Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
89
Lapor Hansip
19-10-2019 10:11

Tolong Katakan I Love You

Love, Choice, and Decision
Canva


BAB 1

SI PEMBUAT ONAR


Kalian pernah salah mengirim pesan dengan menggunakan WA, SMS atau LINE? Jika, iya. Kita sama. Dan, aku baru saja melakukannya. Bukan masalah besar, tetapi efek samping yang ditimbulkan setara dengan gempa bumi berkekuatan 6,7 scala richter. Mungkin aku terlalu lebay. Ya, ini terjadi karena saat itu, aku sedang error.

Aku tak tahu, harus bagaimana lagi, rasanya tak mungkin semua nomor telepon mahasiswa dan mahasiswi yang jumlahnya ratusan itu, ku-save semua. Hanya mereka yang punya label khusus saja yang terpaksa kusimpan. Walaupun telah kupilih-pilih, ternyata human error masih terjadi juga.

Tanpa kusadari ternyata ada dua nama yang sama dalam list nomor-nomor HP yang kusimpan. Niko, itu dia, namanya. Satu berstatus sebagai teman, sedangkan yang satunya mahasiswa 'gaje' yang sedang mencari jati diri.


Awal kejadiannya, bermula dari sini.

Pulang dari kampus, aku langsung menuju ke kamar. Tidak seperti biasanya. Ya, biasanya aku selalu berhenti dulu di meja makan. Melahap apa saja yang ada di situ sambil ngobrol ngalor-ngidul bersama Mama. Tak demikian dengan hari ini. Rasa capek stadium akhir, membuatku ingin segera berbaring di atas kasur. Selain tugas mengajar yang marathon, aku juga harus menyelesaikan pekerjaan di luar di kampus. Ketika sampai rumah, aku ibarat HP yang baterainya tinggal 19%. Warning agar segera di-charge.

Begitu melihat ranjang, bantal, dan guling, mereka seolah melambaikan tangan memanggilku. Setelah menyalahkan AC, aku segera menghempaskan tubuh ke kasur. Dalam kondisi setengah sadar, aku masih sempat melihat Mama membuka pintu kamar yang tak terkunci. Menengok sebentar, kemudian pergi, lagi.

*

Entah berapa lama mataku terpejam. Saat terbuka kembali, jam dinding di kamar sudah menujukkan pukul 17.30 WITA. Artinya sebentar lagi akan magrib. Sebelum Mama, masuk ke dalam kamar, membangunkan aku sambil ceramah a sampai z, meski malas, aku memaksa membuka mata yang sebenarnya masih ingin terpejam.

Nduk, maghrib-maghrib ndak boleh tidur. Kata Mbah kakung, nanti kalau kamu sakit ndak ada obatnya. Ayo bangun! Ora elok. Pamali. Jadi perempuan itu, mbok ya, jangan malas. Nanti kamu ndak laku.

Itulah kira-kira yang akan dikatakan Mama, jika aku masih nekat merem. Mama akan terus berbicara sampai aku bilang 'iyaa atau ashiyaaap, Ma'. Namun, tak apalah, dari pada Mama diam, malah serasa ada sesuatu yang hilang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Masih dengan rasa malas, kuambil benda berukuran 6 inci ber-chasing merah maroon itu dari dalam tas kerja.

Langsung kubuka WA. Itu yang biasa aku lakukan. Setelah itu, baru facebook, IG, dan kemudian aplikasi yang lain. Di tiga tempat, WA, facebook, dan IG itulah baik rekan dosen maupun mahasiswa biasa berekspresi. Life is never flat, begitu kata mereka.

Setelah kubaca, tetapi belum kubalas beberapa pesan WA yang masuk, aku membuka status teman-teman. Salah satu dari mereka ada yang menulis:

HBD for me

Idih. Rasanya ada yang menggelitik. Dan, duh, tiba-tiba terasa ngilu. Aku merasa 'Niko' si pembuat status ini, seperti hidup seorang diri di dunia. Ada rasa geli, tetapi juga kasihan. Entah mengapa aku lebih merasa kasihan. Lebih anehnya lagi, langsung terbayang dalam ingatanku, seorang laki-laki yang sedang sendirian di tepi sungai Kayan. Benar-benar, kasihan. Laki-laki yang pernah kulihat ketika aku dan Mama sedang kondangan ke pulau seberang. Perasaan apa ini? Tanyaku, merasa heran pada diri sendiri. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung kusambut status itu dengan respon:

Happy Birthday Sir, wish you all the best! Ucapan selamatku untuk Pak Niko, lewat WA. Tak lupa kusematkan emoticon kue ulang tahun di belakang ucapanku.

Tak kuduga. Fast response. Dia langsung membalas:

Thank you very much! Honey. Dia akhiri balasannya itu dengan emoticon love, tiga kali.

Mataku langsung terbelalak, melihat kata 'honey' dan tiga emot love balasan dari Pak Niko. OMG! Tekanan darahku, serasa naik. Ya Allah ada apa dengan bapak satu anak, ini? Apa maksudnya? Apakah aku GR? Kurang gaul? Atau tempat bermainku kurang jauh? Pertanyaan demi pertanyaan langsung memberondong kepalaku. Daripada salah kaprah, aku memilih tak membalas.

Belum habis rasa heran-ku dengan pesan WA aneh itu, Mama datang. Menyuruhku buru-buru mandi, salat maghrib lalu memintaku menemaninya kondangan. Meskipun ada Ayah, Mama lebih suka mengajakku kondangan. Dan, sebenarnya aku paling malas menghadiri acara seperti ini.

Sepanjang perjalanan aku masih berpikir. Rasanya kalimat ucapan selamat ultah-ku untuk Pak Niko itu, biasa saja. Normal, tidak berbau PHP, gaje, pornografi apalagi SARA. Salahnya di mana? Rasanya ingin menggaruk kepalaku yang tak gatal. Yang membuat masalah ini semakin aneh, karena Pak Niko terus menerus mengirimiku pesan.

"Nduk, kita ini mau kondangan ke tempat buliknya Ardhi. Pasti ada Mama sama Abahnya Ardhi di sana. Jangan lupa kasih salam. Juga bersikap sopan."

Perkataan Mama, membuyarkan lamunanku.

"Ah, iyaa, Ma," jawabku sekenanya.

Sampai di tempat hajatan, aku masih memikirkan pesan Pak Niko. Rasanya kesal sekali. Bagaimana mungkin teman sekantor berbuat seperti itu. Bagaimana caraku menghadapinya besok pagi.

Usai menemani Mama mengobrol dengan orang-orang yang diharapkan bulan depan akan menjadi keluarga, selama dua jam--di acara sunatan sepupunya Bang Ardhi--akhirnya kami berdua sampai rumah juga. Tubuhku tadi, di tempat hajatan, tetapi pikiranku ke mana-mana. Begitu sampai kamar, karena masih penasaran, kubuka dan baca lagi pesan-pesan WA dari Pak Niko. Rasanya semakin gemas, aku dibuatnya. Setelah kuperhatikan benar-benar, ternyata oh ternyata, itu bukan pesan Pak Niko, dosen. Astaga, rupanya pesan dari Niko--mahasiswa. Si Trouble Maker. Serta merta aku menjambak rambutku sendiri.

OMG!

Mahasiswa si pembuat onar itu terus menerus mengirimiku pesan dengan emoticon 'love'. Mulai dari pesan tak penting, gaje, sampai akhirnya bertanya masalah kuliah yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.

Kesal nggak sih?

Kalau ada mahasiswa yang datang ke kampus tetapi tidak bisa mengikuti kuliah karena pintu sudah ditutup saat telat lebih dari 15 menit, dia-lah orangnya. Mahasiswa yang tak bisa berkerja sama dalam kelompok karena suka-suka gue, itu dia juga. Belum lagi yang hobbi stalking dan nge-hack akun sosmed teman-teman wanita untuk mem-bully, itu juga pasti Niko. Dan, yang datang ke kampus dengan celana jeans robek-robek bagian lutut lalu diusir oleh security, itu juga, tak ada yang lain, selain dia. Celakanya, aku pembimbing akademik dia.

***


"Niko! Tahu kenapa saya panggil?" tanyaku, keesokan harinya. Suaraku sedikit meninggi karena menahan kesal.

"Tahu Ma'am. Maaf Ma'am saya salah...."

Lelaki berperawakan tinggi dan sedikit kurus itu, wajahnya terlihat flat. Sepertinya dia sengaja membuat kesan seperti itu, seolah tanpa dosa. Duh, padahal banyak, ya ampun. Dalam hati aku ingin tertawa. Karena sumpah, dia terlihat sangat aneh. Yang bikin aku kesal, di sela-sela itu, mata elangnya terus berupaya menatapku nakal.

Haks!

Perutku mendadak menjadi kenyang. Benci sekali melihat tatapan sedikit liarnya itu. Uff! Meski demikian aku paling tak berdaya setelah mendengar perkataan 'maaf.' Luntur seketika rasa kesalku.

"Apa yang kamu lakukan meski tak ada hubungannya dengan saya, tapi kita terikat norma. Di mana saya berkewajiban mengingatkan kamu! Bisa dimengerti, 'kan?" sergahku.

"Yes, Ma'am!"

Malas berbicara panjang lebar, aku segera menyuruh Niko pergi dari ruanganku.

***


Setelah Niko menterorku, dengan berbagai pesan di semua sosmed, kini hampir setiap hari selalu ada snack dan makan siang di meja kerjaku. Si tinggi kurus, bergaya casual dan berwajah oriental-lah yang mengirimnya.

Ya Allah, dia bukan tipeku. Ampun! Hari demi hari, rasanya aku semakin benci, padanya. Saking bencinya, sampai terlintas dalam pikiran, jangan-jangan makanan yang dia kirim itu mengandung guna-guna. Meski telah berumur 28 tahun dan lulus pasca sarjana, kadang-kadang aku masih suka berpikir naif. Saking paranoid-nya, semua makanan dari Niko, selalu kubagi-bagi pada siapa saja. Untuk Nesya, Mira dan Andra yang satu ruangan. Kadang-kadang sampai juga ke pos security.

Saat berpapasan dengan Niko di koridor atau tempat parkir kampus, aku selalu menghindar. Pesannya tak pernah kubalas. Ketika harus mengajar di kelas mahasiswa nyleneh itu, sebelumnya kutarik napas dalam-dalam seraya meluruskan niat. Aku sengaja tak mengacuhkan dia.

Ya Allah, tolong! Dosa apakah aku? Ironisnya hanya di kelasku anak bandel itu tak pernah absen. Untuk mata kuliah lain, sebagaimana gaya bad boy itu; dia datang dan pergi sesuka hati.

***


Alhamdulilah. Beberapa hari ini, suasana kampus dan hatiku terasa tenang. Niko seolah ditelan bumi. Apakah aksi boikotku berhasil? Ataukah mungkin dia merasa lelah? Rasanya seperti baru saja terlepas dari jerat tali panjang yang mengikat, melingkar-lingkar di tubuhku dari dada hingga ke perut. Legaa. Jahatkah aku? Dia seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun, sedangkan aku dosennya yang tujuh tahun lebih tua dari dia. Apakah aku telah bersikap kejam pada seorang anak kecil? Jika 'iya' apa yang bisa kulakukan untuknya? Jika bulan depan Mama dan Ayah telah mempersiapkan pernikahanku dengan seorang lelaki yang saat ini sedang merantau nun jauh, di negara timur tengah, sana.

Dua jam kemudian aku masuk ke dalam kelas. Dan, setelah satu jam setengah berdiskusi dengan mahasiswa.

"Okay, thank you very much for your attention. See you next week and have a nice day!"

Aku menutup kelasku. Mata kuliah English 4. Segera kukemasi laptop, projector, dan speaker active yang biasa dan baru saja kupakai.

Tak seperti biasanya, hari itu secepat kilat ruangan kelas menjadi sepi. Hanya tertinggal Niko, Andrew dan Hilmi. Aku merasa, ini seperti telah di-setting sedemikian.

Niko, apa yang tak bisa dia lakukan.

"Hil, tolong bantu bawakan speaker active ini ke ruangan saya, yah. Makasih," pintaku pada Hilmi. Mahasiswa berkulit putih dan berbadan sedikit tambun itu pun, segera melakukan apa yang kukatakan.

Sementara itu, Niko dan Andrew berjalan mendekatiku. Gerak-geriknya terlihat aneh. Mereka seperti saling memberi 'kode'. Perasaanku, tiba-tiba menjadi tak enak. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu padaku. Ya Allah, aku takut.


To be continued

Thank you for reading emoticon-Peluk
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbethix dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Love, Choice, and Decision
06-11-2019 04:29
Love, Choice, and Decision

BAB 4

AKU KALAH


Walaupun ragu dengan kemampuan dan kualitas strategi yang telah kubuat, aku tetap melaksanakannya. Rencana pertama: aku izin tak masuk kerja selama dua hari. Setelah itu, mematikan HP. Karena tak ingin direpotkan bongkar dan pasang ponsel, untuk berkomunikasi dengan keluarga, Bang Ardhi, dan kampus aku terpaksa membeli SIM card dan hand phone baru. Rasanya tak sabar ingin segera tahu reaksi bocah gemblung itu.

Untuk mengetahui perkembangan apa saja yang akan dilakukan Niko, aku telah bekerja sama dengan Nesya. Dari informasi yang kudapat; setengah hari pertama, aku tak tampak di kampus dan seolah menghilang dari peredaran, Niko sudah seperti anak ayam yang kelabakan mencari induknya. Dia bertanya tentang keberadaanku ke hampir seluruh karyawan dan dosen yang dijumpainya. Puncaknya dia datang ke bagian kepegawaian. Bukan Niko namanya jika mudah menyerah. Pada Nesya dia bertanya alasan dan kemungkinan mengapa aku tak masuk kerja. Staf manis berkulit sawo matang bagian kepegawaian itu hanya menjawab 'kurang tahu'.

Hari ke dua. Masih menurut cerita si mungil Nesya. Niko datang bersama Andrew ke ruangannya. Di kesempatan ini, Andrew--cowok kurus dengan rambut sedikit acak-acakanlah--yang menggali informasi. Niko hanya duduk diam di sebelahnya. Menurut Nesya, wajah Niko terlihat BT tingkat mahadewa. Uff, sampai di sini aku merasa bahasa Nesya terlalu lebay. Setelah kupikir-pikir, kok, aku berasa seperti menjadi seorang DPO. Di sini Nesya tetap memberikan jawaban 'kurang tahu', untuk Niko dan Andrew.

*

HP-ku bergetar.

Ms. Dee, besok beneran masuk, kan? Pesan dari Nesya.

Insya Allah. Memangnya kenapa?

Nggak tega lihat anaknya Ms. galau. Aku takut dia ngrubuhin kampus ini, ntar. Nesya menambahkan emoticon LOL di belakang pesannya.

Tolong liatin gerak-geriknya hari ini, yah. Mudahan dia nggak bikin onar.

Ciee, Emak takut yah, anaknya yang u-la la itu bikin masalah.

Asem.

Sepertinya, strategiku yang pertama ini, akan nihil.

***


Aku sengaja memarkir mobilku di pinggir jalan, demi tak bertemu Hantu Kampus di parkiran basement. Padahal mobil akan seperti sauna saat akan dipakai keluar jam makan siang saking panasnya. Apa boleh buat.

Dengan langkah kaki berdurasi lebih dari biasanya, aku berjalan menuju front office. Astaga. Jantungku mendadak seperti akan copot saat melihat Niko, Andrew dan Hilmi berada di situ. Apa daya. Sudah terlanjur tertangkap basah, aku tetap berusaha tenang. Tarik napas. Tarik napas.

"Good morniiing Maaam! You are fine, today?" ucap Niko dengan senyum dan mata berbinar.

"Thank you. No, Iam so so!" jawabku, mencoba membuat korelasi mengapa dua hari yang lalu absen. Sesungguhnya aku merasa geli. Meskipun demikian tetap kupasang wajah tenang yang kubuat-buat.

"Oh ya, I am sorry to hear that, kalau begituh!" jawab Niko dengan tatapan mata yang seolah menuduhku berbohong.

Aku segera masuk ke dalam ruangan kerja.

HP-ku bergetar. Hmmm, pesan dari Hantu Kampus.

Lain kali, jangan bolos kerja, kalau hanya untuk menghindariku!

Siapa yang membolos? Jangan sok tahu! Kemarin saya fitting baju pengantin.

Duh, aku terpaksa berbohong. Aku tersenyum, karena merasa menang. Seperti biasanya setelah itu ada rasa aneh yang seolah terenggut dari dadaku.

Tak ada balasan. Padahal aku sangat menunggu reaksinya. Untuk mengatakan haram hukumnya menginginkan wanita yang sudah di-lamar oleh seorang lelaki pada seorang Niko, rasanya tak mungkin. Walaupun belum mencoba melakukannya, aku sudah tak yakin, orang seperti dia akan mengerti. Feelingku mengatakan dia lebih berpedoman pada sebelum janur melengkung seseorang itu masih bebas.

***


Belum merasa putus asa, aku pun menyusun rencana kedua: mengingatkan Niko melalui materi kuliah. Demi menjalankan misi ini, dengan mata yang sudah lima watt, aku masih menggerakkan mouse, untuk membuat materi ajar. Jam di laptop sudah menunjukkan angka 22.30, dan aku masih terus berselancar di dunia maya mencari bahan ajar yang kuinginkan. Ternyata tak mudah juga. Setelah lebih dari tiga puluh menit, aku menemukannya. Sebuah video. Langsung ku-download dan beberapa menit kemudian, done! Urat syarafku yang sedikit tegang, serasa menjadi longgar. Segera kumatikan laptop dan saatnya berselancar ke dalam dunia mimpi. Rasanya sudah tak tahan ingin memeluk guling.

*

Besok paginya di dalam kelas.

"Okay everyone. Let's see the movie! After that, you need to tell the story in your own words. One by one. To the other students, please ask him or her a question. You got it?"

Aku memberi penjelasan tentang apa yang harus dilakukan mahasiswa di kelasku. Mata kuliah English 4, Speaking Section.

Rencananya, aku akan memutar video yang kudapatkan semalam. Setelah itu mahasiswa harus menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri. Seperti biasanya, mereka selalu lebih tertarik pada materi pembelajaran yang berbentuk audio visual dibandingkan yang lain. Melihat wajah-wajah mereka yang terlihat fresh, menambah semangatku.

"Okay, are you ready?" tanyaku, sebelum menekan tombol 'klik'.

Aku pun memutar sebuah film pendek berbahasa Inggris, berdurasi tujuh menit. Video yang berisi tentang kisah dua sosok berbeda karakter. Saat mereka harus menghadapi tembok tebal yang menghalangi keinginan mereka, satu sosok bersikap pantang menyerah tetapi terjatuh. Sedangkan yang satunya memilih jalan lain, dan sukses walaupun dengan hasil yang berbeda.

Aku berharap Niko dapat mengambil pelajaran dari video ini. Pantang menyerah untuk sesuatu yang konyol, sama saja menyakiti diri sendiri. Tentu saja, karena kemungkinan besar, dia akan terjatuh. Sebaliknya, walaupun seseorang tak mendapatkan apa yang dia inginkan, dunia tak harus kiamat. Banyak pilihan dan jalan yang bisa diraih. Aku berharap Niko bisa berpikir sepertiku. Akankah itu terjadi?

Usai video diputar, mahasiswa dan mahasiswi mulai mencorat-coret di atas kertas, menyusun apa yang akan mereka ceritakan tentang video yang baru saja mereka lihat.

"Okay. Hilmi, what do you learn from the story?" tanyaku pada Hilmi.

"Mmm, anu Ma'am. Yes, I mean--"
Bola mata Hilmi bergerak ke arah atas, seperti sedang berpikir keras agar bisa mengatakan sesuatu.

"Yes, what do you mean?" ujarku, mencoba membantunya.

"Mmm, I mean ... I mean, someone needs to be smart, Ma'am." Setelah mengatakan itu, Hilmi tersenyum. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja dia katakan.

"Thanks, Hilmi. Good point!"

Begitulah mahasiswa, walaupun jawaban mereka tak salah sekalipun, sebagian besar dari selalu merasa tak percaya diri. Selanjutnya aku sengaja berdiri di tengah-tengah di depan mereka; mahasiswa dan mahasiswi yang selalu duduk dengan formasi membentuk huruf U, khusus untuk kelasku. Itu karena aku selalu ingin berinteraksi langsung dengan mereka.

Aku mengedarkan pandangan. Seolah menghampiri mereka satu per satu. Sampai akhirnya, padangan mataku berhenti pada Niko. Aku sengaja melakukannya.

"Yes, now your turn, Niko. What is the moral of the story?" Aku berharap Niko gagap menjawab.

"Nothing special Ma'am. It talks about failure and successful. An expert says if someone wants to succeed, he or she needs to understand how his or her failure rate can lead to success. Yes, everyone knows that someone wants to live a successful life; nobody wants to live as a failure. Including me." Niko menjawab dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat santai.

OMG! Di luar dugaanku. Aku pikir Niko akan kelabakan menjawab, karena merasa tersindir atau tahu sedang disindir. Aku berharap dia mati gaya. Sebaliknya, dia justru sangat percaya diri. Dan yang lebih menggemaskan lagi, karena dia berpendapat jika seseorang ingin sukses maka dia harus tahu tingkat kegagalannya untuk meraih sukses itu. Tak ada orang yang ingin gagal. Itu artinya dia tak akan menyerah. Tiba-tiba aku merasa lemas. Meskipun tak sesemangat saat awal masuk kelas ini, aktivitas perkuliahanku tetap berlanjut, seperti yang kurencanakan.

Aku merasa kalah. Fisik, otak dan hatiku serasa lelah, harus terus-menerus mengahadapi anak muda yang unpredictable itu.

***


Minggu pagi yang cerah. Matahari masih terlihat malu-malu mengitip dari sana, ufuk timur. Namun secangkir teh dan kudapan telah Mama siapkan di atas meja. Mama memang juara. Setelah empat hari berkutat dengan masalah Niko, teman-teman kantor, dan meng-input nilai-nilai mahasiswa dan mahasiswi ke dalam komputer, hari ini aku merasa benar-benar free. Alhamdulillah.

HP-ku bergetar. Ah, pesan dari Bang Ardhi.

Honey, Inshaa Allah, Sabtu depan, Abang pulang. Abang sudah sangat rindu suara hujan. Jika nggak sibuk tolong jemput sama Mama dan Abah, yah! Seperti biasanya Bang Ardhi mengakhiri pesannya dengan emoticon love.

Alhamdulillah. Iyah, sampai di sini ntar kita hujan-hujanan, Bang. Kuselipkan emoticon gembira, di ahkir pesanku.

Insya Allah aku kondisikan tidak sibuk, Bang. Kuakhiri pesanku dengan emoticon love tiga kali dan bersiul love sekali.

Namun, entah mengapa hatiku terasa hambar. Meskipun aku menghujani Bang Ardhi dengan emoticon love yang bahkan bertubi-tubi, mengapa hatiku seolah tak sejalan dengan jari tanganku yang telah mengetik semua itu. Apa yang harus kulakukan? Aku memejamkan mata. Berusaha membayangkan betapa cool dan gantengnya Bang Ardhi. Konyol. Aku tertawa sendiri. Namun, dua kriteria itu serasa tak cukup, tetap terasa monoton. Jadi apa yang aku inginkan? Tidak, tidak, tidak! Bagi sebagian orang, bukankah sosok seperti si abang ini, sangat ideal? Jangan-jangan aku merasa nyaman dengan karakter hantu kampus yang tak mudah ditebak dan menantang diajak berdebat?

OMG!

Perasaan gila ini, harus diakhiri. Aku segera mengambi HP yang sempat kuletakkan begitu saja di atas ranjang. Kubuka aplikasi WA, cari nama Bang Ardhi dan video call.

Alhamdulillah, begitu muncul wajah manisnya Abang di layar HP, pandangan mataku mendadak menjadi lebih cerah. Aku berusaha menikmati setiap kalimat yang diucapkan Bang Ardhi. Tidak terlalu buruk. Setidaknya teknologi android telah mengubah Qatar-Indonesia bagaikan Tanah Abang-Cibubur. Setelah satu jam setengah, ngoceh, tersenyum, dan pura-pura ngambek di depan layar HP, kami sepakat mengakhiri pembicaraan.

Plong! Seperti itulah yang aku rasakan. Sepertinya aku mulai merindukan pria berkulit putih, yang saat ini masih berada di Qatar. Aku berharap waktu berjalan lebih cepat, hingga rencana kedatangannya minggu depan, tinggal di depan mata.

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan tidhy010709 memberi reputasi
2 0
2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pamer-calon-bojo
Stories from the Heart
partitur-partitur-sri
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
relakan-aku
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia