Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
492
Lapor Hansip
19-04-2019 09:28

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Prolog

  Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.

  Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah peninggalan bapak selalu mengeluarkan aura mistis.

  Namun mau tidak mau aku harus kembali, setelah mendapatkan sebuah pekerjaan yang ternyata lokasinya di Kota Solo, aku memiliki dua pilihan yang berat antara harus berhutang untuk menyewa rumah atau menempati rumah peninggalan dari bapak.

  Pilihan yang sama beratnya, namun Kirana memintaku untuk menempati kembali rumah yang sudah kosong selama dua tahun tersebut, selain menghemat biaya hidup juga membuat aku mungkin bisa mengetahui jawaban siapa pembunuh dari keluargaku.

  Semua tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya, segala aura mistis mulai mengintaiku selama kembali menempati rumah masa kecil tersebut. Mulai dari nyanyian, penampakan, atau beberapa tangisan yang sering menemani hari-hariku selama disana.

Sebelum Hari Pertama

  Keraguan masih menghinggapi hatiku mau maju tapi takut dengan segala cerita masyarakat sekitar namun kalau tidak maju, aku berart melupakan segala kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari.

  “Gimana Han, jadi menempati rumah keluargamu besok ?” tanya Kirana yang memang menjadi kekasih hatiku sudah dua tahun belakangan.

  “Aku masih bimbang Ran, meskipun kangen dengan rumah itu tapi semua kejadian yang menimpa keluargaku dan segala cerita masyarakat sekitar masih terus menghambat” jawabku dengan rasa yang masih bimbang.

  Kirana tidak langsung menjawab diskusi kami, dia memilih untuk memesan makanan favorit kami yakni bakso di salah satu warung langganan.

  “Kamu harus buang rasa bimbangmu itu Han, bukannya kamu sendiri yang memutuskan untuk bekerja di kota kelahiranmu ?”.

  “Iya aku paham, Cuma kalau untuk kembali kerumah tersebut aku masih ragu dan ada sedikit rasa takut”.

  “Kamu itu lucu, itu rumah kamu kan ? tidak mungkin keluargamu akan membunuh kamu disana, mungkin saja malah kamu bakal mengungkap siapa pelaku pembunuhan berantai keluargamu”.

  “Masa iya sih Ran ? mereka akan bersahabat denganku begitu maksudmu ?”.

  “Bersahabat ? aneh-aneh saja kamu, mereka dan kamu sudah tidak satu alam, tapi kemungkinan mereka akan mencoba menyampaikan pesan kepadamu disana. Kamu adalah anggota keluarga yang masih tersisa”.

  “Kalau begitu, baiklah aku bakal mencoba menghidupkan kembali rumah yang sudah dua tahun tidak berpenghuni itu”.

  Setelah menghantarkan Kirana pulang kerumahnya, aku mencoba kembali mengingat kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari. Semua seakan masih tidak bisa aku percaya, mereka pergi secara tragis dan secara bersamaan.

  Kejadian dua tahun lalu, mungkin kalau aku tidak melanjutkan study di Jakarta aku bisa mengetahui siapa pembunuhnya atau setidaknya aku bisa berkumpul bersama mereka dialam yang berbeda.

  Dering telpon sebelum ditemukannya jasad keluargaku, aku masih sempat menghubungi Ibu untuk menanyakan kabar mereka disana. Ada sebuah firasat yang mungkin baru aku bisa tangkap setelah kepergian mereka.

  “Dek, ibu kangen banget sama adek. Kalau bisa, besok datang ya” sebuah kata yang mengisyaratkan akan terjadi sebuah kejadian yang tidak pernah terbayangkan olehku.

  Semua masih seperti mimpi bagiku, semua seperti hanya cerita dongeng saja. Aku masih menilai mereka bertiga masih hidup, terutama ibu, aku rindu sekali padamu bu, nyanyian langgam jawamu selalu menemani tidurku.


Prolog
Sebelum Hari Pertama
Hari Pertama
Hari Kedua
Hari Ketiga
Hari Keempat – Part 1
Hari Keempat – Part 2
Hari Kelima – Part 1
Hari Kelima – Part 2
Hari Keenam
Hari Ketujuh – Part 1
Hari Ketujuh – Part 2
Hari Kedelapan
Hari Kesembilan
Hari Kesepuluh - Part 1
Hari Kesepuluh – PART II
HARI KESEBELAS PART I
HARI KESEBELAS PART II
Hari Kedua Belas-Part I
Hari Kedua Belas - Part II
Hari Kedua Belas - Part III
HARI KETIGA BELAS - PART I
Hari Ketiga Belas Part II
Hari Ketiga Belas Part III
Hari Keempat Belas
Hari Keempat Belas - Part II
Hari Kelima Belas
Hari Keenam Belas
Hari Keenambelas Part II
Hari Keenambelas Part III
Hari Keenam Belas - Part IV
Hari Keenam Belas - Part V
Hari Ketujuh Belas - Part I
Hari Ketujuh Belas - Part II
Hari Ketujuh Belas Part III
Hari Kedelapan Belas
Hari Kesembilan Belas-Part I
Hari Kesembilan Belas-Part II
Hari Kesembilan Belas-Part III
Diubah oleh bej0corner
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ayahnyabinbun dan 59 lainnya memberi reputasi
58
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
23-02-2020 05:26
Hari Kedelapan

Suara Adzan Subuh menyadarkanku dari pingsan yang cukup lama, rasanya benar-benar masih nyeri dan pusing. Meskipun tidak sesakit kemarin malam, dan rasanya setelah di minumi obat sakit kepala. Pusing akan segera hilang, mengingat masih banyak pekerjaan di kantor.

Sesampainya di kantor, tumpukan tugas sudah menyambut meja kerja. Dengan segera aku menyelesaikan semuanya satu per satu, tidak terasa jam pulang kantor sudah tiba. Aku segera bergegas membersihkan meja kerja dari segala barang pribadi maupun barang-barang kantor yang berserakan selama bekerja tadi.

Sembari mencuci wajah yang sudah sangat kusam, aku kembali memikirkan kejadian tujuh hari di rumah itu. Rasanya malam ini, aku tidak ingin pulang lebih awal dan membiarkan tubuh lelah ini menghabiskan malam di jalan.

“Hai Mas Burhan” sapa Mbak Ambar yang merupakan teman sekantor sekaligus teman meja sebelah.

“Hai mbak, ada apa ya ? kok tumben ke wastafel sore-sore, mau cuci muka juga ?”.

“Enggak kok, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu mas”.

“Soal apa ya mbak ?”.

“Gini, aku kan dapat undangan nonton kembang api gratis nanti malam. Dan aku dapat dua tiket, rencananya aku ingin mengajak kamu sih mas kalau enggak sibuk”.

Jujur saja, dalam hati aku ingin menolak tawaran dari Mbak Ambar. Ada hati Kirana yang harus aku jaga, namun kalau aku menolaknya mungkin juga akan membuat keinginan untuk menghindar dari rumah peninggalan bapak malam ini gagal total. Toh, aku dan Mbak Ambar juga tidak memiliki perasaan apapun kecuali teman sekantor.

“Boleh mbak, tapi aku tidak punya kendaraan”.

“Santai aja mas, nanti pakai motorku saja. Kamu punya SIM kan ?”.

“Alhamdullilah punya mbak”.

“Yaudah nanti pulang kerja langsungan ya mas”.

Terima kasih Tuhan, Kau telah membuatku sibuk setidaknya untuk malam ini. semoga saja semua berjalan sesuai rencana, tidak ada yang terlukai.

Aku dan Mbak Ambar tampaknya datang terlalu cepat ke acara, sembari menunggu waktu Pesta Kembang Api yang baru akan dimulai satu jam lagi. Mbak Ambar mengajak untuk keliling Stadion Manahan terlebih dahulu, sembari mencari beberapa cemilan agar tidak kelaparan saat nanti acara dimulai. Maklum, kami berdua sama-sama belum makan malam tadi.

“Solo sekarang banyak berubah ya mbak, sudah ramai”.
“Iya gitu deh mas, sekarang Solo sudah menjadi salah satu kota rujukan warga Jawa Tengah untuk mencari pekerjaan”.

Tidak terasa, acara pesta kembang api akan segera dimulai. Kami memutuskan untuk segera menuju gerbang satu Stadion Manahan. Ternyata sudah ada tumpukan antrean di semua gerbang, emm..rasanya bakal membosankan menunggu satu per satu orang masuk.

Agar tidak merasa bosan didalam, Mbak Ambar membeli beberapa makanan ringan sebelumnya. Tidak enak rasanya, laki-laki ditraktir perempuan begitu banyak. Namun apa boleh buat, Mbak Ambar memaksa.

Baru sepuluh menit acara dimulai, dering ponsel dalam saku mengalihkan fokusku sejenak untuk menerima telpon. Tanpa melihat siapa yang menelpon, aku segera menekan tombol hijau.

“Iyaa hallo”. Suaraku mengawali sambungan telpon, yang dibalas dengan sebuah pertanyaan dari lawan telpon.
“Lagi dimana Han, kok rame banget sih ?” suara yang tak asing ditelinga, membuat perasaanku yang sebelumnya biasa saja berubah menjadi panik.

“Ada mas, kok gugup gitu ?” tanya Mbak Ambar yang ternyata sedari tadi mengamati gerakanku dengan curiga. Langkah cepat pun aku ambil, mematikan sambungan telpon dari Kirana.

“Enggak ada apa-apa kok mbak” jawabku dengan membuang wajah panik yang tadi sempat aku pamerkan kepada Mbak Ambar.

Dua jam tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, tidak membuang waktu. Aku dan Mbak Ambar segera bergegas pulang, seperti janji sebelumnya. Mbak Ambar menghantarkanku ke rumah terlebih dahulu.

Rasanya memang tak enak hati, apalagi Mbak Ambar adalah seorang perempuan muda yang jika ditilik dari facenya mungkin seumuran denganku.

Jalanan macet khas kota sibuk mengiringi putaran roda motor yang begitu lamban, untung saja Mbak Ambar bukanlah tipe perempuan pendiam. Sepanjang perjalanan kami berdua bercerita banyak hal. Termasuk sebuah fakta baru, kalau Mbak Ambar baru saja ditinggal tunangannya untuk selamanya karena kecelakaan lalu lintas.

“Oh tadi pacarmu to mas ? kenapa tidak bilang saja” ujar Mbak Ambar membalas ceritaku mengenai Kirana yang tiba-tiba menelpon.
“Dia tipikal perempuan pencemburu mbak, takutnya malah berpikir yang tidak-tidak”.

Mbak Ambar tanpa membalas kata apapun, dia malah tertawa lepas. “Kok malah diketawain sih”. Ujarku kesal melihat polah Mbak Ambar.

“Maaf mas, lucu sih soalnya kalau denger perempuan tukang cemburu”.

Obrolan ringan antara aku dan Mbak Ambar membuat perjalanan kami berjalan begitu cepat dan tidak terasa. Tibalah kami didepan rumah yang terlihat begitu menakutkan ditambah lampu rumah yang belum aku nyalakan juga.

“Mas Burhan tinggal sendiri kan katanya ?”. tanya Mbak Ambar yang tiba-tiba dilemparkan kepadaku.
“Iya mbak, aku tinggal sendiri” ujarku sembari melepaskan helm kesayangan.
“itu kok ada perempuan yang duduk didepan teras Mas Burhan ?”.
“Perempuan ? mana mbak ?” tanyaku sembari melihat ke arah teras seperti arahan dari Mbak Ambar sebelumnya/
“Mas Burhan jangan bercanda deh” tanya Mbak Ambar yang tampak panik.
“Demi Tuhan, aku tidak melihat apapun mbak”. Tegasku dengan masih mencari sosok yang dilihat Mbak Ambar.

“Yaudah mas, aku pulang dulu” tiba-tiba Mbak Ambar sudah memutar kendaraannya dan bersiap untuk gerak cepat.

Belum sempat mengucapkan terima kasih, yasudahlah mau gimana lagi. Ngomong-ngomong perempuan mana yang dimaksud oleh Mbak Ambar. Sedaritadi aku mencarinya, dan tidak ada sosok perempuan. Atau jangan-jangan...

Hari Kesembilan

Pagi ini rasa-rasanya suasana rumah begitu sepi, tidak ada lagi pesan singkat maupun telpon masuk ke ponselku. Kirana mungkin masih marah soal kemarin, sebaiknya nanti setelah pulang kerja aku menceritakan yang sebenarnya terjadi.

Sepanjang perlajanan menuju kantor, hati ini masih merasa bersalah kepada Kirana. Mengingat kejadian kemarin mungkin memang menyakitkan, apalagi jarak antara kami terpaut begitu jauh.

Memasuki kantor, Mbak Ambar yang berpapasan denganku di loby hanya diam tanpa kata bahkan senyuman pun tidak ada diwajahnya.

Meskipun kepikiran, tapi biarkanlah saja. Toh masalahku dengan Kirana saja belum selesai, dan masih belum ada kejelasan apapun.

Layar laptop didepanku yang penuh dengan angka ku biarkan tanpa merubah apapun. Pikiranku masih tidak fokus, ingin rasanya pulang lebih awal dan segera menanyakan kepada Kirana.

“Saya perhatikan, dari pagi kamu seperti tidak fokus bekerja. Ada apa ?” celetuk Pak Anjab yang merupakan Bos Besar di kantor.

“Maaf pak, tidak ada apa-apa. Nanti saya akan lebih fokus lagi” jawabku yang mencoba menyembunyikan masalah kepada siapapun.

Rasanya, hari ini begitu lama waktu berjalan. Mungkin karena Kirana yang masih belum mau untuk menghubungiku.

****

Obrolan panjang lebar menemaniku disepanjang perjalanan pulang saat ini. Beruntung mendapatkan driver yang humble dan enak untuk diajak bicara, apalagi perjalanan kali ini dihiasi dengan jalanan Kota Solo yang macet parah.

“Bapak percaya dengan hantu ?” tanyaku ditengah-tengah obrolan yang semakin kehabisan bahan..

“Mau dibilang percaya, saya belum pernah melihatnya. Tapi kalau dibilang tidak percaya, saya sebenarnya percaya sih mas”. Jawaban bapak driver ojek online dengan dibarengi senyum lebar diwajahnya yang aku lihar dari kaca spion.

“Stop di rumah yang ada Pohon Mangga besar itu ya pak” ujarku sambil memberikan sinyal berupa jari telunjuk kepada si bapak driver ojek online. Si bapak tidak menjawab, hanya menganggukan kepala tanda paham.

Adzan Maghrib mengiringi langkahku masuk kedalam rumah. Rasa-rasanya ada yang mengikuti dibelakang tubuh, emm..mungkin hanya haluku saja sih, namun rasa itu kini berubah menjadi sebuah bulu kuduk yang mulai berdiri.

Dengan langkah pasti, aku mencoba tetap menatap depan dan tidak memperdulikan apapun yang ada di belakang tubuh ini. langkah semakin ku percepat.

Suara jarum jam klasik dari bapak terdengar didepan pintu rumah, dulu suara ini begitu biasa dan tidak ada yang menakutkan. Namun suasana rumah ini sekarang, membuat suara jam tersebut lebih mengerikan.

“Duaaarrrrr” suara kilatan petir menyambar salah satu ranting di Pohon Mangga yang tepat di halaman rumah. Secara reflek tubuhku segera masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah sesegera mungkin.

Rasa campur aduk kini aku rasakan, satu sisi rasa takut kalau ternyata makhluk tak kasat mata. Namun di satu sisi aku penasaran dengan sambaran petir barusan, sela-sela korden memperlihatkan sedikit pemandangan luar yang tepat menghadap Pohon Mangga.

Dengan memberanikan diri, korden ku geser perlahan dan mulai terlihat jelas ranting Pohon Mangga bekas sambaran petir. Ada satu pemandangan yang berbeda di Pohon Mangga tersebut.


“Sajen ? sepertinya kemarin-kemarin tidak ada” gumamku dalam hati mencoba kembali memutar memori otak selama tinggal dirumah ini.

Pikiranku kembali buyar setelah listrik rumah dan seluruh kampung padam seketika, mungkin karena efek sambaran petir tadi. Wajahku teralihkan pandangan dari yang sebelumnya menatap Pohon Mangga, sekarang mencari ponsel untuk menyalakan lampu senter.

Beberapa lilin sudah ku pasang di beberapa sudut rumah, namun ada yang menarik perhatian pada jendela dapur. Cahaya terang masuk disela-sela korden, dari arah Rumah Pak Joni.

“Sreeek” ku singkap sedikit korden, ada yang aneh dengan Rumah Pak Joni. Saat rumah lainnya padam, di Rumah Pak Joni masih tetap menyala.

*****

Tidak berselang lama, suara berisik terdengar dari luar rumah. Segelas kopi yang barusan ku buat pun kembali ke tempat semula di Meja Ruang Tengah. Segera kaki ini melangkah keluar untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Para warga ternyata sudah berkerumun di depan Rumah Pak Joni, pikiran buruk pun mulai masuk. Ada yang aneh memang dengan rumah tetangga sebelahku ini. Entah kenapa, aku selalu merasa ada yang janggal dengan Pak Joni.

“Ini ada apak ? kok pada berkerumun disini” tanyaku kepada salah satu warga yang berdiri didepan pagar rumah.

“Iki lho mas, kok aneh. Rumah lainnya pada mati listriknya, rumah Pak Joni kok murup dewe”. Jawab si bapak yang memang terbata-bata menggunakan Bahasa Indonesia.

“Langsung tanyakan ke Pak Joni aja to pak ?” ujarku mulai menarik perhatian si bapak.

“Lho mas iki ngelawak, Pak Joni itu udah meninggal mas. Bareng sama keluarganya”. Kata si Bapak yang langsung membuatku shok.

“Pak, saya itu kemarin baru saja bertemu dengan Pak Joni lho ? dan kemarin juga baru saja dijamu dengan minuman”. Ujarku yang membuat pandangan si bapak yang sebelumnya masih menghadap rumah Pak Joni, kini beralih menatapku.

“Jenengan serius mas ? jenasah Pak Joni dan keluarganya ditemukan tewas beberapa tahun lalu, dan diduga melakukan bunuh diri bersama-sama”.

“Kalau tidak percaya, besok bisa ikut saya di TPU kampung ini. Mereka semua di kubur disana” ujar si bapak yang langsung ku jawab dengan anggukan kepala tanda setuju.

Aku masih berpikir, kemarin aku meminum apa ? jangan-jangan darah ? seperti yang di film-film horor selama ini. Pikiranku semakin kacau, rasanya ingin mengulangi hari itu lagi dan membaca Ayar Kursi di depan Hantu Pak Joni.

“Baik pak, saya akan ikut jenengan besok. Kalau boleh tahu bapak ini namanya siapa ya ?” ujarku meyakinkan niat, bahwa ini mungkin bisa menjadi salah satu poin penting mengungkap peristiwa dua tahun lalu.

“Nama saya Agus mas, rumah saya di pojokan jalan itu. Kalau jenengan sendiri asmane sinten ?”.

“Kula Burhan pak”.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
bully-crime---thriller
Stories from the Heart
hello-good-bye-bae
Stories from the Heart
hantu-tampan-penunggu-kamar-kos
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia