Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
497
Lapor Hansip
19-04-2019 09:28

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Prolog

  Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.

  Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah peninggalan bapak selalu mengeluarkan aura mistis.

  Namun mau tidak mau aku harus kembali, setelah mendapatkan sebuah pekerjaan yang ternyata lokasinya di Kota Solo, aku memiliki dua pilihan yang berat antara harus berhutang untuk menyewa rumah atau menempati rumah peninggalan dari bapak.

  Pilihan yang sama beratnya, namun Kirana memintaku untuk menempati kembali rumah yang sudah kosong selama dua tahun tersebut, selain menghemat biaya hidup juga membuat aku mungkin bisa mengetahui jawaban siapa pembunuh dari keluargaku.

  Semua tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya, segala aura mistis mulai mengintaiku selama kembali menempati rumah masa kecil tersebut. Mulai dari nyanyian, penampakan, atau beberapa tangisan yang sering menemani hari-hariku selama disana.

Sebelum Hari Pertama

  Keraguan masih menghinggapi hatiku mau maju tapi takut dengan segala cerita masyarakat sekitar namun kalau tidak maju, aku berart melupakan segala kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari.

  “Gimana Han, jadi menempati rumah keluargamu besok ?” tanya Kirana yang memang menjadi kekasih hatiku sudah dua tahun belakangan.

  “Aku masih bimbang Ran, meskipun kangen dengan rumah itu tapi semua kejadian yang menimpa keluargaku dan segala cerita masyarakat sekitar masih terus menghambat” jawabku dengan rasa yang masih bimbang.

  Kirana tidak langsung menjawab diskusi kami, dia memilih untuk memesan makanan favorit kami yakni bakso di salah satu warung langganan.

  “Kamu harus buang rasa bimbangmu itu Han, bukannya kamu sendiri yang memutuskan untuk bekerja di kota kelahiranmu ?”.

  “Iya aku paham, Cuma kalau untuk kembali kerumah tersebut aku masih ragu dan ada sedikit rasa takut”.

  “Kamu itu lucu, itu rumah kamu kan ? tidak mungkin keluargamu akan membunuh kamu disana, mungkin saja malah kamu bakal mengungkap siapa pelaku pembunuhan berantai keluargamu”.

  “Masa iya sih Ran ? mereka akan bersahabat denganku begitu maksudmu ?”.

  “Bersahabat ? aneh-aneh saja kamu, mereka dan kamu sudah tidak satu alam, tapi kemungkinan mereka akan mencoba menyampaikan pesan kepadamu disana. Kamu adalah anggota keluarga yang masih tersisa”.

  “Kalau begitu, baiklah aku bakal mencoba menghidupkan kembali rumah yang sudah dua tahun tidak berpenghuni itu”.

  Setelah menghantarkan Kirana pulang kerumahnya, aku mencoba kembali mengingat kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari. Semua seakan masih tidak bisa aku percaya, mereka pergi secara tragis dan secara bersamaan.

  Kejadian dua tahun lalu, mungkin kalau aku tidak melanjutkan study di Jakarta aku bisa mengetahui siapa pembunuhnya atau setidaknya aku bisa berkumpul bersama mereka dialam yang berbeda.

  Dering telpon sebelum ditemukannya jasad keluargaku, aku masih sempat menghubungi Ibu untuk menanyakan kabar mereka disana. Ada sebuah firasat yang mungkin baru aku bisa tangkap setelah kepergian mereka.

  “Dek, ibu kangen banget sama adek. Kalau bisa, besok datang ya” sebuah kata yang mengisyaratkan akan terjadi sebuah kejadian yang tidak pernah terbayangkan olehku.

  Semua masih seperti mimpi bagiku, semua seperti hanya cerita dongeng saja. Aku masih menilai mereka bertiga masih hidup, terutama ibu, aku rindu sekali padamu bu, nyanyian langgam jawamu selalu menemani tidurku.


Prolog
Sebelum Hari Pertama
Hari Pertama
Hari Kedua
Hari Ketiga
Hari Keempat – Part 1
Hari Keempat – Part 2
Hari Kelima – Part 1
Hari Kelima – Part 2
Hari Keenam
Hari Ketujuh – Part 1
Hari Ketujuh – Part 2
Hari Kedelapan
Hari Kesembilan
Hari Kesepuluh - Part 1
Hari Kesepuluh – PART II
HARI KESEBELAS PART I
HARI KESEBELAS PART II
Hari Kedua Belas-Part I
Hari Kedua Belas - Part II
Hari Kedua Belas - Part III
HARI KETIGA BELAS - PART I
Hari Ketiga Belas Part II
Hari Ketiga Belas Part III
Hari Keempat Belas
Hari Keempat Belas - Part II
Hari Kelima Belas
Hari Keenam Belas
Hari Keenambelas Part II
Hari Keenambelas Part III
Hari Keenam Belas - Part IV
Hari Keenam Belas - Part V
Hari Ketujuh Belas - Part I
Hari Ketujuh Belas - Part II
Hari Ketujuh Belas Part III
Hari Kedelapan Belas
Hari Kesembilan Belas-Part I
Hari Kesembilan Belas-Part II
Hari Kesembilan Belas-Part III
Hari Kedua Puluh
Diubah oleh bej0corner
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaykay22 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
18-02-2020 06:46
Hari Ketujuh- Part I

Lelah menjadi hadiah jalan-jalan kemarin yang masih tersisa, rasanya pun begitu mager dan ogah untuk melangkahkan kaki kemana-mana. Meskipun isi dapur juga sudah mulai menjerit, tidak ada makanan sama sekali selain telur dan mie instan.

Hari yang tenang berubah menjadi hari yang mulai mencekam, lantunan nada yang bersumber dari Piano di ruang tengah terdengar. Sebuah nada yang begitu aku kenal karena sering sekali dimainkan oleh Mbak Lestari.

Dengan langkah kaki yang bergetar hebat, aku memberanikan diri untuk mendekat ke arah sumber suara.

Aku merasa semakin diri ini mendekat, suara piano semakin mengecil dan perlahan berhenti. Langkahku tetap berjalan, kepala tanggung kalau berhenti sampai disini. Sosok perempuan didepan piano bergaun putih membuat mental yang sudah terbangun tiba-tiba hancur seketika.

“Mbak, itu kamu ya ?” tanyaku mencoba memecah suasana yang hening, sambil kaki bergetar hebat dan keringat yang entah sudah seberapa banyak menetes di ubin.

“Dong-Dong-Dong” suara piano yang benar-benar membuat dorongan untuk tubuhku, sebuah dorongan yang cukup kencang menghempaskan tubuhku ke ubin. Saat mencoba berdiri kembali, sosok perempuan itu menghilang.

Mata ini terpaku pada sebuah buku di atas piano, sebuah buku kumpulan nada-nada pilihan yang sangat digemari oleh Mbak Lestari. Aku kembali memberanikan diri untuk mendekat, melihat buku yang tiba-tiba membuka tersebut.

“Lho kok tidak ada nada-nada sama sekali” kataku setelah melihat isi buku yang sudah berubah dari versi aslinya, dimana hanya ada satu kalimat lumayan panjang yang sepertinya adalah sebuah pesan dari salah satu anggota keluargaku.

“Andai aku masih bisa melihat dunia ini lebih lama, mungkin mereka tidak akan bersedih, namun Takdir Tuhan berkata lain. Aku hanya bisa terbaring, dan dia membuatku merintih. Meskipun disisi lain, dia membuatku bahagia”.

Ada apa dengan kondisi keluargaku selama ini ? dari pesan ini, aku menangkap kalau salah satu keluargaku ada yang sakit keras. Tapi kenapa tidak ada yang memberitahuku ?.

Semua tanya tidak bisa terjawab, hanya tangis saja yang menemani segala pertanyaan yang aku buat sendiri.

Mungkin dengan bercerita kepada Kirana bisa sedikit meringankan beban ini, segera ku cari ponsel yang ada di kamar. Sambil menahan tangis, aku mencari-cari nama Kirana di buku kontak telpon.

“Maaf nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan” .

Apa Kirana marah sampai-sampai nomernya dimatikan oleh dia ? tetapi sepertinya aku tidak berbuat apa-apa selama di Solo, mungkin dia lagi sibuk.

Sempat terbesit di hati ingin bercerita kepada Pak Joni, namun sosok perempuan yang sepertinya adalah anak Pak Joni tersebut membuatku ragu dan mengurungkan niat untuk pergi ke Rumah Pak Joni.

Hari Ketujuh – Part II



Dering ponsel menyadarkanku dari lamunan macam-macam, Kirana nama yang muncul di layar ponsel.

“Hallo Ran”.
“Kamu tuh kenapa sih ? dihubungin enggak bisa, ngasih kabar juga enggak. Kamu macam-macam ya disana”.
“Kebiasaan deh ngegass dulu sebelum aku sempat memberitahu kamu, aku tuh dari tadi juga nelpon kamu tapi enggak tersambung, dan anehnya ketika internetku bisa, satu-satunya aplikasi yang enggak bisa aku pakai Cuma WA”.
“Kamu bicara serius kan Han ?”.
“Enggak bercanda...ya serius lah”.

“Piaaaarrrr”...suara pecahan kaca terdengar dari arah dapur, tanpa komando aku segera pamit kepada Kirana. Meskipun sempat ragu untuk pergi ke dapur, namun misteri ini harus segera terselesaikan dengan segera.

Langkah demi langkah membuatku semakin dekat dengan dapur, sampai akhirnya aku melihat sosok seorang pria sedang menuliskan kata-kata di kaca jendela. Kaki ku pun secara kompak berhenti dan tidak melanjutkan jalan.

Keringat sudah mulai membasahi tubuh, mengingat ini adalah Malam Jumat Kliwon. Anehnya, orang tersebut tidak menulis menggunakan pulpen atau alat tulis lainnya. Melainkan darah yang keluar dari salah satu jarinya.

Dan...dalam sekedip mata saja, pria itu mengarah kepada ku dengan langsung menjatuhkan tubuh ini dengan kuat yang membuat kepalaku terbentur ke lantai lumayan keras. Pandangan mata pun tiba-tiba kabur dan gelap.

Entah berapa lama tubuhku terbaring disini, yang pasti jarum jam dinding sudah menunjukan pukul dua belas malam. Kepala rasanya begitu pusang ditambah nyeri yang membuat keseimbangan tubuh tidak stabil.

Dengan berpegang pada tembok rumah, aku melihat sebuah tulisan di jendela dengan menggunakan tinta merah yang sepertinya adalah darah. Meskipun traumatik belum benar-benar sembuh, tulisan di jendela menimbulkan rasa penasaran yang bisa mengalahkan rasa takut.

“MAAF” sebuah kata yang tertulis di kaca jendela, entah siapa dan apa maksud dari tulisan tersebut. Mungkinkah ada hubungannya dengan sosok misterius yang baru saja menyerangku ? tampaknya tubuhku tidak bisa diajak untuk berpikir lebih keras, dan seketika pandangan mata pun kembali gelap dan tubuhku tidak bisa merasakan apapun setelah itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariefdias dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
two-sides-of-the-same-coin
Heart to Heart
kenanganku-jogja
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia