Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
272
Lapor Hansip
31-05-2020 23:24

NEW NORMAL adalah MATINYA HIPEREALITA

NEW NORMAL adalah MATINYA HIPEREALITA

Pertama2 saya akan bilang
New Normal ini sebenarnya adalah back to normal. Justru kehidupan kemarin itu yg abnormal


Kedua, saya akan cerita apa itu hiperealita ?
sederhananya ketika anda beli segelas kopi starbuck seharga 40an ribu. Mengapa segelas kopi bisa begitu mahal ? anggaplah harga dasar kopi itu 7 ribu, maka 33 ribu sisanya anda membayar harga sewa sofa outlet dan membeli simbol starbuck. Angka 33 ribu itulah hiperealita. Sebuah kondisi mental yg menganggap sesuatu itu nyata dan kita butuhkan melebihi kebutuhan dasar kita sendiri.

(fyi istilah hiperalita diperkenalkan oleh filsuf prancis bernama Jean Baudrillard dalam bukunya tentang Simulacra)

Kita sesungguhnya tidak akan menemui hiperealita sedahsyat kemarin andai saja tidak ditemukan yg namanya facebook, instagram, twitter, dan teman2nya.

Tiba2 datanglah covid19. Mendadak kita semua takut keluar rumah, takut berkerumun, aktivitas di luar dibatasi. Apa2 serba dari rumah. Lalu bagaimana nasib para hiperealista? (sebutan saya untuk pelaku hiperealita)

Starbuck sepi, kafe sepi, mall sepi. Tidak ada orang yg meng-uplod imej2 mereka di outlet2 pendongkrak citra diri itu. Masihkah relevan kebutuhan akan luxury, prestise dan status hari ini ? masih mungkinkah kita membutuhkan itu ? atau kita langsung ke puncak pertanyaannya : masihkah dibutuhkan hal2 seperti itu hari ini ?

Pandemi covid19 ini ibarat tombol reset.
Sekali ditekan langsung semua berbondong2 menuju ke titik awal. Kita sudah merasakan psbb, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yg kita butuhkan saja. Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mall, kafe2 dan semua usaha yg menjadikan CITRA, LUXURY atau PRESTISE sebagai core bisnisnya.

'Pembatasan sosial' itu adalah hantu bagi usaha2 tadi. Di mana letak kesalahannya kalau begini ?

benarkah kehidupan sosial benar2 dibatasi ?

Sebetulnya tidak salah. Karena yg terjadi sesungguhnya bukanlah pembatasan sosial tetapi mengembalikan kehidupan sosial kita ke titik yg wajar ketika kehidupan sosial kita sudah benar2 overdosis (40k for a glass of coffee ?? )

Kesalahannya adalah Starbuck dkk, membasiskan bisnisnya kepada materi yg imajiner (citra, luxury, prestise, status). Kalau anda mengira starbuck dkk itu menjual minuman/makanan sebetulnya tidak bisnis mereka adalah jual-beli simbol. Simbol akan berubah menjadi status manakala kehidupan sosial manusia didorong sampai puncak di luar kebutuhan wajar manusia, dan ketika ruang manusia untuk saling bertemu hancur lebur seperti hari ini saat itulah simbol2 itu runtuh nilai jualnya.

Apakah ini pertanda buruk ? Yap ini pertanda buruk, yg menunjukan betapa lugunya kita kemarin selama ini rutin bekerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu hanya untuk mengongkosi kebutuhan imajiner (hiperealita) kita. Kemarin kita benar-benar dijauhkan dari apa yg benar-benar kita butuhkan. Kita malah membiayai ilusi.

New Normal, adalah hancurnya sebuah abnormalitas dan kembalinya sebuah kehidupan normal. Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. manusia setara bekerja untuk kebutuhannya. Ketika 'ngopi' mereka ya ngopi untuk menghilangkan penat. Kedai kopi pun sebagai ruang publik untuk saling guyub berinteraksi, bukan ruang halusinasi atau untuk menyendiri. Selesai ngopi kembali ke kehidupannya. (bukannya pindah kasta) Upah yg mereka dapat pun untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Bukan untuk 'membeli' merek.

Ketika kondisi di atas dihantam kejadian luar biasa seperti pandemi, kemungkinan tidak akan se-dramatis seperti yg terjadi hari ini. Hari ini ribuan pekerja menggantungkan hidupnya pada bisnis imajiner seperti mall, starbuck dkk. Bisa terbayang efek domino kehancurannya... rubuh satu sirna banyak. Ribuan pekerja terancam kehidupannya seiring hilangnya pekerjaan mereka. Mereka teralienasi dari pekerjaannya sehingga merasa bukan siapa2 dan tidak berdaya ketika hilang profesinya.

Sudah waktunya dunia2 usaha imajiner itu merombak plan bisnisnya ke usaha2 yang nyata (riil) dan beradaptasi bila ingin survive hari ini. Alih2 mempertahankan bisnis yg sama seolah2 kita masih hidup di dunia kemarin. (gagal move on)

New Normal adalah sebuah terapi psikis dan efek kejut bagi kita untuk memikirkan ulang, untuk introspeksi betapa rapuhnya kehidupan sosial kita kemarin bak jaring laba2 besar. Tertata, tersistem dan terstruktur rapih dan massif tetapi tidak kita sadari begitu rapuh dan labil ketika sebuah batu menimpanya.

New Normal mendorong kita untuk fokus dan mengefisiensikan tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yg kita butuhkan saja. Dan petunjuk atas matinya kebutuhan2 halusinasi kita. Seolah2 hidup kita serba dicukupkan. Kita didorong memikirkan kembali apa yg benar-benar kita butuhkan. Kembali ke jati diri dan fungsi diri kita yg nyata.

It's all done. We' are shifting.
Change or we die. Get real.
Dunia kita yg kemarin sudah mati

Dunia hari ini ibarat sebuah rumah sakit yg besar. Dan kita tergeletak di dalamnya dan hanya berpikir untuk tetap sehat dan tetap hidup. Pernah lihat orang selfie saat tergeletak sekarat di rumah sakit ? Itulah matinya hiperealita

Jika Baudrillard di tahun 80an lalu sudah memikirkan kondisi hiperealita, sesungguhnya saat itu dia sudah melihat bahaya dan sedang menyalakan simbol SOS (save our soul) itu kepada kita agar kita lekas sadar dan menyelamatkan diri bahwa kita berdiri di atas bom waktu.

New Normal ? Welcome normal life
Keep waras, keep alive

sumber copas

udah keluar lanjutannya ternyata gan emoticon-Belo : NEW NORMAL: MATINYA HIPEREALITA - THE ACTION
Diubah oleh valmightyreborn
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darwinsilb dan 146 lainnya memberi reputasi
145
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
NEW NORMAL adalah MATINYA HIPEREALITA
02-06-2020 01:00
ntah kenapa ane merasa di thread ini ada BSH yg merasa dpt outlet utk melampiaskan kebenciannya kepada mereka2 yg mampu ke starbucks dan konsumsi barang2 bermerk
Ada nuansa kegetiran karena sebenarnya dia pengen bisa seperti itu, tapi ga mampu. Akhirnya jadi benci kepada mereka yg mampu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Tuaga dan 18 lainnya memberi reputasi
13 6
7
profile picture
kaskus geek
02-06-2020 12:20
Hush.. jgn terlalu jujur om emoticon-Wakaka
0
profile picture
kaskus addict
02-06-2020 12:21
jiwa miskinku bergetar hebatemoticon-Ngacir
0
profile picture
kaskus addict
02-06-2020 12:46
Kalo buat ane ya, untuk soal Starbucks ini. Jujur kopinya gak enak, malah kalah sama kedai kopi lokal (orang sini nyebutnya kopi otentik) yang jual harga item yang sama dengan harga yang lebih murah. dan ane setuju sama TS untuk harga kopi itu gak masuk harusnya di Indonesia. Setuju juga kalo outlet semacam ini, Starbucks, MaxCoffee dll memang yang dijual sebenernya bukan dari kopinya. Tapi dari "gengsinya", karena kedai ini lahir dari luar negeri, jadi "keliatan" gengsinya dibanding ke kedai kopi otentik deket rumah. Kebanyakan temen2 ane yang doyan nongkrong di tempat kayak gini juga bukan bener2 nyari kopinya, bahkan gak peduli juga mereka rasa kopinya mau gimana juga, tapi nyari gengsinya. Dibanding ane yang suka muter2 nyari kedai kopi berbeda emang untuk nyari kopinya.

Kenapa ane bilang gak masuk disini?
Indonesia ini salah satu produsen kopi terbesar di dunia loh (kalo gak salah nomor 4, cmiiw). Kenapa kok masih beli di Starbucks, sedangkan kopi lokal kita lebih baik kualitasnya dan hasil dari roastery dalam negeri juga baik. Di Vietnam sana (ini produsen kopi di atas Indonesia), kedai kopi kayak gini gak ada pasarnya karena mereka lebih peduli sama kopi lokal mereka dan kedai kopi lokal mereka.

Ini ane komentar sebagai penikmat kopi.
Jangan bilang ane gak sanggup beli kopi di starbucks ya.
14
profile picture
kaskuser
02-06-2020 13:04
ane se7 sm ente
org pny selera dan style masing2
mau nongkrong 24 jam di sbux...di coffee bean..dkk monggo
Mau kopi sachet monggo
Mau warkop monggo
bebas lah..
klo mampu kenapa kacang (why nut)emoticon-Cool
1
profile picture
kaskus freak
02-06-2020 13:04
@da.gandul betul bre
di ostrali aja setarbak tumbang
2
profile picture
kaskus addict
02-06-2020 13:28
@Vandisk Nah ini gan, kalo dipikir2 ya mirip sama kayak di Indonesia. Kenapa Starbucks cuma buka di mall, bandara atau tempat khusus ya alasannya menurut ane kurang lebih sama kayak di video ini. Karena mereka gak bisa narik pasar penikmat kopi lokal dan sadar kalo harga kopinya overpice, jadilah target pasarnya lari ke orang2 yang memang nyari kopi cuma untuk kongkow aja bukan orang yang nyari rasa kopinya.

Wong kebanyakan dari orang yang ane kenal, ke starbucks cuma pengen beli tumblernya doang biar keliatan gengsinya, "wih si ini abis ke kota A, wah si anu abis ke negara B" gara2 posting tumbler starbucks yang entah kita gak tau beneran gak dia ke kota/negara tsb. Nah ini temen ane juga jual tuh tumblernya, jadi jastip gitu ngakaks

Jadi dari sudut pandang ane, silahkan aja beli di Starbucks gak ada yang larang dan gak perlu juga bilang orang lain iri dan gak mampu, liat valuenya untuk diri kita masing2. Cuma kalo emang pengen beneran nyari rasa kopi, mending cari yang lokalan aja deh. Mereka, Baristanya lebih ngerti selera kita, sering banget tuh barista kedai lokal untuk ngurusin 1 cup request dari customernya bisa lama banget ngerjainnya, karena saking telatennya gak mau ada kesalahan hahaha
2
profile picture
kaskuser
02-06-2020 13:28
ane mampu
ane gak benci
ane gak iri
...

tapi ane pelit..
emoticon-Wakaka
4
profile picture
kaskus maniac
02-06-2020 13:41
@da.gandul di vietnam malah starbuck kalah telak sama kedai2 lokal. Sama alasannya kayak yg ente tulis. Mubgkin orang sana lebih gak gengsi kali.
0
profile picture
kaskus addict
02-06-2020 14:07
Mampu sih iya, bisa beli pun iya.
Tapi apa segitu perlunya? nggak juga kan.
emoticon-Ngakak
1
profile picture
kaskuser
02-06-2020 14:40
@da.gandul @Vandisk

Bener banget, di daerah gua, starbucks kagak laku wkwkwk. Tapi, di sini, ada satu kedai kopi kecil gitu yang rame bener. Tempatnya sederhana, malah terkesan kolot wkwkw. Harganya murah pulak
0
profile picture
kaskus addict
02-06-2020 14:45
@atmajazone Bener gan, mereka sangat support untuk produk kopi & kedai kopi lokal mereka emoticon-2 Jempol

Sebenernya di Indo pun sama, cuma kalah pamor aja di sosmed. Realnya sih orang2 pada ke kedai kopi lokal dan juga pada suka bikin sendiri dirumah dengan alat yang lengkap, bahkan prosesnya mulai dari biji kopinya.
1
profile picture
kaskus addict
02-06-2020 15:00
@chorleta16 Biasanya kedai kopi tua gitu bikin kopinya suka mantep gan emoticon-Big Grin
0
profile picture
kaskuser
02-06-2020 15:21
@da.gandul
Wkwkw emang enak sih. Sayangnya gua harus vakum dari dunia perkopian karena lambung gua suka cranky :'(
0
Post ini telah dihapus oleh KS06
profile picture
aktivis kaskus
02-06-2020 20:28
@atmajazone @da.gandul berarti lebih rasional dn lebih mementingkan rasa kopinya
0
profile picture
kaskus addict
02-06-2020 20:40
jangan su'udzon dan sotoy
kalo ternyata emang bener ada kelompok yg berpikir idealis kyk gtu gimana hayoo emoticon-Stick Out Tongue
0
profile picture
kaskus addict
02-06-2020 21:00
@da.gandul FYI Maxx coffee bukan brand luar negri, aslinya punya lippo group, jdi kalo harga nya hampir sama kaya starbucks (harus beli brand) bisa di simpulin sendiri. Harga ane bilang relatif ya. Kedai pinggir jalan di jakarta rate nya bisa 15-30rb, tapi liat bisa di bandingkan alat2 kopi nya. Mesin kopi starbucks kalau gak salah hampir 200jt 1 unit(1 toko biasa ada 2 unit ) harga spare part untuk preventif maintenance nya bisa sampe 30jt untuk satu mesin tiap 100k cup dia buat coffee. Biaya maintenance untuk semua alat nya 2,5 jt / bulan tiap toko. Belum filter air yang harga nya mahal boleh cari harga filter BWT, listrik yg ribuan watt, sewa tempat di lobby dan lain2. Dan kedai biasa rate mesin nya 30jt - 100jt, jarang maintenance , air kadang suka ada yg pakai galon isi ulang (gak semua tapi pernah nemuin)
Ane bisa tau karna pernah jadi vendor untuk handle mesin2 nya.

Lalu juga jangan lupa bangkit nya industri kopi di indonesia karna starbucks , saya bisa bilang begini karna salah satu ceo perusahaan distributor mesin kopi besar di indonesia terinspirasi dari starbucks, dan maxx coffee punya lippo juga terinspirasi dari starbucks , mungkin kalo gak ada starbucks kita masih minum kopi sachet, mungkin.

Untuk rasa juga selera masing2 orang kok.

Untuk masalah beli gengsi lebih tepat nya semua produk punya target pasar yang beda2 sih. Jadi kalo menurut agan harga nya gak cocok , agan bukan target pasar nya itu sudah (bukan maksud ane nyebut agan gak mampu beli starbucks ya)
0
profile picture
kaskuser
02-06-2020 22:22
@da.gandul @Vandisk @chorleta16 coba liat di malioboro ramean mana antara st*rb*ck yg ada di malioboro atau kopi jos yg ada disamping stasiun tugu deket malioboro......
0
profile picture
newbie
03-06-2020 01:12
bener gan. akan selalu ada si kaya dan si miskin, orang kaya-orang miskin, negara kaya-negara miskin. kalo ngeliat jangan skala kecil, skalanya digedein. perusahaan ber merk dan gede pegawainya banyak, rantai ke petani kopi juga gimana? mikir sampai sana nggak

mikirnya jangan "kasian ya, ojol dari pagi sampai malem orderan sepi gara2 covid19",mikirnya gini gimana ya kalo perusahaan transportasi online sampai bangkrut.

atau mungkin agan gak kasian karena starbuck merk luar. ok. bayangin aja starbuck yang punya orang indonesia, pasti responnya beda "wah produk indonesia kelas dunia ya, gerainya diseluruh dunia". Terus sekarang covid19, starbuck,dll sepi. pasti lebih kasian kan.
0
profile picture
kaskus addict
03-06-2020 01:25
@tyoss33 Ane bukan pangsa pasar mereka bukan dari harga ya, udah ane jabarin diatas. Lidah ane gak cocok sama kopi buatan barista2nya starbucks, request apa jadinya apa. Dah berapa kali ke sana di tempat yang berbeda, rasa gak masuk untuk harga yang ditawarin. Ini untuk menu Kopinya, ane cuma minum Kopi hitam (robusta/arabica) dan Latte doang, tergantung mood pengen yang mana.
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia