News
Batal
KATEGORI
link has been copied
19
Lapor Hansip
23-10-2021 15:23

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Mustafa Kemal Atatürk (19 Mei 1881 – 10 November 1938), hingga 1934 namanya adalah Gazi Mustafa Kemal Paşa, adalah seorang perwira militer dan negarawan Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki. Ideologinya yang sekularis dan nasionalis berikut kebijakan serta teorinya dikenal sebagai Kemalisme.

Mustafa Kemal membuktikan dirinya sebagai komandan militer yang sukses selama berdinas sebagai komandan divisi dalam Pertempuran Gallipoli. Setelah kekalahan Kesultanan Utsmaniyah di tangan tentara Sekutu, dan rencana-rencana berikutnya untuk memecah negara itu, Mustafa Kemal memimpin gerakan nasional Turki dalam apa yang kemudian menjadi Perang Kemerdekaan Turki. Kampanye militernya yang sukses menghasilkan kemerdekaan negara ini dan terbentuknya Republik Turki. Sebagai presiden yang pertama, Mustafa Kemal memperkenalkan serangkaian pembaruan luas dalam usahanya menciptakan sebuah negara modern yang sekuler dan demokratis. Menurut Hukum Nama Keluarga, Majelis Agung Turki memberikan kepada Mustafa Kemal nama belakang "Atatürk" (yang berarti "Bapak Bangsa Turki") pada 24 November.

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Atatürk setelah lulus dari Kolese Militer (1905)

Masa muda
Mustafa dilahirkan pada 1881, di Selânik Utsmaniyah (kini Thessaloniki di Yunani), sebagai anak seorang pegawai kecil yang kemudian menjadi pedagang kayu. Sesuai dengan kebiasaan Turki pada waktu itu, ia dinamai Mustafa saja. Ayahnya, Ali Rıza Efendi, seorang pegawai bea cukai, meninggal dunia ketika Mustafa baru berusia tujuh tahun. Karena itu, Mustafa kemudian dibesarkan oleh ibunya, Zübeyde Hanım.

Ketika Atatürk berusia 12 tahun, ia masuk ke sekolah militer di Selânik dan Manastır (kini Bitola), kedua-duanya pusat nasionalisme Yunani yang anti-Turki. Mustafa belajar di sekolah menengah militer di Selânik, dan di sana namanya ditambahkan dengan nama Kemal ("kesempurnaan") oleh guru matematikanya sebagai pengakuan atas kecerdasan akademiknya. Mustafa Kemal masuk ke akademi militer di Manastır pada 1895. Ia lulus dengan pangkat letnan pada 1905 dan ditempatkan di Damaskus. Di Damaskus ia segera bergabung dengan sebuah kelompok rahasia kecil yang terdiri dari perwira-perwira yang menginginkan pembaruan, yang dinamai Vatan ve Hürriyet (Tanah Air dan Kemerdekaan), dan menjadi penentang aktif Kesultanan Utsmaniyah. Pada 1907 ia ditempatkan di Selânik dan bergabung dengan Komite Kesatuan dan Kemajuan yang biasa disebut sebagai kelompok Turki Muda.

Pada 1908 kaum Turki Muda merebut kekuasaan dari sultan Abdul Hamid II, dan Mustafa Kemal menjadi tokoh militer senior. Pada 1911, ia pergi ke provinsi Libya untuk ikut serta dalam melawan invasi Italia. Pada bagian pertama dari Perang Balkan Mustafa Kemal terdampar di Libya dan tidak dapat ikut serta, tetapi pada Juli 1913 ia kembali ke Istanbul dan diangkat menjadi komandan pertahanan Utsmaniyah di wilayah Çanakkale di pantai Trakia (Trakya). Pada 1914 ia diangkat menjadi atase militer di Sofia, sebagian sebagai siasat untuk menyingkirkannya dari ibu kota dan dari intrik politiknya.
Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Atatürk bersama teman-temannya di Beirut (1906)

Karier militer
Ketika Kesultanan Utsmaniyah terjun ke Perang Dunia I di pihak Jerman, Mustafa Kemal ditempatkan di Tekirdağ (di Laut Marmara). Setelah Perang Dunia I usai, Kemal diangkat menjadi panglima dari semua pasukan yang berada di Turki Selatan. Banyak gerakan-gerakan yang muncul atas inisiasi rakyat untuk menggempur dan mengusir Sekutu dari wilayah Turki, akhirnya pasukan yang dipimpin oleh Kemal dan dibantu oleh gerakan-gerakan rakyat berhasil mengusir Sekutu dari Turki. Keberhasilan Sekutu mengusir penjajah, membuat rakyat dan Kemal berniat untuk menyingkirkan kekuasaan Sultan dengan membuat pemerintahan tandingan di Anatolia. Pembentukan pemerintahan tandingan ini tidak lain karena kebijakan Sultan telah bertentangan dengan kepentingan Nasional Turki dan Sultan masih menjadi boneka Sekutu yang otomatis kebijakannya adalah pencitraan dari kebijakan Sekutu atas Turki.

Gelibolu (Gallipoli)
Ia kemudian dipromosikan menjadi kolonel dan ditempatkan sebagai komandan divisi di daerah Gallipoli (bahasa Turki: "Gelibolu"). Ia memainkan peranan kritis dalam pertepuran melawan pasukan sekutu Inggris, Prancis dan ANZAC dalam Pertempuran Gallipoli pada April 1915. Di sini ia berhasil menahan pasukan-pasukan sekutu di Conkbayırı dan di bukit-bukit Anafarta. Karena keberhasilannya ini, pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal, dan dengan demikian memperoleh gelar pasya dan memperoleh pengaruh yang semakin luas dalam upaya-upaya peperangan. Dengan pengaruh dan pengalaman inilah Mustafa Kemal berhasil menggulingkan Kesultanan Utsmaniyah dan merebut kembali wilayah-wilayah yang mulanya telah diserahkan kepada Yunani setelah perang besar itu.

Mustafa Kemal memperoleh penghormatan dari bekas lawan-lawannya karena keberaniannya dalam kemenangan. Memorial Mustafa Kemal Atatürk mempunyai tempat terhormat dalam Parade ANZAC Parade di Canberra. Di tugu peringatan ini tertulis kata-katanya:

Para pahlawan yang menumpahkan darahnya dan kehilangan nyawanya ... kalian kini terbaring di tanah dari negara sahabat. Karena itu beristirahatlah dengan damai. Tidak ada perbedaan antara Johnny dan Mehmet di mana mereka kini terbaring berdampingan di negara kita ... Kalian, para ibu yang mengirim anak-anaknya ke negara-negara yang jauh, hapuskanlah air matamu. Anak-anakmu kini berbaring pada haribaanmu di dalam kedamaian. Setelah kehilangan nyawa mereka di negeri ini, mereka pun telah menjadi anak-anak kami.
Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru

Kemal Pasya, ketika dia adalah komandan pasukan (1918)

Tahun-tahun terakhir Perang Dunia I
Pada 1917 dan 1918 Mustafa dikirim ke front Kaukasus (Kafkaslar) untuk berperang melawan pasukan-pasukan Rusia, yang berhasil dimenangkannya. Ia kemudian ditempatkan di Hejaz (Hicaz), untuk menindas Pemberontakan Arab (yang didukung oleh Britania Raya) melawan Kesultanan Utsmaniyah. Setelah melepaskan jabatannya, akhirnya ia kembali untuk berdinas dalam mempertahankan Palestina, namun gagal. Pada Oktober 1918 Kesultanan Utsmaniyah menyerah kepada Sekutu, dan Mustafa Kemal menjadi salah seorang pemimpin partai yang memilih untuk mempertahankan wilayah yang lebih kurang sama dengan yang dikuasai oleh Turki sekarang, sementara setuju untuk mengundurkan diri dari semua wilayah lainnya.
Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Sebuah kartu pos yang menggambarkan Atatürk sebagai pahlawan Muslim

Emansipasi Turki
Sementara pasukan Sekutu mulai menduduki Kesultanan Utsmaniyah, kaum revolusioner Turki mulai memperlihatkan perlawanan. Mustafa Kemal mengorganisir gerakan-gerakan "Kuva-yi Milliye" (Angkatan Nasional) yang paling berhasil, yang berkembang menjadi Perang Kemerdekaan Turki.

Revolusi Mustafa Kemal dimulai dengan penempatannya di Samsun, dan di sana ia diberikan kekuasaan darurat sebagai Inspektur Divisi Militer ke-19. Begitu tiba di Anatolia, ia menafsirkan kekuasaannya secara bebas, dan menghubungi serta mengeluarkan perintah-perintah kepada para gubernur provinsi dan panglima militer daerah. Ia menyuruh mereka untuk melawan pendudukan. Pada Juni 1919 ia dan teman-teman dekatnya mengeluarkan Deklarasi Amasya yang menggambarkan mengapa wewenang Istanbul tidak sah. Para perwira Turki Muda secara politis mempromosikan gagasan bahwa pemerintahan di pengasingan harus dibentuk di suatu tempat di Anatolia. Perintah Istanbul untuk menghukum mati Kemal datang terlambat. Sebuah parlemen baru, Dewan Agung Nasional, sebuah pemerintahan darurat yang dibentuk di Ankara pada April 1920.

Pada tahun 1921 Kesultanan Utsmaniyah secara resmi dihapuskan dan pada tahun 1923 Turki menjadi Republik Sekuler dengan Mustafa Kemal sebagai presidennya. Ia kemudian mendirikan rezim satu partai yang hampir tidak terinterupsi hingga tahun 1945.

Mustafa Kemal kemudian memulai program revolusioner di bidang sosial dan reformasi politik untuk memodernisasi Turki. Perubahan perubahannya termasuk emansipasi untuk perempuan, penghapusan seluruh Institusi Islam dan pengenalan pada kode hukum Barat, pakaian, kalender, serta alfabet, mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf Latin.

Untuk kebijakan luar negeri ia memilih netral dengan menjalin hubungan baik dengan negara tentangga. Mustafa Kemal Pasya menandatangani Perjanjian Kars (23 Oktober 1921) dengan Uni Soviet - sebuah perjanjian persahabatan yang isinya Turki menyerahkan kota Batumi, yang kini terletak di Georgia - kepada kaum Bolshevik Lenin sebagai ganti kedaulatan atas kota-kota Kars dan Ardahan, yang direbut oleh Rusia Tsaris dalam Perang Rusia-Turki, 1877-1878. Ia mengantarkan Perjanjian Lausanne, dan dengan itu Turki akhirnya memasuki masa damai setelah satu dasawarsa mengalami peperangan yang menghancurkan, meskipun ia menghadapi oposisi irredentis di Dewan Nasional dan di tempat-tempat lainnya.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
yoseful dan 5 lainnya memberi reputasi
4
Masuk untuk memberikan balasan
Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
23-10-2021 15:23
KEHIDUPAN SETELAH PERANG DAN PEMBARUAN
Mustafa Kemal menggunakan beberapa tahun berikutnya untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya di Turki dan melembagakan berbagai pembaruan politik, ekonomi dan sosial yang meluas. Pembaruan-pembaruan ini mengakibatkan oposisi di lingkungan Partai Rakyat Republik (Cumhuriyet Halk Fırkası dalam bahasa Turki) yang didirikan oleh Mustafa Kemal pada 9 September 1923. Kemudian Mustafa Kemal memerintahkan Jenderal Kâzım Karabekir untuk mendirikan Partai Republik Progresif (Terakkiperver Cumhuriyet Fırkası dalam bahasa Turki) sebagai oposisi di Dewan Nasional Turki. Partai ini menentang sosialisme negara dari Partai Rakyat Republik dan mengusulkan liberalisme. Tetapi setelah beberapa lama, partai ini diambil alih oleh orang-orang yang dianggap Atatürk sebagai fundamentalis. Pada 1925, sebagian sebagai tanggap terhadap provokasi dari Syekh Said, dikeluarkanlah Undang-undang untuk Mempertahankan Ketertiban, yang memberikan kekuasaan kepada Atatürk untuk membubarkan kelompok-kelompok subversif. Partai Republik Progresif dengan segera dibubarkan dengan undang-undang yang baru ini, suatu tindakan yang dianggapnya perlu untuk mempertahankan negara Turki. Namun, tindakan ini menyebabkan banyak orang Turki menjadi kecewa dengan Atatürk, dan menganggapnya sebagai tindakan seorang diktator.

Pada 11 Agustus 1930 Kemal Pasya memutuskan untuk sekali lagi mencoba gerakan demokrasi. Ia menuduh Ali Fethi Bey mendirikan partai yang baru. Dalam suratnya kepada Ali Fethi, ia menekankan laisisme. Mulanya Partai Republik Liberal berhasil menang di seluruh negara. Tetapi sekali lagi partai oposisi menjadi terlalu kuat di dalam perlawanannya terhadap upaya pembaruan Atatürk, khususnya dalam hal peranan agama dalam kehidupan masyarakat. Akhirnya Ali Fethi menghapuskan partainya sendiri dan Kemal tidak pernah berhasil mendemokratiskan sistem parlementer. Ia kadang-kadang menghadapi pihak oposisi dengan keras dalam berusaha mencapai tujuan utamanya untuk mendemokratiskan Turki. Salah satu kritiknya yang tetap bertahan hingga sekarang ialah bahwa Atatürk tidak mempromosikan demokrasi, namun sebagaimana dicatat oleh penulis biografinya, "Di antara kedua perang, demokrasi tidak dapat bertahan di banyak masyarakat yang lebih kaya dan yang lebih terdidik. Otoritarianisme Atatürk yang dicerahkan meninggalkan ruangan yang memadai untuk kehidupan privat yang bebas. Pada masa hidupnya, kita tidak dapat mengharapkan lebih banyak lagi."

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Cetakan 1935 asli dari Quran pertama dalam bahasa Turki oleh Atatürk


Pada tahun 1932, sebuah Al-Qur'an dalam bahasa Turki dibacakan di hadapan audiensi langsung dan disiarkan melalui radio. Pada tahun yang sama, Atatürk ingin mengajarkan agama dalam bahasa Turki kepada orang-orang Turki yang telah mempraktikkan Islam tanpa memahaminya selama berabad-abad. Semua Qur'an di Turki pada saat itu dicetak dalam bahasa Arab Kuno. Ada Al-Qur'an polyglot langka yang ditulis dalam bahasa Arab, Persia, Turki dan Latin dalam gaya tetrapla, disiapkan oleh Andrea Acoluthus dari Bernstadt dan dicetak di Berlin pada 1701. Pada tahun 1924, tiga terjemahan Turki yang diterbitkan di Istanbul menimbulkan kontroversi. Beberapa terjemahan Qur'an dalam bahasa Turki dibacakan di depan umum. Al-Qur'an Turki ini ditentang keras oleh umat beragama. Peristiwa ini mendorong banyak modernis Muslim terkemuka untuk memanggil Parlemen Turki untuk mensponsori terjemahan Al-Quran yang sesuai kualitasnya. Dengan dukungan Atatürk, Parlemen menyetujui proyek tersebut dan Direktorat Urusan Keagamaan menunjuk Mehmet Akif (Ersoy) untuk menulis terjemahan Al-Qur'an, dan seorang sarjana Islam Elmalılı Muhammed Hamdi Yazır untuk menulis komentar Turki dalam bahasa Turki (tafsir) berjudul "Hak Dini Kur'an Dili." Baru pada tahun 1935 versi yang dibaca di depan umum menemukan cara untuk mencetak. Atatürk percaya bahwa pemahaman agama terlalu penting untuk diserahkan kepada sekelompok kecil orang.[6] Ini termasuk teks agama utama Islam. Tujuannya adalah membuat Al-Qur'an dapat diakses oleh orang-orang modern, dan karenanya menerjemahkannya ke dalam bahasa-bahasa modern.

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Atatürk pada perayaan Hari Republik

Kemal Pasya memilih perempuan sebagai kelompok yang paling jelas ditindas oleh hukum agama konservatif. Di makam ibunya sendiri pada tahun 1923, ia menyatakannya sebagai korban pemerintahan para sultan. Dia berjanji untuk memberikan hidupnya jika perlu untuk memperbaiki itu. Majelis Nasional Agung-Nya menghapus kekhalifahan pada tahun 1924.

Selama Perang Kemerdekaan Turki, barang langka. Amunisi dan senjata sangat dibutuhkan di garis depan. Pengiriman senjata dan amunisi Rusia tiba di Laut Hitam. Upaya kolosal untuk mempercepat pasokan ke depan dengan gerobak sapi telah menjadi bagian dari kisah epik Perang. Banyak dari mereka yang mengangkut gerobak ke depan adalah wanita petani. Abad ke-20 penyair Turki yang diakui, Nâzım Hikmet, merebut jasa pahlawan wanita ini dalam bukunya, Memleketimden İnsan Manzaraları. Wanita seperti itu selalu kritis untuk kelangsungan hidup bangsa, tetapi nilai mereka sering diabaikan.

Selama perang itu, setiap rumah tangga menyediakan bagi Tentara Perlawanan satu set pakaian dalam dan sepatu bot, 40% dari semua stok kain, kulit untuk sabun dan lilin, dan dasar-dasar lainnya. Perempuan memainkan peran sentral dalam mengumpulkan kebutuhan seperti itu bagi pasukan. Penduduk sipil kelaparan. Mereka telah melalui 10 tahun perang yang terus menerus. Tapi, mereka rela mengorbankan apa yang tersisa. Bahkan, Kemal Pasya mengilhami mereka untuk memberikan tetes darah terakhir mereka jika perlu. Jika kaum Nasionalis kehilangan negara, tidak ada yang tersisa untuk hidup.

Halide Edib, lulusan Turki pertama dari Sekolah Amerika untuk Anak Perempuan di Istanbul, seorang novelis, seorang feminis yang blak-blakan dan dihormati, dan suara inspirasi untuk Gerakan Nasionalis adalah satu-satunya perwira perempuan di Tentara Perlawanan. Dia kemudian menulis memoar tentang pengalaman perang dan waktu berbahaya yang berjudul, The Ordeal Turki. Itu diterbitkan di AS dan Inggris pada tahun 1928.

Setelah kemenangan, Kemal Pasya berbicara kepada para perawat Bulan Sabit Merah, memuji mereka atas kualitas pekerjaan yang mereka lakukan bersama para pria dalam keadaan yang mengerikan. Dia menyarankan agar diberikan kondisi yang sama sehingga wanita mungkin melebihi pria. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa wanita perlu lebih berpendidikan daripada pria untuk melatih anak-anak untuk memenuhi kebutuhan modern. Dia lebih lanjut menyarankan memodernisasi gaya berpakaian, dan bahwa wanita harus memainkan peran penuh dalam kegiatan sosial, ekonomi, dan akademik. Dia juga menyebut majelis perempuan dan laki-laki guru "perwira tentara pendidikan" yang akan "menghilangkan awan ketidaktahuan umum" yang telah "menetap pada orang-orang."

Pada tahun 1926, Majelis Turki mengeluarkan hukum sekularisasi. Perempuan dan laki-laki mendapatkan hak waris yang sama. Perceraian tidak lagi terjadi atas kemauan seorang suami. Salah satu orang tua mungkin menerima hak asuh anak. Namun, laki-laki masih memegang posisi sebagai kepala rumah tangga, dan perempuan tidak bisa bekerja di luar rumah atau bepergian ke luar negeri tanpa izin dari suami. Namun, dengan undang-undang baru, perempuan tidak hanya bisa mengajar di sekolah khusus perempuan tetapi juga di sekolah dasar dan menengah campuran. Perempuan, selanjutnya, dapat memulai karier di bidang hukum, kedokteran, dan layanan publik - meskipun perubahan sosial bertahap dan terbatas. Kehidupan di pedesaan berjalan seperti sebelumnya. Sementara hukum tidak lagi mengakui pernikahan agama atau poligami, masyarakat pedesaan yang konservatif tetap melakukannya. Presiden Mustafa Kemal menyampaikan sejumlah pidato pada awal dua puluhan yang menekankan pembebasan penuh wanita di negara dan masyarakat Turki. "Tugas kita yang paling mendesak saat ini," katanya berulang kali, "adalah untuk mengejar ketinggalan dengan dunia modern," dan lebih jauh lagi, bahwa, "Kita tidak akan mengejar ketinggalan dengan dunia modern jika kita hanya memodernisasi setengah populasi."

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Kartun politik Kanada dari seorang wanita di Quebec membaca sebuah tanda yang bertuliskan:
"Buletin berita: untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki, wanita akan memiliki hak suara dan layak menjadi PNS dalam pemilu yang diadakan pekan ini."
Wanita meraih hak suara di Turki pada 1930, namun hak suara tak diberikan kepada wanita dalam pemilu provinsi di Quebec sampai 1940.


Pada 1930, perempuan diberi hak untuk memilih dan dipilih dalam pemungutan suara kota. Anak perempuan Atatürk yang diadopsi Afet, wanita pertama yang mendaftar di Partai Rakyat, menjadi pembuat pidato yang aktif. Dia kemudian menjadi profesor sejarah.

Pada saat ini, perempuan mulai mengambil tempat dalam jumlah besar dalam angkatan kerja yang berkembang. Dalam bukunya, The Making of Modern Turkey, penulis Feroz Ahmad menggambarkan apa yang terjadi: "Kebutuhan akan tenaga kerja terus tumbuh ketika negara industri dan membuka pabrik di seluruh Anatolia. Di kota-kota, perempuan turun ke profesi dan menjadi guru, pengacara, dan hakim, dan bahkan kepolisian dibuka untuk mereka. Wanita mulai menikah sesuai keinginan mereka sendiri. Keluarga inti mulai muncul di kota-kota. Wanita seperti Keriman Halis, Miss Turkey dan Miss Universe 1932 menjadi simbol kebebasan yang baru ditemukan. Perempuan melihat diri mereka bagian dari revolusi Kemalis. Dengan kemajuan ekonomi datang sejumlah kebebasan bagi perempuan. Mereka selalu bekerja di tanah itu, tetapi sekarang setiap industri besar mulai dari tekstil hingga rokok menggunakan tenaga mereka."

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Salah satu anggota parlemen perempuan pertama, Hatı Çırpan, di mimbar Majelis Nasional Agung Turki

Perempuan terpilih sebagai anggota dewan desa pada tahun 1933. Masyarakat pedesaan konservatif menerimanya tetapi menganggapnya sebagai langkah yang sangat radikal. Akhirnya, pada 5 Desember 1934, perempuan memenangkan pemilihan dalam pemilihan parlemen. 16 dari mereka adalah perkotaan, tiga dengan ijazah sekolah menengah, satu dengan pendidikan sekolah menengah, sisanya memiliki pendidikan tinggi kecuali istri petani tentara yang cacat - yang sebelumnya telah terpilih sebagai kepala desa. Dia secara pribadi dipilih oleh Atatürk untuk menjadi salah satu Anggota Parlemen baru ini. 18 wanita ini mengambil kursi di Parlemen pada tahun 1935 bersama 382 pria. Republik Turki ini akan memberikan kepada dunia hakim mahkamah agung perempuan pertama. Akhirnya, Sabriye, salah satu putri angkat Atatürk menjadi hakim.

Pada bulan April 1935, Persatuan Wanita Turki menyelenggarakan Kongres Keduabelas Aliansi Internasional untuk Hak Pilih dan Persamaan Kewarganegaraan di Istana Yıldız di Istanbul. Organisasi Pos Gizi Turki Nasionalis dikenal sebagai Rumah Rakyat. Harus ditunjukkan bahwa pada tahun 1938, 90% populasi Turki adalah petani, menurut Bernard Lewis. Mencapai angka 500 secara nasional, People's Houses menjadi klub sosial yang aktif, dengan drama, grup musik, dan fasilitas olahraga. Fungsi mereka adalah untuk membawa peradaban Barat ke masyarakat. Institut Perempuan yang pertama telah dibuka di Ankara pada tahun 1930. Lembaga-lembaga ini mengajarkan gagasan Barat dan keterampilan mengurus rumah tangga. Perempuan mengambil peran utama dalam konservatori musik, seni drama, opera, dan radio. Beberapa wanita yang akhirnya menjadi terkenal secara internasional dalam seni ini adalah aktris Yıldız Kenter, pemain piano İdil Biret, opera diva Leyla Gencer dan Suna Korad, dan penulis Sennur Sezer, Pınar Kür, Melisa Gürpınar, Tomris Uyar, Nezihe Meriç, dan Adalet Ağaoğlu.

Hak pilih ini dan hak kesetaraan lainnya tentu muncul dalam tujuh tahun pertama Republik Turki karena Kemal Atatürk dapat memutuskan hukum negara baru dari undang-undang agama yang menahan hak yang sama terhadap perempuan. Dia berkata, "Jika suatu masyarakat tidak melakukan perjuangan bersama untuk mencapai tujuan bersama dengan wanita dan pria, secara ilmiah tidak ada cara bagi masyarakat untuk beradab atau berkembang." Kemal tahu kekuatan pasukan konservatif yang ia coba ubah. Lord Kinross, penulis biografi terkenal, Atatürk, mengatakannya sebagai berikut: "... Kemal mengambil risiko pemberontakan jika dia berusaha merevolusi status wanita Turki terlalu cepat. Fez bisa dihapuskan. Tabir tidak bisa. ... (Kemal) telah mengangkat putri angkatnya sebagai model wanita Kemalis; satu (Sabiha) dilatih sebagai pilot yang bertugas aktif."

Prestasi yang Kemal Atatürk hasilkan untuk Hak-Hak Perempuan dalam waktu sesingkat itu tidak dapat disepelekan. Sebelumnya, saya merujuk pada perjuangan panjang untuk persamaan hak yang dilakukan oleh perempuan atas nama diri mereka di sini di Amerika Serikat dan di Inggris. Saya mendaftar beberapa kesulitan yang mereka lalui; tetapi daftar itu tidak mulai menceritakan kisah mengerikan tentang perjuangan mereka untuk hak pilih. Di Republik Turki, hak-hak ini diberikan kepada perempuan karena Kemal Atatürk yang progresif dan humanistik. Sebagai orang yang telah hidup melalui Gerakan Hak-Hak Sipil tahun 1960-an, saya selamanya sadar akan keadaan rapuh hak-hak sipil dan setara negara mana pun. Hukum bisa berubah dalam semalam. Dunia Abad Pertengahan tampaknya selalu menunggu di balik tirai.

Seorang feminis, Judy Ayyildiz, memberikan pandangannya bagaimana perempuan perempuan Turki berkontribusi pada upaya memodernkan Turki dan apa yang diserukan oleh Atatürk untuk kaum perempuan agar berdaya, "Menangkan untuk kita semua perang dalam mendapatkan pendidikan dan kamu akan melakukan lebih untuk negaramu dibandingkan apa yang pernah terjadi sebelumnya." Ia juga mengemukakan pendapat untuk para pria dengan mengatakan apabila dimasa depan perempuan tidak dapat berpartisipasi pada kehidupan sosial suatu negara, kita tidak akan pernah mencapai kemajuan negara sepenuhnya. Untuk Ataturk negara tanpa perempuan yang aktif akan menjadi negara yang terbelakang, tidak mampu menangani syarat syarat kesetaraan yang diterapkan pada peradaban di barat. Menurutnya Turki sebaiknya tetap menerapkan jati dirinya, namun harus belajar dari barat apa yang dipersyaratkan agar dapat menjadi orang yang maju. Untuk Ataturk perempuan menjadi kelompok korban yang jelas tertekan oleh hukum hukum agama konservatif.

Di bawah Atatürk, proses penangkapan yang dikenal sebagai Penangkapan tahun 1927 (1927 Tevkifatı) diluncurkan, dan kebijakan penangkapan yang meluas diberlakukan terhadap anggota Partai Komunis Turki. Nama-nama seperti Hikmet Kıvılcımlı, Nâzım Hikmet, Şefik Hüsnü diadili dan dijatuhi hukuman penjara. Kemudian, pada tahun 1937, delegasi yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Atatürk memutuskan untuk menyensor tulisan-tulisan Hikmet Kıvılcımlı sebagai berbahaya.

Kebijakan ekonomi
Atatürk menghasut kebijakan ekonomi untuk mengembangkan bisnis skala kecil dan besar, tetapi juga untuk menciptakan strata sosial (borjuis industri bersama dengan kaum tani Anatolia) yang hampir tidak ada selama Kesultanan Utsmaniyah. Masalah utama yang dihadapi oleh politik pada zamannya adalah kelambanan dalam pengembangan lembaga-lembaga politik dan kelas-kelas sosial yang akan mengarahkan perubahan sosial dan ekonomi seperti itu. Visinya mengenai kebijakan ekonomi Turki awal terlihat selama Kongres Ekonomi İzmir 1923 yang didirikan sebelum penandatanganan Perjanjian Lausanne. Pilihan awal dari kebijakan ekonominya mencerminkan kenyataan di zamannya.

Zaman Atatürk - di bawah kepresidenannya - hak properti untuk semua warga negara dan tidak hanya untuk dua sektor, selain itu dalam periode antara 1923 hingga 1938 ia bekerja pada pengembangan ekonomi Turki rata-rata pada tingkat 7,5% per tahun, jadi nasional Turki pendapatan meningkat dari 3,62 unit per seribu menjadi 6,52 unit per seribu. Atatürk semakin mendukung kompleks industri bersubsidi besar negara seperti "Sümerbank" setelah krisis ekonomi global. Dia mendukung pembentukan industri pertanian, tekstil, mesin, pesawat terbang dan otomotif nasional. Pada 1935, Turki berkembang menjadi masyarakat industri yang didasarkan pada model Atatürk di Eropa Barat. Namun, kesenjangan antara tujuan Atatürk dan pencapaian struktur sosial-politik negara itu belum ditutup.

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Atatürk di sebuah pabrik di Nazilli (1937)

Pembaruan kebudayaan
Mustafa Kemal menganggap fez (dalam bahasa Turki "fes"), yang mulanya diperkenalkan Sultan Mahmud II sebagai aturan berpakaian di Kesultanan Utsmaniyah pada 1826) sebagai lambang feodalisme dan karena sebab itu ia melarang pemakaiannya di muka umum. Ia mendorong lelaki Turki untuk mengenakan pakaian orang Eropa. Meskipun Islam melarang keras minuman yang mengandung alkohol, ia menggalakkan produksi dalam negeri dan mendirikan industri minuman keras milik negara. Ia menyukai minuman keras nasional, rakı, dan banyak sekali meminumnya.

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Atatürk memperkenalkan alfabet Turki yang baru kepada rakyat Sivas (1928)

Budaya dan kesenian
Atatürk pernah mengatakan: "Kebudayaan adalah dasar dari Republik Turki." Pandangannya tentang kebudayaan termasuk warisan kreatif bangsanya sendiri dan apa yang dipandangnya sebagai nilai-nilai yang mengagumkan dari peradaban dunia. Terutama sekali ia menekankan humanisme. Ia pernah menggambarkan tekanan ideologis Turki modern sebagai "suatu kreasi patriotisme dicampur dengan gagasan humanis yang luhur."

Untuk membantu pencampuran sintesis seperti itu, Atatürk menekankan perlunya memanfaatkan unsur-unsur warisan nasional bangsa Turki dan bangsa Anatolia (termasuk budaya-budaya pribuminya yang kuno) serta kesenian dan teknik dari peradaban-peradaban dunia lainnya, baik pada masa lalu maupun sekarang. Ia menekankan perlunya mempelajari peradaban-peradaban Anatolia kuno, seperti bangsa Het, Frigia, dan Lidia. Kebudayaan Turki pra-Islam menjadi pokok penelitian yang luas, dan tekanan khusus diberikan kepada kenyataan bahwa—jauh sebelum peradaban Seljuk dan Utsmani—bangsa Turki telah memiliki kebudayaan yang kaya. Atatürk juga menekankan kesenian rakyat di pedesaan sebagai mata air kreativitas Turki.

Kesenian visual dan plastik—yang perkembangannya sekali-sekali ditahan oleh sebagian pejabat Utsmani dengan anggapan bahwa penggambaran wujud manusia adalah bentuk penyembahan berhala—berkembang di bawah masa kepresidenan Atatürk. Banyak museum yang dibuka; arsitektur mulai mengikuti arus yang lebih modern; dan musik, opera, dan balet klasik barat, serta teater, juga mengalami kemajuan besar. Ratusan "Wisma Rakyat" dan "Ruang Rakyat" di seluruh negeri memungkinkan akses yang lebih luas terhadap berbagai kegiatan kesenian, olahraga dan acara-acara kebudayaan lainnya. Penerbitan buku dan majalah juga meningkat pesat, dan industri film mulai berkembang.

Mustafa Kemal memiliki visi sekuler dan nasionalistik dalam programnya membangun Turki kembali. Ia dengan keras menentang ekspresi kebudayaan Islam yang asli terdapat di kalangan rakyat Turki. Penggunaan huruf Arab dilarang dan negara dipaksa untuk beralih ke alfabet yang berbasis Latin yang baru. Pakaian tradisional Islam, yang merupakan pakaian kebudayaan rakyat Turki selama ratusan tahun, dilarang hukum dan aturan berpakaian yang meniru pakaian barat diberlakukan.

Mustafa Kemal Atatürk , Bapak Bangsa Turki Baru
Atatürk dan Monumen Kemenangan Hebat di Afyon (1937). Figur di kaki adalah kekuatan Turki yang menyerang untuk kemerdekaan penuh; figur di tanah mewakili imperialisme yang dikalahkan oleh kekuatan Turki.
Diubah oleh LordFaries4.0
profile-picture
profile-picture
yoseful dan fachri15 memberi reputasi
2 0
2
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia