- Beranda
- Stories from the Heart
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
...
TS
007funk
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
Mungkin setelah agan/sista baca ini, akan diketahui dimana salah dari cerita ini. Karena ibaratnya, cerita yang mau ane sampein disini adalah cerminan dari persepsi dan karakter ane pribadi. Cerita yang disampaikan pun murni berdasarkan kejadian nyata dan tanpa ingin mendramatisir. Tapi beberapa nama dan tempat disini ane sengaja samarin untuk menjaga nama baik yang bersangkutan.
Semoga dengan ane bercerita disini, ane mendapat pencerahan sebagai sarana introspeksi buat ane. Dan ane harap, ga ada yang bata atau kasih baso merah ya...
Quote:
BAGIAN 1 : SEMESTA, ANDA SANGAT KEJAM
BAGIAN 2 : PERSEPSI AWAL
BAGIAN 3 : LEMBARAN BARU
BAGIAN 4 : FIRASAT
BAGIAN 5 : FOKUS
BAGIAN 6 : SALAH SEDIKIT
BAGIAN 7 : PERLAHAN JADI HANTU
BAGIAN 8 : CURIGA
BAGIAN 9 : PASRAH, DAN TERIMA KASIH
BAGIAN 2 : PERSEPSI AWAL
BAGIAN 3 : LEMBARAN BARU
BAGIAN 4 : FIRASAT
BAGIAN 5 : FOKUS
BAGIAN 6 : SALAH SEDIKIT
BAGIAN 7 : PERLAHAN JADI HANTU
BAGIAN 8 : CURIGA
BAGIAN 9 : PASRAH, DAN TERIMA KASIH
Diubah oleh 007funk 28-01-2021 07:29
bukhorigan dan 3 lainnya memberi reputasi
4
3.7K
Kutip
19
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
007funk
#4
BAB 4
FIRASAT
FIRASAT
Quote:
Minggu kedua September 2020. Saat itu di hari Kamis, saya merasakan firasat yang kurang nyaman. Jantung terasa hendak dicabut, pikiran saya kalang kabut. Memang saat itu, saya sempat tertekan dan stres dengan pekerjaan di kantor. Tapi, terkadang saya bisa menenangkan rasa itu sendirian. Tetapi kenapa firasat yang ini sulit rasanya untuk ditenangkan. Di kantor, saya mulai menunjukkan rasa malas-malasan. Di rumah nenek pun, saya mulai sering menunda jam tidur dan sengaja telat untuk berangkat ke kantor. Pola makan pun menjadi tidak teratur. Saya mulai sering mengalami keringat dingin. Saya mendadak menjadi ingin segera cabut mengundurkan diri dari kantor. Dan, rencana itu diketahui Tyara dan dialah orang pertama yang mengetahuinya. Lalu, saya menjadi bertanya-tanya apa asal mula firasat ini. Apakah karena pola hidup yang tidak teratur atau karena kedekatan saya dengan si resepsionis cantik?
Beberapa hari sebelum hari Kamis itu, saya sempat mengobrol dengan Tyara di meja resepsionis selama satu jam. Saat itu, Tyara masih harus berjaga sendirian. Biar dia tidak bosan, saya temani dia dengan duduk di bangku resepsionis yang kosong di sebelahnya. Lalu, saya bercerita mengenai apa yang saya rasakan selama bekerja di kantor.
“Tyara, saya harap kamu tidak menjadi seorang cepu di kantor ini. Saya mau cerita banyak soalnya.”
“Cerita apa? Lagian aku mau cerita ke siapa juga. Palingan ke si Nadir.”
“Saya kayanya bentar lagi mau resign dari kantor ini.”
“Hah? Kenapa?”
“Gatau. Saya ngerasa ga nyaman sama suasana kantor disini.”
“Wajar, mungkin masih adaptasi aja.”
“Kalau soal adaptasi sih, kalau dari awalnya udah ngerasa enak udah nyaman gitu, pasti kesananya bakal ada keinginan buat mau coba lanjut. Tapi ini dari awal kerja aja, saya udah males aja bawaannya. Satu, mungkin karena beban kerja yang menurut saya kurang saya nikmati dan saya sering keteteran menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat. Lalu yang kedua, saya tidak merasa nyaman dengan lingkungan disini. Saya merasa orang-orang elit di kantor ini bukanlah orang yang benar-benar riil diri mereka. Maksudnya, yang saya kira mereka tuh orangnya asik, tapi saat saya melihat dengan mata kepala saya sendiri dari cara mereka bersosial, mereka tuh ga kaya gitu. Mereka tuh seakan-akan ingin terlihat keren tapi nyatanya tidak. Dari cara mereka bercanda pun, cara mereka berpendapat pun, mereka ga akan bisa nyambung sama saya. Saya bukanlah mereka. Saya juga mungkin pada awalnya bisa aja menyesuaikan diri saya dengan mereka, tapi pada akhirnya kalau udah cape, pasti saya akan perlahan jauh dari mereka. Mereka juga toh belum tentu mau menyesuaikan dengan saya, jadi ya mungkin kesannya egois. Saya pun berkata seperti ini terasa seperti orang yang egois dan merasa sok, tapi ya saya setidaknya jujur dan inilah diri saya yang sebenarnya.”
“Aku juga sebenernya ga nyaman sama suasana kantor disini. Bener sih apa yang dibilang sama kamu tadi. Disini tuh orang-orangnya pada munafik. Depan gimana, belakang beda lagi. Apalagi aku sebel tuh sama Direktur Utama dan HRD disini. Si Direktur Utama tuh orangnya ribet banget banyak maunya. Terus kalau kemauannya ga buru-buru diturutin, pasti ngambek apa nanya-nanyain. Si HRD disini juga baru percobaan 2 bulan, tapi lagaknya udah kaya atasan. Suka nyuruh-nyuruh ke OB, terus kalau ngomong ke resepsionis tuh kaya males banget. Nadanya ga ada ramah-ramahnya. Bete aku tuh.”
“Masih mau bertahan lama disini?”
“Aku sebenernya ada keinginan buat fokus di usaha aku. Kamu tau kan aku buka online shop butik kecil-kecilan gitu. Aku kerja gini sebenernya buat ngisi waktu luang aja, daripada aku diem di rumah kan. Aku sih sebelumnya sempet bisnis keripik kan. Cuman karena aku orangnya bosenan, yaudah aku anggurin aja. Pemasukkan nya juga kurang memuaskan sih. Ya... semoga sama usaha aku yang sekarang bisa besar sih. Biar aku ga usah kerja disini lah males.”
“Yaudah sekarang jalanin dulu aja ya. Aku doain semoga usaha kamu bisa maju dan berkembang. Semangat ya...”
“Iya makasih ya. Amin... amin...”
“Eh kamu tau ga... kamu sebenarnya orang pertama yang tau keluh kesah aku disini. Cerita-cerita aku barusan.”
“Masa sih?”
“Serius.”
Dan dari obrolan-obrolan tadi itulah, saya merasa ada yang berbeda dari Tyara. Setiap saya melihat dia, wajah dia selalu terlihat bahagia lebih dari sebelumnya. Setiap dia melihat saya, dia selalu memanggil saya. Saya yang biasanya pura-pura cuek dan terkesan tidak peduli, menjadi selalu meresponnya dengan ramah. Dari perbedaan kebiasaannya itulah, semua beban saya di kantor teralihkan begitu saja karenanya. Saya tidak pernah merasa beban saya di kantor berat sekali, karena merasa ringan dengan semangat darinya. Saya tidak pernah merasa kesepian lagi di kantor, karena merasa hidup saya sudah banyak dipenuhi oleh kehadirannya.
Hari Jumat dimana hari kedua saya merasakan firasat yang sulit saya tenangkan. Tidak ada yang berkesan di kantor, selain teriakan Tyara yang memanggil nama saya setiap saya lewat.
“Doni!!!”
“Iya kenapa?”
“Engga papa, manggil aja. Mau ke ruangan ya?”
Selalu saja ada basa-basi seperti itu.
Dan di hari yang sama, lambung saya sempat kesakitan. Karena kalau mau izin pulang duluan dari kantor harus lewat izin resepsionis, saya Whatsapp Tyara. Tyara bilang kalau mau izin pulang, langsung aja izin ke Direktur Utama. Malas, akhirnya saya urungkan niat izin pulang tadi.
Malam hari saya pulang dari kantor setelah acara live trading, saya pulang ke rumah orang tua saya. Besoknya, saya ceritakan kedekatan saya di kantor dengan Tyara. Ibu saya merasa bangga dan bahagia karena keberanian saya yang menceritakan padanya setelah sebelumnya saya selalu menutup diri untuk berbicara soal percintaan. Tidak hanya ibu saya, saudara saya yang berada di rumah nenek juga mengetahui keluhan apapun yang saya rasakan di kantor. Meskipun terkadang saya tidak menemukan solusi, tapi setidaknya saya bisa meringankan apa yang ada di benak saya dan setidaknya kehadiran mereka bisa menjadi berarti karena mengetahui apa yang saya rasakan.
Sayangnya di hari Senin depannya, saya tidak masuk kerja. Lambung saya terasa hebat sakitnya, disertai keringat dingin dan kepala pening. Saya diberikan obat dari apotik dan air kunyit oleh nenek saya dan bantuan dari pembantunya. Tidak ada kabar dari Tyara saat itu dan saya juga tidak mengabarinya. Saat itu, saya hanya izin pada rekan kerja saya. Lalu, saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah rasa sakit ini dipicu oleh firasat yang terus bergentayangan di pikiran dan perasaan saya saat ini?
Hari Selasa, keadaan saya sudah agak mendingan. Saya bekal kue marie dan obat pereda rasa sakit ke kantor. Saya juga menjaga kondisi fisik dan stamina saya saat di kantor, agar pekerjaan tetap dapat dieksekusi sampai selesai. Tyara tidak bertanya apapun soal kondisi saya saat itu, dan lebih memilih untuk membicarakan hal lain. Saat saya hendak pulang dari kantor, saya dicegat oleh Tyara.
“Don, kamu jadi kan resign bulan ini?”
“Emang kenapa?”
“Aku juga mau resign.”
Suatu hal yang sangat ganjil.
“Loh kenapa?”
“Ah... aku juga bete. Jadi gini ya, aku tuh kan deket sama anak kantor sini.”
“Siapa?”
“Ah kamu ga perlu tau. Pokonya aku tuh... sebel sama si komisaris disini. Kan cowo yang deket sama aku ini jadi jauh sama aku. Dia sama temen satu band nya yang ikut manajemen disini tuh keluar gegara aku katanya. Pas aku nanya ke si komisaris, bilangnya malah karena abis kontrak. Padahal kan di manajemen sini tuh ga ada sistem kontrak. Ga masuk akal banget kan? Udah gitu, ada isu kalau aku tuh ga akan diperpanjang kontraknya dan bakal didepak sama HRD disini. Dasar bodoh HRD teh! Udah gitu, mau ngeluarin aku tuh ga bilang-bilang. Tau-tau bilang ke aku, kontrak kerja aku abis dan ga akan diperpanjang. Padahal aku masih butuh kerjaan disini sebenernya. Ah saking keselnya, aku tutup aja keras si pintu ruangan HRD nya. Bodo amat mau rusak juga.”
“Udah ya... sabar ya... “
“Awas ya kalau kamu cepu. Aku sih bodo amat lah ini perusahaan mau jadi ancur juga.”
“Cepu ke siapa lagian juga. Kan aku disini cuma percaya sama kamu. Yaudah aku mau pulang sekarang ya.”
“Barengan dong perginya.”
“Kamu dijemput kan?”
“Iya aku dijemput orang tua aku.”
“Pake mobil?”
“Iya.”
“Pantes tiap pulang, tau-tau ilang aja.”
“Yaudah kamu hati-hati ya.”
“Iya kamu juga ya Tyara.”
Ujung-ujungnya, saya pulang duluan ninggalin dia yang masih nunggu dijemput.
Sampai di rumah nenek, perasaan makin tidak karuan, dan pikiran pun semakin fokus padanya. Yang biasanya saya selalu menonton video podcast Uus atau Gofar Hilman di Youtube atau sekedar menonton aksi Chase Owens di event New Japan langsung setelah pulang ngantor, malah jadi senang menunda-nunda dan lebih memilih untuk mendengarkan lagu galau terus menerus. Apalagi lagu-lagunya The Marias atau U2, udah paling nyambung soal firasat saya saat itu. Semoga firasat yang saya rasakan berhari-hari ini membuahkan hasil yang baik di akhirnya. Semesta mungkin tidak akan mengkhianati saya. Lihat saja nanti...
Beberapa hari sebelum hari Kamis itu, saya sempat mengobrol dengan Tyara di meja resepsionis selama satu jam. Saat itu, Tyara masih harus berjaga sendirian. Biar dia tidak bosan, saya temani dia dengan duduk di bangku resepsionis yang kosong di sebelahnya. Lalu, saya bercerita mengenai apa yang saya rasakan selama bekerja di kantor.
“Tyara, saya harap kamu tidak menjadi seorang cepu di kantor ini. Saya mau cerita banyak soalnya.”
“Cerita apa? Lagian aku mau cerita ke siapa juga. Palingan ke si Nadir.”
“Saya kayanya bentar lagi mau resign dari kantor ini.”
“Hah? Kenapa?”
“Gatau. Saya ngerasa ga nyaman sama suasana kantor disini.”
“Wajar, mungkin masih adaptasi aja.”
“Kalau soal adaptasi sih, kalau dari awalnya udah ngerasa enak udah nyaman gitu, pasti kesananya bakal ada keinginan buat mau coba lanjut. Tapi ini dari awal kerja aja, saya udah males aja bawaannya. Satu, mungkin karena beban kerja yang menurut saya kurang saya nikmati dan saya sering keteteran menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat. Lalu yang kedua, saya tidak merasa nyaman dengan lingkungan disini. Saya merasa orang-orang elit di kantor ini bukanlah orang yang benar-benar riil diri mereka. Maksudnya, yang saya kira mereka tuh orangnya asik, tapi saat saya melihat dengan mata kepala saya sendiri dari cara mereka bersosial, mereka tuh ga kaya gitu. Mereka tuh seakan-akan ingin terlihat keren tapi nyatanya tidak. Dari cara mereka bercanda pun, cara mereka berpendapat pun, mereka ga akan bisa nyambung sama saya. Saya bukanlah mereka. Saya juga mungkin pada awalnya bisa aja menyesuaikan diri saya dengan mereka, tapi pada akhirnya kalau udah cape, pasti saya akan perlahan jauh dari mereka. Mereka juga toh belum tentu mau menyesuaikan dengan saya, jadi ya mungkin kesannya egois. Saya pun berkata seperti ini terasa seperti orang yang egois dan merasa sok, tapi ya saya setidaknya jujur dan inilah diri saya yang sebenarnya.”
“Aku juga sebenernya ga nyaman sama suasana kantor disini. Bener sih apa yang dibilang sama kamu tadi. Disini tuh orang-orangnya pada munafik. Depan gimana, belakang beda lagi. Apalagi aku sebel tuh sama Direktur Utama dan HRD disini. Si Direktur Utama tuh orangnya ribet banget banyak maunya. Terus kalau kemauannya ga buru-buru diturutin, pasti ngambek apa nanya-nanyain. Si HRD disini juga baru percobaan 2 bulan, tapi lagaknya udah kaya atasan. Suka nyuruh-nyuruh ke OB, terus kalau ngomong ke resepsionis tuh kaya males banget. Nadanya ga ada ramah-ramahnya. Bete aku tuh.”
“Masih mau bertahan lama disini?”
“Aku sebenernya ada keinginan buat fokus di usaha aku. Kamu tau kan aku buka online shop butik kecil-kecilan gitu. Aku kerja gini sebenernya buat ngisi waktu luang aja, daripada aku diem di rumah kan. Aku sih sebelumnya sempet bisnis keripik kan. Cuman karena aku orangnya bosenan, yaudah aku anggurin aja. Pemasukkan nya juga kurang memuaskan sih. Ya... semoga sama usaha aku yang sekarang bisa besar sih. Biar aku ga usah kerja disini lah males.”
“Yaudah sekarang jalanin dulu aja ya. Aku doain semoga usaha kamu bisa maju dan berkembang. Semangat ya...”
“Iya makasih ya. Amin... amin...”
“Eh kamu tau ga... kamu sebenarnya orang pertama yang tau keluh kesah aku disini. Cerita-cerita aku barusan.”
“Masa sih?”
“Serius.”
Dan dari obrolan-obrolan tadi itulah, saya merasa ada yang berbeda dari Tyara. Setiap saya melihat dia, wajah dia selalu terlihat bahagia lebih dari sebelumnya. Setiap dia melihat saya, dia selalu memanggil saya. Saya yang biasanya pura-pura cuek dan terkesan tidak peduli, menjadi selalu meresponnya dengan ramah. Dari perbedaan kebiasaannya itulah, semua beban saya di kantor teralihkan begitu saja karenanya. Saya tidak pernah merasa beban saya di kantor berat sekali, karena merasa ringan dengan semangat darinya. Saya tidak pernah merasa kesepian lagi di kantor, karena merasa hidup saya sudah banyak dipenuhi oleh kehadirannya.
Hari Jumat dimana hari kedua saya merasakan firasat yang sulit saya tenangkan. Tidak ada yang berkesan di kantor, selain teriakan Tyara yang memanggil nama saya setiap saya lewat.
“Doni!!!”
“Iya kenapa?”
“Engga papa, manggil aja. Mau ke ruangan ya?”
Selalu saja ada basa-basi seperti itu.
Dan di hari yang sama, lambung saya sempat kesakitan. Karena kalau mau izin pulang duluan dari kantor harus lewat izin resepsionis, saya Whatsapp Tyara. Tyara bilang kalau mau izin pulang, langsung aja izin ke Direktur Utama. Malas, akhirnya saya urungkan niat izin pulang tadi.
Malam hari saya pulang dari kantor setelah acara live trading, saya pulang ke rumah orang tua saya. Besoknya, saya ceritakan kedekatan saya di kantor dengan Tyara. Ibu saya merasa bangga dan bahagia karena keberanian saya yang menceritakan padanya setelah sebelumnya saya selalu menutup diri untuk berbicara soal percintaan. Tidak hanya ibu saya, saudara saya yang berada di rumah nenek juga mengetahui keluhan apapun yang saya rasakan di kantor. Meskipun terkadang saya tidak menemukan solusi, tapi setidaknya saya bisa meringankan apa yang ada di benak saya dan setidaknya kehadiran mereka bisa menjadi berarti karena mengetahui apa yang saya rasakan.
Sayangnya di hari Senin depannya, saya tidak masuk kerja. Lambung saya terasa hebat sakitnya, disertai keringat dingin dan kepala pening. Saya diberikan obat dari apotik dan air kunyit oleh nenek saya dan bantuan dari pembantunya. Tidak ada kabar dari Tyara saat itu dan saya juga tidak mengabarinya. Saat itu, saya hanya izin pada rekan kerja saya. Lalu, saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah rasa sakit ini dipicu oleh firasat yang terus bergentayangan di pikiran dan perasaan saya saat ini?
Hari Selasa, keadaan saya sudah agak mendingan. Saya bekal kue marie dan obat pereda rasa sakit ke kantor. Saya juga menjaga kondisi fisik dan stamina saya saat di kantor, agar pekerjaan tetap dapat dieksekusi sampai selesai. Tyara tidak bertanya apapun soal kondisi saya saat itu, dan lebih memilih untuk membicarakan hal lain. Saat saya hendak pulang dari kantor, saya dicegat oleh Tyara.
“Don, kamu jadi kan resign bulan ini?”
“Emang kenapa?”
“Aku juga mau resign.”
Suatu hal yang sangat ganjil.
“Loh kenapa?”
“Ah... aku juga bete. Jadi gini ya, aku tuh kan deket sama anak kantor sini.”
“Siapa?”
“Ah kamu ga perlu tau. Pokonya aku tuh... sebel sama si komisaris disini. Kan cowo yang deket sama aku ini jadi jauh sama aku. Dia sama temen satu band nya yang ikut manajemen disini tuh keluar gegara aku katanya. Pas aku nanya ke si komisaris, bilangnya malah karena abis kontrak. Padahal kan di manajemen sini tuh ga ada sistem kontrak. Ga masuk akal banget kan? Udah gitu, ada isu kalau aku tuh ga akan diperpanjang kontraknya dan bakal didepak sama HRD disini. Dasar bodoh HRD teh! Udah gitu, mau ngeluarin aku tuh ga bilang-bilang. Tau-tau bilang ke aku, kontrak kerja aku abis dan ga akan diperpanjang. Padahal aku masih butuh kerjaan disini sebenernya. Ah saking keselnya, aku tutup aja keras si pintu ruangan HRD nya. Bodo amat mau rusak juga.”
“Udah ya... sabar ya... “
“Awas ya kalau kamu cepu. Aku sih bodo amat lah ini perusahaan mau jadi ancur juga.”
“Cepu ke siapa lagian juga. Kan aku disini cuma percaya sama kamu. Yaudah aku mau pulang sekarang ya.”
“Barengan dong perginya.”
“Kamu dijemput kan?”
“Iya aku dijemput orang tua aku.”
“Pake mobil?”
“Iya.”
“Pantes tiap pulang, tau-tau ilang aja.”
“Yaudah kamu hati-hati ya.”
“Iya kamu juga ya Tyara.”
Ujung-ujungnya, saya pulang duluan ninggalin dia yang masih nunggu dijemput.
Sampai di rumah nenek, perasaan makin tidak karuan, dan pikiran pun semakin fokus padanya. Yang biasanya saya selalu menonton video podcast Uus atau Gofar Hilman di Youtube atau sekedar menonton aksi Chase Owens di event New Japan langsung setelah pulang ngantor, malah jadi senang menunda-nunda dan lebih memilih untuk mendengarkan lagu galau terus menerus. Apalagi lagu-lagunya The Marias atau U2, udah paling nyambung soal firasat saya saat itu. Semoga firasat yang saya rasakan berhari-hari ini membuahkan hasil yang baik di akhirnya. Semesta mungkin tidak akan mengkhianati saya. Lihat saja nanti...
pulaukapok dan gyouko memberi reputasi
0
Kutip
Balas