang pilih?”
“Iya…” Gua menjawab singkat.
Tanpa banyak pertimbangan dan seakan nggak peduli dengan review, pemeran, genre dan sinopsinya, Lian mulai membeli dua tiket yang jadwal tayangnya paling dekat. Sementara, gua berdiri sambil memandangi suasana bioskop yang mulai ramai. Ramai dipenuhi muda-mudi yang saling bergandengan tangan, sejoli yang dimabuk cinta, ingin menghabiskan waktu berdua sambil menonton film. Gua tersenyum, sadar kalau saat ini gua adalah bagian dari mereka.
Sejak dulu, gua nggak pernah bermimpi melakukan hal ini; kencan atau nonton film di bioskop berdua saja dengan seorang pria yang gua suka. Tapi, saat ini, gua berdiri di sini, melakukan hal yang sebelumnya nggak pernha terbayangkan.
“Bengong? ngelamunin apa?” Tanyanya sambil melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah.
“Oh, nggak.. Cuma ngeliatin orang-orang aja”
“Kenapa dengan orang-orang?” Tanyanya sambil berpaling dan menatap sekeliling.
“Pasangan-pasangan itu… keliatan mesra banget”
“Oh…” Responnya.
Iya, hanya itu responnya; hanya sekedar ‘Oh’.
Nggak seberapa lama, pintu studio tempat film diputar di buka. Kami nggak bisa langsung masuk karena masih terjebak dalam antrian untuk membeli camilan dan minuman. Akhirnya, setelah terlambat beberapa menit, pesanan kami selesai dan bergegas masuk ke studio.
Karena film sudah dimulai beberapa menit yang lalu, studio sudah gelap tanpa ada satupun lampu yang menyala. Satu-satunya sumber cahaya adalah layar di depan studio yang saat itu nggak terlalu terang karena adegan tengah menampilkan scene malam. Sedangkan kami berdua masih harus menaiki satu persatu anak tangga kecil untuk ke tempat duduk kami.
Perlahan, Lian meraih tangan gua dan menggenggamnya. Lalu, dengan bantuan cahaya ponsel ia mulai membimbing gua mencari nomor kursi.
Jantung gua mulai berdebar kencang, hingga rasanya mau terlepas. Bukan, bukan gegara suara film yang menggelegar tapi karena genggamannya yang masih erat di tangan gua. Pun, kami sudah duduk cukup lama. Akibatnya, sepanjang film gua sama sekali nggak mampu berkonsentrasi dengan alur cerita, popcorn dan Java tea favorit gua pun nyaris nggak tersentuh. Gua hanya bolak-balik memandangi tangan gua yang di genggamnya, lalu beralih menatap wajahnya. Masih nggak percaya dengan sikapnya ini.
Perlahan, ia mendekatkan wajahnya.
Hal yang bikin jantung ini berdebar semakin cepat.
“Kenapa? daritadi kayaknya gelisah?” Bisiknya tepat di dekat telinga gua.
Gua menjawab pertanyaannya dengan menunjuk ke arah tangan yang di genggamnya. Paham dengan maksud gua, ia melonggarkan genggaman dan melepasnya.
“Jangan… Jangan dilepas” Gumam gua pelan, sangat pelan.
Perlahan, ia kembali meraih tangan gua dan menggenggamnya.
Kami terus begitu sepanjang film. Gua bahkan rela menggaruk kepala yang gatal dengan tangan satunya, saking takutnya kehilangan genggaman. Iya, segitu parno-nya gua.
Bahkan hingga film berakhir, saat lampu studio kembali menyala dan kami keluar dari studio. Ia tetap menggenggam tangan gua.
“Nggak perlu dilepas?” Tanyanya.
“Jangan…” Gua menjawab lirih tanpa berani menatapnya.
“Pun, saat kita makan?” Tanyanya lagi.
“Yaudah nanti aja lepasnya kalo mau makan…” Jawab gua.
“Oh…”
Setelahnya, kami makan di salah satu resto favorit gua. Lalu bersiap pulang. Dan sejak saat itu, ia nggak lagi menggenggam tangan gua. Walaupun begitu, malam itu tetap menjadi malam terbaik buat gua. Malam yang nggak pernah gua bayangkan bakal terjadi.
Kami berdua berjalan menyusuri trotoar komplek perumahan. Seperti biasa, gua berjalan lebih dulu sementara ia berada di belakang.
“Aku mau tanya boleh nggak?” Tanya gua sambil berjalan mundur agar bisa melihatnya.
“Boleh…”
“Kalo kamu mau jawab boleh, kalo nggak bersedia jawab juga boleh…” Gua menambahkan.
“Nggak ada hukumannya kan? kalo nggak bisa jawab?”
“Hahaha, nggak kok, tenang aja…”
“Oke, apa?”
“Pekerjaan kamu apa sih?” Tanya gua.
“Mmm… Di sini nggak kerja, nganggur…”
“Bohong. Mana ada pengangguran HP nya bagus, keluaran terbaru. Baju dan sepatu kamu aja keliatan mahal…”
“Aku kan bilang nganggur, bukan miskin”
“Hahaha, iya…sih Tapi, kenapa nganggur, kenapa nggak cari kerja?”
“Mau.. Mau banget kerja. Tapi, nggak bisa”
“Kenapa?” Tanya gua lagi, super penasaran.
“Nggak boleh sama negara…” Jawabnya, yang bikin gua makin penasaran.
“Ih, kenapa?”
“Rahasia…”
“Aaaah…..”
“Ganti pertanyaan lain aja” Pintanya.
“Ok. Kalo yang ini nggak ada pilihan. Harus dijawab…” Ucap gua.
“Apa?”
“Kita ini sebenernya apa?” Tanya gua, kini pasang wajah serius. Entah sudah berapa kali gua menanyakan hal ini kepadanya dan nggak pernah mendapat jawaban.
Seperti biasa, ia nggak langsung menjawab. Hanya tersenyum sambil terus berjalan. Setelah beberapa saat barulah ia buka suara; “Nggak tau… Menurut kamu, kita ini apa?”
“Nggak tau… Takut salah jawab…”
“…”
“… Nanti kalo aku bilang kita ini pacaran, kamu nggak sependapat. Malu dong…”
“…”
“… Tapi, kalo nggak dibilang pacaran. Perlakuan kamu ke aku kayak gitu. Bikin aku…” Gua berhenti bicara, nggak menemukan kata dan kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaan gua.
“Bikin kamu apa?” Tanyanya.
“Nggak, lupain aja…” Jawab gua.
Kemudian, kami hanya terus diam sampai akhirnya tiba di depan rumah. Rumah yang masih dalam kondisi gelap, karena gua yang lupa menyalakan lampu depan tadi. Tanda kalau Nyokap belum pulang.
“Udah ya…” Ucapnya.
“Udah? gitu aja?” Gua menggumam pelan, sambil membuka pagar dan masuk ke dalam. Sementara, ia sudah bersiap untuk pergi.
Saat gua hendak menutup pagar, ia dengan cepat merangsek masuk lalu berdiri tepat di depan gua. Dekat, sangat dekat.
“Emang harus gimana?” Tanyanya. Seakan bisa mendengar gumaman gua yang lirih tadi.
“…” Gua terdiam dan nggak menjawab.
Ia sedikit menundukkan kepalanya, lalu tanpa memberi kesempatan otak gua untuk berpikir ia terus mendekat dan memberikan ciuman.
Gua tertegun; shock. Sangat shock! jantung ini terasa lepas dari tubuh, sementara dahi mulai berkeringat dan tangan yang bergetar hebat.
Ciuman pertama gua, ciuman beraroma tembakau.
“Itu menjawab nggak?” Tanyanya.
“…” Gua terdiam, nggak bisa bicara. Lidah terasa kelu dan tenggorokan tercekat dengan kepala tertunduk dan kedua tangan sibuk memilin ujung kardigan.
Dan tanpa bicara lagi, ia keluar dari gerbang dan berjalan menjauh. Sementara gua nggak bisa berkata apa-apa. Kedua kaki terasa lemah seakan nggak ada tenaga, lalu mulai membungkuk seraya memegani bibir dengan ujung jari.
“Iya… itu menjawab semuanya” gumam gua pelan.
--
Begitu Nyokap sudah pergi, gua langsung menghubungi Lian kembali.
Nada sambung terdengar beberapa kali, hingga suaranya menyambut gua; “Pagiii….” Sapanya.
“…”
“… Kenapa aku tiba-tiba jadi ‘Gaby’?” Tambahnya.
“Jadi gini, tadi Mamah lagi di kamar pas kamu telepon” Gua menjelaskan.
“Hahahaha… Kamu pasti baru bangun ya?” Tanyanya.
“Iya, hehehe… Kamu telpon mau bangunin aku?” Kini gua yang gantian bertanya.
“Iya…” Jawabnya.
Gua terdiam, tersipu dan merasa girang bukan kepayang. Untuk pertama kalinya ada orang selain Nyokap dan The Lontongers yang punya niat untuk menelpon untuk membangunkan gua.
“Udah sana siap-siap…” Ucapnya.
“Siap-siap kemana?” Tanya gua.
“Lho katanya mau pergi”
“Sekarang? Sepagi ini?” Tanya gua.
“Pagi? Sekarang udah mau jam 11” Jawabnya.
Gua mendongak, melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan hampir pukul 11.
“Astaga… Yaudah. Aku mandi dulu, nanti mau ketemuan dimana?” Tanya gua.
“Aku jemput aja nanti…”
“Dimana? Di rumah?” Tanya gua.
“Iya…” Gua menjawab yakin karena Nyokap sudah berangkat. Jadi, sepertinya nggak masalah kalau ia menjemput di rumah.
Gua mandi dan bersiap-siap. Ponsel gua terus berdering saat tengah sibuk memilih dan memadu-padankan pakaian. Gua melihat ke layarnya yang menampilkan panggilan dari Lian.
“Bentar….” Hanya itu yang gua ucapkan lalu mengakhiri panggilan.
Setelah beberapa kali berganti pakaian karena merasa kurang cocok, akhirnya gua memutuskan memakai pilihan awal. Kaos Crop top hitam tanpa lengan yang dibungkus dengan cardigan abu-abu, sementara celana cargo panjang berwarna hijau muda ala Acubi menjadi bawahannya. ‘Nanti tinggal pake sepatu kets yang putih itu’ Batin gua sambil tersenyum.
Gua berlari keluar dari kamar menuju ke bawah.
Terlihat Lian sudah berdiri, bersandar pada pagar rumah sambil menghisap rokoknya. Saat mendengar pintu terbuka, ia berbalik dan menatap gua lalu tersenyum; “Udah siap?”
“…” Gua nggak memberi jawaban, hanya mengangguk dan membalas senyumnya.
Ia menatap gua dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, tatapan yang sama persis ia tunjukkan saat pertama kali kami bertemu dulu; di kontrakan.
“Awesome…” Gumamnya pelan. Dan gua masih nggak bisa merespon, hanya tersenyum; tersipu dengan wajah yang mulai memerah.
Dengan menggunakan taksi, kami berangkat menuju ke mall terdekat. Mall tempat biasa gua dan The Lontongers nongkrong menghabiskan waktu. Mall yang baru saja gua datangi kemarin. Namun, kali ini tentu saja berbeda rasanya, karena kali ini bukan Gaby, Liv atau Fidel yang bersama gua; melainkan Lian.
“Mau langsung nonton?” Tanyanya begitu kami memasuki Mall.
“Mmm… Boleh” Jawab gua.
Sama seperti sebelumnya, saat di mall pun ia selalu mencoba menjaga jarak dengan gua. Awalnya, gua memang nggak terlalu ambil pusing dengan sikapnya itu. Apalagi waktu itu, kami berjalan di jalan raya atau di jalan komplek. Tapi, saat berada di tempat seperti ini; di mall, masa iya dia terus begitu.
Gua menghentikan langkah, lalu menatapnya sambil pasang tampang cemberut. Ia berjalan lebih dulu dan menyadari gua berhenti lantas ikut berhenti, lalu menoleh.
“Kenapa?” Tanyanya, kemudian menghampiri gua.
“Gapapa, kamu jauh banget jalannya…” Jawab gua.
“Oh terus harusnya gimana?” Tanyanya.
“Di sini aja, jangan jauh-jauh…” Ucap gua sambil menunjuk posisi kosong tepat di sebelah gua. Ia lantas mundur beberapa langkah dan mengisi posisi yang gua tunjuk.
“Gini?” Tanyanya.
“…” Gua mengangguk cepat sambil tersenyum.
Kami tiba di area bioskop di lantai dua mall. Tempat kemarin gua dan The Lontongers juga menghabiskan waktu menonton film di sini. Ia berdiri, dengan kedua tangan berada di saku celana, menatap satu persatu poster-poster film yang sedang tayang, mirip seperti pengamat seni yang sedang mengamati pameran lukisan. Sementara, gua terus berada di sisinya.
“Mau nonton apa?” Tanyanya tanpa memalingkan pandangan dari poster film.
“Aku kemarin udah nonton yang ini…” Jawab gua sambil menunjuk ke salah satu poster.
“Berarti jangan nonton film ini…” Ucapnya.
“Iya, film apa aja asal jangan yang ini” Balas gua.
“Aku yang pilih?”
“Iya…” Gua menjawab singkat.
Tanpa banyak pertimbangan dan seakan nggak peduli dengan review, pemeran, genre dan sinopsinya, Lian mulai membeli dua tiket yang jadwal tayangnya paling dekat. Sementara, gua berdiri sambil memandangi suasana bioskop yang mulai ramai. Ramai dipenuhi muda-mudi yang saling bergandengan tangan, sejoli yang dimabuk cinta, ingin menghabiskan waktu berdua sambil menonton film. Gua tersenyum, sadar kalau saat ini gua adalah bagian dari mereka.
Sejak dulu, gua nggak pernah bermimpi melakukan hal ini; kencan atau nonton film di bioskop berdua saja dengan seorang pria yang gua suka. Tapi, saat ini, gua berdiri di sini, melakukan hal yang sebelumnya nggak pernha terbayangkan.
“Bengong? ngelamunin apa?” Tanyanya sambil melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah.
“Oh, nggak.. Cuma ngeliatin orang-orang aja”
“Kenapa dengan orang-orang?” Tanyanya sambil berpaling dan menatap sekeliling.
“Pasangan-pasangan itu… keliatan mesra banget”
“Oh…” Responnya.
Iya, hanya itu responnya; hanya sekedar ‘Oh’.
Nggak seberapa lama, pintu studio tempat film diputar di buka. Kami nggak bisa langsung masuk karena masih terjebak dalam antrian untuk membeli camilan dan minuman. Akhirnya, setelah terlambat beberapa menit, pesanan kami selesai dan bergegas masuk ke studio.
Karena film sudah dimulai beberapa menit yang lalu, studio sudah gelap tanpa ada satupun lampu yang menyala. Satu-satunya sumber cahaya adalah layar di depan studio yang saat itu nggak terlalu terang karena adegan tengah menampilkan scene malam. Sedangkan kami berdua masih harus menaiki satu persatu anak tangga kecil untuk ke tempat duduk kami.
Perlahan, Lian meraih tangan gua dan menggenggamnya. Lalu, dengan bantuan cahaya ponsel ia mulai membimbing gua mencari nomor kursi.
Jantung gua mulai berdebar kencang, hingga rasanya mau terlepas. Bukan, bukan gegara suara film yang menggelegar tapi karena genggamannya yang masih erat di tangan gua. Pun, kami sudah duduk cukup lama. Akibatnya, sepanjang film gua sama sekali nggak mampu berkonsentrasi dengan alur cerita, popcorn dan Java tea favorit gua pun nyaris nggak tersentuh. Gua hanya bolak-balik memandangi tangan gua yang di genggamnya, lalu beralih menatap wajahnya. Masih nggak percaya dengan sikapnya ini.
Perlahan, ia mendekatkan wajahnya.
Hal yang bikin jantung ini berdebar semakin cepat.
“Kenapa? daritadi kayaknya gelisah?” Bisiknya tepat di dekat telinga gua.
Gua menjawab pertanyaannya dengan menunjuk ke arah tangan yang di genggamnya. Paham dengan maksud gua, ia melonggarkan genggaman dan melepasnya.
“Jangan… Jangan dilepas” Gumam gua pelan, sangat pelan.
Perlahan, ia kembali meraih tangan gua dan menggenggamnya.
Kami terus begitu sepanjang film. Gua bahkan rela menggaruk kepala yang gatal dengan tangan satunya, saking takutnya kehilangan genggaman. Iya, segitu parno-nya gua.
Bahkan hingga film berakhir, saat lampu studio kembali menyala dan kami keluar dari studio. Ia tetap menggenggam tangan gua.
“Nggak perlu dilepas?” Tanyanya.
“Jangan…” Gua menjawab lirih tanpa berani menatapnya.
“Pun, saat kita makan?” Tanyanya lagi.
“Yaudah nanti aja lepasnya kalo mau makan…” Jawab gua.
“Oh…”
Setelahnya, kami makan di salah satu resto favorit gua. Lalu bersiap pulang. Dan sejak saat itu, ia nggak lagi menggenggam tangan gua. Walaupun begitu, malam itu tetap menjadi malam terbaik buat gua. Malam yang nggak pernah gua bayangkan bakal terjadi.
Kami berdua berjalan menyusuri trotoar komplek perumahan. Seperti biasa, gua berjalan lebih dulu sementara ia berada di belakang.
“Aku mau tanya boleh nggak?” Tanya gua sambil berjalan mundur agar bisa melihatnya.
“Boleh…”
“Kalo kamu mau jawab boleh, kalo nggak bersedia jawab juga boleh…” Gua menambahkan.
“Nggak ada hukumannya kan? kalo nggak bisa jawab?”
“Hahaha, nggak kok, tenang aja…”
“Oke, apa?”
“Pekerjaan kamu apa sih?” Tanya gua.
“Mmm… Di sini nggak kerja, nganggur…”
“Bohong. Mana ada pengangguran HP nya bagus, keluaran terbaru. Baju dan sepatu kamu aja keliatan mahal…”
“Aku kan bilang nganggur, bukan miskin”
“Hahaha, iya…sih Tapi, kenapa nganggur, kenapa nggak cari kerja?”
“Mau.. Mau banget kerja. Tapi, nggak bisa”
“Kenapa?” Tanya gua lagi, super penasaran.
“Nggak boleh sama negara…” Jawabnya, yang bikin gua makin penasaran.
“Ih, kenapa?”
“Rahasia…”
“Aaaah…..”
“Ganti pertanyaan lain aja” Pintanya.
“Ok. Kalo yang ini nggak ada pilihan. Harus dijawab…” Ucap gua.
“Apa?”
“Kita ini sebenernya apa?” Tanya gua, kini pasang wajah serius. Entah sudah berapa kali gua menanyakan hal ini kepadanya dan nggak pernah mendapat jawaban.
Seperti biasa, ia nggak langsung menjawab. Hanya tersenyum sambil terus berjalan. Setelah beberapa saat barulah ia buka suara; “Nggak tau… Menurut kamu, kita ini apa?”
“Nggak tau… Takut salah jawab…”
“…”
“… Nanti kalo aku bilang kita ini pacaran, kamu nggak sependapat. Malu dong…”
“…”
“… Tapi, kalo nggak dibilang pacaran. Perlakuan kamu ke aku kayak gitu. Bikin aku…” Gua berhenti bicara, nggak menemukan kata dan kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaan gua.
“Bikin kamu apa?” Tanyanya.
“Nggak, lupain aja…” Jawab gua.
Kemudian, kami hanya terus diam sampai akhirnya tiba di depan rumah. Rumah yang masih dalam kondisi gelap, karena gua yang lupa menyalakan lampu depan tadi. Tanda kalau Nyokap belum pulang.
“Udah ya…” Ucapnya.
“Udah? gitu aja?” Gua menggumam pelan, sambil membuka pagar dan masuk ke dalam. Sementara, ia sudah bersiap untuk pergi.
Saat gua hendak menutup pagar, ia dengan cepat merangsek masuk lalu berdiri tepat di depan gua. Dekat, sangat dekat.
“Emang harus gimana?” Tanyanya. Seakan bisa mendengar gumaman gua yang lirih tadi.
“…” Gua terdiam dan nggak menjawab.
Ia sedikit menundukkan kepalanya, lalu tanpa memberi kesempatan otak gua untuk berpikir ia terus mendekat dan memberikan ciuman.
Gua tertegun; shock. Sangat shock! jantung ini terasa lepas dari tubuh, sementara dahi mulai berkeringat dan tangan yang bergetar hebat.
Ciuman pertama gua, ciuman beraroma tembakau.
“Itu menjawab nggak?” Tanyanya.
“…” Gua terdiam, nggak bisa bicara. Lidah terasa kelu dan tenggorokan tercekat dengan kepala tertunduk dan kedua tangan sibuk memilin ujung kardigan.
Dan tanpa bicara lagi, ia keluar dari gerbang dan berjalan menjauh. Sementara gua nggak bisa berkata apa-apa. Kedua kaki terasa lemah seakan nggak ada tenaga, lalu mulai membungkuk seraya memegani bibir dengan ujung jari.
“Iya… itu menjawab semuanya” gumam gua pelan.
--
Is It The Answer - Reality Club
I make you break, you move I take
Love is the answer so they say
But if I went away, what would you say
Would it be enough to make you stay?
As you look to the exit
I don't even know why I'd do this anymore
I know, there's things I should know
And I know you can't accept she's the love that I kept
Scared I'll push you away, but I love you everyday
I know there's things you should know
I'm in love not because I want to
She's become something that I got to see
Won't you just stick around with me?
Oh and darling
I mistake intent for better days
While you misled me in different ways
I don't think this is how it's to end
I'm in love not because I want to
She's become something that I got to see
Won't you just stick around with me?
Oh and darling
I mistake intent for better days
While you misled me in different ways
I don't think this is how it's to end
I'm in love not because I want to (Is it the answer? Is it forever?)
He's become something that I got to see (I need to show you something about you)
Won't you just stick around with me? (Is it the answer? Is it forever?)
Oh and darling (I need to show you something about you)
I mistake intent for better days (Is it the answer? Is it forever?)
While you misled me in different ways (I need to show you something about you)
I don't think this is how it's to end
delet3 dan 41 lainnya memberi reputasi
42
Kutip
Balas
Tutup