Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4603
Lapor Hansip
11-11-2017 05:29

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
ini kisah tentang anak jaman dahulu yang hidup di era
Kerajaan Majapahit.
Jelas ini bukan kisah nyata, ini 100% fiksi!
meski begitu, yang merasa tahu, kenal akan tokoh yang diceritakan. Mohon dengan amat sangat tidak membocorkannya, agar tidak merusak alur cerita.

Bila ada kesamaan kisah hidupnya dengan salah satu tokoh di cerita ini, saya mohon maaf, tidak ada maksud untuk membuka kisah lama Anda.
Saya hanya iseng nulis cerita.

Jadi.. Selamat membaca!

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gimi96 dan 107 lainnya memberi reputasi
102
icon-close-thread
Thread sudah digembok
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
31-10-2019 04:46
REKONSILIASI


Tak beberapa lama datang Ranggapane bersama para pengawalnya. Ranggapane masuk ke dalam bersama Mahapatih. Kali ini Mahapatih sebagai pembawa acara yang mengatur pertemuan ini.
Ranggapane memberi hormat kepada keempat sesepuh Majapahit.
"Terimakasih atas kehadirannya, hamba Ranggapane yang mendapat mandat untuk mengendalikan situasi istana dan seluruh wilayah Majapahit hendak menyampaikan laporan resmi."
"Telah terjadi kudeta berdarah oleh Jingga, dibantu prajurit Bhayangkari. Mengakibatkan hilangnya Raja dan Permaisuri yang baru melaksanakan pernikahan.
Hamba diminta Mahapatih untuk memimpin pemulihan kondisi Majapahit paskah kudeta. Meski pada waktu yang sama, hamba diserang oleh orang tak dikenal yang mengakibatkan perutku tertusuk. Namun demi Majapahit, hamba sepenuh hati menjalankan mandat Mahapatih.

Atas ijin Tuhan, pemberontakan itu dapat dilumpuhkan tanpa banyak menimbulkan korban. Hanya tokoh utama kudeta, Jingga dan Raja serta permaisuri sampai saat ini belum ditemukan.
Kami sudah melakukan penyisiran keseluruh sudut di komplek istana ini. Hasilnya istana sudah bersih dari para pemberontak.
Kami terus mengejar Jingga dan berharap Paduka Raja dan permaisuri bisa ditemukan dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Saat ini pasukan organik yang semalam menyerbu masuk mengendalikan situasi, sudah ditarik kembali ke barak masing masing, karena situasi sudah terkendali."
"Apa rencana kedepannya?"
"Keadaan masih terlalu dinamis, kami fokus penertiban dan penegakan hukum dulu agar tidak terjadi gejolak di masyarakat. Namun kerajaan tidak boleh terlalu lama tanpa seorang Raja yang memimpin. Jadi kami akan mengajukan Raja pengganti untuk Ndoro sekalian periksa dan setujui atau tolak."
"Bukankah sudah ada Bhre Tumapel yang selama ini didaulat sebagai putra mahkota? Jadi tidak perlu ada seleksi lagi."
"Benar, namun kita juga harus mendengar aspirasi yang berkembang dikalangan bangsawan dan Rakyat. Saat ini mengarah ke pemurnian keturunan, beberapa keturunan Shang Rama Wijaya mulai menyatakan darahnya lebih murni dan berhak menjadi Raja daripada Bhre Tumapel. Kita tidak ingin kejadian pemberontakan Pamotan terulang di berbagai tempat. Itu yang hamba dapat dari data teliksandi yang hamba pimpin."
"Bagaimana bila Raja ditemukan dalam keadaan selamat?" Tanya salah seorang sesepuh Majapahit.
Sejenak Ranggapane terdiam.
"Kalau begitu, semua sudah selesai," jawab Ranggapane.
Rapat akhirnya ditutup. Ranggapane bergegas keluar ruangan. Ia seperti terburu buru. Mahapatih dan keempat sesepuh hanya diam menahan nafas memandang kepergian Ranggapane.
"Susah mendapat bukti Ranggapane sebagai otak kudeta ini, semua yang dilakukan sesuai aturan. Bila kita tindak, ini bisa menjadi senjatanya dan sekam panas yang membakar seluruh prajurit pengikutnya untuk melawan," kata Mahapatih kepada para sesepuh.
Disaat semua gamang, dari balik tabir, Raja muncul. Sontak seluruhnya memberi penghormatan.
"Kalau tidak bisa ditindak, sebaiknya kita rekonsiliasi saja. Kalau tidak bisa menangkap buruan yang kita jebak. Sebaiknya beri makan saja untuk dipelihara." Kata Raja menengahi.
Semua menangkap apa yang dimaksud Raja. Meski terasa sesak, namun kondisi mereka saat ini lemah bila harus berhadapan dengan Ranggapane yang telah menggenggam seluruh kekuatan prajurit Majapahit.
Mereka sepakat keberadaan Raja masih akan terus dirahasiakan sampai saat yang tepat. Namun tidak bisa terlalu lama. Karena bila lama, Ranggapane akan semakin kuat menanamkan pengaruhnya. Tidak hanya di istana dan kotaraja, bisa sampai seluruh kekuatan di kerajaan vasal Majapahit.

"Mahapatih, kumpulkan kekuatan untuk sewaktu waktu melindungi istana dari kudeta susulan."
"Siap Paduka,"
Mahapatih lantas menghormat dan pamit melaksanakan perintah. Diikuti keempat sesepuh Majapahit. Mereka tidak bisa berlama lama disini, menghindari kecurigaan pihak lain. Dan itu akan mengancam keselamatan Raja.

Sementara di dalam lorong, Jingga dan Ratna diam mengamati semua kejadian tadi. Ratna sebetulnya ingin berbicara banyak disaat berdua dengan Jingga seperti ini. Namun sejak semalam sikap Jingga berubah dingin dan tak peduli sekelilingnya. Membuat Ratna merasa tidak berarti dan malu sendiri. Seandainya ada cahaya dalam lorong ini, Ia bisa menilai ekspresi Jingga, sedihkah atau marahkah.

Ratna menghentikan lamunannya setelah pintu batu didorong dari luar oleh Raja. Sekejap cahaya terang menerpa kedalam lorong menyilaukan mata Ratna. Ia lantas menoleh ke Jingga, namun Jingga sudah pergi kedalam ruangan.

Pintu ditutup kembali dari dalam.
"Mana Jingga?" Tanya Raja.
"Itu didalam," jawab Ratna menunjuk kamar dibawah akar pohon raksasa.
Raja mengajak Ratna masuk menemui Jingga.
"Apakah kamu mendengar semua pembicaraanku diluar?" Tanya Raja kepada Jingga.
"Ya," jawab Jingga pendek. Suasana hening. Sibuk dengan pikiran masing masing.
"Apakah Paduka bisa berjanji, selama Paduka menjadi Raja, tidak akan menyerang Blambangan lagi?" Tanya Jingga menggambarkan keresahan hatinya.
"Ya saya janji," jawab Raja. Berusaha menenangkan.
"Terimakasih,"
Jingga memberikan makanan kepada Ratna dan Raja tanpa bicara. Lalu meninggalkan mereka berdua. Jingga kembali naik keatas pohon lewat rongga didalamnya. Sampai di puncak Ia menatap tanah tempat Ia mengubur Lencari. Airmatanya kembali mengalir deras tanpa bisa ditahan. Jingga menangis dalam diam. Lencari, bagaimana kamu disana? Kedinginankah? Kesepiankah? Ketakutankah? Ampuni aku Cari.

Dibawah, sambil makan dan minum, Raja bercerita kepada Ratna mengenai situasi pelik yang dihadapi. Pengikutnya tidak cukup kuat bila harus berhadapan dengan pengikut Ranggapane. Tidak cukup bukti untuk menangkapnya, tidak cukup bukti untuk meyakinkan pengikutnya merelakan Ranggapane diadili. Bila dipaksakan, bisa terjadi gejolak karena penindakan itu akan dikaitkan dengan intrik politik.
Ratna menyadari kesulitan Raja, kejadian ini hampir sama dengan yang dialami mendiang Ayahanda Bhre WIrabhumi. Dimana dalam keputusannya tak jarang harus mengikuti tekanan dari orang orang kuat di sekitarnya. Bahkan sampai harus mengusir Ratna agar tidak menimbulkan gejolak di dalam istana.
Sedang asyik berdiskusi. Tiba tiba muncul sekelebat bayangan hitam menyerang Raja dan Ratna dengan cepat. Bayangan itu begitu cepat dan ringan bergerak di ruangan itu.

Dalam keadaan gelap dan tidak siap. Raja dan Ratna langsung tumbang dan pingsan tanpa bisa melakukan perlawanan. Keduanya langsung dibungkus kain dan diikat dalam keadaan pingsan, dibawa pergi menyusuri lorong kearah penjara bawah tanah.

Bayangan gelap itu bergerak cepat keluar lorong. Dengan mudah menutup kembali sambil menghapus jejak yang tertinggal. Raja dan Ratna yang pingsan dipanggul di kedua pundaknya. Terlihat ringan seolah hanya membawa dua buah bantal kapuk saja.

Sampai di penjara, bayangan itu terus berjalan keluar. Mengamati sekitar sejenak, lalu dengan cepat melesat kearah alun alun.
Sekejap saja keberadaannya mencurigakan prajurit yang berjaga di kediaman Mahapatih. Disiang hari mengenakan pakaian gelap dengan topeng penutup wajah. Penampilannya amat menyolok. Ditambah dua belebat dikedua pundaknya semakin membuat curiga para prajurit itu.
Para prajurit kepatihan itu lantas mengejar dan berusaha mengepung. Sementara yang dikepung terus bergerak menuju tanah tegalan dekat alun alun. Ia lantas meletakkan perlahan Raja dan Ratna diatas rumput.
Para prajurit itu terkejut melihat siapa yang pingsan itu. Tak lain adalah Raja dan Permaisuri yang hilang.
"Jangan kau sakiti Raja dan Ratu kami, Kalau tidak nyawamu akan melayang!" Teriak kepala pengawal kepatihan.
Orang bertopeng itu diam saja, bergumam tidak jelas. Ia hanya berdiri di dekat kuburan baru tak mempedulikan para pengepungnya.
Salah seorang prajurit tanpa pikir panjang langsung menyerang menggunakan pedang. Pedang itu langsung tertuju ke paha untuk melukai saja. Orang bertopeng itu tetap tak acuh. Tanpa bisa dicegah, ujung pedang itu meluncur deras ke arah paha. Dalam hitungan sepersekian detik orang orang sudah mengira akan ada daging yang tertusuk. Namun ternyata tidak terjadi apa apa. Prajurit yang menusukkan pedang tadi serasa menerpa angin. Tidak ada benda apapun yang menerima tusukan itu. Padahal secara jelas mengenai paha orang bertopeng itu.
Seketika pimpinan pasukan kepatihan yang turut mengepung memerintahkan pasukannya waspada. Ia berpikir taktis. Ia bergerak kearah Raja dan Ratna. Dengan sikap awas, Ia dan beberapa prajurit mengevakuasi Raja dan Ratna. Karena yang utama adalah menjaga keselamatan Raja dan Ratna. Separuh pasukan langsung bergerak mengawal Raja dan Ratna. Separuhnya lagi tetap mengepung orang bertopeng itu.

Tiba tiba datang sepasukan yang tidak jelas dari kesatuan apa. Mereka langsung mengepung Jingga. Dan menyerang dengan keji. Titik titik serangannya tepat ke organ vital yang bila terkena akan berakibat kematian.
Kembali serangkaian serangan itu seperti menyerang bayang bayang. Senjata senjata mereka tak satupun yang mengenai orang bertopeng itu. Padahal orang itu diam tidak menangkis atau membalas.

Yang datang ke lokasi pemakaman semakin banyak. Sementara Raja dan Ratna sudah diamankan di kediaman Mahapatih dan dijaga ketat Mahapatih sendiri.

Pasukan yang tidak jelas tadi adalah Pasukan Rahasia bentukan Ranggapane yang beberapa waktu lalu digunakan untuk membunuh Bhre Wirabhumi. Pasukan lain dipaksa mundur kebelakang. Ciri pasukan ini adalah tidak mengenakan pakaian prajurit dan wajahnya ditutup kain tipis yang dilukis yang menempel di kulit wajah. Sehingga tidak ada yang bisa mengenali wajah asli mereka.

Terjadilah pengeroyokan pasukan bertopeng terhadap orang bertopeng. Kali ini orang bertopeng itu dijerat tali dari segala arah lalu ditusuk berbagai senjata tanpa bisa mengelak. Banyak mata memandang dengan tatapan bergidik membanyangkan tubuh yang dicincang berbagai macam senjata. Saking ngerinya tanpa sadar mereka menutup mata.

Namun saat mata mereka dibuka. Tak ada pemandangan berdarah darah seperti bayangan mereka. Yang terlihat hanyalah orang bertopeng itu tetap berdiri di samping kuburan Lencari. Disekitarnya banyak tali dan rantai putus serta berbagai macam patahan senjata seolah habis dipotong potong dengan mudah.
Disaat para pasukan bertopeng kehabisan akal. Dari arah kerumunan penonton datang seorang yang bertopeng sama masuk kedalam barisan. Dari langkahnya yang ringan, menunjukkan Ia lebih unggul dari prajurit bertopeng yang lain. Ia memberi kode sebuah formasi penyerangan dan kemudian Ia turut terjun dalam formasi itu. Sebuah formasi bak angin puyuh yang membuat tanah dan debu berterbangan disekitar pekuburan itu. Perlahan pertempuran -atau lebih tepatnya pengeroyokan karena yang diserang sendirian dan tidak melawan- semakin tidak terlihat tertutup debu. Tiba tiba dengan gerakan cepat prajurit bertopeng yang baru datang itu memeluk dan menghunjam senjata pusakanya berkali kali. Kali ini hunjaman itu melukai orang bertopeng itu. Darah bercucuran dari perut dan dadanya. Sedang Prajurit bertopeng yang menusuknya terpental mundur tanpa tahu siapa yang mendorongnya. Ia segera bangkit menyerang lagi.
Kembali tusukan demi tusukan menghunjam orang bertopeng itu, anehnya Ia tidak berusaha membalas penyerangnya.
"Penghianat! Mengapa tidak membalas?!" Maki Prajurit bertopeng itu.
Yang dihina diam saja, hanya tersenyum seolah luka lukanya bukan sesuatu yang sakit.
Semakin banyak darah mengucur di sekujur tubuh orang bertopeng itu. Pada tusukan terakhir, orang bertopeng itu tersungkur. Ia lantas merangkak mendekati kuburan Lencari dan merebahkan diri diatasnya.
Kembali tubuhnya dicacah berbagai senjata prajurit bertopeng yang mengepungnya. Baru berhenti kala sudah tidak bergerak lagi.

Pasukan itu lantas membubarkan diri tanpa ada yang berani mencegah. Sementara prajurit lain yang menyaksikan tidak berani mendekat. Salah seorang prajurit kepatihan melaporkan ke Mahapatih bahwa penculik Raja telah tewas.
Ratna yang sudah sadar dan dirawat di dalam kepatihan, ikut mendengar kabar kematian orang yang menculiknya tadi. Nalurinya menyatakan bahwa penculiknya tadi tak lain adalah Jingga. Ia berusaha keluar untuk melihat. Namun dicegah Mahapatih dan Raja.
"Harap Permaisuri bersabar, diluar jebakan untuk Permaisuri sedang disiapkan musuh musuh kita," nasehat Mahapatih sambil menggambarkan pengepungan yang dilakukan pasukan Ranggapane di sekeliling kepatihan.

"Tapi itu pasti Jingga," kata Ratna kepada Raja dengan nada putus asa.
Raja hanya mengangguk dan terus meminta Ratna sabar. Biar Mahapatih yang langsung memeriksa apakah benar Jingga atau bukan.
Akhirnya Ratna hanya bisa menangis didalam kamar. Meratapi nasib Jingga juga nasibnya harus berpisah selamanya dengan Jingga.

Mahapatih langsung ke lokasi memeriksa siapa sebenarnya manusia bertopeng itu. Ia membalik tubuh yang penuh luka dan darah. Menarik lepas topeng yang lengket oleh darah. Benar, Ia adalah Jingga. Diperiksanya nadi di lehernya, tak ada tanda tanda kehidupan.

Jingga telah tewas diatas pusara Lencari.

Mahapatih tertegun. Kenyataan yang terjadi di depan matanya masih amat membingungkan. Bila benar Jingga yang menculik Raja dan Ratna, lalu mengapa tadi melepaskan Raja untuk menemuinya? Lalu mengapa bisa diculik lagi? Apakah pikiran Jingga sudah rusak sejak kematian istrinya, sehingga selalu berubah ubah sikapnya.

Sikap Raja dan Ratna juga aneh, Seharusnya mereka gembira bebas dari penculikan dan penculiknya terbunuh. Ini malah Ratna seperti amat kehilangan dengan kabar kematian penculiknya, yang tak lain adalah Jingga.

Apakah ini usaha terakhir Jingga untuk menyelamatkan Raja dan istrinya dengan muncul terang terangan didepan pasukan kepatihan. Ia ingin menunjukkan dirinya menculik Raja dan permaisuri agar ditangkap oleh pasukannya. Padahal di istana banyak pasukan lain yang ada. Ia hanya memilih pasukannya, karena yakin Raja dan Permaisuri akan aman. Sekaligus solusi aman kemunculan Raja dan Permaisuri, daripada muncul tiba tiba di istana. Akan banyak menimbulkan kecurigaan di pihak Ranggapane.

Memikirkan itu, Mahapatih tak bisa membendung tangisnya, cepat Ia menghapus meski tidak bisa memutihkan matanya yang memerah. Ia sekuat tenaga menahan perasaannya. Ia harus menunjukkan kebencian kepada Jingga untuk menutupi dan menghargai bantuan Jingga dengan caranya sendiri. Ia memerintahkan pasukannya untuk merawat jasad Jingga dengan layak.

***

Sore harinya, kegembiraan menyelimuti seluruh istana dan Kotaraja. Kabar Raja telah kembali bersama permaisuri dan Kematian Jingga yang menculik mereka membuat seluruh kalangan lega prahara beberapa hari ini telah berakhir.

Malam harinya Raja memberikan penghargaan kepada Mahapatih dan Ranggapane atas dedikasinya dalam menjaga Majapahit tetap utuh saat terjadi kudeta beberapa waktu lalu. Sekaligus menarik mandat Mahapatih kepada Ranggapane sebagai pimpinan pemulihan keamanan dan ketertiban Majapahit.

Ratna yang terlihat rapuh. Ia tidak bisa bergembira atas kematian Jingga seperti yang dilakukan orang orang saat ini. I tidak bisa menerima pementasan drama yang dilakukan di panggung alun alun oleh pasukan kesenian yang menggambarkan Jingga adalah Raksasa yang menyamar menjadi pemuda tampan. Yang banyak membunuh prajurit. Mengguna guna Ratu dan merebut tahta Raja. Yang akhirnya tewas ditangan ksatriya Majapahit.

Berkali kali Raja harus mengingatkan dirinya untuk bersikap sebagai pemimpin.
"Pemimpin itu tidak boleh larut oleh perasaan, aku yakin Jingga akan mengatakan hal yang sama kepadamu. Kita harus menghargai pengorbanan Jingga. Ia ingin Majapahit tidak saling bunuh. Bila kau larut dalam kesedihan atas kematian Jingga. Akan sangat berbahaya bila musuh mengetahui itu, dan menjadikannya bahan menghancurkan pengorbanan Jingga."
"Iya aku mengerti, tapi aku kasihan kepadanya."
"Aku juga simpati, amat simpati kepadanya,"
"Tapi buat apa dibuat cerita cerita seperti itu?"
"Demi menyatukan Majapahit, kadang diperlukan cerita cerita seperti itu, perlu ada musuh bersama, yang sangat kuat, jahat melebihi siapapun. dengan musuh itu, kita bisa lemparkan semua kejahatan yang menimpa Majapahit kepadanya. Inilah jalan damai, jalan rekonsiliasi yang harus kita tempuh. Aku juga tidak enak kepada Jingga yang telah berkorban sebesar itu. Tapi kembali, inilah dunia pemimpin. Harus menekan segala perasaan pribadi untuk kepentingan rakyat Majapahit," papar Raja untuk menenangkan Ratna yang tidak terima Jingga difitnah dengan cerita keji.

"Selama bersama kita, apakah pernah terlihat Jingga makan atau minum?" Tanya Ratna tiba tiba seolah ingat sesuatu.
Raja mengeleng sambil memeriksa ingatan bersama Jingga.
"Ya aku baru sadar, Jingga tidak pernah makan atau minum. Ia hanya menyediakan untuk kita," jawab Raja.
"Apakah itu artinya Ia sebenarnya sudah menyiapkan kematiannya?" Duga Ratna.
"Sepertinya begitu,"
"Apakah Paduka akan memenuhi permintaan terakhirnya?"
"Tentang permintaan tidak menyerang Blambangan lagi?"
"Iya,"
"Ya saya berjanji sekuat tenagaku selama memimpin Majapahit, tidak akan menyerang Blambangan," janji Raja.
Ratna merasa ada aliran air segar menyiram batinnya. Setidaknya cita cita Jingga ingin Blambangan damai telah terwujud. Hal inilah yang membuat Ratna bertahan di sisi Raja. Ia ingin memastikan Blambangan, tanah tumpah darah Jingga, selalu terjaga.

Sementara mayat Jingga diam diam dimakamkan bersebelahan dengan makam Lencari. Beberapa tahun kemudian dibuat sebuah candi yang dinamakan candi Minakjingga. Sebagai penghormatan diam diam Raja dan permaisuri atas jasa Jingga yang hanya diketahui mereka berdua.

T A M A T


Sekian cerita Jingga versi ngawur ini.
Sekali lagi, cerita ini jangan dipercaya sebagai fakta. ini hanya hayalan saya saja.
Tokoh tokoh yang ada di cerita ini, tidak menggambarkan tokoh aslinya. Saya menggunakan nama nama itu hanya agar cerita bisa mengalir dan terasa wajar saja.
jadi semua tokoh yang kebetulan ada dalam sejarah, hanya dipinjam saja. kenyataanya saya tidak tahu.
Bila mencari kebenaran, silahkan pelajari sejarah Majapahit secara ilmiah.
Tulisan ini hanya untuk hiburan semata, jauh dari kebenaran sejarah yang ada.
Untuk itu saya mohon maaf kepada nama tokoh tokoh terkait yang penggambarannya tidak sesuai fakta.
Diubah oleh curahtangis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
introvertpsycho dan 44 lainnya memberi reputasi
45 0
45
profile picture
kaskus addict
31-10-2019 13:44
makasih ki curah atas semua waktu dan dedikasinya selama ini untuk memberikan cerita yg sangat menarik ini....salutttt
0
Memuat data ...
1 - 1 dari 1 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
tanda-cinra-dari-muntaha
Stories from the Heart
misteri-goa-bawah-tanah
Stories from the Heart
ibuku-pelacur-bertarif-15k
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia