Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
36
Lapor Hansip
11-12-2019 15:19

Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu Tenggelam Dalam Gemuruh Waktu. [TRUE STORY]

Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
gbr diambil dr : karyapemuda.com

Hujan yang tak kunjung datang, membuat malam terasa panas. Diam-diam tubuhku mulai basah oleh keringat. Meski demikian hati ini terasa dingin dan ngilu, teringat seseorang yang telah lama pergi.

Namanya hanya dikenal oleh keluarga dan teman-teman dekat. Dalam sejarah kehidupan yang panjang dan berisi catatan dari ratusan juta, bahkan milyaran insan, kisah hidupnya pun terkubur di antara sekian banyak kisah hidup insan lain-nya. Perlahan terlupakan seiring dengan waktu dan beralihnya generasi.

Saat kematian-nya aku pun tak sempat menghantar-nya pergi, dimakamkan di sebuah desa kecil yang sampai sekarang-pun tak pernah aku kunjungi lagi.

Mungkin rasa bersalah yang membuatku menuliskan kisah ini.

Mungkin rasa tak rela ketika dia pergi tanpa meninggalkan sedikit pun catatan tentang dirinya sendiri, yang membuatku menuliskan kisah ini.

Kapan tepatnya dia dilahirkan, aku sendiri tidak tahu, tapi dia besar di masa Indonesia masih dikuasai oleh Belanda. Lahir dari seorang Cina perantauan, tumbuh dewasa di masa penjajahan Belanda yang disusul penjajahan Jepang, dia lebih banyak bersahabat dengan teman-teman sepermainan-nya yang berkulit lebih gelap dan kelopak mata yang lebih lebar. Jiwanya bebas merdeka, tak pernah bisa diam di rumah, membuat dia berkenalan dengan berbagai macam orang.

Di masa perjuangan melawan Belanda, dia pun ikut membantu teman-temannya yang saat itu bergerilya. Di saat ada sekelompok orang Cina yang dipersenjatai oleh Belanda untuk menjaga keamanan, dia justru terlibat dalam sebuah serbuan untuk merebut senjata-senjata tersebut.

Tak ada korban jiwa dalam serbuan itu, toh desa tempat mereka tinggal hanyalah sebuah desa kecil yang tidak penting dalam gambaran besar sebuah Indonesia.

Antara pejuang yang bergerilya, dan Cina-Cina yang dipersenjatai Belanda pun, sebenarnya saling mengenal sejak mereka kanak-kanak. Dengan kepandaian-nya membujuk, senjata-senjata itu pun kemudian diserahkan kepada pejuang-pejuang Indonesia tanpa perlawanan.

Seandainya tidak ada yang namanya pengkhianat, mungkin ceritanya akan terlalu kering untuk diceritakan.

Tidak perlu menyebut nama-nama mereka, termasuk nama si pengkhianat ini, karena kisah mereka juga sudah lama berlalu, yang pasti dia inipun ditangkap dan dipenjarakan tentara-tentara Belanda. Di bawah tekanan dan siksaan yang berat, dia tetap melindungi mereka yang bergerilya. Satu kali teman-temannya itu menyerang kantor polisi tempat dia ditahan, berusaha menyelamatkan mereka yang berada dalam penjara, namun usaha itu gagal.

Hari itu selembar kertas kecil beredar di antara penghuni penjara, dan di saat yang sudah ditentukan pejuang-pejuang Indonesia menyerang penjara kecil itu. Di antara desingan peluru, penghuni penjara itu pun merangkak berhamburan keluar. Hanya tersisa beberapa jauhnya dari kebebasan, namun suratan takdir tak menghendaki dia lepas hari itu. Bala bantuan datang dan pejuang-pejuang kita pun terpaksa mundur kembali ke hutan. Beberapa orang penghuni penjara berhasil lolos, sementara dia dan yang lainnya harus rela menjadi bola, bagi kaki-kaki tentara Belanda yang melampiaskan kekesalannya.

Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
gbr ilustrasi diambil dari : www.kitlv.nl


Namun kesabaran untuk menanti dalam gelapnya penjara, bukan penantian yang tanpa akhir, karena Agresi Militer Belanda yang kedua itu akhirnya berakhir dengan kemenangan Indonesia.

Bebas dari penjara dengan fisik lemah, namun dengan kehormatan yang tak ternoda. Meski kondisi fisiknya membuat dia gagal mengikuti jejak sahabat-sahabatnya yang lain, yang ditarik masuk ke dalam TNI, pemerintah tidak lupa akan jasanya.

Selembar surat pengakuan, yang sekaligus sebagai bukti untuk menarik bantuan dari pemerintah setiap bulannya, dia dapatkan.

Hanya saja bukan itu yang dia mau, diam-diam surat itu dia bakar dan ketika adik kandung-nya bertanya, dia menjawab, "Malu aku dikata pejuang, padahal aku tidak pernah ikut berperang melawan Belanda."

Adiknya tahu, kakanya menolak untuk ikut bergerilya karena mengkhawatirkan ayah mereka yang sudah tua. Jika dia saat itu ikut lari ke dalam hutan dan bergerilya, yang dia khawatirkan adalah Belanda mungkin justru datang dan membawa pergi ayahnya.

Kemerdekaan Indonesia tidak menjadi akhir dari ceritanya.

Jiwa sosialnya tidak berhenti ingin mengabdi, setelah selesai dengan Belanda, dia beralih menjadi sukarelawan untuk mengajar baca dan tulis, bagi anak-anak petani yang tidak mampu.

Melihat kesenjangan antara buruh petani dan pemilik tanah, jiwanya pun berontak. Keusilan-nya di masa kecil, rupanya belum juga sembuh. Tak jarang dia akan bersembunyi di dalam cikar (pedati yang ditarik lembu) pembawa beras yang ditimbang oleh cukong pemilik tanah. Lalu cepat-cepat lari, setelah berat pedati itu dicatat.

Sebuah kehidupan sederhana yang diwarnai petualangan-petualangan kecil, tentu tak lepas dari romansa dan akan menjadi dongeng penghantar tidur, jika tidak terjadi gejolak di tahun 1965.

Ketika kelam menyelimuti langit negara ini dan anyir baru darah membasahi tanah ibu pertiwi. Ketika setan-setan berwajah manusia mengail di air keruh. Ketika yang baik dan yang jahat, sulit untuk dibedakan. Ketika gelap menutup mata dan hati.

Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
gbr ilustrasi diambil dr : www.businessinsider.com

Kedekatannya dengan buruh petani membawa petaka, namanya ikut tertulis dalam sebuah daftar. Satu di antara ratusan, bahkan mungkin ribuan nama lain, yang darahnya mewarnai aliran sungai dan kuburnya beramai-ramai tanpa tanda.

Tapi dalam hidup, roda karma selalu berputar, sebab dan akibat bagai rantai yang tak terputus. Kebaikan yang membawa dia tertulis dalam daftar, kebaikannya pula yang menggerakkan hati beberapa orang untuk memberi bisikan dan dia pun selamat. Meski harus lari jauh merantau dari desa tempat dia dilahirkan. Desa tempat dia mengenal persahabatan dan cinta, pengkhianatan dan kebaikan.

Demikianlah dia menghabiskan sebagian besar usianya dan menua dalam perantauan.

Namanya tidak tertulis dalam sejarah. Kisahnya pun hanya sedikit orang yang tahu, dan semakin lama semakin sedikit yang tahu. Meski dia pun tak pernah merasa nama dan kisah hidupnya perlu diingat.

Lagipula, mungkin ada jutaan orang seperti dirinya. Berkarya dalam sepi, digerakkan hati, tanpa menghitung untung dan rugi. Tak cukup cakap, untuk bermain dalam panggung yang besar, mereka puas dengan menyumbangkan sedikit apa yang mereka punya untuk negara dan bangsa, untuk sesama saudara, tanpa memandang apakah dirinya itu seorang Cina atau pribumi.

Sampai akhirnya waktu pun berkata, "Sudah."

Dan akhirnya dia dikuburkan di desa yang dulu harus dia tinggalkan. Apakah mereka yang sudah berpulang masih merasakan rindu? Ketika tanah itu ditaburkan menutupi jasadnya, adakah dia tersenyum?

Akhirnya dia kembali ke pelukan ibu pertiwi, pada tanah yang dia cintai dan rindukan.

Dia hanya satu dari ribuan, jutaan, atau bahkan mungkin puluhan juta,  orang yang berkarya bagi negeri tanpa namanya pernah kita kenal. Tak ada sanjungan, tak ada kenangan, seperti angin sejuk yang berhembus lewat, seperti senandung ibu yang menghantar kita tidur nyenyak.

Sesaat yang lalu dia, mereka, ada. Sesaat kemudian mereka pun menghilang, berpulang.

Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
ilustrasi diambil dr : tripsavvy.com


Sumber referensi : Pertemuan pribadi dengan "dia" yang diceritakan dalam tulisan ini dan keluarga-nya.

Kisah ini kisah nyata, meski tak bisa dikatakan sebagai sebuah tulisan sejarah, hanya sebuah cerita dari mereka yang pernah merasakan masa-masa ketika negara kita ini penuh gejolak.

Harapan saya, semoga kiranya di masa, di mana semua perbuatan dan perkataan, sepertinya harus di-viral-kan agar mereka jadi bermakna, masih akan ada insan-insan, seperti "dia" dalam cerita ini.

Yang dalam diam, terus berkarya bagi sesama.
Yang berbakti bagi negeri, tanpa banyak ber-promosi.
Yang hatinya penuh kehangatan, yang bahagia-nya tatkala meringankan beban sesama.

Tak perlu ijazah, tak perlu prestasi, sebuah senyuman, sedikit bantuan, asalkan lahir dari hati yang rela.

Hati yang mencinta.

Bukan hidup yang dipenuhi doa permohonan, tapi hidup yang menjadi jawaban bagi doa sesama.
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tuffinks dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
14-12-2019 13:23
Wah terharu ane bacanya emoticon-Toast
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sisi-hati-yang-terbagi
Stories from the Heart
ular-berkepala-tikus
Stories from the Heart
tigapart-2
Stories from the Heart
before-morning-comes
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
bacot-santuy-1
Stories from the Heart
Stories from the Heart
tentang-perjalanan
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia