Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
105
Lapor Hansip
09-03-2021 18:37

Cinta Mati Sang Kuyang (The End)

CINTA MATI SANG KUYANG




Chapter 1


Saat seseorang mencintaimu. Maka, tanpa kau harus bersusah payah, dia akan mengosongkan ruang di hatinya untuk kau tempati.

*****

Pegunungan Meratus, 1990

Sebuah gerobak sapi tampak merayap pelan. Menapaki jalan setapak hutan yang sepi. Gemirincing lonceng yang menggantung pada leher sapi, seirama dengan derit putaran roda-roda gerobaknya.

Matahari bersinar garang. Panasnya menimpa pucuk-pucuk dahan pohon yang tinggi menjulang. Rimbun dedaunan bagaikan kanopi yang memayungi jalan setapak menuju desa Kudung.

Di dalam gerobak, dua anak manusia tengah tertidur sangat pulas. Mereka adalah Aman dan Arul. Kakak beradik yang terpaut usia tiga tahun.

"Grookh ... groookh ...."

Dengkuran keras saling bersahutan terdengar sampai ke luar. Kadang mirip bunyi siulan. Perjalanan pulang yang memakan waktu panjang membuat dua lelaki muda itu tak mampu menahan kantuk. Apalagi saat ini angin sedang berembus sepoi. Semakin keduanya terbang ke alam mimpi.

Sempitnya gerobak tidak mengurangi kenikmatan tidur. Keduanya meringkuk dengan posisi tak keruan. Tanpa sadar wajah Arul sudah tepat di depan bokong kakaknya Aman.

Setandan pisang yang tak habis terjual tergeletak di sudut gerobak. Di sampingnya ada bungkusan berisi tapih behalai, pesanan Sala isteri Aman yang sedang hamil tua. Rencananya tapih-tapih behalai itu bakal persediaan Sala melahirkan nanti.

( Tapih behalai : kain jarik )

Kedua kakak beradik Aman dan Arul baru saja pulang dari menjual hasil kebun di pasar minggu. Pasar mingguan itu menjadi tempat tumpah ruahnya penduduk dari penjuru Pegunungan Meratus.

Begitu juga Aman dan Arul yang tinggal di dataran tinggi. Sejak subuh buta mereka menuruni bukit. Mengangkut puluhan tandan pisang dan kelapa untuk bisa ditukar dengan rupiah.

Arul masih tidak menyadari keberadaan bokong kakaknya yang hampir menempel pada wajah. Bibir tipis pemuda dua puluh tahunan itu malah menyunggingkan sebuah senyuman.

Dalam mimpi Arul, wajah Barlian lah yang kini ada di hadapannya. Sangat dekat. Sampai Arul lupa cara bernapas. Gadis cantik itu selalu mampu membuat dadanya berdetak syahdu.

Aduhai ... cantik nian engkau Barlian!

Tiba-tiba ....

BROOOTT!!

Sebuah ledakan dengan kekuatan maha dahsyat, sukses membuat mimpi indah milik Arul ambyar tak berbekas. Aroma gas beracun hasil produksi Aman meluluh lantakan wajah cantik Barlian.

"Hantu Bilau!" umpat Arul sekonyong-konyong dengan mimik wajah hancur.

"Aaaargh!!" Teriaknya lagi dengan kesal. Kedua tangan mengepal.

Wajah kusut masai itu kemudian duduk sambil mengibas-ngibas sisa udara beraroma busuk yang masih memenuhi gerobak.

"Tadi pagi sarapan bangkai kah, Kak?" rutuk Arul menatap wajah tak bersalah Aman.

Aman tak bergeming. Tidurnya tambah pulas karena perutnya kini lebih terasa lega. Mulut lebar itu mengecap-ngecap seperti orang yang tengah makan. Setetes iler membasahi sudut bibir.

Menyebalkan!

"Ah, percuma marah sama orang tidur!" gerutu Arul lagi.

Pemuda itu memutuskan untuk keluar dari gerobak. Mencari udara segar.

Hup! Dengan gesit tubuh kurus berotot Arul melompat ke tanah.

Sudah biasa bagi Arul meninggalkan gerobak sapi saat dalam perjalanan seperti ini. Si Utih nama sapi mereka itu, bukanlah kuda. Jalan Utih lemot, selemot keong sawah.

Namun, kelebihan dari sapi-sapi pembawa gerobak macam Utih, adalah membawa gerobaknya tanpa perlu dikendalikan. Mereka sudah hapal rute pulang pergi antara pasar minggu dengan rumah majikannya.

Arul berlari masuk ke dalam hutan. Banyak waktu untuk bermain-main sebentar. Dari pada pasrah menghirup gas beracun Aman. Tanpa disadarinya banyak bola mata hitam yang mengintip kepergian Arul. Dari balik rimbunnya pohon kariwaya.

Di waktu yang sama. Sala isteri Aman tengah duduk jongkok di depan tungku perapian. Pipi wanita muda berkulit kuning langsat itu mengebung. Mulutnya meniupkan udara ke tumpukan kayu bakar, menggunakan sebuah corong bambu.

Api pun mulai membakar ujung-ujung kayu bakar yang menyatu dalam tungku. Memanaskan air di dalam panci berisi beras yang bertengger di atasnya. Sebentar lagi suami dan adik ipar Sala kembali dari pasar. Makan siang sudah harus disiapkan dari sekarang.

Di antara sela papan lantai yang terbuat dari kayu, ada sepasang mata sedang mengintip kegiatan perempuan muda itu. Tatapan yang sangat tajam. Seolah bernafsu untuk mencabik-cabik tubuh Sala. Mulutnya menggeram pelan.

Bangunan rumah panggung dengan lantai tinggi. Memungkinkan orang untuk bisa berdiri tegak di bawah lantai rumah. Seperti yang kini dilakukan oleh sesosok makhluk asing dengan penampakan sangat mengerikan.

Kening Sala mengernyit. Selintas dia merasa mendengar suara geraman yang aneh. Mirip geraman kucing. Samar tercium bau busuk, hidung Sala mengendus-endus. Tapi, kemudian perhatiannya terbagi saat air tanakan nasi mulai mendidih.

Bluk bluk bluk ....

Buih-buih air tajin itu tampak menggelegak. Tangan Sala meraih sebuah wancuh kayu. Mengaduk nasi dalam panci yang pantatnya sudah menghitam oleh jelaga.

BRAAAKK!!

Lantai yang ada di pijakan Sala tiba-tiba dibentur keras dari bawah hingga bergetar.

Perempuan hamil itu terlonjak kaget. Spontan kepalanya merunduk. Melihat sela-sela lantai kayu yang terpasang jarang. Jantungnya terasa akan lepas saat beradu pandang dengan sepasang mata merah menyala di antara sela papan.

"Astagfirulloh!" pekiknya tertahan.

Sala berpikir kalau itu adalah mata binatang buas semacam beruang. Ah, entahlah. Dia tak bisa melihat jelas bentuk makhluk yang ada di bawah lantai sekarang ini.

BRAAAKK!!"

Sekali lagi makhluk itu mencoba mengempur lantai. Papan-papan kayu mulai terangkat. Paku-paku terlepas. Bola mata Sala membelalak menyaksikan itu semua. Seluruh tubuhnya mendadak dingin gemetar.

Sala menelan ludah gugup. Sudut matanya melirik sebuah mandau yang menggantung di dinding dapur. Jarak sepuluh langkah dari tempatnya sekarang berdiri. Dia harus menjangkau benda itu untuk mempertahankan diri.

BRAKK ... BRAAAKK!!!

Lantai itu akhirnya jebol. Papan-papan kayu besi yang cukup kuat itu sebagian patah.

"AAARGHH!!"

****

Sementara itu Aman masih dalam buaian mimpi. Sama sekali dia tidak tahu adiknya Arul sudah tidak lagi ada di gerobak.

Merasa aman. Puluhan pasang mata hitam yang tadi mengintip dari balik rimbun dedaunan, menyembul keluar. Makhluk-makhluk berbulu dan berekor panjang itu berlompatan masuk ke dalam gerobak sapi.

"Ugk ugk ugk ... ugk ugk ugk ...."

Mulut monyet-monyet mulai berisik. Apalagi saat melihat setandan pisang kepok yang sebagian buahnya telah menguning di sudut gerobak.

Tak butuh waktu lama. Buah pisang di tandan itu ludes. Tak ubahnya sepotong daging ayam yang jatuh ke kolam air berisi ikan piranha.

"Ugk ugk ugk ... ugk ugk ugk ...."

Monyet-monyet itu dengan leluasa memporak porandakan seisi gerobak. Dodol yang sengaja dibeli Aman untuk oleh-oleh isteri tercinta dinikmati mereka beramai-ramai. Tak cukup sampai di situ. Salah satu monyet dengan isengnya mengencingi wajah Aman.

"Jiaaah ... apa nih?!"  Lelaki bertubuh tambun itu seketika terbangun. Mata sembabnya menatap tak percaya seisi gerobak tak ubahnya kapal pecah.

"ARUUUL!!!"

Teriakan Aman menggelegar, menerbangkan burung-burung yang tengah asyik makan di atas pohon. Sebuah tongkat panjang bergerak membabi buta di tangannya. Seperti orang kesurupan dia memukul-mukulkan ujung tongkat ke arah monyet-monyet nakal yang tak berakhlak.

Beberapa kain jarik untuk persiapan Sala melahirkan dibawa kabur hewan berekor itu. Keadaan kacau balau.

"Dasar warik bungul!" ujar lelaki tukang tidur itu berang.

( Warik bungul : monyet bodoh )
Diubah oleh blackgaming
profile-picture
profile-picture
profile-picture
piaupiaupiau dan 34 lainnya memberi reputasi
35
Masuk untuk memberikan balasan
Cinta Mati Sang Kuyang
11-03-2021 16:48
Chapter 15


Udara dingin juga langit yang mendung tak menghalangi keramaian pasar minggu hari ini. Gerobak-gerobak sapi terlihat berjejer di sepanjang jalan. Suasana hiruk pikuk khas pasar pedesaan terasa kental. Para pedagang menggelar dagangannya sampai menutup sebagian jalan.

Penduduk dari penjuru pegunungan meratus tumpah ruah. Dari tua, muda sampai anak-anak kecil memenuhi sudut-sudut pasar. Suku dayak telinga panjang yang tinggal di atas bukit-bukit tak ketinggalan ikut membaur, berjual beli dengan cara barter.

Teriakan tukang obat di salah satu sudut pasar menyita perhatian banyak orang. Mereka berdiri membuat lingkaran, merubung si tukang obat. Dengan sebuah corong pengeras suara diperkenalkannya obat herbal racikan sendiri.

Di antara orang-orang yang berdiri berkeliling, tampak seorang pemuda bernama Yusuf. Tubuh tinggi, wajah tampan, kulit bersih serta stelan rapi membuatnya terlihat bersinar di antara yang lain.

Yusuf sesekali tertawa kecil mendengarkan bapak tukang obat berkoar-koar tentang kemujaraban obatnya. Kebanyakan penonton lebih tertarik dengan gaya bicara tukang obat yang lucu dari pada membeli dagangannya.

"Bukan sulap, bukan sihir. Sekali minum encok pegal langsung minggir. Lemah sahwat langsung ngacir ...." Bapak tukang obat berorasi panjang lebar berusaha menarik pembeli.

"Silakan langsung dicoba! Saya kasih harga murah! Beli dua dapat tiga ...." Tukang obat itu mengacung-acungkan obat di tangannya sambil menggoyang pinggul mengikuti irama dangdut dari tape di sampingnya.

Perhatian Yusuf kemudian teralihkan pada seorang gadis cantik yang lewat di belakang tukang obat. Kali ini rambut panjangnya tampak diekor kuda. Mengenakan sweater rajut merah marun dengan rok payung bercorak bunga sakura. Satu tangannya tampak membawa bakul berisi penuh belanjaan.

Senyum Yusuf mengembang. Segera kedua kakinya beranjak mendekat ke arah gadis itu. Barlian berjalan lurus keluar dari pasar. Gestur tubuh tampak keberatan membawa bakul belanjaannya. Yusuf kian mempercepat langkah, tapi langkahnya kemudian harus berhenti. Rahang pemuda itu mengeras, menyadari kalau sudah kalah cepat.

Arul tiba-tiba muncul. Entah dari mana datangnya, langsung mengambil alih bakul dari tangan Barlian. Pemuda dan gadis itu terlihat saling sapa akrab. Berjalan bersisian dengan jarak yang sangat dekat. Yusuf bisa mendengar suara ceria Barlian menanggapi pemuda di sampingnya.

"Sial!" rutuk Yusuf dengan wajah kecut.

Tak ada yang bisa dilakukan Yusuf, kecuali menjaga jarak dengan dua orang yang tampak kasmaran itu. Mereka kemudian berhenti di bawah pohon dekat sebuah gerobak sapi. Tanpa sungkan Arul meraih dan menggenggam satu tangan Barlian.

Yusuf tidak suka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kenapa harus ada Arul?

"Suf, lagi nunggu siapa?" Sebuah tepukan dari belakang membuatnya tersentak.

"Eh, kamu, Man? Gak nunggu siapa-siapa, kok."

"Wey ... keren benar kau hari ini." Aman memindai penampilan Yusuf dari atas ke bawah. "Sudah kayak orang kantoran."

Hari ini Yusuf memang sengaja tampil rapi. Mengenakan stelan kemeja dan celana bahan. Sebuah tas selempang dan sepatu pantopel melengkapi penampilannya.

"Barusan dari sekolahan SMP aku tadi, Man. Ngajuin diri buat ngajar di situ," terang Yusuf.

"Nah, mantap itu. Sarjana mengabdi di kampung sendiri. Terus bagaimana?" Mulut Aman membulat takjub.

"Alhamdulillah, mereka masih kekurangan tenaga pengajar," jawabnya sembari membenarkan letak tas selempang di bahu. Berisi berkas-berkas yang sengaja dibawanya.

Ada alasan kuat bagi Yusuf untuk tetap bertahan tinggal di Kampung Kudung. Salah satunya Barlian.

"Kau diterima ngajar di SMP?"

"Hum." Yusuf mengangguk. Sesekali mata mencuri pandang ke arah Barlian dan Arul yang masih asyik berbincang. Menghela napas gusar, saat terlihat olehnya tangan Arul lembut menyingkirkan daun kering yang jatuh ke rambut Barlian.

"Turut senang aku mendengarnya, Suf. Mau pulang bareng aku kah? Naik gerobak Utih?" Aman menunjuk ke arah Utih gerobak sapinya.

"Coba kau lihat si Arul! Dia sudah kebelet kimpoi sama perempuan itu," ujar Aman lagi terkekeh.

Tangan Yusuf tanpa sadar mengepal.

"Bagaimana dengan kau? Jangan sampai jadi bujang lapuk! Percuma muka ganteng, tak laku-laku," ledek Aman terkikik.

"Ah, kau sendiri pun belum dapat ganti bini lagi," cibir Yusuf mengerutkan kening. Aman tambah tergelak.

"Hayuk pulang sama aku! Sambil nostalgia kita. Dari pada aku jadi obat nyamuknya dua orang itu." Aman mengerlingkan mata ke arah Arul dan Barlian berdiri.

"Duluan saja! Aku masih ada urusan." Yusuf beralasan.

"Swiwiiit!!" Mulut Aman bersiul usil, matanya mengikuti seorang perempuan cantik yang melintas di samping mereka.

"Hati-hati, siapa tau bini orang," tegur Yusuf.

"Ah, kau saja yang tak tahu. Itu si Mimin, janda kampung sebelah, janda kembang, Suf," bisik Aman sembari mengeluarkan sisir kecil dari saku celananya. Lalu menyisir rambut yang sudah kelimis mengkilap.

"Ya, sudah. Samperi saja kalau begitu!" Yusuf ikut mengamati perempuan incaran Aman.

"Ay, kurang ajar si Arul!" sentak Aman menyadari sesuatu. Menoleh ke arah gerobak Utih yang sudah menjauh meninggalkan pasar, dengan Arul dan Barlian di dalamnya.

"Disuruhnya naik ojek rupanya aku. Itulah orang pacaran. Dipikir dunia miliknya bedua," gerutu Aman kesal lalu berpamitan pada Yusuf, entah akan ke mana.

****

Gerobak Utih melaju pelan kembali ke Kampung Kudung. Arul dan Barlian duduk bersisian saling bertumpu bahu. Dua hati sedang berbunga setelah sekian lama membendung rindu.

"Nanti kau saja yang ke pasar setiap minggu, ya, Bar! Biar kita sering ketemu seperti ini." Arul membelai rambut halus Barlian yang bersandar di bahunya.

"Hhh ..." Barlian mengembuskan napas panjang. "Maunya Barlian pun seperti itu, Kak. Hari ini kebetulan saja Acil Ida lagi sakit. Kalau tidak, tak mungkin Datuk membiarkan Barlian yang ke pasar."

"Kau masih bisa bersabar menunggu Kakak kan, Bar?"

"Hum." Barlian mengangguk. Menopangkan dagu di bahu kekasih hati, hingga jarak wajah keduanya hanya seruas jari.

Arul menelan ludah. Embusan hangat napas, juga aroma wangi lembut tubuh Barlian begitu menggoda iman. Berduaan dalam gerobak sapi melewati jalan yang sunyi membuat setan-setan di sekitar bersorak ria.

Jangan buang kesempatan ini, Rul! Nodai dia! Maka tak ada alasan lagi Datuk menghalangi hubungan kalian. Cepat kau peluk Barlian! Dia tak akan menolakmu, bisik setan penghasut sembari bergelantungan pada daun telinga Arul.

"Kakak kenapa?" tanya Barlian heran, melihat Arul menggeleng-gelengkan kepala.

'Jangan jadi laki-laki pengecut kau! Mumpung sepi, grepe-grepe dia, Rul! Si Barlian ini sangat penurut padamu. Manfaatkan kesempatan ini!'

Setan semakin gencar meracuni pikiran Arul.

Ah, grepe-grepe di tempat sepi begini? Tak mungkin aku bisa mengendalikan diri, sahut Arul pada godaan setan.

Ayolah, Rul! Cemen betul kau ini. Kesempatan bisa ena-ena. Jangan sampai nanti menyesal, nangis bombay kau. Cepat nodai dia! Nodai, nodai, nodai ... Bawa dia ke tempat sepi!"

"Ahh ... tidak!" dengkus Arul. Mulutnya mulai komat-kamit merafal dzikir dalam hati.

"Iih, kakak kenapa, sih?" Makin heran Barlian terhadap Arul yang sibuk melawan pikirannya sendiri.

Mata Barlian membulat. Seekor kaki seribu tiba-tiba menaiki jari kelingking kakinya.

"Kak Aruuul!!!" Pekiknya spontan sambil melompat ke pangkuan Arul. Memeluk erat tubuh pemuda itu.

"Kenapa, Bar?" Arul pun spontan membalas pelukannya.

"Ada kaki seribu, Kak! Barlian geli ... huhuuu ...." Semakin erat pelukan Barlian. Membuat Arul susah bergerak. Sudut matanya bisa melihat seekor kaki seribu yang merayap cepat ke sudut gerobak.

"Sudah, kaki seribunya sudah lari. Takut dia dengar teriakanmu," seloroh Arul terkekeh dengan tingkah Barlian yang kekanakan.

Mengeluh dalam hati Arul, Barlian masih enggan melepas pelukan, malah membenamkan wajah ke curuk lehernya. Menciptakan gelenyar rasa yang sulit diungkapkan.

Apalagi yang kau tunggu? Perempuan itu sudah menyerahkan diri padamu! Dia cantik dan seksi, Rul! Sikaaat!

Setan kian gencar menggoda. Arul benar-benar dalam ujian berat.

Aku menyayangi Barlian, aku tak mau merusaknya, jerit Arul dalam hati.

"Bar, lepas pelukanmu! Kaki seribunya sudah tak ada lagi," lirih Arul tercekat. Melawan keinginan kuat yang bergejolak dalam dirinya.

"Kenapa? Barlian bau ikan kah?" tanya Barlian manja. Ingat waktu dipasar tadi dia memilih-milih ikan belum cuci tangan.

"Bukan ...."

Sepertinya setan bukan cuma menggoda Arul. Barlian pun tak kalah keras digoda oleh mereka. Arul laksana candu untuknya.

Bugk bugk bugk!

Bunyi dinding kayu gerobak dipukul-pukul dari luar bercampur bunyi mesin motor.

"Ruuul ... Aruuul!!" Aman ternyata menyusul gerobak dengan ojek motor.

Arul dan Barlian yang hampir kehilangan kendali segera tersadar. Posisi saling tempel langsung diperbaiki. Kecewa bercampur lega Arul dengan kehadiran Aman.

****

Hilman dan Cahaya terseok-seok berpegangan tangan. Melewati kerumunan orang yang memenuhi halaman depan hotel. Pasangan itu tampak kompak dengan training warna biru.

Keberadaan sebuah ambulan di depan halaman hotel, sepertinya jadi penyebab kerumunan. Beberapa petugas berseragam terlihat sibuk mondar-mandir.

"Ada apa nih, Pak? Kok rame?" tanya Hilman pada seorang security.

"Ada orang meninggal, Pak," sahut pak security.

"Siapa?"

"Tamu hotel juga, Pak. Perempuan hamil. Belum jelas penyebabnya apa."

Hilman menoleh pada isterinya. "Jangan-jangan isterinya Karim."

"Masa sih, Mas. Bukan kali." Cahaya meremas tangan suaminya.

Sebuah brankard berisi kantong mayat didorong petugas ke arah ambulan. Karim terlihat ikut berjalan di belakangnya.

"Benar, Aya. Itu si Karim." Hilman menggamit Cahaya agar mendekat. Menyibak kerumunan orang-orang sekitar.

"Karim!" seru Hilman.

Namun, Karim tak mendengar seruannya. Laki-laki itu bergegas ikut memasuki mobil ambulan. Kesedihan mendalam tampak di raut wajah Karim. Mobil ambulan segera berlalu meninggalkan halaman hotel. Menyisakan raungan sirine yang semakin mengecil.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jurusankosong dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
profile picture
12-03-2021 01:28
Mantap
1
profile picture
kaskus geek
12-03-2021 03:09
Kemonthollll
1
profile picture
KASKUS Plus
12-03-2021 11:52
@pulaukapok opo kui artine emoticon-Leh Uga
1
profile picture
kaskus geek
12-03-2021 16:31
@banditos69
Ekekekek....
1
profile picture
kaskus addict
19-04-2021 09:13
"Grepe dia Rul" kwwkkwwkkw emoticon-Ngakak
0
Memuat data ...
1 - 5 dari 5 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia