Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
222
Lapor Hansip
12-11-2019 16:54

Cinta Sepekan

Cinta Sepekan
Image: ganet

Quote:kutatap foto dua wajah polos anak kecil itu, dengan perasaan bercampur aduk, aku hanya bisa memandangi. akhirnya kita belum berjodoh, walaupun hanya sepekan tapi tak bisa bohong bahwa hati ini sudah kuberikan kepadanya


****


Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan

"Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau berkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."

Seketika mataku terbelalak memandangi layar ponsel, rasa curiga bercampur aduk langsung saja aku menghampiri mbk iparku yang masih asyik memasak sambil mendendangkan lagu dangdut dibarengi tarian yang entah dia ciptakan sendiri atau justru plagiat tapi gagal total. pokoknya yang ada melihat atraksi komedi bukan melihat diva sedang menyanyi.

"mbk Imah... ini pasti ulah mbk Imah" sambil menyodorkan ponsel yang kubawa tadi

"Apa sih nduk?" matanya menyipit melihat dengan seksama ponselku.

"Alhamdulillah akhirnya usaha mbk gak sia-sia ada yang mau ngajakin kamu serius itu nduk, udah cepetan dibalas, jangan kelamaan, nanti keduluan yang lainnya, mbk udah gak sabar dapat adik ipar ini. Kamu udah kelamaan menjomblo umurmu udah pangkat 3 lho".

"Jadi, beneran ini ulah mbk Imah? Mbk...." belum sempat aku bicara mbk Fatimah udah memotong pembicaraanku.

"Nduk kali ini dengarkan mbk!" Wajah serius mbk Fatimah yang jarang aku lihat selama ini

"Nduk apa salahnya dicoba dulu, kenalan kan belum tentu langsung suruh menikah hari ini juga to, kalo gak cocok juga bisa mundur, siapa tahu ini memang jodoh yang dikirim Allah buat kamu, tentang statusnya duda atau perjaka itu gak masalah yang penting pertama agamanya". Jelas mbk Fatimah, aku lalu dia. Tanpa kata apapun aku melangkah gontai menuju kamarku.

Kupandangi chat dari nomor tak bernama itu, dalam hati berkata "Zahir, okeylah aku akan coba mengenalnya." Aku mengikuti saran mbk Imah.

Ku balas chat itu "Wa'alaikumsalam, maaf saya lama balesnya jujur saya terkejut mendapat chat darimu. Kalau memang berkenan silakan berkenalan dulu tak apa-apa. Tujuanku juga serius mencari pendamping hidup". Isi chat tersebut sangat kaku.

Selang beberapa detik ponsel berbunyi, dia membalasnya lagi "Terimakasih, boleh saya telpon kamu?"

Aku berfikir agak lama akhirnya kumengiyakan. Tak lama ponsel berdering tanda panggilan masuk. Rasa gemetar tanganku meraih ponsel.

"Assalamualaikum, ini Ranum ya?." Suara serak dan sedikit berat terdengar merdu membawaku pada lamunan

"Wa....wa'alaikumsalam, iya benar, kamu eh gmn aku panggilnya?"

"Panggil Zahir biar lebih akrab, lagian kita kayaknya masih sebaya, umurku 28 tahun, kamu?"

"Apa? Aku, em...aku sudah 31 tahun." Aku agak malu menyebutkan umur karena usiaku dibilang sudah kadaluwarsa.

"Oh jadi kita selisih 3 tahun ya?"

"Iya, tapi aku lebih tua dari kamu? bagaimana?"

"Gak masalah buatku, yang penting mau aku ajak ibadah dan dalam hal kebaikan"


Lama kami terdiam saling menunggu satu sama lain membuka obrolan lagi, tapi tetap saja hening. Lalu dia kemudian mulai berbicara lagi

"Ranum, aku orang to the point aja ya, niat aku serius sama kamu, aku tidak mau pacaran aku maunya langsung menikah aja."

"Apa?"aku agak gugup karena Zahir tidak suka basa basi

" tapi apa kamu sudah yakin memilih aku, kamu kan belum kenal aku seperti apa?"

"Inshaa Allah aku yakin, jadi kamu siapnya kapan nanti aku akan ketempatmu untuk melamarmu."

" Tapi, kamukan belum tahu tentangku, misalnya saja biodataku."

"Aku sudah tahu kok, kan sudah dapat bio datamu, nama,alamat, nama ayah, cita citamu, semua aku tahu dari biro jodoh online"

"hah??" Aku kaget seingatku aku tidak pernah mengikuti ajang biro jodoh, aku berpikir keras jangan-jangan waktu itu, yah aku ingat waktu itu mbk Imah memintaku menulis biodata selengkap-lengkapnya alasannya untuk mencarikanku pekerjaan, oh ternyata mbk Imah dibalik semua ini.

"Halo, kamu masih dengar suara aku?"

"Iiya...ya aku dengar kok!"

"Ya sudah nanti disambung lagi, aku mau tugas dulu."

"Tunggu sebentar!, aku mau tanya kamu duda karena bercerai atau istri meninggal?"

"Istri aku meninggal waktu melahirkan si kembar, oh ya aku kirim foto anak-anakku ya."

Aku memandangi ponsel ku buka chat di wa, aku menerima foto anak kecil mungil dengan bola mata bulat, cantik sekali.

"Ya aku udah lihat anak-anak, anak-anak sekarang sama siapa kalau kamu kerja?"

"kalau aku kerja sama pengasuhnya, okey udah dulu ya nanti disambung lagi, assalamualaikum."
Ia mengakiri salam dan aku membalas salam itu seketika itu tlp mati. Aku masih terpaku sambil menggenggam ponselku.

Ke esokan harinya, pagi-pagi aku sudah mendapat wa darinya , "assalamualaikum, kamu lagi ngapain?".

Entah kenapa hati ini mulai berdebar membaca pesan itu, lalu kubalasnya.

****


Selama empat hari berurut-turut, kami hanya ngobrol lewat pesan saja. Tapi itu sudah cukup membuat aku bahagia, dan aku sudah mulai menyukainya. Ya...aku sudah jatuh cinta.

Hari kelima, aku memandangi ponsel berharap dapat pesan darinya, tapi tidak. Rasa kangen mulai muncul dengan tiba-tiba. Tapi tetap saja aku tidak berani menulis pesan terlebih dahulu.

Hari keenam, aku bercerita kepada mbk iImah tentang Zahir dan sejauh mana kami merencanakan pernikahan yang dibilang dadakan. Belum bertemu, aku sudah mantap, yang kutahu hanya namanya dan nama kedua anaknya selebihnya aku tidak tahu apapun.

Mbak imah menyarankan. aku untuk bicara ke Bapak, tapi sebelm itu mbk Imah memintaku untuk menanyakan identitasnya lengkap karena hanya itu yang bisa mdnjadi gambaran dan acuan.

Hari ketujuh, sudah dua hari kami tidak komunikasi, akhirnya aku memberanikan diri untuk langsung meneleponnya. Panghilan siara aktif telepon berdering namun tiba tiba panggilan ditolak. Aku penasaran aku ulangi panggilan telpon lagi. Tapi tetap saja ditolak.

Aku mulai khawatir selang beberapa detik wa darinya

"Hmm"

"Kamu lagi ngapain, kok telponku gak diangkat?"

" Aku lagi nyantai, wa aja ya, aku lagi gak pengen terima telpon"

"Lho kenapa, aku mau bicara kan lebih enak bicara langsung dari pada nulis pesan."


Ada perasaan aneh yang aku pun tidak bisa menggambarkannya. Aku mulai tidak yakin bahwa Zahir ini bener-benar serius.

"Oh ya anak-anak mana?" Ku mulai menanyakan anaknya lewat chat

"Dah tidur"

"Fotoin ya, aku mau lihat mereka"

"Ah ribet."


"Lho kok gitu, aku hanya minta foto, aku pengen lihat, aku memang suka sama anak-anak. Ayolah fotoin, oh ya mana biodata kamu? Kok gak kamu kasih sih?" bujukku

" kamu ini belum menikah sudah minta ini itu."

"Apa?" Aku terkejut dengan balasanya itu.
"Lho aku minta apa to? Kan katanya kamu serius sama aku, aku cuma minta biodata dan fotoin anakmu. Kok kamu bilangnya begitu,

"Akhir bulan ini kan aku ketempatmu nanti tahu sendiri to."


"Lho ya gak gitulah, aku kan belum bilang sama bapakku, makanya aku minta biodata sama kamu, la terus apa yang harus kuceritakan sama bpk, aku aja hanya kenal namamu tak lebih dari itu."

"kamu itu ribet ya"

"okey kalau emang kamu gak mau kasih data ke aku, aku tak mundur aja dari perkenalan kita, apalagi kamu bilang aku suka minta hal-hal yang aneh, menurutku itu wajar lho. Aku malah ada kesan curiga sama kamu."

" Jadi kamu mundur berarti selama ini modusin aku, kamu php aku ya?."

"Mana ada aku serius kok, justru aku itu ragu sama kamu".

" ya udah gak usah wa aku lagi, bye...".


Seketika nomorku sudah diblokir, dan aku mencoba menulis pesan terakhir entah itu terkirim atau tidak

" aku minta maaf, selama ini aku percaya sama kamu, sudah kugantungkan harapan kepadamu, dan ada ruang kosong yang aku khususkan untuk kau tempati di hatiku, tapi seketika kamu telah menghancurkannya. Biarlah Allah nanti yang menjelaskan bahwa selama ini aku tidak penah mempermainkanmu, wakaupun cuma sepekan tapi tetap saja kamu punya tempat terindah disini wassalamu'aikum".


Lanjut
Part2-Bukan Cinta Sepekan

Part 3-Gelisah

Part 4- Gejolak

Part 5 Maaf

Part 6 Chef Al bag. 1

Part 7 Chef Al Bag. 2

Part 8 Chef Al Bag. 3

Part 9 Tulisan di Bangku Sekolah

Part 10 Lamaran

Part 11 Keputusan

Part 12 Lelah

Part 13 Jodoh Pilihan Bapak

Part 14 Rasa

Part 15 Seluruh Cinta

Part 16 Bahtera Bag.1

Part 17 Bahtera bag 2

Part 18 Bahtera bag.3

Part 19 Cemburu
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nofivinovie dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Cinta Sepekan
14-11-2019 18:57

Part 4- Gejolak

Cinta Sepekan
Sumberemoticon-Stick Out Tongueinterest

Sontak aku langsung terbangun, dengan nafas yang masih terengah-engah. Ku atur nafasku perlahan. Dan aku mulai mengingat kembali mimpi tadi, dari awal aku ingat, mimpi bertemu Zahir, tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri.

Rasa kangen yang selama sepekan mulai terobati walau hanya dengan memimpikannya.

Entah perasaan macam apa ini, aneh jika dilogika. Tapi ini sangat menggangu pola tidur dan pola makanku.
"Semua ini gara-gara Zahir" Aku menyalahkan dia atas perasaanku.

Aku mencoba lagi mengingat mimpi tadi malam, dan ya aku ingat semua, awalnya aku memang bertemu Zahir, tapi setelah itu ada sosok yang memisahkan aku dengannya. Aku tambah penasaran dengan sosok itu.

"Nduk... nduk... sudah bangun kah?" Terdengar suara panggilan dari luar pintu kamarku.

" Sudah mbk!"

"sudah sholat?"

"belum mbk," sambil beranjak dari tempat tidur membuka pintu kamar.

"Nanti kalo, sudah selesai, bantui mbk ya...?"

"Iya mbakku yang bawel!"

Aku lalu menuju kekamar mandi. Untuk wudhu kemudian sholat. Setelah itu membantu mbk Imah menyiapkan sarapan.

****


"Bu guru....bu guru... gambar Puput bagus kan bu....?" Seorang anak kecil mengguncang guncang pundakku, sontak aku tersadar dari lamunan.

"Hah... mana coba ibu guru lihat?"

"Ini bu.." puput memperlihatkan hasil gambaranku.

"Wah! hebat puput ya, gambarannya bagus, mewarnainya gak keluar garis pinter murid ibu satu ini" sambil kucubit manja pipi puput, dia begitu senang sekali.

Hari ini terasa hari yang panjang dari biasanya. Masih saja mimpi semalam menggangu pikiranku. Aku mencoba melupakan tapi tetap saja mengganjal dipikiranku. Aku hanya ingin memastikan perasaanku terhadap Zahir. Aku ingin sekali menghubunginya tapi tetap tidak bisa. Aku terus mencari cara.

"Astagfirullah... kok gak kepikiran ya,, kan nomor yang diblokir cm nomor yang aku pakai saat ini. aku bisa pake nomor lain dong untuk menghubunginya. Ya allah...... Ranum kamu ini telat banget mikirnya" aku berbicara sendiri.

Jam mengajar sudah selesai. Aku lalu bergegas pulang, eh bukan pulang tapi mampir dulu ke counter untuk membeli nomor baru.

"Mbk, cari apa?" Tanya si penjual kepadaku

"Cari kartu perdana sm***fr**"

"Ini silahkan dipilih" ia menunjukkan jajaran kartu tersebut di dalam etalase.

"Mbk yang belakangnya 93 mbk"

"Yang ini? " menunjukkan ke kartu dengan nomor yang aku maksud.

Aku mengangguk. Mbk si penjual lalu mengambilkannya untukku.

" ini gak perlu daftar ya mbk langsung aktif bisa dipakai buat telpon, sms, dan ada bonus paket datanya juga. Kebetulan kartu yang mbk pilih ini lagi promo".

"Okey mbk".

Aku lalu membeli kartu tersebut. Kemudian aku bergegas mpulang kerumah.

***

Sampai dirumah aku langsung menuju kekamar, ku ambil kartu yang aku beli tadi dari tas ku. Masih ku pandangi kartu perdana itu, dengan perasaan ragu-ragu.

"pantas gak sih aku menghubunginya terlebih dahulu?"
Aku masih ragu dan takut. Tapi bagaimana lagi aku ingin memastikan agar semuanya jelas. Dan tak lagi berlarut-larut.

Aku lalu memasang kartu tersebut kedalam ponselku. Kubuka beranda pertama layar ponsel, masih berfikir sejenak. Akhirnya mulai mengetik nomor yang tetnyata sudah aku hafal sebelumnya.

Bunyi panggilanku terdengar dari ponselku, tanda nomor tersebut aktif.

................

"Zahir aku mohon angat telponku..." aku berbicara didalam hati.

...............

" hallo... hallo.... assalamualaikum ini siapa ya?"

bersambung

home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nofivinovie dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
mean-it-part-2
Stories from the Heart
cerbung-oooh-suamiku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
ambyar-lamaranku-ditolak
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia