News
Batal
KATEGORI
link has been copied
184
Lapor Hansip
17-01-2020 18:16

Lebih Pilih Toa untuk Peringatan Bencana, Pak Anies Gak Mau Pakai Aplikasi Ahok?

Lebih Pilih Toa untuk Peringatan Bencana, Pak Anies Gak Mau Pakai Aplikasi Ahok?

Lebih Pilih Toa untuk Peringatan Bencana, Pak Anies Gak Mau Pakai Aplikasi Ahok?

WE Online, Jakarta - Anggota DPRD DKI dari Fraksi PSI, William Aditya Sarana menyoroti langkah Pemprov DKI yang lebih memilih menggunakan alat pengeras suara atau toa untuk memberi peringatan bencana. Menurut dia, cara ini merupakan cara kuno.

Karena itu, ia meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menggunakan cara yang lebih modern seperti menggunakan aplikasi di ponsel.

Ia mengatakan untuk memberi peringatan bencana ini pernah dilakukan saat era Gubernur DKI sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Yakni, aplikasi bernama Pantau Banjir diyakini akan lebih efektif memberikan peringatan kepada masyarakat Jakarta.

"Pada 20 Februari 2017, Pemprov DKI meluncurkan aplikasi Pantau Banjir yang di dalamnya terdapat fitur Siaga Banjir," ujarnya dalam pernyataan persnya, Kamis (16/1/2020).

Lanjutnya, ia mengatakan Fitur "Siaga Banjir" dalam aplikasi itu, kata William, bisa memberikan pemberitahuan ketika status pintu air meningkat. Dengan demikian, masyarakat bisa bersiaga untuk mengantisipasi masuknya air ke rumah mereka.

"Fitur itu memberikan notifikasi ketika pintu air sudah dalam kondisi berbahaya serta berpotensi mengakibatkan banjir pada suatu wilayah," jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan aplikasi tersebut hingga kini memang masih bisa diakses. Namun, fitur Siaga Banjir itu sudah tidak ada lagi sejak pembaruan versi 3.2.8 pada 13 Januari lalu.


Sambungnya, pada versi terbaru, pengguna hanya bisa melihat ketinggian air di tiap RW, kondisi pintu air, dan kondisi pompa air. Karena itu, ia menyarankan Anies kembali mengembangkan dan memanfaatkan fitur "Siaga Banjir" sebagai sistem peringatan dini.

"Aplikasi berbasis internet gawai seharusnya lebih efektif dan lebih murah, ketimbang memasang pengeras suara yang hanya dapat menjangkau radius 500 meter di sekitarnya," tukasnya.

Sebelumnya, Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) M Ridwan mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menambah enam perangkat pengeras suara atau toa untuk peringatan bencana kepada warga. Bahkan, anggaran yang disiapkan tidak tanggung-tanggung Rp 4 miliar untuk enam set toa.

Ia mengatakan nama alat tersebut adalah Disaster Warning System (DWS). Sambungnya, perangkat ini tergabung dalam sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) BPBD Jakarta.

"Tahun 2020 pengadaan enam set DWS," ujarnya kepada wartawan Rabu (15/1/2020).

Sambungnya, ia mengatakan enam set DWS ini dianggarkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020 yang terbagi menjadi dua komponen mata anggaran yakni untuk pemeliharaan dan pengadaan DWS.
sumber

☆☆☆☆☆☆

Ada yang punya penjelasan lengkap mengenai alat DWS yang dibilang "Bukan Toa Masjid" oleh bawahan Anies? 4 milyar lho.

Padahal kalau misalkan memakai internet dan bekerjasama dengan provider, nilai sebesar itu bisa ditekan jauh hingga dana yang ada bisa dialihkan ke hal lain yang lebih penting.

Kita coba pakai bahasa awam saja.

Di hulu sana, di bendungan-bendungan yang mengarah ke Jakarta, terpasang alat yang yang mengukur tekanan air ke bendungan, pendeteksi gerakan tanah, pendeteksi gerakan dinding bendungan, serta ketinggian air. Semua itu tercatat oleh sebuah program, terserah berbasis apa. Terpasang juga CCTV dari segala arah yang memantau langsung keadaan bendungan dan permukaan air. Lalu semuanya dikirim real time ke pusat siaga bencana di Jakarta. Dan di ruang server pusat siaga bencana Jakarta terpasang beberapa layar TV ukuran 40 inchi untuk menampilkan hasil grafis dan video dari bendungan di luar Jakarta.

Pusat siaga bencana Jakarta juga memasang alat deteksi ketinggian muka air sungai yang terpasang di beton agar tidak dicuri. Alat tersebut terpasang 3. Paling bawah kondisi normal. Tengah kondisi siaga. Atas kondisi bahaya.

Alat tersebut secara otomatis akan mengirim alarm ke pusat siaga bencana. Begitu kondisi air berada di posisi siaga, maka pusat bencana Jakarta mengirim permintaan sms blast ke provider-provider telepon seluler. Dari sana sms akan dikirim ke seluruh handphone yang berada di area terjangkau yang telah disepakati. Jadi masyarakat kan langsung bergerak siap-siap menghadapi banjir dan menjauh dari area terdampak.

Semua ini terhubung dengan internet. Mudah, murah, cepat. Tak perlu keluar uang hingga 4 milyar.

Beda masalahnya kalau memang banjir dianggap berkah seperti apa kata pendukung Anies Baswedan.

Orang bego kadang lebih nyolot. Apalagi soal uang besar. Ada aja alasannya.

Gitu deh.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
feraldi2001 dan 42 lainnya memberi reputasi
43
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Lebih Pilih Toa untuk Peringatan Bencana, Pak Anies Gak Mau Pakai Aplikasi Ahok?
17-01-2020 18:39
Gaptek gaya sok intelek...
Males belajar ngaku akademisi..
gabener emang..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
servesiwi dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
profile picture
kaskus maniac
17-01-2020 18:41


Ane bisa jelasin ini karena di gedung Kementerian PU yang mengurusi air telah dipasang. Cuma bedanya gak diterusin jadi alarm ke masyarakat.

Hanya untuk pemantauan.

Dan ane dulu pernah ikut mengurusi networkingnya.
1
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia