Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
218
Lapor Hansip
12-11-2019 16:54

Cinta Sepekan

Cinta Sepekan
Image: ganet

Quote:kutatap foto dua wajah polos anak kecil itu, dengan perasaan bercampur aduk, aku hanya bisa memandangi. akhirnya kita belum berjodoh, walaupun hanya sepekan tapi tak bisa bohong bahwa hati ini sudah kuberikan kepadanya


****


Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan

"Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau berkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."

Seketika mataku terbelalak memandangi layar ponsel, rasa curiga bercampur aduk langsung saja aku menghampiri mbk iparku yang masih asyik memasak sambil mendendangkan lagu dangdut dibarengi tarian yang entah dia ciptakan sendiri atau justru plagiat tapi gagal total. pokoknya yang ada melihat atraksi komedi bukan melihat diva sedang menyanyi.

"mbk Imah... ini pasti ulah mbk Imah" sambil menyodorkan ponsel yang kubawa tadi

"Apa sih nduk?" matanya menyipit melihat dengan seksama ponselku.

"Alhamdulillah akhirnya usaha mbk gak sia-sia ada yang mau ngajakin kamu serius itu nduk, udah cepetan dibalas, jangan kelamaan, nanti keduluan yang lainnya, mbk udah gak sabar dapat adik ipar ini. Kamu udah kelamaan menjomblo umurmu udah pangkat 3 lho".

"Jadi, beneran ini ulah mbk Imah? Mbk...." belum sempat aku bicara mbk Fatimah udah memotong pembicaraanku.

"Nduk kali ini dengarkan mbk!" Wajah serius mbk Fatimah yang jarang aku lihat selama ini

"Nduk apa salahnya dicoba dulu, kenalan kan belum tentu langsung suruh menikah hari ini juga to, kalo gak cocok juga bisa mundur, siapa tahu ini memang jodoh yang dikirim Allah buat kamu, tentang statusnya duda atau perjaka itu gak masalah yang penting pertama agamanya". Jelas mbk Fatimah, aku lalu dia. Tanpa kata apapun aku melangkah gontai menuju kamarku.

Kupandangi chat dari nomor tak bernama itu, dalam hati berkata "Zahir, okeylah aku akan coba mengenalnya." Aku mengikuti saran mbk Imah.

Ku balas chat itu "Wa'alaikumsalam, maaf saya lama balesnya jujur saya terkejut mendapat chat darimu. Kalau memang berkenan silakan berkenalan dulu tak apa-apa. Tujuanku juga serius mencari pendamping hidup". Isi chat tersebut sangat kaku.

Selang beberapa detik ponsel berbunyi, dia membalasnya lagi "Terimakasih, boleh saya telpon kamu?"

Aku berfikir agak lama akhirnya kumengiyakan. Tak lama ponsel berdering tanda panggilan masuk. Rasa gemetar tanganku meraih ponsel.

"Assalamualaikum, ini Ranum ya?." Suara serak dan sedikit berat terdengar merdu membawaku pada lamunan

"Wa....wa'alaikumsalam, iya benar, kamu eh gmn aku panggilnya?"

"Panggil Zahir biar lebih akrab, lagian kita kayaknya masih sebaya, umurku 28 tahun, kamu?"

"Apa? Aku, em...aku sudah 31 tahun." Aku agak malu menyebutkan umur karena usiaku dibilang sudah kadaluwarsa.

"Oh jadi kita selisih 3 tahun ya?"

"Iya, tapi aku lebih tua dari kamu? bagaimana?"

"Gak masalah buatku, yang penting mau aku ajak ibadah dan dalam hal kebaikan"


Lama kami terdiam saling menunggu satu sama lain membuka obrolan lagi, tapi tetap saja hening. Lalu dia kemudian mulai berbicara lagi

"Ranum, aku orang to the point aja ya, niat aku serius sama kamu, aku tidak mau pacaran aku maunya langsung menikah aja."

"Apa?"aku agak gugup karena Zahir tidak suka basa basi

" tapi apa kamu sudah yakin memilih aku, kamu kan belum kenal aku seperti apa?"

"Inshaa Allah aku yakin, jadi kamu siapnya kapan nanti aku akan ketempatmu untuk melamarmu."

" Tapi, kamukan belum tahu tentangku, misalnya saja biodataku."

"Aku sudah tahu kok, kan sudah dapat bio datamu, nama,alamat, nama ayah, cita citamu, semua aku tahu dari biro jodoh online"

"hah??" Aku kaget seingatku aku tidak pernah mengikuti ajang biro jodoh, aku berpikir keras jangan-jangan waktu itu, yah aku ingat waktu itu mbk Imah memintaku menulis biodata selengkap-lengkapnya alasannya untuk mencarikanku pekerjaan, oh ternyata mbk Imah dibalik semua ini.

"Halo, kamu masih dengar suara aku?"

"Iiya...ya aku dengar kok!"

"Ya sudah nanti disambung lagi, aku mau tugas dulu."

"Tunggu sebentar!, aku mau tanya kamu duda karena bercerai atau istri meninggal?"

"Istri aku meninggal waktu melahirkan si kembar, oh ya aku kirim foto anak-anakku ya."

Aku memandangi ponsel ku buka chat di wa, aku menerima foto anak kecil mungil dengan bola mata bulat, cantik sekali.

"Ya aku udah lihat anak-anak, anak-anak sekarang sama siapa kalau kamu kerja?"

"kalau aku kerja sama pengasuhnya, okey udah dulu ya nanti disambung lagi, assalamualaikum."
Ia mengakiri salam dan aku membalas salam itu seketika itu tlp mati. Aku masih terpaku sambil menggenggam ponselku.

Ke esokan harinya, pagi-pagi aku sudah mendapat wa darinya , "assalamualaikum, kamu lagi ngapain?".

Entah kenapa hati ini mulai berdebar membaca pesan itu, lalu kubalasnya.

****


Selama empat hari berurut-turut, kami hanya ngobrol lewat pesan saja. Tapi itu sudah cukup membuat aku bahagia, dan aku sudah mulai menyukainya. Ya...aku sudah jatuh cinta.

Hari kelima, aku memandangi ponsel berharap dapat pesan darinya, tapi tidak. Rasa kangen mulai muncul dengan tiba-tiba. Tapi tetap saja aku tidak berani menulis pesan terlebih dahulu.

Hari keenam, aku bercerita kepada mbk iImah tentang Zahir dan sejauh mana kami merencanakan pernikahan yang dibilang dadakan. Belum bertemu, aku sudah mantap, yang kutahu hanya namanya dan nama kedua anaknya selebihnya aku tidak tahu apapun.

Mbak imah menyarankan. aku untuk bicara ke Bapak, tapi sebelm itu mbk Imah memintaku untuk menanyakan identitasnya lengkap karena hanya itu yang bisa mdnjadi gambaran dan acuan.

Hari ketujuh, sudah dua hari kami tidak komunikasi, akhirnya aku memberanikan diri untuk langsung meneleponnya. Panghilan siara aktif telepon berdering namun tiba tiba panggilan ditolak. Aku penasaran aku ulangi panggilan telpon lagi. Tapi tetap saja ditolak.

Aku mulai khawatir selang beberapa detik wa darinya

"Hmm"

"Kamu lagi ngapain, kok telponku gak diangkat?"

" Aku lagi nyantai, wa aja ya, aku lagi gak pengen terima telpon"

"Lho kenapa, aku mau bicara kan lebih enak bicara langsung dari pada nulis pesan."


Ada perasaan aneh yang aku pun tidak bisa menggambarkannya. Aku mulai tidak yakin bahwa Zahir ini bener-benar serius.

"Oh ya anak-anak mana?" Ku mulai menanyakan anaknya lewat chat

"Dah tidur"

"Fotoin ya, aku mau lihat mereka"

"Ah ribet."


"Lho kok gitu, aku hanya minta foto, aku pengen lihat, aku memang suka sama anak-anak. Ayolah fotoin, oh ya mana biodata kamu? Kok gak kamu kasih sih?" bujukku

" kamu ini belum menikah sudah minta ini itu."

"Apa?" Aku terkejut dengan balasanya itu.
"Lho aku minta apa to? Kan katanya kamu serius sama aku, aku cuma minta biodata dan fotoin anakmu. Kok kamu bilangnya begitu,

"Akhir bulan ini kan aku ketempatmu nanti tahu sendiri to."


"Lho ya gak gitulah, aku kan belum bilang sama bapakku, makanya aku minta biodata sama kamu, la terus apa yang harus kuceritakan sama bpk, aku aja hanya kenal namamu tak lebih dari itu."

"kamu itu ribet ya"

"okey kalau emang kamu gak mau kasih data ke aku, aku tak mundur aja dari perkenalan kita, apalagi kamu bilang aku suka minta hal-hal yang aneh, menurutku itu wajar lho. Aku malah ada kesan curiga sama kamu."

" Jadi kamu mundur berarti selama ini modusin aku, kamu php aku ya?."

"Mana ada aku serius kok, justru aku itu ragu sama kamu".

" ya udah gak usah wa aku lagi, bye...".


Seketika nomorku sudah diblokir, dan aku mencoba menulis pesan terakhir entah itu terkirim atau tidak

" aku minta maaf, selama ini aku percaya sama kamu, sudah kugantungkan harapan kepadamu, dan ada ruang kosong yang aku khususkan untuk kau tempati di hatiku, tapi seketika kamu telah menghancurkannya. Biarlah Allah nanti yang menjelaskan bahwa selama ini aku tidak penah mempermainkanmu, wakaupun cuma sepekan tapi tetap saja kamu punya tempat terindah disini wassalamu'aikum".


Lanjut
Part2-Bukan Cinta Sepekan

Part 3-Gelisah

Part 4- Gejolak

Part 5 Maaf

Part 6 Chef Al bag. 1

Part 7 Chef Al Bag. 2

Part 8 Chef Al Bag. 3

Part 9 Tulisan di Bangku Sekolah

Part 10 Lamaran

Part 11 Keputusan

Part 12 Lelah

Part 13 Jodoh Pilihan Bapak

Part 14 Rasa

Part 15 Seluruh Cinta

Part 16 Bahtera Bag.1

Part 17 Bahtera bag 2

Part 18 Bahtera bag.3
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nofivinovie dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Cinta Sepekan
15-11-2019 02:52

Part 6 Chef Al Bag.1

Aku sudah berada didepan meja resepsionis, dari belakang ada yang menepuk pundakku. Lalu aku menoleh.

“Hai, kamu Ranum ya?” sapa seorang gadis dengan tinggi badan 160 cm, berkulit putih bermata sipit, dan yang paling menarik mempunyai lesung pipit sebelah kanan, cantik sekali.

Aku masih saja bengong sebab aku belum mengenalnya.

“Eh, iya hampir lupa, kamu kan belum kenal aku, aku April temen sekamarmu,” sambil mengulurkan tangan dan tersenyum padaku.

Aku menyambut uluran tangannya, kami berbincang-bincang sambil menuju ke kamar.

“Lho mana barang bawaanmu, Pril?” tanyaku heran karena dia hanya membawa tas slempang tanpa ada koper atau tas besar.

“Rumahku deket kok, jadi, aku malas bawa baju ganti,” ucap April sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.

Aku melihat sekeliling sudut kamar hotel, mengenali tempat yang baru pertama kali aku singgahi. Pemilihan furniture simple tapi elegant. Pokonya buat aku hotel ini bersih, nyaman dan rapi.

“Hotelnya bagus ya, Pril, apa aku bisa tidur ya? ditempat yang sebagus ini,” kataku dengan polos.

April tersenyum, lagi-lagi senyum April manis sekali.

“Ini belum seberapa bagusnya, kamu nanti akan terpesona sama kepala chefnya,” ucap April sembari bangun mendekatiku dan memandang mataku dengan tajam. Aku mengerutkan kening pertanda belum paham maksud April.

***

Aku, April dan 8 peserta lain berkumpul di ruang meeting, ruang itu memiliki meja panjang berbentuk U. Di atas meja, disediakan laptop untuk setiap peserta.
Seminar ini memang tidak banyak pesertanya. Karena hanya dipilih 10 orang secara acak mewakili provinsi masing-masing.

Di meja depan kami telah berdiri tutor dan penyelenggara seminar. Mereka berkenalan.

“Ranum, lihat yang pakai jacket chef itu, ganteng gak?” sambil menggoyangkan badanku.

Aku mengarahkan pandangan mataku ke seseorang yang duduk paling pojok. Tidak dipungkiri memang tampan. Dari poster tubuhnya yang ideal nampak dia sangat menyukai olahraga. Pantas saja April selalu membicarakannya. Mungkin dia suka dengan laki-laki tersebut.

“Gimana, ganteng kan?” April mengulangi pertanyaannya.

“Iya, memang ganteng,” jawabku polos.

“Kamu nanti pasti meleleh kalo udah liat dia masak, beuh ... pokoknya, ”April terus nyerocos membanggakan chef yang aku tidak tau namanya itu.

Tiba giliran si Master Chefnya yang kenalan.
Ia mulai berkenalan dengan memberi salam, menyebutkan namanya Ruroluni Al-Ghazali, susah bener namanya disebutin. Yang jelas nama panggilannya adalah Al. Ia yang mengepalai resto di hotel tersebut, jadi, selama sepekan ini dialah yang akan menghidangkan makanan untuk para peserta seminar.

Setelah semua pihak penyelenggara berkenalan, tibalah kami pada materi pertama. Semua peserta serius mendengarkan.

***

“Ranum, ikut aku yuk!” ajak April, dan dengan sigap langsung menggandeng tanganku.

“Eh ... tunggu, mau kemana kita?” tanyaku penasaran.

“Udah ikut aja deh, nanti tahu sendiri,”
Aku menuruti ajakan April yang sebenarnya itu memaksa banget.

Tiba kami di depan pintu bertuliskan Kichen Room II dan dibawahnya ada tulisan Selain karyawan dilarang masuk.

“Pril tunggu, kita kan buka karyawan, itu ada peringatannya,” Aku menunjukkan tulisan yang menempel di pintu.

“Udah ikut aja, percaya deh sama aku,” Kata April mengabaikan peringatanku.

“”Gak, ah, aku takut ketahuan, Pril, ayok balik lagi ke kamar aja,” Aku menolak ajakan April.

April tetap tidak menggubris omonganku, dia membuka pintu tersebut. Kemungkinan langsung menarik tanganku dengan tiba-tiba.

Kami telah berada di ruangan yang disebut dengan dapur. Ya dapurnya para chef yang kayak di televisi. Ada kompor yang berjajar dan berhadapan, didepannya ada rak untuk menaruh berbagai friying pan, yang biasa aku sebut wajan teflon.

Aku melihat perabotan yang ada di dapur tersebut. Aku tertuju pada satu set pisau, yang ukurannya berbeda-beda, karena penasaran aku mencabut satu pisau dari tempatnya, pisaunya kecil tapi berat untuk ukuran pisau dapur, aku mengamatinya dengan seksama.

“Ini pasti tajam banget ya, kalo buat motong daging, beda sama pisau yang di rumah,” Gumaku dalam hati.

Aku pun sempat membayangkan mengiris daging dengan pisau tersebut. Aku masih terpesona dengan pisau yang ada digenggamanku, masih saja aku perhatikan detailnya. Ternyata ada sebuah ukiran nama pada pisau tersebut, “Al” nama yang tidak asing.

Aku lalu memanggil April yang dari tadi mengotak-atik kompor.

“Pril, ini punyanya chef yang tadi di ruang meeting itu kah?” tanyaku kepada April sambil mengacungkan pisau yang aku pegang.

“Oh, iya, itu barang kesayangannya, diibaratkan seperti nyawanya,” April menjelaskan.

“Oh, gitu ya ...” sambil ku pandangi kembali pisau tersebut.

“Kok kamu tahu banyak sih tentang Chef Al?” tanyaku penasaran.

“Udah, nanti kamu tau sendiri kok jawabannya,” ucap April masih sambil menotak-atik kompor, dan kelihatannya dia ingin menyalakannya tapi tidak bisa.

Kami dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka.

“cekreeekkkkk.....” pintu dibuka.

Aku dan April kaget, sehingga pisau yang tadinya aku pegang jatuh ke lantai, untung saja tidak mengenai kakiku.

Sosok laki-laki dengan perawakan tinggi sudah berada didepanku. Seketika jantungku seperti copot, nafas seperti berhenti, badanku bergetar, rasa takut melebihi ketemu sama hantu, ini nyata ketemu sama orang namanya tertulis pada pisau tadi.

Bersambung

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
cinta-di-dinding-biru
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
secangkir-kopi
B-Log Personal
indahnya-kebersamaan
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia