Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
180
Lapor Hansip
02-04-2021 05:39

Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?

Quote:
Hanya berselang empat hari pasca aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, aksi teror kembali terjadi. Kali ini sasarannya tidak main-main; Markas Besar Polri di Jakarta. Seorang perempuan bersenjata api menerobos kantor Mabes Polri dan mengacung-acungkan senjatanya ke petugas kepolisian. Polisi pun sigap melumpuhkannya dengan timah panas.

Belakangan terungkap, pelaku berinisial ZA, perempuan berusia 26 tahun itu merupakan simpatisan ISIS. Peristiwa ini menambah daftar panjang aksi terorisme yang dilakukan perempuan. Sebelumnya, kita juga menyaksikan keterlibatan perempuan dalam sejumlah aksi terorisme, mulai dari bom Surabaya tahun 2018 sampai bom Makassar beberapa hari lalu.

Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?

Selain itu, ada beberapa aksi teror yang juga dilakukan oleh perempuan seorang diri, antara lain aksi bom panci di Bekasi yang dilakukan oleh Dian Yulia Novi pada tahun 2016. Pada tahun 2018, dua perempuan yakni Siska dan Dita berencana melakukan penyerangan ke Mako Brimob Depok. Keduanya juga merupakan anggota ISIS.

Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?

Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?

Deretan aksi terorisme yang melibatkan perempuan sebagai pelaku utamanya ini menandai adanya pergeseran pola. Dulu, aksi terorisme identik dengan maskulinisme dan hanya dilakukan oleh laki-laki. Jika pun perempuan terlibat, perannya tidak lebih dari sekadar perantara. Namun, kini polanya mulai berubah. Banyak perempuan yang tidak lagi memegang peran minor dalam aksi teror, namun menjadi pelaku utama, bahkan pelaku tunggal.

Hal ini dilatari oleh kemunculan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). Berbeda dengan organisasi teroris seperti al Qaeda, Taliban, Jamaah Islamiyyah dan sebagainya, ISIS cenderung memiliki pola baru dalam mempropagandakan kekerasan dan menyebarkan ideologi teror. Salah satu titik pembedanya ialah melibatkan keluarga (termasuk perempuan dan anak-anak) dalam aksi-aksi teror mematikan.

Propaganda ideologi kekerasan yang dilancarkan ISIS memang tidak hanya menyasar laki-laki, namun juga perempuan dan anak-anak. Hal inilah yang membuat perempuan “naik kelas” tidak hanya sekedar menjadi perantara dalam aksi teror namun menjadi bagian dari aktor utama. Di Indonesia, keterlibatan langsung perempuan dalam terorisme mulai tampak pada tahun 2014 dan berlangsung hingga sekarang.

Aksi teror lone-wolf yang dilakukan ZA di Mabes Polri ialah bukti tidak terbantahkan bagaimana perempuan memiliki peran strategis dalam jaringan teroris. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan bahwa pada tahun 2018 ada setidaknya 13 perempuan terlibat aksi terorisme. Jumlah itu meningkat menjadi 15 orang pada tahun 2019.

Ada banyak tinjauan terkait keterlibatan perempuan dalam terorisme. Para pegiat isu gender melihat fenomena ini sebagai bentuk perlawanan terhadap ketimpangan yang dialami perempuan. Selama ini, perempuan cenderung dianggap inferior, utamanya ketika dibandingkan dengan laki-laki. Keterlibatan perempuan dalam aksi teror bisa dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap stigma tersebut.

Perempuan Sebagai Agen Perdamaian

Namun, sebagian kalangan justru menilai sebaliknya. Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme justru merupakan wujud dari masih kentalnya budaya patriarkisme di masyarakat. Perempuan yang tidak memiliki otonomi dan diposisikan sebagai subordinat laki-laki kerapkali dipaksa terlibat dalam aksi terorisme oleh laki-laki (suami, teman, atau keluarga) tanpa bisa mengelak. Artinya, perempuan kerap dalam posisi fait accomply alias tidak punya pilihan.

Posisi perempuan yang lemah dan cenderung memiliki loyalitas tinggi lantas dimanfaatkan oleh organisasi jaringn teroris. Perempuan pun lantas menjadi target utama indoktrinasi dan rekrutmen dari kelompok jaringan teror. Di saat yang sama, perempuan yang tidak memiliki wawasan keagamaan yang luas dan tingkat literasinya rendah sangat mudah terpapar ideologi dan gerakan radikal-terorisme.

Namun, di luar analisis gender itu, ada faktor lain yang tidak kalah signifikan. Yakni bahwa banyak perempuan yang memang secara prinsip mendukung gagasan khilafah sebagai sistem yang sesuai syariah Islam. Sejumlah survei menunjukkan bahwa banyak perempuan yang secara sadar mendukung gagsan khilafah dan bersimpati pada gerakan atau paham radikal-teroris.

Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme merupakan akumulasi dari setidaknya dua faktor, yakni internalisasi ideologi radikal sekaligus posisi perempuan yang cenderung lemah di masyarakat. Dalam kasus penyerangan di Mabes Polri misalnya misalnya, jelas bahwa faktor utamanya ialah internalisasi ideologi radikalisme. Hal ini terlihat dalam surat wasiat yang ditinggalkan pelaku untuk keluarga.

Dalam surat wasiat itu, pelaku menulis bahwa ibadah paling tinggi ialah “jihad” yang ia terjemahkan sebagai melakukan aksi teror terhadap simbol negara. Ia meyakini aksinya itu akan mengantarkannya ke surga dan bisa dijadikan sya’faat alias penolong bagi keluarganya di akhirat kelak.

Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?

Berkaca dari fenomena di atas, penting kiranya kita (pemerintah dan masyarakat) untuk merumuskan strategi bagaimana mencegah perempuan terlibat gerakan terorisme. Penting kiranya pemerintah menjadikan perempuan sebagai salah satu target narasi kontra-ekstremisme. Perempuan sebagai kelompok rentan terpapar paham radikal-terorisme harus diberikan perhatian dan porsi khusus dalam konteks kontra-radikalisasi.

Disinilah pentingnya penguatan wawasan kebangsaan bagi perempuan sekaligus penanaman moderasi keberagamaan yang kuat. Penting pula untuk melibatkan perempuan dalam pengambilan kebijakan terutama menyangkut persoalan radikalisme-terorisme. Hal ini akan membuat perempuan tidak lagi merasa hanya menjadi obyek kebijakan, namun juga memiliki kesadaran penuh untuk melawan radikalisme dan terorisme.

Dalam lingkup internal atau domestik keluarga, perlunya memberikan otonomi pada perempuan, baik sebagai istri maupun anak. Perempuan perlu diberdayakan pemikiran dan tenaganya agar tidak semata menjadi subordinat dari laki-laki (suami atau ayahnya). Otonomi perempuan penting untuk membangun kemandirian berpikir agar tidak mudah terjerumus ke dalam narasi-narasi yang bertentangan dengan ideologi bangsa.

Arkian, perempuan idealnya menjadi agen perdamaian, sebagaimana citranya sebagai sosok makhluk yang lembut dan penyayang. Jangan sampai citra perempuan itu luntur oleh ulah segelintir oknum yang terjerumus dalam gerakan radikal-terorisme.


Sumber
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cor7 dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Mengapa Perempuan Rentan Terlibat Gerakan Terorisme?
02-04-2021 17:16
Manusia makin banyak, persaingan makin ketat, sumber daya terbatas. Nggak heran kalo jadi lahan subur buat penyebaran aliran sesat yang bilang bunuh diri dan bunuh orang diluar perang bisa masuk surga.

Belom lagi paham "dunia nggak penting, yang penting akhirat", tapi giliran kegiles jaman, termarjinalkan secara ekonomi terus malah teriak dizolimi. Padahal doa paling populer itu mohon kebahagiaan dunia dan akherat, dan dunia disebut duluan loh...

Jadi gue kok skeptis ya sama orang2 model gini. Mereka sebenernya ngejar akherat lewat jalan pintas karena merindukan Tuhan atau karena sudah putus asa dengan kehidupan? Apakah kalau pelaku terlahir dalam bentuk dan fasilitas kayak raline shah atau anya geraldine akan tetap sama pemikirannya?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
B.Dog.God dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
profile picture
kaskuser
02-04-2021 19:45
Apakah kalau pelaku terlahir dalam bentuk dan fasilitas kayak raline shah atau anya geraldine akan tetap sama pemikirannya? Gak, target organisasi mereka adalah orang2 yg sedang "kalah" (Ntah masalah cinta atau uang) Yg lagi mencari tuhan.
1
profile picture
kaskuser
02-04-2021 22:05
Super sekali
0
profile picture
kaskus addict
03-04-2021 07:57
Hahahaha, coba yah di jadikan penelitian
1
profile picture
kaskus addict
03-04-2021 08:16
@6amjakarta nah, kalau tesis agan benar, potensi calon korban buanyak loh gan. Jaman sekarang, perkara pilpres aja masih banyak yang merasa "kalah". Belom lagi efek medsos, makin banyak orang yang merasa "kalah" dalam hidup. Saban long weekend liat postingan selebgram liburan mewah, sementara dia makan kfc aja kudu nabung....
1
profile picture
kaskus addict
03-04-2021 08:17
@Ndykings kalo kata teroris, hidup nggak seindah bacotnya mario teguh gan, makanya mereka pilih mati...
0
profile picture
kaskus addict
03-04-2021 08:18
@3 iya gan, penasaran, harusnya profiling pelaku bom bunuh diri udah bisa dibentuk ya, kan dari tahun 2000 udah banyak.
1
profile picture
kaskus holic
04-04-2021 13:43


Tebakan gue
Kombinasi dari malas gunakan logika dan putus asa (perasaan mudah hanyut) ditambah brainwash

Paket komplit bre

emoticon-Wow
2
profile picture
aktivis kaskus
04-04-2021 14:26



Gue rasa mereka memang udah putus asa dalam kehidupan. Hidup dalam kemiskinan. Semua serba kekurangan. Itu yang utama. Lalu didoktrin negara delusi damai sejahtera semua gratis ala ISIS. Tergiurlah mereka. Dan mereka keliatannya sengaja dibikin bodoh agar gampang didoktrin. Dijanjikan surga ko mati bunuh diri dan membunuh kafir. Jadilah mereka bom bunuh diri.
1
profile picture
kaskus addict
04-04-2021 16:37
Putus asa dalam kehidupan gan. Ga menutup kemungkinan yg kaya pun bisa jadi otak pelaku teroris. Tinggal suruh orang maka beres. Tapi jumlahnya ga sebanyak yg putus asa dengan kehidupan. Yg dimaksud putus asa ini ga cuma soal harta doang lho.
2
profile picture
kaskus addict
04-04-2021 17:08
@kurapbadak betul gan, putus asa bisa macem2 sebabnya. Bisa ekonomi, kesehatan, cinta, masa depan, dst. Intinya putus asa disini ngerasa nggak ada gunanya lagi hidup di dunia.

Masalah terbesar ya mental kalah. Mental kalah ini yang selalu melihat kemalangan/penderitaan hidup adalah salah pihak lain. Ketika masuk doktrin "ini salah agama x, semua konspirasi untuk menjelekkan agama kita, bla, bla, bla..." makin gampang lah orang bersedia bunuh diri untuk masuk surga.
1
profile picture
Made In Kaskus
04-04-2021 17:25
Bener juga ya. Dunia dulu baru akherat
1
profile picture
kaskus addict
04-04-2021 19:11
Afaik, cmiiw.. lebih tepatnya menurut pandangan ane, dunia dan akhirat itu satu kesatuan tdk terpisahkan..... boro2 mengharap akhirat bagus, kalau sejak dunia tidak bagus... 👀
.
emoticon-Ngacir
3
profile picture
Made In Kaskus
05-04-2021 01:12
@kaiharis Kalo mati muda misal kecelakaan atau dibunuh. Dunia ga bagus, akhirat mana kita tau.
0
profile picture
kaskus addict
05-04-2021 02:06
@durexz Ya memang, bagaimanapun hanya Tuhan YME yang tahu secara pasti dan absolut, yang menentukan bagaimana nanti... jawaban yg paling tepat itu ya 'tidak tahu'. Maka, perlu dicari tahu dari ketidak tahuan dgn melakukan yg terbaik... 👀
.
Pandangan ane terhadap anggapan bahwa orang yang mati muda 'pasti' masuk 'surga' adalah 'mitos' belaka 👀
.
emoticon-Ngacir
0
profile picture
Made In Kaskus
05-04-2021 04:19
@kaiharis Namanya keyakinan ga perlu ada pembuktian ilmiah.
0
profile picture
kaskus addict
05-04-2021 04:46
@durexz ya itu keyakinan ane? dan ente berbeda i respect that. u respect me ? 👀
.
emoticon-Ngacir
2
profile picture
kaskus maniac
05-04-2021 08:04
Akar radikalisme adalah kemiskinan dan kekecewaan.
0
profile picture
kaskus addict
06-04-2021 07:17
@kumaniaks kecewa sama siapa gan?
Kecewa sama pemerintahan?
0
Memuat data ...
1 - 18 dari 18 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia