Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
15
Lapor Hansip
27-06-2021 04:29

Tuan Muda

Tuan Muda
Part1

"Hari ini ulang tahun pernikahan Kakek dan Nenek, ayo persiapkan diri, kita ke rumah mereka!" ucap Esmeralda, kepada suaminya, Jeremy Mose.

"Apa? Kamu berniat membawa pecundang ini? Kamu gila? Bukankah karena dia, kita terusir dari istana itu."

Amelia, Ibu Esmeralda menyela pembicaraan anak dan menantunya. Baginya, memiliki menantu pecundang semacam Jeremy, adalah mimpi buruk bagi keluarganya.

Mereka bahkan terusir, ketika Neneknya, meminta Esmeralda, bercerai dengan Jeremy.
Namun sayangnya, permintaan itu di tolak mentah oleh Esmeralda.

Bagi Esmeralda, Jeremy segalanya. Tanpa lelaki yang dianggap pecundang itu, mungkin Esmeralda tidak akan selamat hingga saat ini.

"Momi, please, jangan menghina Jeremy. Biar bagaimanapun, dia suami Esmeralda, juga menantu Momi dan Papi."

"Momi benci pecundang sialan ini. Buka mata mu lebar-lebar, Esmeralda Tones. Sampai kapan? Kamu akan mempertahankan dia," tunjuk wanita itu dengan sengit.

"Seumur hidup! Momi, dia lelakiku, tidak ada seorang pun, yang bisa memisahkan kami."

Amelia mendelik kesal, namun ia masih berusaha menahan diri.

Memang suatu keberuntungan bagi Jeremy, bisa menikahi Esmeralda, wanita yang terkena cantik, di keluarga Tones.

Bukan hanya cantik, ia juga lembut dan begitu baik. Mereka bertiga, tiba di rumah mewah dan megah, keluarga Tones.

Keluarga Tones, merupakan orang kaya nomor tiga, di kota Monarki. Kota yang terkenal banyak orang kayanya, meskipun masih kalah, di banding kota Yozong.

Kota Yozong, merupakan kota nomor satu, kota Elit, dengan segudang penduduk yang rata-rata kaya, jauh dari garis kemiskinan.

Saat memasuki pintu masuk, mereka di sambut dengan cibiran dari beberapa kerabatnya.

"Wow, lihat siapa yang datang! Si pecundang Jeremy, bersama keluarganya," ucap Khan, saudara sepupu dari Esmeralda.

"Jaga bicaramu! Khan." Esmeralda mulai terlihat kesal, dengan ejekan yang di terima suaminya.

"Untuk apa dia kemari? Saya tidak mengundangnya!" Nenek Rose, menimpali ocehan mereka.

Semua mata tertuju kepada mereka bertiga. Wajah Amelia mendadak menjadi udang rebus.

"Nikmatilah pestanya sayang! Aku akan menunggumu, di luar."

Esmeralda menghentikan langkah Jeremy.

Jeremy menoleh sesaat, ke wajah istrinya itu.
"Ada apa?" ia bertanya dengan wajah santai, meskipun hatinya sangat marah.

Penghinaan ini, akan kuingat seumur hidup. Kupastikan, kelak kalian akan berlutut di hadapanku.
Batin Jeremy berseloroh, ia menatap datar wajah istrinya, kemudian mengulas senyum.

"Ayolah sayang! Pesta ini akan mendadak suram, jika aku terus di sini," bujuk Jeremy, kepada Esmeralda, yang terlihat tidak nyaman, dengan hinaan para keluarganya kepada Jeremy.

"Aku ikut denganmu!" kata Esme.

"Esme .... Kamu apa-apaan? Jangan membuat mereka semakin marah! Kita akan terbuang, hanya gara-gara pecundang sialan ini," ucap Amelia, yang juga menahan malu, serta kesal pada anak perempuannya.

"Mereka selalu saja menilai seseorang terlalu hina! Padahal, kami tidak pernah menadahkan tangan kepada mereka."

"Makanya, jangan menikahi laki-laki pecundang ini lebih lama lagi, Momi muak"

Esmeralda hanya terdiam, namun ia sedikit terkejut, melihat Jeremy yang sudah menghilang dari tempatnya berdiri tadi.

Ia pun dengan terpaksa, menikmati pesta, yang hanya membuatnya merasa sakit hati dan terhina.

Sementara di luar istana keluarga Tones, Jeremy berjalan dengan gontai, ia melangkahkan kaki dengan kesal, membayangkan hinaan kejam, keluarga istrinya.

Sebuah mobil BMW i8 melaju, kemudian menepikan mobilnya ke bahu jalan. Langkah Jeremy terhenti, ketika sang pemilik mobil BMW keluar.

Lelaki yang berpakaian serba hitam, berjalan ke arahnya. Disusul, lelaki yang mengenakan pakaian yang sama, namun memiliki topi.

"Tuan Muda." Lelaki itu membuka topi, kemudian memberikan hormat kepada Jeremy.

"Don't Le. Apa yang kamu lakukan di kota ini?" tanya Jeremy. "Apakah kamu berniat, melenyapkan keluargaku lagi."

"Tuan Muda, jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Saya kesini, hanya untuk membawa Tuan, untuk menghadap Kakek."

"Aku tidak berminat, bukankah dia telah membuang kami," sahut Jeremy.

"Kakek Anda, Jhon Mose, sudah memberikan Giant Company, sebagai bentuk permintaan maaf. Juga, memberikan akses kartu debit, serta kredit. Yang memiliki saldo, satu triliun."

Jeremy sedikit tercengang, namun, semua ini juga merupakan hak-nya. Dengan fasilitas yang ia terima, ia akan memiliki kesempatan, untuk membungkam mulut keluarga Istrinya, yang begitu angkuh dan sombong.

"Apakah Gian company perusahaan besar?" tanyaku bingung.

"Tentu saja! Giant Company, merupakan perusahaan nomor satu, di kota Monarki."

"Dan itu milikku?" tanya Jeremy, memastikan.

"Betul, Tuan muda.

Jeremy tertawa menyeringai, membayangkan, akan membungkam mulut jahat, saudara istrinya itu.

"Baiklah, serahkan semuanya kepadaku."

Lelaki itu pun, akhirnya memberikan itu kepada Jeremy.

"Surat-surat kepemilikan, nanti akan di bicarakan dengan Debara, yang merupakan wakil direktur, di perusahaan tersebut."

"Terimakasih, aku akan menghubungi nanti, jika perlu."

Lelaki itu pun mengangguk, kemudian berjalan, menuju mobilnya.

'Tunggulah Esmeralda, aku akan mengangkat derajat kita' Jeremy membatin.









Quote:Original Posted By riasardani
Tuan Muda
Part2

Pria yang memakai baju hitam, mengenakan topi itu menuju mobilnya, kemudian kembali lagi mendekati Jeremy.

"Maafkan kesalah pahaman selama ini, Kakek Anda Tuan Jhon juga memberikan sebuah apartemen mewah, yang berada di puncak Monarki. Ini kuncinya," unjuk lelaki itu, sambil menyerahkan kunci apartemen milik Jeremy.

"Didalam apartemen, sudah tersedia mobil BMW seri terbaru, yang limited edition, juga beberapa pelayan, yang mengurusi apartemen itu, apapun yang Tuan Muda perlukan, saya siap!" ucapnya.

"Ini bukan suap? Aku tidak berminat kembali ke kota Yuzong saat ini, terlalu banyak kenangan pahit, yang keluarga kakek lakukan."

"Tidak Tuan, semua bukan suap, ini murni untuk Anda! Sebagai permintaan maaf keluarga Mose, yang telah menyia-nyiakan anda sekeluarga."

"Aku akan menerima semua ini, tapi ingat! Rahasiakan identitasku. Kamu bertanggung jawab penuh atas ini," ucap Jeremy.

'Aku ingin melihat wajah-wajah sombong itu, tumbang satu persatu.' batin Jeremy berseloroh.

"Tenang saja Tuanku, semua mudah bagi saya!" jawab lelaki itu sambil membungkuk.

"Baiklah, silahkan kalian pergi Roman, saya tidak mau, ada yang mengenali kalian," ucap Jeremy.

"Baik, Tuan Muda." Roman menatap anak buahnya. "Mari kita pergi," ucapnya. Kemudian mereka semua kembali masuk ke dalam mobil.

Mobil melaju, meninggalkan Jeremy.

'Aku akan membahagiakanmu Esmeralda, kamu, kita dan keluarga, tidak akan mendapatkan hinaan lagi.'
Sepanjang menunggu pesta berakhir, Jeremy sibuk memainkan gawainya, sambil menggali informasi, tentang Perusahaannya.

Ya, Perusahaan, yang hari ini resmi menjadi miliknya. Keluarga Mose, merupakan keluarga terkaya, nomor satu di kota Yuzong.
Jangankan untuk membeli Giant Company Group. Bahkan untuk membeli kota Monarki saja, keluarga Mose mampu lakukan.

Mengingat masa lalu silam, entah bagaimana, keluarga Jeremy bisa di tendang keluar dari megahnya istana keluarga Mose.

Mengingat hal itu, tentu saja membuat Jeremy mendendam, namun ia saat itu, tidak begitu mengerti, mengapa ia dan keluarganya bisa terusir.
Yang hanya ia tau, keluarga Mose termasuk keluarga yang serakah akan kekuasaan.
Terutama Alberto Mose, yang merupakan Pamannya, lelaki itu terkenal berkuasa dan kejam di kota Yuzong.

Ia bahkan tidak segan-segan, menghancurkan bisnis kecil, milik warga Yuzong, yang dianggap mengganggu kelancaran bisnis keluarganya.

Sementara di dalam istana Tones, Nenek Rose Tones dan Kakek Mike Tones, sedang asik merayakan kebahagiaan mereka.

Anak, menantu, serta cucu-cucunya, dengan bahagia, memberikan hadiah mewah untuk kedua pasangan tua itu.

Khan Tones, cucu dari pasangan Maghdalena Tones dan Jose Bar, ia memberikan sebuah tiket berlayar, kapal pesiar termewah, yang ada di kota Barca, kota yang terkenal pariwisata dan keindahan alamnya.

Albert Tones, cucu dari pasangan Louis Tones dan Marda Jen, ia memberikan sebuah kalung giok berlapis berlian, yang harganya sangat funtastic.

Sedangkan Esmeralda, ia yang merupakan pasangan dari Amelia Tones dan James Wade itu, hanya mampu memberikan sebuah cincin emas dua puluh empat karat. Ia pun mendapat cibiran.

"Emas dua puluh empat karat? Apakah kamu semiskin itu? Hingga memberiku benda murahan ini," teriak Nenek Rose, emosi.

"Benar-benar memalukan, aku kalau jadi Ibunya, tentu tidak memiliki wajah lagi di keluarga ini," ucap Maghdalena Tones.

"Iya, bagaimana mungkin, istri seorang pecundang ini, bisa memberikan hadiah mewah. Mereka terlalu senang hidup susah!" sahut Marda Jen.

"Maafkan Esme, hanya itu yang bisa Esmeralda berikan, kuharap Nenek menyukainya."

Nenek Rose melemparkan cincin itu, tepat ke wajah Esmeralda.
"Cih ..., Suka katamu! Aku jijik, jika harus menerima, barang murahan seperti itu," bentaknya.

Semua yang menyaksikan, tertawa, sekaligus mencibir Esmeralda.

Amelia, Ibu dari Esmeralda pun terisak, melihat putri kesayangannya, di permalukan keluarganya sendiri, dengan begitu kasar.

Hatinya semakin marah dan membenci, ketika mengingat sosok Jeremy, yang menjadi biang dari segala masalahnya.

Jeremy yang menyaksikan semua itu, hanya bisa mengepalkan tangannya, dan bersumpah. Akan membuat keluarga Tones hancur, dan jatuh dalam kemiskinan.

Namun sebelum itu, ia ingin menyaksikan, para keluarga Tones, yang mempermalukan istrinya saat ini, berlutut di depan Esmeralda.

"Pulanglah, kamu sama saja dengan pecundang menjijikkan itu," bentak Nenek Rose.

Wajah Esmeralda semakin berair, hatinya terasa sangat sakit luar biasa.

"Ibu benar-benar keterlaluan! Biar bagaimanapun juga! Esmeralda masih cucu kalian, anakku!" teriak Amelia.

"Aku tidak perduli, untuk apa mengakui cucu, pada wanita yang tidak bisa di atur!" sahut Nenek Rose. Dingin.

"Bersukurlah kalian, Nenek masih mengasihani, memberi tempat untuk kalian tinggal. Dan, memberikan pekerjaan untuk Esmeralda, menghidupi lelaki pecundang itu."

Ya, Esmeralda menjadi tulang punggung keluarga. Semenjak terusir dari istana Tones. Esmeralda sekeluarga, menempati gubuk tua keluarga Tones.

Mendengar hinaan demi hinaan, akhirnya Esmeralda memutuskan untuk membawa ibunya pulang.

Jeremy yang melihat Esmeralda menuju keluar dari acara itu. Ia pun langsung berlari kecil, menunggu mereka di muara pagar raksasa.

Wajah Amelia semakin terlihat sangar di mata Jeremy, seakan ia ingin menelan hidup-hidup.

"Gara-gara pecundang sialan ini, keluargaku menjadi miskin dan selalu menuai hinaan."

Amelia berteriak histeris.

"Sudahlah, Bu. Memang mereka saja, yang selalu ingin mengatur hidup orang lain," ucap Esmeralda. Hatinya selalu tidak terima, jika ada yang menghina suaminy, termasuk keluarga dan ibunya sendiri.

"Dasar bodoh! Kamu teramat buta, hidup kita hancur, semenjak kamu memutuskan menikahi lelaki tidak jelas ini," bentak Amelia.

Esmeralda memilih untuk tidak menyahut. Ia meraih lengan suaminya, dan menatapnya lekat.

"Ayo kita pulang." Kata-kata itu ia katakan, dan Jeremy pun tersenyum.

Jeremy sudah terlalu kebal, dengan berbagai macam hinaan, yang keluar dari mulut semua orang yang tidak menyukainya.
_______
Dengan motor maticnya, Jeremy melaju, menuju Giant Company Group.
Jeremy memarkirkan motornya, dan berjalan santai menuju gedung.

"Hei pecundang! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Khan, sepupu Esmeralda.

Jeremy yang baru saja memasuki gedung, hanya menatapnya sesaat, kemudian melangkahkan kakinya kembali, menuju lift.

Merasa di abaikan, Khan Tones pun berlari, ia datang bersama kekasihnya. Morena Volta.
Morena Volta, berasal dari keluarga Volta, keluarga terkaya nomor dua di Kota Monarki.

"Hentikan langkahmu, bajingan!" bentak Khan Tones, seraya menarik kasar bahu Jeremy.

Jeremy mendesah, kemudian menatap kesal ke arah Khan Tones.

"Apa aku mengganggumu?" tanya Jeremy, dingin.

Sebenarnya, ia tidak ingin menciptakan keributan, namun sepertinya, Khan Tones begitu terlihat bersemangat mengganggunya.

"Tentu saja! Kamu seperti kotoran di mataku! Aku tidak suka melihatmu, kamu tentu tau hal itu. Melihat kamu disini, aku menjadi penasaran, apakah datang kemari, untuk mengemis?" kata Khan Tones, meremehkan.

Morena Volta, ia terkekeh, mendengar ucapan kekasihnya itu, lucu baginya.

"Bukan urusanmu, kamu sendiri, ngapain kesini?" tanya Jeremy. Ia mulai tertarik, ketika melihat sebuah map, yang di pegang oleh Khan Tones.

"Tentu saja untuk urusan bisnis, bukan untuk mengemis sepertimu."

Lagi-lagi, Khan Tones begitu percaya diri, bisa menjalin kerja sama, dengan Giant Company Group, setelah menghina kasar pemiliknya.

Tanpa ia sadari, ia telah menghilangkan kesempatan baik.

"Oh ya! Pulanglah, aku jamin, kamu tidak akan berhasil," kata Jeremy.

"Brengsek! Apa yang kamu katakan? Kamu meremehkan kemampuanku? Hah?" bentak Khan Tones, yang mulai tersulut emosi.

"Tidak usah berteriak, kamu bisa merusak reputasi keluarga Tones di kantor ini, bersikap lah lebih manis," ucap Jeremy. Ia pun melangkah kembali, meninggalkan Khan Tones yang masih emosi.

Khan Tones berusaha menahan diri, sebab, apa ia di katakan Jeremy memang benar adanya. Ia harus bersikap baik di kantor ini, jika tidak, ia akan merusak nama baik keluarga besar Tones.

Khan Tones dan Moren Volta, mereka menunggu di ruang tamu. Sedangkan Jeremy, ia sudah di bawa salah satu staff kantor, untuk langsung masuk, ke ruangan Debara.

"Selamat datang Tuan Mose, senang bertemu Anda!" ucap Debara, lembut. Wanita cantik, anggun dan berwibawa itu pun tersenyum dengan ramah.

"Kamu membuat janji? Dengan keluarga Tones?" tanya Jeremy, langsung.

"Ya, Tuan Mose, apakah ada masalah?" tanya Debara, lembut.

"Suruh mereka pulang, dan jangan terima kerja sama apapun, dari keluarga itu. Kecuali, aku yang memintamu!"

"Baik, Tuan, saya akan laksanakan!" jawab Debara, tanpa banyak bertanya.

Lelaki sombong itu, ia akan pulang dengan kekecewaan.



Diubah oleh riasardani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Masuk untuk memberikan balasan
Tuan Muda
28-06-2021 23:01

Ditolak

Tuan Muda
Part2

Pria yang memakai baju hitam, mengenakan topi itu menuju mobilnya, kemudian kembali lagi mendekati Jeremy.

"Maafkan kesalah pahaman selama ini, Kakek Anda Tuan Jhon juga memberikan sebuah apartemen mewah, yang berada di puncak Monarki. Ini kuncinya," unjuk lelaki itu, sambil menyerahkan kunci apartemen milik Jeremy.

"Didalam apartemen, sudah tersedia mobil BMW seri terbaru, yang limited edition, juga beberapa pelayan, yang mengurusi apartemen itu, apapun yang Tuan Muda perlukan, saya siap!" ucapnya.

"Ini bukan suap? Aku tidak berminat kembali ke kota Yuzong saat ini, terlalu banyak kenangan pahit, yang keluarga kakek lakukan."

"Tidak Tuan, semua bukan suap, ini murni untuk Anda! Sebagai permintaan maaf keluarga Mose, yang telah menyia-nyiakan anda sekeluarga."

"Aku akan menerima semua ini, tapi ingat! Rahasiakan identitasku. Kamu bertanggung jawab penuh atas ini," ucap Jeremy.

'Aku ingin melihat wajah-wajah sombong itu, tumbang satu persatu.' batin Jeremy berseloroh.

"Tenang saja Tuanku, semua mudah bagi saya!" jawab lelaki itu sambil membungkuk.

"Baiklah, silahkan kalian pergi Roman, saya tidak mau, ada yang mengenali kalian," ucap Jeremy.

"Baik, Tuan Muda." Roman menatap anak buahnya. "Mari kita pergi," ucapnya. Kemudian mereka semua kembali masuk ke dalam mobil.

Mobil melaju, meninggalkan Jeremy.

'Aku akan membahagiakanmu Esmeralda, kamu, kita dan keluarga, tidak akan mendapatkan hinaan lagi.'
Sepanjang menunggu pesta berakhir, Jeremy sibuk memainkan gawainya, sambil menggali informasi, tentang Perusahaannya.

Ya, Perusahaan, yang hari ini resmi menjadi miliknya. Keluarga Mose, merupakan keluarga terkaya, nomor satu di kota Yuzong.
Jangankan untuk membeli Giant Company Group. Bahkan untuk membeli kota Monarki saja, keluarga Mose mampu lakukan.

Mengingat masa lalu silam, entah bagaimana, keluarga Jeremy bisa di tendang keluar dari megahnya istana keluarga Mose.

Mengingat hal itu, tentu saja membuat Jeremy mendendam, namun ia saat itu, tidak begitu mengerti, mengapa ia dan keluarganya bisa terusir.
Yang hanya ia tau, keluarga Mose termasuk keluarga yang serakah akan kekuasaan.
Terutama Alberto Mose, yang merupakan Pamannya, lelaki itu terkenal berkuasa dan kejam di kota Yuzong.

Ia bahkan tidak segan-segan, menghancurkan bisnis kecil, milik warga Yuzong, yang dianggap mengganggu kelancaran bisnis keluarganya.

Sementara di dalam istana Tones, Nenek Rose Tones dan Kakek Mike Tones, sedang asik merayakan kebahagiaan mereka.

Anak, menantu, serta cucu-cucunya, dengan bahagia, memberikan hadiah mewah untuk kedua pasangan tua itu.

Khan Tones, cucu dari pasangan Maghdalena Tones dan Jose Bar, ia memberikan sebuah tiket berlayar, kapal pesiar termewah, yang ada di kota Barca, kota yang terkenal pariwisata dan keindahan alamnya.

Albert Tones, cucu dari pasangan Louis Tones dan Marda Jen, ia memberikan sebuah kalung giok berlapis berlian, yang harganya sangat funtastic.

Sedangkan Esmeralda, ia yang merupakan pasangan dari Amelia Tones dan James Wade itu, hanya mampu memberikan sebuah cincin emas dua puluh empat karat. Ia pun mendapat cibiran.

"Emas dua puluh empat karat? Apakah kamu semiskin itu? Hingga memberiku benda murahan ini," teriak Nenek Rose, emosi.

"Benar-benar memalukan, aku kalau jadi Ibunya, tentu tidak memiliki wajah lagi di keluarga ini," ucap Maghdalena Tones.

"Iya, bagaimana mungkin, istri seorang pecundang ini, bisa memberikan hadiah mewah. Mereka terlalu senang hidup susah!" sahut Marda Jen.

"Maafkan Esme, hanya itu yang bisa Esmeralda berikan, kuharap Nenek menyukainya."

Nenek Rose melemparkan cincin itu, tepat ke wajah Esmeralda.
"Cih ..., Suka katamu! Aku jijik, jika harus menerima, barang murahan seperti itu," bentaknya.

Semua yang menyaksikan, tertawa, sekaligus mencibir Esmeralda.

Amelia, Ibu dari Esmeralda pun terisak, melihat putri kesayangannya, di permalukan keluarganya sendiri, dengan begitu kasar.

Hatinya semakin marah dan membenci, ketika mengingat sosok Jeremy, yang menjadi biang dari segala masalahnya.

Jeremy yang menyaksikan semua itu, hanya bisa mengepalkan tangannya, dan bersumpah. Akan membuat keluarga Tones hancur, dan jatuh dalam kemiskinan.

Namun sebelum itu, ia ingin menyaksikan, para keluarga Tones, yang mempermalukan istrinya saat ini, berlutut di depan Esmeralda.

"Pulanglah, kamu sama saja dengan pecundang menjijikkan itu," bentak Nenek Rose.

Wajah Esmeralda semakin berair, hatinya terasa sangat sakit luar biasa.

"Ibu benar-benar keterlaluan! Biar bagaimanapun juga! Esmeralda masih cucu kalian, anakku!" teriak Amelia.

"Aku tidak perduli, untuk apa mengakui cucu, pada wanita yang tidak bisa di atur!" sahut Nenek Rose. Dingin.

"Bersukurlah kalian, Nenek masih mengasihani, memberi tempat untuk kalian tinggal. Dan, memberikan pekerjaan untuk Esmeralda, menghidupi lelaki pecundang itu."

Ya, Esmeralda menjadi tulang punggung keluarga. Semenjak terusir dari istana Tones. Esmeralda sekeluarga, menempati gubuk tua keluarga Tones.

Mendengar hinaan demi hinaan, akhirnya Esmeralda memutuskan untuk membawa ibunya pulang.

Jeremy yang melihat Esmeralda menuju keluar dari acara itu. Ia pun langsung berlari kecil, menunggu mereka di muara pagar raksasa.

Wajah Amelia semakin terlihat sangar di mata Jeremy, seakan ia ingin menelan hidup-hidup.

"Gara-gara pecundang sialan ini, keluargaku menjadi miskin dan selalu menuai hinaan."

Amelia berteriak histeris.

"Sudahlah, Bu. Memang mereka saja, yang selalu ingin mengatur hidup orang lain," ucap Esmeralda. Hatinya selalu tidak terima, jika ada yang menghina suaminy, termasuk keluarga dan ibunya sendiri.

"Dasar bodoh! Kamu teramat buta, hidup kita hancur, semenjak kamu memutuskan menikahi lelaki tidak jelas ini," bentak Amelia.

Esmeralda memilih untuk tidak menyahut. Ia meraih lengan suaminya, dan menatapnya lekat.

"Ayo kita pulang." Kata-kata itu ia katakan, dan Jeremy pun tersenyum.

Jeremy sudah terlalu kebal, dengan berbagai macam hinaan, yang keluar dari mulut semua orang yang tidak menyukainya.
_______
Dengan motor maticnya, Jeremy melaju, menuju Giant Company Group.
Jeremy memarkirkan motornya, dan berjalan santai menuju gedung.

"Hei pecundang! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Khan, sepupu Esmeralda.

Jeremy yang baru saja memasuki gedung, hanya menatapnya sesaat, kemudian melangkahkan kakinya kembali, menuju lift.

Merasa di abaikan, Khan Tones pun berlari, ia datang bersama kekasihnya. Morena Volta.
Morena Volta, berasal dari keluarga Volta, keluarga terkaya nomor dua di Kota Monarki.

"Hentikan langkahmu, bajingan!" bentak Khan Tones, seraya menarik kasar bahu Jeremy.

Jeremy mendesah, kemudian menatap kesal ke arah Khan Tones.

"Apa aku mengganggumu?" tanya Jeremy, dingin.

Sebenarnya, ia tidak ingin menciptakan keributan, namun sepertinya, Khan Tones begitu terlihat bersemangat mengganggunya.

"Tentu saja! Kamu seperti kotoran di mataku! Aku tidak suka melihatmu, kamu tentu tau hal itu. Melihat kamu disini, aku menjadi penasaran, apakah datang kemari, untuk mengemis?" kata Khan Tones, meremehkan.

Morena Volta, ia terkekeh, mendengar ucapan kekasihnya itu, lucu baginya.

"Bukan urusanmu, kamu sendiri, ngapain kesini?" tanya Jeremy. Ia mulai tertarik, ketika melihat sebuah map, yang di pegang oleh Khan Tones.

"Tentu saja untuk urusan bisnis, bukan untuk mengemis sepertimu."

Lagi-lagi, Khan Tones begitu percaya diri, bisa menjalin kerja sama, dengan Giant Company Group, setelah menghina kasar pemiliknya.

Tanpa ia sadari, ia telah menghilangkan kesempatan baik.

"Oh ya! Pulanglah, aku jamin, kamu tidak akan berhasil," kata Jeremy.

"Brengsek! Apa yang kamu katakan? Kamu meremehkan kemampuanku? Hah?" bentak Khan Tones, yang mulai tersulut emosi.

"Tidak usah berteriak, kamu bisa merusak reputasi keluarga Tones di kantor ini, bersikap lah lebih manis," ucap Jeremy. Ia pun melangkah kembali, meninggalkan Khan Tones yang masih emosi.

Khan Tones berusaha menahan diri, sebab, apa ia di katakan Jeremy memang benar adanya. Ia harus bersikap baik di kantor ini, jika tidak, ia akan merusak nama baik keluarga besar Tones.

Khan Tones dan Moren Volta, mereka menunggu di ruang tamu. Sedangkan Jeremy, ia sudah di bawa salah satu staff kantor, untuk langsung masuk, ke ruangan Debara.

"Selamat datang Tuan Mose, senang bertemu Anda!" ucap Debara, lembut. Wanita cantik, anggun dan berwibawa itu pun tersenyum dengan ramah.

"Kamu membuat janji? Dengan keluarga Tones?" tanya Jeremy, langsung.

"Ya, Tuan Mose, apakah ada masalah?" tanya Debara, lembut.

"Suruh mereka pulang, dan jangan terima kerja sama apapun, dari keluarga itu. Kecuali, aku yang memintamu!"

"Baik, Tuan, saya akan laksanakan!" jawab Debara, tanpa banyak bertanya.

Lelaki sombong itu, ia akan pulang dengan kekecewaan.



profile-picture
khuman memberi reputasi
1 0
1
profile picture
28-06-2021 23:16
Nitip sandal
-1
profile picture
newbie
28-06-2021 23:17
@syaifudinbage thank you
0
Memuat data ...
1 - 2 dari 2 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
jumat-bukan-jimat
Stories from the Heart
harapan-cerpen
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia