News
Batal
KATEGORI
link has been copied
401
Lapor Hansip
12-01-2021 06:38

Biar Ditodong Dengan Pistol, Saya Tidak Mau Divaksin Gunakan Sinovac!

Biar Ditodong Dengan Pistol, Saya Tidak Mau Divaksin Gunakan Sinovac!

Dear Para Dokter dan Nakes, dan Para Orangtua yang memiliki Anak Nakes yang sudah menghubungi saya melalui whatssap, telpon, maupun inbox.

Terkait dengan “undangan” melakukan Vaksinasi kepada Para Nakes yang sudah diedarkan oleh Satgas COVID-19 di masing-masing daerah.

Pertanyaan yang disampaikan rata-rata seragam, mengerucut kepada tiga pertanyaan sebagai berikut:

Satu

“Dokter Tifa, saya Dokter XXX di wilayah YYY, sudah mendapat undangan untuk menjalankan vaksin. Seperti sudah disampaikan Menkes, kloter pertama penyuntikan vaksin kan menggunakan vaksin Sinovac, Dok. Bagaimana cara menolaknya Dok? Saya ngga mau disuntik vaksin kualitas rendah dari Cina lagi. Mohon advis, Dok”

Dua

“Dokter, saya seorang Ibu dengan dua anak saya Dokter, yang sekarang sedang jadi Residen (Peserta Program Spesialis) dan tugas di Rumah Sakit ZZZ. Kedua anak saya sudah dapat panggilan untuk suntik Vaksin, Dok. Terus terang saya tidak ikhlas anak saya mendapat vaksin Sinovac. Kalaupun anak-anak saya harus divaksin, saya mau anak-anak saya dapat vaksin dengan kualitas lebih baik, setidaknya yang dari Pfizer. Saya rela bayar sendiri walaupun mahal sekalipun, asalkan vaksin buat anak-anak saya bukan dari Sinovac. Bagaimana jalan keluarnya, Dok?”

Tiga

“Dokter, saya Perawat di kota AAA, sudah dapat notifikasi untuk divaksin. Bisa ngga sih Dok menghindari divaksin? Apa saya pura-pura suntik saja dengan teman-teman sesama Nakes, tapi vaksinnya saya buang saja? Nanti kalau vaksin Indonesia sudah jadi, Vaksin Merah Putih, kami baru mau disuntik Vaksin betulan”

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, jumlahnya ribuan. Bayangkan saja apa tidak pecah kepala saya harus melayani ribuan pertanyaan seperti ini, yang saya yakin Dokter Tedros Adanom Gebreyessus Dirjen WHO saja pasti tidak bisa jawab dengan mudah.

Saya tidak punya opsi dan otoritas untuk menjawab pertanyaan di atas. Saya serahkan kepada hati nurani Anda masing-masing.

Untuk saya sendiri, saya punya jawaban. Saya tidak mengajak atau menghasut atau memprovokasi Anda semua untuk mengikuti saya.

Saya jawab dengan dengan jawaban tegas untuk diri sendiri.

“Saya tidak mengizinkan siapapun juga, walau dengan todongan pistol sekalipun, walau dengan ancaman saya dipecat sekalipun, walau dengan ancaman denda sekalipun, walau dengan ancaman pidana sekalipun, untuk menyuntikkan Vaksin Corona, selain Vaksin Merah Putih”.

“Kalau seandainya saya mengalami efek samping ringan, sedang, atau berat, atau sampai mati sekalipun, saya lebih baik mengalaminya karena Vaksin Merah Putih, bukan karena Vaksin yang lain. Seandainya saya mati karena Vaksin Merah Putih, setidaknya kematian saya berjasa, untuk membuat Peneliti Vaksin Merah Putih, memperbaiki kualitas Vaksin tersebut, agar tidak terjadi lagi pada diri orang lain”

“Tentu saja sebelum saya disuntik dengan Vaksin Merah Putih, saya akan mempersiapkan segala sesuatunya, sehingga ketika penyuntikan itu terjadi, maka pencegahan terjadinya Adverse Effect sampai pada syok anafilaksi yang berpotensi menyebabkan kematian, bisa terhindarkan. Semoga Allah swt melindungi, menjaga, dan memberikan kesempatan usia panjang bagi saya, sehingga saya masih memiliki banyak waktu untuk berdarmabakti bagi umat manusia, bangsa, dan negara”.

Karena itu, saya akan menunggu dengan sabar, dengan Protokol Super Ketat, dengan kehati-hatian tingkat tinggi, sampai Vaksin Merah Putih jadi, dan siap diedarkan, dan siap digunakan.

Tidak ada satupun negara di kolong bumi ini, boleh melakukan program penyuntikan Vaksinasi, dalam situasi emergency sekalipun, dengan ancaman kepada rakyatnya. Oleh WHO, sejak WHO berdiri di tahun 1958, Vaksinasi adalah Program Sukarela, bukan program Mandatory.

Tugas Pemerintah, untuk MENYEDIAKAN VAKSIN TERBAIK, memberikan edukasi terbaik, memberikan pemahaman terbaik.

Bukan memberikan ANCAMAN DAN HUKUMAN KEPADA RAKYATNYA.

Biar Ditodong Dengan Pistol, Saya Tidak Mau Divaksin Gunakan Sinovac!

Kalau ada satu Rakyat, yang cedera karena Vaksin, yang meninggal karena Vaksin,

Saya mau tanya kepada Presiden, kepada Menteri Kesehatan”

Tanggungjawab apa yang bisa Anda berikan kepada Penerima Vaksin?

Dari ketiga pertanyaan di atas, seharusnya Pemerintah, Presiden dan Menkesnya, punya kepekaan yang tinggi.

Semua Nakes, seluruh Rakyat Indonesia, sadar, bahwa Vaksinasi Corona, demi agar Pandemi ini bisa segera selesai, adalah pilihan yang harus dipertimbangkan.

Dan apabila Pemerintah, punya kehendak baik, untuk menyediakan yang terbaik bagi rakyatnya, dan tidak memberikan vaksin sembarangan dengan risiko yang harus ditanggung oleh Rakyat sendiri,

Mensupport, mendukung, dan mendorong secara penuh, agar Vaksin Merah Putih segera jadi dan bisa digunakan secepat mungkin.

Kita Laboratorium, Pabrik Vaksin, Ilmuwan hebat-hebat yang sudah puluhan tahun memproduksi Vaksin, bahkan mengekspor ke negara-negara lain.

Dan Para Ilmuwan itu, sudah menyatakan SANGGUP untuk membuat Vaksin MERAH PUTIH, dan asalkan Pemerintah mensupport, Vaksin bisa jadi tahun 2021, dan bisa digunakan secara luas.

Pertanyaan saya: Kenapa Vaksin Merah Putih tidak disupport, didukung, disegerakan untuk jadi?

Sekali lagi saya tegaskan di sini. Saya tidak Anti Vaksin. Tetapi saya tidak mau disuntik Vaksin selain Vaksin dari Virus Asli Indonesia, Vaksin yang dibuat oleh Bangsa Indonesia sendiri.

TITIK!


Biar Ditodong Dengan Pistol, Saya Tidak Mau Divaksin Gunakan Sinovac!

Biar Ditodong dengan Pistol, Saya Tidak Mau Divaksin Gunakan Sinovac!

Ada benar-nya juga ya yang dibilang si ibu Dokter, kenapa rakyat Indonesia dipaksa harus gunakan vaksin Sinovac buatan China yang berkualitas rendah emoticon-cystg
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 66 lainnya memberi reputasi
39
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Biar Ditodong Dengan Pistol, Saya Tidak Mau Divaksin Gunakan Sinovac!
12-01-2021 11:41
Itulah begonnya orang Indonesia. Lu gak vaksin berarti 0% kemungkinan lu aman dari Covid.

Lu suntik jadi 65%. Ya berarti 65% hidup lu serta family lu lebih aman dan semoga terbebas dari Covid.

Pfizer itu tulisnya 90%+ tapi infranya mau -70Celcius yang indonesia tidak sanggup sediakan.

Modena ada kasus dimana beberapa yang disuntik, after efeknya juga agak berat.

Semua itu ada kasus sendiri. Yang penting habis suntik, kalian sehat sehat ya suntik donk.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
antikhilafah dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
profile picture
kaskus addict
12-01-2021 12:02
Masyarakat jadi false sense of security, dikira udah kebal vaksin, padahal 35% masih mungkin kena vaksin..Akhirnya semua masyarakat beranggapan 'vaksin' gak mempan..3 dari 10 orang itu lumayan banyak loh.
0
profile picture
kaskus addict
12-01-2021 14:52
@jazarja Jangankan itu. Yang sudah terkena Covid dan sembuh pun masih bisa kena kalau tidak mau menjaga kesehatan dan kebersihan.

Harus tetap diajari sih fokusnya. Cuma saat ini terlalu banyak dokter Whatsapp dan Facebook. Jadi susah.

Orang2 lebih percaya dukun atau orang yang pintar bicara dibanding orang yang sudah menghabiskan 2 dekade belajar di penelitian vaksin.
0
Memuat data ...
1 - 2 dari 2 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia