Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
5
Lapor Hansip
27-07-2021 22:13

Banker's Day Out

Keputusan Terberat Sepanjang Waktu Hidup

Saya tau, mungkin saya lebay memulai chapter pertama ini dengan judul seperti diatas, tapi, dari 32 tahun waktu yang telah berlalu dimulai dari tangisan pertama saya hingga saat ini,--saya rasakan memang ini keputusan yang paling berat yang pernah saya ambil.

Jangan di bandingkan dengan kalian ya, saya yakin, bagi sebagian dari kalian mungkin terkesan berlebihan, tapi bagi saya, yang mempunyai tanggungan keluarga kecil terdiri dari 1 istri tentu saja dan dua anak, berumur 5 tahun dan 1 tahun, satu ibu dan 2 orang adik dimana salah satunya menderita kebutaan permanen yang diakibatkan tumor di batang otaknya, keluar dari pekerjaan yang telah memberikan saya kehangatan priuk nasi selama hampir 7 tahun terakhir merupakan sebuah keputusan terberat sepanjang waktu hidup saya.

Dilema, penolakan, keragu-raguan tentu saja menjadi hal lumrah sebelum saya mengambil keputusan ini. baiklah, oke--oke, saya tau, bahwa Tuhan dalam hal ini adalah Allah karena saya muslim tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya, semua akan indah pada waktunya, dan bla-bla-bla segala macam motivasi, sepertinya sudah terasa seperti omong kosong tukang obat di pinggir jalan yang membuat saya muak.

Cerita-cerita indah orang-orang yang "Hijrah" keluar dari lembaga ribawi dengan kesuksesannya atau cerita-cerita orang-orang yang bangkrut karena berhutang dengan sistem riba dan kemudian sukses setelah meninggalkan dan lepas dari Ribawi,. selalu menjadi mimpi manis yang menjanjikan bagi orang-orang yang galau bekerja di bank dan orang-orang yang masih berhutang di bank namun sedang terlilit masalah.

Jujur pada saya, tidak usah hipokrit, bagi kalian yang punya pikiran untuk keluar dari pekerjaan kalian di bank, atau ingin menghentikan berurusan dengan bank, pasti ada satu masalah besar pada kehidupan kalian tapi kalian enggan mengakui kalau itu kesalahan kalian dan lebih senang, lebih mudah tentunya menyalahkan faktor eksternal. iya kan?

Oh tidak, saya hijrah ini panggilan Allah, hidayah. Alah! Kebo duduk!, ngaku aja, kalian ada masalah kan di kantor? atasan yang galak? target kerjaan yang sangat menekan? atau biasanya kasus korupsi dan fraud kecil-kecilan yang kalian lakukan yang hampir ketahuan, atau mungkin bagi kalian yang punya pinjaman dari bank, lalu saat ini, karena pandemi tentunya, usaha kalian bangkrut, alih-alih menyalahkan diri sendiri dan instropeksi, kalian malah menuduh pihak yang sudah "Menyenangkan" kalian dulu, sebagai akar dari kemalangan kalian saat ini, iya kan?

Apalagi ditambah ceramah-ceramah yang beredar di youtube, dimana ustad-ustad yang bergelar LC alias Langsung Ceramah dengan jenggotnya yang tebal itu dengan kencang dan lantangnya mengatakan bank-bank itu cerminan iblis yang tidak ada benarnya, salah pokoknya, bank itu jahat, memeras keringat, akar dari semua kejahatan, lalu kalian menonton salah satu video dari yufid TV dimana ada seorang telemarketing bank yang diceramahi seorang ustad yang ia telepon dengan tujuan menawarkan pinjaman, praktislah, bukan kalian yang salah, tapi BANK yang salah, penyebab kalian bangkrut, kesusahan, kegelisahan hati kalian, rumah tangga yang tidak akur, anak yang kena narkoba, itu bukan kesalahan kalian, tapi kesalahan BANK dengan KEHARAMANNYA.

iya kan?

gak usah malu mengakuinya, itu hal yang saya lakukan, dan saya yakin, haqul yakin, TIDAK ADA, sekali lagi TIDAK ADA orang yang keluar dari bank karena dapet hidayah tiba-tiba sadar bank itu haram tanpa ada embel-embel kesusahan dan masalah di belakangnya.

Dengan pertimbangan penuh emosi, walau dengan pikir panjang yang cukup lama dari 2 tahun yang lalu, masalah saya saat ini mentriger saya untuk membuat surat pengunduran diri sore itu dan menyerahkannya langsung ke kepala cabang saya, bu mulyanah.

"Ndra, lu yakin, pikir-pikir dulu lah, jangan pake emosi" ucap ineu, perempuan berkerudung dengan wajah cantik bulatnya, dan kacamata yang mirip sekali dengan saya

"Gak ineu, gw yakin lah, gw udah ga dihargai disini, lagian ini mungkin teguran dari Allah supaya gw berani melangkah keluar dari Bank, tempat najis ini"

"sabar ndra, lu cuma di pindah ke cakung, gw mantan cakung, di sana enak kok, orang-orangnya"

"Tapi neu, gw baru 3 bulan disini, terus gw di pindah lagi dengan alasan bu retno kejauhan dari rumahnya di cakung dan dia udah tua, lah, emang rumah gw ga jauh dari cakung? lagian rumah bu retno itu deket neu, di walikota jakarta timur, kalo dibandingin sama gw yang di cijantung, jauhan rumah gw lah!"

"tapi kan kebutuhan organisasi, lagian bu retno dah tua ndra, maklumin lah" ucap ineu menenangkan saya sambil merapihkan buku cek yang baru dicetak di atas meja kedalam kotak. "Jangan ambekan gitu"

"Neu, kalau dari awal gw di pindah ke cakung, gw ga ada masalah, tapi kan ini gw baru 3 bulan disini, di bolevar, langsung di pindah, ini mah gw di buang, emang si lutfi aja baik, udah ga seneng dia ama gw, mungkin ini tujuannya supaya gw keluar, dan kasus korupsinya aman"

"Eh jatuhnya fitnah tuh ndra,"

"Bro sabar ya bro," Irvan yang wajahnya 11:12 dengan ari wibowo mencoba menenangkan saya dari depan pintu sambil memperhatikan saya dan ineu yang sedang merapihkan barang-barang.

"iye van, gw jg udah sabar ini lu tau gw kan, tapi memang ini yang mesti gw jalanin"

"ah, kesel gw jg sebenernya elu di pindahin, gila 3 bulan terakhir ini, gw kaya bergairah lagi kerja, karena lu kaya bawa keceriaan dan semangat gitu" ucap irvan yang di amini oleh anggukannya ineu.

"lebay ah van, jadi terbang gw, neu, lanjutin laporan pajaknya ya bentar, gw mau ke tempat bu mulyanah, ngasihin surat ini"

"oke boss"

saya langsung meninggalkan ineu dan irvan di ruangan saya dan beranjak ke banking hall dimana ruangan bu mulyanah berada. terlihat dari luar dibalik kaca buram, bu ully (nama panggilan bu mulyanah) sedang didatangi seorang nasabah,

"siapa nes?" tanya saya kepada perempuan berponi kecil berbaju biru yang meja layanannya berada persis di sebelah ruang kaca bu ully.

"Nasabah asuransi mas, ada komplain, biasa, main tanda tangan aja ga baca kontraknya dulu, skrng duitnya habis mau komplain" terang agnes.

"Ah, emang asuransi bank ini gembel aja, di janjiin di awal, ntar blangsak di belakang, haram nes haram" ucap saya sambil tertawa meledek

"ah jangan gitu ah mas, walaupun iya sih kadang-kadang hahahha" jawab agnes tertawa, sepertinya semua agen asuransi menyadari kelemahan dari janji-janji sorga yang ditawarkan, tapi apa daya, mereka hanya pion yang menjalankan tugas, yang jalan-jalan ke spanyol ya para petingginya.

"nes, kalo udah keluar nasabahnya, kasih tau gw ya, ke ruangan gw atau miscall WA"

"Okay mas" jawabnya tersenyum kecil.

gw beranjak kembali keruangan dimana ternyata ruangan gw lebih ramah dari sebelumnya yang tadinya cuma ada ineu dan irvan, sekarang ada ratna, pak imam dan pangestu.

"yah mas, beneran elu mau resign?" ucap ratna,

"terus kalo nanti ada apa-apa sama komputer, gimana?" timpal pangestu.

"Buset dah, ineu, irvan, kelemesan banget ya, udah cerita-cerita aja"

"hahaha sori bro, anak-anak nanyain soalnya sama draft surat yang elu salah print barusan" jawab irvan sambil memutar-mutar kursinya.

ya bisa di tebak, terjadi obrolan hangat sore hari seperti biasa di antara para garda terdepan bank biru berpita kuning, tapi topiknya kali ini adalah saya dan niat saya untuk resign, dari semua orang yang berdebat dan beradu arguman, cuma pak imam saja yang agaknya setuju dengan keputusan saya, yang lain sepertinya menolak, apalagi irvan, sampai bawa-bawa alm. ustad arifin ilham yang katanya bapaknya ustad arifin ilham itu dulunya kerja di bank dan anaknya bisa jadi ustad, woi van ga ada hubungannya.

itu sekelumit yang masih saya ingat, kisah sore dimana akhirnya setelah lama mengalami pergolakan batin, saya memutuskan untuk resign dengan menyerahkan surat itu.

dan sekarang, sudah hampir 2 tahun saya meninggalkan mereka, rekan2 yang baru 3 bulan bekerja bersama namun sudah seperti 5 tahun, hahaha, perasaan sesal tentu ada dan kadang masih melintas di dalam pikiran saya, keluar dari pekerjaan tanpa persiapan, seketika itu juga penghasilan lenyap! 

tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, dimakan keluar lewat dubur, sore itu untuk mengobati kekangenan saya, saya datang ke cabang bolevar setelah hampir 2 tahun terakhir, dan ini untuk kali pertamanya.

"Woii.. boss hendra!!!" ucap revi, driver cabang yang memang dekat sekali dengan saya dari sewaktu saya masih di area.

saya menyalaminya segera setelah turun dari mobil sedan abu-abu saya, "apa kabar pi"

"baik pa hendra, wuidih, udah sukses nih mobilnya bagus begitu, naik sedan sekarang, keren" ucap repi yang langsung berkeliling memandangi mobil saya

"alah pi, sedan bekas, eh temen-temen ada didalem?"

"ada pa, masuk lah"

"Sekarang semua pake masker ya pi, hahaha"

"iya pak kan kopit"

Sembari berjalan masuk lewat pintu belakang, menciumi keharuman khas dari bank biru pita kuning, sebut saja namanya bank sendiri gitu lah sebut aja gitu dengan ACnya yang sedikit kotor dan berbunyi kretek-kretek dari tangga pintu belakang yang disambut senyuman ramah sekuriti2 yang ternyata masih ingat saya, dari balik pintu banking hall, keluarlah seorang wanita berjilbab dengan tinggi sebahu saya yang sudah tidak asing lagi di mata saya.

"Mas hendra," ucapnya, yang langsung melepas maskernya dan berjalan kearah saya, memeluk saya dengan erat.

"dek, aduh, jangan begini dong malu atuh"

"Biarin mas," nada bicaranya mulai sesenggukan,"lagian mas dulu keluar ga pamit sama sekali, terus ilang gitu aja, mas mesti tanggung jawab!" ucapnya kencang, yang sepertinya di dengar oleh sekuriti yang barusan menyambut saya

"Waduh gawat!" batin saya, "Gw udah hijrah dek, hijrah, elah"

Diubah oleh natgeas2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
keroppy15 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Masuk untuk memberikan balasan
Banker's Day Out
27-07-2021 22:22
lanyut
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia