Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
170
Lapor Hansip
05-09-2019 08:18

DERITA SEORANG WIBU



“CINTA KOK SAMA 2D”

“ANTEK PENJAJAH LU”

“WIBUU LU TAWOORAN BOZZ”

“UDAH GEDE NONTON KARTUN”

Jika anda tidak pernah diteriaki seperti itu maka bersyukurlah. Budaya luar sudah benar benar memiliki pengaruh kuat di Indonesia. Salah satu budaya yang masuk adalah budaya jejepangan dimana banyak orang mulai menikmati tontonan seperti anime maupun manga.

Disinilah masalahnya bermula. Sebagian dari tontonan itu (sebagian lo) memiliki dampak yang tidak baik bagi penontonnya. Mulai dari mengganti kata ‘apa?’ menjadi ‘nani?’ hingga bersikap hikikomori (atau NEET untuk gampangnya).

Dan seperti yang bisa dilihat, mereka (dan juga saya) mulai dianggap aneh dan ditertawakan. Ada yang mulai menjauhi dan ada pula yang berkoar koar dibelakang. Sesungguhnya segala hal yang bersikap merendahkan dan membeda bedakan orang lain adalah bentuk dari perilaku rasis.

Caramu memandang mereka, caramu berbicara pada mereka dan juga sikapmu pada mereka. Apakah kau memperlakukan mereka layaknya manusia biasa? Itulah rasisme. Membeda bedakan, diskriminasi, menjauhi. Semua itu adalah bentuk dari rasisme.

Tentu saja sikap rasis ini bukannya tidak berdasar. Banyak beredar di internet tentang perilaku perilaku dari seorang wibu akut yang sudah diluar nalar seorang manusia. Katakanlah seorang wibu yang mengira dirinya akan pergi ke isekai setelah mati atau seorang wibu yang mengira dirinya ditakdirkan untuk menghancurkan dunia. Hal hal seperti ini jelas memiliki dampak buruk pada reputasi seorang wibu sehingga semakin banyak orang yang bersikap rasis pada mereka (dan juga saya).

DERITA SEORANG WIBU

Padahal sesungguhnya memiliki ketertarikan pada budaya jejepangan tidaklah salah. Menonton anime sama saja dengan menonton sinetron. Ada yang baik dan ada yang buruk, hanya saja sumbernya berbeda. Malah (menurut saya) kebanyakan anime jauh lebih bagus dibanding sinetron di Indonesia.

Hal itu juga berlaku untuk wibu. Ada wibu yang benar benar tak tertolong tapi lebih banyak wibu yang biasa biasa saja, mereka (dan saya tentunya) masih mampu memilah antara yang baik dan yang buruk dan juga mampu membedakan kenyataan dengan khayalan.

Itu berlaku untuk semua manusia. Tidak semua orang Batak itu kasar, tidak semua orang Jawa itu halus, tidak semua orang Papua itu buruk. Segala hal memiliki sisi baik dan buruknya masing masing.

Karna itu, tolong, jangan melihat sesuatu hanya dari sampel kecilnya saja. Tidak semua wibu itu aneh dan berbahaya. Malah banyak wibu yang pintar dan berpengetahuan luas karna banyak menonton dan membaca. Cobalah berteman dengan mereka dan kau akan tahu, bahwa mereka hanyalah manusia seperti yang lainnya.

Sekian dari saya mari bertemu di thread saya yang lainnya.

DERITA SEORANG WIBU

Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rykenpb dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
DERITA SEORANG WIBU
28-01-2021 17:00
Quote:Original Posted By ih.sul


“CINTA KOK SAMA 2D”

“ANTEK PENJAJAH LU”

“WIBUU LU TAWOORAN BOZZ”

“UDAH GEDE NONTON KARTUN”

Jika anda tidak pernah diteriaki seperti itu maka bersyukurlah. Budaya luar sudah benar benar memiliki pengaruh kuat di Indonesia. Salah satu budaya yang masuk adalah budaya jejepangan dimana banyak orang mulai menikmati tontonan seperti anime maupun manga.

Disinilah masalahnya bermula. Sebagian dari tontonan itu (sebagian lo) memiliki dampak yang tidak baik bagi penontonnya. Mulai dari mengganti kata ‘apa?’ menjadi ‘nani?’ hingga bersikap hikikomori (atau NEET untuk gampangnya).

Dan seperti yang bisa dilihat, mereka (dan juga saya) mulai dianggap aneh dan ditertawakan. Ada yang mulai menjauhi dan ada pula yang berkoar koar dibelakang. Sesungguhnya segala hal yang bersikap merendahkan dan membeda bedakan orang lain adalah bentuk dari perilaku rasis.

Caramu memandang mereka, caramu berbicara pada mereka dan juga sikapmu pada mereka. Apakah kau memperlakukan mereka layaknya manusia biasa? Itulah rasisme. Membeda bedakan, diskriminasi, menjauhi. Semua itu adalah bentuk dari rasisme.

Tentu saja sikap rasis ini bukannya tidak berdasar. Banyak beredar di internet tentang perilaku perilaku dari seorang wibu akut yang sudah diluar nalar seorang manusia. Katakanlah seorang wibu yang mengira dirinya akan pergi ke isekai setelah mati atau seorang wibu yang mengira dirinya ditakdirkan untuk menghancurkan dunia. Hal hal seperti ini jelas memiliki dampak buruk pada reputasi seorang wibu sehingga semakin banyak orang yang bersikap rasis pada mereka (dan juga saya).

DERITA SEORANG WIBU

Padahal sesungguhnya memiliki ketertarikan pada budaya jejepangan tidaklah salah. Menonton anime sama saja dengan menonton sinetron. Ada yang baik dan ada yang buruk, hanya saja sumbernya berbeda. Malah (menurut saya) kebanyakan anime jauh lebih bagus dibanding sinetron di Indonesia.

Hal itu juga berlaku untuk wibu. Ada wibu yang benar benar tak tertolong tapi lebih banyak wibu yang biasa biasa saja, mereka (dan saya tentunya) masih mampu memilah antara yang baik dan yang buruk dan juga mampu membedakan kenyataan dengan khayalan.

Itu berlaku untuk semua manusia. Tidak semua orang Batak itu kasar, tidak semua orang Jawa itu halus, tidak semua orang Papua itu buruk. Segala hal memiliki sisi baik dan buruknya masing masing.

Karna itu, tolong, jangan melihat sesuatu hanya dari sampel kecilnya saja. Tidak semua wibu itu aneh dan berbahaya. Malah banyak wibu yang pintar dan berpengetahuan luas karna banyak menonton dan membaca. Cobalah berteman dengan mereka dan kau akan tahu, bahwa mereka hanyalah manusia seperti yang lainnya.

Sekian dari saya mari bertemu di thread saya yang lainnya.

DERITA SEORANG WIBU



@ventisca @comrade.frias
profile-picture
comrade.frias memberi reputasi
1 0
1
profile picture
kaskus geek
28-01-2021 18:13


Kamu Wibu, Aku Wibu Kita semua Wibu
0
Memuat data ...
1 - 1 dari 1 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia