News
Batal
KATEGORI
link has been copied
139
Lapor Hansip
19-06-2020 19:10

Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Baru saja kemarin helikopter TNI AD jatuh di Kendal, pada tanggal 6 Juni 2020 kemarin. TNI kembali dirundung musibah, tepat 9 hari setelah helikopter Mi-17 jatuh. Kini giliran pesawat milik matra TNI AU yang jatuh, tak main-main yang jatuh kali ini adalah pesawat jet tempur gan sist.


Pesawat itu adalah Hawk 200 dengan nomor lambung TT 0209 jatuh pada hari Senin tanggal 15 Juni 2020 kemarin, sekitar pukul 08.13 WIB. Pesawat jatuh saat melakukan latihan rutin, pesawat ini jatuh di daerah Kampar. Pilot pesawat adalah Lettu Pnb Apriyanto Ismail, sang pilot berhasil keluar menggunakan kursi lontar.


Ia mendarat di wilayah permukiman, lalu ditolong warga. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, tapi beberapa rumah warga mengalami kerusakan. Sang pilot mengalami luka ringan dan dilarikan ke RS terdekat. Kali ini ane akan membahas kiprah Hawk ini, dimulai dari sejarah sampai kiprahnya di Indonesia. Mari kita simak bersama.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Yang jatuh kemarin seperti ini wujudnya.

Sumber




SEJARAH


Hawk adalah tipe pesawat yang dibuat oleh pabrikan asal Inggris yang bernama British Aerospace (BAE), program ini disebut Hawk 200. Pertama kali diperkenalkan dalam ajang Farnborough, pada bulan September 1984. Sementara prototipe pesawatnya diterbangkan pertama kali pada tanggal 19 Mei 1986. Naas dua bulan setelah itu, prototipe pesawat ini malah jatuh dan menewaskan test pilot bernama Jim Hawkins.


Prototipe pesawat kedua diluncurkan tanggal 29 April 1987, prototipe kedua ini adalah penyempurnaan dari produk sebelumnya. Setelah mengalami beberapa kali tes, pihak BAE kemudian memproduksi massal pesawat jet ini. Di Inggris sendiri, pesawat ini diberi nama Hawk 1200 awalnya, kemudian dirubah menjadi Hawk 200. Khusus untuk Indonesia, Hawk 200 diberi kode angka 9. Sehingga sesampainya di Indonesia, pesawat jet ini memakai nama Hawk 209. Selain tipe 209, ada juga tipe Hawk 109 yang khusus dijadikan pesawat jet latih bagi pesawat F 15 dan F 16.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Prototipe Hawk.

Sumber



Bagi para pilot penerbang TNI AU, sebelum menggunakan pesawat canggih seperti jet tempur F 16. Mereka terlebih dulu harus dilatih menggunakan pesawat tempur Hawk 109 atau 209, baru setelah mereka dinilai mampu menerbangkan pesawat ini. Mereka baru boleh menerbangkan pesawat jet dengan spesifikasi lebih canggih.


Indonesia pertama membeli Hawk 109 dan 209 pada tahun 1992, dan akhirnya tiba secara brtahap mulai dari Hawk 209 dan beberapa tambahan Hawk 109 di tahun 1997. Pada awalnya pihak BAE merancang Hawk 109 hanya untuk pesawat latih jet tempur, sekaligus Hawk 109 bisa berperan sebagai pesawat tempur pendukung lapis kedua. Kenapa hanya lapis kedua ?, karena spesifikasi pesawat ini belum terlalu mumpuni seperti F 16. Selain itu pesawat ini dirancang multifungsi, untuk pesawat jet latih sekaligus untuk misi bertempur guna memback up pesawat yang lebih canggih.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Hawk 109.

Sumber



Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Hawk 209.

Sumber



Melihat potensi yang lebih bagus dinegara berkembang dengan dana ngepass, maka pihak BAE mulai mengembangkan Hawk 109. Dari tipe 109 lahir lah tipe 209, tipe terbaru ini lebih canggih dari pendahulunya. Karena bisa bermanuver dengan baik di udara, meski sama-sama multifungsi. Bisa untuk latihan dan juga dijadikan pesawat tempur, spesifikasi 209 sendiri tergolong lebih canggih.


Di negara asalnya pesawat ini tidak dijadikan andalan utama Angkatan Udara Inggris, Hawk sendiri hanya menjadi lapis kedua dari kekuatan pesawat tempur mereka. Selain itu pesawat ini juga dijadikan pesawat latih juga, selain Indonesia. Malaysia juga memiliki pesawat jet yang sama, dengan menggunakan kode angka 8. TNI AU memiliki 32 Hawk 209 dan 8 unit Hawk 109. Kemudian dipecah dalam dua Skadron, Skadron Udara 12 di Pekanbaru, dan Skadron Udara 1 di Pontianak.



Spesifikasi Hawk 209


BAE memberi label pesawat ini dengan nama light weight multirole fighter, kalau diartikan pesawat ini mempunyai bobot yang ringan. Berat kosong pesawat Hawk hanya 4.450 kg, cocok digunakan untuk latihan manuver udara. Selain itu pesawat ini dirancang single seat (kursi tunggal), khusus untuk satu pilot penerbang saja. Sementara sang kakak Hawk 109 dibekali double seat (dua kursi), disebut juga kursi tandem. Karena hanya pesawat lapis kedua, tipe Hawak ini memiliki kekurangan. Salah satu kekurangannya adalah pada persenjataan.


Meski 209 dirancang untuk air deffence (pertahanan udara) dan ground attack (serangan ke tanah), persenjataannya kurang begitu canggih. Biasanya pesawat sekelas jet F 16 memiliki meriam (senjata) internal dibagian dalam badan pesawatnya, dimana bagian badan pesawat akan membuka dan menembakan senjata jika pilot mengaktifkan tombolnya.


Senjata internal itu tidak dimiliki oleh Hawk series 109/209, karena pesawat ini dirancang lebih ringan dan juga ukurannya tidak terlalu besar seperti F 16. Sehingga ruang bagian dalam pesawat kurang begitu luas, jadi tidak memungkinkan memasang senjata dibagian dalamnya.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Sumber


Untuk menyiasati hal ini, pihak BAE memasang meriam eksternal dengan nama ADEN 30 mm. Meriam ini dipasang pada central hardpoint di bagian bawah body pesawat, jumlah hardpoint Hawk 209 sama dengan Hawk 109. Ada tujuh hardpoint, termasuk senjata rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder pada kedua ujung sayapnya. Walau jumlah hardpoint sama dengan milik Hawk 109, tapi Hawk 209 mampu membawa senjata yang lebih lengkap.


Hardpoint yang dimaksud disini adalah istilah dalam pesawat jet, biasa juga disebut stasiun senjata (weapon station). Merupakan bagian dari badan pesawat yang dirancang khusus untuk membawa senjata eksternal, hardpoint terletak pada sayap dan bagian bawah badan pesawat tempur (perut pesawat). Pada bagian sayap dan badan pesawat akan diberi titik (tanda) khusus dimana pada titik tersebut, nantinya dapat dipasang persenjataan eksternal, berupa meriam dan juga rudal. Biar lebih jelas bisa lihat gambar dibawah.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Hardpoint yang TS maksud, dilingkari warna merah. Hardpointnya sudah dipasangi senjata.

Sumber



Karena pesawat ini tidak bisa dipasangi senjata internal yang melekat pada body bagian dalam pesawat, maka dibagian bawah pesawat yang disebut central hardpoint tadi akan dipasang sebuah pod. Dalam istilah pesawat tempur, pod ini juga diartikan sebagai tabung. Tabung ini dipasang pada perut (bagian bawah) pesawat, fungsinya untuk wadah persenjataan. Senjata dan amunisinya ditempatkan pada pod ini, pod ini berbentuk lonjong dan besar.


Senjata eksternal ini sangat penting. Mengingat Hawk 209 didesain untuk serangan udara dan dan serangan ke permukaan, pod senjata ini juga diguanakan pada Hawk MK.53. Pesawat TNI AU yang dioperasikan tahun 1980, sebagai pesawat jet latih juga. Penggunaan pod senjata ini pertama kali digunakan oleh militer Inggris tahun 1950, dikembangkan dari pesawat British Air 1424.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Yang dimaksd pod


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Letak pod ditengah bawah, lihat lingkaran merah.

Sumber Foto



Hawk 209 dan Hawk 109 memiliki mesin yang sama, yakni Turboméca Adour Mk.871 yang punya daya dorong 6.000 pon. Dapat mencapai kecepatan maksimum hingga Mach 1.2 pada ketinggian diatas 17.000 kaki. Mach adalah satuan untuk mengukur kecepatan pesawat, satuan angka ditulis diawal angka. Mach 1.2 milik Hawk series setara dengan 1.481 km/jam, cmiiw.


Jarak tempuhnya 2.482 km, dan mampu menempuh jarak 3.610 km dengan tiga drop tanks, serta daya angkut senjata maksimal 3.500 kg. Drop tanks adalah tangki bahan bakar tambahan yang berada diluar pesawat, tangki ini biasanya ada diluar badan pesawat. Biasa dipasang pada perut atau sayap pesawat.


Untuk memudahkan navigasi, data ditampilkan pada layar multifungsi. Disebut MPD (Multi Purpose Display), tugas pilot masih dipermudah dengan perangkat yaitu HUD (Head up Display). Perannya sebagai layar proyeksi sekaligus media informasi saat berlangsung dog fight (pertempuran udara), dengan HUD maka pilot Hawk 109 TNI AU tak perlu lagi melihat ke panel pada dashboard kokpit. Perangkat HUD ini juga disematkan pada kursi kedua pad tipe Hawk 109.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Ilustrasi kokpit Hawk 209.

Sumber



Fitur canggih jet tempur juga hadir dengan kelengkapan HOTAS (Hands on Throttle and Stick), HOTAS ini beda dengan tongkat kemudi biasa pada jet tempur. Tombol pada HOTAS punya permukan berbeda-beda, cukup dengan menghafalkan tipikal permukaan tombol, maka tangan pilot sudah bisa bekerja secara otomatis. Untuk bekal keselamatan pilot, Hawk 109 dan 209 dilengkapi kursi lontar (ejection seat) jenis Martin Baker MK.10.


Kursi lontar ini dapat digunakan dalam kondisi darurat, seperti yang terjadi di Pekanbaru kemarin. Ketika pesawat akan jatuh, maka pilot bisa menggunakan fitur ejection seat. Kaca pesawat otomatis terbuka, serta kursi akan dilontarkan ke udara. Pada saat itu, pilot harus segera membuka parasutnya, agar bisa mendarat dengan selamat.




Senjata Yang Bisa Digunakan


Hawk 209 bisa membawa senjata lebih komplit dari sang kakak, salah satunya adalah rudal udara ke udara AIM-120 AMRAAM, dan Sky Flash. Rudal udara ke permukaan AGM-65 Maverick, dan rudal anti kapal Sea Eagle, selain itu Hawk 209 juga bisa membawa torpedo Sting Ray buatan Marconi.


Untuk ukuran pesawat lapis kedua, Hawk 209 sudah cukup mumpuni. Dimana pesawat ini juga mampu membawa beberapa jenis bom, bom yang dibawa antara lain : 9 x 240 kg bombs, 9 x 113 kg bombs, dan 5 x 540 kg bombs.


Sementara untuk mendukung misi khusus, Hawk 209 dapat dipasang Digital Joint Reconnaissance Pod (DJRP), kita bahas sekilas tentang DJRP. DJRP adalah peralatan canggih berupa sensor pada jet tempur yang dikembangkan mulai tahun 1990-an dan diproduksi oleh Thales Optronics dari Bury St. Edmunds, Inggris. DJRP dilengkapi sensor 8042 EO dan sensor Super Vigil IR, feed data digital ke dua modul ini juga menyediakan perekaman dan penyimpanan.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru


Sumber


Fungsi pod (bagian sensor) dikendalikan oleh reconnaissance management system, memungkinkan untuk merekam percakapan pilot. Sensornya juga menyediakan cakupan area yang luas, sensor EO merekam ketika pesawat terbang untuk jarak jauh dan pendek. Sensor IR berfungsi merekam area, berdasarkan jalur terbang yang dilewati pesawat. Data yang direkam diunduh dari modul rekaman setelah penerbangan, atau dapat diunduh melalui datalink.


Sistem ini memberikan pengintaian taktis resolusi tinggi, mampu merekam area yang dilewati oleh pesawat. Memungkinkan untuk memetakan area musuh secara digital, dimana area yang direkam. Bisa menjadi referensi untuk menempatkan pasukan, sekaligus mencari titik strategis dimana area milik musuh akan langsung diserang lewat darat maupun udara.


Sensor ini sudah dipakai lama oleh militer Inggris dan paling baru dipakai Afrika Selatan. Perangkat ini hanya opsional, diluar dari sepesifikasi milik pabrikan Hawk sendiri. Ada biaya khusus untuk membeli alat ini, dan pihak TNI AU sepertinya tidak memakai perangkat ini.


Perbedaan 109 dan 209


Quote:
Perbedaan Hawk 109 dan Hawk 209


Hawk 109:
-Double Seat (kursi tandem).
-Pesawat jet latih yang juga difungsikan untuk membantu pertempuran udara saja.
-Moncong pesawat tidak terlalu besar.
-Senjata yang dibawa terbatas
-Belum mendukung air refulling.



Hawk 209:
-Single Seat (kursi tunggal).
-Pesawat jet latih yang difungsikan untuk pertempuran udara dan serangan ke tanah (permukaan).
-Moncong pesawat lebih besar.
-Senjata yang dibawa lebih banyak.
-Sudah bisa air refulling. (pengisian bbm via udara)



Didalam hidung yang terlihat lebih besar ini, Hawk 209 sudah dipasang radar multi gelombang pada bagian hidungnya. Radar yang dipasang adalah tipe AN/APG-66H buatan Westinghouse. Radar ini juga terpasang pada jet tempur F-4EJ Phantom milik AU Jepang, dan A-4K milik AU Selandia Baru.


Radar tipe AN/APG-66H merupakan tipe radar yang juga biasa dipakai F-16 seri A/B. Radar ini terbilang ampuh, karena dapat mendeteksi 10 target di permukaan serta sembilan target di udara secara bersamaan. Jarak deteksi radar bisa mencapai 35 mil. Pada pilihan menu (mode), untuk target udara yang bermanuver lebih cepat, dapat dideteksi radar secara otomatis. Tak heran jika Hawk 209 disebut sebagai lapis kedua, walau hanya lapis kedua tapi pesawat ini sudah cukup mumpuni utuk mendukung F 16 atau Shukoi.


Yang keren dari Hawk 209, sudah dilengkapi dengan perangkat pengisian bahan bakar di udara (air refuelling), alatnya dinamakan air refuelling probe. Dimana hal ini tidak dimiliki sang kakak Hawk 109. Ketika pesawat Hawk 209 kehabisan bbm, pesawat ini tak perlu repot kembali ke daratan. Cukup memanggil pesawat tanker untuk mengisi bbmnya saat kondiso sedang terbang di udara.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Ilustrasi air refulling.

Sumber



Jenis pesawat tanker sendiri dibuat khusus untuk air refulling ini, bertugas sebagai pom bensin di udara bagi para jet tempur yang sudah memakai sistem air refulling. TNI AU sendiri menggunakan pesawat tanker KC-130B Hercules dari Skadron Udara 32, Lanud Abdurahman Saleh, Malang, Jawa Timur. Untuk melakukan isi ulang bbm via udara ini.


TNI AU sebenarnya punya dua unit KC-130B Hercules yang di datangkan tahun 1960, satu unit diantaranya, yakni bernomor A-1310 jatuh di Medan pada 30 Juni 2015 lalu. Sehingga kini untuk misi air refuelling, praktis TNI AU hanya mengandalkan satu unit KC-130B. Peasawat air refull kita sebenarnya sudah ketinggalan zaman, karena masih memakai Hercules. Dan itu pun keluaran tahun 1960


Di negara maju, pesawat tanker ini bisa mengisi bbm untuk dua jet tempur sekaligus. Selain jet tempur, helikopter yang sudah menggunakan sistem air refull pun bisa refull bbm melalui pesawat tanker ini seperti foto diatas. Diluar negeri, yang dijadikan SPBU terbang bukan pesawat Hercules lagi. Tapi menggunakan pesawat Air Bus tipe A 400 M.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Ketika ngisi bbm didarat sudah mainstream, yang jadi spbu terbang itu air bus A400M. Yang diis tipe Shukoi Su-30MKM


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Sumber



Penyebab Pesawat Yang Jatuh Di Pekanbaru


Untuk yang jatuh 15 Juni 2020 kemarin adalah tipe Hawk 209, tentu ini sebuah kerugian. Walau tergolong uzur, pesawat ini sudah dilengkapi teknologi canggih. Pihak TNI AU belum memberi keterangan lebih lanjut soal insiden ini, mereka meminta waktu 2 minggu untuk investigasi.


Tapi menurut penuturan pilot yang sudah banyak dimuat media massa, ketika di udara sang pilot mendengar suara aneh pada pesawatnya. Lampu peringatan apabila pesawat terjadi gangguan juga menyala. Saat itu pilot masih terus berkomunikasi dengan normal, ia sempat melaporkan jika pesawatnya mengalami kerusakan mesin sehingga kehilangan tenaga. Sampai akhirnya pesawat terbakar di udara dan jatuh menimpa rumah warga.


Padahal hanya tinggal 2 kilometer lagi jarak yang ditempuh untuk mendarat dilandasan dengan normal, dalam insiden ini dua rumah warga terbakar dan hancur tertimpa badan pesawat. Satu rumah atapnya bolong terkena hantaman kursi pelontar, sementara sang pilot hanya mengalami luka lebam diwajahnya. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, seluruh kerugian akibat jatuhnya pesawat ini ditanggung sepenuhnya oleh TNI AU.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Yang jatuh kemarin

Sumber



Tentu kita bertanya ada apa gerangan dengan alutsista (alat utama sistem pertahanan) negeri ini ?, belum genap sebulan helikopter Mi-17 jatuh. Sebuah pesawat jet tempur pun menyusul jatuh, mungkin kah ini pertanda jajaran pesawat TNI minta diganti ?, karena sudah tak sanggup lagi menjaga langit bumi pertiwi.


Ada banyak faktor dalam hal ini, baik teknis maupun non teknis. Masalah non teknis, seperti komentar kaskuser di tulisan Mi-17. Apakah anggaran untuk TNI terserap sepenuhnya ?, anggaran perawatan seperti pembelian suku cadang, apakah diterima sepenuhnya ?


Faktor teknis, dari mekanik sendiri. Apakah mereka sudah berkompeten dalam menangani sebuah jet tempur ?. Jika mereka berkompeten, harusnya pesawat yang jatuh kemarin tidak boleh terbang. Faktanya pilot mendapati tanda peringatan menyala, indikasi mesin tersebut rusak.


Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru

Sumber


Para prajurit berkorban nyawa dalam misi yang disebut latihan terbang, yang lain berkorban nyawa dalam misi angkutan logistik dipedalaman Papua. Apakah belum cukup nyawa para prajurit yang dikorbankan selama ini ?, ini adalah alarm keras untuk para pejabat elite di negeri ini. TS berharap ini adalah pesawat terakhir yang ditulis reviewnya karena jatuh, kedepan kita berharap tidak ada lagi peristiwa seperti ini terjadi.


Mari berdoa untuk para prajurit yang gugur dalam misi latihan terbang, serta mereka yang gugur demi tugas mulia mengantar logistik di Papua. Semoga seluruh prajurit yang gugur dalam tugas diampuni seluruh dosanya, diterima amal kebaikannya. Dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta untuk keluaraga yang ditinggalkan senantiasa diberi ketabahan dan kesabaran. emoticon-Nyepi



Duka TNI ditengah pandemi emoticon-norose



Referensi: 1.2.3.
Ilustras: google image
Diubah oleh si.matamalaikat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusuf2210 dan 62 lainnya memberi reputasi
61
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Hawk 'Si Hidung Besar' Milik TNI AU, yang Jatuh di Pekanbaru
Lapor Hansip
20-06-2020 18:51
Balasan post masplengker
Quote:Original Posted By masplengker
Itu dulu beli hawk harga setara beli f 18 ya... Wkwkwk

selisihnya berapa tuh ya..
...langsung jd juragan tajir..emoticon-Leh Uga
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia