- Beranda
- Stories from the Heart
CATATAN VIOLET
...
TS
drupadi5
CATATAN VIOLET

Perjalanan ini akan membawa pada takdir dan misteri hidup yang mungkin tak pernah terpikirkan.
Ketika sebuah kebetulan dan ketidaksengajaan yang kita sangkakan, ternyata adalah sebuah rencana tersembunyi dari hidup.
Bersiaplah dan arungi perjalananmu
Kota Kenangan1
Kota Kenangan 2
Ardi Priambudi
Satrya Hanggara Yudha
Melisa Aryanthi
Made Brahmastra Purusathama
Altaffandra Nauzan
Altaffandra Nauzan : Sebuah Insiden
Altaffandra Nauzan : Patah Hati
Altaffandra Nauzan : the man next door
Sepotong Ikan Bakar di Sore yang Cerah
Expired
Adisty Putri Maharani
November Rain
Before Sunset
After Sunrise
Pencundang, pengecut, pencinta
Pencundang, pengecut, pencinta 2
Time to forget
Sebuah Hadiah
Jimbaran, 21 November 2018
Lagi, sebuah kebaikan
Lagi, sebuah kebaikan 2
Perkenalan
Temanku Malam Ini
Keluarga
03 Desember 2018
Jimbaran, 07 Desember 2018
Looking for a star
Ketika daun yang menguning bertahan akan helaan angin
Pertemuan
BERTAHAN
Hamparan Keraguan
Dan semua berakhir
Fix you
One chapter closed, let's open the next one
Deja Vu
Deja Vu karena ingatan terkadang seperti racun
Karena gw lagi labil, tolong biarin gw sendiri...
Semua pasti berujung, jika kau belum menemukannya teruslah berjalan...
Kepercayaan, kejujuran, kepahitan...
Seperti karang yang tidak menyerah pada ombak...
Damar Yudha
I Love You
Perjanjian...
Perjanjian (2)
Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve (2)
That Day on The Christmas Eve (3)
Di antara
William Oscar Hadinata
Tentang sebuah persahabatan...
Waiting for me...
Kebohongan, kebencian, kemarahan...
Oh Mama Oh Papa
Showing me another story...
Menjelajah ruang dan waktu
Keterikatan
Haruskah kembali?
Kematian dan keberuntungan
The ambience of confusing love
The ambience of love
Kenangan yang tak teringat...
Full of pressure
Persahabatan tidak seperti kepompong
Menunggu, sampai nanti...
Catatan Violet 2 (end): Mari Jangan Saling Menepati Janji
Jakarta, 20 Juni 2019 Lupakanlah Sejenak
Menjaga jarak, menjaga hati
First lady, second lady...
Teman
Teman?
Saudara
Mantan
Mantan (2)
Pacar?
Sahabat
Diubah oleh drupadi5 14-05-2021 15:13
JabLai cOY dan 132 lainnya memberi reputasi
129
23.9K
302
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#48
08 Desember 2018
Looking for a star....
Aku menggeliat ketika sedikit demi sedikit kesadaran kembali ke tubuhku. Dengan malas aku terduduk di atas tempat tidur dan merasakan sakit di kepalaku menghilang sepenuhnya dan hanya menyisakan rasa berat di tengkukku.
Untuk meregangkan otot leher, kugerakkan kepalaku, geleng kanan kiri, toleh kanan kiri…. Eits..sebentar, siapa itu baringan di lantai.
Aku melongok dan terkejut sekali ketika melihat Hanggara tertidur pulas di lantai beralaskan sebuah kasur lipat yang panjangnya tidak memadai sehingga seperempat kakinya harus tergeletak di lantai dan kuperhatikan pakaian yang dia pakai pun masih sama dengan yang semalam.
Perlahan aku bangun, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, kemudian masuk ke kamar mandi. Aku hanya mencuci muka dan sedikit merapikan rambut. Ketika hendak keluar dari kamar, baru aku menyadari bahwa pintu kamarku tidak terkunci dan dibiarkan sedikit terbuka. Mungkin Hanggara mengira aku pasti tidak akan mau di kamar yang terkunci hanya berdua dengannya.
Kukenakan jaket yang tergantung di balik pintu dan perlahan keluar.
Tidak cukup sampai di sana, begitu pintu terbuka sedikit lebar, wajah Fandra sudah menyambut dengan senyuman jahilnya terpampang.
“Morning!” ujarnya dengan nada lembut dan pelan, seperti sengaja dibuat-buat seperti itu
“Pagi,” ujarku datar
“Gimana semalam, sekamar dengan calon pacar, eh… udah pacar ya sekarang?” Dia tersenyum menggodaku
“Jangan ngaco ya, aku ngga tahu dia tidur di kamarku, baru bangun aku baru liat.” Aku berusaha menjelaskan.
“Oh ya? Trus, tadi baru bangun kamu udah periksa belum pakaian kamu ada yang ngga beres ngga?”
Aku berpikir sejenak, menoleh ke pakaianku sendiri yang memang belum kuganti dari bangun tidur tadi. Aku maunya keluar ke depan membeli sarapan, hanya memakai jaket menutupi pakaian tidurku.
Perasaan pakaianku ngga ada yang aneh. Dan kemudian kudengar tawa Fandra. Sial, dia mengacaukan pikiranku!!
“Awas lo ya!” ancamku dengan kesal, lalu beranjak pergi dari hadapannya yang masih dengan puasnya menertawaiku.
“Eh, mau ke mana?”
Aku tidak menyahut dan terus jalan lempeng menjauhinya. Aku kesal sekali.
Bisa kudengar derap kaki yang terburu-buru mengikutiku ketika aku menuruni anak tangga.
“Mau beli nasi kuning ya?” kudengar suara Fandra di belakangku yang sepertinya mencoba mensejajari langkahku, “ikut ya?” aku masih diam dan mempercepat langkahku
”Vio!” tiba-tiba Fandra meloncat ke depanku sehingga menghalangi jalanku dan mau tidak mau aku harus berhenti. Aku menatapnya kesal.
“Apaa?” hardikku
“Sorry, aku becanda,” ujarnya, “Iya, semalem aku yang kasi kasur lipatku buat dipakai tidur buat dia, dan aku juga yang ngasi saran dia tidur di kamar kamu.”
“Aku yang punya kamar, dan kamu yang ngasi dia ijin tidur di kamar aku?”
“Aku hanya nyaranin aja, eh… dia beneran ngikutin saranku,” ujarnya tanpa rasa bersalah
“Kamu juga sih, kenapa ngga suruh dia pulang atau suruh dia tidur di kamar kamu aja, kalian kan sama-sama cowok!”
Aku menghindarinya yang berdiri di depanku dan berjalan pelan menuju ke gerbang rumah. Fandra masih mengekorku
“Aku udah bilangin, tapi dia ngga mau,” balas Fandra membela diri.
“Bohong!”
“Sejak kita kenal, pernah aku bohong?”
Aku meliriknya yang kini berjalan di sampingku. Sekilas pandangan kami bertemu, dan yang kutangkap dia bicara serius. Aku memilih diam dan tidak menjawabnya.
Aku memesan tiga bungkus nasi kuning, dan sambil menunggu, aku kembali bertanya pada Fandra.
“Kalian sempet ngobrol semalem?”
“Aku ajak dia minum sampai jam…hm..sekitar jam 3 pagi kayaknya,” sahutnya kalem.
Spontan aku menoleh kepadanya dan mendapatinya tersenyum lebar tanpa dosa. Aku hanya geleng-geleng kepala. Pantes aja Hanggara tidur kayak orang pingsan gitu.
“Trus kamu ngga tidur? Begadang sampai jam tiga, jam segini udah melek.” Dia tertawa kecil.
“Tidur lah, kalau aku cukup dua jam aja tidurnya.”
“Pantes aja mata kamu kayak mata panda.”
“Tapi ntar aku tidur lagi kok, jangan khawatir gitu dong, nanti pacar baru kamu cemburu.”
Plak!
Aku memukul keras lengannya yang justru membuatnya tertawa terbahak-bahak
Setelah membayar aku dan Fandra kembali ke kostan.
Fandra memberikanku kursi yang ada di kamarnya dan dia sendiri duduk di tempat favoritnya sambil kami berdua sarapan nasi kuning.
Sewaktu aku masuk mengambil sendok dan gelas, kuperhatikan Hanggara masih terlelap, sengaja aku tidak membangunkannya, supaya dia cukup tidur dan terbangun sendiri.
“Semalem itu, beneran lho pacar ka…”
“Bukan pacar Fandra!” potongku cepat dan keras
“Sssttt… jangan keras-keras ntar pac...eh…Angga kebangun denger suara kamu hehehe,” ujarnya bernada menggodaku lagi, “iya-iya bukan pacar. Jadi…… semalem dia tuh ngaku sama aku, dia bilang dia ngga suka kalau aku deket-deket kamu, trus ya aku bilang aja, aku hanya mau bantu, kan kasihan kamu sendiri dan kita juga temenan untuk saat ini, tapi untuk ke depannya belum tahu juga…hehehe,” ujarnya sambil sesekali mengunyah dan menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Ngaco terus ngomongnya!”
“Yang terakhir ngaco, bener,...tapi yang sebelumnya beneran kok dia bilang gitu.”
“Eh, kamu gimana, udah enakan?”
Aku menelan makananku sebelum menjawab pertanyaan Fandra, “Udah ngga sakit lagi kepalaku, cuma rasanya masih agak ngga enak, ngga kaya biasanya.”
“Makanya jangan bandel kalau dibilangin. Disuruh jangan kerja dulu malah ngantor.”
Aku hanya diam saja, malas berdebat karena memang aku yang salah.
“Hei…”
Aku mendongak melihat Fandra ketika dia mengucapkan kata itu, aku melihatnya melihat ke arah belakangku, dan spontan aku pun ikut menoleh ke belakang.
Kulihat Hanggara sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat masih mengantuk. Dia tidak tampak seperti Hanggara yang aku kenal, wajahnya nampak innocent sekali.
“Baru bangun, kalau masih ngantuk tidur aja lagi,” ujarku padanya
“Kalian makan ngga ngajak-ngajak,” sahutnya berdiri di belakangku dan aku menjadi canggung ketika menyadari tangan Hanggara tersampir di bahu kananku. Mataku tertuju ke Fandra yang sepertinya menahan senyum.
“Makan bro, tapi seadanya cuma nasi kuning 5 ribuan aja,” sahut Fandra sambil mengunyah
“Enak banget itu, banyak ya dapetnya,” ujar Hanggara memperhatikan kami yang sedang makan.
“Aku udah beliin buat kamu, ntar aku ambilin,” ujarku hendak berdiri tapi tangan Hanggara menahanku agar tetap duduk.
“Ngga usah, kamu selesain makanmu, aku mandi dulu.”
“Ok,” sahutku. Dia bergegas masuk ke dalam kamar lagi.
“Hm… move on, move on…,” seloroh Fandra sambil meloncat turun dari pembatas balkon tempatnya duduk dan berbisik di telingaku.
“Aku mau tidur dulu ya,” dia tersenyum lebar dan berlalu ke kamarnya.
Tinggal aku sendirian yang bingung harus bagaimana. Perlahan aku masuk ke kamarku, rasanya agak aneh, masuk ke kamar sendiri tapi terasa masuk ke kamar orang lain. Aku menyiapkan makanan buat Hanggara di atas lemari kecilku, lalu merapikan tmpat tidur lipat yang dipakai Hanggara tadi dan meletakkannya di balik pintu. Nanti saja aku kembalikan ke Fandra karena sewaktu tadi dia masuk ke kamarnya, dia langsung menutup pintu, aku agak malas kalau harus gedor-gedor lagi.
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselku. Tak lama kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka, dengan ragu aku melihat ke arah kamar mandi. Untunglah Hanggara keluar kamar mandi sudah dengan pakaian lengkap, tidak seperti sewaktu aku di rumahnya dulu, dia dengan santainya berkeliaran hanya dengan lilitan handuk menutupi pinggang.
“Sini handuknya, biar aku jemur,” kataku menghampirinya. Dia memberikan handuk yang tersampir di pundaknya.
“Ini makan dulu,” ujarku lagi mengambil piring serta bungkusan nasi dan menyodorkannya pada Hanggara
“Makasi ya,” sahutnya dengan senyum mengembang
Aku keluar menjemur handuknya dan begitu masuk lagi ke kamar aku sudah mendapati Hanggara duduk lesehan di lantai bersandar pada sisi tempat tidur sambil makan nasi kuningnya dengan lahap.
Aku mengambil tempat tepat di depannya, bersandar pada dinding.
“Semalam kenapa ngga pulang?” tanyaku membuka percakapan
Tampak dia menelan makanannya dulu sebelum menjawabku, “Kasihan ninggalin kamu sendirian.” Dia tersenyum padaku, dan kemudian kembali menyuapkan sesendok penuh makanan ke mulutnya.
“Trus kenapa mau diajakin minum sama Fandra sampai pagi, kaya ngga ada kerjaan banget?!”
Dia tertawa dan menyahut, “Minuman racikannya dia enak banget lho! Pas banget di lidahku, makanya aku ngga bisa berhenti. Katanya kamu juga suka minumannya dia.”
“Dia bilang gitu?”
“Iya, semalam begitu dia pulang kerja, dia ngasi aku coklat vodka, katanya itu minuman kesukaan kamu, kata dia cocok buat refresing dan relaksasi minuman itu.”
“Trus kamu ngerasa rileks ngga abis begadang sambil minum-minum?” tanyaku sedikit sinis. Lagi-lagi dia memamerkan senyumannya yang menawan.
“Aku ngga pernah ngerasa seperti ini sebelumnya and I’m full of joy.”
“Abis makan kamu pulang ya.”
“Oh ya kamu gimana, masih sakit kepala?” tanyanya tanpa merespon perkataanku tadi
“Udah ngga sakit.”
“Inget, obatnya di minum,” ujarnya lalu menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya. Aku berdiri mengambilkan minuman untuknya.
“Makasi,” dia memberikan kembali gelas yang telah kosong kepadaku.
“Kamu pulang sekarang ya!” kataku lagi padanya. Aku sudah ngga peduli lagi kalau terkesan kasar atau mengusirnya, seharusnya ini kulakukan dari semalam.
“Kamu ngga suka aku di sini?”
“Kamarku ngga kayak rumah kamu. Aku itu justru bingung kalau kamu di sini, ngga tahu harus gimana sama kamu,”ujarku jujur padanya.
“Aku nyaman di sini,” ujarnya tersenyum, “boleh aku baringan di tempat tidur kamu?”
Aku menghela nafas panjang, aku pasrah aja, terserah dia mau ngapain sekarang.
“Tidur aja,” sahutku.
***
Aku benar-benar mati gaya gara-gara kehadiran Hanggara. Setelah selesai mandi aku membuka laptopku dan duduk lesehan di lantai.
“Vio,” panggil Hanggara yang setengah duduk bersandar di atas tempat tidur sambil memangku laptopnya
“Apa?”
“Jangan kerja lho!” katanya mengingatkanku
“Ngga, aku lagi browsing,” sahutku kembali menekuri layar laptopku.
“Ngapain di bawah, sini!”
Aku mendongak melihatnya.
“Duduk sini,” ujarnya sambil menepuk bagian kosong yang ada di sebelahnya.
“Ngga aku di sini aja,” tolakku.
Hanggara bangun dan malah duduk di sampingku
“Lagi liat apa?” tanyanya
Aku menutup cepat laptopku dan menghadap ke arahnya.
“Makasi banyak kamu udah bantuin aku, tapi aku mohon kamu pulang sekarang ya,” sahutku menatap matanya
Aku mendengar dia menghela nafas. Lalu kemudian, menutup layar laptopnya.
“Ok aku pulang, tapi nanti sore aku ke sini lagi,” sahutnya memandangku
“Silahkan, tapi ga boleh nginep lagi.”
“Ok, tapi kamu janji juga, jangan keluar dulu, kalau kamu perlu sesuatu telpon aku,” sahutnya tegas.
“Iya, aku janji,” sahutku mau ngga mau menuruti keinginannya lagi.

Looking for a star....
Aku menggeliat ketika sedikit demi sedikit kesadaran kembali ke tubuhku. Dengan malas aku terduduk di atas tempat tidur dan merasakan sakit di kepalaku menghilang sepenuhnya dan hanya menyisakan rasa berat di tengkukku.
Untuk meregangkan otot leher, kugerakkan kepalaku, geleng kanan kiri, toleh kanan kiri…. Eits..sebentar, siapa itu baringan di lantai.
Aku melongok dan terkejut sekali ketika melihat Hanggara tertidur pulas di lantai beralaskan sebuah kasur lipat yang panjangnya tidak memadai sehingga seperempat kakinya harus tergeletak di lantai dan kuperhatikan pakaian yang dia pakai pun masih sama dengan yang semalam.
Perlahan aku bangun, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, kemudian masuk ke kamar mandi. Aku hanya mencuci muka dan sedikit merapikan rambut. Ketika hendak keluar dari kamar, baru aku menyadari bahwa pintu kamarku tidak terkunci dan dibiarkan sedikit terbuka. Mungkin Hanggara mengira aku pasti tidak akan mau di kamar yang terkunci hanya berdua dengannya.
Kukenakan jaket yang tergantung di balik pintu dan perlahan keluar.
Tidak cukup sampai di sana, begitu pintu terbuka sedikit lebar, wajah Fandra sudah menyambut dengan senyuman jahilnya terpampang.
“Morning!” ujarnya dengan nada lembut dan pelan, seperti sengaja dibuat-buat seperti itu
“Pagi,” ujarku datar
“Gimana semalam, sekamar dengan calon pacar, eh… udah pacar ya sekarang?” Dia tersenyum menggodaku
“Jangan ngaco ya, aku ngga tahu dia tidur di kamarku, baru bangun aku baru liat.” Aku berusaha menjelaskan.
“Oh ya? Trus, tadi baru bangun kamu udah periksa belum pakaian kamu ada yang ngga beres ngga?”
Aku berpikir sejenak, menoleh ke pakaianku sendiri yang memang belum kuganti dari bangun tidur tadi. Aku maunya keluar ke depan membeli sarapan, hanya memakai jaket menutupi pakaian tidurku.
Perasaan pakaianku ngga ada yang aneh. Dan kemudian kudengar tawa Fandra. Sial, dia mengacaukan pikiranku!!
“Awas lo ya!” ancamku dengan kesal, lalu beranjak pergi dari hadapannya yang masih dengan puasnya menertawaiku.
“Eh, mau ke mana?”
Aku tidak menyahut dan terus jalan lempeng menjauhinya. Aku kesal sekali.
Bisa kudengar derap kaki yang terburu-buru mengikutiku ketika aku menuruni anak tangga.
“Mau beli nasi kuning ya?” kudengar suara Fandra di belakangku yang sepertinya mencoba mensejajari langkahku, “ikut ya?” aku masih diam dan mempercepat langkahku
”Vio!” tiba-tiba Fandra meloncat ke depanku sehingga menghalangi jalanku dan mau tidak mau aku harus berhenti. Aku menatapnya kesal.
“Apaa?” hardikku
“Sorry, aku becanda,” ujarnya, “Iya, semalem aku yang kasi kasur lipatku buat dipakai tidur buat dia, dan aku juga yang ngasi saran dia tidur di kamar kamu.”
“Aku yang punya kamar, dan kamu yang ngasi dia ijin tidur di kamar aku?”
“Aku hanya nyaranin aja, eh… dia beneran ngikutin saranku,” ujarnya tanpa rasa bersalah
“Kamu juga sih, kenapa ngga suruh dia pulang atau suruh dia tidur di kamar kamu aja, kalian kan sama-sama cowok!”
Aku menghindarinya yang berdiri di depanku dan berjalan pelan menuju ke gerbang rumah. Fandra masih mengekorku
“Aku udah bilangin, tapi dia ngga mau,” balas Fandra membela diri.
“Bohong!”
“Sejak kita kenal, pernah aku bohong?”
Aku meliriknya yang kini berjalan di sampingku. Sekilas pandangan kami bertemu, dan yang kutangkap dia bicara serius. Aku memilih diam dan tidak menjawabnya.
Aku memesan tiga bungkus nasi kuning, dan sambil menunggu, aku kembali bertanya pada Fandra.
“Kalian sempet ngobrol semalem?”
“Aku ajak dia minum sampai jam…hm..sekitar jam 3 pagi kayaknya,” sahutnya kalem.
Spontan aku menoleh kepadanya dan mendapatinya tersenyum lebar tanpa dosa. Aku hanya geleng-geleng kepala. Pantes aja Hanggara tidur kayak orang pingsan gitu.
“Trus kamu ngga tidur? Begadang sampai jam tiga, jam segini udah melek.” Dia tertawa kecil.
“Tidur lah, kalau aku cukup dua jam aja tidurnya.”
“Pantes aja mata kamu kayak mata panda.”
“Tapi ntar aku tidur lagi kok, jangan khawatir gitu dong, nanti pacar baru kamu cemburu.”
Plak!
Aku memukul keras lengannya yang justru membuatnya tertawa terbahak-bahak
Setelah membayar aku dan Fandra kembali ke kostan.
Fandra memberikanku kursi yang ada di kamarnya dan dia sendiri duduk di tempat favoritnya sambil kami berdua sarapan nasi kuning.
Sewaktu aku masuk mengambil sendok dan gelas, kuperhatikan Hanggara masih terlelap, sengaja aku tidak membangunkannya, supaya dia cukup tidur dan terbangun sendiri.
“Semalem itu, beneran lho pacar ka…”
“Bukan pacar Fandra!” potongku cepat dan keras
“Sssttt… jangan keras-keras ntar pac...eh…Angga kebangun denger suara kamu hehehe,” ujarnya bernada menggodaku lagi, “iya-iya bukan pacar. Jadi…… semalem dia tuh ngaku sama aku, dia bilang dia ngga suka kalau aku deket-deket kamu, trus ya aku bilang aja, aku hanya mau bantu, kan kasihan kamu sendiri dan kita juga temenan untuk saat ini, tapi untuk ke depannya belum tahu juga…hehehe,” ujarnya sambil sesekali mengunyah dan menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Ngaco terus ngomongnya!”
“Yang terakhir ngaco, bener,...tapi yang sebelumnya beneran kok dia bilang gitu.”
“Eh, kamu gimana, udah enakan?”
Aku menelan makananku sebelum menjawab pertanyaan Fandra, “Udah ngga sakit lagi kepalaku, cuma rasanya masih agak ngga enak, ngga kaya biasanya.”
“Makanya jangan bandel kalau dibilangin. Disuruh jangan kerja dulu malah ngantor.”
Aku hanya diam saja, malas berdebat karena memang aku yang salah.
“Hei…”
Aku mendongak melihat Fandra ketika dia mengucapkan kata itu, aku melihatnya melihat ke arah belakangku, dan spontan aku pun ikut menoleh ke belakang.
Kulihat Hanggara sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat masih mengantuk. Dia tidak tampak seperti Hanggara yang aku kenal, wajahnya nampak innocent sekali.
“Baru bangun, kalau masih ngantuk tidur aja lagi,” ujarku padanya
“Kalian makan ngga ngajak-ngajak,” sahutnya berdiri di belakangku dan aku menjadi canggung ketika menyadari tangan Hanggara tersampir di bahu kananku. Mataku tertuju ke Fandra yang sepertinya menahan senyum.
“Makan bro, tapi seadanya cuma nasi kuning 5 ribuan aja,” sahut Fandra sambil mengunyah
“Enak banget itu, banyak ya dapetnya,” ujar Hanggara memperhatikan kami yang sedang makan.
“Aku udah beliin buat kamu, ntar aku ambilin,” ujarku hendak berdiri tapi tangan Hanggara menahanku agar tetap duduk.
“Ngga usah, kamu selesain makanmu, aku mandi dulu.”
“Ok,” sahutku. Dia bergegas masuk ke dalam kamar lagi.
“Hm… move on, move on…,” seloroh Fandra sambil meloncat turun dari pembatas balkon tempatnya duduk dan berbisik di telingaku.
“Aku mau tidur dulu ya,” dia tersenyum lebar dan berlalu ke kamarnya.
Tinggal aku sendirian yang bingung harus bagaimana. Perlahan aku masuk ke kamarku, rasanya agak aneh, masuk ke kamar sendiri tapi terasa masuk ke kamar orang lain. Aku menyiapkan makanan buat Hanggara di atas lemari kecilku, lalu merapikan tmpat tidur lipat yang dipakai Hanggara tadi dan meletakkannya di balik pintu. Nanti saja aku kembalikan ke Fandra karena sewaktu tadi dia masuk ke kamarnya, dia langsung menutup pintu, aku agak malas kalau harus gedor-gedor lagi.
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselku. Tak lama kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka, dengan ragu aku melihat ke arah kamar mandi. Untunglah Hanggara keluar kamar mandi sudah dengan pakaian lengkap, tidak seperti sewaktu aku di rumahnya dulu, dia dengan santainya berkeliaran hanya dengan lilitan handuk menutupi pinggang.
“Sini handuknya, biar aku jemur,” kataku menghampirinya. Dia memberikan handuk yang tersampir di pundaknya.
“Ini makan dulu,” ujarku lagi mengambil piring serta bungkusan nasi dan menyodorkannya pada Hanggara
“Makasi ya,” sahutnya dengan senyum mengembang
Aku keluar menjemur handuknya dan begitu masuk lagi ke kamar aku sudah mendapati Hanggara duduk lesehan di lantai bersandar pada sisi tempat tidur sambil makan nasi kuningnya dengan lahap.
Aku mengambil tempat tepat di depannya, bersandar pada dinding.
“Semalam kenapa ngga pulang?” tanyaku membuka percakapan
Tampak dia menelan makanannya dulu sebelum menjawabku, “Kasihan ninggalin kamu sendirian.” Dia tersenyum padaku, dan kemudian kembali menyuapkan sesendok penuh makanan ke mulutnya.
“Trus kenapa mau diajakin minum sama Fandra sampai pagi, kaya ngga ada kerjaan banget?!”
Dia tertawa dan menyahut, “Minuman racikannya dia enak banget lho! Pas banget di lidahku, makanya aku ngga bisa berhenti. Katanya kamu juga suka minumannya dia.”
“Dia bilang gitu?”
“Iya, semalam begitu dia pulang kerja, dia ngasi aku coklat vodka, katanya itu minuman kesukaan kamu, kata dia cocok buat refresing dan relaksasi minuman itu.”
“Trus kamu ngerasa rileks ngga abis begadang sambil minum-minum?” tanyaku sedikit sinis. Lagi-lagi dia memamerkan senyumannya yang menawan.
“Aku ngga pernah ngerasa seperti ini sebelumnya and I’m full of joy.”
“Abis makan kamu pulang ya.”
“Oh ya kamu gimana, masih sakit kepala?” tanyanya tanpa merespon perkataanku tadi
“Udah ngga sakit.”
“Inget, obatnya di minum,” ujarnya lalu menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya. Aku berdiri mengambilkan minuman untuknya.
“Makasi,” dia memberikan kembali gelas yang telah kosong kepadaku.
“Kamu pulang sekarang ya!” kataku lagi padanya. Aku sudah ngga peduli lagi kalau terkesan kasar atau mengusirnya, seharusnya ini kulakukan dari semalam.
“Kamu ngga suka aku di sini?”
“Kamarku ngga kayak rumah kamu. Aku itu justru bingung kalau kamu di sini, ngga tahu harus gimana sama kamu,”ujarku jujur padanya.
“Aku nyaman di sini,” ujarnya tersenyum, “boleh aku baringan di tempat tidur kamu?”
Aku menghela nafas panjang, aku pasrah aja, terserah dia mau ngapain sekarang.
“Tidur aja,” sahutku.
***
Aku benar-benar mati gaya gara-gara kehadiran Hanggara. Setelah selesai mandi aku membuka laptopku dan duduk lesehan di lantai.
“Vio,” panggil Hanggara yang setengah duduk bersandar di atas tempat tidur sambil memangku laptopnya
“Apa?”
“Jangan kerja lho!” katanya mengingatkanku
“Ngga, aku lagi browsing,” sahutku kembali menekuri layar laptopku.
“Ngapain di bawah, sini!”
Aku mendongak melihatnya.
“Duduk sini,” ujarnya sambil menepuk bagian kosong yang ada di sebelahnya.
“Ngga aku di sini aja,” tolakku.
Hanggara bangun dan malah duduk di sampingku
“Lagi liat apa?” tanyanya
Aku menutup cepat laptopku dan menghadap ke arahnya.
“Makasi banyak kamu udah bantuin aku, tapi aku mohon kamu pulang sekarang ya,” sahutku menatap matanya
Aku mendengar dia menghela nafas. Lalu kemudian, menutup layar laptopnya.
“Ok aku pulang, tapi nanti sore aku ke sini lagi,” sahutnya memandangku
“Silahkan, tapi ga boleh nginep lagi.”
“Ok, tapi kamu janji juga, jangan keluar dulu, kalau kamu perlu sesuatu telpon aku,” sahutnya tegas.
“Iya, aku janji,” sahutku mau ngga mau menuruti keinginannya lagi.

Diubah oleh drupadi5 12-08-2020 10:36
JabLai cOY dan 8 lainnya memberi reputasi
9