Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
89
Lapor Hansip
19-10-2019 10:11

Tolong Katakan I Love You

Love, Choice, and Decision
Canva


BAB 1

SI PEMBUAT ONAR


Kalian pernah salah mengirim pesan dengan menggunakan WA, SMS atau LINE? Jika, iya. Kita sama. Dan, aku baru saja melakukannya. Bukan masalah besar, tetapi efek samping yang ditimbulkan setara dengan gempa bumi berkekuatan 6,7 scala richter. Mungkin aku terlalu lebay. Ya, ini terjadi karena saat itu, aku sedang error.

Aku tak tahu, harus bagaimana lagi, rasanya tak mungkin semua nomor telepon mahasiswa dan mahasiswi yang jumlahnya ratusan itu, ku-save semua. Hanya mereka yang punya label khusus saja yang terpaksa kusimpan. Walaupun telah kupilih-pilih, ternyata human error masih terjadi juga.

Tanpa kusadari ternyata ada dua nama yang sama dalam list nomor-nomor HP yang kusimpan. Niko, itu dia, namanya. Satu berstatus sebagai teman, sedangkan yang satunya mahasiswa 'gaje' yang sedang mencari jati diri.


Awal kejadiannya, bermula dari sini.

Pulang dari kampus, aku langsung menuju ke kamar. Tidak seperti biasanya. Ya, biasanya aku selalu berhenti dulu di meja makan. Melahap apa saja yang ada di situ sambil ngobrol ngalor-ngidul bersama Mama. Tak demikian dengan hari ini. Rasa capek stadium akhir, membuatku ingin segera berbaring di atas kasur. Selain tugas mengajar yang marathon, aku juga harus menyelesaikan pekerjaan di luar di kampus. Ketika sampai rumah, aku ibarat HP yang baterainya tinggal 19%. Warning agar segera di-charge.

Begitu melihat ranjang, bantal, dan guling, mereka seolah melambaikan tangan memanggilku. Setelah menyalahkan AC, aku segera menghempaskan tubuh ke kasur. Dalam kondisi setengah sadar, aku masih sempat melihat Mama membuka pintu kamar yang tak terkunci. Menengok sebentar, kemudian pergi, lagi.

*

Entah berapa lama mataku terpejam. Saat terbuka kembali, jam dinding di kamar sudah menujukkan pukul 17.30 WITA. Artinya sebentar lagi akan magrib. Sebelum Mama, masuk ke dalam kamar, membangunkan aku sambil ceramah a sampai z, meski malas, aku memaksa membuka mata yang sebenarnya masih ingin terpejam.

Nduk, maghrib-maghrib ndak boleh tidur. Kata Mbah kakung, nanti kalau kamu sakit ndak ada obatnya. Ayo bangun! Ora elok. Pamali. Jadi perempuan itu, mbok ya, jangan malas. Nanti kamu ndak laku.

Itulah kira-kira yang akan dikatakan Mama, jika aku masih nekat merem. Mama akan terus berbicara sampai aku bilang 'iyaa atau ashiyaaap, Ma'. Namun, tak apalah, dari pada Mama diam, malah serasa ada sesuatu yang hilang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Masih dengan rasa malas, kuambil benda berukuran 6 inci ber-chasing merah maroon itu dari dalam tas kerja.

Langsung kubuka WA. Itu yang biasa aku lakukan. Setelah itu, baru facebook, IG, dan kemudian aplikasi yang lain. Di tiga tempat, WA, facebook, dan IG itulah baik rekan dosen maupun mahasiswa biasa berekspresi. Life is never flat, begitu kata mereka.

Setelah kubaca, tetapi belum kubalas beberapa pesan WA yang masuk, aku membuka status teman-teman. Salah satu dari mereka ada yang menulis:

HBD for me

Idih. Rasanya ada yang menggelitik. Dan, duh, tiba-tiba terasa ngilu. Aku merasa 'Niko' si pembuat status ini, seperti hidup seorang diri di dunia. Ada rasa geli, tetapi juga kasihan. Entah mengapa aku lebih merasa kasihan. Lebih anehnya lagi, langsung terbayang dalam ingatanku, seorang laki-laki yang sedang sendirian di tepi sungai Kayan. Benar-benar, kasihan. Laki-laki yang pernah kulihat ketika aku dan Mama sedang kondangan ke pulau seberang. Perasaan apa ini? Tanyaku, merasa heran pada diri sendiri. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung kusambut status itu dengan respon:

Happy Birthday Sir, wish you all the best! Ucapan selamatku untuk Pak Niko, lewat WA. Tak lupa kusematkan emoticon kue ulang tahun di belakang ucapanku.

Tak kuduga. Fast response. Dia langsung membalas:

Thank you very much! Honey. Dia akhiri balasannya itu dengan emoticon love, tiga kali.

Mataku langsung terbelalak, melihat kata 'honey' dan tiga emot love balasan dari Pak Niko. OMG! Tekanan darahku, serasa naik. Ya Allah ada apa dengan bapak satu anak, ini? Apa maksudnya? Apakah aku GR? Kurang gaul? Atau tempat bermainku kurang jauh? Pertanyaan demi pertanyaan langsung memberondong kepalaku. Daripada salah kaprah, aku memilih tak membalas.

Belum habis rasa heran-ku dengan pesan WA aneh itu, Mama datang. Menyuruhku buru-buru mandi, salat maghrib lalu memintaku menemaninya kondangan. Meskipun ada Ayah, Mama lebih suka mengajakku kondangan. Dan, sebenarnya aku paling malas menghadiri acara seperti ini.

Sepanjang perjalanan aku masih berpikir. Rasanya kalimat ucapan selamat ultah-ku untuk Pak Niko itu, biasa saja. Normal, tidak berbau PHP, gaje, pornografi apalagi SARA. Salahnya di mana? Rasanya ingin menggaruk kepalaku yang tak gatal. Yang membuat masalah ini semakin aneh, karena Pak Niko terus menerus mengirimiku pesan.

"Nduk, kita ini mau kondangan ke tempat buliknya Ardhi. Pasti ada Mama sama Abahnya Ardhi di sana. Jangan lupa kasih salam. Juga bersikap sopan."

Perkataan Mama, membuyarkan lamunanku.

"Ah, iyaa, Ma," jawabku sekenanya.

Sampai di tempat hajatan, aku masih memikirkan pesan Pak Niko. Rasanya kesal sekali. Bagaimana mungkin teman sekantor berbuat seperti itu. Bagaimana caraku menghadapinya besok pagi.

Usai menemani Mama mengobrol dengan orang-orang yang diharapkan bulan depan akan menjadi keluarga, selama dua jam--di acara sunatan sepupunya Bang Ardhi--akhirnya kami berdua sampai rumah juga. Tubuhku tadi, di tempat hajatan, tetapi pikiranku ke mana-mana. Begitu sampai kamar, karena masih penasaran, kubuka dan baca lagi pesan-pesan WA dari Pak Niko. Rasanya semakin gemas, aku dibuatnya. Setelah kuperhatikan benar-benar, ternyata oh ternyata, itu bukan pesan Pak Niko, dosen. Astaga, rupanya pesan dari Niko--mahasiswa. Si Trouble Maker. Serta merta aku menjambak rambutku sendiri.

OMG!

Mahasiswa si pembuat onar itu terus menerus mengirimiku pesan dengan emoticon 'love'. Mulai dari pesan tak penting, gaje, sampai akhirnya bertanya masalah kuliah yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.

Kesal nggak sih?

Kalau ada mahasiswa yang datang ke kampus tetapi tidak bisa mengikuti kuliah karena pintu sudah ditutup saat telat lebih dari 15 menit, dia-lah orangnya. Mahasiswa yang tak bisa berkerja sama dalam kelompok karena suka-suka gue, itu dia juga. Belum lagi yang hobbi stalking dan nge-hack akun sosmed teman-teman wanita untuk mem-bully, itu juga pasti Niko. Dan, yang datang ke kampus dengan celana jeans robek-robek bagian lutut lalu diusir oleh security, itu juga, tak ada yang lain, selain dia. Celakanya, aku pembimbing akademik dia.

***


"Niko! Tahu kenapa saya panggil?" tanyaku, keesokan harinya. Suaraku sedikit meninggi karena menahan kesal.

"Tahu Ma'am. Maaf Ma'am saya salah...."

Lelaki berperawakan tinggi dan sedikit kurus itu, wajahnya terlihat flat. Sepertinya dia sengaja membuat kesan seperti itu, seolah tanpa dosa. Duh, padahal banyak, ya ampun. Dalam hati aku ingin tertawa. Karena sumpah, dia terlihat sangat aneh. Yang bikin aku kesal, di sela-sela itu, mata elangnya terus berupaya menatapku nakal.

Haks!

Perutku mendadak menjadi kenyang. Benci sekali melihat tatapan sedikit liarnya itu. Uff! Meski demikian aku paling tak berdaya setelah mendengar perkataan 'maaf.' Luntur seketika rasa kesalku.

"Apa yang kamu lakukan meski tak ada hubungannya dengan saya, tapi kita terikat norma. Di mana saya berkewajiban mengingatkan kamu! Bisa dimengerti, 'kan?" sergahku.

"Yes, Ma'am!"

Malas berbicara panjang lebar, aku segera menyuruh Niko pergi dari ruanganku.

***


Setelah Niko menterorku, dengan berbagai pesan di semua sosmed, kini hampir setiap hari selalu ada snack dan makan siang di meja kerjaku. Si tinggi kurus, bergaya casual dan berwajah oriental-lah yang mengirimnya.

Ya Allah, dia bukan tipeku. Ampun! Hari demi hari, rasanya aku semakin benci, padanya. Saking bencinya, sampai terlintas dalam pikiran, jangan-jangan makanan yang dia kirim itu mengandung guna-guna. Meski telah berumur 28 tahun dan lulus pasca sarjana, kadang-kadang aku masih suka berpikir naif. Saking paranoid-nya, semua makanan dari Niko, selalu kubagi-bagi pada siapa saja. Untuk Nesya, Mira dan Andra yang satu ruangan. Kadang-kadang sampai juga ke pos security.

Saat berpapasan dengan Niko di koridor atau tempat parkir kampus, aku selalu menghindar. Pesannya tak pernah kubalas. Ketika harus mengajar di kelas mahasiswa nyleneh itu, sebelumnya kutarik napas dalam-dalam seraya meluruskan niat. Aku sengaja tak mengacuhkan dia.

Ya Allah, tolong! Dosa apakah aku? Ironisnya hanya di kelasku anak bandel itu tak pernah absen. Untuk mata kuliah lain, sebagaimana gaya bad boy itu; dia datang dan pergi sesuka hati.

***


Alhamdulilah. Beberapa hari ini, suasana kampus dan hatiku terasa tenang. Niko seolah ditelan bumi. Apakah aksi boikotku berhasil? Ataukah mungkin dia merasa lelah? Rasanya seperti baru saja terlepas dari jerat tali panjang yang mengikat, melingkar-lingkar di tubuhku dari dada hingga ke perut. Legaa. Jahatkah aku? Dia seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun, sedangkan aku dosennya yang tujuh tahun lebih tua dari dia. Apakah aku telah bersikap kejam pada seorang anak kecil? Jika 'iya' apa yang bisa kulakukan untuknya? Jika bulan depan Mama dan Ayah telah mempersiapkan pernikahanku dengan seorang lelaki yang saat ini sedang merantau nun jauh, di negara timur tengah, sana.

Dua jam kemudian aku masuk ke dalam kelas. Dan, setelah satu jam setengah berdiskusi dengan mahasiswa.

"Okay, thank you very much for your attention. See you next week and have a nice day!"

Aku menutup kelasku. Mata kuliah English 4. Segera kukemasi laptop, projector, dan speaker active yang biasa dan baru saja kupakai.

Tak seperti biasanya, hari itu secepat kilat ruangan kelas menjadi sepi. Hanya tertinggal Niko, Andrew dan Hilmi. Aku merasa, ini seperti telah di-setting sedemikian.

Niko, apa yang tak bisa dia lakukan.

"Hil, tolong bantu bawakan speaker active ini ke ruangan saya, yah. Makasih," pintaku pada Hilmi. Mahasiswa berkulit putih dan berbadan sedikit tambun itu pun, segera melakukan apa yang kukatakan.

Sementara itu, Niko dan Andrew berjalan mendekatiku. Gerak-geriknya terlihat aneh. Mereka seperti saling memberi 'kode'. Perasaanku, tiba-tiba menjadi tak enak. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu padaku. Ya Allah, aku takut.


To be continued

Thank you for reading emoticon-Peluk
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbethix dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Love, Choice, and Decision
15-11-2019 15:07
Love, Choice, and Decision

BAB 6

SEMOGA HARI CEPAT BERLALU

Setelah merasa cukup puas menikmati holiday galau, hari ini aku mencoba bersemangat. Belum setengah jam, kusandarkan punggung pada kursi hitam di belakang meja kerja, terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Sebenarnya aku masih malas diganggu. Namun, apa boleh buat.

"Yah, ada yang bisa saya bantu, Mega?" tanyaku kepada mahasiswi yang baru saja masuk ke dalam ruanganku.

"Maaf, Ma'am mengganggu. Apa kami bisa numpang nge-print undangan di sini?" tanya Mega. Wajahnya terlihat tak yakin dengan apa yang baru saja dia ucapkan, atau mungkin mahasiswi berbadan besar ini merasa sungkan.

"Printer BEM, kenapa?" sahutku.

"Ngadat, Ma'am."

"Kan, ada Niko, yang bisa memperbaiki?"

"Sudah, Ma'am. Tapi blom bisa."

"Okay, jika begitu."

Aku mempersilakan mahasiswi berhijab dengan postur tubuh di atas rata-rata itu, mengambil alih kursi yang sedang kududuki. Sedangkan aku, untuk sementara pindah ke kursi lain, melanjutkan pekerjaanku. Mengoreksi dan merekap nilai UTauditorium, tumpuk-tumpuk.

Mega baru saja memegang keyboard komputer, ketika Hantu Kampus tiba-tiba saja, datang. Walaupun sebelumnya telah mengetuk pintu, tetapi kedatangannya seolah tiba-tiba. Aku pun sedikit terkesiap dibuatnya. Niko pun segera memberi pengarahan ini dan itu pada Mega, layaknya seorang pemimpin. Hmm, sudah kuduga, dia bakal datang ke ruangan ini. Bisa jadi printer mereka juga, tak benar-benar rusak. Ah, mengapa aku berburuk sangka?

"Acaranya kapan?" tanyaku, sambil tetap menulis.

"Hari Jumat ini, Ma'am," jawab Mega, matanya juga tetap tertuju pada layar monitor.

"Ini sudah Selasa. Minimal besok, undangan sudah harus kalian distribusikan. Bukan seperti event yang sudah-sudah. Mbagi undangannya terlalu mepet hari H. Nggak banyak yang hadir, kan?" kataku. Bermaksud sekadar memberi masukan.

"Iya, Ma'am!" jawab mahasiswi berkulit coklat itu penuh semangat.

Mega, gadis penggemar warna biru tua, selalu terlihat seiring sejalan dengan Niko. Meskipun berbusana muslimah, caranya berjalannya yang tegap seakan tak ada bedanya dengan Hantu Kampus. Ditambah wajahnya yang tak pernah mengenal sentuhan make up, seolah mereka satu jenis kelamin. Kadang aku tertawa sendiri saat melihat mereka "bertengkar" mulut. Saling menghina, saling memukul, setelah itu keduanya terbahak-bahak. Kadang Andrew dan Hilmi sengaja menjadi "kompor" agar perkelahian mereka semakin seru. Dasar anak-anak.

Jumat ini, Niko bersama Mega dan genk-nya akan mengadakan event festival film indie. Buatku event ini termasuk langka. Pesertanya berasal dari perwakilan seluruh SMA dan SMK se-kotamadya yang berminat di bidang itu. Juri yang bersedia mereka mintai bantuan, beberapa personal dari TV swasta lokal dan kontributor TV Nasional di daerah. Walaupun tak terjun langsung, biasanya aku selalu mendukung hampir semua kegiatan mahasiswa. Termasuk event-nya Hantu Kampus, tentu saja. Meskipun aku sebenarnya malas.

Setelah entah berapa menit tak menyadari, akhirnya aku merasa ada yang aneh. Tak seperti biasanya, sedari tadi Niko terlihat diam. Rasanya ada yang kurang dan sangat aneh. Mungkin dia sedang dikejar deadline, karena itu terlihat serius atau pura-pura. Saat Niko banyak bersuara, duniaku terasa riuh, bahkan terlalu gaduh. Namun, ketika dia diam, seperti ada yang kurang, seperti ada yang terlepas dari genggaman. Sungguh merepotkan.

***

Sekitar jam 11 WITA, kurang lebih tiga jam semenjak kedatangannya ke dalam ruanganku, Mega berpamitan kembali ke auditorium untuk berkoordinasi dengan panitia yang lain. Begitu Mega meninggalkan ruanganku, tiba-tiba aku merasa canggung. Ya, karena harus berdua saja dengan Niko. Entah hanya sugesti atau karena apa, gerakan tubuhku tiba-tiba serasa terbatas.

"Sweet ... eh Ma'am, bisa pindah ke sebelahku, bentar?" suara Niko membuyarkan apa yang sedang kupikirkan.

"Ngapain? Tolong jangan bikin masalah!" jawabku.

"Kagak!"

"Jadi?"

"Kalau mau tahu ya, sini!" Karena penasaran, aku pun mendekat.

"Let's see this akun!"

Sudah kuduga, pasti dia sedang iseng. Menjadi hacker akun facebook seseorang.

"Bisa nggak, tidak mengganggu orang lain!?" sergahku setelah itu menarik panjang dan napas berat.

"Hmmm, siapa yang ganggu? Come here, please. I need your advice my love--" Niko tak meneruskan perkataannya lalu tersenyum. Sebenarnya seperti ingin tertawa tetapi dia tahan.

Terpaksa kugeser tempat dudukku mendekatinya.

"Oh my God!"

Jantungku serasa akan meloncat. Di inbox akun Diana, terpampang foto-foto kurang pantasnya. Lebih parah lagi ada chat 'ehem' dengan beberapa orang pria.

Astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim. Kupegang dadaku sambil memejamkan mata sejenak. Mahasiswi berhidung mancung, berbulu mata lentik dengan maskara yang tebal dan berambut lurus panjang berwarna cokelat dengan berbagai gaya busana itu memang selalu menarik perhatian. Entah karena cantik atau terlihat 'wow'. Cara berbicaranya yang hangat tanpa sekat pada siapa saja. Mungkin ini melelehkan jantung banyak mahasiswa dan para pria. Ramah dan suka berbagi tanpa pandang bulu. Terutama para pria. Bagi mahasiswa kebanyakan, mungkin yang seperti ini menyenangkan. Apalagi yang berlabel sebagai anak kost. Namun sepertinya tak demikian buat Niko.

"Niko. Please jangan bikin heboh kali ini. Lagian, apa salah Diana sama kamu?"

"Nggak ada, nggak suka aja!" jawab Niko tak acuh.

"Ini menyangkut nama baik kampus, kamu tahu itu, 'kan?" ucapku dengan suara berat.

"Enggak juga. Biasa aja."

"Enggak. Ini nggak biasa."

"Tergantung!" jawab Niko santai.

"Tergantung apa?"

"Tunggu Jumat nanti. Kalau mau nggak ada mahasiswi kejang-kejang, ikuti saja apa kataku. You don't mind, kan? My beautiful lecturer?" ucap Niko dengan wajah sumringah seolah merasa menang.

Dan memang, aku kalah lagi. Aku tak bisa menjawab. Dia memang selalu berhasil memperdayaiku. Meski umur dan pengalaman hidupku, jauh di atas dia.

Kadang aku bertanya, seberapa besar otaknya Niko? Selalu saja ada ide "liciknya". Sampai kapan aku selalu kalah. Satu-satunya jalan untuk men-take down dia, aku harus resign dari kampus. Padahal ini sangat mustahil. Mengingat tanggung jawab yang harus kutunaikan di kampus ini masih menggunung. Sepanjang hari, aku bertanya-tanya pada diri. Apakah ini takdir? Mungkin ....

***


Jumat yang dinanti pun tiba. Selesai salat jumat, hampir seluruh civitas akademika berbondong-bondong menuju auditorium, termasuk aku. Panitia event terlihat telah siap menunggu kedatangan para undangan dan peserta. Aku sedikit terkejut saat menginjakkan kakiku di bibir pintu masuk auditorium. Tak seperti hajatan-hajatan kampus saya yang sudah-sudah. Kali ini serasa lebih maksimal. Backdrop panggung yang cantik dengan perpaduan biru tua sebagai latar dan kuning yang menawan. Perpaduan warna yang kontras tetapi lembut, terkesan menyala dan hidup. Apalagi didukung lighting yang pas. Juga taman-taman mini di sekitar panggung dengan berbagai tanaman dekoratifnya tampak sangat indah.

Barisan kursi VIP dipersiapkan untuk tamu undangan khusus, direktur, dosen, dan sebagian staf. Aku segera mengambil salah satu tempat duduk di sana. Bersebelahan dengan Nesya. Tak jauh dari kami, meja juri di sebelah kanan panggung telah diisi beberapa orang. Agak jauh di seberang tempat dudukku, sederet tropi dan hadiah telah siap menanti untuk dibagi. Sepertinya event ini benar-benar serius.

Sambil menunggu para peserta dan tamu-tamu lain yang masih terus berdatangan, aku mengobrol bersama Nesya. Staf keuangan ini sibuk menceritakan sekolah-sekolah mana saja yang menurutnya berpotensi menjadi juara. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan apa yang dia katakan. Dalam hal ini, aku sama sekali tak tahu menahu tentang yang demikian.

Entah berapa lama kami tenggelam dalam obrolan yang berasa hangat dan seru, tahu-tahu acara pun dimulai. Nesya pun berhenti berbicara. Pandangan matanya dan juga mataku langsung lurus ke arah panggung. Sebagai pembukaan, mereka menampilkan tari Enggang, ditarikan oleh beberapa mahasiswi. Meskipun tari ini, tarian suku Dayak Kenyah, tetapi mahasiswi dari suku-suku lain yang ada di kampus biasa menarikannya. Termasuk aku. Bagiku menarikkan tarian ini sungguh challenge. Seseorang harus membuat gerakan tubuhnya sedemikian lentur dan luwes. Walaupun terlihat cantik, tetapi setiap melihat hiasan di atas kepala bermotif Enggang dan bulu-bulu yang dibawa para penari, aku selalu berpikir burung Enggang itu seperti apa aslinya? Sebesar apa? Terancam punah atau tidak? Ah, tak mau terganggu pikiranku yang melantur ke mana-mana. Aku meluruskan niat. Mataku menatap seksama ke arah para penari tetapi pikiranku tetap berkelana. Sampai Nesya menepuk pahaku dan berkata, "Ma'am, lihatlah. Dara keliatan cantik sekali, yah." Suara Nesya menetralisir apa yang sedang kupikirkan.

"Ah, iya, kamu benar sekali Nes," jawabku sekenanya.

Bagiku Dara, Mega, Silvia, dan Vika yang saat ini sedang menari, Mega lah yang terlihat istimewa bagiku. Dara sehari-hari memang sudah cantik, walaupun pendapat Nesya benar. Berbeda dengan Mega, si tomboy yang bisa terlihat wanita setelah di-makeover. Aku tertawa tetapi berusaha kutahan.

Para penari terus berlenggak-lenggok mengikuti dan menyesuaikan dengan irama musik. Musik yang dihasilkan dari alat musik tradisional, khas Dayak. Sampe, gendang, dan gong. Mendengar alunan suara yang bagiku sangat Kalimantan yang berpadu dengan gerakan tubuh para penari yang begitu moleknya membuatku merinding. Betapa sangat kental nuansa tradisionalnya. Rasa haru dan bangga serasa memenuhi ruang-ruang di dadaku. Mereka yang muda tetap peduli pada salah satu budaya bangsa.

Acara berlanjut ke pembacaan doa, setelah itu beberapa sambutan, lalu ke inti. Pemutaran film indie produksi anak-anak SLTA satu per satu. Masing-masing film berdurasi sepuluh menit. Walaupun acting dalam film-film yang ditampilkan masih terlihat kaku, bagi pemula, menurutku sudah sangat bagus. Sampai di sini aku merasa sok tahu.
Aku tertawa sendiri.

Setelah empat film diputar acara diselingi pementasan theater. Ini bagian yang sangat menarik, selain tarian. Lagi-lagi mataku langsung tertuju dengan seksama pada mereka. Para pemain. Mereka yang menampilkan ekspresi, lekuk tubuh dan dialogue yang sanggup membuat bulu-bulu di tubuhku berdiri. Merinding. Perlahan-lahan air mataku pun merembes lalu mengalir membasahi pipi. Rasa haru dan kagum sepertinya telah sedemikian rupa "mempermainkan" rasaku. Emosiku.

Kereeen. Tak henti-hentinya aku mengucapkan kata itu dalam hati. Sampai akhirnya aku menyadari, kisah yang mereka mainkan, ternyata menceritakan tentang aku dan Niko.

Ada saja idenya anak ini. Jadi ini maksud dia memaksaku datang ke acara ini? Rasanya sungguh 'uhh', kesal dan malu. Sebenarnya aku ingin meninggalkan tempat acara, begitu menyadari jalan cerita yang sedang mereka pentaskan di panggung, tetapi kuurungkan. Selain karena Niko memberiku 'kode' agar aku segera kembali ke tempat duduk. Nesya juga bertanya mengapa aku tiba-tiba berdiri. Jika bukan demi menghindari besok pagi akan terjadi "gempa bumi" karena kasus Diana, pasti aku sudah mengambil langkah seribu. Terpaksa aku menurut.

"Nasib...," gumamku.

Acara terus berlanjut dan berjalan sebagaimana run down yang telah mereka susun.

Sampailah di pengujung. Aku sedikit bernapas lega. Penderitaanku akan segera berakhir, pikirku. Namun ternyata, sebagai sajian penutupan, Hantu Kampus akan tampil dengan solo gitarnya. Firasatku mengatakan ada hal buruk akan terjadi. Duh, tiba-tiba ada yang terasa gatal di tubuhku, tetapi tak tahu di sebelah mana. Ingin menggaruk, tetapi bingung di bagian yang mana. Aku terpaksa memasang muka, pura-pura bloon. Untung Nesya tak terlalu menyadari apa yang sedang kurasakan. Sungguh rasanya tak sanggup melihat penampilan "gaje" di atas panggung sana, tetapi sekali lagi ... aku takut. Feelingku tentang hal buruk akan segera terjadi semakin menguat.

Setelah intro yang mengalun pelan dan merdu dari gitar akustik beberapa saat, terdengarlah suara seseorang ....

Wise men say,
Orang bijak mengatakan,

Only fools rush in.
Hanya orang bodoh yang terburu-buru.

But I can't help falling in love with you.
Tapi aku tidak bisa mengendalikan dalam hal jatuh cinta padamu.

Suara bariton-nya Hantu Kampus pun mengalun pelan. Seolah memenuhi seluruh auditorium yang ukurannya lumayan luas. Cukup berkarakter dengan ciri khas sedikit seraknya.

Busyeeet! Matanya terus tertuju padaku. Sementara bibirnya, tak henti-henti melebar, mengumbar senyuman. Senyum bahagia dan kemenangan. Aku tak tahu harus tertawa, terharu atau malu. Yang pasti aku merasa perbuatan ini sangat norak. Dia yang milenial mengapa bisa menyanyikan lagu zaman dulu? Ah, peduli apa.

Shall I stay?
Haruskah aku diam saja?

Would it be a sin?
Akankah ini menjadi sebuah dosa?

If I can't help falling in love with you.
Jika aku tidak bisa mengendalikan dalam hal jatuh cinta padamu.

Petikan gitar dan nyanyian Niko terus mengalun. Setiap mengucapkan kalimat 'If I can't help falling in love with you'
mata Niko menatapku, tajam. Seolah lirik lagu itu dia tujukan padaku dari dasar hatinya yang dalam.

Sesungguhnya aku merasa kasihan. Perasaan hampa, tiba-tiba saja serasa menyelinap ke dalam dadaku. Namun, aku tak bisa berbagai apa-apa. Lagi-lagi pertanyaan untuk diriku sendiri, 'aku bisa apa?' Hanya pertanyaan itu yang bisa dan sering kutanyakan pada diri sendiri.

Like a river flows,
Seperti sebuah aliran sungai,

Surely to the sea.
Yang pastinya (tetap akan) menuju laut.

Darling, so it goes,
Sayang, begitulah ini,

Some things are meant to be.
Beberapa hal memang sudah ditakdirkan terjadi.

Take my hand,
Genggam tanganku,

Take my whole life too.
Genggam juga seluruh hidupku.

For I can't help falling in love with you.
Karena aku tidak bisa mengendalikan dalam hal jatuh cinta padamu.

Begitulah, terlihat dengan penuh perasaan Niko menyelesaikan lagunya dengan penuh percaya diri.

Aku menarik napas panjang. Akhirnya selesai juga. Tangan dan kakiku yang sedari tadi dingin, perlahan-lahan mulai menghangat. Namun, dadaku masih terasa sesak seolah menahan sesuatu.

Pun demikian, aku tetap berpikir yang dilakukan Niko itu sangat norak dan memalukan. Dari sisi sebelah mana pun, aku berusaha memikirkannya. Aku benar-benar ingin segera keluar dari ruangan berkapasitas 200 orang itu, sebelum acara itu benar-benar selesai. Namun ... aku hanyalah seorang tawanan. Suka tidak suka aku memutuskan tetap bertahan. Untuk sementara kuputuskan urat malu-ku. Beruntung tamu-tamu penting telah meninggalkan tempat.

Ternyata kejutan masih berlanjut. Jika yang sebelumnya mungkin hanya orang tertentu yang mengetahui, yang ini sebaliknya. Jantungku serasa benar-benar akan berhenti berdetak, saat MC memanggil namaku untuk menerima bucket bunga mawar merah dari Niko. Meski sempat speechless aku berusaha tetap tenang.

Ini di tempat umum, Dilara. Kalimat itu seolah terus terngiang di kepalaku. Jika bisa melihat wajahku di cermin, mungkin aku terlihat pucat.

Suara riuh tepuk tangan pun begitu bergemuruh, rasanya seperti menusuki jantungku. Serasa sempurna perbuatan norak Niko. Perbuatan mana yang lebih lebay dari ini? Ya Allah, mau ditaruh mana wajahku?

***


Aku berharap agar hari cepat dan segera berlalu. Segera berganti dengan Sabtu, hari di mana aku akan segera menjemput seorang pangeran cinta versi Ayah, yang akan dari Qatar, besok.

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan InaSendry memberi reputasi
2 0
2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
he-is-my-beloved-stepbro
Stories from the Heart
pamer-calon-bojo
Stories from the Heart
partitur-partitur-sri
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
relakan-aku
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia