Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2065
Lapor Hansip
24-03-2021 15:34

Balada Cinta Si Badut Mampang




Balada Cinta Si Badut Mampang
pic : kapanlagi.com



Part 1:
Gadis Bertopi Merah


Gadis tanggung bertopi merah itu berjalan berjingkat jingkat menyeberangi perempatan jalan saat lampu lalu lintas menyala merah. Rambut ekor kudanya terayun ayun mengikuti irama gerak langkah kakinya. Sementara baju lengan panjang kotak kotak yang ia kenakan tanpa dikancingkan itu melambai lambai dipermainkan angin, memperlihatkan kaos yang juga berwarna merah yang ia kenakan di balik kemeja itu.

Sebelah tangan gadis itu menenteng sebuah ukulele. Sedang di tangan yang satu lagi, sebuah kantong plastik bening berisi dua bungkus roti dan air mineral gelasan nampak berayun ayun.

Hiruk pikuknya para pengendara kendaraan yang seolah tak sabar menunggu lampu hijau sama sekali tak dihiraukan oleh gadis itu. Baru saat ada salah seorang pengendara sepeda motor yang iseng menggodanya dengan bersuit dan membunyikan klakson, gadis itu membalasnya dengan menjulurkan lidahnya.

"Dasar cowok ganjen!" dengus gadis itu sambil melompat naik ke atas trotoar. Langkah kecilnya kemudian membawa gadis itu ke salah satu sisi tembok pagar Masjid Raya yang berada di sudut perempatan jalan. Selembar kardus bekas ia jadikan untuk alas duduk, bersandar pada tembok pagar kusam yang dinaungi oleh rindangnya pohon angsana. Tangan mungilnya dengan cekatan membuka bungkusan plastik yang dibawanya, mengeluarkan isinya, lalu dengan lahap mengunyah roti yang menjadi menu makan sorenya itu.

Kunyahan gadis itu tiba tiba terhenti saat matanya tanpa sengaja melirik seorang remaja laki laki yang duduk tak jauh darinya. Anak laki laki bertubuh dekil dengan pakaian kumal itu sepertinya sudah tak asing dimatanya. Pelan pelan gadis itu menggeser posisi duduknya, mendekat ke arah anak itu.

"Nih, makan," ujar si gadis sambil mengulurkan sisa roti di dalam kantong plastiknya. Anak laki laki itu nampak terkejut. Ia menoleh dan menatap nanar ke arah si gadis.

"Ayo, makanlah. Sepertinya kamu kelaparan. Ini roti masih bagus kok, aku baru saja membelinya," ujar si gadis lagi, sambil tersenyum.

Sedikit ragu anak laki laki itu mengulurkan tangannya, menerima roti yang diberikan oleh si gadis, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah si pemberi roti itu.

"Terima kasih," ujar anak laki laki itu lirih. Pelan pelan ia membuka bungkus roti itu dan menggigit isinya.

"Siapa namamu?" tanya gadis itu lagi, sambil mengeluarkan air mineral gelasan dari dalam plastik dan meletakkannya di depan si anak laki laki.

"Lintang," sahut anak laki laki itu pendek.

"Aku Gendhis," tanpa diminta gadis itu juga menyebutkan namanya. "Kamu minggat dari rumah ya?"

"Eh?!" si anak laki laki nampak terkejut mendapat pertanyaan tak terduga itu.

"Sudah beberapa hari ini kuperhatikan kamu selalu berada disini, dari pagi saat aku datang, sampai sore menjelang saat aku pulang. Pakaianmu juga tak pernah ganti, dan ...."

"Aku dibuang," pelan anak itu memotong ucapan si gadis.

"Dibuang?!" kini si gadis yang nampak terkejut.

"Ibuku kimpoi lagi setelah bapakku meninggal, dan bapak tiriku, sepertinya ia tak suka kepadaku. Dengan dalih mengajakku jalan jalan ke kota ini, diam diam ia justru meninggalkanku seorang diri di kota ini," jelas si anak laki laki.

"Ya ampuuunnn, kejam sekali bapak tirimu itu," ujar si gadis penuh iba. "Darimana asalmu?"

"Dari kota S."

"Kota S? Dimana itu?"

"Sebuah kota kecil yang sangat jauh dari sini. Butuh waktu sehari semalam untuk sampai di kota ini dari kotaku."

"Tega sekali orang tuamu itu," gumam si gadis. "Sudah berapa lama kamu dibuang disini?"

"Empat hari," lagi lagi si anak laki laki menjawab pelan.

"Pantas saja, beberapa hari ini aku selalu melihatmu disini. Jadi selama empat hari itu, apa saja yang kamu lakukan?"

"Entahlah. Aku bingung. Aku hanya duduk duduk saja disini, dan kalau malam, aku tidur di emperan masjid. Beruntung kadang kadang ada orang yang berbaik hati memberiku makanan atau sedikit uang."

"Kau masih lapar?" tanya si gadis lagi saat menyadari bahwa roti di tangan si anak laki laki itu telah habis tak tersisa. Agak segan anak laki laki itu mengangguk.

"Bagaimana kalau kau ikut ke rumahku saja?" sebuah ide tiba tiba melintas di benak si gadis.

"Eh, bolehkah?" mata si anak laki laki nampak berbinar.

"Tentu saja boleh. Kita senasib. Aku juga tak punya orang tua. Setiap hari aku ngamen disini untuk menyambung hidup. Kalau kamu mau, nanti kamu juga boleh kok ikut aku ngamen, daripada kamu terlantar disini," kata si gadis lagi.

"Emmmm, tapi ...," si anak laki laki nampak berpikir keras.

"Aku nggak maksa sih, dan kalau kamu nggak mau juga nggak papa kok," ujar si gadis sambil berdiri. "Sudah sore, aku pamit pulang dulu ya. Besok kamu tunggu disini saja. Aku janji, akan kubawakan makanan dan baju ganti untukmu."

Si gadis lalu melangkah meninggalkan si anak laki laki yang masih diam seribu bahasa itu. Kaki mungilnya melangkah menyusuri trotoar yang berdebu itu menuju ke arah timur.

"Gendhis, tunggu!" seruan si anak laki laki menghentikan langkah si gadis. Ia menoleh dan melambai ke arah si anak laki laki, memberi isyarat untuk mengikutinya. Si anak laki lakipun segera bangkit dan berlari lari kecil menyusul si gadis. "Aku mau ikut denganmu!"

"Ayolah," seru si gadis sambil kembali berjalan. Berdua mereka akhirnya berjalan beriringan meninggalkan hiruk pikuknya lalu lintas di perempatan jalan itu, memasuki sebuah gang sempit yang diapit oleh bangunan bangunan megah yang tinggi menjulang. Sementara di ufuk barat sana, warna jingga mulai menyelimuti cakrawala, menandakan bahwa sang suryapun telah pamit untuk kembali ke peraduannya.


bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
coeloet dan 86 lainnya memberi reputasi
87
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Balada Cinta Si Badut Mampang
27-03-2021 23:13

Part 7 : Perubahan Sikap Gendhis

Jam delapan pagi. Lintang sudah selesai mandi. Namun Gendhis belum juga keluar dari kamarnya. Bang Herman juga nggak tau kemana. Sepertinya laki laki itu memang sangat jarang berada di rumah. Ada niat di hati Lintang untuk mengetuk pintu kamar Gendhis dan membangunkan anak itu. Namun teringat akan obrolan mereka semalam, Lintang mengurungkan niatnya. Mungkin Gadis itu masih terbawa suasana akibat semalam harus kembali mengenang masa lalunya. Lintang jadi merasa bersalah. Andai saja ..., ah, sudahlah, nanti saja aku bicara dengan Gendhis, kalau anak itu sudah bangun. Lebih baik aku cari sarapan dulu, batin Lintang sambil merogoh saku celananya.

Masih ada lima lembar uang dua ribuan yang ia temukan disana, sisa dari hasil ngamen kemarin. Cukuplah kalau sekedar untuk membeli kopi sachetan dan beberapa potong gorengan. Dengan langkah ringan Lintang kemudian menuju ke warung kecil yang berada di dekat bangunan kamar mandi, setelah sebelumnya menutup pintu rumah kontrakannya.

"Gorengannya masih ada Bi?" tanya Lintang berbasa basi kepada Bi Romlah yang nampak sibuk di depan kompor.

"Eh, kamu kan ....," Bi Romlah menengok sekilas ke arah Lintang sambil mengernyitkan keningnya.

"Lintang Bi, yang tinggal di rumah Gendhis," Lintang tersenyum ke arah perempuan gemuk itu.

"Oh, iya, Lintang ya. Nih, pilih aja sendiri, masih banyak tuh gorengan," perempuan pemilik warung itu mengangsurkan sehelai kantong plastik bening yang segera disambut oleh Lintang. Anak itu kemudian mulai sibuk memilih milih gorengan.

"Eh, ada Lintang toh," tiba tiba Lilis muncul dari dalam warung. Anak itu menguap lebar, sepertinya baru bangun tidur. "Kok sendirian Tang? Gendhis kemana?"

"Lho, Lilis? Iya nih, Gendhis belum bangun kayaknya. Kamu nggak sekolah Lis?" Lintang menggeser posisi duduknya, memberi tempat kepada Lilis untuk duduk.

"Gimana mau sekolah Tang, kalau jam segini aja baru bangun?! Sudah dibilang kalau malam jangan suka keluyuran! Entah mau jadi apa dia nanti kalau disuruh sekolah saja malas malasan begitu?!" Bi Romlah yang menjawab dengan nada kesal. Lintang hanya tersenyum dikulum. Ia baru tahu kalau ternyata Lilis adalah anaknya Bi Romlah.

"Yaelah Mak, kayak emak ini nggak pernah muda saja," Lilis hanya nyengir mendengar omelan dari sang emak. Dengan santainya anak itu mencomot sepotong pisang goreng dan mengunyahnya dengan rakus. "Gendhis sakitkah? Kok tumben jam segini belum bangun?"

"Nggak tau Lis, semalam sih baik baik saja," Lintang mengeluarkan uang dari dalam kantongnya, "ini uangnya Bi, pas ya sepuluh ribu, gorengan sepuluh biji."

"Udah, bawa aja Tang, hari ini kukasih gratis buat kamu, itung itung buat salam perkenalan," ujar Bi Romlah setelah mematikan kompornya.

"Eh, beneran ini Bi?"

"Iya. Bawa aja Tang."

"Wah, terimakasih banyak ya Bi. Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu Bi, Lis, kasihan Gendhis di rumah sendirian," pamit Lintang sambil berdiri.

"Eh, tunggu Tang, aku ikut dong. Bagi kopinya ya Mak," Lilis ikut berdiri, menyambar serenceng kopi sachetan, lalu berlari lari kecil mengikuti Lintang.

"Liliiissss! Lama lama bangkrut kalau dagangan emak kau copet tiap hari!" teriakan Bi Romlah sama sekali tak dihiraukan oleh Lilis.

"Jahat banget kamu sama emakmu Lis," Lintang menahan tawa melihat tingkah anak dan emak itu.

"Haha, biarin aja lah, udah biasa kok. Eh, kamu nanti ikut ngamen lagi kan? Bareng sama aku lagi ya? Ga ada Bimo soalnya. Masih sekolah dia."

"Ga tau nanti Lis, nunggu Gendhis bangun dulu aja," Lintang membuka pintu dan masuk ke kontrakan, diikuti oleh Lilis.

"Woy, Gendhis Marundis, bangun woy, udah si ...., eh, kamu kenapa Ndhis?" langkah Lilis yang langsung nyelonong masuk ke kamar Gendhis tertahan, saat melihat Gendhis tengah duduk mencangkung di atas dipan dengan wajah muram.

"Kamu sakit Ndhis?" Lilis mendekat ke arah Gendhis dan menempelkan pungggung tangannya ke dahi anak itu.

"Berisik!" Gendhis menepis tangan Lilis. "Kebiasaan kamu ya, masuk kamar orang nggak pake permisi!"

"Wah, lagi dapet ya, galak banget," Lilis tergelak. "Sarapan yuk, udah dibeliin tuh ama Lintang. Aku bawain kopi juga nih."

"Cih! Kopi haram aja dipamerin! Pasti nyopet lagi tuh di warung emakmu," Gendhis bangkit dan keluar dari kamar, diikuti oleh Lilis yang masih mengumbar tawanya.

"Sarapan dulu Ndhis," Lintang menyeduh tiga gelas kopi dengan air dari dispenser.

Gadis itu tak menjawab. Ia menyalakan televisi, lalu duduk diatas tikar yang terhampar di lantai.

"Maaf soal yang semalem ya Ndhis, gara gara aku ...."

"Apaan sih Tang? Nggak ada hubungannya sama kamu kok. Aku cuma lagi bete aja," Gendhis memotong ucapan Lintang.

"Eh, ada peristiwa apa nih? Kalian ngapain semalam?" tanya Lilis penasaran.

"Kepo deh!" Gendhis menoyor kepala Lilis, sampai gadis itu nyaris terjengkang.

"Yaelah, cuma nanya juga," Lilis berlagak cemberut.

"Kalian nanti ngamen berdua aja ya, aku lagi nggak mood nih," ujar Gendhis lagi sambil menyecap kopi yang dihidangkan oleh Lintang. "Nggak papa kan Tang, kalau kamu ngamen berdua aja ama Lilis?"

"Ya nggak papa sih, tapi kamu nggak papa sendirian di rumah?" Lintang ikut duduk di samping Gendhis.

"Nggak papalah, lagian juga Bang Herman sebentar lagi pulang," jawab Gendhis sambil berdiri. "Aku mau mandi dulu, kalian lanjut aja sarapannya."

"Eh, Tang, Gendhis kau apain semalem? Kok tiba tiba sikapnya jadi aneh gitu?" bisik Lilis setelah Gendhis meninggalkan mereka berdua. Lintang hanya mengangkat bahu, tanda tak paham dengan perubahan sikap Gendhis.

"Kau jangan berani macem macem sama Gendhis Tang, bisa bisa nanti kamu dijadiin perkedel sama Bang Herman." ujar Lilis lagi.

"Sembarangan! Siapa juga yang macam macam," sungut Lintang kesal.

"Hahaha, ya siapa tau aja kan, secara kamu cowok dan Gendhis ...."

"Jangan mikir yang macem macem deh. Buruan gih habisin sarapannya. Abis itu kita berangkat," sergah Lintang lagi.

"Hahaha, santai aja kali, ga usah ngegas gitu," lagi lagi Lilis tergelak sambil memukul pelan lengan Lintang.

Lintang hanya diam. Ia masih merasa bersalah dengan peristiwa semalam. Ia yakin perubahan sikap Gendhis pagi ini pasti ada hubungannya dengan obrolan mereka semalam. Aku harus melakukan sesuatu, aku harus membuat Gendhis kembali ceria seperti sedia kala, batin Lintang. Dan sebuah idepun melintas di dalam benak Lintang.

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 39 lainnya memberi reputasi
40 0
40
profile picture
newbie
28-03-2021 13:28
Hmmm jangan jangan2 Gendhis cemburu ni
1
profile picture
kaskuser
28-03-2021 17:41
Wah Gendhis kenapa nih?
1
profile picture
KASKUS Plus
28-03-2021 19:29
Lagi sensi aja dia gan, maklum anak ABG
0
profile picture
kaskus holic
30-03-2021 23:16
gendis dlm cerita ini umurnya brp taon gan?
1
profile picture
KASKUS Plus
31-03-2021 08:49
@joyanwoto berapa ya? Ya sekitaran umur 15-an gitu gan, usia usia anak remaja
0
Memuat data ...
1 - 5 dari 5 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
inilah-jalan-spiritualku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
harta-tahta-peternakan-buaya
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia