- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.7K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#283
Jilid 10 [Part 208]
Spoiler for :
TERDENGAR Kebo Kanigara tertawa pendek. Jawabnya,
Mendengar keterangan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar berdiam diri. Ia sekarang, barangkali setelah mempelajari ilmunya lebih tekun dengan suatu cara yang tidak direncanakannya lebih dahulu, tidak akan lagi mengajari muridnya dengan cara yang pernah dilakukan sebelumnya. Di mana muridnya harus menerima pelajaran setingkat demi setingkat tanpa mengikutsertakan kemampuan daya cipta muridnya itu sendiri.
Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia menjadi rindu sekali kepada satu-satunya murid yang telah dibawanya menjelajah daerah daerah serta mengalami kesukaran lahir dan batin. Dalam hatinya ia mengucapkan terima kasih tak habis-habisnya kepada Kebo Kanigara yang telah membantu mematangkan ilmu muridnya. Dengan demikian ia mengharap seorang yang tidak kalah saktinya, Ki Ageng Sora Dipayana dari Banyubiru.
Setelah Mahesa Jenar mengikuti Kebo Kanigara menempuh jalan yang berliku-liku, maka sampailah mereka kepada satu gang yang menuju ke dalam sebuah ruang yang agak luas seperti ruang yang dipergunakan untuk mengurung Mahesa Jenar. Dalam pada itu Kebo Kanigara berbisik,
Bagaimanapun mendesaknya keinginan Mahesa Jenar untuk bertemu dengan muridnya, namun ia harus menyabarkannya sampai esok. Tetapi hari esok itu tidak akan terlalu lama datang.
Meskipun demikian, Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah menunggu terlalu lama. Agaknya matahari menjadi bertambah malas, sehingga agak kesiangan terbit. Namun lambat laun, terasalah bahwa fajar telah pecah di timur. Selama itu ia mengisi waktunya dengan mendengarkan ceritera Kebo Kanigara tentang muridnya, dan tentang peranannya sebagai Mahesa Jenar.
MAHESA JENAR terkejut mendengar ceritera itu. Karena itu ia bertanya,
Mahesa Jenar mengangguk membenarkan. Memang pengaruh penghidupan yang dialami, sangat terasa pula kematangan jiwa muridnya. Ia dapat berpikir hampir seperti seorang dewasa dengan menanggapi suatu kejadian, karena itulah maka tiba-tiba timbul pulalah rasa ibanya terhadap Arya Salaka yang seakan-akan telah kehilangan sebagian dari tataran hidupnya, sebagian dari masa mudanya.
Ketika itu terasalah bahwa pagi telah datang. Obor yang dibawa oleh Kebo Kanigara telah lama padam. Kemudian mereka melanjutkan menyusur lubang-lubang gua itu mendekati ruang tempat Arya berlatih. Dari sebuah lubang mereka dapat mengintip ke dalam ruangan itu. Dari sanalah Mahesa Jenar itu melihat muridnya. Yang mula-mula memukul dadanya adalah suatu perasaan haru ketika ia melihat Arya Salaka menjadi kurus dan pucat. Tetapi kemudian ia tersenyum. Juga senyum haru. Disamping Arya Salaka ia melihat seorang pemuda yang gagah, berwajah bening dan berdada bidang.
Mahesa Jenar kemudian berdiam diri. Ia memang mengharap untuk menyaksikan muridnya berlatih. Ia ingin mengetahui sampai dimana sekarang tingkat kepandaiannya.
Hal itu perlu pula untuk menghilangkan kesan-kesan yang mungkin timbul, apabila ia telah kembali kepada anak itu sebagai seorang guru yang pernah diantarai oleh orang lain tanpa setahu anak itu sendiri.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Kebo Kanigara. Sesaat kemudian ia melihat Arya dan Putut Karang Tunggal mempersiapkan dirinya untuk memulai dengan latihan-latihan yang berat yang mereka lakukan hampir setiap hari.
Melihat langkah Arya yang sedang pergi ke tengah ruangan itupun Mahesa Jenar telah merasakan betapa perubahan yang terjadi pada muridnya, sehingga ia semakin lekas ingin mengetahui, gerakan-gerakan yang akan dilakukan.
Kemudian setelah mereka masing-masing bersiap, maka latihan itupun dibuka dengan sebuah serangan yang mengejutkan dari Putut Karang Tunggal. Mahesa Jenar sendiri menjadi terkejut pula. Ia sama sekali tidak mengira bahwa anak yang halus, sopan dan sama sekali tidak menunjukkan kekasaran jasmaniah itu dapat berbuat sedemikian.
Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Arya Salaka. Ia dengan tangkasnya dapat mengelakkan serangan itu, bahkan dengan suatu gerak yang sangat lincah ia sudah memulai dengan serangannya.
Demikian latihan itu semakin lama menjadi semakin cepat. Selangkah demi selangkah mereka bergeser dari satu titik ke titik yang lain memenuhi ruangan itu.
Dalam pada itu, terjadilah gelora di dalam dada Mahesa Jenar. Ia sama sekali tidak menduga bahwa anak muridnya dapat mencapai tingkat yang sedemikian dalam waktu yang singkat. Perasaan bangga dan gembira berputar-putar di seluruh rongga dadanya.
Quote:
“Aku tidak telaten melihat anak itu maju setapak demi setapak. Sejak aku dengar kabar bahwa ayah Handayaningrat meninggal dunia, aku jadi gelisah. Jangan-jangan tak seorang pun yang akan mewarisi dari perguruan Pengging. Karena adi Kebo Kenanga meninggal pula, maka satu-satunya yang ada adalah kau. Kemudian kaupun menghilang. Mati-matian aku mencarimu. Dan akhirnya aku ketemukan kau. Malahan kau telah mempunyai seorang murid yang berbakat baik. Tetapi kau pergunakan cara-cara ayah Pengging Sepuh untuk meningkatkan ilmu muridmu. Selangkah kecil demi selangkah kecil. Maka akupun berusaha membantumu dengan caraku.”
“Kakang…” sahut Mahesa Jenar.
“Sudah sewajarnyalah kalau aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih.”
“Jangan katakan itu,” potong Kebo Kanigara.
“Kewajibanmu dan kewajibanku dalam hal ini tidak ada bedanya. Juga kali ini terhadap muridmu itu aku isikan ilmu dari perguruan Pengging. Berurutan seperti rencana yang akan kau berikan. Hanya caraku berbeda dengan caramu.”
“Kakang…” sahut Mahesa Jenar.
“Sudah sewajarnyalah kalau aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih.”
“Jangan katakan itu,” potong Kebo Kanigara.
“Kewajibanmu dan kewajibanku dalam hal ini tidak ada bedanya. Juga kali ini terhadap muridmu itu aku isikan ilmu dari perguruan Pengging. Berurutan seperti rencana yang akan kau berikan. Hanya caraku berbeda dengan caramu.”
Mendengar keterangan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar berdiam diri. Ia sekarang, barangkali setelah mempelajari ilmunya lebih tekun dengan suatu cara yang tidak direncanakannya lebih dahulu, tidak akan lagi mengajari muridnya dengan cara yang pernah dilakukan sebelumnya. Di mana muridnya harus menerima pelajaran setingkat demi setingkat tanpa mengikutsertakan kemampuan daya cipta muridnya itu sendiri.
Quote:
“Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara kemudian,
“Marilah kita melihat muridmu itu berlatih. Aku telah minta kepada seseorang untuk meneternya dan memperbandingkan dengan ilmu perguruan lain.”
“Ilmu perguruan lain?” ulang Mahesa Jenar keheran-heranan.
“Adakah seseorang di sini dan perguruan lain?”
“Akan kau lihat nanti,” jawab Kebo Kanigara.
“Aku telah melakukan apa saja yang mungkin atas muridmu itu dalam masa pembajaan dirinya. Aku sendiri suatu waktu datang melawannya. Dan pada saat lain aku datang sebagai gurunya, Mahesa Jenar, untuk memberinya petunjuk petunjuk. Kadang kadang aku hadapkan Arya Salaka dengan ilmu dari perguruan lain.”
“Marilah kita melihat muridmu itu berlatih. Aku telah minta kepada seseorang untuk meneternya dan memperbandingkan dengan ilmu perguruan lain.”
“Ilmu perguruan lain?” ulang Mahesa Jenar keheran-heranan.
“Adakah seseorang di sini dan perguruan lain?”
“Akan kau lihat nanti,” jawab Kebo Kanigara.
“Aku telah melakukan apa saja yang mungkin atas muridmu itu dalam masa pembajaan dirinya. Aku sendiri suatu waktu datang melawannya. Dan pada saat lain aku datang sebagai gurunya, Mahesa Jenar, untuk memberinya petunjuk petunjuk. Kadang kadang aku hadapkan Arya Salaka dengan ilmu dari perguruan lain.”
Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia menjadi rindu sekali kepada satu-satunya murid yang telah dibawanya menjelajah daerah daerah serta mengalami kesukaran lahir dan batin. Dalam hatinya ia mengucapkan terima kasih tak habis-habisnya kepada Kebo Kanigara yang telah membantu mematangkan ilmu muridnya. Dengan demikian ia mengharap seorang yang tidak kalah saktinya, Ki Ageng Sora Dipayana dari Banyubiru.
Setelah Mahesa Jenar mengikuti Kebo Kanigara menempuh jalan yang berliku-liku, maka sampailah mereka kepada satu gang yang menuju ke dalam sebuah ruang yang agak luas seperti ruang yang dipergunakan untuk mengurung Mahesa Jenar. Dalam pada itu Kebo Kanigara berbisik,
Quote:
“Mahesa Jenar, ingat muridmu selama ini belum pernah terpisah dari gurunya.”
“Lalu apa yang pernah dilakukan oleh gurunya?” tanya Mahesa Jenar.
“Melatihnya dan menurunkan segala sifat-sifat keluhuran budi dan kepahlawanan. Gurunya telah mengatakan kepada anak itu bahwa dalam masa-masa yang dekat, harus sudah menurunkan api kejantanan dan kesetiaan pada janji seorang ksatria, supaya api yang menyala didalam dada angkatan tua itu tidak padam kehabisan minyak. Sebab apabila datang waktunya kita meninggalkan mereka, api itu harus sudah mereka miliki. Bahkan harus berkobar lebih hebat dari semula.”
Mahesa Jenar benar-benar tersentuh hatinya mendengar ucapan itu. Karena iapun tak akan berbuat lain daripada itu.
“Kakang…” tanya Mahesa Jenar pula,
“Tidakkah anak itu mengenal Kakang bukan sebagai gurunya?”
“Tidak Mahesa Jenar,” jawab Kebo Kanigara,
“Aku selalu datang padanya, apabila ruangan itu sudah mulai gelap. Aku tidak pernah membawa obor yang cukup menerangi ruangan itu."
"Disamping itu aku jarang-jarang sekali bercakap-cakap dengan anak itu. Aku paksa ia bekerja keras untuk mendalami ilmunya. Nah sekarang kaupun telah memiliki rambut yang memenuhi mukamu. Aku mengharap bahwa Arya Salaka tidak sempat membeda-bedakan antara kita. Hanya mungkin aku agak lebih kasar daripadamu.”
“Mungkin ada juga terselip beberapa pertanyaan dalam hatinya,” kata Mahesa Jenar kemudian,
“Karena perbedaan sifat dan cara dari apa yang pernah aku berikan kepadanya.”
“Mahesa Jenar…” Kebo Kanigara meneruskan,
“Sebelumnya baiklah kita tunggu sampai esok. Lihatlah bagaimana ia berlatih dengan seseorang dari perguruan lain didalam ruangan itu. Aku sudah menyuruhnya tinggal di situ terus menerus sampai aku, Mahesa Jenar, membawanya keluar.”
“Lalu apa yang pernah dilakukan oleh gurunya?” tanya Mahesa Jenar.
“Melatihnya dan menurunkan segala sifat-sifat keluhuran budi dan kepahlawanan. Gurunya telah mengatakan kepada anak itu bahwa dalam masa-masa yang dekat, harus sudah menurunkan api kejantanan dan kesetiaan pada janji seorang ksatria, supaya api yang menyala didalam dada angkatan tua itu tidak padam kehabisan minyak. Sebab apabila datang waktunya kita meninggalkan mereka, api itu harus sudah mereka miliki. Bahkan harus berkobar lebih hebat dari semula.”
Mahesa Jenar benar-benar tersentuh hatinya mendengar ucapan itu. Karena iapun tak akan berbuat lain daripada itu.
“Kakang…” tanya Mahesa Jenar pula,
“Tidakkah anak itu mengenal Kakang bukan sebagai gurunya?”
“Tidak Mahesa Jenar,” jawab Kebo Kanigara,
“Aku selalu datang padanya, apabila ruangan itu sudah mulai gelap. Aku tidak pernah membawa obor yang cukup menerangi ruangan itu."
"Disamping itu aku jarang-jarang sekali bercakap-cakap dengan anak itu. Aku paksa ia bekerja keras untuk mendalami ilmunya. Nah sekarang kaupun telah memiliki rambut yang memenuhi mukamu. Aku mengharap bahwa Arya Salaka tidak sempat membeda-bedakan antara kita. Hanya mungkin aku agak lebih kasar daripadamu.”
“Mungkin ada juga terselip beberapa pertanyaan dalam hatinya,” kata Mahesa Jenar kemudian,
“Karena perbedaan sifat dan cara dari apa yang pernah aku berikan kepadanya.”
“Mahesa Jenar…” Kebo Kanigara meneruskan,
“Sebelumnya baiklah kita tunggu sampai esok. Lihatlah bagaimana ia berlatih dengan seseorang dari perguruan lain didalam ruangan itu. Aku sudah menyuruhnya tinggal di situ terus menerus sampai aku, Mahesa Jenar, membawanya keluar.”
Bagaimanapun mendesaknya keinginan Mahesa Jenar untuk bertemu dengan muridnya, namun ia harus menyabarkannya sampai esok. Tetapi hari esok itu tidak akan terlalu lama datang.
Meskipun demikian, Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah menunggu terlalu lama. Agaknya matahari menjadi bertambah malas, sehingga agak kesiangan terbit. Namun lambat laun, terasalah bahwa fajar telah pecah di timur. Selama itu ia mengisi waktunya dengan mendengarkan ceritera Kebo Kanigara tentang muridnya, dan tentang peranannya sebagai Mahesa Jenar.
Quote:
“Ingat Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara,
“Kau waktu itu marah kepada muridmu, karena ia kehilangan jalan. Seharusnya ia dapat berjalan lebih cepat di belakangmu. Karena itulah maka kau kurung muridmu dalam ruangan itu untuk dengan keras berusaha membajakan diri. Ternyata muridmu adalah seorang murid yang patuh. Ia tidak pernah mengeluh, meskipun kadang-kadang ia berlatih sampai hampir pingsan. Kaulah yang membawa makan dan minumnya. Disamping itu, satu halyang penting dan seharusnya akuminta maaf kepadamu bahwa Arya Salaka telah menerima dasar – dasar ilmu khusus perguruan Pengging, Sasra Birawa”.
“Kau waktu itu marah kepada muridmu, karena ia kehilangan jalan. Seharusnya ia dapat berjalan lebih cepat di belakangmu. Karena itulah maka kau kurung muridmu dalam ruangan itu untuk dengan keras berusaha membajakan diri. Ternyata muridmu adalah seorang murid yang patuh. Ia tidak pernah mengeluh, meskipun kadang-kadang ia berlatih sampai hampir pingsan. Kaulah yang membawa makan dan minumnya. Disamping itu, satu halyang penting dan seharusnya akuminta maaf kepadamu bahwa Arya Salaka telah menerima dasar – dasar ilmu khusus perguruan Pengging, Sasra Birawa”.
MAHESA JENAR terkejut mendengar ceritera itu. Karena itu ia bertanya,
Quote:
"Adakah anak sebesar Arya Salaka telah cukup kuat untuk memiliki aji itu?"
"Muridmu luar biasa," jawab Kebo Kanigara.
"Memang aku kira akibatnya akan tidak baik kalau kau dalam tingkat sebelum samadimu, memberikan ilmu itu kepadanya. Tetapi sekarang tidak. Juga aku merasa tidak. Apalagi ketika aku tunjukkan bagaimana ia harus mengatur pernafasan, pemusatan pikiran dan tenaga, aku jadi yakin bahwa mungkin ia mempunyai bakat lebih baik daripada kita.
Nah, sekarang kau telah menyadari kematanganmu. Aku harap kau lanjutkan dasar-dasar ilmu Sasra Birawa. Meskipun dalam pelaksanaannya barulah dalam tingkat kekuatan lahiriah saja."
"Itu sudah cukup Kakang," sela Mahesa Jenar,
"Sudah terlalu banyak bagi seorang anak-anak sebesar Arya Salaka yang baru berumur lebih kurang 16 sampai 17 tahun itu. Bukankah kecuali persiapan jasmaniah diperlukan pula persiapan rokhaniah, supaya tidak ada penyalahgunaan di kemudian hari.
Kebo Kanigara tersenyum mendengar pendapat Mahesa Jenar. Kau benar-benar seorang yang teliti terhadap segala akibat dari suatu perbuatan. Tetapi khusus muridmu itu, aku kira ia telah cukup mempunyai persiapan lahir batin."
"Mungkin karena pengalaman-pengalamannya serta tekanan-tekanan yang dialami dalam usianya yang masih muda itu, ia menjadi agak terlampau cepat masak."
"Muridmu luar biasa," jawab Kebo Kanigara.
"Memang aku kira akibatnya akan tidak baik kalau kau dalam tingkat sebelum samadimu, memberikan ilmu itu kepadanya. Tetapi sekarang tidak. Juga aku merasa tidak. Apalagi ketika aku tunjukkan bagaimana ia harus mengatur pernafasan, pemusatan pikiran dan tenaga, aku jadi yakin bahwa mungkin ia mempunyai bakat lebih baik daripada kita.
Nah, sekarang kau telah menyadari kematanganmu. Aku harap kau lanjutkan dasar-dasar ilmu Sasra Birawa. Meskipun dalam pelaksanaannya barulah dalam tingkat kekuatan lahiriah saja."
"Itu sudah cukup Kakang," sela Mahesa Jenar,
"Sudah terlalu banyak bagi seorang anak-anak sebesar Arya Salaka yang baru berumur lebih kurang 16 sampai 17 tahun itu. Bukankah kecuali persiapan jasmaniah diperlukan pula persiapan rokhaniah, supaya tidak ada penyalahgunaan di kemudian hari.
Kebo Kanigara tersenyum mendengar pendapat Mahesa Jenar. Kau benar-benar seorang yang teliti terhadap segala akibat dari suatu perbuatan. Tetapi khusus muridmu itu, aku kira ia telah cukup mempunyai persiapan lahir batin."
"Mungkin karena pengalaman-pengalamannya serta tekanan-tekanan yang dialami dalam usianya yang masih muda itu, ia menjadi agak terlampau cepat masak."
Mahesa Jenar mengangguk membenarkan. Memang pengaruh penghidupan yang dialami, sangat terasa pula kematangan jiwa muridnya. Ia dapat berpikir hampir seperti seorang dewasa dengan menanggapi suatu kejadian, karena itulah maka tiba-tiba timbul pulalah rasa ibanya terhadap Arya Salaka yang seakan-akan telah kehilangan sebagian dari tataran hidupnya, sebagian dari masa mudanya.
Ketika itu terasalah bahwa pagi telah datang. Obor yang dibawa oleh Kebo Kanigara telah lama padam. Kemudian mereka melanjutkan menyusur lubang-lubang gua itu mendekati ruang tempat Arya berlatih. Dari sebuah lubang mereka dapat mengintip ke dalam ruangan itu. Dari sanalah Mahesa Jenar itu melihat muridnya. Yang mula-mula memukul dadanya adalah suatu perasaan haru ketika ia melihat Arya Salaka menjadi kurus dan pucat. Tetapi kemudian ia tersenyum. Juga senyum haru. Disamping Arya Salaka ia melihat seorang pemuda yang gagah, berwajah bening dan berdada bidang.
Quote:
"Ia adalah Putut Karang Tunggal yang agaknya menemani Arya Salaka. Kalau bukan aku dalam perananku sebagai Mahesa Jenar, anak itulah yang membawa makanan untuk Arya," bisik Kebo Kanigara.
Mahesa Jenar jadi bergembira ketika ia melihat muridnya bersahabat dengan Putut yang mengepalai para cantrik itu.
"Mereka berdua mempunyai banyak persamaan," bisik Kebo Kanigara lebih lanjut,
"Keduanya tabah dan penuh semangat. Karena itu mereka tekun berlatih bersama."
"Berlatih bersama…?" ulang Mahesa Jenar terkejut,
"Jadi Putut Karang Tunggal juga memiliki ilmu yang cukup tinggi?"
Kebo Kanigara mengangguk.
"Aku tidak mengira. Ia terlalu halus dan sopan. Muridku adalah seorang anak yang biasa hidup dalam pergaulan yang kasar. Diantara para petani dan nelayan," sambung Mahesa Jenar.
Kebo Kanigara tersenyum aneh.
"Tetapi karena itulah muridmu menjadi seorang anak yang jujur, yang tidak memandang setiap persoalan dengan berbelit-belit," sahut Kebo Kanigara.
"Nah, tunggu sebentar…" ia melanjutkan,
"Mereka pasti sedang mempersiapkan diri untuk berlatih bersama. Aku mengijinkan Arya Salaka melakukan tanpa pengawasanku. Dan kepada Putut Karang Tunggal itu pun aku pesankan agar tidak mengatakan kepada Arya Salaka siapakah aku sebenarnya."
Mahesa Jenar jadi bergembira ketika ia melihat muridnya bersahabat dengan Putut yang mengepalai para cantrik itu.
"Mereka berdua mempunyai banyak persamaan," bisik Kebo Kanigara lebih lanjut,
"Keduanya tabah dan penuh semangat. Karena itu mereka tekun berlatih bersama."
"Berlatih bersama…?" ulang Mahesa Jenar terkejut,
"Jadi Putut Karang Tunggal juga memiliki ilmu yang cukup tinggi?"
Kebo Kanigara mengangguk.
"Aku tidak mengira. Ia terlalu halus dan sopan. Muridku adalah seorang anak yang biasa hidup dalam pergaulan yang kasar. Diantara para petani dan nelayan," sambung Mahesa Jenar.
Kebo Kanigara tersenyum aneh.
"Tetapi karena itulah muridmu menjadi seorang anak yang jujur, yang tidak memandang setiap persoalan dengan berbelit-belit," sahut Kebo Kanigara.
"Nah, tunggu sebentar…" ia melanjutkan,
"Mereka pasti sedang mempersiapkan diri untuk berlatih bersama. Aku mengijinkan Arya Salaka melakukan tanpa pengawasanku. Dan kepada Putut Karang Tunggal itu pun aku pesankan agar tidak mengatakan kepada Arya Salaka siapakah aku sebenarnya."
Mahesa Jenar kemudian berdiam diri. Ia memang mengharap untuk menyaksikan muridnya berlatih. Ia ingin mengetahui sampai dimana sekarang tingkat kepandaiannya.
Hal itu perlu pula untuk menghilangkan kesan-kesan yang mungkin timbul, apabila ia telah kembali kepada anak itu sebagai seorang guru yang pernah diantarai oleh orang lain tanpa setahu anak itu sendiri.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Kebo Kanigara. Sesaat kemudian ia melihat Arya dan Putut Karang Tunggal mempersiapkan dirinya untuk memulai dengan latihan-latihan yang berat yang mereka lakukan hampir setiap hari.
Melihat langkah Arya yang sedang pergi ke tengah ruangan itupun Mahesa Jenar telah merasakan betapa perubahan yang terjadi pada muridnya, sehingga ia semakin lekas ingin mengetahui, gerakan-gerakan yang akan dilakukan.
Kemudian setelah mereka masing-masing bersiap, maka latihan itupun dibuka dengan sebuah serangan yang mengejutkan dari Putut Karang Tunggal. Mahesa Jenar sendiri menjadi terkejut pula. Ia sama sekali tidak mengira bahwa anak yang halus, sopan dan sama sekali tidak menunjukkan kekasaran jasmaniah itu dapat berbuat sedemikian.
Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Arya Salaka. Ia dengan tangkasnya dapat mengelakkan serangan itu, bahkan dengan suatu gerak yang sangat lincah ia sudah memulai dengan serangannya.
Demikian latihan itu semakin lama menjadi semakin cepat. Selangkah demi selangkah mereka bergeser dari satu titik ke titik yang lain memenuhi ruangan itu.
Dalam pada itu, terjadilah gelora di dalam dada Mahesa Jenar. Ia sama sekali tidak menduga bahwa anak muridnya dapat mencapai tingkat yang sedemikian dalam waktu yang singkat. Perasaan bangga dan gembira berputar-putar di seluruh rongga dadanya.
fakhrie... dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas