- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Seorang Pramugari (True Story)
...
TS
aymawishy
Kisah Seorang Pramugari (True Story)

Di saat kau merasa hidup sendiri
Dalam kerasnya dunia
Tersenyumlah
Bila kau pun harus berputus asa
Berpikir semua kan berakhir
Tersenyumlah
Kau tak sendiri aku di sini
Menantimu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri aku di sini
Berikan tanganmu mari kita hadapi
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang dan tetap melangkah
Kau tak sendiri
Perhatikan sekitar coba kau amati
Hidup bukan sekedar tentang patah hati
Dan semua yang terjadi ambil hikmahnya
Om Iwan pun berkata "ambil indahnya"
Kau tak sendiri aku di sini
Memanggilmu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri kami di sini
Raihlah tanganku bersama kita lewati
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang teruskan melangkah
Kau tak sendiri
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kita inginkan yang kita harapkan
Hadapilah dengan hati tenang
Yakinkan dirimu
Kau tak sendiri yeah yeah yeaah
Dalam kerasnya dunia
Tersenyumlah
Bila kau pun harus berputus asa
Berpikir semua kan berakhir
Tersenyumlah
Kau tak sendiri aku di sini
Menantimu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri aku di sini
Berikan tanganmu mari kita hadapi
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang dan tetap melangkah
Kau tak sendiri
Perhatikan sekitar coba kau amati
Hidup bukan sekedar tentang patah hati
Dan semua yang terjadi ambil hikmahnya
Om Iwan pun berkata "ambil indahnya"
Kau tak sendiri aku di sini
Memanggilmu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri kami di sini
Raihlah tanganku bersama kita lewati
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang teruskan melangkah
Kau tak sendiri
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kita inginkan yang kita harapkan
Hadapilah dengan hati tenang
Yakinkan dirimu
Kau tak sendiri yeah yeah yeaah
Quote:
Hai, aku Anes, nama panggilan dari pemilik akun aymawishy ini. Semasa sekolah, aku tinggal di sebuah Kabupaten di Jawa Timur bagian timur.
Mungkin yang sudah membaca threadku yang menceritakan bagaimana kisahku semasa SMPakan lebih tahu bagaimana kejamnya orang-orang di sekitarku memperlakukanku.
Tapi, seperti yang Papaku bilang, aku harus tetap semangat dan harus terus berperilaku baik meski dijahatin.
Selepas SMA, aku merantau ke Surabaya. Disaat itulah aku benar-benar ingin hidup mandiri tanpa bantuan dari Papa. Karenanya, aku harus bekerja agar bisa kuliah.
Awal kehidupanku di perantauan, sangatlah penuh perjuangan.
Ngekos di kosan kumuh, aku pernah. Disana aku ngerasain tidur diatas kasur yang basah karena atap kamarku bocor selama musim penghujan. Dan juga kamar mandi yang lantainya meski disikat berkali-kali pakai WPC, tetap berwarna hitam karena lumutan.
Selain itu, selama 3 bulan berturut-turut, tiap harinya hanya makan roti seharga seribuan yang aku beli di warung kopi dekat kantor tempat aku magang. Yaa meski, alhamdulillahnya ada aja orang baik yang ngasih aku makan. Ohya, karena sering banget makan roti tanpa makan nasi, aku jadi punya “maag” hehehe.
Rasanya jika diingat, masih banyak perjuangan-perjuangan yang aku lalui sejak tahun 2012.
Mungkin yang sudah membaca threadku yang menceritakan bagaimana kisahku semasa SMPakan lebih tahu bagaimana kejamnya orang-orang di sekitarku memperlakukanku.
Tapi, seperti yang Papaku bilang, aku harus tetap semangat dan harus terus berperilaku baik meski dijahatin.
Selepas SMA, aku merantau ke Surabaya. Disaat itulah aku benar-benar ingin hidup mandiri tanpa bantuan dari Papa. Karenanya, aku harus bekerja agar bisa kuliah.
Awal kehidupanku di perantauan, sangatlah penuh perjuangan.
Ngekos di kosan kumuh, aku pernah. Disana aku ngerasain tidur diatas kasur yang basah karena atap kamarku bocor selama musim penghujan. Dan juga kamar mandi yang lantainya meski disikat berkali-kali pakai WPC, tetap berwarna hitam karena lumutan.
Selain itu, selama 3 bulan berturut-turut, tiap harinya hanya makan roti seharga seribuan yang aku beli di warung kopi dekat kantor tempat aku magang. Yaa meski, alhamdulillahnya ada aja orang baik yang ngasih aku makan. Ohya, karena sering banget makan roti tanpa makan nasi, aku jadi punya “maag” hehehe.
Rasanya jika diingat, masih banyak perjuangan-perjuangan yang aku lalui sejak tahun 2012.
Ohya..
Saat nanti aku berbagi cerita di thread ini, tolong jangan dihujat ya.
Sebab..
Aku bukanlah seorang penulis, jadi jangan pernah berharap lebih terhadap tulisan yang aku bagi.
Aku juga bukanlah orang hebat yang hanya ingin berbagi pengalaman yang aku alami.
Saat nanti aku berbagi cerita di thread ini, tolong jangan dihujat ya.
Sebab..
Aku bukanlah seorang penulis, jadi jangan pernah berharap lebih terhadap tulisan yang aku bagi.
Aku juga bukanlah orang hebat yang hanya ingin berbagi pengalaman yang aku alami.
Pokok Isi Cerita
Quote:
#Bagian 1
-Part 1 : Awal Mula
-Part 2 : Menjemput Restu
-Part 3 : Tahap Awal
-Part 4 : Pantang Mundur
-Part 5 : Tentang Cinta Pertama
-Part 6 : Terjebak Nostalgia
-Part 7 : Mungkin Nanti
-Part 8 : Undangan?
-Part 1 : Awal Mula
-Part 2 : Menjemput Restu
-Part 3 : Tahap Awal
-Part 4 : Pantang Mundur
-Part 5 : Tentang Cinta Pertama
-Part 6 : Terjebak Nostalgia
-Part 7 : Mungkin Nanti
-Part 8 : Undangan?
Quote:
#Bagian 2 : Proses Perekrutan Pramugari
-Part 9 : Hi, Jakarta! Be Nice Please!
-Part 10 : Hall of Fame
-Part 11 : Berpisah dengan Shasa, Bertemu dengan Wildan!
-Part 12 : Papa Yang Makin Menua
-Part 13 : Manis Dan Pahit
-Part 14 : Yok Opo Seh!
-Part 15 : Dikirim Malaikat Baik Yang Menjelma Menjadi Manusia
-Part 16 : Medical Examination
-Part 17 : Curhat Dadakan, Berujung Menyesakkan
-Part 18 : Menjelang Tahun Baru
-Part 19 : Selamat Datang Tahun 2017!
-Part 20 : Made Darma
-Part 21 : Hari Yang Kutunggu
-Part 22 : PANTUKHIR!
-Part 9 : Hi, Jakarta! Be Nice Please!
-Part 10 : Hall of Fame
-Part 11 : Berpisah dengan Shasa, Bertemu dengan Wildan!
-Part 12 : Papa Yang Makin Menua
-Part 13 : Manis Dan Pahit
-Part 14 : Yok Opo Seh!
-Part 15 : Dikirim Malaikat Baik Yang Menjelma Menjadi Manusia
-Part 16 : Medical Examination
-Part 17 : Curhat Dadakan, Berujung Menyesakkan
-Part 18 : Menjelang Tahun Baru
-Part 19 : Selamat Datang Tahun 2017!
-Part 20 : Made Darma
-Part 21 : Hari Yang Kutunggu
-Part 22 : PANTUKHIR!
Quote:
#Bagian 3
-Part 23 : Kesempatan Kedua
-Part 24 : Accedere
-Part 25 : Tentang Rey!
-Part 26 : Become In Love
-Part 27 : Buket Mawar Merah
-Part 28 : Out Of Control
-Part 29 : Di Zangrandi
-Part 30 : Pantukhir Kedua
-Part 31 : Si Paling Inisiatif
-Part 32 : Agnes
-Part 33 : Cemburu
-Part 34 : Rey!?
-Part 35 : Ternyata…
-Part 36 : Di Puncak Bromo
-Part 37 : Berpisah
-Part 38 : Hasil Pantukhir
-Part 39 : Tyas!
-Part 40 : Di Kampung Halaman
-Part 41 : Berpamitan
-Part 23 : Kesempatan Kedua
-Part 24 : Accedere
-Part 25 : Tentang Rey!
-Part 26 : Become In Love
-Part 27 : Buket Mawar Merah
-Part 28 : Out Of Control
-Part 29 : Di Zangrandi
-Part 30 : Pantukhir Kedua
-Part 31 : Si Paling Inisiatif
-Part 32 : Agnes
-Part 33 : Cemburu
-Part 34 : Rey!?
-Part 35 : Ternyata…
-Part 36 : Di Puncak Bromo
-Part 37 : Berpisah
-Part 38 : Hasil Pantukhir
-Part 39 : Tyas!
-Part 40 : Di Kampung Halaman
-Part 41 : Berpamitan
Quote:
#Bagian 4 : Initial Flight Attendant’s Ground Training
-Briefing and Sign Contract :
-Part 42 : Sekilas Tentang Ground Training
-Part 43 : Kog Begini Amat Sih?!
###
-Part 44 : Drama Perkara Sepatu
-Part 45 - Astaga!!
-Part 46 : KACAU!
-Part 47 : Drama di Hari Pertama
-Part 48 : Apa Benar FA Harus Deketin Pilot Agar Jam Terbangnya Banyak?
-Part 49 : Jawaban Dari Pertanyaan Mia
-Part 50 : Learning By Doing
-Part 51 : Tentang Chapter Lima dan CET
-Part 52 : Rey Datang Lagi
-Part 53 : Tersimpul Luka Kedua Kali
-Part 54 : White Horse
-Part 55 : Menjelang Flight Training
-Part 56 : Overthinking!
-Briefing and Sign Contract :
-Part 42 : Sekilas Tentang Ground Training
-Part 43 : Kog Begini Amat Sih?!
###
-Part 44 : Drama Perkara Sepatu
-Part 45 - Astaga!!
-Part 46 : KACAU!
-Part 47 : Drama di Hari Pertama
-Part 48 : Apa Benar FA Harus Deketin Pilot Agar Jam Terbangnya Banyak?
-Part 49 : Jawaban Dari Pertanyaan Mia
-Part 50 : Learning By Doing
-Part 51 : Tentang Chapter Lima dan CET
-Part 52 : Rey Datang Lagi
-Part 53 : Tersimpul Luka Kedua Kali
-Part 54 : White Horse
-Part 55 : Menjelang Flight Training
-Part 56 : Overthinking!
Quote:
#Bagian 5 : Flight Training
-Part 57 : Junior Selalu Salah
-Part 58 : Briefing Before Flight
-Part 59 : About Preflight Check
-Part 60 : Company Check
-Part 61 : Berjuang Lagi!
-Part 62 : Jungle And Sea Survival Part I
-Part 63 : Jungle And Sea Survival Part II
-Part 64 : Jungle And Sea Survival Part III
-Part 65 : Jungle And Sea Survival Part IV
-Part 66 : CCFA & DGCA Check
-Part 57 : Junior Selalu Salah
-Part 58 : Briefing Before Flight
-Part 59 : About Preflight Check
-Part 60 : Company Check
-Part 61 : Berjuang Lagi!
-Part 62 : Jungle And Sea Survival Part I
-Part 63 : Jungle And Sea Survival Part II
-Part 64 : Jungle And Sea Survival Part III
-Part 65 : Jungle And Sea Survival Part IV
-Part 66 : CCFA & DGCA Check
Quote:
#Bagian 6 : Kehidupan Seorang Pramugari
-Part 67 : Persiapan Untuk Terbang
-Part 68 : My First Flight
-Part 69 : Rian dan Ihsan
-Part 70 : Setan Penjaga Kamar Vs Senior Ala Ala
-Part 71 : Kisah Kasih Tak Sampai
-Part 72 : Padaido
-Part 73 : Hubungan Tanpa Status
-Part 74 : Mimpi Aneh
-Part 75 : Putri Kebaya
-Part 76 : Kamu Mau Jadi Pramugari Yang Seperti Apa?
-Part 77 : Turbulensi
-Part 78 : Hari-hari Bersama Papa
-Part 79 : Papa, It’s My Birthday!
-Part 80 : Duka Yang Bertubi
-Part 81 : Flashback to 2017
-Part 82 : Tentang Aku dan Dia
-Part 67 : Persiapan Untuk Terbang
-Part 68 : My First Flight
-Part 69 : Rian dan Ihsan
-Part 70 : Setan Penjaga Kamar Vs Senior Ala Ala
-Part 71 : Kisah Kasih Tak Sampai
-Part 72 : Padaido
-Part 73 : Hubungan Tanpa Status
-Part 74 : Mimpi Aneh
-Part 75 : Putri Kebaya
-Part 76 : Kamu Mau Jadi Pramugari Yang Seperti Apa?
-Part 77 : Turbulensi
-Part 78 : Hari-hari Bersama Papa
-Part 79 : Papa, It’s My Birthday!
-Part 80 : Duka Yang Bertubi
-Part 81 : Flashback to 2017
-Part 82 : Tentang Aku dan Dia
Diubah oleh aymawishy 02-02-2024 08:38
Dhekazama dan 47 lainnya memberi reputasi
48
64.6K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aymawishy
#60
Part 18 - Menjelang Tahun Baru
Spoiler for Menjelang Tahun Baru:
30 Desember 2016, Jum’at
Tas ransel hitam dipunggungku rasanya lebih berat dari sebelumnya. Mungkin karena isinya adalah baju kotor (?)
Langkahku sedikit perlahan saat berada di ujung garbarata yang terhubung dengan lorong kedatangan Juanda untuk sekedar membenarkan posisi tali ranselku yang ternyata terlilit di pundak kiriku. Aku yang pagi itu menggerai rambut panjangku pun harus mengikat dan menggulungnya seadanya sembari berjalan ditepi agar sikuku tak mengenai penumpang lain yang juga berjalan menuju ke kedatangan.
Entah ini perasaanku atau bukan, rasanya ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari kejauhan. Aku kembali melangkah dengan cepat saat ku tahu seseorang itu mulai mendekat.
Aku merogoh handphoneku yang ku letakkan di kantong belakang jeansku, berpura-pura menerima telpon, agar seseorang itu mengurungkan niat buruknya jika memang benar begitu.
Namun, gerakanku kalah cepat, kini seseorang itu berada disampingku.
“Anes?”, sapanya.
Aku menoleh. Namun tak langsung membalas sapaannya.
Beberapa saat aku harus mencari-cari dalam memoriku, siapa kira-kira pria gagah berkulit cokelat dengan alis tebal dan berkumis tipis ini.
“Lupa ya?”, tanyanya.
“Hmm Mas Wahyu bukan??”, akhirnya aku ingat. Dia adalah teman masa kecilku dulu. Rumah dia berada di belakang rumahku. Kami bertetangga. Namun karena perbedaan usia yang cukup jauh, aku tak lagi bertemu dengannya sejak aku masuk SMA.
“Iyaa haha kirain bakal lupa. Btw kamu dari mana?”
“Dari main-main Mas. Hehehe.”
“Jauh yaaa, main-mainnya di Jakarta.”, aku membalas ucapannya dengan senyuman tipis dan tak sengaja mataku menangkap matanya yang tengah menatapku begitu dalam.
“Mas mau pulang kampung?”, aku mulai bertanya balik dan mencoba untuk mengalihkan pandanganku ke depan.
“Iyaa nih, Ibuku sakit.”
“Innalillah, sakit apa?”
“Sakit Malarindu Tropicangen sama anak bungsunya katanya. Soalnya aku udah 3 tahun ga pulang-pulang!!”
“Dih dasar!! Kirain sakit beneran!!”
Mas Wahyu terbahak. Merasa bahagia setelah berhasil mengelabuiku. Hmm jika mengingat kembali ke masa kecilku, Ibu Mas Wahyu adalah Ibu yang sangat baik tidak hanya kepada anak-anaknya, tetapi juga baik kepada aku dan anak-anak yang lain. Bahkan saat Mamaku meninggal saat usiaku belum genap sembilan tahun, beliau yang selalu memberikan perhatian penuh padaku, terutama masalah perbekalan. Hampir tiap pagi beliau membawakanku bekal ke sekolah dengan menu yang beda-beda. Ah aku jadi kangen masa-masa itu!
Dengan bertemunya aku dengan Mas Wahyu yang tak diduga-duga ini membuatku sedikit bernostalgia hingga perjalanan yang cukup jauh menuju pintu kedatangan pun tak terasa.
Sayang, Mas Agus yang pagi itu menjemputku sudah standby di depan kedatangan, jadi mau ga mau aku harus pamit untuk pergi duluan.
“Maafin yaa aku ga bisa nemenin Mas sampai mobil travel Mas ngejemput.”
“Iyaa gapapa, Nes. Santuy. Ohya, btw lain kali jangan gulung rambutmu begitu yaa.”
“Hah? Kenapa? Berentakan yaa? Hahahaha”
“Bukaan, kamu keliatan seksi dengan rambut kaya gitu. Aku khawatir kamu….”
“Diih!! Mesum!!”, aku memotong ucapannya. “Yaudah aku duluan yaaaa!!”, lanjutku berpamitan sembari membuka kembali ikatan rambutku saat sudah berjalan agak jauh darinya.
‘Hufh, kayanya gegara bentuk bajuku yang square neck begini deh yang jadi pemicunya kenapa dia sampe ngomong gitu.’, bathinku yang jujur masih kepikiran sama omongannya. Sial!!
***
31 Desember 2016, Sabtu
Akhir tahun di dua ribu enam belas, aku kebagian shift day off untuk pertama kalinya. Hm sebenernya percuma juga sih.. Akunya ga bisa ngerayain pergantian tahun sama pacar karena saat itu aku ga punya pacar hehehe. Untungnya, teman-teman kantorku ngadain bakar-bakar ikan di halaman depan kantor. Aku yang ketahuan ga punya kegiatan malam itu, mau ga mau yaa ikutan acara mereka.
Sekitar jam sepuluh malam, aku berangkat seorang diri ke kantor dengan motor matic merahku. Berbalut baju hitam lengan panjang yang kegedean dengan jeans semata kaki, tak bisa membuatku menghindari dinginnya udara malam itu. Jalanan yang makin ramai dan padat, membuat perjalananku memakan waktu sekitar tiga puluh menit, padahal biasanya, lima belas menit aja udah sampai.
Setiba di parkiran, aku mendapati motor-motor semua rekanku sudah berjejer rapi. Sepertinya aku datang paling akhir. ‘Semoga aja ga ada hal aneh-aneh yang mereka lakuin!’, bathinku saat mengingat kebiasaan mereka yang suka isengin siapa-siapa yang datang di akhir.
“Weeeh, artise wes tekooo!!!”, teriak Mas Ajun menggunakan microphone saat aku baru saja masuk ke area acara malam itu. Terlihat semua teman-temanku sedang duduk melingkari api unggun dan tengah asik menikmati hiburan receh dari seorang pelawak gadungan berperawakan gembul bulet ngeselin. Hehe.
Sontak teriakannya disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai teman-teman dan senior-seniorku.
“Weeeh, pramugari nih!!”, teriak yang lain. Aku hanya bisa menutup wajahku karena merasa sangat malu sambil mlipir duduk di tengah-tengah teman-temanku duduk.
“Eits! Siapa yang bolehin kamu duduk!!! Siniiii!! Enak aja dateng terlambat malah duduk!”, panggil Mas Ajun. Perasaanku mulai ga enak. Akupun terpaksa menurutinya untuk berdiri di dekat api unggun, disebelahnya. Disaat yang bersamaan, Mas Ajun memanggil seseorang lagi yang tidak aku kenali. Seseorang itu adalah pria berperawakan tinggi berkulit kuning langsat dengan brewok tipis. Hm karena kantorku menjadi satu dengan mess crew, ada kemungkinan dia adalah salah satu crew yang malam ini sedang bermalam di Surabaya.
“Namanya siapa Mas?”, tanya Mas Ajun saat setelah pria itu berdiri di samping kanannya.
“Saya Reihan.”, jawab pria itu dengan suara beratnya yang disambut dengan teriakan heboh dari teman-temanku. Kemudian aku mendengar mereka saling berbisik “oh namanya Reihan, rek!!”
“Mas Reihan ini pramugara atau pilot?”, tanya Mas Ajun lagi.
“Kebetulan saya sopirnya Mas…”, jawabnya humble.
“Waah kebetulan nih, teman saya ini mau jadi pramugari, Mas Reihan. Anes namanya. Coba kenalan dulu!!”, Mas Ajun makin beraksi. Aku pun sangat kikuk dibuatnya.
“Reihan..”, katanya sembari menjulurkan tangan kanannya. Hal itu membuat teman-temanku makin heboh.
“Anes..”, aku pun menyambut tangannya. Sedang Mas Ajun mulai bergeser seolah membiarkan kami berkenalan dengan jarak yang lebih dekat.
“Udah kenalannya ya! Sekarang, waktunya ngasih Anes hukuman!”, aku yang baru dateng ini, hanya bisa plonga-plongo ga ngerti kalau mereka bikin permainan semacam ini.
“Nes, di dalam botol ini, tersisa satu kertas bertuliskan sesuatu yang harus kamu lakuin. Coba kamu keluarin kertasnya dari botol sekarang!”, Mas Ajun memberikan botol kaca yang didalamnya terdapat kertas yang digulung kepadaku. Aku mulai membuka tutup botolnya, mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya, kemudian membuka gulungan kertas itu.
“Coba bacain, apa tulisannya!”, Mas Ajun mengarahkan microphonenya kepadaku.
“Ungkapin perasaanmu pada orang yang ada dihadapanmu..”, aku terbata membaca hukuman itu.
“Huuuaaaaaa!!”, sorak yang lain membuat suasana makin heboh!! Saat itu aku melihat Mas Reihan yang ternyata lagi tersenyum tipis membuatnya terlihat sangat manis.

“Hm tes-tes!”, ucapku setelah microphone sudah di tanganku.
“Jelas kog suaranyaaa!!”, teriak Pak Arifin.
“Buruaan!!”, teriak yang lain.
“Hm Mas Reihan, boleh ga aku jadi pacar kamu?”
***
Tas ransel hitam dipunggungku rasanya lebih berat dari sebelumnya. Mungkin karena isinya adalah baju kotor (?)
Langkahku sedikit perlahan saat berada di ujung garbarata yang terhubung dengan lorong kedatangan Juanda untuk sekedar membenarkan posisi tali ranselku yang ternyata terlilit di pundak kiriku. Aku yang pagi itu menggerai rambut panjangku pun harus mengikat dan menggulungnya seadanya sembari berjalan ditepi agar sikuku tak mengenai penumpang lain yang juga berjalan menuju ke kedatangan.
Entah ini perasaanku atau bukan, rasanya ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari kejauhan. Aku kembali melangkah dengan cepat saat ku tahu seseorang itu mulai mendekat.
Aku merogoh handphoneku yang ku letakkan di kantong belakang jeansku, berpura-pura menerima telpon, agar seseorang itu mengurungkan niat buruknya jika memang benar begitu.
Namun, gerakanku kalah cepat, kini seseorang itu berada disampingku.
“Anes?”, sapanya.
Aku menoleh. Namun tak langsung membalas sapaannya.
Beberapa saat aku harus mencari-cari dalam memoriku, siapa kira-kira pria gagah berkulit cokelat dengan alis tebal dan berkumis tipis ini.
“Lupa ya?”, tanyanya.
“Hmm Mas Wahyu bukan??”, akhirnya aku ingat. Dia adalah teman masa kecilku dulu. Rumah dia berada di belakang rumahku. Kami bertetangga. Namun karena perbedaan usia yang cukup jauh, aku tak lagi bertemu dengannya sejak aku masuk SMA.
“Iyaa haha kirain bakal lupa. Btw kamu dari mana?”
“Dari main-main Mas. Hehehe.”
“Jauh yaaa, main-mainnya di Jakarta.”, aku membalas ucapannya dengan senyuman tipis dan tak sengaja mataku menangkap matanya yang tengah menatapku begitu dalam.
“Mas mau pulang kampung?”, aku mulai bertanya balik dan mencoba untuk mengalihkan pandanganku ke depan.
“Iyaa nih, Ibuku sakit.”
“Innalillah, sakit apa?”
“Sakit Malarindu Tropicangen sama anak bungsunya katanya. Soalnya aku udah 3 tahun ga pulang-pulang!!”
“Dih dasar!! Kirain sakit beneran!!”
Mas Wahyu terbahak. Merasa bahagia setelah berhasil mengelabuiku. Hmm jika mengingat kembali ke masa kecilku, Ibu Mas Wahyu adalah Ibu yang sangat baik tidak hanya kepada anak-anaknya, tetapi juga baik kepada aku dan anak-anak yang lain. Bahkan saat Mamaku meninggal saat usiaku belum genap sembilan tahun, beliau yang selalu memberikan perhatian penuh padaku, terutama masalah perbekalan. Hampir tiap pagi beliau membawakanku bekal ke sekolah dengan menu yang beda-beda. Ah aku jadi kangen masa-masa itu!

Dengan bertemunya aku dengan Mas Wahyu yang tak diduga-duga ini membuatku sedikit bernostalgia hingga perjalanan yang cukup jauh menuju pintu kedatangan pun tak terasa.
Sayang, Mas Agus yang pagi itu menjemputku sudah standby di depan kedatangan, jadi mau ga mau aku harus pamit untuk pergi duluan.
“Maafin yaa aku ga bisa nemenin Mas sampai mobil travel Mas ngejemput.”
“Iyaa gapapa, Nes. Santuy. Ohya, btw lain kali jangan gulung rambutmu begitu yaa.”
“Hah? Kenapa? Berentakan yaa? Hahahaha”
“Bukaan, kamu keliatan seksi dengan rambut kaya gitu. Aku khawatir kamu….”
“Diih!! Mesum!!”, aku memotong ucapannya. “Yaudah aku duluan yaaaa!!”, lanjutku berpamitan sembari membuka kembali ikatan rambutku saat sudah berjalan agak jauh darinya.
‘Hufh, kayanya gegara bentuk bajuku yang square neck begini deh yang jadi pemicunya kenapa dia sampe ngomong gitu.’, bathinku yang jujur masih kepikiran sama omongannya. Sial!!
***
31 Desember 2016, Sabtu
Akhir tahun di dua ribu enam belas, aku kebagian shift day off untuk pertama kalinya. Hm sebenernya percuma juga sih.. Akunya ga bisa ngerayain pergantian tahun sama pacar karena saat itu aku ga punya pacar hehehe. Untungnya, teman-teman kantorku ngadain bakar-bakar ikan di halaman depan kantor. Aku yang ketahuan ga punya kegiatan malam itu, mau ga mau yaa ikutan acara mereka.
Sekitar jam sepuluh malam, aku berangkat seorang diri ke kantor dengan motor matic merahku. Berbalut baju hitam lengan panjang yang kegedean dengan jeans semata kaki, tak bisa membuatku menghindari dinginnya udara malam itu. Jalanan yang makin ramai dan padat, membuat perjalananku memakan waktu sekitar tiga puluh menit, padahal biasanya, lima belas menit aja udah sampai.
Setiba di parkiran, aku mendapati motor-motor semua rekanku sudah berjejer rapi. Sepertinya aku datang paling akhir. ‘Semoga aja ga ada hal aneh-aneh yang mereka lakuin!’, bathinku saat mengingat kebiasaan mereka yang suka isengin siapa-siapa yang datang di akhir.
“Weeeh, artise wes tekooo!!!”, teriak Mas Ajun menggunakan microphone saat aku baru saja masuk ke area acara malam itu. Terlihat semua teman-temanku sedang duduk melingkari api unggun dan tengah asik menikmati hiburan receh dari seorang pelawak gadungan berperawakan gembul bulet ngeselin. Hehe.
Sontak teriakannya disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai teman-teman dan senior-seniorku.
“Weeeh, pramugari nih!!”, teriak yang lain. Aku hanya bisa menutup wajahku karena merasa sangat malu sambil mlipir duduk di tengah-tengah teman-temanku duduk.
“Eits! Siapa yang bolehin kamu duduk!!! Siniiii!! Enak aja dateng terlambat malah duduk!”, panggil Mas Ajun. Perasaanku mulai ga enak. Akupun terpaksa menurutinya untuk berdiri di dekat api unggun, disebelahnya. Disaat yang bersamaan, Mas Ajun memanggil seseorang lagi yang tidak aku kenali. Seseorang itu adalah pria berperawakan tinggi berkulit kuning langsat dengan brewok tipis. Hm karena kantorku menjadi satu dengan mess crew, ada kemungkinan dia adalah salah satu crew yang malam ini sedang bermalam di Surabaya.
“Namanya siapa Mas?”, tanya Mas Ajun saat setelah pria itu berdiri di samping kanannya.
“Saya Reihan.”, jawab pria itu dengan suara beratnya yang disambut dengan teriakan heboh dari teman-temanku. Kemudian aku mendengar mereka saling berbisik “oh namanya Reihan, rek!!”
“Mas Reihan ini pramugara atau pilot?”, tanya Mas Ajun lagi.
“Kebetulan saya sopirnya Mas…”, jawabnya humble.
“Waah kebetulan nih, teman saya ini mau jadi pramugari, Mas Reihan. Anes namanya. Coba kenalan dulu!!”, Mas Ajun makin beraksi. Aku pun sangat kikuk dibuatnya.
“Reihan..”, katanya sembari menjulurkan tangan kanannya. Hal itu membuat teman-temanku makin heboh.
“Anes..”, aku pun menyambut tangannya. Sedang Mas Ajun mulai bergeser seolah membiarkan kami berkenalan dengan jarak yang lebih dekat.
“Udah kenalannya ya! Sekarang, waktunya ngasih Anes hukuman!”, aku yang baru dateng ini, hanya bisa plonga-plongo ga ngerti kalau mereka bikin permainan semacam ini.
“Nes, di dalam botol ini, tersisa satu kertas bertuliskan sesuatu yang harus kamu lakuin. Coba kamu keluarin kertasnya dari botol sekarang!”, Mas Ajun memberikan botol kaca yang didalamnya terdapat kertas yang digulung kepadaku. Aku mulai membuka tutup botolnya, mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya, kemudian membuka gulungan kertas itu.
“Coba bacain, apa tulisannya!”, Mas Ajun mengarahkan microphonenya kepadaku.
“Ungkapin perasaanmu pada orang yang ada dihadapanmu..”, aku terbata membaca hukuman itu.
“Huuuaaaaaa!!”, sorak yang lain membuat suasana makin heboh!! Saat itu aku melihat Mas Reihan yang ternyata lagi tersenyum tipis membuatnya terlihat sangat manis.

(sekilas wajah Mas Reihan mirip Oppa Roy ini)
-foto diambil dari instagram-
-foto diambil dari instagram-
“Hm tes-tes!”, ucapku setelah microphone sudah di tanganku.
“Jelas kog suaranyaaa!!”, teriak Pak Arifin.
“Buruaan!!”, teriak yang lain.
“Hm Mas Reihan, boleh ga aku jadi pacar kamu?”
***
Diubah oleh aymawishy 24-09-2022 10:04
delet3 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas
Tutup