Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
15
Lapor Hansip
03-04-2020 19:36

(CERPEN) SURATAN TAKDIR

Hai agan agan semua, ini thread perdana ane,semoga berkenan di hati agan agan semuanya. Mohon kritik, saran, dan bimbingan dari agan agan semuanya, karena ane masih newbie dan masih harus banyak belajar



(CERPEN) SURATAN TAKDIR


Sebagai seorang perantau yang bekerja dengan gaji yang minim, pulang ke kampung halaman merupakan hal yang sangat jarang aku lakukan. Paling setahun sekali, pas lebaran, atau ada keperluan yang benar benar penting, seperti ada sanak saudara yang hajatan atau sakit di kampung.

Tapi, entah setan apa yang merasukiku hari ini. Tiba tiba ada keinginan untuk pulang kampung. Keinginan yang sangat kuat, tanpa alasan yang jelas. Lebaran masih jauh. Tak ada juga permintaan dari sanak saudara di kampung yang menyuruhku pulang. Intinya hanya ingin pulang, dan harus pulang.

Entahlah, yang jelas tanpa pikir panjang dan tanpa banyak pertimbangan lagi, pagi ini juga kupacu motor tuaku meninggalkan hiruk pikuknya ibu kota, menuju satu kampung di ujung timur Jawa Tengah.

Jauh memang. Tapi aku sudah biasa menempuh perjalanan sejauh itu dengan bermotor-ria. Selain menghemat biaya, mudik dengan mengendarai motor lebih menyenangkan, meski resikonya juga lebih besar.

Dan akhirnya, setelah menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, sampailah aku kota kecamatan S. Tinggal kira kira satu kilometer lagi untuk sampai di kampungku, Desa J. Ku lirik jam di pergelangan tanganku. Jam 4 pagi. Masih terlalu pagi, pikirku. Tak ada salahnya untuk istirahat dulu. Pelan kubelokkan motorku memasuki area parkiran di depan pasar kota kecamatan. Suasana masih sepi. Hanya ada beberapa tukang ojek yang masih setia menunggu penumpang, dan beberapa warung angkringan kecil yang sepi pembeli.

Ku parkir motorku di samping salah sebuah warung itu. Ku lihat si pemilik warung duduk terkantuk kantuk berselimut sarung lusuh, di temani suara alunan wayang kulit dari sebuah radio kecil yang terdengar sayup sayup, dan penerangan yang seadanya dari lampu minyak yang remang remang, membuat suasana menjadi sedikit seram.

"Mas, kopi item satu ya," ujarku setelah duduk di bangku kayu di warung itu.

Si empunya warung pun bangkit dengan sedikit malas dan menyiapkan kopi pesananku. Mungkin masih sedikit mengantuk, hingga tak menyadari siapa aku sebenarnya.

Baru setelah meletakkan kopi di depanku dan melihat wajahku, dia tersadar, senyumnya merekah, lalu menyalami dan merangkulku dengan erat.

"Dancuk, ternyata kowe to su," ujarnya dengan logat jawa yang kental. Ya, dia adalah Yudi, teman sekampungku sekaligus sahabat paling dekat denganku sejak kecil.

Akupun tertawa lepas sambil kembali duduk. Obrolan hangat pun mengalir begitu saja. Dua sahabat kental yang telah lama tak bertemu, tentu banyak hal yang bisa diobrolkan. Aku salut dengan sahabatku yang satu ini. Di saat orang orang berlomba lomba berurbanisasi ke kota untuk merubah nasib, ia justru memilih untuk tetap tinggal di desa dan meneruskan usaha warung angkringan orang tuanya.

"Piye kabare ibu kota bro?" ujarnya sambil menyulut sebatang rokok yang kutawarkan.

"Biasa bro, masih lebih kejam dari ibu tiri," jawabku yang membuatnya tergelak.

"Lha kok tumben to, dirimu tiba tiba mudik, ada perlu to?"

"Ga bro, mbuh ki, tiba tiba ae pengen mudik,"

"Halah, paling kangen sama Narti to, mangkane tiba tiba mudik, hahaha......"

Akupun ikut tertawa, ingat dengan gadis bernama Narti. Kembang desa di kampungku, yang sering di jodoh jodohkan denganku oleh teman temanku. Tentu saja hanya dalam konteks bercanda, karena siapapun pasti tau, siapa aku dan siapa Narti itu. Seperti langit dengan bumi lah kalau dibandingkan.

"Emang Narti masih jomblo bro?" tanyaku iseng.

"Nah, kan, bener kan, pasti jauh jauh dari Jakarta kesini karena Narti,"

"Ga lho bro, sekedar pengen tau kan boleh to,"

"Hahaha....., yo boleh boleh saja to. Ga ada yang ngelarang kok. Tapi bener kok, Narti masih jomblo sampe sekarang. Kan setia menanti lamaran dari dirimu," kembali tawa Yudi pecah.

"Diancuk, lambemu. Mana mau dia sama aku Yud,"

"Lho, yang namanya jodoh siapa yang tau to,"

"Halah, ga sah ngomongin jodoh lah, mikir hidupku saja aku dah pusing, apalagi mikirin jodoh," ujarku.

"Nah, itu tandanya kamu kurang bersyukur. Kurang apa coba hidupmu, di mata kami orang orang desa, kamu tu termasuk sudah sukses lho sebagai perantau, sudah bisa mandiri, kurang apa coba,"

"Entahlah bro, aku cuma merasa ada yang kurang dalam hidupku,"

"Mangkane, cepet cepet nikah. Tak kandhani yo, orang kalau sudah menikah, sudah punya keluarga, tak jamin wes, hidupnya bakalan tenang. Percoyo wes sama aku,"

"Wes, kamu tu ya, kaya kiai saja kalau nasehati orang. Kamu sendiri kapan nikah? Jangan cuma sibuk ngurusin batu akik saja sampai lupa nikah,"

"Hahaha, aku gampang lah, nanti kalau sudah ketemu jodoh juga aku bakalan nikah."

"Tuh kan, memang paling pinter kamu tu ngelesnya. Ya udah, sudah pagi ni. Aku lanjut dulu ya, dah kangen nih mo ketemu sama simbok"

"Kangen ma simbok apa kangen ma Narti, hahaha....," masih saja dia meledekku. Aku hanya tertawa.

"Jangan lupa nanti main ke rumahku. Awas kalau nggak,"

"Pasti lah, siapin saja makanan yang banyak di rumah," ujarku, membuatnya kembali tertawa. Ah, sahabatku yang satu ini, dari dahulu sampai sekarang tak ada yang berubah. Hal inilah yang membuatku tak pernah bisa melupakan sahabat sahabat di kampung, meski sudah lama merantau di kota.

****
Mentari sudah naik saat aku memasuki gerbang masuk ke kampungku. Sengaja kujalankan motorku sepelan mungkin, sambil menikmati suasana dan pemandangan. Tak banyak yang berubah. Kampung ini masih tetep seperti dulu. Indah, asri, sejuk, dan bersih. Rumah masih jarang jarang, di kiri kanan jalan dibatasi pagar tanaman semak yang hijau terpangkas rapi. Lebih jauh lagi mata memandang terlihat hamparan sawah dan ladang yang subur, dan di ujung pandangan membentang perbukitan yang menjulang tinggi.

Tapi heran, kenapa sejak tadi tak seorangpun yang kujumpai di jalan ini? Biasanya jam segini orang orang sudah sibuk untuk pergi ke sawah atau ladang, atau pergi ke pasar yang ada di kota kecamatan. Aneh, dan membuatku penasaran.

Ah, sudah lah, mungkin memang masih terlalu pagi, pikirku. Akupun kembali memacu motorku, ingin cepat cepat sampai di rumah dan segera bisa beristirahat. Capek rasanya setelah berjam jam menempuh perjalanan.

Saat memasuki tikungan dekat poskamling, di depan terlihat orang orang duduk bergerombol, ada bendera merah dipasang di pagar pinggir jalan. Innalillahi, siapa yang meninggal? Bendera merah di kampungku menandakan bahwa ada orang yang meninggal. Dan rumah di depan itu, aku tahu pasti itu rumah siapa. Perasaan tak enak segera menjalar di hatiku. Segera kuhentikan motorku dah berjalan menghampiri gerombolan orang orang itu.

"Ngapunten pak, siapa yang meninggal nggeh?" tanyaku pada salah seorang diantara mereka.

"Lho, sampean nak Aji to?" ternyata orang itu pak Kromo, tetanggaku.

"Nggih pak, saya Aji. Siapa yang meninggal pak?" tanyaku lagi penasaran.

"Yudi, anaknya Pak Jan," jawabnya singkat.

"Yudi, yang punya warung ankringan di depan pasar?" tanyaku lagi.

"Iya, kemarin sore kecelakaan, terserempet truk waktu mau berangkat jualan."

Lemas seketika sekujur tubuhku mendengar jawaban itu. Masih tak percaya, aku bertanya pada orang orang yang lain, dan jawaban yang kuterima tetap sama. Ya Tuhan, cobaan apa ini. Inikah alasan kenapa tiba tiba aku ingin pulang? Dan yang tadi di warung angkringan? Gelap seketika, aku tak ingat apa apa lagi.

****

Upacara pemakaman berlangsung dengan khusyu'. Lantunan doa dan taburan bunga mengiringi kepergian seorang sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Dan suara tangisan dari seorang gadis berkerudung hitam yang bersimpuh di samping makam, membuat hatiku seolah olah disayat sembilu. Perih.

Narti, gadis itu, si kembang desa, yang ternyata adalah tunangan dari Yudi, yang rencananya sebulan lagi akan menikah, harus menelan kenyataan sepahit ini. Sungguh tragis.
Tapi siapa yang bisa melawan takdir? Jika Tuhan sudah berkehendak, kita manusia bisa apa?

Selamat jalan sahabatku, semoga kau tenang di alam sana, dan semoga Tuhan menempatkanmu di tempat yang terindah di sisi-Nya
AMIIIINNNNN


(TAMAT)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nona212 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
icon-close-thread
Thread sudah digembok
(CERPEN) SURATAN TAKDIR
28-05-2020 08:42
Quote:Original Posted By aryanti.story
Ane jg pernah Gan ngalamin kyk gtu.. Tapi ga ampe se'extreme itu sih.. Sampe berdialog gtu.. emoticon-Takut


Hehehe,, ntu mah cma hasil imajinasi ane za sist, suka cerita horror tapi ga pernah ngalamin kejadian horor, jadi halu dehemoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
Enisutri dan aryanti.story memberi reputasi
2 0
2
profile picture
kaskus addict
28-05-2020 10:18
Kiraiinn real.. Mudah2an Nartinya jg imajinasi eeeaaaa emoticon-Leh Uga
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cerpen-horor-hangit
Stories from the Heart
indigo-bukan
Stories from the Heart
chubby-bunny
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
dendam-arwah-dari-masa-lalu
Stories from the Heart
Stories from the Heart
kenangan-mentaya
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia