- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.7K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#196
gatra 2
Quote:
LAWANNYA MEMANG ketinggalan selangkah. Ketika ia berhasil membanting Doran, maka ia pun segera meloncat berdiri dan siap untuk bertempur. Tetapi ternyata lawannya telah berguling menjauh dan melenting beberapa langkah darinya. Orang yang garang itu pun segera memburunya. Tetapi sekali lagi ia terkejut. Tiba-tiba saja Doran itu telah menyongsongnya dengan sebuah serangan. Anak itu telah meloncat sambil mengayunkan kedua kakinya, sehingga tubuhnya bagaikan mendatar.
Serangan yang cepat dan tidak terduga itu memang tidak dapat dihindarinya. Untuk mengurangi tekanan pada dadanya, agar tulang tulang iganya tidak berpatahan, maka orang berwajah garang itu telah menyilangkan tangannya di dadanya. Tetapi dorongan serangan Doran itu memang demikian derasnya sehingga orang berwajah garang itu telah terdorong beberapa langkah surut dan bahkan kemudian kehilangan keseimbangannya.
Orang itu jatuh berguling sampai ke depan pintu kedai itu. Ternyata beberapa orang kawannya telah berdiri di pintu menyaksikan pertempuran itu. Di sekitar arena itu memang berkerumun beberapa orang. Tetapi mereka sama sekali tidak berani mendekat. Mereka mengerti, bahwa orang-orang yang datang ke kedai itu adalah orang-orang yang berilmu dan berwatak keras. Mereka merasa diri mereka memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga mereka dapat berbuat apa saja.
Orang yang terjatuh itu telah berusaha untuk bangkit. Namun rasa-rasanya dadanya bagaikan tertimpa oleh sebongkah batu hitam. Untunglah bahwa dengan cepat ia berhasil melindungi dadanya itu dengan tangannya yang menyilang. Namun demikian, serangan yang demikian kerasnya itu benar-benar telah menyakitinya. Ketika ia tegak berdiri, maka wajahnya nampak pucat. Tubuhnya bergetar oleh sakit dan marah yang tidak tertahankan.
“Aku akan bunuh anak itu,” geramnya.
Tetapi seorang kawannya berkata, “Kelihatannya kau sudah terlalu letih. Anak itu memiliki sesuatu yang tidak kita perhitungkan semula. Karena itu, maka kau menjadi lengah.”
“Ya. Sekarang aku sadari itu. Karena itu, aku akan berhati-hati,” jawab orang yang kesakitan itu.
Tetapi seorang kawannya menjawab, “Terlambat.”
“Tidak. Aku belum apa-apa,” jawab orang itu.
Kawannya menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku akan menyelesaikan anak itu.”
“Jangan,” orang yang dadanya bagaikan pepat itu masih membantah.
Tetapi orang yang paling garang di antara mereka berempat, berkumis di atas bibirnya meskipun tidak begitu lebat dan di keningnya nampak segores cacat yang membuat wajahnya menjadi semakin seram menggeram, “Biarlah orang lain melakukannya. Jika kau sekali lagi menghadapinya, kau akan mati.”
“Tidak. Akulah yang akan membunuhnya,” berkata orang itu.
Adalah di luar dugaan bahwa orang berwajah cacat itu telah mendorong kawannya yang baru saja bertempur melawan Doran. Demikian keras tenaga dorongnya itu, maka orang yang masih berdiri dengan gemetar itu telah kehilangan keseimbangannya dan sekali lagi jatuh terlentang.
“Bangun,” teriak orang yang berwajah cacat yang agaknya orang yang dituakan di gerombolan orang –orang itu.
Tertatih-tatih orang itu bangkit. Sementara itu dengan wajah yang berkerut, orang yang berwajah cacat itu berkata, “Nah, kau percaya bahwa kau sudah tidak dapat berkelahi lagi?”
