Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
133
Lapor Hansip
07-11-2019 14:13

Coretan Lara (Kumpulan Cerpen)

Coretan Lara (Kumpulan Cerpen)




Coretan Lara, kumpulan cerpen Tinwin yang bercerita tentang duka, luka, dan nestapa. Tentang biru, hitam, dan kelabu.




~*~




DAUN KUNING


Coretan Lara (Kumpulan Cerpen)




Malam hening, tak ada hujan berdenting di genting. Hanya semilir angin berembus, melewati celah-celah ventilasi di atas jendela kamar yang tertutup rapat.


Di dalam kamar, Risa baru saja menyelesaikan membaca majalah yang dibelinya tadi siang. Dan kemudian dia meletakkannya di atas nakas. Risa menyalakan lampu biru yang cukup hanya temaram, dan kemudian mematikan lampu neon putih yang cukup terang untuk membaca, namun tak cukup redup untuk menemani tidur. Selain alasan hemat listrik tentunya. Mengikuti saran Mbak Ineke dalam sebuah iklan layanan masyarakat di televisi tentang hemat energi listrik, “nggak perlu pakai yang nggak perlu ....”


Risa pun berangkat tidur. Mencoba untuk merasa nyaman di balik selimutnya. Semenit, lima menit, setengah jam ... Risa belum jua mampu memejamkan mata. Padahal dia tidak habis minum kopi.


Risa menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu balkon. Pintu dibuka dengan perlahan, dan begitu pintu terbuka, angin malam menerpa wajah Risa. Untuk sejenak dibiarkannya angin menyapa, membelai, dan memainkan helai mayang sepinggang yang bebas sengaja digerai lepas. Terasa dingin yang sejuk.


Tatapan mata Risa tertuju pada bundar sempurna bulan, tepat di langit barat depan kamar Risa. Melihat bulan, dua belah pipi Risa bergerak terangkat menarik ujung-ujung bibirnya menghasilkan sesungging senyuman. Senyuman Dewi Ratih menyambut Kamajaya kekasihnya.


Quote:
Bulan purnama yang penuh kembali datang. Sendiri. Dengan cahaya muka yang pucat tak benderang, tanpa diiringi bintang-bintang, entah di mana bintang-bintang, entah ke mana bintang-bintang, mungkin bermain sendiri di balik awan. Setelah sekian lama bulan purnama tak jua datang bersua bumi dan penghuni bumi, karena situasi masa dan suasana, hingga menghalangi kehadirannya. Takdir musim hujan dan awan memaksanya untuk tak kuasa memberikan terangnya.




Balkon temaram, hanya mengandalkan cahaya biru dari dalam kamar Risa yang menerobos keluar melewati pintu yang terbuka, serta celah ventilasi di atas pintu dan jendela. Dibias lampu taman di bawah balkon dan sinar bulan purnama yang pucat melon di atas balkon.


Risa melangkah ke ujung balkon, tepat di bawahnya melekuk sebuah kolam kecil di tengah taman. Tak terlihat ikan koi merah yang biasa bermain berenang berkejaran melintas di bawah serumpun bunga teratai yang mengambang di tengah kolam. Mungkin ikan-ikan itu sedang tidur, atau entah sedang apa. Risa pun belum pernah mengamati bagaimana ikan-ikan koi di kolamnya saat tertidur. Apakah tergeletak di dasar kolam, atau melayang dalam air kolam. Langit malam yang hitam memantulkan kegelapan, mungkin itu pula yang membuat air kolam cenderung kehitaman, hingga tak mampu mempertunjukkan biota di bawah permukaannya.


Risa kembali tersenyum. Ternyata dia melihat dua bulan yang penuh malam ini. Satu bulan menempel dalam kanvas hitam angkasa malam. Dan satu bulan lagi ada di dalam kolamnya, bersanding di samping ungu mahkota teratai yang menyembul di antara hijau daunnya.


Risa menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menikmati udara malam ini. Saat menengokkan kepalanya ke sebelah kanan, tatapan Risa tertumbuk pada pohon bunga kamboja dalam pot merah di ujung kanan balkon. Buru-buru Risa menghampiri, dan didapatinya daun-daun kamboja yang menguning. Sementara di ujung kiri balkon, terlihat pula sebuah pohon kamboja yang daunnya juga menguning.


bunga kamboja di ujung balkon





Akhir-akhir ini Risa memang sibuk dengan Rumah Kasih, semacam rumah singgah atau bisa juga dikatakan sebuah sanggar. Bersama beberapa temannya, Risa mencoba berbagi dengan penghuni dalam Rumah Kasih.


Bukan hanya materi, Rumah Kasih membuka diri bagi siapa saja yang mau berbagi, berbagi ilmu, ketrampilan, pengalaman, keahlian, waktu, tenaga, berbagi kasih tanpa membedakan agama, etnis, atau apapun. Bagi yang pandai ilmu agama, ajarkanlah ilmu agama, tentunya sesuai dengan agama masing-masing. Yang pandai bermusik, ajarkanlah bagaimana bermusik. Yang pandai melukis, ajari bagaimana melukis, menggambar. Bagi yang bisa menulis, tularkanlah hobi menulis. Pandai bahasa asing, berbagilah dengan ilmu bahasa. Pandai berhitung, ajari ilmu berhitung. Terampil memasak, menjahit, berkebun, beternak, tentang usaha agro, elektronik, IT, menari, tentang kesadaran kesehatan, lingkungan, atau apapun itu, tak ada batasan, semua bidang ilmu asal bukan ilmu hitam tentunya. Silahkan berbagi dan berkreasi.


Bersyukur karena akhirnya Rumah Kasih akan membuka pula Jendela Kasih, sebuah taman bacaan sebagai salah satu bagian dari kegiatan Rumah Kasih (sebagai salah satu fasilitas, kalau mungkin bisa dibilang begitu). Selanjutnya juga diharapkan akan ada kelas menulis. Risa dan beberapa temannya yang kebetulan hobi membaca, menulis, dan literasi sudah seminggu terakhir ini ekstra sibuk mempersiapkan semuanya.


Perlahan Risa mulai menyemprotkan cairan dari dalam botol berisi air yang telah dicampur dengan pupuk bunga terlarut di dalamnya.


Quote:
“Maafkan aku ...,”lirih Risa sambil masih menyemprot menyiram pohon bunga kambojanya. Jemarinya mengelus mengusap daun-daun kamboja yang menguning. Risa merasa bersalah sementara waktu telah mengabaikan sepasang kambojanya tanpa siraman, hingga daun-daunnya menguning padahal itu masih daun-daun muda.


“Aku tak akan lagi lalai menyirammu, tak akan lagi membiarkanmu kekeringan,” janji Risa dalam hati. Sementara tiga kuncup kembang kamboja tetap mekar meski tak sesegar selayaknya.



Risa kemudian duduk di lantai, di samping pohon bunga kamboja yang hanya setinggi pinggang. Diamat-amatinya kuning daun kamboja itu. Mungkin Risa tak ubahnya bagai daun kuning itu, merana.


***


Belum jua hilang kenangan akan Angga. Risa mengenalnya sejak SMP karena satu sekolahan. Selama tiga tahun bersama, Risa juga Angga tak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Yang pasti waktu itu mereka hanya merasa senang jika bersama, dan hari yang paling menyenangkan bagi mereka waktu itu adalah hari Senin, karena hari sebelumnya, hari Minggu, selama seharian tak bertemu. Aneh. Mungkin rindu.


Saat SMA Risa dan Angga satu sekolah lagi. Dan saat SMA itulah mereka mulai menyadari tentang apa yang sebenarnya terjadi, tentang rasa aneh yang kerapkali menghinggapi, rasa cinta. Singkat cerita akhirnya Risa dan Angga resmi berpacaran.


Selama waktu kebersamaan mereka, bukan berarti tanpa ada riak perbedaan. Namun selama itu pula Risa dan Angga selalu mampu mengatasi dan melewatinya.


Begitu pula saat kelulusan SMA, Angga berniat, bertekad, dan akhirnya diterima di sebuah akademi militer di Magelang sesuai dengan yang dicita-citakannya. Risa pun menerima dan menghargai keputusan itu, meski sebenarnya Risa lebih menyukai jika Angga melanjutkan pendidikannya dengan mengambil kuliah umum saja, mau teknik, komunikasi, atau apa saja asal bukan militer.


Begitu juga sebaliknya, Risa ambil kuliah Sastra di sebuah universitas negri di Jogja, padahal Angga sebenarnya lebih senang jika Risa memilih Kedokteran, Farmasi, atau jurusan lain yang berhubungan dengan medis, kesehatan. Dan Angga pun menerima menghargai apa pun pilihan Risa.


Ya, semua berjalan lancar-lancar saja. Perbedaan-perbedaan tak cukup berarti, selama ada toleransi, mau memahami dan saling menghormati. Yang ada adalah saling percaya, saling menyemangati.


Tiga tahun masa pendidikan Angga di Magelang, dan Risa di Jogja dilalui tanpa pertemuan-pertemuan, hanya komunikasi melalui telfon, itu pun tak bisa sering-sering dilakukan. Maklum, sistem pendidikan yang dijalani Angga tentu lebih disiplin, lebih ketat. Tapi hal itu tak menjadi soal.


Masa pendidikan Angga tiga tahun di Akmil berakhir, ia meminta Risa datang di acara wisudanya. Risa pun datang dengan mengenakan baju sesuai pinta Angga ditelfon, “Sa, datang ya, pakai kebaya putih yang dulu waktu acara perpisahan SMA kita.”


Saat acara perpisahan, pelepasan siswa-siswa SMA dulu memang semua siswa kelas tiga yang lulus diwajibkan hadir dengan busana daerah, dan waktu itu Risa mengenakan kebaya putih pilihan Angga, dipadu batik senada yang dikenakan Angga. Setelah tiga tahun, toh badan Risa juga tidak banyak berubah, masih seperti saat lulus SMA dulu, jadi tak ada masalah untuk mengenakan kebaya putih itu lagi.


Angin dari gunung Sindoro Sumbing menyertai siang di sebuah tanah lapang luas tempat acara wisuda Angga berlangsung. Pohon-pohon besar memagar di tepian tanah lapang, meliuk lembut membuat terik mentari siang kala itu tak terlalu kentara. Sepoi terasa.


Acara wisuda selesai tepat saat siang tengah hari. Diantara hiruk pikuk kerumunan perwira muda yang baru diwisuda, dalam sapa dan peluk mesra keluarga, sahabat, kerabat, dan kekasih setia, Risa dengan balutan kebaya putih dan Angga dengan seragam biru lengkap bertemu, larut dalam haru dan rindu menyatu. Tak bisa terangkaikan dengan kata bagaiman perasaan Risa dan Angga saat itu, setelah tiga tahun tak bertemu, rindu menggunung setinggi langit, meluas seluas angkasa, mendalam sedalam samudra.


Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama. Menjelang sore, Risa dan Angga bersama keluarga menuju asrama tempat Angga tinggal selama tiga tahun ini. Selain mengambil barang-barang dan segala perlengkapan milik Angga, juga berpamitan sebagai tanda perpisahan dengan teman-teman seasrama, yang saat itu beserta keluarganya pula. Juga berpamitan dengan semua senior dan para pengurus asrama.


Meski berat berpisah, sore itu juga Risa harus kembali ke Jogja karena esok paginya ada kuliah jam pertama, dan Risa tentu tak ingin bolos lagi. Seharian itu berarti Risa sudah bolos kuliah demi datang di acara wisuda Angga. Risa bukanlah mahasiswi yang suka bolos kuliah, meski ia termasuk hobi terlambat masuk kuliah. Sementara Angga dan keluarganya pulang ke Purwokerto. Angga mempunyai waktu seminggu sebelum ia selanjutnya harus mengikuti pendidikan lagi di Jakarta.


Memanfaatkan waktu kosong yang seminggu, Angga menghabiskan waktu tiga hari terakhirnya dengan mengunjungi Risa di Jogja. Terasa singkat memang, tapi itu sungguh berarti.


Setahun kemudian, kala itu dengan sungguh menyesal Risa tak bisa hadir memenuhi permintaan Angga untuk datang di acara wisuda Angga berikutnya di Jakarta. Bersyukur Angga cukup mengerti karena Risa sedang KKN dan tak bisa meninggalkannya begitu saja. Bahkan setelah itu Angga menyempatkan diri mengunjungi Risa di tempat KKN, di sebuah desa sekitar Gunung Kidul. Pertemuan yang hanya dua jam. Angga tak bisa berlama-lama karena ia hanya diberi waktu tiga hari untuk pulang dan selanjutnya Angga harus segera berangkat ke Aceh. Angga ditugaskan ke ujung barat negeri ini yang waktu itu baru saja mengalami musibah mahadahsyat, tsunami.


Angga harus membagi waktunya yang hanya tiga hari itu untuk perjalanan Jakarta-Purwokerto-Jogja bertemu keluarga, kerabat, Risa dan kembali ke Jakarta, selanjutnya bersiap-siap ke Aceh.


Sebenarnya inilah yang menjadi alasan Risa kurang setuju dengan pilihan Angga dulu, karena konsekuensi dari profesinya tentu harus siap ditugaskan dimana saja dan kapan pun juga. Entah itu daerah konflik atau musibah, di dalam maupun di luar negri. Tapi itu sudah menjadi pilihan Angga.


Setelah kepergian Angga ke Aceh, terhitung hanya tiga kali Angga menghubungi Risa melalui telfon. Dan setelah itu tak ada kabar lagi dari Angga. Risa berusaha menghubungi handphone Angga tapi tidak aktif.

"Mungkin ada gangguan sinyal,” pikir Risa mengingat daerah musibah yang mungkin infrastrukturnya banyak mengalami gangguan dan kerusakan. Dan lama, lama, lama ... tak ada jua kabar dari Angga.


Setahun berikutnya, saat kepulangan Angga, Risa pun menyambutnya dengan suka cita. Tentu. Angga pulang dengan sebuah kejutan. Angga pulang dengan sebuah kabar yang tak pernah Risa sangka-sangka sebelumnya. Yah, sungguh diluar dugaan. Ternyata, justru Angga pulang dengan sebuah kabar bahwa ia akan menikah. Tapi bukan dengan Risa. Melainkan dengan seseorang yang Angga bertemu dengannya saat ditugaskan ke Aceh. Dia seorang relawan. Dia seorang dokter.



Quote:
Seirama suara guntur, sesaat setelah kilatan petir yang benderang membelah langit dari ujung ke ujung, bersama mega-mega hitam yang berarak, menjadi sekawanan awan yang pepat bersatu padu, memayungi bumi yang menatap penuh was-was. Panas mentari atau bara api, itu tak cukup membakar. Duri atau ujung jarum, itu tak cukup tajam. Terjal jurang, itu yak cukup curam. Hitam gelap malam, itu tak cukup membutakan. Ruang asap, itu tak cukup menyesakkan. Badai dan banjir, itu tak cukup meluluhlantahkan. Hujan batu, itu tak cukup menghancurkan. Karena ini sungguh menyakitkan. Amat sangat menyakitkan.Entah kata-kata apa yang cukup menggambarkan bagaiman perasaan Risa saat itu.




“Meski tak pernah bertemu dengannya, tapi aku tahu, dia pasti cantik, pintar, dan kaya ... tidak sepertiku, hanya seorang pemimpi,”gumam batin Risa.


Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Risa, bahwa inilah yang akan terjadi. Padahal selama ini hanya ada Angga, tak ada nama lain dalam kamus hati Risa. Tapi kenyataannya? Kesetiaan Risa selama ini tak berarti apa-apa. Semua percuma saja.


Ah sudahlah. Mungkin ini memang sudah menjadi suratan takdir Risa. Bukankah kelahiran, kematian, jodoh, dan rizqi memang sudah tercatat ‘di atas sana’, bahkan jauh sebelum seorang manusia terlahir ke dunia ini?


Risa mencoba berpikir positif saja atas semua yang terjadi menimpanya. Meski itu terasa menyakitkan, amat sangat menyakitkan. Jika pada akhirnya Risa tak bisa menyatu dengan Angga, mungkin itu berarti memang Angga bukanlah yang terbaik bagi Risa, dan Risa pun bukanlah yang terbaik untuk Angga, dan tak akan baik pula jika mereka terus bersama. Dan Risa yakin, akan ada seseorang yang lebih baik, yang terbaik untuk Risa di luar sana.



Quote:Yah, mungkin benar, adalah sebuah keberuntungan, bila yang terjadi adalah bukan yang diharapkan, bila yang didapat adalah bukan yang diinginkan, bila yang diterima adalah bukan yang dimau. Karena tak selamanya, yang diharapkan adalah yang terbaik. Karena tak selalu, yang diinginkan adalah yang tersempurna. Dan bisa jadi, yang dimau adalah tidak tepat. Karena tak ada yang lebih tahu, kecuali Yang Maha Tahu. Dan tak ada yanng bisa dilakukan kecuali mencoba mengambil hikmah, dari apa yang telah terjadi, dan mencoba mensyukuri, meski sedih kadang tak bisa bersembunyi.*



***



Malam melarut. Bulan pucat melon di atas balkon yang sedari tadi memandangi Risa di ujung balkon perlahan termakan awan hitam. Langit malam pun sempurna menghitam. Angin malam berembus sedikit kencang membawa titik-titik gerimis menerpa wajah Risa. Risa pun bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan balkon. Ia kembali ke dalam kamar, berusaha tidur di balik selimut, menjemput impiannya.


Sementara kuning daun kamboja di luar sana jatuh satu-satu tertiup kencangnya embusan angin, memberi kesempatan tuk tumbuhnya tunas dan daun baru. Hijau. Mempesona.


~*~



*Petikan puisi TinWin berjudul Sebuah Keberuntungan
Diubah oleh tinwin.f7
profile-picture
profile-picture
profile-picture
delia.adel dan 37 lainnya memberi reputasi
38
Coretan Lara (Kumpulan Cerpen)
10-11-2019 19:24
mirip mirip kayak ceritaku duku ye...
profile-picture
profile-picture
tinwin.f7 dan bekticahyopurno memberi reputasi
2 0
2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
surat-terbuka-untuk-mama
Stories from the Heart
kasih-tak-semampai
Stories from the Heart
3-gadis-di-seberang-pantai
Stories from the Heart
pertarungan-melawan-tulisan
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia