- Beranda
- Stories from the Heart
CATATAN VIOLET
...
TS
drupadi5
CATATAN VIOLET

Perjalanan ini akan membawa pada takdir dan misteri hidup yang mungkin tak pernah terpikirkan.
Ketika sebuah kebetulan dan ketidaksengajaan yang kita sangkakan, ternyata adalah sebuah rencana tersembunyi dari hidup.
Bersiaplah dan arungi perjalananmu
Kota Kenangan1
Kota Kenangan 2
Ardi Priambudi
Satrya Hanggara Yudha
Melisa Aryanthi
Made Brahmastra Purusathama
Altaffandra Nauzan
Altaffandra Nauzan : Sebuah Insiden
Altaffandra Nauzan : Patah Hati
Altaffandra Nauzan : the man next door
Sepotong Ikan Bakar di Sore yang Cerah
Expired
Adisty Putri Maharani
November Rain
Before Sunset
After Sunrise
Pencundang, pengecut, pencinta
Pencundang, pengecut, pencinta 2
Time to forget
Sebuah Hadiah
Jimbaran, 21 November 2018
Lagi, sebuah kebaikan
Lagi, sebuah kebaikan 2
Perkenalan
Temanku Malam Ini
Keluarga
03 Desember 2018
Jimbaran, 07 Desember 2018
Looking for a star
Ketika daun yang menguning bertahan akan helaan angin
Pertemuan
BERTAHAN
Hamparan Keraguan
Dan semua berakhir
Fix you
One chapter closed, let's open the next one
Deja Vu
Deja Vu karena ingatan terkadang seperti racun
Karena gw lagi labil, tolong biarin gw sendiri...
Semua pasti berujung, jika kau belum menemukannya teruslah berjalan...
Kepercayaan, kejujuran, kepahitan...
Seperti karang yang tidak menyerah pada ombak...
Damar Yudha
I Love You
Perjanjian...
Perjanjian (2)
Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve (2)
That Day on The Christmas Eve (3)
Di antara
William Oscar Hadinata
Tentang sebuah persahabatan...
Waiting for me...
Kebohongan, kebencian, kemarahan...
Oh Mama Oh Papa
Showing me another story...
Menjelajah ruang dan waktu
Keterikatan
Haruskah kembali?
Kematian dan keberuntungan
The ambience of confusing love
The ambience of love
Kenangan yang tak teringat...
Full of pressure
Persahabatan tidak seperti kepompong
Menunggu, sampai nanti...
Catatan Violet 2 (end): Mari Jangan Saling Menepati Janji
Jakarta, 20 Juni 2019 Lupakanlah Sejenak
Menjaga jarak, menjaga hati
First lady, second lady...
Teman
Teman?
Saudara
Mantan
Mantan (2)
Pacar?
Sahabat
Diubah oleh drupadi5 14-05-2021 15:13
JabLai cOY dan 132 lainnya memberi reputasi
129
23.9K
302
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#104
That day on the Christmas Eve (3)

“Vio!!!”
Aku sedang menaiki tangga bersama Fandra sesampainya di kostan, ketika aku mendengar suara Ardi seperti memanggilku.
“Dia di atas sepertinya,” ujar Fandra ketika aku menoleh padanya yang ada di belakangku.
Sedikit bergegas aku segera menaiki tangga. Benar saja Ardi berdiri di depan kamarku mengedor pintu dan berteriak memanggil namaku. Meskipun dalam pencahayaan yang temaram aku bisa melihat kekhawatiran di wajahnya. Perasaanku tidak enak. Apa lagi ini?
“Ardi!” Aku memanggilnya. “Ada apa?” tanyaku.
“Lisa ada ke sini? Lo ada ketemu sama dia? Atau dia ada telpon?”
Aku baru ingat kalau ponselku aku set ke mode silence karena pertemuan dengan Pak Damar.
“Sebentar,” ujarku merogoh ponselku dari dalam tas.
Aku melihat tujuh panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Lisa. Aku hendak menelponnya ketika Ardi mengingatkan sesuatu padaku.
“Minta dia ke sini, tapi jangan bilang kalau gw di sini,” ujarnya lebih tenang.
“Kalian bertengkar?”
“Iya. Pokoknya ikutin aja dulu apa kata gw.”
Aku tidak membantahnya, pasti Ardi punya alasan dan aku mencoba percaya padanya.
Aku mencoba menghubungi Lisa.
“Halo..., Cha, elo ada telfon ya tadi, sorry gw tadi di jalan,ngga de....”
“Vio...” suara Lisa terdengar serak dan terisak. Dia menangis.
“Lo dimana ini?”
Dia tidak menjawab hanya suara tangisannya saja yang terdengar
“Cha, lo denger gw ngga? Lo di mana ini, gw ke sana jemput lo...”
“Vio....” terdengar lagi Lisa memanggilku
“Lo jangan gini dong! Lo buat gw takut, nih. Cha, tenang dong, please...” Aku ngga tahu harus gimana lagi.
“Vio, Ardi Vio...”
Aku menatap tajam ke arah Ardi yang masih berdiri di depanku.
“Okay, lo tenang dulu. Nanti lo cerita ya, sekarang bilang dulu posisi lo di mana?”
“Gw... gw ga tau, gw di mana ini...”
Shit!
“Share lokasi lo ke gw, nanti biar gw minta tolong Fandra, temen kost gw ke sana jemput lo, dia pasti tahu lo di mana,” ujarku mencoba menenangkannya.
Senyap sejenak.
“Cha?!” panggil gw setengah berteriak
“Iya...udah...udah gw share,” sahutnya terbata-bata
“Okay, ntar gw cek ya secepat mungkin temen gw ke sana, gw tutup dulu ya, ntar gw telpon lagi.”
Aku segera menutup pembicaraan dan menghampiri Fandra.
“Sorry kalau ak...”
“Share lokasinya ke aku, sama no tlpnya, kalau ada fotonya dia juga, aku ngga terlalu inget wajahnya,” potong Fandra cepat.
Aku segera mengirimkan semua yang diminta Fandra.
“Kamu,” ujar Fandra menatapku tajam, wajahnya sangat serius dan sepertinya dia juga tegang, “jangan pergi, jangan ke mana-mana sebelum aku dateng.”
“Kenapa?” tanyaku heran
“Jangan banyak tanya, pokoknya jangan ke mana-mana, kalau perlu kamu diem aja di kamar, jangan keluar!”
“Iya,” sahutku bingung. Kenapa dia jadi aneh begini?
Setelah itu secepat kilat dia turun dan segera meluncur dengan sepeda motornya.
Aku hendak menghampiri Ardi yang sedang menyulut rokoknya di pojokan balkon di depan kamarku, ketika ponselku berdering, Lisa menelponku.
“Ya Cha, temen gw udah ke sana jemput lo, tunggu ya...”
“Iya, gw takut Vio, gw ngga tahu ini di mana, tadi gw dari tempatnya...tempatnya Ardi, dia...” kalimatnya terputus karena isakan tangisnya yang semakin menjadi.
“Cha, lo ngga di pinggir jalan kan? Coba lo cari warung atau toko gitu deket-deket sana...lo jangan diem di pinggir jalan ya, lo jangan nangis dong...ntar orang-orang liatin lo...”
Percuma aku membujuknya, tangisnya malah semakin menjadi terdengar di telingaku.
Apa tadi sore aku juga seperti Lisa? Menangis di tempat umum tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarku, yang terpenting hanyalah mengeluarkan rasa sakit dari dalam dada ini.
“Vio, aku dah sama Lisa,” terdengar suara Fandra
“Oh, ya, cepet banget,” sahutku masih lumayan kaget.
Fandra pasti ngebut banget tadi.
“Iya, dia ada deket kantor kamu. Aku tutup ya...”
“Fan?!”
“Ya?”
“Ngga usah ngebut, hati-hati...”
“Iya, aku tutup ya.”
“Iya.”
Sambungan telpon pun terputus.
Aku menghampiri Ardi yang duduk bersandar di dinding balkon di depan kamarku.
“Ada apa? Lo apain Lisa?”
Ardi tidak menjawbku. Dia hanya diam memandangku tanpa ekspresi sambil sesekali menghembuskan asap rokok dati mulutnya.
“Ardi!” panggil aku berteriak padanya
“Bisa ngga sih lo diem aja, ngga usah ikut campur urusan gw!” tiba-tiba dia melotot dan membentakku.
Seumur-umur aku kenal dengannya, baru kali ini dia membentakku dan baru kali ini aku melihat dia marah.
“Heh...kalau elo ngga mau gw ikut campur urusan lo, ngapain lo dateng ke sini?!” aku balik membentaknya, “lo pikir cuma elo punya masalah?! Elo ini kenapa sih!!!”
Dia terdiam. Bergeming tanpa kata, membuang pandangannya dari mataku.
“Mending lo pergi aja deh,” ujarku padanya, “Kalau Lisa liat lo ada di sini, bakalan tambah runyam urusannya, gw ngga mau lo ribut-ribut di sini dan gw ngga mau ada masalah sama tuan rumah gw.”
“Ngga, gw harus ketemu Lisa sekarang.”
Dia ngotot.
“Kasi waktu, biar dia tenang dulu, lo juga. Kalau Lisa masih nangis-nangis kayak tadi percuma diajak ngomong, dia ngga bakalan bisa mikir.”
Menangis adalah perintah dari otak karena adanya ketergangguan hati dan perasaan, yang anehnya justru sangat berpengaruh pada proses kerja otak itu sendiri, dan aku sudah membuktikannya.
“Ngga Vi, gw harus ketemu Lisa.”
Aku hanya menghela nafas menghadapi kekeraskepalaan laki-laki ini.
Aku mendengar suara sepeda motor Fandra memasuki halaman.
Dari atas aku melihat Lisa berjalan menuju tangga mengikuti Fandra yang berjalan di depannya.
Aku menjauh dari Ardi yang kini berdiri di depan kamarku. Aku berdiri di depan kamar Fandra dan segera menghampiri Lisa yang juga langsung memelukku dan menangis terisak-isak.
Keadaan balkon yang tidak terlalu terang dan Lisa juga tidak terlalu fokus dengan sekitarnya tidak menyadari bahwa ada Ardi di sana.
Aku membiarkan dia menangis sepuasnya. Dia benar-benar terisak. Aku seperti melihat diriku sendiri saat ini.
Ah, padahal masalahku sendiri belum kelar. Aku memandang Fandra yang hanya diam mematung di depanku.
Tangis Lisa sedikit mereda. Dan tanpa kusadari Ardi mendekat dan memanggil Lisa
“Cha...” kudengar Ardi bersuara di belakangku.
Lisa seperti kaget dan melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak sembab dan berurai air mata.
“Kenapa lo di sini?” teriaknya, “Vio, kenapa dia di sini?”
“Gw udah usir dia, dia ngga mau pergi, kalian kenapa sih?” ujarku tidak tahu harus bagaimana di antara dua orang ini.
“Cha, denger gw dulu,” pinta Ardi.
“Ngga!!! Ngga akan! Lo tega banget sama gw. Apa salah gw sama lo?? Gw cinta, gw percaya banget sama elo, kenapa lo tega khianatin gw??? Kenapa????” Lisa berteriak histeris.
“Cha, tenang Cha, diomongin baik-baik...”
Aku berusaha menenangkan Lisa
“Ngga ada yang perlu diomongin, Vi!” Lisa memotong perkataanku,”Lo tau apa yang si brengsek itu lakuin? Dia... dia tidur sama cewek di kamarnya, gw liat sama mata kepala gw sendiri!! Apa lagi yang mau di jelasin?!”
Aku terkejut. Aku menatap tajam ke Ardi. Dia mengingkari janjinya.
“Elo... elo dah janji sama gw...” ujarku padanya yang hanya membuang pandangannya ke arah lain.
“Janji apa?” tiba-tiba Lisa menatapku, matanya seperti menuntut penjelasan.
Aku menatapnya, ragu. Apa aku jujur aja pada Lisa? Apa ini waktu yang tepat?
“Vio?!? Janji apa dia ke elo?” Lisa berteriak padaku, matanya tampak memerah menahan emosi.
“Gw tahu semua kelakuan dia, tapi dia udah janji ngga akan ngulanginnya lagi.”
“Jadi lo udah tahu? Kenapa lo ngga ngasi tahu gw?” Lisa berteriak keras padaku.
Air mataku menetes. “Gw...gw ngga mau lo sakit hati, gw pikir Ardi mau berubah.”
“Kenapa lo bohongin gw, lo jahat! Lo tega sama gw!”
“Cha, ini bukan salah Vio, gw yang minta dia bohong ke elo," potong Ardi dengan cepat berdiri di depanku. "Gw ngga ada hubungan apa-apa sama cewek itu."
“Bohong!! Kamu bajingan Ardi! Kalian berdua sama aja...”
Lisa berbalik dan berlari menuju tangga. Secepatnya aku berusaha mengejarnya. Sebelum Lisa mencapai tangga aku berhasil menyambar lengannya dan mencengkramnya sekuat tenaga.
“Cha, lo mau ke mana?”
“Lepasin! Jangan sentuh gw!” dia menghempaskan tanganku.
“Cha, lo mau kemana, ini udah malam,” terdengar suara Ardi di belakangku.
Lisa hendak menuruni tangga ketika aku berusaha meraihnya.
“Cha, tungggu...!!!” teriakku.
Ketika tanganku mencengkram bahunya, aku merasakan respon kaget dari tubuh Lisa. Aku menarik bahu Lisa agar berbalik menghadapaku tapi tanganku di tepis dengan kuat dan entah kenapa dia malah mencengkram tanganku dan menarilnya sehingga aku terhuyung ke depan.
Kakiku yang setengah menapak di anak tangga teratas terpeleset dan badanku kehilangan keseimbangan.
Entah kenapa terasa sulit mengendalikan tubuhku dan aku merasa pasti aku akan terjatuh. Yang kurasakan dalam sepersekian detik adalah sakit. Aku merasakan beberapa kali badanku terbentur anak tangga, meluncur cepat ke bawah dan aku merasakan ada sesuatu yang membentur di dahiku, setelah itu aku tidak bisa melihat ataupun mengingat, yang ada hanya senyap dan gelap.

“Vio!!!”
Aku sedang menaiki tangga bersama Fandra sesampainya di kostan, ketika aku mendengar suara Ardi seperti memanggilku.
“Dia di atas sepertinya,” ujar Fandra ketika aku menoleh padanya yang ada di belakangku.
Sedikit bergegas aku segera menaiki tangga. Benar saja Ardi berdiri di depan kamarku mengedor pintu dan berteriak memanggil namaku. Meskipun dalam pencahayaan yang temaram aku bisa melihat kekhawatiran di wajahnya. Perasaanku tidak enak. Apa lagi ini?
“Ardi!” Aku memanggilnya. “Ada apa?” tanyaku.
“Lisa ada ke sini? Lo ada ketemu sama dia? Atau dia ada telpon?”
Aku baru ingat kalau ponselku aku set ke mode silence karena pertemuan dengan Pak Damar.
“Sebentar,” ujarku merogoh ponselku dari dalam tas.
Aku melihat tujuh panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Lisa. Aku hendak menelponnya ketika Ardi mengingatkan sesuatu padaku.
“Minta dia ke sini, tapi jangan bilang kalau gw di sini,” ujarnya lebih tenang.
“Kalian bertengkar?”
“Iya. Pokoknya ikutin aja dulu apa kata gw.”
Aku tidak membantahnya, pasti Ardi punya alasan dan aku mencoba percaya padanya.
Aku mencoba menghubungi Lisa.
“Halo..., Cha, elo ada telfon ya tadi, sorry gw tadi di jalan,ngga de....”
“Vio...” suara Lisa terdengar serak dan terisak. Dia menangis.
“Lo dimana ini?”
Dia tidak menjawab hanya suara tangisannya saja yang terdengar
“Cha, lo denger gw ngga? Lo di mana ini, gw ke sana jemput lo...”
“Vio....” terdengar lagi Lisa memanggilku
“Lo jangan gini dong! Lo buat gw takut, nih. Cha, tenang dong, please...” Aku ngga tahu harus gimana lagi.
“Vio, Ardi Vio...”
Aku menatap tajam ke arah Ardi yang masih berdiri di depanku.
“Okay, lo tenang dulu. Nanti lo cerita ya, sekarang bilang dulu posisi lo di mana?”
“Gw... gw ga tau, gw di mana ini...”
Shit!
“Share lokasi lo ke gw, nanti biar gw minta tolong Fandra, temen kost gw ke sana jemput lo, dia pasti tahu lo di mana,” ujarku mencoba menenangkannya.
Senyap sejenak.
“Cha?!” panggil gw setengah berteriak
“Iya...udah...udah gw share,” sahutnya terbata-bata
“Okay, ntar gw cek ya secepat mungkin temen gw ke sana, gw tutup dulu ya, ntar gw telpon lagi.”
Aku segera menutup pembicaraan dan menghampiri Fandra.
“Sorry kalau ak...”
“Share lokasinya ke aku, sama no tlpnya, kalau ada fotonya dia juga, aku ngga terlalu inget wajahnya,” potong Fandra cepat.
Aku segera mengirimkan semua yang diminta Fandra.
“Kamu,” ujar Fandra menatapku tajam, wajahnya sangat serius dan sepertinya dia juga tegang, “jangan pergi, jangan ke mana-mana sebelum aku dateng.”
“Kenapa?” tanyaku heran
“Jangan banyak tanya, pokoknya jangan ke mana-mana, kalau perlu kamu diem aja di kamar, jangan keluar!”
“Iya,” sahutku bingung. Kenapa dia jadi aneh begini?
Setelah itu secepat kilat dia turun dan segera meluncur dengan sepeda motornya.
Aku hendak menghampiri Ardi yang sedang menyulut rokoknya di pojokan balkon di depan kamarku, ketika ponselku berdering, Lisa menelponku.
“Ya Cha, temen gw udah ke sana jemput lo, tunggu ya...”
“Iya, gw takut Vio, gw ngga tahu ini di mana, tadi gw dari tempatnya...tempatnya Ardi, dia...” kalimatnya terputus karena isakan tangisnya yang semakin menjadi.
“Cha, lo ngga di pinggir jalan kan? Coba lo cari warung atau toko gitu deket-deket sana...lo jangan diem di pinggir jalan ya, lo jangan nangis dong...ntar orang-orang liatin lo...”
Percuma aku membujuknya, tangisnya malah semakin menjadi terdengar di telingaku.
Apa tadi sore aku juga seperti Lisa? Menangis di tempat umum tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarku, yang terpenting hanyalah mengeluarkan rasa sakit dari dalam dada ini.
“Vio, aku dah sama Lisa,” terdengar suara Fandra
“Oh, ya, cepet banget,” sahutku masih lumayan kaget.
Fandra pasti ngebut banget tadi.
“Iya, dia ada deket kantor kamu. Aku tutup ya...”
“Fan?!”
“Ya?”
“Ngga usah ngebut, hati-hati...”
“Iya, aku tutup ya.”
“Iya.”
Sambungan telpon pun terputus.
Aku menghampiri Ardi yang duduk bersandar di dinding balkon di depan kamarku.
“Ada apa? Lo apain Lisa?”
Ardi tidak menjawbku. Dia hanya diam memandangku tanpa ekspresi sambil sesekali menghembuskan asap rokok dati mulutnya.
“Ardi!” panggil aku berteriak padanya
“Bisa ngga sih lo diem aja, ngga usah ikut campur urusan gw!” tiba-tiba dia melotot dan membentakku.
Seumur-umur aku kenal dengannya, baru kali ini dia membentakku dan baru kali ini aku melihat dia marah.
“Heh...kalau elo ngga mau gw ikut campur urusan lo, ngapain lo dateng ke sini?!” aku balik membentaknya, “lo pikir cuma elo punya masalah?! Elo ini kenapa sih!!!”
Dia terdiam. Bergeming tanpa kata, membuang pandangannya dari mataku.
“Mending lo pergi aja deh,” ujarku padanya, “Kalau Lisa liat lo ada di sini, bakalan tambah runyam urusannya, gw ngga mau lo ribut-ribut di sini dan gw ngga mau ada masalah sama tuan rumah gw.”
“Ngga, gw harus ketemu Lisa sekarang.”
Dia ngotot.
“Kasi waktu, biar dia tenang dulu, lo juga. Kalau Lisa masih nangis-nangis kayak tadi percuma diajak ngomong, dia ngga bakalan bisa mikir.”
Menangis adalah perintah dari otak karena adanya ketergangguan hati dan perasaan, yang anehnya justru sangat berpengaruh pada proses kerja otak itu sendiri, dan aku sudah membuktikannya.
“Ngga Vi, gw harus ketemu Lisa.”
Aku hanya menghela nafas menghadapi kekeraskepalaan laki-laki ini.
Aku mendengar suara sepeda motor Fandra memasuki halaman.
Dari atas aku melihat Lisa berjalan menuju tangga mengikuti Fandra yang berjalan di depannya.
Aku menjauh dari Ardi yang kini berdiri di depan kamarku. Aku berdiri di depan kamar Fandra dan segera menghampiri Lisa yang juga langsung memelukku dan menangis terisak-isak.
Keadaan balkon yang tidak terlalu terang dan Lisa juga tidak terlalu fokus dengan sekitarnya tidak menyadari bahwa ada Ardi di sana.
Aku membiarkan dia menangis sepuasnya. Dia benar-benar terisak. Aku seperti melihat diriku sendiri saat ini.
Ah, padahal masalahku sendiri belum kelar. Aku memandang Fandra yang hanya diam mematung di depanku.
Tangis Lisa sedikit mereda. Dan tanpa kusadari Ardi mendekat dan memanggil Lisa
“Cha...” kudengar Ardi bersuara di belakangku.
Lisa seperti kaget dan melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak sembab dan berurai air mata.
“Kenapa lo di sini?” teriaknya, “Vio, kenapa dia di sini?”
“Gw udah usir dia, dia ngga mau pergi, kalian kenapa sih?” ujarku tidak tahu harus bagaimana di antara dua orang ini.
“Cha, denger gw dulu,” pinta Ardi.
“Ngga!!! Ngga akan! Lo tega banget sama gw. Apa salah gw sama lo?? Gw cinta, gw percaya banget sama elo, kenapa lo tega khianatin gw??? Kenapa????” Lisa berteriak histeris.
“Cha, tenang Cha, diomongin baik-baik...”
Aku berusaha menenangkan Lisa
“Ngga ada yang perlu diomongin, Vi!” Lisa memotong perkataanku,”Lo tau apa yang si brengsek itu lakuin? Dia... dia tidur sama cewek di kamarnya, gw liat sama mata kepala gw sendiri!! Apa lagi yang mau di jelasin?!”
Aku terkejut. Aku menatap tajam ke Ardi. Dia mengingkari janjinya.
“Elo... elo dah janji sama gw...” ujarku padanya yang hanya membuang pandangannya ke arah lain.
“Janji apa?” tiba-tiba Lisa menatapku, matanya seperti menuntut penjelasan.
Aku menatapnya, ragu. Apa aku jujur aja pada Lisa? Apa ini waktu yang tepat?
“Vio?!? Janji apa dia ke elo?” Lisa berteriak padaku, matanya tampak memerah menahan emosi.
“Gw tahu semua kelakuan dia, tapi dia udah janji ngga akan ngulanginnya lagi.”
“Jadi lo udah tahu? Kenapa lo ngga ngasi tahu gw?” Lisa berteriak keras padaku.
Air mataku menetes. “Gw...gw ngga mau lo sakit hati, gw pikir Ardi mau berubah.”
“Kenapa lo bohongin gw, lo jahat! Lo tega sama gw!”
“Cha, ini bukan salah Vio, gw yang minta dia bohong ke elo," potong Ardi dengan cepat berdiri di depanku. "Gw ngga ada hubungan apa-apa sama cewek itu."
“Bohong!! Kamu bajingan Ardi! Kalian berdua sama aja...”
Lisa berbalik dan berlari menuju tangga. Secepatnya aku berusaha mengejarnya. Sebelum Lisa mencapai tangga aku berhasil menyambar lengannya dan mencengkramnya sekuat tenaga.
“Cha, lo mau ke mana?”
“Lepasin! Jangan sentuh gw!” dia menghempaskan tanganku.
“Cha, lo mau kemana, ini udah malam,” terdengar suara Ardi di belakangku.
Lisa hendak menuruni tangga ketika aku berusaha meraihnya.
“Cha, tungggu...!!!” teriakku.
Ketika tanganku mencengkram bahunya, aku merasakan respon kaget dari tubuh Lisa. Aku menarik bahu Lisa agar berbalik menghadapaku tapi tanganku di tepis dengan kuat dan entah kenapa dia malah mencengkram tanganku dan menarilnya sehingga aku terhuyung ke depan.
Kakiku yang setengah menapak di anak tangga teratas terpeleset dan badanku kehilangan keseimbangan.
Entah kenapa terasa sulit mengendalikan tubuhku dan aku merasa pasti aku akan terjatuh. Yang kurasakan dalam sepersekian detik adalah sakit. Aku merasakan beberapa kali badanku terbentur anak tangga, meluncur cepat ke bawah dan aku merasakan ada sesuatu yang membentur di dahiku, setelah itu aku tidak bisa melihat ataupun mengingat, yang ada hanya senyap dan gelap.
Diubah oleh drupadi5 08-11-2020 21:29
JabLai cOY dan 8 lainnya memberi reputasi
9