Orang itu tidak menjawab. Sementara orang berwajah cacat itu berkata kepada kawannya yang lain, “Kau hukum anak itu, agar harga diri kita tidak runtuh di lingkungan ini. Kau tunjukkan kepada orang-orang yang melihat pertempuran ini meskipun dari kejauhan, bahwa anak itu tidak berarti apa-apa bagi kami. Jika terjadi kekalahan atas salah seorang kawan kita, karena ia terlalu bodoh dan sombong.”
Ketiga orang itu berpaling ketika mereka mendengar seseorang berkata di belakang mereka,
“Apakah memang begitu menurut dugaanmu?”
“Anak setan,” geram orang yang cacat itu.
Ternyata anak muda yang seorang lagi masih duduk di amben di dalam kedai sambil memegangi mangkuk wedang jahenya.
Tetapi ketika ketiga orang itu memandanginya dengan tegang, maka anak muda itu telah bangkit dan berjalan keluar melalui pintu samping. Tanpa menghiraukan orang-orang yang berdiri di pintu itu, maka Arya Gading telah melangkah mendekati Doran.
Lantas orang –orang kasar itu berteriak sambil mengacungkan sebilah golok, “ Kalian tunggulah disini. Aku akan melaporkan peristiwa ini kepada pimpinan ku. Biarlah kalian akan dihajar dan setelah itu tubuh kalian akan diseret menggunakan kuda di sepanjang jalan padukuhan ini “
Doran tidak kalah sengit berteriak, “ Silahkan kisanak. Aku tunggu pimpinan mu sembari minum wedang jahe dan menyelesaikan makan ku tadi yang sempat kau usik “
Tanpa menghiraukan orang-orang yang dengan tergesa –gesa pergi dari halama kedai itu. Arya Gading dan Doran kembali masuk ke dalam kedai dan menuju ke arah tempat duduknya semula. Si pemilik kedai yang masih tampak ketakutan itu menghampiri keduanya.
“ Maaf Ngger, saya minta tolong dengan sangat agar angger berdua segera meninggalkan tempat ini. Kalau sampai Kebo Peteng kesini. Hancurlah kedai kami, orang itu tentu pasti akan membakar kedai ku ini Ngger “
Serangan yang cepat dan tidak terduga itu memang tidak dapat dihindarinya. Untuk mengurangi tekanan pada dadanya, agar tulang tulang iganya tidak berpatahan, maka orang berwajah garang itu telah menyilangkan tangannya di dadanya. Tetapi dorongan serangan Doran itu memang demikian derasnya sehingga orang berwajah garang itu telah terdorong beberapa langkah surut dan bahkan kemudian kehilangan keseimbangannya.
Orang itu jatuh berguling sampai ke depan pintu kedai itu. Ternyata beberapa orang kawannya telah berdiri di pintu menyaksikan pertempuran itu. Di sekitar arena itu memang berkerumun beberapa orang. Tetapi mereka sama sekali tidak berani mendekat. Mereka mengerti, bahwa orang-orang yang datang ke kedai itu adalah orang-orang yang berilmu dan berwatak keras. Mereka merasa diri mereka memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga mereka dapat berbuat apa saja.
Orang yang terjatuh itu telah berusaha untuk bangkit. Namun rasa-rasanya dadanya bagaikan tertimpa oleh sebongkah batu hitam. Untunglah bahwa dengan cepat ia berhasil melindungi dadanya itu dengan tangannya yang menyilang. Namun demikian, serangan yang demikian kerasnya itu benar-benar telah menyakitinya. Ketika ia tegak berdiri, maka wajahnya nampak pucat. Tubuhnya bergetar oleh sakit dan marah yang tidak tertahankan.
“Aku akan bunuh anak itu,” geramnya.
Tetapi seorang kawannya berkata, “Kelihatannya kau sudah terlalu letih. Anak itu memiliki sesuatu yang tidak kita perhitungkan semula. Karena itu, maka kau menjadi lengah.”
“Ya. Sekarang aku sadari itu. Karena itu, aku akan berhati-hati,” jawab orang yang kesakitan itu.
Tetapi seorang kawannya menjawab, “Terlambat.”
“Tidak. Aku belum apa-apa,” jawab orang itu.
Kawannya menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku akan menyelesaikan anak itu.”
“Jangan,” orang yang dadanya bagaikan pepat itu masih membantah.
Tetapi orang yang paling garang di antara mereka berempat, berkumis di atas bibirnya meskipun tidak begitu lebat dan di keningnya nampak segores cacat yang membuat wajahnya menjadi semakin seram menggeram, “Biarlah orang lain melakukannya. Jika kau sekali lagi menghadapinya, kau akan mati.”
“Tidak. Akulah yang akan membunuhnya,” berkata orang itu.
Adalah di luar dugaan bahwa orang berwajah cacat itu telah mendorong kawannya yang baru saja bertempur melawan Doran. Demikian keras tenaga dorongnya itu, maka orang yang masih berdiri dengan gemetar itu telah kehilangan keseimbangannya dan sekali lagi jatuh terlentang.
“Bangun,” teriak orang yang berwajah cacat yang agaknya orang yang dituakan di gerombolan orang –orang itu.
Tertatih-tatih orang itu bangkit. Sementara itu dengan wajah yang berkerut, orang yang berwajah cacat itu berkata, “Nah, kau percaya bahwa kau sudah tidak dapat berkelahi lagi?”
Orang itu tidak menjawab. Sementara orang berwajah cacat itu berkata kepada kawannya yang lain, “Kau hukum anak itu, agar harga diri kita tidak runtuh di lingkungan ini. Kau tunjukkan kepada orang-orang yang melihat pertempuran ini meskipun dari kejauhan, bahwa anak itu tidak berarti apa-apa bagi kami. Jika terjadi kekalahan atas salah seorang kawan kita, karena ia terlalu bodoh dan sombong.”
Ketiga orang itu berpaling ketika mereka mendengar seseorang berkata di belakang mereka,
“Apakah memang begitu menurut dugaanmu?”
“Anak setan,” geram orang yang cacat itu.
Ternyata anak muda yang seorang lagi masih duduk di amben di dalam kedai sambil memegangi mangkuk wedang jahenya.
Tetapi ketika ketiga orang itu memandanginya dengan tegang, maka anak muda itu telah bangkit dan berjalan keluar melalui pintu samping. Tanpa menghiraukan orang-orang yang berdiri di pintu itu, maka Arya Gading telah melangkah mendekati Doran.
Lantas orang –orang kasar itu berteriak sambil mengacungkan sebilah golok, “ Kalian tunggulah disini. Aku akan melaporkan peristiwa ini kepada pimpinan ku. Biarlah kalian akan dihajar dan setelah itu tubuh kalian akan diseret menggunakan kuda di sepanjang jalan padukuhan ini “
Doran tidak kalah sengit berteriak, “ Silahkan kisanak. Aku tunggu pimpinan mu sembari minum wedang jahe dan menyelesaikan makan ku tadi yang sempat kau usik “
Tanpa menghiraukan orang-orang yang dengan tergesa –gesa pergi dari halama kedai itu. Arya Gading dan Doran kembali masuk ke dalam kedai dan menuju ke arah tempat duduknya semula. Si pemilik kedai yang masih tampak ketakutan itu menghampiri keduanya.
“ Maaf Ngger, saya minta tolong dengan sangat agar angger berdua segera meninggalkan tempat ini. Kalau sampai Kebo Peteng kesini. Hancurlah kedai kami, orang itu tentu pasti akan membakar kedai ku ini Ngger “
Quote:
PADA SAAT ITULAH tiga orang penunggang kuda berhenti di depan kedai. Sejenak Doran dan Arya Gading perhatikan ketiga pendatang ini. Dua diantaranya ia masih ingat wajah orang itu. Dan yang seorang lagi baik Arya Gading atau Doran sama sekali belum tahu siapa sebenarnya orang itu. Sementara pemilik kedai nampak gemetar.
“ Gusti….itu Kebo Peteng. Hancur sudah kedai ku ini “
Ketika pemilik kedai segera beranjak meninggalkan kedai itu, tahu-tahu ketiga penunggang kuda tadi sudah melompat dan berdiri di hadapannya.
"Jadi ini, kedua anak ingusan yang telah menggoreskan arang di wajah Kebo Peteng?!"
Yang membentak ini seorang lelaki paruh baya. Mengenakan pakaian serba hitam, berambut pendek memelihara berewok dan berbadan tinggi kekar. Lelaki di sampingnya, seorang lelaki yang memiliki bekas luka di wajahnya yang tadi sempat dikalahkan oleh Doran, sejurus kemudian dia anggukkan kepala.
"Srettt...!"
Dari balik pinggangnya orang yang bernama Kebo Peteng ini cabut sebilah besi berwarnah hitam dan mengacungkannya ke arah Doran yang duduk di belakang meja.
"Setan! Kau berani berlagak sombong di daerah kami" sentak Kebo Peteng yang memegang besi hitam. Doran lantas berdiri dari tempat duduknya.
“ Sabar kisanak, akalu kisanak ingin bertarung. Kita dapat melakukannya di luar sana. Lebih luas dan tidak akan merusak perabotan yang ada di dalam kedai ini “
“Berhati-hatilah,” berkata Arya Gading. “Mereka agaknya akan bersungguh-sungguh.”
“Aku akan menghancurkannya,” jawab Doran sambil mengedipkan mata.
“Jangan salah menilai. Orang yang pertama itu tidak menyangka bahwa ia akan berhadapan dengan orang yang telah serba sedikit mempelajari ilmu kanuragan. Tetapi orang kedua tidak akan membuat kesalahan yang serupa.”
Doran tersenyum. Katanya, “Ternyata kemampuannya tidak menggetarkan jantungku.”
“Aku peringatkan kau, Doran. Jangan terlalu sombong,” berkata Arya Gading.
Doran mengerutkan keningnya. Ia mulai menjadi bersungguh-sungguh. Peringatan Arya Gading itu seakan-akan adalah gema suara gurunya yang sering diucapkannya, “Jangan sombong.”
Karena itu maka Doran pun mengangguk kecil sambil menjawab, “Baiklah, aku akan berhati-hati.”
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Ia berharap bahwa dengan demikian, Doran tidak akan kehilangan kewaspadaan. Jika ia menganggap dirinya terlalu baik, maka ia justru akan terjerat ke dalam kesulitan. Dalam pada itu, seorang di antara orang-orang garang yang berdiri di depan kedai itu telah bersiap-siap. Orang yang telah dikalahkan oleh Doran itu berdiri di belakang pemimpinnya dengan wajah yang pucat. Sejenak kemudian, maka Kebo Peteng itu telah melangkah mendekati Doran.
Dengan nada berat ia berkata, “Nah, apakah kalian akan maju berdua?”
Doranlah yang menyongsongnya. Katanya, “Aku masih cukup kuat untuk mengalahkanmu, Ki Sanak. Marilah, kita akan melihat, siapakah yang lebih berhak mengusir orang lain dari kedai itu. Kau atau aku”
Kebo Peteng itu memang sudah marah. Kekalahan kawannya merupakan satu penghinaan bagi kelompoknya. Karena itu, maka ia harus menebusnya.
“Aku harus mengalahkannya dengan cepat,” berkata Kebo Peteng di dalam hatinya.
“ Gusti….itu Kebo Peteng. Hancur sudah kedai ku ini “
Ketika pemilik kedai segera beranjak meninggalkan kedai itu, tahu-tahu ketiga penunggang kuda tadi sudah melompat dan berdiri di hadapannya.
"Jadi ini, kedua anak ingusan yang telah menggoreskan arang di wajah Kebo Peteng?!"
Yang membentak ini seorang lelaki paruh baya. Mengenakan pakaian serba hitam, berambut pendek memelihara berewok dan berbadan tinggi kekar. Lelaki di sampingnya, seorang lelaki yang memiliki bekas luka di wajahnya yang tadi sempat dikalahkan oleh Doran, sejurus kemudian dia anggukkan kepala.
"Srettt...!"
Dari balik pinggangnya orang yang bernama Kebo Peteng ini cabut sebilah besi berwarnah hitam dan mengacungkannya ke arah Doran yang duduk di belakang meja.
"Setan! Kau berani berlagak sombong di daerah kami" sentak Kebo Peteng yang memegang besi hitam. Doran lantas berdiri dari tempat duduknya.
“ Sabar kisanak, akalu kisanak ingin bertarung. Kita dapat melakukannya di luar sana. Lebih luas dan tidak akan merusak perabotan yang ada di dalam kedai ini “
“Berhati-hatilah,” berkata Arya Gading. “Mereka agaknya akan bersungguh-sungguh.”
“Aku akan menghancurkannya,” jawab Doran sambil mengedipkan mata.
“Jangan salah menilai. Orang yang pertama itu tidak menyangka bahwa ia akan berhadapan dengan orang yang telah serba sedikit mempelajari ilmu kanuragan. Tetapi orang kedua tidak akan membuat kesalahan yang serupa.”
Doran tersenyum. Katanya, “Ternyata kemampuannya tidak menggetarkan jantungku.”
“Aku peringatkan kau, Doran. Jangan terlalu sombong,” berkata Arya Gading.
Doran mengerutkan keningnya. Ia mulai menjadi bersungguh-sungguh. Peringatan Arya Gading itu seakan-akan adalah gema suara gurunya yang sering diucapkannya, “Jangan sombong.”
Karena itu maka Doran pun mengangguk kecil sambil menjawab, “Baiklah, aku akan berhati-hati.”
Arya Gading menarik nafas dalam-dalam. Ia berharap bahwa dengan demikian, Doran tidak akan kehilangan kewaspadaan. Jika ia menganggap dirinya terlalu baik, maka ia justru akan terjerat ke dalam kesulitan. Dalam pada itu, seorang di antara orang-orang garang yang berdiri di depan kedai itu telah bersiap-siap. Orang yang telah dikalahkan oleh Doran itu berdiri di belakang pemimpinnya dengan wajah yang pucat. Sejenak kemudian, maka Kebo Peteng itu telah melangkah mendekati Doran.
Dengan nada berat ia berkata, “Nah, apakah kalian akan maju berdua?”
Doranlah yang menyongsongnya. Katanya, “Aku masih cukup kuat untuk mengalahkanmu, Ki Sanak. Marilah, kita akan melihat, siapakah yang lebih berhak mengusir orang lain dari kedai itu. Kau atau aku”
Kebo Peteng itu memang sudah marah. Kekalahan kawannya merupakan satu penghinaan bagi kelompoknya. Karena itu, maka ia harus menebusnya.
“Aku harus mengalahkannya dengan cepat,” berkata Kebo Peteng di dalam hatinya.
Quote:
SEJENAK KEDUA orang itu telah berhadapan. Arya Gading masih tetap berdiri di luar arena tanpa berbuat sesuatu. Ia berdiri saja sambil menyilangkan tangannya di dada. Bahkan Arya Gading sempat bergeser berlindung dari panasnya matahari menjelang sore hari. Tidak ada kesan kegelisahan dan kecemasan di wajahnya. Kedua orang yang akan berkelahi itupun telah berdiri berhadapan. Beberapa langkah mereka bergeser untuk menyesuaikan diri dengan arena. Orang yang garang itu dengan cerdik telah bergeser ke arah barat, sehingga Doran menjadi silau karenanya.
“Jangan memandang matahari,” terdengar suara Arya Gading yang berdiri di tempat yang terlindung.
Doran baru menyadari, bahwa pandangan matanya memang terganggu oleh silaunya sinar matahari yang turun di sisi langit sebelah barat. Karena itu, maka Doran pun telah bergeser pula. Ia telah menentukan arah menghadapi lawannya, sehingga keduanya kemudian telah berdiri berhadapan ke arah utara dan selatan.
Kemenangan Doran atas lawannya yang pertama telah menumbuhkan kepercayaan pada dirinya, bahwa ilmunya memang mampu mengatasi ilmu yang dipergunakan oleh lawannya itu. Doran merasa bahwa jurus -jurus yang telah dipelajarinya cukup lengkap untuk melawan dan bahkan mengatasi jurus – jurus yang ada di dalam ilmu lawannya itu.
Beberapa saat mereka masih saling memperhatikan. Tetapi lawan Doran tidak sempat lagi bergeser untuk mengambil keuntungan dari cahaya matahari yang menjadi semakin rendah.
Tetapi lawannya itu memang tidak ingin berlama-lama. Selangkah demi selangkah ia mendekati Doran. Kemudian dengan tiba-tiba ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Sebatang besi ditangannya telah terjulur lurus ke arah dada. Doran yang melihat serangan itu, dengan cepat telah bergeser.
Bahkan dengan cepat Doran telah memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar ke arah kening lawannya. Namun lawannya pun dengan cepat telah merendahkan dirinya, sehingga kaki Doran terayun tanpa menyentuhnya. Bahkan lawannya itu dengan cepat pula menyapu kaki Doran yang satu lagi, tempat tubuhnya bertumpu. Tetapi dengan tangkasnya, dengan kekuatan satu kakinya, Doran telah melenting tinggi dan kemudian jatuh beberapa langkah ke samping. Namun demikian kakinya menginjak tanah, maka ia pun telah meloncat maju dengan loncatan panjang. Tangannya lah yang telah menyerang kening.
Tetapi lawannya sempat menangkis serangan itu. Dengan tangannya pula lawannya telah menangkis serangan Doran itu dan menebaskannya keluar. Sementara tangannya yang lain justru telah menyabetkan besi hitamnya ke arah dada. Adalah giliran Doran yang harus menghindari serangan lawannya itu. Tetapi Doran tidak bergeser mundur. Ia justru telah menyusup maju sambil mengibaskan serangan lawannya ke samping. Dengan sekuat tenaganya, Doran telah menghantam bagian bawah perut lawannya dengan lututnya.
Satu serangan yang datang demikian cepatnya. Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Perut lawannya rasa-rasanya telah diremas dan diputar sekuat tenaga. Perasaan mual, sakit, dan sesak telah mencengkam seisi perut dan dada Kebo Peteng itu. Ketika Doran kemudian bergeser mundur setapak, maka lawannya terbungkuk menahan sakit. Kedua tangannya memegangi perutnya yang seolah-olah seluruh isinya, termasuk usus-ususnya akan meloncat keluar.
Ternyata Doran tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan sekuat tenaganya, maka tangannya telah terayun menyambar kening lawannya yang kesakitan itu. Terdengar lawannya itu mengaduh. Pukulan Doran demikian kerasnya sehingga lawannya itu seakan-akan telah terangkat dan terlempar beberapa langkah surut. Bahkan orang itupun telah terbanting jatuh di tanah.
Ia tidak segera dapat meloncat bangkit. Tetapi beberapa saat lamanya ia bergulung-gulung sambil memegangi perutnya, namun sekali-sekali sempat mengusap keningnya. Rasa-rasanya keningnya menjadi bengkak, sehingga sebelah matanya menjadi kabur karenanya. Doran tidak memburu lawannya. Ia tidak menyerang lawannya yang dalam keadaan tidak lagi mampu mempertahankan dirinya. Karena itu, maka iapun telah berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Doran sangat yakin bahwa lawannya itu akan segera mampu ditundukkan.
“Jangan memandang matahari,” terdengar suara Arya Gading yang berdiri di tempat yang terlindung.
Doran baru menyadari, bahwa pandangan matanya memang terganggu oleh silaunya sinar matahari yang turun di sisi langit sebelah barat. Karena itu, maka Doran pun telah bergeser pula. Ia telah menentukan arah menghadapi lawannya, sehingga keduanya kemudian telah berdiri berhadapan ke arah utara dan selatan.
Kemenangan Doran atas lawannya yang pertama telah menumbuhkan kepercayaan pada dirinya, bahwa ilmunya memang mampu mengatasi ilmu yang dipergunakan oleh lawannya itu. Doran merasa bahwa jurus -jurus yang telah dipelajarinya cukup lengkap untuk melawan dan bahkan mengatasi jurus – jurus yang ada di dalam ilmu lawannya itu.
Beberapa saat mereka masih saling memperhatikan. Tetapi lawan Doran tidak sempat lagi bergeser untuk mengambil keuntungan dari cahaya matahari yang menjadi semakin rendah.
Tetapi lawannya itu memang tidak ingin berlama-lama. Selangkah demi selangkah ia mendekati Doran. Kemudian dengan tiba-tiba ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Sebatang besi ditangannya telah terjulur lurus ke arah dada. Doran yang melihat serangan itu, dengan cepat telah bergeser.
Bahkan dengan cepat Doran telah memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar ke arah kening lawannya. Namun lawannya pun dengan cepat telah merendahkan dirinya, sehingga kaki Doran terayun tanpa menyentuhnya. Bahkan lawannya itu dengan cepat pula menyapu kaki Doran yang satu lagi, tempat tubuhnya bertumpu. Tetapi dengan tangkasnya, dengan kekuatan satu kakinya, Doran telah melenting tinggi dan kemudian jatuh beberapa langkah ke samping. Namun demikian kakinya menginjak tanah, maka ia pun telah meloncat maju dengan loncatan panjang. Tangannya lah yang telah menyerang kening.
Tetapi lawannya sempat menangkis serangan itu. Dengan tangannya pula lawannya telah menangkis serangan Doran itu dan menebaskannya keluar. Sementara tangannya yang lain justru telah menyabetkan besi hitamnya ke arah dada. Adalah giliran Doran yang harus menghindari serangan lawannya itu. Tetapi Doran tidak bergeser mundur. Ia justru telah menyusup maju sambil mengibaskan serangan lawannya ke samping. Dengan sekuat tenaganya, Doran telah menghantam bagian bawah perut lawannya dengan lututnya.
Satu serangan yang datang demikian cepatnya. Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Perut lawannya rasa-rasanya telah diremas dan diputar sekuat tenaga. Perasaan mual, sakit, dan sesak telah mencengkam seisi perut dan dada Kebo Peteng itu. Ketika Doran kemudian bergeser mundur setapak, maka lawannya terbungkuk menahan sakit. Kedua tangannya memegangi perutnya yang seolah-olah seluruh isinya, termasuk usus-ususnya akan meloncat keluar.
Ternyata Doran tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan sekuat tenaganya, maka tangannya telah terayun menyambar kening lawannya yang kesakitan itu. Terdengar lawannya itu mengaduh. Pukulan Doran demikian kerasnya sehingga lawannya itu seakan-akan telah terangkat dan terlempar beberapa langkah surut. Bahkan orang itupun telah terbanting jatuh di tanah.
Ia tidak segera dapat meloncat bangkit. Tetapi beberapa saat lamanya ia bergulung-gulung sambil memegangi perutnya, namun sekali-sekali sempat mengusap keningnya. Rasa-rasanya keningnya menjadi bengkak, sehingga sebelah matanya menjadi kabur karenanya. Doran tidak memburu lawannya. Ia tidak menyerang lawannya yang dalam keadaan tidak lagi mampu mempertahankan dirinya. Karena itu, maka iapun telah berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Doran sangat yakin bahwa lawannya itu akan segera mampu ditundukkan.
MFriza85 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas