Kaskus

Story

Kategori

Pengaturan

Mode Malambeta
Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Syarat & Ketentuan

Kebijakan Privasi

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

abangruliAvatar border
TS
abangruli
Kisah Horror - Gadis Kecil
Kisah Horror - Gadis Kecil

Prologue

Lelaki itu mengintip dari kegelapan. Sosok yang ia lihat sepertinya seorang remaja belia. Diperhatikan dengan seksama agar ia tidak salah sasaran. Remaja itu tampak sedang fly. Ia terduduk di sebuah batu nisan sambil memejamkan mata. Bibirnya terlihat bergerak gerak seolah sedang bicara, walau tak ada lawan bicara selain angin malam yang terasa menusuk. Tubuh kurusnya ditutupi dengan kaos hitam lusuh dengan celana jeans belel yang penuh robekan di bagian lutut. Secara bentuk tubuh dan berat badan sangat pas sesuai yang ia cari. Sehuah lintingan ganja tergeletak disamping. Fix lagi fly. Berarti aman, remaja kurus tersebut tak akan menyadari kehadirannya, pikir lelaki itu. Dengan melangkah tanpa suara, ia mendekat hingga jarak tersisa hanyalah selemparan batu.

Ia menarik nafas menyaksikan mangsa dihadapannya. Pikirannya mulai bekerja memenuhi benak. Segala pembenaran perlu ia lakukan karena sebentar lagi ia harus membunuh suara hatinya. Tanpa pembenaran ia akan merasa berdosa. Dengan pembenaran ia akan merasa waras. Baiklah. Kembali ia mengamati dan menyimpulkan. Kurus, gak terurus dan sepertinya calon sampah masyarakat. Tidak punya masa depan. Bahkan bisa jadi kalau menghilang pun kedua orangtuanya malah bersyukur. Menghilang pun berarti sama seperti ia membersihkan jalan dari sampah yang berserakan. Aku bukan membunuh seseorang, aku hanya akan melenyapkan seonggok sampah, pikir lelaki itu berulang kali.

Dilihatnya keadaan sekeliling. Pukul 02.15 dinihari di daerah pemakaman. Jauh dari pemukiman. Tak ada siapapun selain barisan nisan, aneka pohon Kamboja dan mungkin pocong. Itupun jika memang pocong itu ada. Tapi dirinya tak takut pada pocong. Ia lebih takut pujaan hatinya pergi meninggalkan dirinya. Cintanya yang begitu besar adalah alasan dia saat ini sedang berada disini.

Kembali dia memandang sekeliling. Setelah dipastikan aman dia kemudian melangkah mendekati remaja tadi sedekat mungkin. Berdiri dari belakang dan memperhatikan tengkuk abg itu.

Diambilnya sapu tangan tebal dari dalam saku celana. Tangan satunya mengambil botol kecil, membuka tutup dan dengan hati hati meneteskan beberapa tetes ke sapu tangan. Kemudian dalam hitungan detik dan kecepatan yang gesit, ia mendekap si abg, menutup hidung abg itu dengan sapu tangan. Dengan segenap tenaga ia menahan geleparan tubuh yang tak sempat meronta apalagi melawan. Hanya menggelepar sesaat setelah itu diam melunglai.

Pingsan sudah, pikir lelaki itu. Ia berdiri dan membiarkan tubuh si kurus jatuh tergeletak. Sekarang mulai bekerja ke bagian berikutnya. Tubuh kurus itu diikat tangan dan kaki. Mulutnya pun di sumpal kapas dan diberi lakban. Ia tak mau andai si kurus itu mendadak bangun, ia berteriak gak karuan. Setelah itu dimasukkan tubuh si kurus kedalam karung. Dilipat sedemikian rupa agar nanti di dalam mobil bisa ia masukkan ke dalam koper besar yang sudah ia bawa. Ia ada waktu satu hingga dua jam sebelum si kurus sadar. Sambil menarik nafas panjang ia memulai bagian yang menurutnya tersulit. Menggotong tubuh si kurus hingga ke tempat mobilnya berhenti. Huff sampai kapan aku sanggup kerja berat seperti ini? Pikir nya dengan nafas yang terengah engah...

***

Lelaki berusia 35 tahun membuka pintu kediamannya. Dengan cepat dimasukkan koper besar berwarna hitam ke dalam rumah. Pintu pun segera ia tutup kembali dan dikunci hingga dua kali. Akhirnya tiba juga ia dirumah. Ia membalikkan tubuhnya dan hampir kaget saat melihat sosok kecil yang cantik sudah berdiri dihadapannya.

"Kenapa kok lama banget? Aku laper.. " rajuknya khas anak abg. Usianya memang terlihat seperti anak smp mungkin sekitar 10, 11 atau 12. Entahlah. Tak ada yang tahu tepat usia anak itu.

"Iya sayang. Maaf ya. Tapi di daerah sini susah cari mangsa yang aman. Akhirnya aku terpaksa cari kuburan sana.." jawab lelaki itu sambil membaringkan koper. Dibuka resleting kopernya dan dikeluarkan karung hitam berlubang tadi. Si kecil itu menyaksikan Dengan seksama. Seperti anak kecil yang tak sabar melihat oleh oleh makanan apa yang dibawa oleh ayahnya.

"Tapi masih hidupkan? Kamu gak nyolong mayat kan??"

"Masih hiduplah.. ini sebentar lagi bangun kayaknya.."

"Hihi... baguslah. Makanan itu harus fresh biar sehat bagi tubuh.. jangan makan makanan yang basi.."

Lelaki itu hanya tersenyum masam mendengar becandaan si cantik. Ia menyeret tubuh si kurus ke arah kamar mandi diikuti langkah riang si gadis kecil di belakangnya. Benar saja dugaannya tadi, baru saja sampai di dalam kamar mandi si remaja kurus mulai membuka mata. Karena mulutnya tertutup rapat ia tak bisa mengeluarkan suara apapun. Matanya terlihat panik memandang sekeliling. Tubuhnya hendak meronta tapi terhalang ikatan kuat pada tangan dan kaki. Menjadikan si kurus bagai seonggok daging yang hidup. Mata si cantik berbinar memandangnya.

"Tuh udah bangun kan? Ya udah pintunya kamu tutup ya. Aku laper juga. Mau masak indomie aja. Kalau udah selesai, kamu mandi dulu sampai badan kamu bersih. Jangan sampe ada darah yang keluar dari kamar mandi.." tutur lelaki itu panjang lebar. Ia kemudian keluar dan menutup pintu kamar mandi. Meninggalkan si cantik beserta si remaja kurus di dalam sana. Dia melangkah ke dapur, mengambil panci dan dua bungkus mie instan. Tak lupa ditambah dengan sebutir telur dan tomat biar sehat. Sambil menunggu air mendidih ia menyalakan TV dan membiarkan suara siaran memenuhi ruangan. Bagaimana pun ia enggan mendengar erangan sakaratul maut yang biasanya tetap terdengar ke tengah rumah.
Habis makan ini, tugas terakhir masih menanti. Membersihkan kamar mandi dari genangan darah dan membuang jasad si kurus ke tempat aman. Huff.. terkadang aku sudah merasa lelah dengan semua ini, pikir lelaki itu. Tapi aroma mie instan goreng kemudian menyeruak dan menghibur penatnya diri. Ia menarik nafas panjang. Hmmm... betapa lezatmya mie ini. Ia pun mulai melahap. Sama seperti si cantik di dalam kamar mandi sana.

[Bersambung]
Diubah oleh abangruli 26-11-2024 12:23
gokil4everAvatar border
tiokyapcingAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 26 lainnya memberi reputasi
27
6.2K
398
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
abangruliAvatar border
TS
abangruli
#54
Bab 12 - Awal Mula

"Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter..."

Diam-diam Savitri memandang pada adiknya, Kirana, yang sedang duduk di lantai sambil terus bernyanyi. Kenyataan yang ada begitu mengiris hati Savitri. Secara fisik adiknya memang sedang menjelma menjadi kecantikan seorang dewi. Di usia 14 tahun, dalam tubuh Kirana telah terlihat segala hal yang menjadi mimpi setiap wanita dan segala hal yang menjadi dambaan setiap para lelaki. Rambut panjang hitam legam seperti mayang, kulit putih bersinar layaknya mutiara, mata belok yang penuh cerita, hidung bangir nan lentik, leher yang jenjang, tangan yang gemulai, dada yang membulat indah, betis yang lencir... sempurna! Itu baru 14 tahun, bagaimana kelak saat 21 tahun di puncak kemolekan seorang wanita?

Tak heran bila banyak lelaki yang sudah mengincar adiknya. Bahkan menurut kabar yang ia curi dengar dari percakapan ibu dan bapaknya, kecantikan Kirana sudah sampai kepada kalangan bangsawan di pusat kerajaan Majapahit. Beberapa pangeran sudah membicarakan untuk mempersuntingnya. Tanpa sadar Savitri mendengus kesal, 'A*u kowe... aku ae durung nikaah.. " desis Savitri pelan.

Kirana menghentikan kidung nya, mata indanya menatap Kirana, "Kenapa mbak? Mbak ngomong karo aku tha?"

Tak menjawab Savitri hanya melengos dan membuang muka. Mata adiknya terlihat sedih melihat bagaimana Savitri seolah begitu jijik padanya. Perlahan ia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar. Langit sudah lama gelap. Sudah seharusnya ia tidur.

Savitri kembali melirik saat adiknya berjalan. Dari siluet tubuh belakangnya saja sudah akan mampu membuat mata lelaki enggan untuk berkedip. Kembali Savitri melontarkan serapah walau dalam hati. Sudah lama ia dengki pada adiknya. Sejak Kirana lahir ia tak lagi menjadi pusat perhatian ibu bapaknya. Usianya sebenarnya hanya selisih dua tahun, tapi Sawitri dituntut untuk selalu mengalah pada Kirana. Segalanya selalu Kirana yang diutamakan. Dan itu membuatnya muak. Terlebih sejak adiknya berusia 10 tahun dan kecantikan seorang gadis mulai tumbuh. Ia merasa tak hanya ibu bapaknya, tapi semua orang sedunia menjadi sayang pada Kirana. Padahal Savitri termasuk gadis yang cantik pula. Tapi yang ia miliki hanyalah kecantikan khas gadis Majapahit pada umumnya. Sementara kecantikan Kirana entah darimana datangnya. Seperti bidadari negeri khayangan. Mungkin ibuku selingkuh dengan raja jin, rutuk Savitri kesal.

"Nduk..." panggil ibunya dari ruang dapur.

Savitri diam tak menjawab. Ia sedang kesal dan tak hendak bercakap dengan siapapun itu.

"Nduk.. nang endi kowe?" Seru Ibunya lagi. Bahkan kini sebagian tubuh ibunya tampak dari balik tirai pemisah dapur dan ruang tengah. Melihat Savitri ada tapi tak menjawab, wanita paruh baya itu tampak kesal, "Ndak sopan kowe nduk.. mbok ya nyaut lek di panggil simbok.."

"Maaf simbok.." jawab Savitri pelan. Ia tak mau juga ibunya memarahi dan mengadu pada bapaknya. Bisa habis dia dimarahin bahkan di pukul dengan menggunakan tongkat kayu.

Ibunya menyerahkan bungkusan menggunakan daun pisang. Entah apa isinya, "kasih ini ke bapakmu. Dia lagi tapa di pinggir sungai.. bawa obor yang di dapur"

Savitri terkejut, "Ini sudah malam simbok.. aku wedhi.. takut.."

"Alah... bapak mu itu jawara sakti! Ora ene sing berani ganggu keluarga kita... wong atawa demit podo wedhi kabeh karo bapakmu... semua demit di desa ini wis dadi kanca  ne bapakmu... Aman kowe jalan sendirian..."

Savitri kesal tertahan. Ribuan kali Ibunya selalu bilang begitu sejak Savitri kecil. Tapi memang begitu kenyataan. Bapaknya memang terkenal dengan ilmu bela diri dan kesaktiannya yang diluar nalar. Sepertinya dia memang bersekutu dengan salah satu wong alus untuk mendapatkan itu semua. Tapi Savitri tetaplah seorang gadis yang baru saja 17 tahun. Ia tetap takut pada gelap dan setan, "Aku ajak Kirana ya simbok?"

"Lho.. kenapa? Wis turu kok diajak jalan.. " tanya Ibunya. Ada raut tak setuju disana.

"Masih tangi kok.. masih bangun.." jelas Savitri cepat, "Kiranaaa.... reneo... ayo kesini sebentar.."

Ibunya terdiam. Sepertinya mengharap Kirana tak menjawab. Tapi tak sampai hitungan sepuluh Kirana tak hanya menjawab melainkan sudah tiba di hadapan mereka berdua, "Kenapa mbak?"

"Mbak mau ke bapak, kamu mau ya temenin mbak jalan ke bapak?" Tanya Savitri dengan suara yang begitu lembut dan senyum yang manis.

Melihat kakaknya begitu manis, Kirana sangat senang. Sangat jarang ia melihat momen katanya tersebut. Tanpa pikir panjang ia menggangguk, "Ayo mbak.. aku ikut.. aku mau.."

"Tapi... ini kan sudah malam..." ujar Ibunya pelan. Antara khawatir bercampur dengan menjilat ludah sendiri...

Savitri tersenyum, "bukankah simbok bilang tak akan ada yang berani ganggu keluarga kita? Wong atau demit semuanya hormat pada keluarga kita?"

Ibunya merah padam mendengarnya. Ia tak suka diskak mat seperti itu, "kowe ojo ngelunjak.. sana pergi sendiri!! Kirana mau aku suruh bantu simbok..."

"Lho.. tapi.."

"Pergi sanah cepat! Tak kandani bapakmu lek kowe kurang aja..." seru Ibunya sambil jemarinya menuding ke arah pintu.

Savitri diam mematung. Emosinya memuncak. Tapi apa daya ia tak berani lebih jauh membantah Ibunya. Dengan tubuh gemetar menahan marah dan tangis ia segera berlari ke luar. Berteman obor ia menembus kegelapan menuju sungai. Tapi derai airmata dan jiwa marahnya seolah menjadi panggilan bagi mahluk mahluk tak kasat mata. Kegelapan jiwanya semakin pekat dipenuhi amarah.

"Mati kowe Kirana!! Mati kowe!!!" Jerit Kirana kencang...

[Bersambung]

Note:
Ini cuma cerita fiksi. Bukan sejarah. Jadi penulis gak tau apakah lagu cublak cublak sueng tercipta sejak jaman majapahit atau di era Jawa modern. Yang jelas ini cuma buat hiburan yaa.. jadi anggap aja itu lagu udah ada sejak era Majapahit... huehe..
Penulis gak terima komplain terkait lagu itu. Just enjoy aja yaaa...
Diubah oleh abangruli 15-11-2024 11:50
namakuve
habibhiev
kedubes
kedubes dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.