Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
5099
Lapor Hansip
16-02-2021 15:01

Desa Misterius Di Pedalaman Kalimantan [ Tamat ]

Desa Tumbal Misterius Di Pedalaman Kalimantan

Salam lekum agan sista semua.

Setelah hampir 10 tahun hiatus, akhirnya ane bikin thread lagi di kaskus. Agak canggung juga, karena sudah 1 dekade cuman sesekali berkunjung. Cuman kali ini ane mau bikin cerita, tentang pengalaman seorang kawan yang menemukan hal ganjil ketika ada project di salah satu desa di pedalaman Kalimantan.

Jadi ceritanya bakal ane jabarin satu-satu di bawah emoticon-Cool

Quote:beberapa gambar ane comot dari google sebagai ilustrasi, bukan dokumentasi pribadi.


Quote:Update teratur tiap malam Senen dan malam Jumat pukul 19.00. wib


Quote:Saya mohon dengan sangat untuk tidak meng Copy Paste cerita ini. Semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, dan bisa menghargai karya orang lain. Terima kasih


Quote:


















































Diubah oleh benbela
profile-picture
profile-picture
profile-picture
iqiekantata dan 227 lainnya memberi reputasi
222
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Desa Tumbal Misterius Di Pedalaman Kalimantan
21-03-2021 19:01
Quote:Original Posted By benbela


XIV : Siulan di Tengah Hutan


"Bersiaplah, kau akan jadi tumbal." ujar Mayang dengan suara berat. Seketika tubuhnya lemas. Kaki mungilnya tidak mampu menopang badannya yang kecil.

Pak Kasno, pak Ancah dan pak Sahen seketika berhamburan menyambut tubuh Mayang agar tidak jatuh ke lantai. Setelah dapat, mereka membaringkan Mayang di atas meja.
Pak Kasno kemudian menyuruh pak Sahen mengambil air di kamar mandi.

"Pak Ancah, antar anak-anak pulang."

Pak Ancah menurut dan segera membawa anak-anak yang masih menangis untuk pulang. Beberapa anak meraung-raung hingga ingus keluar dari hidung mereka. Aku tidak bisa berbuat banyak, istriku juga masih shock.

Aku mendudukan istriku di kursi, menyeka keringat dan air mata di wajahnya. Tubuhnya lemas dan wajahnya pucat. Suara dengus nafasnya terdengar sangat jelas.

"Dik..kamu gak apa-apa?" tanyaku penuh khawatir.

Istriku hanya menggelengkan kepala tanpa suara. Badannya masih lunglai tanpa tenaga.

"Mas..." ucapnya lirih.

"Kenapa?"

"Perutku sakit mas. Sakit banget." Kata istriku sambil memegang perut dengan kedua tangannya.

"Perutku kram mas. Kayak diputar-putar." ujar istriku menahan sakit.

"Kalian pulang saja. Biar disini kami yang urus." kata pak Kasno.

Aku segera memapah tubuh istriku menuju rumah dinas. Pak Sahen sudah kembali dari kamar mandi dan membawa seember air. Pak Kasno dan pak Sahen lalu membersihkan wajah Mayang yang penuh darah dan berusaha menyadarkannya.

***


Aku membaringkan istriku yang kesakitan di kasur usang kami. Dia terus merintih menahan rasa sakit hingga mengeluarkan air mata.

Aku membuka jendela agar angin segar bisa masuk ke dalam kamar.
Di pembaringan, istriku terus merintih sambil memegang perut dengan kedua tangannya.

Dengan panik, aku mencari-cari minyak kayu putih di tas punggung istriku. Setelah ketemu, minyak kayu putih itu langsung ku oleskan di perutnya.

"Ini apa dik?"

Kulihat ada dua ruam kebiruan di perut istriku. Ruam itu memanjang 5 cm di kiri dan kanan dekat pinggang.

"Gak tau mas, tadi pagi sudah muncul pas mau mandi."ujar istriku dengan suara lemah.

"Mungkin alergi. Cuaca disini berbeda dengan di Jawa" jawabku sekenanya.

Jemarinya menggenggam jemari tangan kananku, tatap matanya yang berkaca-kaca seolah memintaku untuk terus di sampingnya.

Tangan kiriku mengelus-elus kepalanya, merapikan rambutnya yang berantakan.

"Tunggu sebentar, akan kubuatkan teh hangat dan memanaskan makanan."

***


Setelah makan dan minum teh hangat, kondisi istriku mulai agak mendingan. Meski membaik, tubuh istriku masih terkulai lemah di atas kasur.

Aku mengipas-ngipas wajah istriku dengan piring plastik, sambil mengusapkan minyak kayu putih di perutnya.

Tak berapa lama, terdengar ketukan di pintu depan. Aku segera beranjak dan mendapati pak Kasno yang kelelahan.

"Bagaimana istrimu?" tanya pak Kasno sambil menyeka peluh di dahinya.

"Masih lemas pak. Tiduran di kamar." ujarku sambil menghela nafas.

"Silahkan masuk pak, biar kubuatkan kopi."

"Gak usah, cukup di sini aja. Istrimu biar istirahat aja dulu. Kasian." kata pak Kasno.

"Mayang sudah kami antar ke rumahnya. Tadi pinjam kelotok pak Kades. Pak Kades ngundang kita ke rumahnya nanti sore. Sekalian mau kenalan sama guru baru."

"Inggih pak, terima kasih." balasku sambil mengangguk.

Pak Kasno lalu masuk ke dalam rumahnya, dan aku kembali merawat istriku yang kini sudah tertidur pulas tak berdaya.


***


Hari semakin sore, dan istriku sudah pulih dari sakit perutnya. Usai sholat ashar berjamaah di tempat pak Kasno, kami bertiga bergegas ke tempat pak Kades.

Untuk jaga-jaga kalau pulang kemalaman, pak Kasno membekali kami dengan senter.

Begitu keluar dari pagar sekolah, pak Kasno menbawa kami melalui jalan pintas, sebuah jalan setapak menembus hutan.

"Lewat sini lebih cepat dari jalan utama. Kita bisa memotong separo perjalanan." ujar pak Kasno sambil menyalakan rokok, lalu menyerahkan bungkusnya sekaligus korek gas kepadaku.

Pak Kasno melangkah di depan, aku dan istri mengiringi di belakang. Setelah menyalakan rokok, kukembalikan bungkus rokok dan korek kepada pak Kasno.

Kami terus melangkah masuk ke dalam hutan, berjalan diantara pohon-pohon tinggi menjulang. Saking lebatnya, sinar matahari hampir tidak tembus ke dasar hutan.

Suara burung dan serangga saling bersahutan, menelusup di antara pucuk-pucuk daun dan pepohonan.

"Itu namanya Kalaweit. Mungkin satu keluarga." Pak Kasno menunjuk 4 ekor monyet hitam tanpa ekor yang melompat dari dahan ke dahan.

Namun aku dan istri tidak terlalu tertarik dengan obrolan pak Kasno. Kejadian tadi pagi masih membekas dan menimbulkan banyak pertanyaan.

"Pak..." ucap istriku lirih.

"Kejadian tadi pagi, si Mayang. Maksudnya apa pak? Kok ada tumbal segala?" tanya istriku dengan suara pelan.

Pak Kasno menghentikan langkahnya. Aku dan istri yang kaget langsung menabrak badannya. Tubuh pak Kasno goyah hingga badannya tergeser beberapa langkah ke depan. Rokok yang masih separo di tangannya terlepas dan terjatuh ke tanah.

Setelah tubuhnya seimbang, pak Kasno segera memungut rokoknya yang masih menyala di tanah dan membersihkannya dari butiran pasir dan debu.

Pak Kasno kembali menghisap rokok itu lalu memandang wajah kami secara bergantian.

"Maaf pak, gak sengaja." ucapku. Namun pak Kasno tidak menggubris permintaan maafku.

"Sayang...susah cari rokok di sini. Harus ke kampung di hilir sungai, hehehe." ujar pak Kasno sambil tertawa. Asap rokok segera keluar dari mulut dan hidungnya secara bergantian.

Aku dan istri hanya saling pandang. Sepertinya pak Kasno lupa dengan pertanyaan istriku, dan lebih mementingkan rokoknya.

"Pak, Mayang yang tadi pagi, bagaimana? Maksudnya tumbal apa?" tanya istriku khawatir.

Tawa pak Kasno seketika terhenti. Ia lalu menghembus nafas panjang sebelum memulai kalimatnya.

"Nanti saja kita tanya pak Kades. Mungkin dia tahu sesuatu. Tidak baik ngomong di tengah hutan, banyak yang nguping."

Pak Kasno lalu balik badan, kembali melangkah di jalan setapak. Aku dan istri hanya mengikuti langkahnya tanpa bertanya lebih lanjut.

Karena tidak ada obrolan, pak Kasno mulai bersiul menirukan suara burung untuk mengusir kesunyian.

Setelah beberapa saat, rupanya siulan pak Kasno mendapat balasan dari burung di dalam hutan. Kicauan pendek beruntun terdengar di antara celah pepohonan, menyahut siulan pak Kasno. Kicauan demi kicauan itu terdengar mencurigakan, datang entah darimana.

Merasa mendapat respon, pak Kasno semakin semangat bersiul. Bahkan, pak Kasno menempelkan dua jempol tangannya di mulut, agar siulannya makin kencang.

Dan kembali siulan pak Kasno mendapat balasan. Suara kicauan burung semakin banyak dan semakin terdengar jelas. Tidak hanya satu, mungkin ada puluhan burung yang ikut menyahut dengan irama masing-masing. Suara kicau yang tadi entah dimana, rasanya semakin mendekat.

Aku dan istri merasa khawatir dengan ulah pak Kasno, tapi tidak enak menegur. Bisa saja siulannya mengundang hewan buas, atau penunggu hutan lainnya. Tapi sepertinya pak Kasno sudah terlarut dalam siulannya. Dia bahkan menggoyangkan-goyangkan kepala, seolah sedang berada di tengah konser dangdut.

Sambil berjalan di belakang, aku dan istri saling pandang. Suara kicau burung sudah ada diatas kepala kami. Kemana kami melangkah, burung-burung itu terus mengikuti kami, melompat dari ranting ke ranting.

Setelah beberapa menit, tiba-tiba pak Kasno menghentikan siulannya dan berdiri mematung di tengah jalan.

Burung-burung yang tadi mengikuti kami segera berhamburan ke udara dan kembali menghilang di dalam hutan. Ranting- ranting bergoyang pelan saat burung-burung itu beranjak.

Istriku merapatkan badannya di sampingku, gelisah akan sesuatu yang belum diketahui. Di depan kami, pak Kasno berdiri dengan kepala celingak celinguk ke kanan dan ke kiri.

Segera saja aku mencium bau bangkai yang sangat busuk, seperti telah mati berhari-hari.

Hembusan angin yang menerpa wajah kami, membuat bau itu semakin menusuk hidung dan membuat perut mual.

Aku memencet hidung untuk menahan bau yang tercium dan istriku menggunakan jilbabnya.

Pak Kasno memegang kerah kaosnya dan ia gunakan untuk menutup hidung dan mulut . Ia lalu membungkukan badan, kemudian bergerak selangkah demi selangkah ke depan.

Aku dan istri hanya melihatnya dengan rasa khawatir. Berbagai kejadian yang kami alami, memaksa kami percaya pada hal gaib dan diluar nalar.

Baru tiga langkah berjalan, pak Kasno kembali berhenti. Ia menegakkan badan dan hanya berdiri di tengah jalan membelakangi kami.

Pak Kasno tak bergerak, pandangannya fokus pada salah satu pohon. Pak Kasno terlihat ragu, apakah terus melangkah atau putar badan.

Tetes peluh sebesar jagung mulai kelihatan di pipinya. Tangannya berkeringat dan kakinya gemetaran. Hembusan nafasnya yang memburu terdengar oleh kami yang berdiri 2 meter belakang.

"Lihat itu."

Tangan pak Kasno menunjuk sesuatu di antara pepohonan.

Aku dan istri hanya berdiri mematung, melihat ke arah yang ditunjuk pak Kasno.

"Astagfirullah." ucap istriku dengan suara bergetar.




...bersambung...



mpe jumpa malam Jumat yak gansis semua 😎🙏

Jangan lupa supkrep, komeng dan syerr ewer ewer 😁
Diubah oleh benbela
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makhluksupra dan 81 lainnya memberi reputasi
82 0
82
Memuat data ...
profile picture
kaskus addict
23-03-2021 21:01
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
0
profile picture
kaskus holic
25-03-2021 07:35
@adiiit26 brrti anda punya imajinasi liar gan emoticon-Leh Uga
0
profile picture
kaskuser
27-03-2021 10:59
Sekali update lgsg 2 bab gt lah gann
0
profile picture
kaskuser
12-04-2021 19:45
Aaaarrrrggghhhhh .... muantep
emoticon-Cendol Gan
0
profile picture
25-04-2021 20:54
@jamesbondan007 kayasinetron ya
0
profile picture
kaskus maniac
25-04-2021 21:14
Udah ampe mana ni updatenya TS
0
profile picture
kaskus addict
26-04-2021 08:09
@natawijayaoyo persis Ikatan Cinta di TV. Bisa ajah motongnya. Wkwkwk.
1
profile picture
26-04-2021 09:36
@jamesbondan007 wkwkwk keknya seru juga kalo dibikin sinetron horror.
Macam 'disini ada setan' jaman dulu.
2
Memuat data ...
21 - 28 dari 28 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
my-sister
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
pengagum-jodoh-orang
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia