News
Batal
KATEGORI
link has been copied
34
Lapor Hansip
06-03-2021 09:12

Gelar Referendum Bahas Larangan Cadar

Sebuah baliho bertuliskan "Hentikan Ekstremisme!" yang terpampang di luar kota Zurich, Swiss merupakan bentuk penolakan terhadap penggunaan cadar di area publik.

Gelar Referendum Bahas Larangan Cadar

Poster kampanye bertuliskan "Hentikan Islam Radikal!" dan "Hentikan Ekstremisme!" yang menampilkan seorang wanita dengan cadar hitam telah terpampang di sejumlah kota di Swiss. Papan iklan itu merupakan bagian dari kampanye Partai Rakyat Swiss (SVP) sayap kanan. Mereka mendesak larangan penggunaan penutup wajah di depan umum. Usulan tersebut akan dibahas dalam referendum nasional pada hari Minggu (07/03).

Poster saingannya berbunyi: "Tidak untuk hukum 'anti-burqa' yang absurd, tidak berguna dan Islamofobia."

"Ini masalah peradaban. Pria dan wanita bebas menampilkan diri dengan wajah tak tertutup," kata juru bicara kampanye Yes, Jean-Luc Addor.
"Ini adalah bentuk Islam yang ekstrem," katanya kepada AFP.

Namun sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Swiss akan mendukung usulan dan larangan tersebut, yang nantinya akan disahkan menjadi undang-undang. "Di Swiss, tradisi kami adalah menunjukkan wajah Anda. Itu adalah tanda kebebasan dasar kami," kata Walter Wobmann, anggota parlemen SVP dan ketua komite referendum.



Meski tidak menyebut Islam secara langsung, politisi, media, dan juru kampanye lokal menjulukinya sebagai larangan burqa (sebuah pakaian yang menutupi seluruh tubuh, biasa dikenakan oleh sebagian perempuan muslim).



Di bawah sistem demokrasi langsung Swiss, referendum dan suara populer terjadi setiap beberapa bulan di tingkat nasional, regional, dan lokal. Topik apa pun dapat diajukan ke pemungutan suara nasional selama mampu mengumpulkan 100 ribu tanda tangan.
Proposal itu diyakini memperparah hubungan Swiss dengan komunitas Islam, setelah masyarakat mendukung larangan pembangunan menara masjid baru pada tahun 2009. Wobmann mengatakan pemungutan suara tidak menentang Islam itu sendiri, tetapi menambahkan "penutup wajah adalah simbol dari politik ekstrem Islam yang semakin menonjol di Eropa dan tidak memiliki tempat di Swiss."

Larangan cadar di Eropa

Sebelumnya pada tahun 2011, Prancis secara resmi melarang penggunaan cadar di depan umum. Denmark, Austria, Belanda, dan Bulgaria juga melarang penuh atau sebagian terhadap penggunaan penutup wajah di area publik.



Universitas Lucerna memperkirakan tidak ada seorang pun di Swiss yang mengenakan cadar dan hanya sekitar 30 wanita yang mengenakan niqab.

Populasi muslim di Swiss hanya sekitar 5,2% dari total 8,6 juta penduduk yang sebagian besar berasal dari Turki, Bosnia, dan Kosovo. Warga muslim Swiss mengatakan partai-partai sayap kanan menggunakan pemungutan suara untuk mengumpulkan dukungan yang dapat memicu perpecahan lebih luas.



"Niqab adalah lembaran kosong yang memungkinkan orang untuk memproyeksikan ketakutan mereka," kata Andreas Tunger-Zanetti, Manajer Pusat Penelitian Agama di Universitas Lucerne. "Tapi ... Anda sangat tidak mungkin bertemu seseorang di jalanan Swiss mengenakannya."
Zanetti mengatakan larangan cadar berisiko memperkuat citra Swiss sebagai negara anti-Islam dan memicu kebencian di antara sebagian muslim.


Rifa'at Lenzin, seorang wanita muslim Swiss, mengatakan dia sepenuhnya menentang larangan tersebut. "Mengubah konstitusi untuk memberi tahu orang apa yang boleh dan tidak boleh mereka pakai adalah ide yang sangat buruk ... Ini Swiss, bukan Arab Saudi."
"Kami muslim tetapi kami adalah warga Swiss yang hidup dan tinggal di sini," kata Lenzin. "Pemungutan suara ini rasis dan Islamofobia."



Usulan yang kontroversial

Menteri Kehakiman Karin Keller-Sutter telah menekankan bahwa kebanyakan wanita yang terlihat mengenakan cadar adalah turis.

Komite Egerkingen yang mengajukan inisiatif ini sangat didukung oleh SVP, beberapa politisi liberal dan berhaluan kiri juga telah bergabung dalam kampanye yang mengatasnamakan melindungi hak-hak perempuan itu.

Namun, banyak organisasi feminis yang menentang larangan tersebut. "Selain tidak berguna, rencana ini rasis dan seksis," kata Ines El-Shikh, juru bicara kelompok perempuan muslim feminis Jilbab Ungu.



"Pada tahun 2021, tidak dapat diterima jika konstitusi Swiss memiliki artikel yang melarang wanita mengenakan apa pun yang mereka inginkan," katanya kepada AFP. "Apakah memakai rok mini, burqa atau topless, kita bebas memilih sendiri."


Kepala Human Rights Watch Ken Roth mengatakan bahwa sementara beberapa wanita muslim merasakan tekanan masyarakat. "Bagaimana sebuah pakaian tidak menimbulkan ancaman bagi orang lain," katanya.


https://www.dw.com/id/swiss-gelar-referendum-bahas-larangan-cadar/a-56773539


emoticon-Matabelo 


profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan Sadhunter memberi reputasi
2
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Gelar Referendum Bahas Larangan Cadar
06-03-2021 09:47
lagian juga mengherankan, masih ada saja orang yg mau mengimani agama yg penuh kebencian dan kedengkian seperti ini


agama ini penuh dgn doktrin2 yg sama sekali tidak ada manfaatnya, selain karena didasari kebencian mereka kpd golongan lain


contoh sederhana yg baru ane sadari dari cerita eyang,
dahulu petani kampung mengkultuskan ular,
dari pengkultusan ular tersebut, membuat petani tidak membunuh ular dan membuat sawah mereka jauh dari hama tikus

lalu berkembang agama kebencian, yg mengatakan mengkultuskan ular adalah perbuantan syirik dan kesesatan, yg akhirnya mebuat o petani sekarang sangt mudah mebunuh ular karen peritah agama kebencian ini


kepercayaan mengkultuskan ular ini memang bullshit, tapi paling tidak ada manfaat yg di dapat pada akhirnya


sedangkan di agama kebencian mewajibkan jilbab dan dikatakan hal yg mulia,
tapi pada akhirnya hanya membuat hidup ribet tanpa ada manfaat sedikitpun


jadi dapat dilihat yg mereka katakan syirik, justru pada akhirnya berguna
dan yg mereka katakan mulia justru membuat hidup ribet tidak ada manfaatnya
Diubah oleh fericow
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aniespawangair dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
profile picture
kaskus addict
06-03-2021 10:20
Iya gan bener.

Tp anehnya walau di bilng agama kebencia. Pemganutnya di sini mayoritas. Dan agam hidup di sini aman2 aja.
0
profile picture
kaskus addict
06-03-2021 11:00
@saugisarap

Krn manusia pada dasarnya punya hati emoticon-Smilie
0
profile picture
kaskus addict
06-03-2021 11:12
@nowabell klalau punya hati cm setengah??
0
profile picture
kaskus addict
06-03-2021 11:38
@saugisarap

Ya bagus, daripada ga ada hati n ga ada otak.
0
profile picture
kaskus maniac
06-03-2021 12:15
ajaran leluhur itu menyatu dengan alam, sangat rahmatan.
cuma begitu terjadi urbanisasi, tidak terhindarkan ajaran leluhur ditinggalkan. akibatnya ya jadi pemeluk agama komersil yang jualan omong kosong sorga.
hijrah yang sebenar-benarnya itu adalah kembali ke desa menyatu dengan alam, kembali ke leluhur maka kedamaian akan menyertai pula. bukan hijrah ala urban, bukannya kedamaian malah hidupnya penuh kebencian.
1
profile picture
kaskus addict
06-03-2021 12:47
@bodico whahhahahhahahhahhaahha
0
profile picture
Auto Banned
06-03-2021 13:26
Hahah itu ular... Belum caramah cecak wajib bunuh karna bisa niupin api jadi gede... Anjing wajib tabrak karna najis..darah hallol kl gk seiman ... Ajaran damai sekali
0
profile picture
kaskus maniac
06-03-2021 13:43
@saugisarap di mari memang mayoritas, tapi jangan lupa bahwa mereka itu nggak kaffah, alias masih ada sisa keluhuran nenek moyang.
jadi, kafir nggak dimusuhi, harus terima kasih ke nyi roro kidul, bukan ke anu.emoticon-Big Grin
0
profile picture
kaskus addict
06-03-2021 14:26
@bodico iya erserah agan aja bagaimana baiknya
0
Memuat data ...
1 - 9 dari 9 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia