Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2
Lapor Hansip
30-05-2020 19:14

Kejutan Tuhan | Cerpen 2020

 "Tok ... tok ... tok!"
"Nduk, buka pintunya sebentar!"
"Nduk, buka! Bapak mau ngomong."
Suara panggilan Pak Jamil tiada mendapat sambutan. Berulang kali dipanggilnya si pemilik kamar, tapi tetap tak jua ada sahutan.
Di kamar, seorang gadis berkerudung tampak duduk memeluk kedua lututnya. Netranya berkaca-kaca, sesekali ia menyedot lendir yang keluar dari lobang hidungnya. Ia begitu merutuki nasib. Dia merasa hidup ini tak adil baginya. Ia kecewa dengan sikap sang bapak. Hari ini, gadis itu sedang ingin memusuhi semua orang yang ada di sekitarnya.
***
Kejutan Tuhan | Cerpen 2020
"Bapak, kenalkan ini Mas Zani!" ucap Mala.
"Silahkan duduk, Nak!" ujar Pak Jamil seraya mempersilahkan tamunya.
Pak Jamil dan Zani asyik mengobrol di ruang tamu, sedang Mala, ia tengah berganti baju. Dia baru pulang dari sekolah swasta tempatnya mengajar. Kebetulan Zani tadi menjemputnya. Pria tampan itu, berniat mampir ke rumah Mala. Sebab, pemuda yang baru dikenalnya sebulan itu, ingin berbicara dengan orangtua Mala.
"Apa kamu serius menjalin hubungan dengan putriku, Nak Zani?" tanya Pak Jamil, mengawali percakapan mereka.
"Iya, Pak. Saya sangat serius mencintai Mala."
"Kalau kamu serius, tidak usah menunggu waktu lama lagi, Nak. Supaya kalian terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Maka kami akan melamarmu, Nak. Meski Bapak bukan orang berada, tapi Bapak tetap akan mengikuti tradisi kampung ini."
"Iya, Pak. Saya juga ingin segera menikahi Mala."
"Baik, kalau begitu lusa, Bapak akan bertamu ke rumahmu. Tolong beritahu orangtuamu, ya, Nak!"
"Baik, Pak."
Pak Jamil masuk ke ruang tengah meninggalkan Zani seorang diri di ruang tamu.
"Mas, tadi ngobrol apa sama Bapak?" tanya Mala begitu keluar dari kamarnya usai berganti baju.
"Soal lamaran, Dik."
"Lamaran?"
"Iya, lusa Bapak mau bertemu orangtua Mas untuk melamar."
Mata Mala membelalak mendengar ucapan pemuda yang baru dikenalnya sebulan lalu.
"Matanya dikondisikan dong, Dik!" canda Zani.
"Tapi, Mas ..."
"Tapi apa, Dik?" tanya Zani.
"Kamu nggak pengen kita menikah?" lanjutnya.
"Bukan, bukan begitu. Entah kenapa aku takut saja, Mas."
"Takut apa?"
"Takut cinta kita tidak direstui oleh orangtuamu, Mas," ujar Mala dengan lugunya.
"Ya Allah, Sayang. Memang apa alasan orangtuaku sampai tidak menyetujui hubungan kita? Kamu baik, cantik dan cerdas. Pokoknya kamu itu paket lengkap, Dik. Paling kurangnya hanya satu."
"Kurangnya apa, Mas?"
Gadis bergigi gingsul itu tampak mengernyitkan dahinya, sedang kedua matanya membeliak menatap pemuda di hadapannya.
"Coba deh ngaca! Wajah kamu lucu kalau sedang kepo gitu."
"Apa kurangku, Mas? Nggak bisa masak, ya?" tanya Mala lagi.
Zani tertawa mendengar pertanyaan kekasihnya.
"Tuh, bener kan?"
Gadis yang lulus dari S1nya dengan nilai cumlaude itu, mukanya tampak masam.
"Dik, Mas tidak mempermasalahkan itu. Kau bisa belajar dari ibuku nanti. Jangan berkecil hati, Sayang! Aku menerima apa adanya dirimu. Sebab, kelak aku yang akan menjalani bahtera rumahtangga bersamamu."
Mala tersenyum mendengar perkataan kekasihnya. Ia memang baru mengenal pemuda itu, namun hatinya telah tertaut. Zani begitu pandai meluluhkan hati gadis berwajah tirus tersebut.
***
Kejutan Tuhan | Cerpen 2020
Kue-kue sudah ditata cantik di atas nampan hantaran oleh Ibu dan kedua kakak perempuan Mala.
"Ibu jadi berangkat sama Bapak saja, ya?" tanya Mbak Nara.
"Iya, Nduk. Kenapa?"
"Gimana kalau aku dan Mas Rais juga ikut, Bu?"
"Iya sudah, kamu siap-siap dulu sana!"
Mbak Nara berlari ke ruang tamu menemui suaminya. Semenit kemudian, mereka tampak masuk ke kamar untuk bersiap-siap.
"Nduk, tolong hubungi Zani! Beritahu dia kalau lima belas menit lagi kita menuju rumahnya," pinta Bapak pada Mala.
"Iya, Pak."
Mala segera meraih telephon genggamnya dan lekas menghubungi Zani. Namun panggilannya hampa, tak ada sahutan. Beberapa kali Mala mencoba, tapi hasilnya sama. Perasaan Mala mulai tak nyaman. Ia pun mencoba mengirim pesan WA.
[Mas, lagi apa kok telphonku nggak diangkat?]
[Bapak sama Ibu sebentar lagi menuju ke rumahmu.]

Pesan Mala sudah centang dua, tapi belum jua dibaca.
"Gimana, Nduk?" tanya Pak Jamil.
Mala diam, ia belum bisa memberi jawaban kepada bapaknya.
Kedua orangtua Mala dan para saudaranya menunggu di ruang tamu. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara. Mbak Nara dan Mas Rais saling pandang, begitu pula dengan Mbak Fara dengan Mas Johan. Mereka menunggu dengan perasaan gamang.
Sebuah pesan masuk di gawai Mala. Gadis dua puluh empat tahun itu langsung mengecek nama pengirimnya.
'Mas Zani!' soraknya dalam hati.
[Entah apa yang harus Mas katakan pada kedua orangtuamu, Dik. Sepulang dari rumahmu kemarin, Mas sudah ngomong dengan orangtua, tapi jawaban mereka di luar ekspektasiku. Ibu marah besar padaku, Dik. Ternyata ibu sudah menyiapkan gadis untukku. Ingin aku mengutuk diri, jika perlu, aku rela sekarang juga nyawaku dijemput. Agar aku tak merasakan sakit saat harus berpisah darimu. Ibu sempat mengancam, jika sampai aku tetap nekad menikahimu, maka Mas akan dicoreng dari daftar keluarga.]
Netra Mala tampak menggenang. Keluarganya menatap penuh ketidaknyamanan.
'Pasti ada yang tidak beres ini!' bisik hati Mbak Nara.
[Tolong maafkan aku, Dik! Mas sangat mencintaimu. Tapi, Mas tak sanggup jika harus kehilangan keluarga. Tolong pintakan maaf Mas untuk Bapak dan Ibu! Ternyata Mas bukan calon imam yang baik untukmu, Dik. Semoga kelak kau menemukan penggantiku yang lebih segalanya. Maafkan aku, Dik.]
***
Mbak Nara dan Mbak Fara membagi-bagikan kue ke rumah para tetangga.
"Lho, Mala lamaran, ya?" tanya Mbak Narsih.
"Nggak, Mbak. Cuma mau berbagi saja kok."
"Lho, bukannya kemarin Ibumu pesan kue banyak untuk hantaran lamaran? Kok sekarang kuenya malah dibagikan? Jangan-jangan lamarannya gagal, ya?" tanyanya lagi.
Mbak Nara dan Mbak Fara saling berpandangan, mereka tak menanggapi celoteh Mbak Narsih.
Esoknya, kabar tentang gagalnya lamaran Mala sudah merambat se kampung. Setiap Mala lewat di hadapan para ibu, mereka langsung menggosipkannya.
"Denger-denger, calonnya Mala itu orang kaya ya, Mbak?"
"Iya, Nah. Mangkanya nggak direstui. Lah mosok, pemilik toko grosir Jaya Makmur yang memiliki beberapa cabang di sepanjang jalan raya ini, kok mau besanan sama seorang kuli bangunan. Ya, nggak level dong!" cercau Mbak Narsih.
"Padahal lebih tua Mala loh ketimbang anakku. Lama-lama dia bakalan jadi perawan tua seperti Anti anaknya Bu Hindun itu lho, Mbak."
"Iya, hiii... amit-amit ya, Nah. Makanya Susan kemarin begitu punya pacar, lulus SMA ini langsung mau tak kimpoiin. Soalnya aku takut sama mitos yang ada kampung kita ini," celoteh Mbak Narsih.
"Iya, Mbak. Jangan sampai saudara atau anak-anak kita di usia dua puluh lima tahun belum juga kimpoi. Takut nanti jadi perawan tua. Kalau sudah begitu, siapa yang mau?"
"Oh, iya. Jadi nih resepsiannya Susan di gedung, Mbak?" tambah Mbak Minah.
"Jadi dong, Nah," jawab Mbak Narsih.
Gagalnya hubungan Mala dengan Zani, cukup menguras air matanya. Tubuh tinggi semampainya, nampak semakin kurus. Beberapa kali Pak Jamil dan sang istri mengenalkan sosok pemuda untuknya. Namun, Mala tak pernah berkata sepatah kata pun. Dia akan memilih mengurung diri di dalam kamar.
Seperti halnya hari ini, saat seorang pemuda kenalan Pak Jamil datang ke rumah. Pemuda yang dulu pernah menggunakan jasa Pak Jamil untuk membangun kos-kosan miliknya. Duda beranak

 satu tersebut, ditinggal lari oleh istrinya saat dia dalam keterpurukan. Namun, kini ia telah sukses, usaha daur ulang sampah miliknya maju pesat. Sedang putrinya, kini sudah duduk di SMP kelas dua. Ia bermaksud meminang Mala.
"Nduk, keluar sebentar!"
Mala tetap tak berkutik, ia masih merangkul kedua lututnya. Bayangan kenangan indah bersama Zani kembali mengulik-ulik kepalanya. Awal perkenalan mereka terpatri indah di hati Mala. Baginya, Zani adalah pemuda yang menjelma dengan kesempurnaan cinta. Tiga puluh hari yang dilalui bersamanya begitu nyaman. Zani begitu menjaga kehormatan Mala.
'Mas, bagaimana caraku untuk melupakanmu? Cinta yang kau semai sungguh mengakar, sedang luka yang kau torehkan amat mencakar.'
Tangisan Mala tak berkesudahan.
"Pak, sudah! Jangan dipaksa. Besok coba Ibu saja yang bicara padanya."
"Kita harus sedikit memaksanya, Bu. Bapak takut Mala akan jadi perawan tua. Sebab, usianya sudah dua puluh empat tahun, itu sudah melebihi usia Nara dan Fara saat menikah."
"Iya, Pak, Ibu tahu. Ibu juga agak was-was, Pak. Takut kepercayaan yang ada di kampung kita ini, akan menimpa Mala. Jika sampai di usia dua puluh lima tahun, ia belum juga menikah bagaimana? Ibu nggak bisa membayangkan, kalau sampai nasib Mala seperti anaknya Bu Hindun, gara-gara sering nolak lamaran sampai sekarang dia belum juga menikah. Padahal usianya sudah hampir empat puluh tahun. Na'udzubillahi Mindzalik, Ya Allah."
Keesokan harinya, Bu Nani mencoba berbicara dengan putrinya. Wajah lesu Mala membuat hati wanita separuh baya itu trenyuh. Ia tak tega melihat anak bungsunya diliputi kesedihan di hari-harinya.
"Nduk, kamu baik-baik saja kan?"
Mala mengangguk.
"Ibu tahu, dirimu marah pada Bapak dan Ibu atas hal ini. Tapi, kami memikirkanmu, Nduk. Sebentar lagi usiamu menginjak dua puluh lima tahun, Ibu takut kamu akan seperti Anti, putrinya Bu Hindun. Kamu tahu kan, Nduk, di kampung kita ini sudah meyakini, jika seorang gadis di usia dua puluh lima tahun belum segera menikah, maka dia akan menjadi perawan tua."
Mala menatap Bu Nani dengan tajam. Melihat tatapan mata putrinya, wanita tiga anak itu pun melanjutkan kata-katanya dengan hati-hati.
"Ibu tidak memaksamu harus menikah tahun ini, tapi kenalilah dia dulu, Nduk! Setelah kau merasa cocok, baru Ibu dan Bapak akan mempersiapkan semuanya."
"Jika Mala tidak cocok? Apa Ibu dan Bapak bersedia menunggu jodoh Mala datang?"
"Iya, Ibu bersedia, Nduk."
"Meski nantinya di usia dua puluh lima tahun Mala masih sendiri, apa Ibu tetap bersedia?"
Bu Nani terdiam, hatinya gelisah. Ia benar-benar takut dengan keyakinan yang sudah mewabah di kampungnya. Sebab, sudah ada beberapa gadis di kampungnya yang menjadi perawan tua. Bagaimana dia harus menahan cemoohan para tetangga?
"Mengapa Ibu diam? Ibu takut Mala jadi perawan tua? Jika Allah menggariskannya begitu, kita bisa berbuat apa?"
"Mala, jangan ngomong begitu! Ibu tidak suka dengan kalimatmu barusan."
"Kenapa, Bu? Ibu setiap hari sholat kan?"
"Apa maksudmu, Nduk?" tanya Bu Nani.
"Apa gunanya Ibu sholat, jika Ibu tidak yakin dengan kekuasaan Allah? Bukankah Allah tak pernah luput mengatur segala ciptaan-Nya, Bu? Bahkan kerikil yang menggelinding saja Dia yang menghendaki. Bukankah jodoh adalah rahasia Allah? Ada yang menikah di usia belia, pun ada yang baru bertemu jodohnya di usia senja, semua itu kehendak Allah kan, Bu?"
Sorot mata Mala tegas menghujam kedua bola mata Bu Nani. Wanita itu bungkam. Hati kecilnya mulai mengamini pernyataan anak gadisnya.
"Bu, maafkan Mala jika telah melukai hati Ibu. Mala mohon, jangan paksa Mala menikah, apalagi dengan seseorang yang tidak Mala cintai! Ibu lupa dengan perkataan Ibu tempo hari? Kata Ibu, bukankah Allah sengaja menghilangkan Mas Zani dari hidup Mala, sebab Allah telah menyiapkan yang lebih baik darinya?"
Bu Nani mengangguk, ia menatap wajah putrinya.
"Maka, siapapun pria itu, kelak ia akan Allah datangkan dengan cara yang indah. Bisa jadi, dia adalah pemuda itu, Bu."
Bu Nani memeluk tubuh anak gadisnya. Bendungan air di pelupuk matanya ambrul. Pernyataan Mala telah mampu menumbangkan mitos yang selama ini dipercayainya.
Allah begitu mencintai hamba-hamba-Nya, hingga Dia menghadirkan setiap pasangan bagi kita, layaknya Hawa yang dihadirkan untuk menemani Adam. Begitu pula Mala, ia telah Allah ciptakan sebagai pasangan seorang pria yang namanya telah tertulis indah di lauhul mahfudz.
Siapakah dia?
Wallahu a'lam ....
Biarkanlah nama itu, menjadi kejutan Tuhan untuk hamba-Nya.




profile-picture
profile-picture
profile-picture
amaliasyifa dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Kejutan Tuhan | Cerpen 2020
01-06-2020 22:32
jejak dulu kak. mau baca besok. sepertinya ceritanya menarik😄, jadi sayang bila dilewatkan😊🙏.
profile-picture
ondapriatna memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
mau-gak-jadi-istriku
Stories from the Heart
olivia
Stories from the Heart
kamu-hujan-yang-kunantikan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
true-story-yellow-raincoat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia