Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
45
Lapor Hansip
23-05-2022 15:30

(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan

(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan




Halo, kawan! Akhirnya aku nulis lagi di sini. Mungkin ini bakalan jadi thread terakhir aku di Kaskus. Aku nulis ini untuk mengenang masa perjuanganku awal masuk dunia kerja. Mungkin bakalan panjang, tapi aku akan tulis semua yang kuingat, biar menjadi kenangan di masa tua nanti.

Oke, tulisan ini adalah murni kisahku, tanpa adanya tambahan drama, karena memang perjalananku sendiri sudah penuh dengan drama, wkwk. Justru karena kisahku ini banyak drama dan unik, jadi harus dikenang. Kalo kisahku lempeng, ngapain juga aku capek nulis dan mengenang? Ya, nggak? Jadi, ini asli, no kawe kawe!

Jadi, namaku Yeni, rumah asalku Ngawi, Jawa Timur. Berasal dari keluarga sederhana, jadi aku putus sekolah. Sekitar tahun 2014 (kalo nggak salah), aku pertama kali merantau ke Sidoarjo. Jadi, awalnya temenku yang bernama Budi (nama asli), dia manas-manasin aku karena dah berhasil diterima di sebuah pabrik chiky (Siantar Top, Sidoarjo). Aku nanya dia, ada lowongan nggak. Dia jawab ada, tapi aku harus datang sendiri ke sana. Dia nggak bisa jemput atau ngantar. Dia bilang syaratnya bawa ft ijasah, ft ktp, skck, surat sehat dan pas foto. Ya ampun, banyak sangat. Pusing lah aku.

Akhirnya aku ijin emak dan abang buat pergi ke Sidoarjo. Walau mereka sempat kuatir karena aku mau kerja di pabrik. Takut kalo aku sakit gada yang rawat, harus nyari makan sendiri, blablabla. Mereka malah nyaranin aku jadi Tkw karena tetangga ada yang ke sana, jadi ntar ada barengannya. Lah? Mengsedih sangad!

Ogahlah aku jadi Tkw, takut diperkaos, wkwk. Akhirnya dengan sedikit memaksa, aku diijinin buat ke Sidoarjo. Kebetulan tetangga ada yang merantau juga di Surabaya, jadi nanti sementara aku tidur di kontrakan dia. Aku seret abangku buat nganterin ke polsek dan puskesmas di kecamatan, bikin skck dan surat sehat.

Setelah semua dokumen dan perlengkapan beres, berangkatlah aku. Emak super duper baek banget, aku dikasih uang saku 800rb, patungan sama abang. Cukuplah buat hidup sebulan di kota orang.

Sampai di Surabaya, aku bermalam di kontrakan temen (tetangga) tadi. Dia ngontrak bareng suaminya, jadi agak sungkan juga sih kalo malem tidur bertiga. Untung tidurnya di lantai. Kalo di ranjang, bisa-bisa jadi pelakor, aku. Fiuh!

Aku hubungi lagi si Budi. Aku bilang ke dia bahwa aku udah sampai di Surabaya. Dia agak syok, nggak nyangka kalau aku bakal senekat itu. Iyalah nekad, daripada di rumah ntar buru-buru dikimpoiin. Ogah banget!

Aku nanya sedetailnya, di mana aku harus ngelamar kerja, sebutin alamatnya dan ke sana lewat mana (harus naik apa). Dia jelasin semuanya lewat telepon, tapi dia agak nggak yakin gitu kalo aku bakalan berani atau berhasil nemuin kantor/PT nya.

Bermodal nekad, besoknya aku langsung nyegat angkot ke Sidoarjo. Tentunya sambil bawa berkas-berkas dokumen. Waktu itu aku disuruh naik angkot warna biru muda jurusan Sedati. Berhenti di pom bensin Sedati, trus jalan ke arah barat sekitar satu kilometer. Arah ke sana nggak dilewati angkot, jadi harus jalan kaki. Itu yang dia bilang. Aku harus nyari PT SIR.

Oke, aku ikuti semua yang dia bilang. Walaupun panas-panas, aku berhasil jalan sampai ke sana. Aku nanya-nanya ke penjual minuman di pinggir jalan, ketemulah itu si PT SIR. Ternyata letak rukonya di deretan agak ke belakang gitu, jauh dari jalan.

Sesampai di sana, kok sepi? Katanya ada lowongan? Jangan-jangan ditipu aku! Fiuh!

Akhirnya aku nanya sama security di situ dan langsung disuruh masuk ketemu sama hrd-nya. Alhamdulilah. Sampai di dalem, aku serahin dokumenku ke mbak-mbak hrd.

"Loh, ini surat lamarannya mana? Kok nggak ada?" tanya si mbak.

"Loh, pakai surat lamaran ya, Buk?"

"Iyalah pake. Masa ngelamar kerja nggak pake surat lamaran. Daftar riwayat hidupnya juga nggak ada!"

Waduh, mampus ini. Si Budi nggak bilang sih harus pake surat lamaran juga. Akunya juga beg* nggak mikir kalo ini tuh ngelamar kerja, jadi harus pake surat, wkwk. Apes memang.

"Aduh, maaf ya Bu, saya lupa."

"Yaudah, kamu pulang aja dulu. Besok ke sini lagi bawa persyaratan lengkap, ya."

"Iya, Bu."

MENGSEDIH! Ibu itu seenaknya nyuruh aku pulang, buat balik lagi besok. Tanpa dia tahu kalo aku ini nggak punya rumah, hiks! Tempat singgahku jauh di Surabaya. 😢


Nggak mau balik ke Surabaya dengan harapan kosong, aku pun nekad jalan-jalan di sekitar pom bensin Sedati. Nyari kost-kostan ceritanya. Setelah jalan dan nanya-nanya ke sana kemari akhirnya aku nemu kost di daerah Sedati Gede kalo nggak salah. Pokoknya seingatku, aku masuk gang masjid kiri jalan kalau dari arah selatan.

Aku nemu kost-an kosong sepetak pinggir jalan, waktu itu sewanya 200rb perbulan. Udah ada ranjang plus kasur. Okelah, langsung kubayar 200rb di muka. Aku nyari tahu sedikit, jadi kost-an itu ada 4 kamar berderet. Kamarku nomor dua dari depan. Sebelah kiriku dihuni seorang bapak-bapak (menjurus ke kakek karena rambut pada ubanan), sebelah kananku ibu dengan dua anaknya (nggak tau ada suaminya atau enggak), trus kamar paling ujung gembokan, nggak tahu siapa yang menghuni.

Fyi, aku cuma semingguan kost di sini. Ada satu dan lain hal kenapa aku harus pindah dari sini. Lengkapnya, nanti diceritain.

Oke, singkatnya aku balik ke Surabaya, pamitan ama temenku dan membawa barang-barang untuk pindah ke kost yang baru. Keesokan harinya aku datang ke PT SIR dengan membawa dokumen lengkap. Si mbak hrd bilang aku suruh nunggu panggilan di hari kamis jam tigaan. Kalau keterima, bakalan ditelepon. Akhirnya aku pulang ke kost an dan istirahat, nyuci baju dan lain-lain. Sambil ngobrol-ngobrol sama ibu penghuni kost sebelah.

Ketika aku sedang sendirian di kamar (pintu kamar kubuka karena panas nggak ada kipas), tetiba datanglah bapak-bapak kost sebelah. Beliau nanya-nyanya.

"Mau kerja di pabrik ya, Nduk?"

"Nggeh, Pak."

(Note : aslinya semua percakapan dalam bahasa Jawa Suroboyoan, tapi aku ogah translate, jadi langsung pake bahasa Indonesia aja)

"Udah keterima?"

"Belum, Pak. Nunggu panggilan besok."

"Nduk, Nduk, kerja di pabrik itu berat loh. Badan kamu kecil gitu mana sanggup kerja di pabrik."

Dih, menghina sangad. Iya, emang badanku kecil, tapi aku akan berusaha kok, hiks!

"Ya, nanti aku coba dulu, Pak. Kuat atau enggaknya."

"Itu anaknya si anu kemaren aja kerja di pabrik baru seminggu nggak kuat, sampe diopname loh."

Lah, si bapak malah nakutin. Kok sampai opname, memang kerjanya kayak apa? Benar-benar bikin bimbang galau gegana ini mbah-mbah tua.

Aku cuma ber "oh", "nggeh toh?" dalam menanggapi si bapak. Nggak mau berkomentar lebih. Aku udah nekad dan nggak ada yang bisa menggoyahkanku!

"Daripada kamu capek-capek kerja di pabrik, mending kamu ikut aku aja."

Lah?

"Mengko yen kowe gelem melu aku, separo bondoku tak walik ning atas namamu. Aku nduwe omah akeh. Meluo aku, ngramut aku, ngancani uripku. Aku sek legan loh, Nduk."

Lah, si mbah mengerikan sangad! 😳
Aku arep dipek bojo! 😭



Percakapan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Malamnya aku nggak bisa tidur. Ketakutan, gaes!

Tak sabar menunggu esok hari saatnya panggilan kerja.

Dan perjuanganku yang sesungguhnya baru dimulai!



Next bakal dilanjut kalo ada waktu luang

next di sini
Diubah oleh YenieSue0101
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bohemianflaneur dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
19.7K Anggota • 28.7K Threads
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
26-05-2022 21:10



~ 3 ~


Cerita seputar kost baru

Malam pertama di kost yang baru, aku tidur beralaskan jarik dan berbantal tumpukan baju. Sungguh betapa 'mbambung' diriku, wkwk.

Keesokan harinya, begitu tahu aku nggak bawa tikar, karena kasihan akhirnya Mbak Wiri meminjamkan tikar dan sebuah bantalnya. Saat ditanya apa aku punya magic com atau enggak, aku jawab enggak. Ini kesempatanku bertanya ke beliau, apakah bisa kalau ngekost sekaligus dimasakin. Nanti tinggal bayar uang makan seminggunya berapa gitu. Soalnya sebagai pendatang baru, aku kesulitan mencari warung makan buat kebutuhan perut sehari-hari. Di luar dugaan, adeknya bu kost yang cewek (Yanti) menyanggupi penawaranku. Jadilah, semenjak hari itu aku makan di kost 2 kali sehari. Biayanya 70rb seminggu. Murah, kan? Wkwk.

Awal-awalnya, Yanti masak enak-enak. Ya, lumayan lah, ada sayur, lauk dan sambel. Jadi aku sarapan sekaligus ngambil buat bekal kerja. Eh, tapi lama-kelamaan masakannya jadi simpel kayak cuma tumis-tumisan, terakhir dia cuma masak sayur bening doang, tanpa sambel apalagi lauk. Udah cuma sayur bening, hambar pula, kurang asin, wkwk. Melas tenan!

Pikirku, mungkin si Yanti tekor kali ya dengan uang 70rb perminggu. Lah, salah dia sendiri yang ngasih harga segitu. Huh!
Akhirnya, setelah beberapa minggu, karena kasihan aku stop minta dimasakin. Terakhir kali dia masak, aku nggak makan (murni salahku ini), jadi dia buang nasi banyak. Trus aku didiemin selama berhari-hari. Dia pun jadi jarang tidur di rumah kost. Dia pindah ikut Mbak Wiri di rumah sebelah. Jadilah, cuma aku dan Mas Cholis yang tinggal di rumah itu. 😳

Oh, ya beberapa hal yang membuatku kian merana tinggal di kost itu, yang pertama adalah karena air sumurnya yang asin. Bayangkan kamu mandi dan nyuci dengan air asing. Bukannya bersih tapi malah lengket. Baju pun jadi kurang bersih, bahkan beberapa seragam putihku jadi kuning-kuning. 😪

Saat siang, kamar kost terasa panas karena nggak ada jendela. Apalagi kan kamarku di dalam rumah, plus aku belum punya kipas angin pula. Jadi, bisa kebayang panasnya kalau siang hari dengan pintu tertutup. Aku kan agak pemalu gitu dan anti sosial, jadi lebih sering tinggal di kamar. Berasa kayak ayam ungkep 😏

Satu hal lagi yang bikin makin ngenes adalah saat hujan dan banjir di sekitar rumah, airnya tuh merembes lewat dinding. Pernah bajuku pada kebasahan gegara air ini pas ditinggal kerja. Duh, rasanya pengen ngadu ke emak di kampung deh. Mewek sendiri aku. Dah bilang ke Mbak Wiri, tapi belum ditanggapi. Akhirnya setelah gajian pertama, aku beli lemari kain yang merangkai sendiri itu. Lumayan lah buat nyimpen baju. Walau beberapa hari kemudian kain penutupnya jebol karena kulempari dompet, wkwk.

Aku juga akhirnya beli kipas angin, tapi kipas angin bekas, wkwk. Dan coba tebak belinya di mana? Di pasar loak yang di Surabaya! Yang ke sananya harus naik angkot dua kali. Itu adalah pertama kalinya aku ke sana, waktu itu dikasih tahu siapa, agak lupa aku. Sampai di sana ternyata dalemnya pasar loak tuh penuh banget barang rongsokan. Dan tau nggak? Di sana itu penghuninya laki semua. Senekat itu aku ke sana demi kipas angin bekas. Walau agak ngeri sih, wkwk.

Setelah keliling akhirnya dapat barangnya seharga 40rb. Sempat nawar gitu ke penjualnya. Mana si mas-mas penjualnya godain pula, wkwk. Eh, tapi ganteng loh  orangnya masih muda, hahaha. Kalo ingat, jadi ngakak sendiri. Waktu itu aku memang belum berhijab, dan gayanya persis bocah alay itu, dengan rambut keriting gantung dan poni. Masih ingat betul aku pake jaket warna ijo salur. Jaketnya keknya masih ada sampai sekarang di lemari. 🤣

Oke, skip

Kipas yang aku beli itu cuma bertahan sampai sebulan, btw. Trus aku akhirnya beli yang baru saat gajian ke dua.


****

Tentang mas Cholis

Ini ada satu cerita yang masih kuingat dengan jelas tentang adeknya bu kost yang satu ini. Dia orangnya item manis, rambutnya kemerahan, kayak 'garangan ucul' gitu. Dia kerja di warung bakwan atau bakso gitu kalo nggak salah. Mas Cholis ini orangnya baek, suka bangunin aku di jam-jam waktunya aku berangkat kerja saat aku shift 3. Karena masuk jam 11 malem, jadinya sore sering ketiduran gitu. Nah, Si Mas Cholis ini yang rajin gedorin pintu kamarku. Pernah pas malem mau berangkat kerja tapi lagi hujan gede. Aku bingung dong mau kerja. Aku pinjam payung, katanya nggak punya.

"Mbak, di luar banjir loh, jadi nggak bisa lewat. Percuma juga pake payung."

"Hla trus gimana?"

"Saya anterin aja, Mbak, pake motor."

Akhirnya dianterin dong sampe depan pabrik. Dan memang bener, banjirnya itu sedengkul. Fiuh, untung dianterin, wkwk. Makasih ya!

Ada satu kejadian tak mengenakan selama di kost. Jadi suatu malem tuh tetiba mati lampu, lagi hujan pula. Aku nggak punya penerangan. Hapeku juga masih android jadul yang nggak ada flashnya.

Lagi tidur, tetiba ada yang buka pintu kamarku. (Aku emang kebiasaan lupa kunci pintu). Ternyata si Mas Cholis. Dia masuk dan duduk di dekat aku tidur. Spontan aku bangun trus berdiri.

"Mas, sampeyan ngapain di sini?"

"Loh, ini bukan kamarku, toh?" Lah, malah bingung dia.

"Bukan, Mas. Kamare sampeyan di sebelah."

Dia bangkit dengan agak sempoyongan berjalan keluar kamar.

"Lain kali dikunci pintunya, Mbak," katanya, sebelum kututup pintu dan menguncinya rapat.

Semalaman aku nggak bisa tidur karena ketakutan. Abis Subuh malah ketiduran dan bolos kerja dong. Pas, besoknya masuk dimarahin mandor 😭

Paginya dia inbox aku (sampai kini aku bertanya-tanya darimana dia tahu akun Facebook-ku). Dia tulis dalam chatnya :

"Mbak, maaf ya semalam nggak sengaja masuk ke kamar sampeyan. Aku lagi mabuk, jadi agak linglung. Lain kali dikunci ya pintunya. Soalnya kamar sebelah juga ada yang tinggal, laki-laki."

Lah, baru tahu aku kalau kamar bekasnya si Yanti ada yang nyewa. Laki pula! Tinggal bertiga dong aku di rumah itu!

****

Beberapa minggu setelahnya aku ajak temenku untuk tinggal sekamar denganku. Jadi, sewanya patungan. Tinggal berdua, kami bayar masing-masing 50rb. Dengannya juga aku patungan beli kipas angin, bantal, guling dan teko listrik. Endingnya semua barang itu jadi milikku, karena dua bulan kemudian dia pindah kerja dan kost.



Next, cerita seputar pekerjaan 🙂

next

Diubah oleh YenieSue0101
profile-picture
profile-picture
profile-picture
khuman dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
profile picture
kaskus holic
26-05-2022 22:29
mantapp perjuangannya... lanjuttt emoticon-Big Grin
1
profile picture
kaskuser
27-05-2022 14:16
Keren storynya sih ...emoticon-Salam Kenal emoticon-Ngacir2 loncat2 kecil tp overall udh bagus
gw komenin dkit bagian ini yes..
" Pikirku, mungkin si Yanti tekor kali ya dengan uang 70rb perminggu. Lah, salah dia sendiri yang ngasih harga segitu. Huh!

mbagian ini msh bingung gan, tele empatinya antara berharap diuntungkan atau merugikan ya..emoticon-Confused

1
profile picture
kaskus holic
28-05-2022 05:36
@bolkirut itu sangat manusiawi gan... saya juga pernah di posisi serupa.

Namanya kan merantau dengan budget pas2an, ya pinter2 kita lah bagaimana cari yg irit...
1
Memuat data ...
1 - 3 dari 3 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
gejolak-kawula-muda
Stories from the Heart
duda-keren-dan-mahasiswi-cantik
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia