- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.8K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#26
3. Jadi, Aku Adalah Kakamu?

Kanaria
Aku pernah membaca sebuah buku yang mengatakan jika dam mitologi Yunani ada sekelompok dewa mimpi yang biasa di sebut Oneiroi, mereka terdiri dari tiga wujud yaitu Morfeus, Phobetor dan Fantasos.
Morfeus merupakan pemimpin dari Oneiroi, dia memiliki kemampuan menyamar menjadi manusia dan memasuki mimpi orang lain. Sebagai pemimpin, tentunya dia memiliki kekuatan paling sakti karena Siapa saja dapat dirinya tiru. Hebatnya penyamaran yang dewa itu lakukan sangat lah sempurna, hampir tak ada beda dengan manusia asli yang dirinya serupai.
Phobetor dianggap sebagai si pembawa mimpi buruk, dia memiliki kemampuan untuk tampil sebagai hewan atau monster. Sementara Phantasos dipercaya membawa mimpi-mimpi surealis dan aneh, serta mampu tampil sebagai benda mati, seperti batu atau kayu.
Saat aku masih kecil, ibu sering menceritakan kisah mengenai ke tiga dewa itu kepadaku. Dia menjadikan Oneiroi itu sebagai ultimatum jika aku malas mencuci kaki dan menggosok gigi sebelum tidur. Lisannya sering menyebut " Phobetor akan mendatangi mimpi-mimpimu dan membuat kau tidak dapat tidur dengan nyenyak "
Hal itu jelas membuatku sangat takut kepada Phobetor, bayangan tentang Phobetor yang tiba-tiba muncul dalam mimpiku dengan wujud moster, selalu berhasil membuat diri ini rajin mencuci kaki dan menggosok gigi sebelum tidur.
Awalnya aku sempat bertanya-tanya, mengapa Morfeus lah yang menjadi pemimpin para dewa mimpi, menurutku phobetor lah yang layak menyandang gelar tersebut karena sosok itu terdengar jauh lebih menyeramkan.
Namun sekarang, aku jadi paham mengapa Morfeus lah yang di jadikan pemimpin. Mampu berubah menjadi wujud manusia merupakan kemampuan yang jauh lebih menyeramkan ketimbang menjadi monster.
Saat ini aku sedang berdiri di tengah padang bunga yang semua mahkotanya berwarna putih. Aku mengamati lebih dekat bunga-bunga yang terhampar di hadapanku itu dan pada akhirnya sadar jika itu adalah melati.
" Apa kau menyukai bunga melati Kana? " Suara yang terasa begitu familiar terdengar dari arah belakang tubuhku. Aku segera menoleh ke arah sumber suara dan mendapati jika ibu tengah berdiri di sana. Dia mengenakan gaun panjang serba putih, dan menenteng sebuah buket yang berisi bunga melati.
" I... Ibu? " Aku jelas kaget ketika tau jika yang berada di sana adalah ibuku.
" Apa kabar nak? " Ujarnya lembut.
" Ibu " Ujarku riang sambil melompat agar diri ini dapat memeluk tubuhnya. Namun belum sempat tubuh kami saling bersentuhan, semua nya tiba-tiba berubah menjadi gelap.
Saat mata ini terbuka, yang aku lihat bukan lah padang melati itu lagi, Melainkan langit-langit kamarku. Akupun bangkit dari posisi duduk, dan menebar pandangan ke segala arah agar diri ini dapat menemukan wujud ibu yang berbusana serba putih itu. Tidak ada, jadi tadi itu hanya mimpi? Ah, Morfeus sialan kenapa kau tidak utus bawahanmu saja untuk mengganggu tidurku? Aku lebih baik menyaksikan mimpi kiamat dari pada harus melihat wujud wanita yang telah pergi selamanya dari hidupku.
" Kana? " Ujar Ran yang sepertinya ikut terbangun karena gerakan tiba-tibaku. Semalam aku bigung menyuruh gadis ini untuk tidur di mana, sebab kamar ibu belum aku rapihka, Al hasil kami berbagi ranjang dan tidur bersama.
" Maaf, apakah aku membangunkanmu? "
" Tidak apa-apa, sepertinya memang sudah saatnya kita bangun " Ujar Ran sambil menunjuk jam dinding kamarku yang ternyata sudah menunjukan pukul tiga sore.
" Wow "
Ini rekor kesiangan terparah ku selama ini, jika sajaa ibu masih ada dia pasti akan marah besar karena bagaimana pun seorang gadis yang baru bangun jam tiga sore adalah sesuatu yang sangat tidak lazim.
" Kau benar, sebaiknya kita bangun " Ujarku sambil bangkit dari ranjang. Ran tidak menyahuti ucapanku tadi, dan ketika diri ini menoleh ke arahnya gadis itu sudah kembali tidur dengan pulas nya.
" Lima menit lagi yah " Dia sempat menginau.
" Huh, Ran kau bilang mau mencari kakak angkatmu? Sebaiknya bergegaslah bangun atau nanti hari keburu malam lagi "
Aku berusaha membangunkan Ran dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya, namun usahaku berbuahkan kenihilan, gadis itu tetap saja tidur. Pada akhirnya Aku memilih untuk menyerah, dan membiarkannya tidur sedikit lebih lama lagi.
" Apa kata ayah sudah pulang? " Itulah yang terlintas dalam benak ku pertama kali.
Aku melangkah ke arah pintu, membuka kuncinya kemudian beranjak ke luar kamar. Aku mendapati Kamar ibu yang semula tertutup sekarang sudah dalam keadaan terbuka, dan ada sebuah sepatu pantopel yang tergeletak di depannya
Sepertinya ayah sudah pulang, sebaiknya diri ini segera memasak agar pria itu dapat menyantap makan malam. Aku pun meraih sepatu itu, berjalan ke arah rak sepatu yang berada si ruang tamu kemudian meletakan alas kaki miliki ayah di sana.
Mata ini masih terasa sangat perih karena terlalu lama tidur, oleh sebab itu aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum memasak. Aku mencium bau tembakau dari depan, benak ini pun langsung berasumsi jika ayah sedang merokok.
" Aku akan menyambutnya nanti, sebab sepertinya dia ingin santai dulu " Ujarku dalam hati.
Langkah demi langkah kaki ini ambil hingga diriku tiba di kamar mandi. Tangan ini hendak meraih gagang pintu kamar mandi, namun sebelum aku menyentuhnya tiba-tiba seseorang telah menarik pintu itu terlebih dahulu. Alangkah terkejutnya diri ini ketika mendapati ada seorang laki-laki yang bertelanjang dada muncul dari dalam kamar mandi ku.
Aku tidak mengenal orang ini, mengapa dia bisa ada di kamar mandiku? Pencuri? Hoi pencuri mana yang numpang mandi di rumah korbannya? Bagaimana dia bisa masuk? Aku berusaha bersikap tenang, sebab panik pun tidak akan menghasilkan apapun, jika dia menyerangku diri ini akan berusaha melawannya dengan ilmu karate yang telah aku pelajari.
" Kau salah jika mau macam-macam denganku " Gumamku dalam hati.
Mata ini memandangi wajah laki-laki itu, dia bisa di bilang cukup tampan dan sepertinya berusia sama denganku. Sial, sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana cara laki-laki ini masuk? Bukan kah tadi pintu depan aku kunci? Apa dia rekan kerja ayah? Tapi sepertinya Tidak mungkin juga, sebab di lihat dari mana pun dia masih seusia ku.
" Yah kau juga mau mandi? " Ujar orang itu dengan nada tidak berdosa.
" Siapa kau? " Tanyaku.
" Aku? Hmmm hidung belang yang berusaha merudapaksamu? " Ucapannya membuat kaki ini reflek menenadang daerah vitalnya.
" Aw " Laki-laki itu merintih ke sakitan ketika masa depannya di hantam oleh kaki yang sudah terlatih ini.
" Bagaimana rasanya footjob dariku " Aku mengultimatum laki-laki mencurigakan itu.
" Apanya yang footjob? Setidaknya pakai la stocking dan bermainlah dengan lembut jika ingin melakukannya " Gerutu laki-laki itu.
" Aku type orang yang main kasar " Ujarku sambil bersiap-siao menendang kembali kemaluannya.
" Ampun, ampun "
" Ada apa ini? " Tiba-tiba ayah muncul dari arah punggungmu.
" Ayah dia berusaha merusak masa depanku " Ujar laki-laki itu.
Ayah? Dia memanggil ayahku sebagai ayah? Hoi apa-apa ini? Aku membalikan tubuh ini dan mulai menatap ayah dengan tatapan tajam. Mungkin kah sebenarnya dia pergi bukan untuk bekerja? Ayah pergi untuk menemui istri keduanya dan mencoba mengenalkan anak hasil dari hubungan dengan wanita selain ibu kepadaku?
" Ho? Ayah, apakah dia anakmu haram dari wanita selain ibu yang kau tiduri saat sedang senggang? Apa dia adik angkatku ? "
" Ka... Kana bisa kita bicarakan baik-baik dulu " Ujar ayah yang mulai menunjukan ekspresi ketakutan.
" Ayah lebih baik kita pulang saja ke tempat ibu, aku tidak mau tinggal dengan kaka bar-bar seperti dirinya "
" Aka.. ! !! "
Dengan perasaan sangat kesal, aku menendang selangkangan ayah. Aku tidak percaya jika dia berselingkuh, usia laki-laki ini sama seperti ku. Artinya dia langsung bercocok tanam dengan wanita lain setelah menikahi ibuku? Luar biasa.....
Aku akan memotong kemaluannya, kemudian menempelkannya di dahi agar ayah brengsek ini jadi mirip seperti unicorn. Ah sial, mengapa aku memberi pria brengsek sepertinya kesempatan kedua. Aku sangat tidak percaya ini.
" Haha " Entah mengapa laki-laki itu tertawa sangat keras ketika kakiku berhasil membuat ayah tumbang. Apanya yang lucu?
" Aka, aku akan menghajarmu setelah ini " Ujar Ayah yang masih terlihat kesakitan.
" Kau benar, kaka angkatku sangat lah bar-bar " Laki-laki bernama Aka itu tiba-tiba menghampiriku, kemudian dia mengulurkan tangannya kearahku. " Salam kenal kak, namaku Akashia. Adik angkatmu "
" Hah? Apa maksudmu? Kau pikir aku sudi berjabat tangan dengan buah cinta pria ini dengan wanita lain? " Aku sangat kesal dengan perubahan sikapnya.
" Kak, bukan kah ada baiknya jika kau mendengarkan penjelasan ayah dalam keadaan tenang " Ujar Aka.
" Apa lagi yang mau di jelaskan pria itu? "
" Asal-usul ku "
" Halah aku sangat yakin.... "
" Aku mohon, dengarkan lah penjelasan ayah kita terlebih dahulu " Aka memotong ucapanku sambil membungkukan badannya. Tanda jika dia benar-benar memohon kepadaku.
" Kana izin kan aku menjelaskan sesuatu kepadamu " Ujar ayah.
" Ah baik lah " Ujarku sambil melangkah ke dalam kamar mandi.
Setibanya di sana aku membilas wajah ini dengan air. Aku tidak boleh seperti kemarin, langsung menilai ayah sebagai terdakwah tunggal, setiap manusia berhak mengajukan penjelasan.
Oleh sebab itu aku akan mencoba mendengar penjelasannya itu dan jika apa yang keluar dari lisan pria itu terdengar tidak logis, diri ini berjanji akan mengebiri ayah bodoh itu. Air mengalir ke wajahku, ketika kesegaran mulai dapat diri ini rasakan, aku kembali melangkah keluar kamar mandi dan mendapati jika ayah sedang menjitak kepala Aka.
" Anak bodoh " Ujar Ayah.
" Haha aku sudah kena tendang, jadi kau harus merasakannya juga " Ujar Aka sambil membantu ayah tertawa. Entah mengapa keduanya nampak sangat akrab dan hal itu jelas membuatku merasa sangat iri.
" Cepat ke dapur " Aku memerintahkan dua laki-laki bodoh itu beranjaka ke dapur. Mendengar penjelasan sambil meneguk teh sepertinya hal yang bisa sedikit memperbaiki mood.
" Baik bos " Ujar Aka yang langsung beranjak ke dapur.
" Kau mau kopi? " Tanyaku kepada ayah.
" Tentu "
" Seperti biasa? "
" Ya, seperti biasa "
" Hoi bagaimana bisa? " Tiba-tiba teriakan Aka terdengar dari arah dapur.
" Ada apa? " Ujar ayah yang langsung berlari menghampiri Aka, aku pun mengikuti pria itu ke dapur.
Setibanya di dapur, aku mendapati Ran yang sedang duduk sambil memasang Ekspresi kaget ketika melihat Aka. Apa yang terjadi? Mungkin kah Aka mau macam-macam dengan Ran?
" Kenapa kau ada di sini? " Tanya Ran.
" Seharusnya aku yang menanyakan hal itu adik bodoh " Jawab Aka.
" Adik? " Ujarku bigung.
" Kenapa ayah berada di rumah Kana juga? "
" Ayah? " Aku semakin bigung.
" Kana kenapa Ran, eh maksudku gadis ini ada di rumah kita ? " Tanya ayah.
" Tunggu dulu, pria ini ayah angkatmu itu? Pria baik hati yang mau begitu saja merawatmu? " Tanyaku pada Ran.
" Kau benar "
" Wahhh, apa-apaan ini? " Ujarku bigung.
Takdir macam apa ini? Aku di pertemukan dengan gadis peminjam uang yang aneh bernama Ran semalam. Aku membiarkan gadis itu menginap karena dirinya nekat ke ibu kota dengan tujuan unik yaitu meyakinkan kaka angkatnya jika sang ayah merupakan orang baik, bukan bajingan seperti dulu.
Aku berjanji padanya untuk membantu niatannya itu. Siapa sangka, sosok kaka yang sedang di cari Ran itu adalah diri ini sendiri? Sementara itu, pria baik hati yang begitu di puja nya karena mau merawat Ran dan kakanya adalah ayahku, bajingan yang dulu sangat diri ini benci.
" Aku pusing " Aku memutuskan untuk duduk di meja makan karena merasa pusing setelah kesulitan memahami kondisi saat ini
" Kau baik-baik saja Kana ? " Tanya Ran.
" Ran tolong buatkan aku Teh "
" Baik "
" Kau tau kopi kesukaan pria ini kan? " Tanyaku sambil menunjuk ayah.
" Tentu saja, diakan ayahku. Tunggu, kenapa ayah bisa ada di rumah Kana? "
" Karena ayah angkatmu ini adalah ayah kandungku, dan hadis SMA yang meminjamkan uang serta memberimu tempat menginap ini adalah kaka angkatmu " Aku menjelaskan secara singkat apa yang benak ini pahami.
" Eh? " Ran nampak kaget, begitu juga ayah dan Aka.
" Ran kenapa kau bisa ada di jakarta? Dan lagi mengapa kau sulit sekali dihubungi " Aka mulai memarahi Ran.
" Hehe karena ayah mengatakan jika kita akan di pertemukan dengan putri kandungnya, aku jadi ingin sekali bertemu dengan gadis itu duluan dan memintanya agar tidak membenci ayah " Ujar Ran.
" Bodoh, ibu kota itu kejam tau " Aka lamgsung memeluk tubuh adiknya, dari gelagatnya aku bisa langsung tau jika laki-laki itu merupakan kaka yang sangat perhatian " Apa kau baik-baik saja? "
" Aku.... "
" Semalam dia di culik, di paksa minum alkohol dan nyaris di rudapaksa seorang kasi mini market bernama Leo " Ujarku.
" Apa? Beritahu aku dimana pria bernama Leo itu " Aka melepas pelukannya kemudian meraih pisau yang kebetulan ada di meja.
" Kana" Ran nampak kesal dengan kebohonganku.
" Haha " Aku tertawa terbahak-bahak ketika melihat reaksi Aka. Kaka yang overprotektif, sepertinya begitulah tipikal Aka, menarik.
" Hoi kau mengerjaiku ya? " Wajah Aka nampak memerah ketika tau jika dirinya tengah di kerjai olehku.
" Haha kau membesarkan seseorang yang sangat unik yah "
" Ka.. Kana? " Ayah terdengar gagap saat ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
" Aku sudah mendengar semuanya dari Ran, mereka berdua adalah wujud penebusan dosamukan? "
" Sejauh apa Ran memberi tahumu " Ayah mengambil posisi duduk di sebelahku.
" Semuanya " Ujarku sambil menceritakan segala hal yang Ran katakan kepadaku semalam ( lebih tepatnya tadi pagi). " Aku tidak menyangka jika pria yang selama ini aku anggap bajingan ternyata mampu menjadi malaikat pelindung bagi orang lain "
" Aku tidak sehebat itu Kana " Ujar Ayah yang mencoba merendah.
" Apa ibu mengenal mereka? "
" Ya, sudah sejak lama aku ingin mempertemukan kalian. Namun karena dirimu masih enggan menerimaku, maka niat itu selalu urung "
" Maaf kan aku "
" Tidak kana, tidak ada yang bisa di anggap salah dalam persoalan itu. Berhenti mencari siapa yang salah, lalu cari lah apa yang salah "
" Kau benar. Haha takdir memang unik, dia membuatku kehilangan seorang ibu. Namun secara kontan dia menggantinya dengan mendatangkan dia orang adik kepadaku "
" Jadi kau tidak keberatan jika aku membesarkan kalian bersama? "
" Jelas keberatan " Ujarku yang langsung membuat raut wajah ayah sedih
" Begitu ya "
" Aku keberatan jika kau mau mengasuh kami semua di rumah ini. Bagaimanapun aku, Ran dan Aka bukan lah anak kecil lagi, rumah ini terlalu kecil jika dirimu mau membesarkan kami bertiga bersama " Ujarku sambil mengukir sebunyuman ke arahnya.
" Haha, tentu saja kita akan pindah. Apa kau keberatan akan hal itu? "
" Tidak, jika terus di sini aku akan terjebak dalam masa lalu karena terus mengingat ibu. Aku setuju jika kita pindah "
" Hoi kaka beradik bodoh, apa kalian keberatan jika aku memindahkan sekolah kalian ke Jakarta? " Tanya ayah kepada kaka beradik yang sendari tadi masih sibuk beradu mulut.
" Setuju " Jawab keduanya kompak.
" Bagus lah, kalau begitu. Kita akan pindah besok "
" Hoi kaka beradik bodoh. Ingat lah mulai sekarang aku lah yang paling tua di antara kalinya, jadi hormati lah aku " Ujarku sambil bangkit dari duduk. Aku melangkah ke arah kompor dan bersiap memask untuk keluarga baruku ini.
" Mau aku bantu kak? " Tanya Ran sambil menghampiriku.
" Tentu saja " Ujarku sambil menyalahkan kompor.
" Oh iya, kana maafkan aku karena melakukan hal yang tidak sopan "
" Kau melakukan apa? "
" Tadi kak Leo menelpon, dan karena kau tidak ada aku mengangkatnya "
" Oh begitu, apa yang dia katakan? "
" Lagu yang harus kau hafalkan berjudul Memories By Maki Otsuki dan Harmonia By Rythem " Ran menyebutkan sebuah judul lagu yang belum pernah aku dengar sebelumnya
Memories By Maki Otsuki dan Harmonia By Rythem ? Lagu seperti apa itu?
Quote:
Diubah oleh Rebek22 08-08-2021 22:29
pangerankodo353 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup