Entertainment
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
164
Lapor Hansip
23-02-2022 07:30

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom


Apa itu Stockholm Syndrome?

Menurut Wikipedia, Stockholm Syndrome atau Norrmalmstorgssyndromet dalam bahasa Swedia, merupakan sebuah kondisi yang membuat para sandera membentuk ikatan psikologis dengan penyanderanya, sebagai cara untuk tetap bertahan hidup selama masa penyanderaan. Walaupun para penyandera tersebut secara berselang melakukan kekerasan, pemukulan, ancaman, pelecehan, atau intimidasi terhadap para sanderanya.

Istilah Stockholm Syndrome ini dimunculkan pertama kali oleh seorang kriminolog dan psikiater Swedia yang bernama Nils Bejerot.

Pada tahun 1973, Bejerot diminta untuk menganalisa reaksi para korban yang disandera dan status mereka tersebut dalam perampokan yang terjadi di bank Kreditbanken pada masa itu.

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom

Dalam Wikipedia juga dijelaskan bahwa ada empat komponen yang secara umum mengarah pada pembentukan Stockholm Syndrome ini.

- Para sandera memiliki perasaan yang positif terhadap penyanderanya.

- Tidak ada hubungan yang pernah terbentuk sebelumnya antara yang disandera dengan penyanderanya.

- Penolakan yang dilakukan oleh para sandera untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian atau instansi pemerintah lainnya.

- Keyakinan para sandera akan rasa kemanusiaan yang dimiliki penyanderanya, dengan alasan bahwa ketika para sandera memiliki nilai yang sama dengan penyanderanya, maka mereka dianggap bukan lagi sebuah ancaman.

Keempat komponen ini pernah ditunjukkan oleh para sandera dalam kasus perampokan bank Kreditbanken pada tahun 1973. Dimana para sandera justru bahkan sempat menggalang dana untuk para penyanderanya atas dasar kemanusiaan.

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom

Stockholm Syndrome terjadi bukan hanya dalam kasus penyanderaan, namun dalam situasi yang bermacam-macam. Seperti contoh dalam kasus pelecehan terhadap anak, kasus perdagangan manusia, atau bahkan kasus incest yang terjadi dalam sebuah keluarga.

Selain itu, tahanan perang, terorisme politik, anggota aliran sesat, tahanan kamp konsentrasi, prostitusi, juga bisa terjerat dalam Stockholm Syndrome ini. Dan sebagian besar dari mereka adalah perempuan.

Selanjutnya, Stockholm Syndrome ini juga sempat dialami oleh Patty Hearst. Cucu dari pemilik publisher ternama di Amerika, William Randolph Hearst. Patty diculik oleh Symbionese Liberation Army pada tahun 1974. Patty bukannya merasa takut, tapi dia justru merasa simpati dan bahkan ikut merampok salah satu bank di San Fransisco setelah mengubah namanya menjadi "Tania". Kemudian Patty ditangkap pada tahun 1975 dan dijatuhi hukuman penjara.

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom

Kasus lainnya adalah penculikan yang dilakukan oleh Wolfgang Priklopil terhadap korbannya, Natascha Kampusch. Natascha yang saat itu berumur 10 tahun, disekap selama 8 tahun disebuah basement. Dan setelah mendengar penculiknya meninggal, Natascha justru menangis dan sempat menyalakan lilin di kamar mayat.

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom

Pada tanggal 23 Agustus 1973 disalah satu bank terbesar di Stockholm, Swedia, yang bernama Kreditbanken, terjadi sebuah perampokan. Pelaku yang diketahui bernama Jan-Erik Olsson itu, merupakan mantan narapidana yang dibebaskan secara bersyarat.

Dua orang polisi Swedia sempat memasuki lokasi kejadian, namun salah satu polisi terluka karena ditembak Olsson. Sedangkan yang lainnya diperintahkan untuk duduk dikursi dan menyanyikan lagu yang berjudul "Lonesome Cowboy".

Para sandera


Olsson kemudian menyandera empat orang yang merupakan karyawan bank Kreditbanken tersebut. Tiga diantaranya perempuan yang bernama Birgitta Lundblad, Elizabeth Oldgren, dan Kristin Enmark. Serta seorang laki-laki yang bernama Sven Safstrom.

Lundblan, Oldgren, Enmark, dan Safstrom


Dia juga sempat melakukan negosiasi dengan pihak kepolisian, dan menuntut mereka untuk membebaskan salah satu temannya yang bernama Clark Olofsson,  yang merupakan seorang narapidana atas beberapa kasus perampokan bersenjata dan tindak kekerasan, yang dilakukannya sejak dia berumur 16 tahun.

Selain itu, Olsson juga menuntut disediakan uang sejumlah 3 juta Kronos Swedia, dua buah senjata, rompi anti peluru, helm, dan sebuah mobil berkecepatan tinggi.

Pemerintah akhirnya memberikan ijin untuk mengeluarkan Olofsson dari penjara. Oleh pihak kepolisian, dia digunakan sebagai alat penghubung antara Olsson dengan para negosiator. Dan para negosiator tersebut pun setuju untuk memenuhi tuntutan penyediaan mobil berkecepatan tinggi sebagai cara untuk Olsson dan temannya melarikan diri. Namun, mereka berdua tidak diijinkan membawa serta para sandera.

Selama 6 hari sejak tanggal 23 hingga 28 Agustus, Olsson dan temannya memblokir ruang utama bank Kreditbanken. Mereka juga menakut-nakuti para sandera dengan dinamit. Olsson bahkan sempat menghubungi Perdana Menteri Olof Palme, dan mengatakan padanya bahwa dia akan membunuh semua sandera. Ancamannya tersebut disertai teriakan dari salah satu sandera yang bernama Kristin Enmark.

Keesokan harinya, Enmark menghubungi Palme. Dia justru mengatakan bahwa dia tidak senang dengan sikap Palme yang tidak membiarkan Olsson dan temannya, serta para sandera untuk bebas.

Para sniper yang sedang membidik Olsson dan temannya


Pada tanggal 26 Agustus, polisi membuat lubang akses untuk melihat situasi dan keadaan penyanderaan dari atas apartemen yang menyatu dengan gedung Kreditbanken. Ketika salah satu polisi sedang mengawasi, Olofsson justru menembak polisi itu melalui lubang akses tersebut. Dan polisi itu langsung terluka dibagian mata serta wajahnya.

Saat itu, Olsson sempat mengancam akan membunuh semua sandera jika polisi berusaha untuk melakukan penyerangan terhadap mereka.

Olsson didampingi polisi bermasker ketika dia menyerahkan diri


Namun, pada tanggal 28 Agustus, polisi melemparkan gas air mata kedalam ruangan tempat Olsson dan temannya berada. Dan satu setengah jam kemudian, mereka menyerahkan diri.

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom

Pasca perampokan disertai penyanderaan tersebut, Olsson dan Olofsson, keduanya didakwa dan dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun. Olofsson sempat menyatakan bahwa dia tidak membantu Olsson, tapi dia hanya berusaha untuk menenangkan keadaan. Namun pernyataannya tersebut dibatalkan.

Clark Olofsson


Saat dipenjara, Olsson mendapat banyak surat dari para pengagumnya yang kebanyakan adalah perempuan. Dan pada tahun 1996, Olsson menikah dengan perempuan Thailand dan pindah kesana. Lalu pada tahun 2013, dia kembali lagi ke Swedia dan sempat menulis autobiografi yang berhubungan dengan penyanderaan yang dilakukannya pada tahun 1973.

Sedangkan temannya, Olofsson, diketahui sempat beberapa kali bertemu dengan Kristin Enmark setelah kejadian itu. Dan bahkan kedua keluarga mereka berteman sangat baik.

Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom

Sekian, dan terimakasih

*
*
*
*
*

Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3



profile-picture
profile-picture
profile-picture
dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Masuk untuk memberikan balasan
the-lounge
The Lounge
59.5K Anggota • 916.1K Threads
Mengenal Stockholm Syndrome #RabuRandom
24-02-2022 11:46
Agak ngeri ya, disatu sisi bisa menguntungkan korban karena penyandra tdk melukainya tapi itu sih tergantung cara penyandra memperlakukan korban.
0 0
0
profile picture
Retired Electronic Enthusiast
24-02-2022 11:52


Iya, berlaku atau tidaknya sindrom di atas tergantung dari perlakuan si penyandera terhadap korbannya

Selama ga ada pertumpahan darah sih bisa disebut ga begitu mengerikan emoticon-Big Grin
1
profile picture
newbie
24-02-2022 12:02
@marywiguna13 tapi korban malah jd berlihak ke pelaku daripada polisi :")
0
profile picture
Retired Electronic Enthusiast
24-02-2022 12:21
@novairma Ini opini gw pribadi ya..

Orang yang dijadikan sandera, bisa dipastikan mereka punya mindset kalo dia dalam bahaya, dan hidupnya belum tentu bisa selamat. Kalo penyanderanya cenderung jahat, ga punya hati, tegaan. Dia pasti akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap korbannya, bahkan dia bisa mematikan korban.

Tapi kalo si penyandera bersikap baik, ngasih korban makan misalnya, melakukan obrolan biasa misalnya, dan ga melakukan hal buruk pada korban. Si korban mindsetnya pasti berubah, "Ternyata si pelaku baik ya. Ngasih gw makan, ngajak gw ngobrol". Lama kelamaan, mungkin aura positif dari si penyandera akan muncul dan menguasai mindset si korban.

Kenapa si korban malah berpihak ke si penyandera ketimbang ke polisi?

Mungkin polisi yang diharapkan sebagai pihak yang bisa menyelamatkan sandera dengan cepat, geraknya ternyata ga bisa secepat yang diharapkan. Sedangkan tiap detik yang dihabiskan dengan penyandera, bisa lebih cepat menarik simpati si korban.
0
Memuat data ...
1 - 3 dari 3 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2023, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia