Kaskus

Story

Kategori

Pengaturan

Mode Malambeta
Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Syarat & Ketentuan

Kebijakan Privasi

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

watcheatnsleepAvatar border
TS
watcheatnsleep
Awakening (Supranatural & Romance)
Awakening (Supranatural & Romance)

Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.


INTRO

"Mereka" yang lebih dikenal dengan sebutan hantu, setan, jin, roh, makhluk halus dan sejenisnya, sejak dahulu kala eksistensi mereka selalu memicu suatu perdebatan. Begitu juga dengan Rama, seorang mahasiswa yang awalnya tak begitu percaya akan adanya keberadaan mereka, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan, bahwa ternyata eksistensi “Mereka” benar adanya.

Semua itu bermula dari pertemuannya dengan Adellia. Seorang wanita misterius yang menyimpan segudang rahasia di balik figurnya. Tanpa disadari Rama, benih-benih cinta telah timbul pada pandangan yang pertama. Sebuah rasa yang muncul untuk pertama kali dalam hidupnya.

Wanita demi wanita muncul mewarnai hidup Rama, bersamaan dengan setumpuk masalah yang mereka emban. Di sisi lain, bangkitnya indra keenam Rama seakan menuntunnya kepada sebuah perjalanan panjang untuk mencari jati dirinya.

Akankah Rama berhasil menemukan jati dirinya?


INDEKS
SEASON 1 : SIXTH SENSE
1. Sebuah Awal
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut
44. Ancaman
45. Cerita Dibalik Rara
46. Kurang Tahan Lama
47. Hadiah
48. Rencana
49. Eksperimen
50. Titipan Eyang
51. Kecil
52. Penangkapan
53. Merek Baju
54. Drama
55. Pesan Singkat
56. Nadia
57. Hujan
58. Pesugihan
59. Hilang
60. Kolam
61. Kerjasama
62. Perang
63. Pengorbanan
64. Kisah Putra
65. Jatuhu
66. Awakening
67. Kabar Buruk
68. Raga Sukma
69. Perpisahan <END>

AWAKENING SEASON 2 : AMURTI
Link : https://kask.us/iOTnR

Wattpad : @vikrama_nirwasita
Karyakarsa : vikrama
Instagram : @vikrama_nirwasita


Terimakasih emoticon-Big Grin

Diubah oleh watcheatnsleep 04-04-2023 00:03
efti108Avatar border
khodzimzzAvatar border
madezeroAvatar border
madezero dan 86 lainnya memberi reputasi
85
127.3K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
watcheatnsleepAvatar border
TS
watcheatnsleep
#315
Chapter 42 Pulang ke Kost
"Lo liatin siapa, Ram? Kok serius amat muka lo," tanya Putra dengan bingung.

"Ha? Gapapa, Put. Cuma ngeliatin temen gua doang," jawabku tanpa menoleh dan membalas tatapannya.

"Oh, ya udah," ucap Putra lalu melanjutkan pembicaraannya dengan Alvin.

Aku tak bisa menanggapi Putra dengan serius saat itu. Alih-alih menanggapinya, aku terus berfokus memandangi Melissa, yang tampaknya sedang berbicara dengan teman-temannya.

Entah kenapa, aku merasa sangat gelisah dan tidak tenang saat melihat figur Melissa. Soalnya, aku merasa senyuman di raut wajahnya sungguh terpaksa. Begitu juga tingkah lakunya yang terlihat sangat kaku dan tidak nyaman.

Melissa tampaknya menghindari tatapanku, sebab beberapa kali aku melihatnya melirik ke arahku. Namun dia langsung berpaling dengan cepat. Dari gerak-geriknya, sepertinya dia tidak terlalu kenal dan akrab dengan kedua pria tersebut.

Tampak dari gaya bicara serta bahasa tubuhnya yang tidak bebas dan berbeda dari dirinya yang biasanya. Sejujurnya aku tak mengerti mengapa Melissa datang ke tempat semacam ini.

Aku menjadi bingung, apakah aku harus bertanya langsung kepadanya atau membiarkannya dan tidak usah ikut campur urusannya. Pikiran dan batinku menjadi sibuk berdebat akan pilihan mana yang harusnya kulakukan. Pikiranku mengatakan untuk tidak ikut campur dan tidak memperdulikannya. Sedangkan sebaliknya, batinku berteriak agar aku mencari tahu dan bertanya langsung ke Melissa.

Beberapa saat kemudian, aku melihat kedua pria itu menawarkan minuman kepada Melissa sambil tersenyum. Tetapi Melissa menolak minuman yang diberikan oleh mereka berdua.

Tak mau menyerah, kedua pria itu sepertinya menawarkan Melissa untuk memesan minumannya sendiri. Begitu juga dengan wanita di sampingnya yang sepertinya membujuknya agar menerima tawaran kedua pria tersebut.

Tampaknya Melissa luluh akan perkataaan mereka, tak lama kemudian minuman pesanannya pun tiba. Melissa mulai mencicipi minuman itu sedikit demi sedikit. Begitu juga dengan kedua pria dan wanita di sebelahnya yang tampak berbicara dengan heboh sambil tertawa. Karena suasana club yang mulai ramai dan ditambah lagi dengan musik yang sangat kuat, aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka.

"Ram, lo ada masalah sama orang itu?" tanya Putra.

"Nggak kok, emangnya kenapa, Put?" balasku dengan bingung.

"Dari tadi lo ngeliatin tu orang gak berhenti-henti. Emangnya temen lo yang mana sih?" tanya Putra penasaran.

"Itu cewek yang lagi duduk pake jaket hitam," jawabku sembari melirik Melissa.

"Oh, boleh juga, tuh. Tapi lo yakin itu cuma temen doang?" ucap Putra dengan nada yang ambigu.

"Iya, cuma temen doang kok," balasku.

"Serius, nih? Entar gua embat duluan loh, haha," ejek Putra sambil tertawa kecil.

"Kalo enggak biar buat gua aja," tambah Alvin.

Aku hanya diam dan merespon omongan mereka dengan senyuman kecil, sebab mood-ku mulai terasa memburuk saat itu. Melihat responku yang dingin, Putra berhenti tertawa dan mengalihkan perhatian dengan cara mengajak Alvin berbicara. Sialnya, karena sudah kebelet buang air kecil, akhirnya aku terpaksa pergi ke toilet terlebih dahulu.

Beberapa menit kemudian, setelah aku selesai buang air kecil, aku sengaja berjalan melewati meja Melissa untuk menarik perhatiannya. Sayangnya, dia pura-pura tidak melihat dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku berpikir, sepertinya dia tidak ingin mengenalku saat ini.

Sejujurnya aku merasa kesal dan sedikit marah saat itu, apakah sikap yang ditunjukkannya selama ini hanya akting belaka. Perasaanku benar-benar terasa kacau dan campur aduk, antara harus memercayai dia memiliki alasan tertentu atau dia malu berteman denganku. Mungkin ini karena pada dasarnya sifatku yang overthinking dan ragu.

Aku kembali duduk di meja sebelumnya dan sesekali memerhatikan meja Melissa lagi. Hingga beberapa saat kemudian, aku memerhatikan wajah Melissa yang tampaknya lemas dan kedua matanya berkedip dengan cepat. Kedua pria itu terus-menerus menawarinya untuk minum lagi dan lagi. Walau Melissa selalu menolaknya, dia makin lama tampak semakin lemas dan tak berdaya.

Aku curiga bahwa kedua pria itu sudah memasukkan sesuatu ke minuman Melissa. Tapi di sisi lain, bisa saja Melissa yang pada dasarnya tidak kuat akan minuman beralkohol. Tapi entah kenapa, aku merasa kedua pria itu memiliki tujuan dan niat yang buruk kepada Melissa. Terlebih lagi dari gerak-gerik dan pandangan mata mereka yang sangat liar.

Lagi dan lagi, pikiran dan batinku berdebat akan apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus mendatanginya dan langsung membawanya pulang, atau tetap diam dan menunggu lebih lama lagi. Secara tak sadar, tingkahku tampaknya sangat gelisah hingga Putra memandangku dengan tatapan yang aneh.

"Put, kalo gua pulang duluan gapapa, ya?" tanyaku setelah berpikir sejenak.

"Emangnya kenapa, Ram? Lo ada masalah, ya?" Putra bertanya balik sembari memegang pundakku.

Aku mengangguk lalu berkata, "Kayaknya gua mau bawa paksa temen gua, Put."

Putra langsung memandang ke arah Melissa, lalu menatapku serius.

"Gimana, Put?" tanyaku pelan.

"Lanjut aja, Ram. Entar gua bantu anter kok," ucap Putra sambil tersenyum kecil lalu menepuk-nepuk pundakku.

Aku berpikir, sepertinya Putra mengerti tentang apa yang akan kulakukan dan telah bersiap untuk membantuku jika terjadi apa-apa.

“Gua samperin dia dulu, Put."

Tanpa berlama-lama aku beranjak dari sofa dan langsung melangkah mendekati meja Melissa. Sesampainya di sana, aku sengaja berdiri di depan pandangannya agar dia tak bisa menghindar lagi.

"Lo ngapain di sini, Mel?" tanyaku sambil menatapnya dengan serius.

Melissa hanya diam dan menghindari tatapan mataku dengan raut wajah yang merasa bersalah. Sementara itu, kedua pria dan teman wanita yang sedang duduk hanya memerhatikanku dengan ekspresi wajah yang bingung. Sepertinya mereka juga menantikan jawaban dan penjelasan dari mulut Melissa langsung.

Perlahan, aku mendekati posisinya dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Kayaknya lo mulai mabok, Mel. Mending lo pulang bareng gua aja, ya."

Setelah mendengar bisikanku, Melissa meresponku dengan tatapan mata yang sayu dan anggukan pelan. Tanpa basa-basi, aku langsung memegang tangannya dan mencoba membawanya pergi dari meja itu.

Tapi sayangnya, pria berkacamata langsung mengahalangiku jalanku sembari memegang bahuku.

"Santai dong, Bos. Sini duduk bareng kita dulu. Kita ngobrol-ngobrol dulu sambil kenalan," ucapnya dengan enteng.

"Sorry, kita mau langsung balik aja," balasku datar.

"Emangnya lo siapanya? Ada urusan apa sama Melissa?" tanya Pria itu dengan nada dan raut wajah yang sinis.

Tanpa membalas ucapannya, aku menggoyangkan lenganku hingga berhasil membuat genggaman tangannya terlepas dari bahuku.

Pria itu tak menyerah juga, kini genggamannya berada pada kerah bajuku. "Lo bisa ngomong, gak? Jangan sampe gw main kasar, nih."

Aku lantas menabraknya hingga membuatnya terjatuh. Tanpa memedulikannya, aku memapah Melissa menuju meja Putra terlebih dahulu.

"Lo mau kemana woi!” teriak pria satunya yang berambut kribo.

Kerumunan orang-orang di sekitar mulai memandang ke arah kami. Suara riuh kian menyebar pada seisi klub. Malam itu, kami telah menjadi sebuah pusat perhatian.

“Mau pulang,” jawabku datar.

Pria berkacamata itu bangkit dari lantai dengan wajah yang merah seperti tomat, lalu dia membentakku. “Lo belum jawab pertanyaan gua!”

“Gua temennya, puas?” ucapku sembari menatapnya jijik.

Mendengar ucapanku, kedua pria itu terdiam seketika. Melihat itu, aku berniat untuk langsung pergi dari sana, tapi sepertinya nasib sial telah menghampiriku. Sebab aku baru menyadari bahwa Melissa telah berada dalam kondisi tak sadarkan diri.

Aku tak mengerti, apakah dia sedang mabuk atau terkena efek obat-obatan. Karena sejujurnya sejak awal aku sudah curiga akan kedua pria tersebut. Sementara itu, kedua pria itu tersenyum saat melihat kondisi Melissa yang telah tak sadarkan diri. Sepertinya mereka melihat kesempatan untuk bisa menahan Melissa.

"Mana coba buktinya kalo dia temen lo?" tanyanya dengan nada mengejek.

"Jangan-jangan lo mau nyulik dia," tambah pria disebelahnya. “Lagian kalo pun lo temannya dia, udah sewajarnya kalo kita yang nganterin dia pulang nantinya. Soalnya dia ke sini bareng kita.”

"Nganterin pulang? Mungkin maksud lo nganterin ke hotel ya?" sarkasku sambil menatap mereka dengan tajam.

"Lo ga usah pake nuduh-nuduh!" balasnya sambil mendorong dadaku.

"Emangnya lo tau di mana alamat rumah dia?" tanyaku sinis.

Mereka berdua pun seketika gagap dan tak bisa menjawab pertanyaanku.

"Lo gausah bikin rusuh, deh. Apa perlu gua panggilin sekuriti?" ancamnya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.

"Panggil aja sono. Gua gak takut karena gua gak salah," balasku sambil tersenyum.

Karena semua perhatian sudah mulai berfokus kepada kami, Putra dan Alvin pun segera mendatangiku.

"Kenapa, Ram?" tanya Putra dengan sedikit mendongakkan kepalanya.

"Gua gak dibolehin bawa temen gua pulang sama mereka," ucapku sambil melirik dua pria itu.

"Temen dari mana? Ga ada buktinya kalo lo itu beneran temen dia," bantah kedua pria itu.

"Sekarang lo bisa ngomong gitu, karena lo udah sempat bikin dia pingsan duluan," balasku.

"Maksud lo apa sih! Lo nuduh sembarangan tanpa bukti!" bentak pria kribo dengan angkuhnya.

"Tanpa bukti?" ucapku sambil tersenyum kecil.

Tanpa basa-basi, aku langsung mengambil minuman Melissa dari meja itu dan mengarahkannya ke wajah kedua pria tersebut.

"Lo berdua berani gak buat minum ini?" tantangku.

Mereka berdua hanya diam tak menjawab tantangan dariku. Mereka cuma menatap satu sama lainnya dengan ekspresi wajah yang terlihat ragu dan kesal.

"Jadi gimana? Lo berdua masih mau protes lagi?" ejekku.

Akhirnya mereka menyerah menghalangiku, sebab mereka tidak merespon ucapan dariku dan langsung duduk kembali di sofa. Wajah mereka memerah, akibat marah bercampur malu.

Sedangkan Wanita yang tadinya berada di sebelah Melissa melihat kedua pria itu dengan raut wajah ketakutan. Tapi aku tak terlalu memperdulikannya, sebab aku tak mengenal dirinya. Yang jadi prioritasku saat itu adalah untuk membawa pulang Melissa dengan selamat.

"Gw balik dulu ya, Bro." Putra melambaikan tangannya pada Alvin.

"Oke, Bro. Kalo butuh bantuan kabarin aja," balas Alvin.

Setelah pamit, Putra langsung mendekati posisiku. "Sini gw bantu Ram."

"Makasih, Put." Kami mulai memapah Melissa yang sedang tak sadarkan diri.

Orang yang berada di sekitar sana pun terus-terusan memandangi kami sembari berbisik-bisik. Tetapi aku berusaha untuk tidak memperdulikannya, walau sebenarnya aku merasa gugup dan malu menjadi pusat perhatian.

<><><>


Setelah bersusah payah, akhirnya kami berdua berhasil memapah dan memasukkan Melissa ke dalam mobil. Tetapi setelah di dalam mobil, aku bingung harus mengantarnya ke mana. Aku tak lagi mengingat alamat rumah Melissa, sebab aku hanya pernah ke sana sekali saja. Sambil berpikir keras, aku memandang figur Melissa yang tampak tenang, masih dengan keadaan mata yang terpejam.

"Jadi sekarang kita mau berangkat kemana, Ram?" tanya Putra.

Aku terdiam sejenak lalu beberapa saat kemudian berkata, “Ke kos gua aja, Put.”

Bersambung ...
Diubah oleh watcheatnsleep 30-03-2023 23:12
johny251976
simounlebon
khodzimzz
khodzimzz dan 57 lainnya memberi reputasi
58
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.