- Beranda
- Stories from the Heart
JANJI? (MINI SERIES)
...
TS
beavermoon
JANJI? (MINI SERIES)

Pernahkah kalian jatuh cinta? Pernahkah kalian menyembunyikan perasaan kepada orang yang kalian suka? Kenapa kalian menyembunyikan hal itu? Bukankah lebih baik untuk mengutarakannya?
Fika dan Rama akan menemani perjalanan kalian dalam mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersyukurlah jika kalian dapat menemukan jawabannya, namun jika tidak?
Spoiler for Episode:
Diubah oleh beavermoon 16-06-2022 19:03
ndoro_mant0 dan 7 lainnya memberi reputasi
4
3.4K
Kutip
40
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#22
Episode 19
Spoiler for Episode 19:
“Saya terima ya Pak...” Rama menerima pemberian lelaki itu, “sekali lagi terima kasih ya Pak.”
“Terima kasih ya Pak.” Sahut Fika.
“Iya sama-sama, kalau gitu saya balik ke rumah. Kalau ada apa-apa langsung kabarin kayak biasa aja ya. Mari Mas Rama, mari Mba.” Ucap lelaki itu.
Rama dan Fika menundukkan kepala di waktu yang bersamaan sementara lelaki itu pergi meninggalkan mereka berdua. Rama memberikan wadah berisi ikan kepada Fika.
“Udah ke jawab kan kita makan apa malam ini.” Ucapnya.
“Baik banget ya Ram, aku baru ngusulin buat bikin mi instan aja.” Ucap Fika.
“Kayaknya aku pernah liat di mana gitu, jadi mereka bikin mi instan terus ditambah sama potongan-potongan ikan ke dalemnya. Keliatannya enak sih kalau kamu masih mau makan mi instan.” Jelas Rama.
“Ide yang bagus, yaudah kamu ganti baju sana.” Ucap Fika.
Rama memberikan ikan kepada Fika, kemudian ia berlalu menuju tenda untuk mengganti pakaian. Bersamaan dengan itu pula, Fika mengambil peralatan yang ada di dalam tenda.
“Pisau di mana ya Ram?” Tanya Fika.
“Ada di dalam kotak.” Jawab Rama.
Fika membawa pisau dan talenan dari dalam kotak, ia duduk di depan api unggun sambil membersihkan ikan dari sisik dan juga bagian dalam dari ikan. Tak membutuhkan waktu lama untuk Rama kembali setelah berganti pakaian, ia melihat Fika yang namapk terampil dalam membersihkan ikan.
“Ngga sia-sia Fik kamu seneng masak, akhirnya aku bisa makan enak kalau kemah.” Ucap Rama.
Fika tertawa pelan, “Emang biasanya kamu makan apa kalau kemah? Mi instan terus atau bawa bekel dari rumah?”
“Kalau bawa bekel sih ngga mungkin, pasti basi duluan. Yang aku bawa ya serba instan semua, nasi instan, mi instan, ikan kalengan, yang cuma bisa dipanasin sebentar.”
Fika kembali tertawa, “Bisa-bisanya kamu kuat makan yang serba instan. Eh iya, ini kan ikannya ada dua ekor. Satu ekor kita bakar terus satu ekor kita gabung sama mi instan, gimana?”
“Aku ikut kamu aja lah Fik.” Jawab Rama.
Fika selesai memotong satu ekor ikan menjadi potongan kecil dan satu ikan lagi sudah terbelah dan siap untuk dibakar. Rama mengambil korek api lalu menyalakan daun kering yang ia temukan, kemudian ia meletakkan daun yang sudah terbakar di antara kayu-kayu kecil yang tersusun.
Fika bertepuk tangan setelah api mulai membakar kayu kering tersebut, ia membuka bungkus mi instan lalu memasukkan bumbu ke dalam panci yang mereka bawa. Rama menggantung ikan yang sudah terbuka dengan jeruji besi agar ikan tidak terlalu dekat dengan api yang dapat menyebabkan gosong.
“Pancinya gimana Ram?” Tanya Fika.
Rama mengaitkan panci dengan jeruji besi lain hingga panci tersebut terlihat mengambang di atas nyala api. Setelah itu ia duduk di samping Fika sambil mengamati ikan yang sedang dibakar.
“Seru juga ya Ram bisa kayak gini, aku pikir dulu waktu SMP adalah hari terakhir aku bisa kemah.” Ucap Fika.
“Aku juga baru kepikiran Fik.” Ucap Rama.
“Dulu berarti kamu sering ke sini sendiri?” Tanya Fika.
Rama mengangguk, “Biar ngga bosen aja Fik sama rutinitas, ternyata cukup berpengaruh buat aku. Ketika aku balik lagi ke rumah, kayak aku jadi orang yang baru lagi.”
Rama mengeluarkanhandphone dari saku celana, ia mengirim beberapa foto yang sudah ia ambil ke handphone Fika. Ting! Ting! Fika pun membuka handphonenya lalu melihat foto-foto yang sudah dikirim Rama.
“Kamu tadi foto aku pas di air terjun?...”
Rama mengangguk beberapa kali.
“...kenapa sih foto dari kamu semuanya bagus? Handphone kita padahal sama tapi hasil kamu jauh lebih bagus dari aku.” Ucap Fika.
Rama hanya mengangkat ke dua bahunya, kemudian ia beralih menuju ikan yang sedang dibakar. Ia membalik ikan ke sisi yang satu lagi agar matang secara merata. Ia membuka tutup panci dan melihat mi instan yang sebentar lagi akan matang.
“Jangan bilang kalau kamu punya hobi fotografi dari dulu Ram?” Tanya Fika penasaran.
“Fotografi?...” Rama kembali duduk di sampingnya, “kamera aja ngga punya, ngerti cara pakainya juga ngga, gimana aku bisa punya hobi fotografi Fik.”
“Bener juga sih. Ngomong-ngomong makasih ya Ram, foto-fotonya bagus banget.” Ucap Fika.
Rama mengambil sarung tangan dari saku celananya, kemudian ia mengangkat panci dari atas api. Ia meletakkan panci tersebut di samping Fika. Fika memberikan mangkuk kepada Rama beserta alat makan lainnya, kemudian ia membuka tutup panci tersebut.
“Wah, udah jaminan enak nih...”
Rama hanya memandangi kepulan asap yang ke luar dari dalam panci.
“...ayo kita makan Ram.” Ucap Fika.
Mereka mulai memakan mi instan tersebut, ekspresi Rama tidak dapat ditutupi ketika mencoba makanan itu.
“Ngga paham deh kenapa kalau makan ini ngga pernah salah.” Ucap Rama.
Fika mengangguk, “Setuju, kapan aja, di mana aja, sama siapa aja, pasti enak sih. Cuma kamu jangan keseringan makan ini, ngga sehat buat badan.”
Rama mengangguk sambil memakan mi instan, Fika pun ikut menikmati makanan di malam yang sunyi. Rama kembali mendekat ke arah ikan yang masih menggantung, ia memeriksa apakah ikannya sudah matang atau belum.
“Fik, ini udah apa belum ya?” Tanya Rama.
“Coba kamu pencet dagingnya Ram, kalau kenyal kayak puding berarti belum. Kalau pas kamu pencet dia ngga balik lagi, itu udah mateng.” Jelas Fika.
Rama mengikuti arahan Fika, ia kembali menggantungkan ikan tersebut di atas api lalu kembali duduk di samping Fika.
“Bentar lagi.” Ucapnya singkat.
Mereka kembali makan bersama-sama, sesekali Fika melihat ke arah Bulan yang sedang bersinar terang pada malam hari ini. Langit pun nampak cerah hingga ia bisa melihat banyak Bintang di sana.
“Kamu kenapa Fik?” Tanya Rama.
“Nggapapa, lagi ngeliat keadaan aja Ram.” Jawabnya.
Beberapa menit berlalu, Rama membawa ikan bakar ke hadapan mereka. Ikan yang sudah dipastikan matang pun secara perlahan dipisahkan antara daging dan juga tulangnya oleh Rama. Ia memberikan potongan ke dalam mangkuk Fika.
“Makasih ya Ram.” Ucap Fika.
Rama mengangguk menanggapinya. Beberapa saat berlalu, semua makanan yang mereka buat sudah habis. Rama sedang membereskan alat-alat makan untuk ia cuci di tepian air terjun sementara Fika sedang menunggu di depan api unggun.
“Kamu mau minum teh Fik?...”
Fika menoleh ke arah Rama yang berjalan mendekat.
“...kalau mau masak air panas dulu.” Ucap Rama.
“Aku lagi ngga mau minum yang biasa aku minum di rumah. Kamu ngga ada minuman lain Ram?” Sahut Fika.
Rama masuk ke dalam tenda untuk meletakkan kembali alat-alat ke dalam kotak, ia kembali ke luar lalu duduk di samping Fika sambil mengulurkan tangannya.
“Bir kaleng? Kamu bawa dari rumah?” Tanya Fika.
Rama mengangguk sambil membuka tutup kaleng, ia memberikan yang sudah terbuka kepada Fika lalu ia membuka kaleng yang satunya lagi.
“Sebelum kamu minum, kamu liat ke arah api unggun terus kamu bayangin apa yang jadi beban pikiran kamu saat ini...”
Fika mengikuti apa yang Rama ucapkan, ia melihat ke arah api unggun dan terlintas di pikirannya mengenai apa yang menjadi beban pikirannya. Rama membiarkan Fika menatap api unggun tersebut sesuka hatinya, membiarkan semua emosinya ke luar dari dalam pikirannya.
Benar saja, Fika berhasil meluapkan emosinya di hadapan api unggun yang menyala. Air matanya kembali menetes melewati pipinya, hembusan nafasnya pun terdengar dengan jelas.
“...sekarang kamu minum beberapa teguk secara perlahan, terus hela nafas sekuat yang kamu mau.” Ucap Rama.
Fika meminum beberapa teguk bir kaleng tersebut, kemudian ia menghela nafasnya. Fika menatap ke arah Rama, air matanya kembali menetes begitu saja. Namun Rama tersenyum melihat Fika yang juga tersenyum kepadanya.
“Aku lega Ram...”
Rama tersenyum menatap Fika dalam diam.
“...beneran lega, kayaknya semuanya ke luar begitu aja tanpa ada hambatan.” Ucap Fika.
Rama memiringkan kepalanya sesaat, memberikan isyarat kepada Fika jika ia mau melakukannya lagi. Fika mengangguk seraya tersenyum, mereka pun menatap ke arah api unggun bersamaan dalam keheningan malam.
Fika kembali meminum beberapa teguk diikuti Rama, mereka pun menghela nafas dalam waktu yang bersamaan. Fika tertawa pelan hingga berhasil membuat Rama menatapnya.
“Makasih banyak ya Ram...”
Rama menatap Fika dalam diam.
“...aku bener-bener terima kasih sama kamu karena udah mau ngelakuin banyak hal sama aku. Kamu udah mau menghibur aku dengan segala cara supaya aku ngga larut dalam kesedihan kayak gini..”
Rama menghela nafasnya pelan.
“...kamu udah mau bantuin aku dengan segala bentuk kerepotan yang aku bikin, kamu udah mau dengerin aku sampai aku rasa kamu bosen, dan masih banyak lagi yang udah kamu lakuin buat aku...”
Fika menatap ke arah Rama lalu tersenyum.
“...makasih banyak ya Ram.” Ucapnya.
Rama membalas dengan tersenyum, ia mengulurkan tangannya yang sedang memegang kaleng. Fika dengan sengaja menyentuh kaleng Rama dengan kaleng yang juga sedang ia pegang, kemudian mereka kembali meminum bir tersebut lalu menghela nafas sambil menatap api unggun. Fika mendekatkan bangkunya ke arah Rama, kemudian ia menyandarkan kepalanya pada bahu Rama.
“Numpang ya Ram.” Ucapnya.
Rama mengangguk pertanda setuju. Malam semakin larut dengan keheningan yang semakin menjadi, Rama meletakkan kaleng kosong di hadapannya.
“Kamu belum ngantuk Ram?” Tanya Fika.
Rama menggeleng, “Kamu kalau mau tidur duluan masuk aja Fik, tapi jangan kunci tendanya dari dalem nanti aku ngga bisa masuk.”
“Aku ngantuk...” Fika menguap, “tapi aku takut tidur sendirian di dalem Ram.”
Rama tersenyum kecil, “Yaudah ayo kita masuk ke dalem, kasian kamu udah ngantuk banget kelihatannya.”
Mereka bangun dari duduk, Fika mengikuti Rama dari belakang untuk masuk ke dalam tenda. Fika merebahkan dirinya di atas matras terlebih dahulu, Rama menutup tenda lalu berbaring di samping Fika. Terdengar suara burung hantu entah dari mana, Fika sempat melihat ke sisi tenda lalu menatap ke arah Rama.
“Kok serem sih Ram?” Tanya Fika.
“Itu kan suara burung hantu Fik, mana seremnya.” Ucap Rama.
“Mau burung hantu atau apapun, kalau di alam bebas kayak gini semuanya jadi tambah serem Ram.” Ucap Fika.
“Gimana kalau aku cerita serem, jadi gini awalnya...”
Plak! Tanpa sengaja Fika memukul bibir Rama, ia bangun lalu mendekat ke arah Rama.
“Ram, maaf Ram aku ngga sengaja.” Ucapnya.
“Ngga sengaja tapi tepat sasaran itu gimana ceritanya ya Fik.” Keluh Rama.
“Maaf Ram, sumpah aku ngga sengaja. Beneran deh aku berani sumpah kalau aku ngga sengaja.” Ucap Fika.
“Iya, udah nggapapa Fik.” Ucap Rama.
Akhirnya Rama menggeser tas mereka yang menjadi menghalang di antara mereka, kemudian Fika mendorong matrasnya hingga menempel dengan matras yang Rama tempati. Mereka pun berbaring tanpa penghalang, posisi Fika sedikit lebih dekat ke arah Rama.
“Ram, maaf Ram.” Ucap Fika.
“Udah nggapapa kok Fik, mending kamu sekarang tidur. Kamu tadi udah keliatan ngantuk banget pas di depan api unggun.” Ucap Rama.
“Selamat tidur ya Ram.” Ucap Fika.
“Selamat tidur Fik.” Balas Rama.
Api unggun masih menyala, menghangatkan malam yang semakin dingin. Meninggalkan cerita dengan segala keluh kesah yang ada, menuju hari esok yang lebih bahagia.
*
Rama masih memainkan handphonenya, ia melihat ke arah samping di mana Fika sudah terlelap dalam tidur menghadap ke arahnya. Rama berniat untuk bangun lalu merokok di depan api unggun yang masih menyala di luar.
Rama bangun dari tidurnya lalu menahan posisinya beberapa saat, ia melihat ke arah kiri di mana tangan Fika menahan sisi kiri bajunya entah dari kapan. Ia teringat bahwa Fika cukup khawatir dengan suara burung hantu hingga ia susah untuk tertidur.
Rama tersenyum menatap Fika, ia kembali merebahkan diri, membatalkan apa yang ingin ia lakukan, lalu memejamkan mata sebagai gantinya.
*
Fika membuka matanya, beberapa kali ia harus mengedipkan matanya untuk mengembalikan fokus pada pandangannya. Ia melihat Rama yang sudah terlelap dalam tidur entah dari kapan, ia melihat ke arah sekeliling di mana ia masih berada di dalam tenda. Ia pun tersadar bahwa tangan kanannya masih memegangi sisi kiri baju Rama. Ia melepas genggamannya lalu menatap ke arah Rama.
Fika bangun dari tidurnya, ia sempat melihat ke arah luar di mana langit masih gelap dan nyala api kecil dari api unggun yang Rama buat. Ia kembali duduk di atas matras lalu mengambil botol berisi air mineral, beberapa tegukan berhasil melepas dahaganya.
Fika kembali merebahkan dirinya menghadap ke arah Rama, Rama yang semula tidur menatap ke arah atas pun berganti menatap ke arahnya.
“Ram...”
Ucapan Fika terlalu pelan untuk didengar Rama yang sudah tertidur.
“...makasih ya buat hari ini. Aku ngga tau udah bilang ini berapa kali ke kamu, tapi aku bener-bener terima kasih sama kamu. Terima kasih buat semuanya yang udah kamu lakuin buat aku...”
Fika menatap ke arah Rama tanpa berkedip.
“...aku ngga tau apa aku bisa balas budi sama kamu setelah apa yang udah kamu lakuin, tapi aku akan coba buat balas itu satu persatu. Semoga semesta ngasih aku waktu buat balas itu semua, sekali lagi makasih ya Ram.” Ucap Fika.
Fika mendekat ke arah Rama. Angin berhembus di luar, menggoyangkan nyala api yang semakin lama semakin mengecil hingga akhirnya padam menyisakan bara kayu yang masih menyala.
Suara dedaunan yang tertiup angin pun menyambut dari atas pepohonan yang rindang, menghapus sedikit keheningan tanpa mengurangi maknanya, menemani Fika yang sedang mencium bibir Rama.
Fika memberanikan dirinya, membuang semua rasa takut yang selama ini menghantuinya. Ia ingin sekali saja mengungkapkan perasaannya kepada Rama, yang telah ia simpan sejak lama. Meskipun hanya ia yang menyadari apa yang terjadi pada malam ini.
Fika sedikit menjauhkan bibirnya, ia dapat melihat dengan jelas Rama yang masih tertidur dengan lelapnya.
“Rama, aku sayang kamu...”
Fika kembali mendekatkan bibirnya dan kembali mencium Rama dengan pelan, ia tidak mau Rama mengetahui apa yang ia lakukan pada malam ini. Malam ini hanyalah untuk malam ini, esok akan menjadi lembaran baru bagi mereka berdua. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Terima kasih ya Pak.” Sahut Fika.
“Iya sama-sama, kalau gitu saya balik ke rumah. Kalau ada apa-apa langsung kabarin kayak biasa aja ya. Mari Mas Rama, mari Mba.” Ucap lelaki itu.
Rama dan Fika menundukkan kepala di waktu yang bersamaan sementara lelaki itu pergi meninggalkan mereka berdua. Rama memberikan wadah berisi ikan kepada Fika.
“Udah ke jawab kan kita makan apa malam ini.” Ucapnya.
“Baik banget ya Ram, aku baru ngusulin buat bikin mi instan aja.” Ucap Fika.
“Kayaknya aku pernah liat di mana gitu, jadi mereka bikin mi instan terus ditambah sama potongan-potongan ikan ke dalemnya. Keliatannya enak sih kalau kamu masih mau makan mi instan.” Jelas Rama.
“Ide yang bagus, yaudah kamu ganti baju sana.” Ucap Fika.
Rama memberikan ikan kepada Fika, kemudian ia berlalu menuju tenda untuk mengganti pakaian. Bersamaan dengan itu pula, Fika mengambil peralatan yang ada di dalam tenda.
“Pisau di mana ya Ram?” Tanya Fika.
“Ada di dalam kotak.” Jawab Rama.
Fika membawa pisau dan talenan dari dalam kotak, ia duduk di depan api unggun sambil membersihkan ikan dari sisik dan juga bagian dalam dari ikan. Tak membutuhkan waktu lama untuk Rama kembali setelah berganti pakaian, ia melihat Fika yang namapk terampil dalam membersihkan ikan.
“Ngga sia-sia Fik kamu seneng masak, akhirnya aku bisa makan enak kalau kemah.” Ucap Rama.
Fika tertawa pelan, “Emang biasanya kamu makan apa kalau kemah? Mi instan terus atau bawa bekel dari rumah?”
“Kalau bawa bekel sih ngga mungkin, pasti basi duluan. Yang aku bawa ya serba instan semua, nasi instan, mi instan, ikan kalengan, yang cuma bisa dipanasin sebentar.”
Fika kembali tertawa, “Bisa-bisanya kamu kuat makan yang serba instan. Eh iya, ini kan ikannya ada dua ekor. Satu ekor kita bakar terus satu ekor kita gabung sama mi instan, gimana?”
“Aku ikut kamu aja lah Fik.” Jawab Rama.
Fika selesai memotong satu ekor ikan menjadi potongan kecil dan satu ikan lagi sudah terbelah dan siap untuk dibakar. Rama mengambil korek api lalu menyalakan daun kering yang ia temukan, kemudian ia meletakkan daun yang sudah terbakar di antara kayu-kayu kecil yang tersusun.
Fika bertepuk tangan setelah api mulai membakar kayu kering tersebut, ia membuka bungkus mi instan lalu memasukkan bumbu ke dalam panci yang mereka bawa. Rama menggantung ikan yang sudah terbuka dengan jeruji besi agar ikan tidak terlalu dekat dengan api yang dapat menyebabkan gosong.
“Pancinya gimana Ram?” Tanya Fika.
Rama mengaitkan panci dengan jeruji besi lain hingga panci tersebut terlihat mengambang di atas nyala api. Setelah itu ia duduk di samping Fika sambil mengamati ikan yang sedang dibakar.
“Seru juga ya Ram bisa kayak gini, aku pikir dulu waktu SMP adalah hari terakhir aku bisa kemah.” Ucap Fika.
“Aku juga baru kepikiran Fik.” Ucap Rama.
“Dulu berarti kamu sering ke sini sendiri?” Tanya Fika.
Rama mengangguk, “Biar ngga bosen aja Fik sama rutinitas, ternyata cukup berpengaruh buat aku. Ketika aku balik lagi ke rumah, kayak aku jadi orang yang baru lagi.”
Rama mengeluarkanhandphone dari saku celana, ia mengirim beberapa foto yang sudah ia ambil ke handphone Fika. Ting! Ting! Fika pun membuka handphonenya lalu melihat foto-foto yang sudah dikirim Rama.
“Kamu tadi foto aku pas di air terjun?...”
Rama mengangguk beberapa kali.
“...kenapa sih foto dari kamu semuanya bagus? Handphone kita padahal sama tapi hasil kamu jauh lebih bagus dari aku.” Ucap Fika.
Rama hanya mengangkat ke dua bahunya, kemudian ia beralih menuju ikan yang sedang dibakar. Ia membalik ikan ke sisi yang satu lagi agar matang secara merata. Ia membuka tutup panci dan melihat mi instan yang sebentar lagi akan matang.
“Jangan bilang kalau kamu punya hobi fotografi dari dulu Ram?” Tanya Fika penasaran.
“Fotografi?...” Rama kembali duduk di sampingnya, “kamera aja ngga punya, ngerti cara pakainya juga ngga, gimana aku bisa punya hobi fotografi Fik.”
“Bener juga sih. Ngomong-ngomong makasih ya Ram, foto-fotonya bagus banget.” Ucap Fika.
Rama mengambil sarung tangan dari saku celananya, kemudian ia mengangkat panci dari atas api. Ia meletakkan panci tersebut di samping Fika. Fika memberikan mangkuk kepada Rama beserta alat makan lainnya, kemudian ia membuka tutup panci tersebut.
“Wah, udah jaminan enak nih...”
Rama hanya memandangi kepulan asap yang ke luar dari dalam panci.
“...ayo kita makan Ram.” Ucap Fika.
Mereka mulai memakan mi instan tersebut, ekspresi Rama tidak dapat ditutupi ketika mencoba makanan itu.
“Ngga paham deh kenapa kalau makan ini ngga pernah salah.” Ucap Rama.
Fika mengangguk, “Setuju, kapan aja, di mana aja, sama siapa aja, pasti enak sih. Cuma kamu jangan keseringan makan ini, ngga sehat buat badan.”
Rama mengangguk sambil memakan mi instan, Fika pun ikut menikmati makanan di malam yang sunyi. Rama kembali mendekat ke arah ikan yang masih menggantung, ia memeriksa apakah ikannya sudah matang atau belum.
“Fik, ini udah apa belum ya?” Tanya Rama.
“Coba kamu pencet dagingnya Ram, kalau kenyal kayak puding berarti belum. Kalau pas kamu pencet dia ngga balik lagi, itu udah mateng.” Jelas Fika.
Rama mengikuti arahan Fika, ia kembali menggantungkan ikan tersebut di atas api lalu kembali duduk di samping Fika.
“Bentar lagi.” Ucapnya singkat.
Mereka kembali makan bersama-sama, sesekali Fika melihat ke arah Bulan yang sedang bersinar terang pada malam hari ini. Langit pun nampak cerah hingga ia bisa melihat banyak Bintang di sana.
“Kamu kenapa Fik?” Tanya Rama.
“Nggapapa, lagi ngeliat keadaan aja Ram.” Jawabnya.
Beberapa menit berlalu, Rama membawa ikan bakar ke hadapan mereka. Ikan yang sudah dipastikan matang pun secara perlahan dipisahkan antara daging dan juga tulangnya oleh Rama. Ia memberikan potongan ke dalam mangkuk Fika.
“Makasih ya Ram.” Ucap Fika.
Rama mengangguk menanggapinya. Beberapa saat berlalu, semua makanan yang mereka buat sudah habis. Rama sedang membereskan alat-alat makan untuk ia cuci di tepian air terjun sementara Fika sedang menunggu di depan api unggun.
“Kamu mau minum teh Fik?...”
Fika menoleh ke arah Rama yang berjalan mendekat.
“...kalau mau masak air panas dulu.” Ucap Rama.
“Aku lagi ngga mau minum yang biasa aku minum di rumah. Kamu ngga ada minuman lain Ram?” Sahut Fika.
Rama masuk ke dalam tenda untuk meletakkan kembali alat-alat ke dalam kotak, ia kembali ke luar lalu duduk di samping Fika sambil mengulurkan tangannya.
“Bir kaleng? Kamu bawa dari rumah?” Tanya Fika.
Rama mengangguk sambil membuka tutup kaleng, ia memberikan yang sudah terbuka kepada Fika lalu ia membuka kaleng yang satunya lagi.
“Sebelum kamu minum, kamu liat ke arah api unggun terus kamu bayangin apa yang jadi beban pikiran kamu saat ini...”
Fika mengikuti apa yang Rama ucapkan, ia melihat ke arah api unggun dan terlintas di pikirannya mengenai apa yang menjadi beban pikirannya. Rama membiarkan Fika menatap api unggun tersebut sesuka hatinya, membiarkan semua emosinya ke luar dari dalam pikirannya.
Benar saja, Fika berhasil meluapkan emosinya di hadapan api unggun yang menyala. Air matanya kembali menetes melewati pipinya, hembusan nafasnya pun terdengar dengan jelas.
“...sekarang kamu minum beberapa teguk secara perlahan, terus hela nafas sekuat yang kamu mau.” Ucap Rama.
Fika meminum beberapa teguk bir kaleng tersebut, kemudian ia menghela nafasnya. Fika menatap ke arah Rama, air matanya kembali menetes begitu saja. Namun Rama tersenyum melihat Fika yang juga tersenyum kepadanya.
“Aku lega Ram...”
Rama tersenyum menatap Fika dalam diam.
“...beneran lega, kayaknya semuanya ke luar begitu aja tanpa ada hambatan.” Ucap Fika.
Rama memiringkan kepalanya sesaat, memberikan isyarat kepada Fika jika ia mau melakukannya lagi. Fika mengangguk seraya tersenyum, mereka pun menatap ke arah api unggun bersamaan dalam keheningan malam.
Fika kembali meminum beberapa teguk diikuti Rama, mereka pun menghela nafas dalam waktu yang bersamaan. Fika tertawa pelan hingga berhasil membuat Rama menatapnya.
“Makasih banyak ya Ram...”
Rama menatap Fika dalam diam.
“...aku bener-bener terima kasih sama kamu karena udah mau ngelakuin banyak hal sama aku. Kamu udah mau menghibur aku dengan segala cara supaya aku ngga larut dalam kesedihan kayak gini..”
Rama menghela nafasnya pelan.
“...kamu udah mau bantuin aku dengan segala bentuk kerepotan yang aku bikin, kamu udah mau dengerin aku sampai aku rasa kamu bosen, dan masih banyak lagi yang udah kamu lakuin buat aku...”
Fika menatap ke arah Rama lalu tersenyum.
“...makasih banyak ya Ram.” Ucapnya.
Rama membalas dengan tersenyum, ia mengulurkan tangannya yang sedang memegang kaleng. Fika dengan sengaja menyentuh kaleng Rama dengan kaleng yang juga sedang ia pegang, kemudian mereka kembali meminum bir tersebut lalu menghela nafas sambil menatap api unggun. Fika mendekatkan bangkunya ke arah Rama, kemudian ia menyandarkan kepalanya pada bahu Rama.
“Numpang ya Ram.” Ucapnya.
Rama mengangguk pertanda setuju. Malam semakin larut dengan keheningan yang semakin menjadi, Rama meletakkan kaleng kosong di hadapannya.
“Kamu belum ngantuk Ram?” Tanya Fika.
Rama menggeleng, “Kamu kalau mau tidur duluan masuk aja Fik, tapi jangan kunci tendanya dari dalem nanti aku ngga bisa masuk.”
“Aku ngantuk...” Fika menguap, “tapi aku takut tidur sendirian di dalem Ram.”
Rama tersenyum kecil, “Yaudah ayo kita masuk ke dalem, kasian kamu udah ngantuk banget kelihatannya.”
Mereka bangun dari duduk, Fika mengikuti Rama dari belakang untuk masuk ke dalam tenda. Fika merebahkan dirinya di atas matras terlebih dahulu, Rama menutup tenda lalu berbaring di samping Fika. Terdengar suara burung hantu entah dari mana, Fika sempat melihat ke sisi tenda lalu menatap ke arah Rama.
“Kok serem sih Ram?” Tanya Fika.
“Itu kan suara burung hantu Fik, mana seremnya.” Ucap Rama.
“Mau burung hantu atau apapun, kalau di alam bebas kayak gini semuanya jadi tambah serem Ram.” Ucap Fika.
“Gimana kalau aku cerita serem, jadi gini awalnya...”
Plak! Tanpa sengaja Fika memukul bibir Rama, ia bangun lalu mendekat ke arah Rama.
“Ram, maaf Ram aku ngga sengaja.” Ucapnya.
“Ngga sengaja tapi tepat sasaran itu gimana ceritanya ya Fik.” Keluh Rama.
“Maaf Ram, sumpah aku ngga sengaja. Beneran deh aku berani sumpah kalau aku ngga sengaja.” Ucap Fika.
“Iya, udah nggapapa Fik.” Ucap Rama.
Akhirnya Rama menggeser tas mereka yang menjadi menghalang di antara mereka, kemudian Fika mendorong matrasnya hingga menempel dengan matras yang Rama tempati. Mereka pun berbaring tanpa penghalang, posisi Fika sedikit lebih dekat ke arah Rama.
“Ram, maaf Ram.” Ucap Fika.
“Udah nggapapa kok Fik, mending kamu sekarang tidur. Kamu tadi udah keliatan ngantuk banget pas di depan api unggun.” Ucap Rama.
“Selamat tidur ya Ram.” Ucap Fika.
“Selamat tidur Fik.” Balas Rama.
Api unggun masih menyala, menghangatkan malam yang semakin dingin. Meninggalkan cerita dengan segala keluh kesah yang ada, menuju hari esok yang lebih bahagia.
*
Rama masih memainkan handphonenya, ia melihat ke arah samping di mana Fika sudah terlelap dalam tidur menghadap ke arahnya. Rama berniat untuk bangun lalu merokok di depan api unggun yang masih menyala di luar.
Rama bangun dari tidurnya lalu menahan posisinya beberapa saat, ia melihat ke arah kiri di mana tangan Fika menahan sisi kiri bajunya entah dari kapan. Ia teringat bahwa Fika cukup khawatir dengan suara burung hantu hingga ia susah untuk tertidur.
Rama tersenyum menatap Fika, ia kembali merebahkan diri, membatalkan apa yang ingin ia lakukan, lalu memejamkan mata sebagai gantinya.
*
Fika membuka matanya, beberapa kali ia harus mengedipkan matanya untuk mengembalikan fokus pada pandangannya. Ia melihat Rama yang sudah terlelap dalam tidur entah dari kapan, ia melihat ke arah sekeliling di mana ia masih berada di dalam tenda. Ia pun tersadar bahwa tangan kanannya masih memegangi sisi kiri baju Rama. Ia melepas genggamannya lalu menatap ke arah Rama.
Fika bangun dari tidurnya, ia sempat melihat ke arah luar di mana langit masih gelap dan nyala api kecil dari api unggun yang Rama buat. Ia kembali duduk di atas matras lalu mengambil botol berisi air mineral, beberapa tegukan berhasil melepas dahaganya.
Fika kembali merebahkan dirinya menghadap ke arah Rama, Rama yang semula tidur menatap ke arah atas pun berganti menatap ke arahnya.
“Ram...”
Ucapan Fika terlalu pelan untuk didengar Rama yang sudah tertidur.
“...makasih ya buat hari ini. Aku ngga tau udah bilang ini berapa kali ke kamu, tapi aku bener-bener terima kasih sama kamu. Terima kasih buat semuanya yang udah kamu lakuin buat aku...”
Fika menatap ke arah Rama tanpa berkedip.
“...aku ngga tau apa aku bisa balas budi sama kamu setelah apa yang udah kamu lakuin, tapi aku akan coba buat balas itu satu persatu. Semoga semesta ngasih aku waktu buat balas itu semua, sekali lagi makasih ya Ram.” Ucap Fika.
Fika mendekat ke arah Rama. Angin berhembus di luar, menggoyangkan nyala api yang semakin lama semakin mengecil hingga akhirnya padam menyisakan bara kayu yang masih menyala.
Suara dedaunan yang tertiup angin pun menyambut dari atas pepohonan yang rindang, menghapus sedikit keheningan tanpa mengurangi maknanya, menemani Fika yang sedang mencium bibir Rama.
Fika memberanikan dirinya, membuang semua rasa takut yang selama ini menghantuinya. Ia ingin sekali saja mengungkapkan perasaannya kepada Rama, yang telah ia simpan sejak lama. Meskipun hanya ia yang menyadari apa yang terjadi pada malam ini.
Fika sedikit menjauhkan bibirnya, ia dapat melihat dengan jelas Rama yang masih tertidur dengan lelapnya.
“Rama, aku sayang kamu...”
Fika kembali mendekatkan bibirnya dan kembali mencium Rama dengan pelan, ia tidak mau Rama mengetahui apa yang ia lakukan pada malam ini. Malam ini hanyalah untuk malam ini, esok akan menjadi lembaran baru bagi mereka berdua. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
0
Kutip
Balas