Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
589
Lapor Hansip
31-01-2020 01:13

RUMAH WARISAN ATAS BUKIT

prolog


*********

RULES

- Ikuti perarturan SFTH

- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.

- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.

- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis


index






































Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
theoscus dan 56 lainnya memberi reputasi
55
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
02-02-2020 06:20

Part - 9

Malam hampir masuk sepertiga akhirnya, saat gue denger teriakan keras dan benda jatuh.

toloonggg ......prangggg

Gue dengar suara orang berlari turun dari lantai dua ke arah dapur. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul semua, gue bergegas bangkit dan membuka pintu...gelap.
Sepertinya gue gak salah denger, suara itu jelas banget ditelinga gue, ada orang minta tolong. Perlahan gue lihat ke arah dapur, juga gelap, gak ada siapapun...hiyyy, bulu kuduk gue meremang. Kalo yang gue denger tadi cuma halu, keterlaluan banget sampe bikin gue kaget setengah mati.
Akhirnya gue putuskan buat tidur lagi, lumayan sebelum subuh datang. Saat tangan gue hendak menjangkau handle pintu..kreeeetttt, pintu kamar ayah seperti dibuka orang.

"Siapa ya yang masuk kamar ayah ?

Gue mencoba menyentuh saklar yang kebetulan ada di depan kamar gue...tek, ruangan yang tadi gelap, menjadi terang benderang.
Gue melihat kamar ayah memang terbuka, dan tak lama kemudian terdengar suara ketukan yang sangat keras dug...dug...dug, dan suara orang meminta tolong, toloongg....toloongggg. Gue mundur beberapa langkah, sumpah gue takut banget, sampai akhirnya gue merasa ada sesuatu yang menyentuh bahu gue, ja..ja..jangannn, ujar gue spontan karena rasa takut yang teramat sangat.

"Ini Tono mas....Tono, ada apa mas Linggar ?, tenanglah !."
"Ya ampun mas Tono ngagetin aja. Jantung aku hampir copot tau."

Gue menunjuk ke arah kamar ayah yang sedikit terbuka.

"Siapa yang buka kamar ayah mas ?."

Mas Tono melangkah mendekati kamar ayah, dan membukanya perlahan.

"Enggak ada siapa-siapa mas, mungkin waktu nutup semalam gak kenceng, jadi kebuka. Kan semalam mas Linggar, suruh saya ngecek lampu kamar bapak, waktu ngunci mungkin gak ketutup rapat, karena mata kuncinya sudah agak rusak. Biar besok lampu sama pintunya saya benahin mas," ujar mas Tono.

Gue cuma bisa mengangguk, saat mas Tono bilang mau membuatkan kopi buat gue.

*********

Aroma kopi tercium sangat harum, membangunkan bi Inah dan bi Narti, yang keluar dengan mata masih setengah mengantuk.

"Loh sedang apa mas ?, koq buat kopi sendiri, gak bangunin aku," ujar bi Narti sambil menghampiri suaminya.
"Gak apa-apa bu, cuma buat kopi. Mas Linggar mau ngopi. Sudah kamu cuci muka saja dulu, baru buatkan makanan kecil buat den Linggar."
"Iya mas."

Bi Narti berjalan perlahan ke arah kamar mandi...astaghfirullah...astaghfirullah

Gue dan mas Tono yang sedang menikmati kopi berlari ke arah kamar mandi. Betapa terkejutnya gue, kala gue lihat bi Inah sedang melilitkan selang shawer ke lehernya, matanya membelalak dan lidahahnya menjulur ke luar.
Mas Tono dan gue dengan cepat menahan tangan bi Inah, gue seperti sedang bertempur dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Secara logika gak mungkin tubuh renta ini, bisa sangat kuat menahan tangan gue dan mas Tono. Tapi untunglah disaat yang sangat genting, Parjo datang dan ikut membantu, hingga akhirnya selang shower, bisa kami lepaskan.
Tubuh bi Inah terkulai lemas, gue bopong tubuh tuanya menuju sofa.

uhuk...uhukk, dia batuk dan menahan sakit.
"Bi Inah gak apa-apa ?," ujar gue, sambil membersihkan lehernya yang memerah dan sedikit lecet. Bi Inah hanya diam, sambil menahan sakit.

Tak lama kemudian, bi Narti datang membawa segelas air putih hangat dan memberikannya ke gue. Gue ingat pesan kyai Amin, untuk membacakan Al Fatihah, sebelum air itu diberikan pada yang sakit. Lalu mulut gue komat kamit membaca ayat-ayat surah Al Fatihah, dan memberikan air putih itu ke bi Inah.
Setelah tenang, gue mulai bertanya padanya.

"Ada apa bi ?, kenapa bibi melukai diri bibi ?."
"Bukan bibi den, tapi perempuan itu."
"Perempuan ?, perempuan siapa bi ?, gak ada siapa-siapa di sana."
"Ada den, dia memakai baju merah, dan dialah yang terus melilitkan selang itu keleher bibi."

Gue kaget dan memandang ke arah mas Tono. Bi Narti terlihat memegang lengan suaminya dengan takut. Otak gue berputar, berusaha mencari jawaban secara logic, gak nemu, gue yakin ini ulah ghoib, akhirnya gue mengambil keputusan untuk memanggil kyai atau ustadz yang ada di kampung ini.

"Mas Tono, tolong besok pagi cari kyai atau ustadz ya, ceritakan semua yang terjadi disini."
"Baik mas."
"Ayo semua, sekarang kita shalat berjamaah dulu, sudah masuk waktu subuh, nanti kita terlambat. Bi Inah bisa bangun ?."
"InsyaAllah bisa den."

*******

Kejadian malam ini, benar-benar kejadian yang membuat gue sangat takut, karena nyaris saja mengambil nyawa orang yang gue sayang, orang yang udah gue anggap sebagai orang tua gue sendiri, dan gue udah gak bisa bilang, ini cuma halusinasi.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
jurnal-mimpi
Stories from the Heart
surat-surat-lovembers
Stories from the Heart
terpaksa
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia