Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
22
Lapor Hansip
07-11-2019 14:46

Pemendam Rasa

Pemendam Rasa

Rasa senang bercampur grogi menyelimuti hati, entah kapan akan berlangsung seperti ini. Mungkinkah dia merasakan hal yang sama denganku? Kuharap begitu.
♡♡♡
Cahaya mentari semakin menghangat, peluh di pelipis pun bercucuran. Entah kapan pak kepsek berhenti berceloteh di tengah lapangan? Hari ini senin, seperti biasa setiap minggu diadakan upacara bendera di sekolahku. Salah satu sekolah menengah atas negeri di kotaku. Aku Inara, seorang siswi kelas sebelas. Di tengah teriknya matahari tak mengurungkan aku untuk mengikuti upacara bendera. Memang kewajiban sih ... tapi, dari sini tempatku berbaris, aku dapat melihatnya dari dekat tanpa dia sadari. Dia adalah sosok yang selalu hadir di mimpiku, entah sejak kapan? Dia yang selalu membuat jantungku berdegup kencang jika berada di dekatnya, untung saja aku tak sekelas dengannya. Aku kelas 11e sedangkan dia kelas 11d.Namanya Deandra, gayanya yang cool, tinggi, dan ramah membuatku tertarik padanya.
“Ra, PR matematikamu sudah selesai belum?” Rina berbisik membuyarkan lamunanku
“I-iya ... kenapa? Mau nyontek?” desisku.
“Kok tau ...?” jawabnya nyengir. Memang kebiasaan Rina menyontek jika ada tugas, bukannya bodoh tapi, malas.
Upacara bendera masih berlangsung, aku masih menikmati pemandangan indah di depan sana. Dia memang suka berdiri di barisan depan, mungkinkah dia sengaja agar aku bisa menikmatinya? Sesekali dia melirik ke arahku, sontak aku membuang pandangan ke arah lain.
♡♡♡
Bel pulang berbunyi, waktu yang dinantikan semua siswa. Lega setelah melewati waktu berpikir menguras otak. Aku dan Rina berjalan keluar gerbang sekolah yang berjarak beberapa meter dari kelas. Kulihat juga dia bersama gengnya yang terdiri dari empat orang, mereka memang terlihat akur satu sama lain. Berjalan keluar sekolah menunggu angkot. Aku dan Rina pun demikian.
“Besok ada pelajaran olahraga loh, jangan lupa bawa seragamnya!” ucapku kepada Rina yang memang sering lupa membawa seragam olahraga.
“Ah, iya. Semoga ingat” sambung Rina lagi-lagi memberikan senyum andalannya.
Sebuah angkot berjalan kearah kami, di dalamnya sudah ada geng Deandra. Aku dan Rina pun segera naik. Senang rasanya bisa seangkot bersamanya, walau tak setiap hari tapi aku menikmatinya. Tawa renyahnya saat bersenda gurau bersama temannya mengisi telingaku. Aku tak berhenti menyimak setiap bait-bait kalimat yang keluar dari mulutnya dan menyunggingkan senyum ke arahku saat tak sengaja meliriknya. Betapa aku malu, ada rasa hangat di pipi yang ku yakin dia sempat melihat saat rona merah muncul tiba-tiba.
♡♡♡
“Aku menyukaimu, maukah kamu jadi kekasihku?” ucap seorang pemuda sambil memegang tanganku.
“Mau ...” aku menatapnya dengan penuh keyakinan, dan berharap ini bukan mimpi. Kemudian dia melepas tanganku berlalu begitu saja.
“Tunggu!” teriakku, namun dia tak berbalik sedikit pun. Seketika dia menghilang. Aku terbangun, benar ternyata memang mimpi. Sungguh, inikah yang namanya cinta? Saat bertemu badan panas dingin sampai terbawa mimpi. Kulirik jam wekker di atas nakas, baru pukul satu lewat. Mencoba kembali memejamkan mata tapi, tetap terjaga. Akhirnya aku memutuskan bangun untuk melaksanakan sholat tahajjud.
♡♡♡
Aku berpapasan dengannya saat berjalan menuju toilet untuk berganti seragam olahraga yang telah kukenakan. Mata kami saling bertemu satu sama lain, dia menatapku penuh makna yang tak bisa kupahami sendiri. Melemparkan senyum termanisnya kepadaku, dan aku hanya bisa melempar pandangan ke arah lain, karena canggung dibuatnya. Mungkinkah rasaku berbalas?
♡♡♡
‘Oh Tuhan ... ku cinta dia. Ku sayang dia, rindu dia. Inginkan dia. Utuhkanlah rasa cinta di hatiku. Hanya padanya, untuk dia ...’ suara yang ku kenal melantunkan lagu itu di depan kelasku. Benar saja, tiba-tiba dia muncul di depan pintu kelas tanpa menoleh sedikit pun. Bukan kege-eran, tapi aku sangat yakin kalau lagu itu ditujukan padaku. Bahagia rasanya, inilah salah satu yang membuatku semangat ke sekolah.
“Ra, senyum sendiri gitu. Kenapa?” Sambil melambaikan tangannya Rina heran melihatku
“Ah, kepo!” aku hanya menjawab singkat, takut dia bertanya lagi. Rina memang sahabatku tapi, aku tidak yakin ingin curhat masalah seperti ini dengannya. Aku malu mengakui kalau aku menyukai Deandra. Aku memang seperti ini, lebih tertutup dengan masalah percintaan. Terlebih lagi ini yang pertama, baru merasakan yang namanya jatuh cinta. Pemuda tampan, bergigi gingsul, ditambah lagi senyum manisnya yang selalu terbayang. Apalah aku ini cewek cupu, kutu buku, berkacamata, sangatlah tak pantas bersanding dengannya.
♡♡♡
Usai jam istirahat aku kembali ke kelas lebih dulu, meninggalkan Rina bersama Erin yang masih sibuk mengunyah bakso. Sepucuk surat kutemukan di laci meja kelasku, yang bertuliskan ‘Selamat Hari Kamis. Buat Kamu gadis manis tanpa pensil alis. Dapat salam paling romantis. Dari cowok berkumis tipis.’ Mataku membulat membacanya. Tak hanya itu, rasa hangat yang menimbulkan rona di pipi juga ikut serta. Kiranya siapa yang menyimpan surat ini ke laci mejaku? Tanyaku pada diri sendiri karena, aku enggan bertanya kepada Rina. Aku tak mau menjadi bahan bully-an. Aku segera menyimpan surat itu ke dalam tas sebelum Rina melihatnya.
“Ra, kok tumben hari ini ga makan? Diet?” tanya Rina yang berjalan bersama Erin yang baru kembali dari kantin, menghampiri kemudian duduk di sampingku.
“Diet? Ga kok, lagi malas aja” sahutku sekenanya sambil menikmati milktea kesukaanku. “Aku ke toilet dulu ya, ada yang mau ikut?” seperti biasa, aku ke toilet dulu sebelum jam istirahat berakhir.
“Ah ga, kita barusan ke toilet tadi” kali ini Erin yang menyahut.
Berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke toilet, aku menemukan sosok Deandra yang kuyakini dialah orang yang menyelipkan surat itu. Sepersekian detik, pandanganku dengannya terkunci dan hal itu membuat debaran lebih kencang pada jantungku. Lidahku terasa kelu, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Belajar apa?” seketika dia kemudian bertanya kepadaku, entah untuk mencairkan suasana yang beku, atau sekedar berbasa-basi.
“Ba-bahasa in-“ dengan gugup, aku berusaha menjawabnya.
“In-indonesia? Inggris?”
“I-iya, maaf aku buru-buru” segera berlalu meninggalkannya karena tak ingin dia melihat pipiku memerah yang dari tadi sudah terasa hangat. Sekedar bertatapan langsung dengannya aku sangat malu, apalagi tadi kali pertama aku berbicara dengannya. Setelah menyelesaikan panggilan alam, aku bergegas ingin kembali ke kelas. Ternyata sosok itu masih berdiri di tempat tadi, apakah dia menungguku?
“Nara!” Deandra memanggilku tapi tak kugubris
“Tunggu!” langkahku terhenti, kemudian dia menghampiriku. Padahal aku sudah sengaja mengambil jalan ke arah lain untuk menghindarinya.
“Ya” aku berusaha santai
“Mau ke mana?” tanyanya lembut
“Ke kelas” sahutku tanpa menatapnya
“Kenapa ke arah sana? Kelasmu di situ bukan?” jari Deandra menunjuk ke arah kelasku
“Oh, i-iya”
“Tunggu!” Deandra meraih tanganku, padahal aku sudah berbalik arah hendak berjalan ke kelas agar segera menghindarinya.
“Aku mau bilang—“ Ucapannya terpotong seketika, saat bunyi bel masuk berdering.
“A-aku ke kelas dulu” aku pamit dan bergegas menuju ke kelas.
♡♡♡
Lagi dan lagi, aku tak bisa tidur dibuatnya. Entah apa yang ingin dia katakan? Setelah kejadian itu, aku tak pernah lagi melihatnya. Tahu-tahu dia pergi keluar kota, ku dengar kabar dari teman sekelasnya kalau ayah Deandra sakit di sana. Dua minggu telah berlalu setelah kejadian itu, tapi aku masih penasaran. Oh, seandainya aku memberikannya kesempatan untuk bicara, seandainya waktu dapat kuulang. Aku sangat menyesal. Kalaupun bukan ingin mengutarakan perasaannya kepadaku, setidaknya aku tak akan segundah ini. Aku menyesal, semoga ayahnya baik-baik saja, dan dia bisa kembali kesini.
♡♡♡
Saat kujumpa dirinya
Di suatu suasana
Terasa getaran dalam dada
Kucoba mendekatinya
Kutatap dirinya
Oh dia sungguh mempesona
Ingin daku menyapanya
Menyapa dirinya
Bercanda tawa dengan dirinya
Namun apa yang kurasa
Aku tak kuasa
Aku tak tau harus berkata apa
Inikah namanya cinta
Oh Inikah cinta
Cinta pada jumpa pertama
Inikah rasanya cinta
Oh Inikah cinta
Terasa bahagia saat jumpa
Dengan dirinya
Kujumpa dia berikutnya
Suasana berbeda
Getaran itu masih ada
Aku dekati dirinya
Kutatap wajahnya
Oh dia tetap mempesona
Rindu terasa
Dikala diri ini ingin jumpa
Ingin s'lalu bersama
Bersama dalam segala suasana
By. M.E - Inikah Cinta


Ku rasa lagu itu yang pas itu mewakili hatiku saat ini. Aku menjalani hari di sekolah seperti biasa, tapi serasa ada yang hilang. Seperti pelangi tanpa warna, Deandra aku merindukanmu.

End.
Diubah oleh irhayuayank
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Pemendam Rasa
11-11-2019 02:28

Pesan Teror

Pemendam Rasa

Malam itu ketika arah jarum jam menunjuk angka dua belas, orang-orang seisi rumah sudah tidur tentunya. Terdengar suara ayam jantan berkokok saling bersahutan, entah apa sebabnya tapi ini sudah biasa terjadi. Konon katanya pertanda ada suatu kejadian gaib terjadi di luar sana. Tiba-tiba ada suara getaran, ternyata itu gawai milik Erin yang ada di atas nakas. Perlahan gadis manis bermata bulat itu menggapai gawainya, dia mengecek ada pesan yang masuk.

[Kamu apanya Indra?] Erin pun tak langsung membalasnya.

“Apakah nomor itu milik mantan pacar Indra?” gumamnya seraya melayangkan pandangan kearah langit-langit kamarnya yang remang-remang. Hanya cahaya redup yang terpantul dari lampu jalan, Erin sudah mematikan lampu kamar. Tak sampai beberapa menit kemudian Erin membalas pesan itu dengan rasa penasaran.

[Ini siapa ya?] Lama menunggu balasan, Erin akhirnya tertidur.

***

“Tolong ... “ rintih Erin tanpa suara, kaget tiba-tiba tubuhnya terasa kaku, berat, tak bisa digerakkan dan untuk teriak pun dia tak mampu.

“Ada apa denganku ya Allah, tubuhku tak bisa bergerak.” Batin Erin bertanya. Tak lupa dia membaca 3 surah Qul serta ayat kursi. Erin menyadari bahwa dia mengalami ketidihan. Bulu kuduk Erin merinding mengingat kejadian barusan dan itu terjadi di hilir malam ini, tepatnya malam jumat kliwon. Salah satu kepercayaan bahwa malam jumat kliwon adalah malam yang angker.

Malam semakin larut, lolongan anjing pun bergantian menggema di telinga, Erin belum bisa memejamkan mata. Masih berkelut dengan pikirannya, “Kira-kira siapa yang mengirimkan pesan tadi ? ” Sekujur tubuhnya pun masih terasa nyeri.

“Tok … tok …” Terdengar suara pintu kamar diketuk seseorang, Erin menggeliat. Erin sadar ternyata hari sudah pagi, entah jam berapa baru dia bias tertidur.

“Erin … Bangun nak, sudah jam berapa sekarang? Apa kamu tidak kerja?” Tanya ibu Erin sambil mengetuk pintu kamar anaknya. Semenjak ayah Erin tiada, dialah satu-satunya sumber mata pencaharian di keluarganya. Adiknya ada dua orang belum bisa menghasilkan uang, apalagi si bungsu yang masih bersekolah.

“Iya bu, Erin bangun.” Sahutnya sambil mengucek mata kemudian meraih gawai yang tak jauh dari bantalnya.
[Tak perlu tahu siapa aku, aku tahu kamu pacarnya Indra.]
Pesan baru masuk, pengirim dari nomor yang sama seperti semalam. Erin tak menghiraukan pesan itu, dia berlalu menyambar handuknya kemudian masuk kekamar mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Erin takut telat kekantor.

***

Di dalam kamar mandi Erin merasa ada suara-suara halus memanggil-manggil namanya, suara itu beriringan dengan suara air yang keluar dari kran bak mandi. Sontak Erin segera mematikan air, tetapi saat itu juga keheningan terjadi. Tak ada satupun suara yang terdengar, sepi seperti tak ada siapa-siapa di rumahnya, yang ukurannya tak terlalu sempit untuk Erin sekeluarga.

Tak mau berlama-lama di dalam kamar mandi, Erin segera membilas tubuhnya yang masih dipenuhi busa. Kemudian membuka pintu kamar mandi, baru hendak keluar menuju kamarnya, ada seperti bayangan yang melintas kilat di depan matanya. Spontan bulu kuduk Erin merinding, tiba-tiba muncullah sosok ibu mengagetkannya.

“Kamu kenapa Erin?” Ibu bertanya sambil berjalan menuju meja makan membawa sepiring nasi goreng untuk Erin sarapan.

“Ti … tidak apa-apa bu.” Jawab Erin kemudian Erin berlalu menuju kamarnya.

“Ya Allah, apa yang terjadi? Kenapa aku seperti diikuti makhluk halus?” Ucapnya sambil mengatur nafas yang tak teratur sedari tadi.

[Bebz … Tolong jemput aku sekarang ya …] Erin mengirimkan pesan singkat kepada Indra pacarnya. Indra yang baru di kenalnya kurang dari sebulan, PDKT tak sampai seminggu dan pada akhirnya tadi malam mereka jadian.

Sebuah mobil toyota yaris merah berhenti di depan rumah Erin. Bunyi klakson sontak mengagetkan Erin yang masih merenungi kejadian-kejadian aneh yang tengah menimpanya. Erin sudah siap kekantor, dia segera keluar menuju meja makan dan hanya menyeruput sedikit teh hangat yang sudah menunggunya.

“Kamu tidak maka Erin?” Tanya ibu melirik ke arah jam dinding, tumben anak sulungnya itu tidak sarapan. Biasanya walau Erin terlambat pun dia tetap menyempatkan sarapan.

“Tidak bu …! Aku berangkat ya, teman di luar sudah menungguku.” Sahutnya, sambil mencium punggung tangan ibunya dengan lembut.

Erin bergegas keluar menuju mobil, kemudian dia naik disambut disambut senyum manis sang kekasih.

“Bebz … kamu cantik sekali hari ini.” Sapa indra melirik genit sambil memegang kemudi. Erin hanya menyunggingkan senyum.

[Jangan bilang kepada Indra kalau aku mengirimkan pesan kepadamu]. Pesan dari nomor yang sama, sudah dari tadi masuk tapi Erin baru saja membukanya.

Perjalanan hening, batin Erin berkecamuk memikirkan siapa pengirim pesan-pesan aneh itu dan untuk apa? Demikian juga peristiwa horor yang baru saja dialaminya. Belum pernah dia merasa seresah ini.

“Bagaimana kalau aku menceritakan hal itu dengan Indra.” Lagi, Erin berfikir.

“Kenapa bebz? Tanya Indra bingung melihat Erin yang dari tadi terdiam.

Sontak Erin kaget menghentikan lamunannya, “Hmm … ga apa-apa kok bebz, lagi kurang enak badan aja.”

Erin masih ragu menceritakan yang sebenarnya kepada Indra, dia masih penasaran dan menunggu pesan berikutnya dari nomor itu.

Mobil Indra berhenti di depan sebuah ruko berlantai dua, sebuah bangunan lama yang nampak usang. Erin pun turun dan segera masuk ke dalam. Masih sepi, 3 karyawan yang lain belum datang.

[Terima Kasih karena kamu tidak menceritakan apapun kepada Indra], lagi-lagi pesan misterius masuk di nomor Erin.

[Memangnya kamu siapa? Apa hubungan kamu sama Indra? Untuk apa kamu menggangguku?].

Dengan cepat Erin membalas pesan itu.
Tak lama Erin menunggu balasan pesannya pun masuk. [Aku ada di sini, di dekatmu]. Erin meraba tengkuknya yang merinding dan tiba-tiba sebuah tangan menggapai lengannya dari belakang.

“Aaaaarrrgghhhhhttt …!” Histeris Erin menjerit. Rupanya Mira yang baru saja datang, dia juga termasuk karyawan ditempat Erin bekerja.

“So … sorry Rin, aku ga tahu kalau kamu akan sekaget itu.” Sambil memeluk Erin, Mira berusaha menenangkannya.

“Iya, gapapa kok. Lagi sepi sendiri jadinya terbawa suasana deh” sahut Erin berusaha menutupi ketakutannya. Dia belum mau menceritakan apa yang dialaminya kepada siapapun.

Lamunan demi lamunan, sampai-sampai Erin tidak bisa konsentrasi mengerjakan tugasnya di kantor sebagai admin.

[Jangan sia-siakan Indra, tolong bahagiakan dia.] Pesan dari nomor itu kembali datang menerornya.

[Apakah kamu mengenal nomor ini 087188342xxx?] Erin mengirimkan pesan kepada Indra, dia berinisiatif untuk mencari tahu siapa sebenarnya pengirim pesan aneh itu. Semua ini pasti ada hubungannya dengan semua kejadian aneh yang dialaminya.

Tak berapa lama gawai Erin berdering, segera dia meraihnya.
“Erin … apakah aku mengganggu?,” sambil meringis Indra berbicara di ujung telepon. “Nggak kok, kamu kenapa? Kamu belum jawab pesanku.” Jawab Erin mengernyitkan dahinya bingung.

“Entah mengapa tiba-tiba kaki kananku tak bisa digerakkan” sahut Indra yang masih meringis kesakitan. “Tunggu ya … bosku datang, nanti kutelepon balik.” Segera Erin mematikan teleponnya, tanpa menunggu jawaban dari Indra. Bosnya tiba-tiba masuk di ruangan Erin hendak mengecek laporan keuangan.

[Erin tolong …] Sebuah pesan masuk dari nomor Indra.

[Kamu kenapa? Apa perlu aku ke rumahmu sekarang?] Dengan kilat Erin membalasnya, khawatir akan keadaan sang kekasih.

“Ya Allah … apa sebenarnya semua ini? baru juga dua hari aku jadian sama Indra”, Erin membatin.

Menunggu balasan pesannya dari Indra, ada pesan baru yang masuk ternyata bukan yang ditunggunya melainkan pesan teror itu lagi.

[Jangan ceritakan ini pada Indra, atau kaki indra akan sakit selamanya] Merinding Erin membacanya. Tubuhnya dingin dipenuhi peluh, ancaman mengintainya. Berfikir kalau dia akan mendatangi orang pintar atau sejenisnya.

***

Hari sudah petang, Erin merapikan kertas dan buku-buku di meja kerjanya. Erin akan bersiap-siap untuk pulang, tapi Indra tak kunjung membalas darinya.

Dua kali Erin mencoba menghubungi Indra, tapi nihil tak ada jawaban. Baru yang ketiga kalinya Indra bicara di ujung telepon.

“Halo … maaf ya bebz aku ketiduran tadi.”

“Ooh ... gapapa kok bebz, ini aku udah mau balik kerumah. Kalo ga bisa jemput biar aku naik grab aja” sahut Erin.

“Bisa kok, tunggu aku ya…!”Belum juga Erin menjawab Indra sudah mematikan teleponnya.
Erin menunggu di depan kantornya seorang diri, Mira dan teman lainnya pamit duluan.

***

Sinar matahari berada di batas garis terbarat cakrawala, cahaya lembayung perlahan sirna berganti dengan kegelapan. Sayup-sayup angin menyambar Erin perlahan bulukuduknya meregang. Mungkinkah ada sosok makhluk tak kasat mata mengikutinya?

“Pip …!” suara klakson mobil Indra mengagetkan Erin.

“Kaki kamu gapapa?” Sapa Erin sambil naik ke mobil.

“Iya sudah baikkan,” Sambil tersenyum Indra menyahut, kemudian melajukan mobilnya untuk menuju kerumahnya.

“Kita kerumahku ya …” kata Indra sambil menoleh kearah kekasihnya.

“Aku kan belum izin sama mama” Erin kaget mendengar permintaan Indra.

Dengan wajah memelas Indra memohon dan membujuk Erin agar mau ikut kerumahnya, akhirnya Erin pun menyetujuinya. Bukan karena tadi Indra sakit, tapi Erin penasaran dengan semua kejadian yang menimpanya. Tak lupa Erin pun segera memberi kabar ke ibunya kalau dia akan pulang telat.

***

Pertama kalinya Erin kerumah Indra, rumah dengan cat tembok putih kusam. Pekarangan yang dipenuhi daun-daun bertebaran serta debu dilantai terasnya yang membentuk jejak kaki. Erin semakin yakin kalau rumah itu kosong tak berpenghuni, dengan ragu Erin mengikuti langkah Indra di depannya yang hendak membuka pintu rumah.

“Yakin ini rumahmu?” Sambil tengok kiri kanan Erin bertanya kepada Indra.

“Bukan, ini rumah saudara yang sementara ini tugas di luar kota” Indra perlahan menarik tangan Erin kemudian menyalakan lampu.

Ternyata Indra telah membeli makanan untuk makan malam mereka, di jalan tadi sebelum menjemput Erin. Dan sejenak Erin membuang suasana horor yang ada di kepalanya, dia menghabiskan ayam lalapan dengan lahapnya, begitupun dengan Indra.
Entah sejak kapan di luar langit memerah, kilat dan petir mulai menyambar. Hujan kemudian turun dengan derasnya, merupakan alasan Indra agar Erin mengurungkan niatnya untuk diantarkan pulang kerumahnya.

Pertama kali diajak kerumah Indra dan pertama kali Erin tidak pulang kerumahnya. Pikiran Erin berkecamuk, bagaimana mungkin dia bisa menginap hanya berdua di rumah kosong itu. Erin tak mau sesuatu yang tak diinginkannya terjadi.

***

Tiba-tiba Indra meringis kesakitan, kakinya kaku tak bisa digerakkan. Kejadian tadi terulang di depan mata Erin, dia tak tau hendak berbuat apa. Ingin minta tolong dengan siapa, apalagi malam sudah semakin larut.

Lagi-lagi tengkuknya merinding, merasa seperti ada yang hendak menyapanya. Entah siapa, tapi Erin yakin kalau dia tak bisa melihatnya dengan kasat mata. Sementara Indra masih bergelut dengan sakitnya, Erin berusaha menolong dengan membacakannya ayat kursi. Tapi belum sempat Erin membacanya, tiba-tiba cairan berwarna merah keluar dari hidung sang kekasih. Pandangan Indra berputar, keringatnya yang dingin bercucuran. Nyeri di kepalanya pun bersamaan timbul dan tak lama kemudian Indra pingsan.

“Indra … bangun ra!” ucap Erin menangis mencoba membangunkan Indra dengan menggoyang-goyangkankan pundaknya.

“Pergi …!” teriak Indra terbangun, menghempaskan tubuh Erin yang kemudian tersungkur ke lantai.

“Indra …! Kamu kenapa?” jerit Erin sambil menangis dia berusaha bangkit mendekati Indra.

“Jauhi Indra …! Jangan berhubungan lagi sama Indra … pergi!” Pekik Indra meronta-ronta.

Erin terperanjat, ternyata Indra kerasukan makhluk halus. Indra pingsan seketika saat Erin selesai membacakan ayat kursi.

“Indra …!” Erin menghampiri Indra, berusaha membangunkannya.

“Erin …,” lirih Indra dengan pelan dia membuka matanya. Tubuhnya masih basah dipenuhi peluh, Indra berusaha bangkit sambil menyeka darah segar yang masih membekas di hidungnya.

“Sepertinya aku tak bisa lama menjalin kisah bersamamu, hubungan kita berakhir sampai di sini saja” Ucap Erin terisak.

“Kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi bebz?” sahut Indra memegangi pundak Erin lalu perlahan membawa Erin tenggelam dalam pelukannya.
“Ada orang yang tak suka dengan hubungan kita, mungkin dia mantan pacarmu. Atau siapakah itu? Aku tak tahu.” Jawab Erin yang masih terisak.

Erin masih mengeluarkan bulir air mata yang tak mampu di bendungnya, dia tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Jalinan kasih yang bahkan belum sempat mengukirkan kenangan manis harus berhenti di permulaan.

Di sisi lain Indra tenggelam dalam lamunannya, terbayang wajah ayu gadis yang masih sangat mencintainya. Rena namanya, kala itu hubungan mereka kandas karena tidak adanya restu dari orang tua Indra. Akhirnya Indra lebih memilih mengikuti kata orang tuanya dengan memutuskan jalinan kasihnya bersama Rena.

Tak pernah terbersit di pikiran Indra kalau Rena akan senekat itu. Menggunakan cara halus, ya … lebih tepatnya memanfaatkan makhluk halus, untuk memisahkannya dengan Erin. Gadis mandiri dan sederhana telah membuatnya melupakan Rena yang amat manja.

Saat mengetahui kalau Indra telah memiliki kekasih baru, Rena tak terima. Rena sangat mencintai Indra, dia yakin kalau Indra masih mencintainya. Rena tak menyangka begitu cepat Indra melabuhkan hatinya kepada gadis lain, membuatnya gelap mata. Meminta bantuan kepada orang pintar untuk bisa memisahkan mereka.

“Aku mau pulang!” Ucap Erin seraya melepaskan kasar pelukannya dengan Indra.

“Iya bebz, kita pulang!” Sahut Indra menggenggam tangan Erin.

Menyesal Indra membawa Erin ke rumah itu, untungnya saja belum terjadi apa-apa di antara mereka berdua. Memang Indra tidak serius dengan Erin, itu hanya pelarian agar bisa melupakan Rena. Akan tetapi hati kecinya pun tak akan setega itu kepada Erin, entah niat buruk dari mana telah merasukinya.

Berakhirlah kisah Erin dan Indra. Setelah kejadian itu Erin mengabaikan telepon Indra, bahkan setiap Indra kerumah atau ke kantornya dia tak mau menemuinya lagi. Erin takut, dia tak mau berurusan dengan hal gaib. Erin belajar melupakan Indra, walau di hati kecilnya masih amat mencintai Indra. Karena cinta itu tak harus memiliki.

-END-
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
surat-terbuka-untuk-mama
Stories from the Heart
kasih-tak-semampai
Stories from the Heart
3-gadis-di-seberang-pantai
Stories from the Heart
pertarungan-melawan-tulisan
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia