Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
530
Lapor Hansip
20-11-2020 22:40

Hari pasaran, tradisi weton dan kalender penanggalan Jawa



Hari pasaran, tradisi weton dan kalender penanggalan Jawa


Hari pasaran, tradisi weton dan kalender penanggalan Jawa



   Halo agan dan sista semua, selamat datang di thread saya kali ini yang membahas soal kalender penanggalan, weton dan hari pasaran. Meskipun Indonesia memakai sistem penanggalan tahun Masehi sebagai patokan kalender, tapi sebenarnya beberapa suku di Indonesia juga telah memiliki dan sampai saat ini masih memakai kalender penanggalan tradisionalnya sendiri-sendiri. 


Hari pasaran, tradisi weton dan kalender penanggalan Jawa


     Seperti misalnya kalender Sunda (Saka Sunda, Candrakala dan Sukrakala), kalender Jawa, kalender Bali (Saka Bali), Sumatra, dan Sulawesi. Semua kalender itu hampir mirip satu sama lain, cuma nama bulan dan nama hari yang berbeda. Dalam thread kali ini kita akan membahas penanggalan pada kalender Jawa.

     Di ibukota, kita telah mengenal nama pasar yang diambil dari nama hari, seperti misal Pasar Senen, Pasar Rebo, dan Pasar Minggu, karena pada jaman dulu memang pasar itu cuma melakukan aktivitas jual-beli pada hari senin, rabu dan minggu. Ternyata bukan di ibukota saja yang nama pasarnya diambil dari nama hari. 

     Seperti di Jawa, dalam masyarakat Jawa dikenal nama-nama pasar yang diambil dari nama hari dalam kalender jawa, seperti Pasar Legi, Pasar Pon, Pasar Kliwon, dan sebagainya. Dan seperti pasar di ibukota, pasar di Jawa ini dulunya cuma buka di hari Legi, Pon dan Kliwon, suatu nama hari dalam kalender Jawa, yang juga disebut sebagai hari pasaran. Sistem hari pasaran ini juga digunakan pada kalender Bali, hanya saja nama-nama harinya berbeda.

     Jumlah hari pasaran dalam kalender jawa itu sendiri cuma terdiri dari lima hari, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Sebenarnya masyarakat Jawa menggunakan dua macam sistem pekan, yaitu pekan Pancawara, satu pekan yang terdiri dari lima hari seperti yang telah disebutkan, dan pekan Saptawara, satu pekan yang terdiri dari 7 hari. Saptawara itu sendiri mengikuti siklus pekan dalam kalender masehi, nama harinya pun mengikuti nama hari dalam tahun masehi, yaitu minggu sampai sabtu.

     Hari pasaran juga merupakan perlambangan sikap badan. Kliwon (kasih) melambangkan sikap berdiri, Legi (manis) melambangkan sikap berbalik arah, Pahing (pahit) melambangkan sikap menghadap ke depan, Pon (putih) melambangkan sikap tidur, dan Wage (hitam) melambangkan sikap duduk.

     Dalam kalender Jawa, dalam satu hari itu selalu mempunyai dua nama, seperti misalnya  Rabu Legi atau Jumat Kliwon, maka dalam sebuah penulisan pada hari dan tanggal, seperti misal penulisan hari dan tanggal dalam suatu undangan pernikahan, maka nama harinya akan ditulis dengan dua nama. Weton atau hari kelahiran seseorang juga mempunyai dua nama hari. 

    Menurut tradisi jawa, dengan menghitung hari weton kedua pasangan yang akan menikah, maka bisa diketahui pasangan itu cocok atau tidak, berjodoh atau tidak, bahkan kehidupan rumah tangga yang bagaimana yang akan dijalani nanti, bisa diperkirakan dengan menghitung neptu atau nepton dari weton atau hari lahir pasangan tersebut. 

   Sedangkan neptu atau nepton itu sendiri adalah bobot angka yang dimiliki oleh sebuah hari. Setiap nama hari memiliki bobot angka sendiri-sendiri. Bobot angka untuk lima hari dalam sepekan atau Pancawara adalah Pahing berbobot angka 9, Pon berbobot angka 7, Wage berbobot angka 4, Kliwon berbobot angka 8, dan Legi berbobot angka 5.

     Sementara neptu atau bobot angka pekan yang tujuh hari atau Saptawara adalah Senin berbobot angka 4, Selasa berbobot angka 3, Rabu berbobot angka 7, Kamis berbobot angka 8, Jumat berbobot  angka 6, Sabtu berbobot angka 9, dan Minggu berbobot angka 5.

   Hari weton atau kelahiran ini juga digunakan sebagai perhitungan untuk menentukan kapan hari dan tanggal yang baik untuk melangsungkan pernikahan, dengan melakukan perhitungan yang lumayan rumit dari neptu weton kedua mempelai. Perhitungan itu menggunakan rumus (jumlah neptu weton kedua mempelai + hari baik) : 5, tapi harus masih menyisakan 3.

     Seperti misalnya mempelai pria lahir di hari Sabtu Pahing, maka jumlah neptunya adalah 18. Sedangkan mempelai wanita lahir hari Selasa kliwon, jadi jumlah neptunya adalah 11. Maka gabungan neptu dari kedua mempelai menjadi berjumlah 29. 

    Jadi perhitungannya adalah (29 + angka baik) : 5, tapi masih sisa 3. Dan satu-satunya angka yang jika ditambahkan 29 bisa dibagi 5 tapi masih sisa 3 adalah 9. Jadi penjumlahannya adalah (29+9): 5 = 38:5, maka diperoleh 7 dan masih sisa 3. Berarti hasil dari perhitungan itu adalah angka 9. Dan hasil angka 9 itu dicocokkan dengan tabel hari weton pernikahan seperti di bawah ini.


Hari pasaran, tradisi weton dan kalender penanggalan Jawa



   Dari perhitungan yang menghasilkan angka 9 yang kemudian dicocokkan dengan tabel diatas, maka didapatlah hari baik yaitu senin Legi dan minggu Wage. Dua hari itulah yang  menjadi hari terbaik bagi pasangan tersebut untuk melangsungkan pernikahan. Pasangan bisa memilih salah satu diantara senin legi atau minggu Wage.

    Untuk menentukan bulan yang baik untuk menikah, maka kedua mempelai tidak perlu lagi melakukan suatu perhitungan yang rumit seperti diatas, tapi cukup dengan melihat tabel hitungan weton bulan pernikahan seperti di bawah ini.


Hari pasaran, tradisi weton dan kalender penanggalan Jawa



    Perhitungan weton juga dipakai untuk memperkirakan cocok dan tidaknya pasangan yang mau menikah, memperkirakan bagaimana kehidupan pasangan itu setelah menikah, maka bisa dihitung dari weton pasangan itu. Perhitungan ini tidak rumit seperti menghitung hari baik pernikahan. Cuma dengan menjumlahkan bobot angka atau neptu dari weton pasangan itu, lalu dicocokkan dengan tabel di bawah ini, maka akan didapat perkiraan bagaimana kehidupan mereka kelak.


Hari pasaran, tradisi weton dan kalender penanggalan Jawa



    Perhitungan weton dan neptu ini tidak hanya digunakan dalam pernikahan saja, tapi juga digunakan dalam menentukan hari baik untuk pindah rumah, kapan waktu yang tepat untuk bercocok tanam,  berburu, mencari ikan, sebagai patokan bagi seseorang untuk memulai sebuah tirakat seperti misalnya berpuasa, bahkan juga untuk menentukan arah yang baik untuk mencari rejeki. Semua perhitungan itu berdasarkan kitab primbon Jawa.

    Nama-nama bulan dalam kalender jawa diambil dari gabungan antara bahasa arab, kalender hijriah, bahasa sansekerta dan melayu yang dilebur ke dalam bahasa jawa, atau mungkin telah diubah dan disesuaikan agar lebih familiar dengan 'lidah jawa'. emoticon-Big Grin  Nama-nama bulan itu sendiri adalah Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Séla, dan Besar. Dan jumlah hari dalam tiap satu bulan itu adalah 29 sampai 30 hari.

    Seperti nama tahun dalam kalender cina yang menggunakan nama hewan, kalender jawa juga mempunyai nama tahun sendiri. Dan nama tahun itu adalah Purwana yang artinya mulai berniat, Karyana yang artinya melakukan, Anama yang artinya pekerjaan, Lalana yang artinya proses dan atau nasib, Ngawana yang artinya hidup, Pawaka yang artinya selalu kembali, Wasana yang artinya arah, Swasana yang artinya kosong.

     Sebelum tahun 1633 masehi, masyarakat Jawa sudah menggunakan tahun Saka sebagai kalendernya. Tapi pada tahun 1633 tahun Masehi atau 1555 tahun Saka, Sultan Agung raja Mataram mengubah sistem tahun Saka itu menjadi tahun Jawa yang berbasis pada perputaran bulan, sedangkan penanggalan tahun Saka itu berbasis pada perputaran matahari. Dan anehnya, angka tahun Jawa itu tetap meneruskan penanggalan tahun Saka, dari tahun 1555 Saka menjadi 1555 Jawa. Sedangkan tahun Saka itu sendiri adalah sistem penanggalan yang berasal dari India. 

    Sistem penanggalan yang dibuat Sultan Agung itu adalah perpaduan dari sistem penanggalan Islam, penanggalan Hindu dan penanggalan Julian, yaitu penanggalan dari budaya barat. Karena Sultan Agung ingin menanamkan Islam dengan keras kepada masyarakat Jawa, maka nama-nama bulan pada kalender Jawa kebanyakan diambil dari nama bulan pada kalender Hijriah dengan beberapa penyesuaian agar lebih mudah diucapkan oleh masyarakat Jawa.

   Sistem penanggalan jawa ini sudah berlangsung sejak lama dan merupakan suatu tradisi kuno yang turun temurun. Demikianlah trit saya kali ini, soal percaya atau tidaknya pada penghitungan jodoh dan rejeki, saya serahkan pada agan dan sista semua. Karena jodoh, rejeki dan maut itu sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Moga thread ini bisa berguna buat agan dan sista semua...


Source1, Source2, Source3, Source4, Source5 

Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 48 lainnya memberi reputasi
49
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Hari pasaran, tradisi weton dan kalender penanggalan Jawa
28-11-2020 14:06
Iya Om @sagutumbuk semoga keinginannya Allah ijabah ya aamiin...

Iya Mbak cantik @lenitan masama ya...
emoticon-Nyepi emoticon-terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sagutumbuk dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia