Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
743
Lapor Hansip
10-04-2021 18:24

Bisakah fisika membuktikan keberadaan Tuhan?

Bagi sebagian orang, pertanyaan tentang keberadaan Tuhan menjadi sebuah pertanyaan yang tak lekang oleh waktu. Bisakah fisika membuktikan keberadaan Tuhan?

Saya masih percaya Tuhan (saya sekarang seorang ateis) ketika saya mendengar pertanyaan berikut yang diajukan Albert Einstein dalam sebuah seminar, yang membuat saya tercengang oleh keanggunan dan kedalaman pertanyaannya:

"Jika ada Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta dan SEMUA hukum fisikanya, apakah Tuhan mengikuti hukum yang ia ciptakan sendiri?

Atau bisakah Tuhan melampaui hukumnya sendiri, seperti berkelana lebih cepat dari kecepatan cahaya dan dengan demikian mampu berada di dua tempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan?"

Bisakah fisika membuktikan keberadaan Tuhan?

Dapatkah jawaban tersebut membantu kita membuktikan apakah Tuhan itu ada atau tidak, atau di sinilah titik di mana empirisme ilmiah dan keyakinan agama bersinggungan, dengan TIDAK disertai jawaban yang pasti?

Saya berada dalam karantina wilayah ketika menerima pertanyaan ini dan langsung tertarik.

Tidak mengherankan momen kapan pertanyaan ini muncul - kejadian tragis, seperti pandemi, acap kali membuat kita mempertanyakan keberadaan Tuhan: jika Tuhan maha baik, mengapa bencana seperti ini terjadi?

Gagasan bahwa Tuhan mungkin "terikat" oleh hukum fisika - yang juga mengatur tentang kimia dan biologi dan dengan demikian halnya batasan-batasan ilmu kedokteran - adalah hal yang menarik untuk ditelusuri.

Jika Tuhan tak dapat melanggar hukum fisika, ia bisa dibilang tidak sekuat yang Anda harapkan sebagai makhluk tertinggi.

Namun, jika ia bisa melakukannya, mengapa kita belum melihat bukti hukum fisika pernah dilanggar di alam semesta?


Guna menjawab pertanyaan ini, mari kita uraikan sedikit.

Pertama, dapatkah Tuhan melakukan perjalanan lebih cepat daripada kecepatan cahaya? Mari kita coba jawab pertanyaan ini.

Cahaya bergerak dengan kecepatan 3,00×10 pangkat 5 kilometer per detik, atau 299.500 km/detik.

Kita belajar di sekolah bahwa tidak ada yang dapat bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya - bahkan pesawat antariksa USS Enterprise di film Star Trek tak bisa melakukannya meski kristal dilithium yang menjadi bahan bakarnya disetel maksimal.

Tapi apakah itu benar? Beberapa tahun lalu, sekelompok fisikawan mengemukakan adanya partikel yang disebut tachyon, yang bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Sayangnya, keberadaan partikel ini secara nyata dianggap sangat tidak mungkin.

Jika partikel itu benar-benar ada, partikel itu akan memiliki massa imajiner dan struktur ruang dan waktu akan terdistorsi - yang akan mengakibatkan pelanggaran hukum kausalitas (dan mungkin membuat Tuhan pusing).

Tampaknya, sejauh ini, belum ada objek teramati yang dapat bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Kendati begitu, hal ini tidak menegaskan apa-apa tentang keberadaan Tuhan. Ini hanya memperkuat pengetahuan bahwa cahaya memang bergerak sangat cepat.

Akan menjadi sedikit lebih menarik ketika Anda mempertimbangkan seberapa jauh perjalanan cahaya sejak awal.

Dengan asumsi kosmologi tradisional tentang Big Bang (ledakan besar) dan kecepatan cahaya berkisar 300.0000 km/detik, maka kita dapat menghitung bahwa cahaya telah bergerak kira-kira 1,3 x 10 x 23 (1,3 kali 10 pangkat 23) km dalam 13,8 miliar tahun keberadaan alam semesta, atau lebih tepatnya, keberadaan alam semesta yang dapat teramati.

Alam semesta mengembang dengan kecepatan rata-rata 70 km/detik/Mpc (1 Mpc =1 Megaparsec, atau kira-kira 30 miliar miliar kilometer).

Jadi, perkirakan saat ini menunjukkan jarak ke tepi alam semesta adalah 46 miliar tahun cahaya. Seiring berjalannya waktu, volume ruang meningkat dan cahaya harus menempuh perjalanan lebih lama untuk mencapai kita.

Lebih semesta lebih dari sekadar yang kita lihat di luar sana, namun objek terjauh yang pernah kita lihat adalah sebuah galaksi, GN-z11, yang diamati oleh teleskop luar angkasa Hubble.

Jarak galaksi itu kira-kira 1,2 x 10 x 23 km atau 13,4 miliar tahun cahaya. Artinya, butuh 13,4 miliar tahun cahaya dari galaksi untuk mencapai kita.

Namun, ketika cahaya itu "berangkat", galaksi itu hanya berjarak sekitar tiga miliar tahun cahaya dari galaksi kita, Bima Sakti.

Kita tidak dapat mengamati atau melihat seluruh semesta yang telah berkembang sejak Big Bang karena tidak cukup waktu berlalu bagi cahaya dari sepersekian detik untuk mencapai kita.

Beberapa orang berpendapat oleh karena itu kita tidak dapat memastikan apakah hukum fisika dapat dipatahkan di wilayah kosmik lain - mungkin hukum tersebut hanya bersifat lokal dan kebetulan dan itu membawa kita ke sesuatu yang lebih besar dari semesta.

Multisemesta

Banyak kosmolog meyakini bahwa alam semesta mungkin merupakan bagian dari kosmos yang lebih luas, yakni multi-semesta atau multiverse, kondisi di mana banyak alam semesta yang berbeda hidup berdampingan namun tidak berinteraksi.

Gagasan multiverse didukung oleh teori inflasi - gagasan bahwa alam semesta mengembang sangat pesat sebelum berumur 10 ^ -32 detik.

Inflasi merupakan teori yang penting karena dapat menjelaskan mengapa alam semesta memiliki bentuk dan struktur yang kita lihat di sekitar kita.

Namun, jika inflasi bisa terjadi sekali, kenapa tidak berkali-kali?

Kita tahu dari eksperimen bahwa fluktuasi kuantum dapan memunculkan pasangan partikel yang tiba-tiba muncul, hanya untuk menghilang beberapa saat kemudian.

Dan jika fluktuasi seperti itu dapat menghasilkan partikel, mengapa tidak seluruh atom atau alam semesta?

Telah dikemukakan bahwa selama periode inflasi yang kacau, tidak semuanya terjadi pada tingkat yang sama - fluktuasi kuantum dalam ekspansi dapat menghasilkan gelembung yang meledak menjadi alam semesta dengan sendirinya.

Tapi, bagaimana keberadaan Tuhan cocok dengan multiverse? Satu hal yang membuat para kosmolog pusing adalah kenyataan bahwa alam semesta kita tampaknya disetel dengan baik agar kehidupan ada.

Partikel fundamental yang tercipta dalam Big Bang memiliki sifat yang tepat untuk memungkinkan pembentukan hidrogen dan deuterium - zat yang menghasilkan bintang pertama.

Hukum fisika yang mengatur reaksi nuklir di bintang-bintang ini kemudian menghasilkan materi yang membentuk kehidupan - karbon, nitrogen dan oksigen.

Bagaimana bisa semua hukum dan parameter fisika di alam semesta memiliki nilai yang memungkinkan bintang, planet, dan pada akhirnya, kehidupan berkembang?

Beberapa orang berpendapat itu hanya kebetulan. Sementara yang lain mengatakan kita tak perlu kaget melihat hukum fisika yang ramah lingkungan - bagaimanapun hukum itu juga menghasilkan kita, jadi apa lagi yang akan kita lihat?

Sedangkan beberapa teis, atau orang yang meyakini keberadaan Tuhan, berpendapat hal itu menunjukkan keberadaan Tuhan yang menciptakan kondisi yang menguntungkan.

Namun, Tuhan bukanlah penjelasan ilmiah yang valid. Sebaliknya, teori multiverse memecahkan misteri sebab memungkinkan alam semesta yang berbeda memiliki hukum fisika yang berbeda juga.

Jadi, tidak mengherankan kita kebetulan melihat diri kita sendiri di salah satu dari sedikit alam semesta yang dapat ditinggali. Tentu saja, Anda dapat menyangkal gagasan bahwa Tuhan mungkin telah menciptakan multiverse.

Ini semua adalah hipotetis, dan salah satu kritik terbesar dari teori multiverse adalah karena tampaknya tidak ada interaksi antara alam semesta kita dan alam semesta lain, maka gagasan multiverse tidak dapat diuji secara langsung.

Keanehan kuantum

Sekarang, mari kita telaah apakah Tuhan dapat berada di lebih dari satu tempat pada waktu yang sama.

Sebagian besar sains dan teknologi yang kita gunakan dalam ilmu antariksa didasarkan pada teori kontra-intuitif dari dunia kecil atom dan partikel yang dikenal sebagai mekanika kuantum.

Teori tersebut memungkinkan sesuatu yang disebut quantum entanglement (keterkaitan kuantum): partikel-partikel yang terhubung dengan menyeramkan.

Jika dua partikel salin terkait, Anda secara otomatis memanipulasi pasangannya saat Anda memanipulasi yang lain, bahkan jika keduanya saling berjauhan dan tanpa interaksi.

Ada penggambaran keterkaitan kuantum yang lebih baik daripada yang saya berikan di sini - tetapi ini cukup sederhana sehingga saya bisa mengikutnya.

Bayangkan sebuah partikel yang meluruh menjadi dua sub-partikel, A dan B. Sifat-sifat sub-partikel harus sama dengan sifat-sifat partikel aslinya - ini adalah prinsip kekekalan.

Misalnya, semua partikel memiliki properti kuantum yang disebut "putaran" - kurang lebih, mereka bergerak seolah-olah seperti jarum kompas kecil.

Jika partikel asli memiliki "putaran" nol, salah satu dari dua sub-partikel harus berputar positif dan sub-partikel lainnya berputar secara negatif, yang berarti bahwa masing-masing A dan B memiliki peluang 50% untuk memiliki putaran positif atau negatif. (Menurut mekanika kuantum, definisi partikel adalah campuran keadaan yang berbeda sampai Anda benar-benar mengukurnya.)
Di sinilah sains dan agama berbeda. Sains membutuhkan bukti, agama membutuhkan keyakinan.

Ilmuwan tidak mencoba untuk membuktikan atau menyangkal keberadaan Tuhan karena mereka tahu tidak ada eksperimen yang dapat mendeteksi Tuhan.

Dan jika Anda percaya pada Tuhan, tidak masalah apa pun yang ditemukan para ilmuwan tentang alam semesta - apa pun tentang kosmos dapat dianggap konsisten dengan keberadaan Tuhan.

Pandangan kita tentang Tuhan, fisika atau apapun pada akhirnya bergantung pada perspektif. Tapi mari kita akhiri dengan kutipan dari sumber yang benar-benar berwibawa.

Bukan, ini bukan Alkitab. Juga bukan buku teks kosmologi. Ini dari novel fantasi Reaper Man karya Terry Pratchett:

"Cahaya mengira ia bergerak lebih cepat dari apapun tetapi ia salah. Tidak peduli seberapa cepat cahaya bergerak, ia menemukan bahwa kegelapan selalu sampai di sana lebih dulu, dan sedang menunggu."

*Monica Grady adalah profesor ilmu planet dan ruang angkasa di The Open University

https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-56330175

omnipotent :

Jika Tuhan tak dapat melanggar hukum fisika, ia bisa dibilang tidak sekuat yang Anda harapkan sebagai makhluk tertinggi.

Namun, jika ia bisa melakukannya, mengapa kita belum melihat bukti hukum fisika pernah dilanggar di alam semesta?

dan katankanlah mungkin imajinasi multiverse memang ada..dan barangkali (barangkali ya)pelanggaran hukum fisika yg kita ketahui terjadi disana..dimensi alam semesta yg berbeda ..namun bukankah ini menunjukkan bahwa tuhan ada disana dan bukan dialam semesta kita?emoticon-Traveller:


beban pembuktian ada di pihak yg mengklaim (tuhan itu) ada

dan selama tidak ada bukti(selain asumsi god of the gap), maka jgn marah ketika org menolak percaya..sementara pihak yg ngotot percaya bisa menghibur diri dengan kaimat sakti "Di sinilah sains dan agama berbeda. Sains membutuhkan bukti, agama membutuhkan keyakinan."emoticon-Traveller:

Bisakah fisika membuktikan keberadaan Tuhan?


Diubah oleh dispenserr
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Sadhunter dan 33 lainnya memberi reputasi
26
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Bisakah fisika membuktikan keberadaan Tuhan?
10-04-2021 18:33
agama itu ciptaan manusia
demikian juga tuhan itu ciptaan manusia

lebih baik jangan terlalu overdosis beragama bisa jadi radikal paok ( bodoh)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aurora.. dan 13 lainnya memberi reputasi
13 1
12
profile picture
KASKUS Plus
10-04-2021 20:59


Lalu manusia itu ciptaan siapa ya om? emoticon-Bingung aku tuh.
3
profile picture
aktivis kaskus
10-04-2021 22:34
@delia.adel higher beings la. Tapi apa higher beings itu tuhan? Kalau ternyata higher beings itu di ciptakan sama yg lebih high, tuhan nya yg mana jadinya?
Wkwkwk
4
profile picture
KASKUS Plus
11-04-2021 00:16
@dimaszz coba jalaskan lebih rincinya dah... wkwkwk...siapa yang lebih tinggi itu?
1
profile picture
kaskus addict
11-04-2021 04:51
Twrusin aj keblinger nya gan..cuma mau ngasi tau, manusia itu sering terlalu merasa pintar..padahal disuru buat lalat aj gk mampu
4
profile picture
kaskus addict
11-04-2021 05:28
Konsep penciptaan itu berkutat di masalah waktu (awal dan akhir), sementara terbukti secara kuantum bahwa ruang dan waktu itu adalah sistem saling terkait (dalam arti tiada awal dan akhir, hanya perubahan terus menerus).

Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, semua hanyalah perubahan dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Demikian pula makhluk, mengalami evolusi terus menerus. Simpelnya perhatikan beberapa puluh tahun terakhir, wajah maupun tinggi badan manusia mengalami perubahan menyesuaikan jaman (lebih tinggi, putih dan tirus untuk orang Indonesia secara umum). Demikian juga bumi, pulau dan benua terus bergeser dan tidak ada peta yang baku dalam tentang jutaan tahun.

Segitu dulu, kepanjangan nanti. emoticon-Peace
2
profile picture
KASKUS Plus
11-04-2021 06:04
@Jangan.maling lalu manusia itu siapa y6 ciptakan? Wkwkwk pisss
0
profile picture
kaskus addict
11-04-2021 07:29
Baru kali ini gw setuju sma lu ari..
emoticon-Cool
1
profile picture
KASKUS Plus
11-04-2021 07:34
@foreveryoung90 setuju bagaimana yang?

Udehan ya jangan marahan lagian. Boleh pm gak? Ada yang penting mau aku tanyakan
1
profile picture
kaskus geek
11-04-2021 08:00
@delia.adel @dimaszz coba baca 31 alam kehidupan dalam ajaran dharma sis... Siapa tau tercerahkan... Juga kisah brahma baka. Nanti sis akan tau apa "tuhan" yang punya sifat kemanusiaan itu apa sih... Dan kenapa dimaszz ngomong higher being tapi ada yang lebih high... Juga 62 pandangan salah dalam brahmajala sutta. Siapa tau tercerahkan akan misteri dimensi tingkat atas yang ga diajarkan dalam agama sis.
1
profile picture
KASKUS Plus
11-04-2021 08:03
@kily89 @dimaszz malas nyari nya om wkwkwk..kasih penjelasan aja om....cos sama-sama baca dan tau apa sih yang paling tinggi? Tuhankah? Well Basically I never believed in The name of Tuhan
0
profile picture
kaskus addict
11-04-2021 08:16
@delia.adel
Ah paling jg lu nanya hal ttg topik yg sama berulang2, ga berkembang diskusi kita ntr.
1
profile picture
aktivis kaskus
11-04-2021 08:17
Bisakah fisika membuktikan keberadaan Tuhan?

Inilah tuhan
0
profile picture
kaskus addict
11-04-2021 08:23
Puji astuti, mungki statement ini cocok untuk penyembah berhala berkancut dan dari golongan kyai oncom beserta nahdatul yahudi. Salam dangdut banser
0
profile picture
KASKUS Plus
11-04-2021 09:10
@foreveryoung90 bukan tentang IT ...elo pikir otak gue Isinya cuma sampah aja ya...kau tuh...ya ampun...jahat kali pikirannya emoticon-Tepar

aku bilang kan penting...ya udeh gue tanya yang lainnya aja...


Suek elo tuh yee ... pikirannya dah!
0
profile picture
kaskus geek
11-04-2021 09:58
@delia.adel @dimaszz
pertama, tuhan itu apa sih? Seperti yang kita tau yah, konsep tuhan itu dah dikenal manusia sejak jaman dulu kala. Dalam bentuk animisme dan dinamisme. Penyembahan pada roh leluhur, makhluk penunggu pohon, batu, sungai, gunung, dll. Lalu berkembang politeisme, henotheisme, monotheisme (ketuhanan personal) dan ada pula yang melampaui konsep itu (ketuhanan non personal).

Dari penjelasan diatas kita bisa lihat bahwa yang disebut tuhan itu berbeda" baik dari segi watak, perawakan, kekuatan, kekuasaan, dan latar belakang kisah"nya bahkan sampai membentuk paradoks.

Jadi yang disebut tuhan itu apa? Yang mana? Setiap kelompok ngaku" Tuhannya yang benar... Tapi apa kenyataan memang seperti itu?

(Saya bahas dari sudut pandang ajaran dharma yah)
Sejak dulu kala, ada sebagian kecil manusia yang katakanlah secara spiritual terbuka. Manusia ini melakukan kontak dengan alam lain... Dalam kontak ini, manusia ini berinteraksi dengan penghuni alam tersebut. Namun hanya karena dia terbuka secara spiritual bukan berarti rahasia alam semesta terbuka seluruhnya untuk dia. Tidak, dia hanya menyentuh sebagian kecil aja... Tapi karena keterbatasan manusia dan ketidaktahuannya maka yang kecil ini dianggap sebagai keseluruhan. Akhirnya, timbullah paham" ekslusivisme (aku yang benar, kamu salah).

Saat misalnya penunggu gunung melakukan kontak dengan seorang manusia misalnya, dia mengaku" sebagai penguasa manusia, pencipta alam semesta, menunjukkan pasukkannya, membuat kisah" asal manusia, asal alam semesta (bluffing and boasting)... Apa si manusia bisa ngecek apa yang diklaim itu benar atau nggak? Mungkin si shaman bisa tapi manusia normal lainnya mana bisa. (Itu pun tergantung, karena terbuka secara spiritual ada 2 jenis... Karena suatu makhluk yang nempel di dia (artinya apa yang dia lihat, dia tahu, dia dengar, terbatas pada apa yang di lihat, di dengar dan di ketahui oleh makhluk tersebut) dan karena pengembangan spiritual/self cultivation (kalau yang ini dia punya kebebasan dalam mencari informasi karena tidak bergantung pada satu makhluk tertentu. Seberapa jauh dia bisa melihat, mendengar, dan mengetahui itu tergantung dia sendiri).
Agama dari asia itu tipenya self cultivation... Dalam literatur"nya bisa ditemukan pembahasan yang jauh lebih dalam... Praktisinya itu dituntun untuk mengembangkan sisi spiritual mereka sendiri, ajaran pun sifatnya universal) sedangkan yang dari barat itu tipe pertama, ada satu sosok sentral yang kontak dengan tuhan dan ajarannya fokus pada penyembahan tuhan ini. Tidak ada pengembangan spiritual karena yang dibutuhkan tuhan ini adalah worshipper. Kalaupun ada umatnya yang bisa melakukan keajaiban itu karena tempelan. Begitu tempelannya pergi, dia ga bisa melakukan keajaiban lagi. Apa yang mereka ketahui, mereka lihat, mereka dengar itu semua dalam kontrol tuhan ini. Manusia nya menganggap ini lho kebenaran, kebenaran yang ditanamkan dengan metode brainwash pada mereka bukan kebenaran yang mereka buktikan sendiri.

Dalam ajaran dharma di bahas mengenai 31 alam kehidupan. Tuhan" yang disembah oleh orang" tersebut itu adalah makhluk dari alam kehidupan yang lebih tinggi dari manusia. oleh karena itu bisa ditemukan sifat" manusia, bisa senang bisa marah, suka dipuji marah jika dicela, dll. Ada yang berasal dari alam asura (animisme, dinamisme, demonisme, suku aztec, suku maya, sosok tuhan yang brutal dan suka persembahan darah dan daging itu berasal dari sini) ada juga yang berasal dari alam yang disebut surga. Sebagian besar orang menganggap kalau alam surga penghuninya pasti ga ada yang jahat. Padahal alam surga masih bagian dari alam nafsu... Penghuninya masih diliputi nafsu. Jadi ada yang bisa menyesatkan manusia. Seseorang terlahir di alam surga ini setelah kematian karena buah dari perbuatan baiknya... Bukan karena dia suci ga mungkin berbuat jahat lagi. Silahkan pelajari agama" yang menjanjikan surga pasti ada tuntunan moral prilaku nya... Setidak"nya ada 7 dasar...tidak membunuh sembarangan, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berbohong, tidak mabuk"an, punya rasa malu dan takut akan akibat dari perbuatan buruk (keberadaan neraka)... Silahkan dibuktikan bener ga yang saya sebut ini. Sisanya adalah tambahan dari si tuhan.

Diatas alam surga yang termasuk alam nafsu, ada lagi alam surga yang lebih tinggi. Beberapa sosok tuhan berasal dari alam ini (berdasarkan ajaran dharmic). Penghuninya sudah tidak ada gender. Untuk mencapai alam surga ini, tidak bisa hanya dengan perbuatan baik saja. Harus ada pencapaian spiritual tertentu yang diperoleh melalui meditasi. Makanya, pada kelompok ajaran tertentu... Alam surganya mentok cuma 7 lapis... Itu pun lapisan paling atas adalah singgasana tuhannya, mereka ga bisa masuk situ.... Yang bisa diakses paling cuma 6 lapis pertama. Sedangkan pada ajaran dharma, alam kehidupan yang dipelajari jauh lebih banyak karena praktisinya punya metode untuk mencapai alam ini. Apa yang di lihat, di dengar, dan di ketahui oleh praktisi ajaran timur (dharma) tidak dibatasi oleh suatu makhluk tertentu.

Ada kisah brahma baka, seorang brahma yang karena ketidaktahuannya menganggap bahwa dirinya adalah pencipta... Alpha... Kisahnya silahkan cari sendiri jika mau tahu. Jadi dari sudut pandang ajaran dharma... Tuhan personal bukanlah tuhan yang sesungguhnya... Tuhan personal adalah makhluk dari dimensi yang lebih tinggi yang memiliki kepentingan tertentu baik itu baik ataupun buruk.

Tuhan yang bisa dijelaskan dalam kata" manusia itu bukanlah tuhan yang sesungguhnya...
1
profile picture
kaskus addict
11-04-2021 10:16
Celana dalem yg ente kadang pake kadang ngga aja ada yg ciptain, apalagi ente yg make gan.

- Logika sederhana ga usah pake fisika emoticon-Malu (S) -
1
profile picture
kaskus maniac
11-04-2021 10:24
@nazwa.shop berarti tuhan ada yg ciptain.. krn semua kan ada penciptanyaemoticon-Big Grin


*logika theis
0
profile picture
KASKUS Plus
11-04-2021 10:55
@kily89 @dimaszz oh begitu, jadi Tuhan yang terbentuk dari manusia itu bukan Tuhan yang sebenarnya ya...i see masuk akal sih......cos jika Tuhan dari wujud manusia artinya sama aja key kitanya pan, bisa mati, punya anak dan punya ayah ibu juga...back to pertanyaan awal aku ...lalu siapa yang bikin manusia itu?
0
profile picture
KASKUS Plus
11-04-2021 10:57
@nazwa.shop sembarangan bet dah celana dalam yg buat tukang jahit hahahahahaha
1
profile picture
kaskus geek
11-04-2021 11:37
@delia.adel @dimaszz bukan tuhan yamg terbentuk dari manusia tapi tuhan yang memiliki sifat manusia. Itu bukan tuhan yang sesungguhnya.

Ada yang menyebut proxy god ada juga yang menyebut dengan false god. Buat umatnya, false god ini dianggap true god. Kalau proxy god umatnya udah tau bahwa sosok ini adalah perwakilan dari suatu hal yang lebih besar not the alpha...Biasanya ga masalah... Yang jadi masalah adalah umat false god... Biasanya barbar dan rese...

Untuk kisah penciptaan manusia, setiap agama punya versinya masing" (Seperti yang sudah gw bilang, tergantung bluffing tuhan nya masing". Pertanyaannya, seberapa penting mengetahui kisah ini? Toh manusia biasa cuma bisa meyakini. Tanpa pembuktian. Makhluk lain bisa dengan mudah ngarang cerita. Kalau mau tau, masuk aja ke ranah spiritual.. Latih batin sampai tingkat tertinggi supaya membuktikan sendiri. Bukan katanya tuhan ini dan tuhan itu.
1
Memuat data ...
1 - 20 dari 38 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia