- Beranda
- Stories from the Heart
Menikah Tanpa Cinta
...
TS
umiaziza
Menikah Tanpa Cinta

Seberapa banyak menolak, mereka tetap tak akan peduli pada perasaanku. Padahal, aku ingin menikah karena cinta, bukan karena perjodohan seperti ini. Ya, mau bagaimana lagi? Menangis pun percuma, aku hanya bisa pasrah.
Pertemuan keluarga diadakan sore ini, aku disuruh untuk berdandan yang rapi. Buat apa? Menarik perhatian si lelaki yang akan menjadi calon suamiku nanti? Ah, sungguh aku tak peduli.
Pikiranku hanya tertuju pada Mas Tio, kekasihku yang berjanji akan meminang jika sudah mapan nanti. Sayangnya, mapannya keduluan oleh kesiapan orang lain. Kesiapan? Entahlah, siapa yang dapat menjamin laki-laki yang akan meminangku itu sudah siap atau belum.
Bermodalkan kepasrahan, akhirnya aku melepas semua harapan.
"Sudah siap, Far?"
Aku kaget saat tiba-tiba ada yang menyapa.
"Ah, Ibu. Sejak kapan Ibu ada di belakangku?" Aku menatap sosok Ibu melalui cermin di hadapanku.
"Sudah sejak kamu melamun. Kalau sudah siap, segera keluar. Calonmu sudah datang." Ibu menepuk punggungku, lalu keluar.
Tak mengertikah mereka perasaanku? Semudah itukah mereka mengambil keputusan? Sementara, beban yang kutanggung dalam dada begitu menyesakkan.
Kupandangi pantulan wajah di cermin. Bibir pucat, mata bengkak. Penampilanku semenyedihkan ini. Lantas kenapa mereka abai terhadap hal ini? Hmmm, mau tak mau, semua sudah terjadi.
Aku memakai jilbab merah muda, senada dengan baju yang kukenakan. Kupoleskan sedikit riasan di wajah.
Setelah selesai dengan urusan berdandan, kuraih ponsel yang terletak di kasur. Kukirim pesan singkat pada Mas Tio.
[Mas, semua di antara kita sudah selesai. Hari ini, orang tuaku telah menerima pinangan laki-laki lain. Maafkan aku yang tidak bisa lagi bersamamu.]
Kuketikkan pesan itu dengan hati berduka. Air mata hendak terjatuh lagi, tapi kuseka sebelum itu terjadi.
"Farah! Kok lama banget sih keluarnya? Ayo cepetan!" Teriakan Ibu dari luar kamar membuatku terkejut.
Wanita satu itu, apakah akan selalu membuatku terkejut begini?
"Hmmm. Farah sudah siap. Tunggu."
Aku bangkit dari kursi rias, berjalan dengan langkah diseret. Demi apa pun, aku tidak menginginkan ini. Apakah aku boleh melarikan diri?
"Loh, Far. Cepet!" Ibu menegur sekali lagi.
Kupejamkan mata sejenak, mengambil napas panjang lalu mengembuskannya kasar.
"Ayo," kataku saat tiba di depan pintu. Kulihat, wajah Ibu menyiratkan kemarahan. Apa yang kulakukan barusan begitu salah? Ah, ini benar-benar bisa membuatku gila.
***
Aku dan Ibu berjalan berdampingan menuju ruang tamu, tempat semua orang berkumpul. Aku hanya bisa menunduk, tak berani menampakkan wajah yang begitu kacau ini kepada para tamu.
"Eh, ini calon pengantin perempuannya sudah datang," ucap salah satu tamu perempuan. Aku tak tahu rupa orang yang berbicara tersebut dan tak ingin tahu.
"Masya Allah, cantik." Tamu yang lain menimpali.
"Ayo, beri salam sama semuanya," ucap Ibu sembari menyikutku.
Aku menghela napas sejenak, lalu mengangkat wajah demi melihat para tamu yang tak aku inginkan kedatangannya. "Assalamualaikum. Nama saya Farah, Om, Tante ...." Kubuat nada bicara selembut mungkin.
"Nak Farah, sini duduk dekat mama." Seorang wanita bergincu merah cabai menunjuk kursi di sebelahnya, nemberi isyarat agar aku duduk di sana.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum ke arah wanita yang seumuran dengan ibuku itu. Entah senyum macam apa yang kusuguhkan, senyum manis atau kecut, lagi-lagi aku tak peduli.
Aku menghampiri wanita itu, lalu duduk di sebelahnya. Sementara, di samping kiriku ada laki-laki, usinya kira-kira sebaya denganku.
"Hallo, Farah."
Dia menyapa sembari menyunggingkan senyuman, aku hanya merespon dengan anggukan.
"Ini calonmu, Nak." Wanita yang tadi menunjuk ke arah laki-laki yang baru saja menyapaku. "Ini anak mama yang kedua."
Sekali lagi, hanya anggukan yang kuberikan sebagai jawaban. Aku bosan dengan acara ini, pikiranku sedari tadi hanya dipenuhi oleh Mas Tio.
Mas, apa yang sedang kamu lakukan? Sudahkah membaca pesanku? Jika sudah, kenapa tak menyusul untuk menghentikan acara pinangan ini? Aku membatin sembari menyeka air mata yang siap mengalir di pipi.
Haruskah jalan cintaku dan Mas Tio berakhir begitu tragis? Hubungan kami yang bertahun-tahun tak ada artinya, dikalahkan oleh pinangan yang tak seharusnya diterima.
Hanya karena tetangga yang mengatai aku perawan tua, Ayah dan Ibu menerima pinangan orang yang belum kuketahui asal usulnya. Katanya, laki-laki ini sudah mapan, rajin, dan tampan.
Hah, tampan? Untuk satu itu, aku rasa adalah sebuah kebohongan. Meski tampan itu relatif, tapi kuyakin kalian akan sependapat denganku bahwa laki-laki ini tak ada istimewanya dalam segi fisik.
Mapan? Rajin? Aku tak tahu hal itu adalah fakta atau sekadar kata. Ya, sudahlah. Jika orang tuaku berkata iya, aku bisa apa?
"Namaku Angga," ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Aku tak menerima uluran tangannya. Kuletakkan kedua tangan di depan dada, lalu disusul senyum paksa sebagai balasan untuk sapaannya.
Dia menarik kembali tangannya, raut mukanya berubah. Mungkin dia kecewa. Sama, aku juga kecewa. Kecewa karena tidak ada yang mengerti bagaimana perasaanku saat ini. Semuanya sibuk berbincang, ber-haha hihi.
"Nak Farah kerja apa?" Wanita yang sedari tadi menjuluki dirinya mama mencoba mengobrol denganku lagi.
"Ibu dan Ayah belum cerita? Saya seorang pengajar di salah satu lembaga kursus."
"Wah, ternyata calon mantu mama anak pintar."
Meski tiada yang salah dari ucapan wanita itu, entah mengapa aku tidak suka. Ucapannya yang lembut, seakan-akan hanya rekayasa belaka. Seperti dibuat-buat, tidak tulus.
"Kalau Angga, dia kapan hari bekerja di perusahaan besar."
Kapan hari? Lalu, sekarang? Apakah laki-laki di dekatku ini tidak punya pekerjaan? Lantas kenapa mereka berkata pada Ibu dan Ayah bahwa laki-laki ini sudah mapan?
Astaghfirullah, kebohongan macam apa ini? Akankah Ayah dan Ibu mendengar ucapan ibu dari laki-laki yang menjadi calonku ini?
Angga yang mapan atau keluarganya? Jika keluarganya yang mapan, apa bedanya dengan Mas Tio? Sungguh, semua ini membuatku pusing. Dada ini begitu sesak, otakku tak lagi sanggup berpikir.
"Farah kurang enak badan, Om, Tante. Hmmm, Angga ...." Aku membuat semua orang di ruang tamu melihat ke arahku. "Maaf, bolehkah Farah istirahat dulu?" tanyaku, tanpa peduli tatapan tajam Ibu.
Cukup, untuk hari ini cukup! Aku tidak ingin mendengar banyak pengakuan dari kebohongan. Biarkan aku istirahat sejenak, untuk besok, lagi-lagi hanya bisa kupasrahkan pada Yang Maha Kuasa.
***
INDEX
Part 2, Part 3, Part 4, Part 5
Diubah oleh umiaziza 06-07-2020 18:00
lumut66 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
5.3K
84
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
umiaziza
#16
Menikah Tanpa Cinta Part 2
Aku segera pergi ke kamar. Kuabaikan setiap tatapan tak mengenakkan. Biarkan saja mereka beranggapan aku tidak sopan.
Dalam kamar, aku hanya bisa menangis. Sebab, pesan singkatku ternyata dibalas oleh Mas Tio. Ya Allah, dada ini begitu sesak. Aku tak sanggup rasanya.
[Jika itu keputusanmu, aku bisa apa, Far? Doaku, semoga kamu selalu bahagia.]
Bagaimana aku bisa bahagia, Mas? Jika laki-laki yang akan kunikahi bukan kamu. Berdosakah aku jika saat ini berpikir untuk melarikan diri lalu menikah dengan Mas Tio tanpa restu?
Ah, tidak. Mas Tio tidak akan pernah setuju akan pemikiran gilaku ini. Aku sangat tahu laki-laki yang telah menemaniku selama empat tahun itu.
"Mas, aku harus bagaimana?" Kutatap ponsel yang berlatar foto Mas Tio dengan kepiluan. "Aku mencintaimu. Aku tidak ingin pernikahan ini," gumamku.
Beginikah hidup? Selalu mempermainkanku, padahal aku tak sedang ingin main-main. Entah, harus berapa banyak lagi air mata yang keluar karena permainan ini? Harus berapa besar luka yang membuat hati perih?
"Mas, bawa aku pergi."
"Farah!"
Tangisku terhenti saat Ibu datang dan marah tiba-tiba.
"Beginikah ibu mengajarimu? Di mana sopan santunmu? Mereka akan segera menjadi keluargamu, kamu bersikap seperti itu sama mereka. Apa kamu gak malu?" cerocosnya.
Selama ini, sosok Ibu selalu menghangatkanku. Namun, entah kenapa berubah saat ini. Biasanya, dia yang paling mengerti, tapi tidak lagi. Aku seperti hidup sendiri.
"Keluar sekarang, mereka mau pulang. Salim kek atau apa!"
"Aku gak mau, Bu. Aku gak suka keluarga itu."
"Halah, sudah. Kita selesaikan nanti. Ibu mau menemui tamu yang akan pulang." Ibu keluar dan menutup pintu dengan keras.
***
Meratapi diri adalah hal yang satu-satunya bisa kulakukan. Apa hal ini berguna? Tentu saja tidak. Namun, aku tak tahu cara bangkit saat ini. Bolehkah begini saja?
Hanya bayang Mas Tio yang bermain di pelupuk mata. Andai aku jadi menikah dengan laki-laki bernama Angga itu, bukankah ini adalah dosa besar? Ah, kepalaku serasa mau pecah memikirkan semua ini.
"Farah!"
Lagi-lagi Ibu membuatku terkejut karena datang tiba-tiba. Apakah itu sudah menjadi kebiasaannya sekarang? Biasanya, Ibu adalah sosok lembut. Jangankan marah, melotot saja hampir tidak pernah.
Kali ini, sorot mata menghangatkan itu telah menghilang. Tergantikan dengan tatapan tajam yang sarat akan kemarahan. Ibu, apa yang terjadi? Kenapa begini?
"Ibu gak habis pikir sama kamu, bagaimana bisa kamu bersikap begitu?" Ibu mengurut keningnya.
Apa Ibu sedang pusing? Sebandingkah dengan pusing yang kurasakan?
"Kalau ditanya, jawab, Far!" bentaknya.
Aku hanya bergeming. Mencoba mencari titik asal kenapa semua bisa begini. Ibu yang berubah dan perencanaan pernikahan yang tiba-tiba. Pasti ada sesuatu yang salah sebelumnya.
"Bu, kenapa begini?" Aku mencoba memberanikan diri untuk bicara. "Bu, biasanya Ibu tidak pernah membentak Farah."
"Ibu begini karena kamu sudah keterlaluan!"
"Keterlaluan yang bagaimana, Bu? Ibu tidak tau? Si Angga itu ternyata tidak bekerja. Mapan? Dari mana?" Aku tersenyum sinis.
"Halah. Kamu tau dari siapa? Sudah. Ibu sudah putuskan, pernikahanmu bulan depan. Lupakan tentang Tio, biar kamu gak nganggap Angga salah terus."
Semudah itu Ibu menyuruhku melupakan Mas Tio? Padahal, dia yang menjadi saksi betapa aku mencintai laki-laki pemilik senyum menawan itu.
"Aku gak bisa, Bu." Aku menolak dengan tegas. Sebab, rasa ini memang tak bisa dibohongi. "Aku tidak suka sama Angga."
"Sekarang kamu mikir, kamu udah umur berapa? 28 tahun, Far! Kamu mau terus-terusan dipanggil perawan tua?"
Ya, memang benar bahwa aku sering dipanggil perawan tua. Sebab, teman-teman seusiaku sudah menikah, bahkan sudah ada yang beranak dua. Namun, bukankah garis tangan setiap orang berbeda?
Pernikahanku hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Itu prinsipku. Lantas, haruskah kuserahkan seluruh hidup ini pada seorang Angga?
"Aku gak setuju sama pernikahan ini. Ibu kenapa maksa sih? Emang keluarga Angga janjiin apa sama Ibu? Harta?"
Sebuah tamparan mendarat di pipi kananku. Rupanya, pertanyaanku membuat amarah Ibu semakin menjadi, terlihat dari wajahnya yang kini merah padam. Mendapatkan perlakuan itu hanya membuatku diam.
"Jangan kurang ajar ya, Far."
Aku belum pernah melihat Ibu seperti ini. Apakah wanita kesayanganku tengah kerasukan?
"Aku anakmu, Bu," lirihku.
"Untuk itu, ibu mau kamu nikah sama Angga. Kalau kamu masih merasa jadi anak ibu."
Kalimat Ibu membuat jantung seakan-akan berhenti berdetak. Bukan jawaban seperti itu yang aku harapan darinya.
"Demi apa, Bu?" Aku memandang Ibu dengan tatapan yang entah seperti apa.
"Demi masa depanmu. Biar kamu seneng."
Baiklah, jika Ibu yakin bahwa masa depanku akan bahagia dengan Angga, tiada pilihan lain selain menurut saja.
Aku mengembuskan napas kasar. Semua yang kugenggam, perlahan kulepas. Masa depan yang menjanjikan dengan Angga? Semoga keyakinan Ibu tak salah. Semoga laki-laki itu bertanggung jawab setelah memperistriku nanti.
"Baiklah, Bu. Saat ini, Farah tidak ingin diganggu. Tak ada gunanya berdebat seperti ini. Farah istirahat saja, ya."
Aku membaringkan lagi tubuh yang sudah tak bertenaga ini, berharap semoga saat terbangun nanti tak ada luka yang akan membuatku kalah. Semoga, saat aku bangun nanti, tak ada sesuatu yang akan berhasil membuatku menyerah.
Aku kuat menghadapi ini, tapi aku tak yakin bahwa akan ada bahagia yang akan singgah di hidupku nanti. Sisa harapan terakhir kini, semoga hidup Mas Tio selalu diberkahi dan dilimpahi kebahagiaan.
Inilah akhir cintaku dengan kekasih yang amat kusayangi. Namun, ini adalah awal bagiku dengan Angga, yang tak tahu akan berjalan bagaimana nanti.
***
Next?
Dalam kamar, aku hanya bisa menangis. Sebab, pesan singkatku ternyata dibalas oleh Mas Tio. Ya Allah, dada ini begitu sesak. Aku tak sanggup rasanya.
[Jika itu keputusanmu, aku bisa apa, Far? Doaku, semoga kamu selalu bahagia.]
Bagaimana aku bisa bahagia, Mas? Jika laki-laki yang akan kunikahi bukan kamu. Berdosakah aku jika saat ini berpikir untuk melarikan diri lalu menikah dengan Mas Tio tanpa restu?
Ah, tidak. Mas Tio tidak akan pernah setuju akan pemikiran gilaku ini. Aku sangat tahu laki-laki yang telah menemaniku selama empat tahun itu.
"Mas, aku harus bagaimana?" Kutatap ponsel yang berlatar foto Mas Tio dengan kepiluan. "Aku mencintaimu. Aku tidak ingin pernikahan ini," gumamku.
Beginikah hidup? Selalu mempermainkanku, padahal aku tak sedang ingin main-main. Entah, harus berapa banyak lagi air mata yang keluar karena permainan ini? Harus berapa besar luka yang membuat hati perih?
"Mas, bawa aku pergi."
"Farah!"
Tangisku terhenti saat Ibu datang dan marah tiba-tiba.
"Beginikah ibu mengajarimu? Di mana sopan santunmu? Mereka akan segera menjadi keluargamu, kamu bersikap seperti itu sama mereka. Apa kamu gak malu?" cerocosnya.
Selama ini, sosok Ibu selalu menghangatkanku. Namun, entah kenapa berubah saat ini. Biasanya, dia yang paling mengerti, tapi tidak lagi. Aku seperti hidup sendiri.
"Keluar sekarang, mereka mau pulang. Salim kek atau apa!"
"Aku gak mau, Bu. Aku gak suka keluarga itu."
"Halah, sudah. Kita selesaikan nanti. Ibu mau menemui tamu yang akan pulang." Ibu keluar dan menutup pintu dengan keras.
***
Meratapi diri adalah hal yang satu-satunya bisa kulakukan. Apa hal ini berguna? Tentu saja tidak. Namun, aku tak tahu cara bangkit saat ini. Bolehkah begini saja?
Hanya bayang Mas Tio yang bermain di pelupuk mata. Andai aku jadi menikah dengan laki-laki bernama Angga itu, bukankah ini adalah dosa besar? Ah, kepalaku serasa mau pecah memikirkan semua ini.
"Farah!"
Lagi-lagi Ibu membuatku terkejut karena datang tiba-tiba. Apakah itu sudah menjadi kebiasaannya sekarang? Biasanya, Ibu adalah sosok lembut. Jangankan marah, melotot saja hampir tidak pernah.
Kali ini, sorot mata menghangatkan itu telah menghilang. Tergantikan dengan tatapan tajam yang sarat akan kemarahan. Ibu, apa yang terjadi? Kenapa begini?
"Ibu gak habis pikir sama kamu, bagaimana bisa kamu bersikap begitu?" Ibu mengurut keningnya.
Apa Ibu sedang pusing? Sebandingkah dengan pusing yang kurasakan?
"Kalau ditanya, jawab, Far!" bentaknya.
Aku hanya bergeming. Mencoba mencari titik asal kenapa semua bisa begini. Ibu yang berubah dan perencanaan pernikahan yang tiba-tiba. Pasti ada sesuatu yang salah sebelumnya.
"Bu, kenapa begini?" Aku mencoba memberanikan diri untuk bicara. "Bu, biasanya Ibu tidak pernah membentak Farah."
"Ibu begini karena kamu sudah keterlaluan!"
"Keterlaluan yang bagaimana, Bu? Ibu tidak tau? Si Angga itu ternyata tidak bekerja. Mapan? Dari mana?" Aku tersenyum sinis.
"Halah. Kamu tau dari siapa? Sudah. Ibu sudah putuskan, pernikahanmu bulan depan. Lupakan tentang Tio, biar kamu gak nganggap Angga salah terus."
Semudah itu Ibu menyuruhku melupakan Mas Tio? Padahal, dia yang menjadi saksi betapa aku mencintai laki-laki pemilik senyum menawan itu.
"Aku gak bisa, Bu." Aku menolak dengan tegas. Sebab, rasa ini memang tak bisa dibohongi. "Aku tidak suka sama Angga."
"Sekarang kamu mikir, kamu udah umur berapa? 28 tahun, Far! Kamu mau terus-terusan dipanggil perawan tua?"
Ya, memang benar bahwa aku sering dipanggil perawan tua. Sebab, teman-teman seusiaku sudah menikah, bahkan sudah ada yang beranak dua. Namun, bukankah garis tangan setiap orang berbeda?
Pernikahanku hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Itu prinsipku. Lantas, haruskah kuserahkan seluruh hidup ini pada seorang Angga?
"Aku gak setuju sama pernikahan ini. Ibu kenapa maksa sih? Emang keluarga Angga janjiin apa sama Ibu? Harta?"
Sebuah tamparan mendarat di pipi kananku. Rupanya, pertanyaanku membuat amarah Ibu semakin menjadi, terlihat dari wajahnya yang kini merah padam. Mendapatkan perlakuan itu hanya membuatku diam.
"Jangan kurang ajar ya, Far."
Aku belum pernah melihat Ibu seperti ini. Apakah wanita kesayanganku tengah kerasukan?
"Aku anakmu, Bu," lirihku.
"Untuk itu, ibu mau kamu nikah sama Angga. Kalau kamu masih merasa jadi anak ibu."
Kalimat Ibu membuat jantung seakan-akan berhenti berdetak. Bukan jawaban seperti itu yang aku harapan darinya.
"Demi apa, Bu?" Aku memandang Ibu dengan tatapan yang entah seperti apa.
"Demi masa depanmu. Biar kamu seneng."
Baiklah, jika Ibu yakin bahwa masa depanku akan bahagia dengan Angga, tiada pilihan lain selain menurut saja.
Aku mengembuskan napas kasar. Semua yang kugenggam, perlahan kulepas. Masa depan yang menjanjikan dengan Angga? Semoga keyakinan Ibu tak salah. Semoga laki-laki itu bertanggung jawab setelah memperistriku nanti.
"Baiklah, Bu. Saat ini, Farah tidak ingin diganggu. Tak ada gunanya berdebat seperti ini. Farah istirahat saja, ya."
Aku membaringkan lagi tubuh yang sudah tak bertenaga ini, berharap semoga saat terbangun nanti tak ada luka yang akan membuatku kalah. Semoga, saat aku bangun nanti, tak ada sesuatu yang akan berhasil membuatku menyerah.
Aku kuat menghadapi ini, tapi aku tak yakin bahwa akan ada bahagia yang akan singgah di hidupku nanti. Sisa harapan terakhir kini, semoga hidup Mas Tio selalu diberkahi dan dilimpahi kebahagiaan.
Inilah akhir cintaku dengan kekasih yang amat kusayangi. Namun, ini adalah awal bagiku dengan Angga, yang tak tahu akan berjalan bagaimana nanti.
***
Next?
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3