News
Batal
KATEGORI
link has been copied
381
Lapor Hansip
13-12-2019 09:13

Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal

Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal

Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menggagas konsep kebijakan pendidikan "Merdeka Belajar" selama periode menjabat. Nadiem menuturkan, konsep ini mengambil esensi dari pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Konsep ini diharapkan bisa membebaskan instansi pendidikan agar bisa berubah serta diharapkan bisa menjadi solusi agar anak-anak bisa berkreasi dan berinovasi.

"Ini yang Indonesia butuhkan di masa depan. Mohon maaf, dunia tidak membutuhkan anak-anak yang jago menghafal," kata Nadiem saat rapat bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan pada Kamis, 12 Desember 2019.

Nadiem mengatakan, konsep ini tengah digodok dan sedang digarap oleh Kemendikbud. Dia meminta semua pihak bersabar dalam waktu beberapa bulan ke depan untuk dimatangkan. Dia juga menyayangkan kritik-kritik yang disampaikan sejumlah pihak bahwa Nadiem coba-coba dalam mengubah sistem pendidikan.

"Jadi setiap kali, saya sedih kalau mendengar reaksi bahwa percobaan itu bukan suatu hal bisa dilakukan di dunia pendidikan. Saya selalu mendengar itu, sering sekali," ujar Nadiem.

Sementara itu, kata Nadiem, satu-satunya cara untuk berinovasi adalah melakukan berbagai macam percobaan. "Saya harus bicara seperti ini sejujurnya. Inilah yang seharusnya terjadi, para guru harus diberikan kebebasan untuk mencoba hal-hal baru, dan tanpa itu kita gak akan maju sebagai negara, itu namanya inovasi," ujar Nadiem Makarim.

Sejauh ini, Nadiem tengah menyiapkan empat rencana kebijakan pendidikan yang disebutnya dengan kebijakan “Merdeka Belajar” itu. Kebijakan itu meliputi perubahan pada USBN, Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.
sumber

☆☆☆☆☆

Sebelumnya, gw mau memberi penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para Guru Besar, Rektor, Dosen, hingga para Profesor dan Doktor yang bisa menerima kehadiran seorang Nadiem Makarim, orang baru dalam dunia pendidikan yang dipilih Joowi sebagai kejutan di pemerintahan periode kedua ini.

Mas Menteri, itu sebutan kehormatannya.
Dan Mas Menteri ini sepertinya tidak main-main dalam menyiapkan konsep pendidikan kita agar sejajar dengan negara-negara lain yang lebih maju dalam bidang pendidikan.

Bahkan kritikan dari seorang JK pun mengenai UN, dijawab lugas oleh Nadiem. Dan memang benar, siapa bilang tanpa adanya UN membuat lemah generasi muda kita? Apa tolak ukurnya?

Bertahun-tahun, dunia pendidikan kita dipenuhi oleh buku pelajaran yang tebal. Dan ketebalan buku itu terkadang hanya berputar-putar pada permainan kata. Makin berputar, makin sulit dimengerti.

Seperti halnya sebuah soal matematika. Yang diperlukan adalah mengerti rumus. Percuma hafal rumus jika penyelesaiannya tidak mengerti. Dan karena hanya bisa menghafal rumus, ketika rumus tersebut dibalik, maka bingunglah yang mengerjakan soal. Ini konsep matematika.

Alangkah kasihannya generasi muda kita, dipaksa membawa buku pelajaran super tebal yang memenuhi tas sekolahnya. Dipaksa menghafal luar kepala isi buku sampai susunan kalimatnya. Hanya menghafal, tanpa mengerti apa yang dihafal.

Tapi pendidikan kita sebenarnya seperti jalan ditempat. Sejak SD hingga SMA atau SMK. Baru setelah menempuh pendidikan lebih tinggi, pendidikan itu terasa lepas. Baru ada kebebasan disana. Dan ini yang mungkin akan diubah oleh Nadiem Makarim.

Sebenarnya masalah utama pendidikan kita adalah semboyan : Ganti Menteri, Ganti Sistem.

Tak pernah ada hal yang dibuat baku. Selalu berubah. Jika seorang Nadiem bisa membuat sebuah sistem yang baku, seperti sistem e-budgeting, maka arah pendidikan kita akan berubah cepat. Masalahnya tidak semua orang yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan punya konsep yang sama atau ego yang minim. Jangankan didalam bidang pendidikan, dibidang kelautan saja, menteri terpilih langsung menshutdown sistem yang telah 5 tahun dipakai. Ego? Bisa jadi? Sok jago? Gak tau. Tapi hampir semua menteri punya tabiat seperti ini. Jangankan menteri. Seorang Gubernur saja bisa membatalkan Pergub yang telah baku dan dipakai bertahun-tahun. Dan itu fakta.

Dan masalah terbesar bangsa ini, yang menghalangi kemajuan bangsa ini dalam bidang pendidikan adalah Korupsi! Banyak kepentingan yang bermain. Para pelaku pendidikan, para penerbit, para pengusaha percetakan, semua berkutat dengan jatah korupsi masing-masing.

Apa yang tidak dikorupsi dalam bidang pendidikan? Bahkan dana bantuan pemerintah untuk sekolah saja kena pungli. Turun 100 juta, sampai kebawah jadi 60 juta.

Dan ingat! Pendidikan kita terbagi dalam 2 jalur. Jalur umum dan jalur khusus. Jalur umum dikelola oleh Menteri Pendidikan, jalur Madrasah dikelola oleh Menteri Agama. Dan kedua Kementerian ini termasuk dalam lembaga terkorup!

Harus ada kolaborasi antara Menteri Pendidikan dan Menteri Agama untuk memajukan pendidikan kita. Ini jika kita mau memutus mata rantai yang membelenggu dunia pendidikan kita.

Bisakah seorang Nadiem Makarim merubah ini semua? Kita tunggu saja.

"Hallo Pak. Uang bayaran saya sudah saya bayar dengan Gopay ya Pak."

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Theist dan 102 lainnya memberi reputasi
97
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal
13-12-2019 10:50
Quote:Original Posted By Jazed
Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal

Menghafal sesuatu itu kata makjleb yang paling gua sebel kalau nginterview orang... begitu ketauan tu orang mengingat tapi sebenernya pertanyaannya problem solving ya selesai dah tuh orang..

Pengalaman ane sih di NKRI masih dominan orang bermodalkan inget /apal doang, sementara kalau dikasih variabel baru dalam masalah langsung panik.

Setuju banget, orientasi pendidikan harus berbeda dengan sebelumnya , apalagi apal2an.
Biasakan mengetahui problemnya apa dulu (5W 1H) , kemudian ada pertanyaan sehingga solusinya gampang didapet.

Last ini juga penting banget, manusia NKRI ini banyak yang ga bisa kasih pertanyaan, setiap sesi kuliah/kelas, seminar/workshop mungkin hanya 30 persen saja yang bisa nanya...ntah ga biasa atau ga tau masalahnya...

Thanks to Nadiem, Saatnya berubah YUUUUUUUUUUUUUUUUK! emoticon-I Love Indonesia (S)


Contoh pertanyaannya gimana gan?
profile-picture
rizaradri memberi reputasi
1 0
1
profile picture
kaskus addict
13-12-2019 10:59


Spesifiknya sih tergantung materi, tapi kalau sudah keluar dari Pakem 5W 1H (What When Where Who Why dan HOW) ya begitu deh....jadi ga tau kita ini peserta kelas sudah sejauh mana paham dengan materi yang disampaikan....

Hmm tambahin cerita lagi nih pentingnya nanya : ...ada kantor yg keren dan maju....anak2 baru yang masuk itu (entry level bukan MT), tiap hari harus punya pertanyaan, say mereka punya buku khusus untuk sehari2nya dan catet pertanyaan selama waktu kerja, sore /malem mereka tanyakan langsung ke atasannya/supervisornya, Hari pertama 10 pertanyaan, 10 kejawab, Hari kedua 20 pertanyaan , 10 ga kejawab, 10 roll kedepan , jadi next hari ke 3 jadi 20 pertanyaan dst ampe 1 bulan full, dan bulan ke 3 sebelum lulusan probation ya ditest didepan semua orang, ga bisa ya DO emoticon-Big Grin,
Pertanyaan bisa kolektif/per tim atau individu tergantung atasannya punya waktu atau ngga, dan atasan wajib menyiapkan waktu atau SP 1! Jadi misal dia tukang sapu, ya dia harus tau segala hal tentang persapuannya dan lain2 hehe kira2 gitu gan. Begitupun untuk semua karyawan wajib ada buku tulis /media tulis untuk inventarisir semua case/buku kasus setiap divisi/unit dari taun jebot sampai sekarang, jadi inventarisir knowledge-nya kantor itu mumpuni.emoticon-thumbsup
1
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia